Brotowali
Pendahuluan
Berdasarkan senyawa aktif tersebut, brotowali banyak digunakan sebagai obat tradisional untuk pengobatan diabetes, analgesik anti inflamasi dan antimalaria (Ihwan et al., 2014; Ahmad et al., 2016; Dweek dan Cavin, 2016; Muharni et al. ., 2015). Pemanfaatan tumbuhan atau tumbuhan sebagai obat tradisional dan pestisida pada setiap daerah bahkan setiap suku bangsa di nusantara mempunyai pemahaman.
Inventarisasi Tumbuhan dan Pengujian Awal
Selain pengujian terhadap Plutella xylostella (Tabel 1.1), aktivitas ekstrak daun brotowali juga diuji terhadap jamur Phytopthora infestans dan bakteri Pseudomonas solancearum EF. Hasil sementara ekstrak kasar daun dan batang brotowali (Tinospora crispa), daun mate (Pometia pinnata), buah mahoni (Swietania mahagoni L.) dan ekstrak daun dan bunga sembung delan (Spaeranthus indicus) mempunyai kemampuan dalam menghambat nafsu makan Plutella. larva serangga xylostella, hama yang merusak daun kubis (Gambar 1.1).
Karakteristik Tumbuhan Brotowali
Ekstrak kasar daun brotowali yang diformulasikan dalam konsentrasi dan 1,0% serta perlakuan kontrol diuji secara in vivo di lapangan yaitu di Kebun Sayur Mayur, Desa Kembang Mertha, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Daun brotowali berbentuk hati atau agak lonjong dengan ujung lancip, panjang 7-12 cm dan lebar 5-10 cm.
Budidaya Brotowali
Pemotongan batang dilakukan dengan cara mengambil bahan pemotongan berupa bagian batang atau dahan dari pohon induk yang sudah cukup tua dan sehat dengan panjang ± 10 cm. Stek batang brotowali dapat bertahan selama satu tahun jika disimpan dalam wadah tertutup (Yusuf et al., 1999).
Klasifikasi Tumbuhan Brotowali
Aktivitas pemulungan radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil oleh ekstrak etanol batang (Tinospora crispa L. Miers) dan fraksinya. Skrining fitokimia dan uji toksisitas ekstrak etanol daun brotowali (Tinospora crispa (L.) Hook F&T menggunakan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)).
Ekstraksi dan Fraksinasi Brotowali
Metode Ekstraksi
Bahan ekstraksi yang diumpankan secara terus menerus dari atas akan mengalir perlahan ke bawah melewati simplisia yang biasanya berbentuk serbuk kasar. Jika dalam maserasi sederhana tidak terjadi ekstraksi simplisia secara sempurna karena akan terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan dalam dengan cairan disekitarnya, maka perkolasi melalui penyediaan pelarut segar selalu mempertahankan perbedaan konsentrasi.
Ekstraksi Brotowali
Formulasi dibuat dengan menambahkan aquades sesuai formulasi konsentrasi ekstrak kasar brotowali yang diinginkan.
Fraksinasi
2 pada dua lapisan dan kain kasa, dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis (KLT) atau kromatografi lapis tipis (KLT) pada ekstrak kasar daun brotowal. Gugus senyawa yang menunjukkan tanda-tanda pemisahan pada eluen yang sama dan nilai Rf yang sama digabungkan menjadi fraksi kemudian diuapkan hingga diperoleh endapan berbentuk padatan, yang kemudian digunakan untuk analisis biologi (Suanda, 2002, Suanda dan Sumarya , 2021). Koefisien partisi suatu pelarut sangat penting karena perubahan komposisi pelarut yang sangat kecil dapat menyebabkan perubahan nilai Rf.
Nilai Rf cukup konstan selama semua variabel yang terlibat dalam fraksinasi dikontrol dengan baik seperti: kemurnian pelarut. Nilai Rf merupakan perbandingan jarak perpindahan zat terlarut dengan jarak yang dipisahkan muka pelarut dalam waktu yang sama. Sifat campuran ini juga hampir selalu mempengaruhi karakteristik kelarutan masing-masing terhadap nilai Rf (Gambar 2.6).
Hasil Skrining Senyawa Aktif pada Brotowali
Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi pengujian alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin berdasarkan metode Harborne. Setelah dilakukan skrining fitokimia, dilakukan uji skrining fitokimia ekstrak brotowali dan hasil skrining fitokimia tanaman brotowali pada Tabel 2.2.
Tahapan Uji Senyawa pada Brotowali
Reagen Meyer yang positif menunjukkan adanya endapan putih atau kuning pada tabung reaksi, namun pada penelitian ekstrak kental daun brotowali menunjukkan warna hijau keruh. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada daun brotowali kemungkinan mempunyai efek farmakologis pada manusia sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut (Depkes RI, 2006). Senyawa alkaloid juga dapat dideteksi dengan pereaksi Dragendroff dan Mayer, dimana ekstrak daun brotowali dilarutkan dalam 1,5 ml asam klorida 2% dan ditambahkan pereaksi Mayer.
Ekstrak daun brotowali (Tinospora crispa) ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat. Uji tanin ekstrak daun brotowali dilakukan dengan menambahkan besi (III) klorida yang direaksikan dengan salah satu gugus hidroksil yang terdapat pada tanin. 2016, Skrining Fitokimia Senyawa Alkaloid Ekstrak Daun Brotowali (Tinospora crispa L.) Asal Gorontalo Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis, UNG Respirasi.
Fitofarmaka Brotowali
Sejarah Tanaman Obat
Pengobatan tradisional merupakan tulang punggung pemeliharaan kesehatan yang penting bagi masyarakat saat ini, dan hampir 80% penduduk di negara berkembang masih mengandalkan pengobatan tradisional. Beberapa negara di Asia, khususnya China, merupakan wilayah yang masih intensif menggunakan obat-obatan berbahan alami. Tanaman Usada Bali muncul sebagai salah satu upaya masyarakat Bali dalam menyembuhkan berbagai penyakit melalui tanaman sesuai kehendak Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa melalui cahaya suci-Nya.
Beberapa Lontar Usada yang merupakan kekayaan sastra Bali tentang kesehatan masyarakat hingga memanfaatkan tumbuhan sebagai tanaman obat, antara lain Kecapi Buddha, Ratuing Usada, Usada Sari, Usada Sasah Bebahi, Usada Netra dan lain sebagainya. Dari sekitar 121 lontar yang diteliti secara cermat di Gedong Kertya Singaraja, diketahui sebanyak 433 jenis tanaman dimanfaatkan sebagai tanaman obat oleh masyarakat Bali. Dari sekian jenis lontar usada yang ada, ada pula yang masih terpelihara dengan baik di berbagai tempat seperti: di Perguruan Tinggi (PT), Gedong Kertya Singaraja dan di Balai Dokumentasi Perbekalan Bali.
Tinjauan Umum Tanaman Obat
Obat tradisional telah digunakan di Indonesia selama ribuan tahun sebelum obat modern ditemukan (Pramono, 2002). 2015) menyatakan bahwa pemanfaatan daun tanaman obat merupakan salah satu upaya pelestarian tanaman obat tradisional. Pemanfaatan tanaman obat tradisional telah lama dilakukan oleh orang tua dan nenek moyang, yang kemudian dengan cepat berkembang hingga tercipta kearifan lokal milik masyarakat yang sangat khas.
Salah satu tanaman obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat adalah brotowali (Tinospora crispa L.). Perbedaan tipe ekosistem hutan serta karakteristik suku dan budaya mempengaruhi pemanfaatan tanaman obat di Indonesia. Khasiat tanaman obat dalam pengobatan penyakit sangat beragam, mulai dari sekedar menghilangkan bau badan, gatal-gatal, memar, hipertensi, batuk dan disentri hingga infeksi lambung dan kanker.
Fitomarmaka Brotowali
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol kasar daun brotowali lebih besar dibandingkan ekstrak fraksi n-heksana dan etil asetat. Data pada Tabel 3.2 di atas menunjukkan bahwa ekstrak daun brotowali yang mempunyai aktivitas antioksidan paling baik adalah pada. Penentuan potensi antioksidan daun brotowali dilakukan dengan membandingkan nilai aktivitas antioksidan masing-masing ekstrak dengan aktivitas antioksidan vitamin C.
Ekstrak daun brotowali masing-masing sampel dibandingkan aktivitas antioksidannya terhadap vitamin C menggunakan analisis uji t. Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol kasar mempunyai aktivitas antioksidan. Melihat nilai tersebut juga dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan vitamin C masih lebih tinggi dibandingkan ekstrak daun brotowali.
Pemeriksaan Uji Mutu Bahan Baku Ekstrak
Tumbuhan menghasilkan metabolit sekunder untuk pertahanan diri terhadap serangan hama tanaman (OPT) dan sebagai pestisida tanaman. Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati atau senyawa bioaktif alami yang berasal dari tumbuhan. Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati atau senyawa bioaktif alami yang berasal dari tumbuhan.
Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati adalah brotowali (Tinospora crispa L.Miers) dari famili Menispermaceae. Biaya produksi pestisida nabati berbahan tanaman brotowali relatif murah jika dibandingkan dengan harga pestisida kimia sintetik di pasaran. Potensi perbandingan biaya produksi penggunaan pestisida nabati di Brotowali dengan penggunaan pestisida kimia sintetik dan dampak ekonominya.
Brotowali sebagai Pestisida (Fitopesticide)
Pestisida Kimia Sintetis
Pestisida kimia sintetik yang bekerja secara instan dan dengan berbagai macam variasi banyak disukai oleh para petani. Kerusakan lingkungan akibat penggunaan pestisida kimia sintetik memerlukan waktu yang relatif lama berupa pencemaran air, tanah, dan udara. Penggunaan pestisida kimia sintetik harus dipertimbangkan secara hati-hati karena dampak negatifnya terhadap manusia, lingkungan, tanaman, dan organisme pengganggu.
Kebijakan penelitian yang mendukung pengembangan pestisida alternatif juga menjadi prioritas dibandingkan pestisida kimia sintetik. Sebagian besar pestisida kimia sintetik tidak hanya membunuh organisme pengganggu saja, namun banyak pula yang membunuh organisme non target dan mikroorganisme yang merupakan agen hayati yang sangat bermanfaat. Selain itu, beberapa senyawa pestisida kimia sintetik telah terbukti bersifat karsinogenik pada hewan dan manusia (Gambar 4.2).
Pestisida Nabati
Secara total, ratusan ribu spesies tumbuhan yang diketahui memiliki efek obat sebagai agen juga telah dipelajari secara ekstensif melalui penelitian untuk digunakan sebagai pestisida nabati. Mekanisme kerja pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai repelen, penekan nafsu makan (repellent), penarik serangga (attractan), anti kesuburan (steril), penghambat pertumbuhan (growth inhibitor), aviposisi, pencegah, kematian (mortalitas) terhadap ' serangga tertentu menyebabkan hama, tindakan insektisida (beberapa pengendalian serangga) dan bentuk lainnya (Suanda dan Sumarya, 2021; Suanda, 2020). Pemanfaatan tumbuhan sebagai pestisida nabati masih dalam tahap penelitian dan belum mencapai tahap formulasi produk komersial.
Faktanya, beberapa produk pestisida nabati telah terbukti efektif mengendalikan hama pada berbagai komoditas perkebunan, pangan, dan hortikultura. Bahan baku pembuatan pestisida nabati tersedia melimpah dan mudah didapat di lingkungan kita. Pestisida hayati dan pestisida nabati biasanya terbuat dari bahan-bahan alami dan tidak mengandung satu pun bahan aktif, sehingga jenis pestisida ini adalah
Pestisida dari Brotowali
I Wayan Suanda | 145 didefinisikan sebagai suatu zat yang bila diuji pada serangga akan menghentikan aktivitas makannya untuk sementara atau selamanya, tergantung pada potensi zat tersebut (Reddy et al., 2009). Nor Aziyah dkk., (2014) menyatakan terdapat senyawa alkaloid, terpenoid dan glikosida pada ekstrak etanol batang brotowali. Senyawa antifeeding didefinisikan sebagai zat yang bila diuji pada serangga akan menghentikan aktivitas makannya untuk sementara atau selamanya, tergantung pada potensi zat tersebut (Reddy et al., 2009).
Tanin juga dilaporkan memiliki aktivitas nematisida untuk percobaan Meloidogyne javanica in vitro dan pot (Maistrello et al., 2010). Ekstrak metanol batang brotowali dilaporkan dapat melindungi tanaman Spinacia oleracea dari Spodoptera exigua dan menurunkan populasi serangga hama hingga 61,2% (Isa et al., 2013). Ekstrak air batang brotowali menunjukkan aktivitas sistemik, bersifat toksik terhadap telur serangga dan menghambat pertumbuhan serangga Plutella xylostella (Morallo-Rejesus, 1992 dalam Isa et al., 2013).
Kajian Ekonomi Pemanfaatan Tumbuhan dan
I Wayan Suanda | 157 Penggunaan pestisida nabati saat ini menimbulkan kekhawatiran mengenai nilai total teknologi pengendalian hama, terutama bagaimana produk atau kelompok produk pengendalian hama dapat masuk ke dalam ekosistem tanaman secara keseluruhan (Suanda dan Sumarya, 2021). Antusiasme dan kepedulian terhadap pestisida nabati terfokus pada bioteknologi yang membuktikan bahwa teknologi tersedia untuk meningkatkan efektivitas pestisida nabati di satu sisi dan mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Selain itu, analisis finansial terhadap produksi pestisida tanaman juga telah dilakukan dan menghasilkan biaya yang rendah, termasuk perhitungan tenaga kerja dan bahan yang digunakan (Ermiati, 2017).
Saat ini, perhatian terhadap penggunaan pestisida nabati atau biopestisida semakin meningkat karena terdapat pergeseran tren konversi praktik pengendalian hama dari pestisida kimia sintetik berspektrum luas ke produk biologis spesifik. Pestisida nabati yang diteliti telah banyak diproduksi dan dikomersialkan dalam pengelolaan pertanian, khususnya tanaman hortikultura (Tabel 4.2). Diakses pada 20 Januari 2017, dari http://www.dweckdata.com/published_p apers/Tinospora_crispa.pdf. 2017) analisis finansial penggunaan pestisida nabati pada usahatani jahe putih skala besar (studi kasus di Kabupaten Tanjungkerta, Sumedang).
Metabolit Sekunder Brotowali
Golongan Metabolit Sekunder Brotowali
Pemanfaatan Fitoaleksin
Hubungan Metabolisme Primer dengan