ASTM D1586: Standard Test Method for Standard Penetration Test (SPT) and Barrel Sampling of Soils. ASTM D2974: Standard Test Method for Moisture, Ash, and Organic Matter of Peat and Other Organic Soils. ASTM D3966 : Standard Test Method for Deep Foundations Under Lateral Load ASTM D4186 : Standard Test Method for One-Dimensional Consolidation.
ASTM D-698: Standard Test Method for Laboratory Compaction Characteristics of Soil Using Standard Insert (12400 ft-lbf/ft3 (600 kN-m/m3)). Provisions Praktis Pengujian Tanah Jembatan 3 ASTM D854: Standard Test Method for Specific Gravity of Solids in Soil by Water.
SALINAN
Pondasi Telapak
Saat merencanakan jembatan di sungai aktif, pondasi dengan kaki tidak disarankan, dengan mempertimbangkan kemungkinan abrasi. Apabila konstruksinya untuk beban ringan, dapat dipadukan dengan konstruksi beton bertulang dan konstruksi beton batu kali 40%.
Pondasi Tiang Pancang
Pondasi Tiang Bor
Tujuan mendasar dari survei lapangan adalah untuk memperoleh data untuk tujuan desain dan konstruksi suatu proyek. Investigasi lapangan yang sering dilakukan berupa pengeboran mekanis dan pengeboran teknis untuk pengeboran inti, Undisturb Sample (UDS) dan pelaksanaan Standard Penetration Test (SPT). Profil dan analisis parameter tanah yang disajikan dalam laporan investigasi geoteknik mencakup:
Profil tanah untuk perencanaan (profil proyek) harus mewakili keadaan lapisan tanah, terutama parameter tanah untuk perencanaan pondasi. Selain itu, klasifikasi jenis tanah dan profil lapisan tanah paling sedikit sampai dengan kedalaman 30 m dimulai dari permukaan tanah aslinya.
Tahapan Penyelidikan Lapangan
- Pengumpulan Data Terdahulu, Studi Literatur, dan Peninjauan Lapangan
- Penyelidikan Utama
- Penyelidikan Tambahan
Pengamatan tinggi muka airtanah pada setiap lubang bor teknis dilakukan untuk mengetahui kedalaman muka airtanah. Apabila penyelidikan umum menunjukkan bahwa kondisi tanah yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu atau diinginkan untuk dilakukan penyelidikan tambahan. Investigasi lapangan tambahan mungkin diperlukan untuk mendapatkan informasi tambahan dan/atau untuk mengkonfirmasi atau menyangkal data yang meragukan.
Terkadang kebutuhan akan pemeriksaan tambahan dapat ditiadakan jika pemeriksaan awal dilakukan dengan pengawasan yang tepat. Permasalahan dapat diidentifikasi selama pelaksanaan penyelidikan utama ini, dan rencana penyelidikan dapat dimodifikasi atau dikembangkan untuk memperoleh informasi tambahan yang diperlukan.
Sondir (Cone Penetrometer Test, CPT)
- Alat-alat
- Prosedur Uji dan Hasil Uji Sondir
- Pengawasan Mutu Uji Sondir
- Pengawasan Alat Uji Sondir
- Pengawasan Prosedur Pengujian
Probe yang menghasilkan tahanan ultimit (qc), gesekan selimut (fs) dan tekanan air pori (u) mengacu pada ASTM D5778. Pengawas alat tes probe dapat mengikuti petunjuk dibawah ini, jika semua pertanyaan mempunyai jawaban ya, maka dapat melanjutkan ke proses selanjutnya. Pengawasan persiapan ujian probe dapat mengikuti petunjuk berikut, apabila semua soal mempunyai jawaban ya maka dapat dilanjutkan ke proses selanjutnya.
Pengawasan prosedur pengujian probe dapat mengikuti petunjuk berikut, apabila semua pertanyaan mempunyai jawaban ya maka dapat dilanjutkan ke proses berikutnya. Pengawasan tata cara pembacaan hasil tes dapat mengikuti petunjuk di bawah ini, jika semua soal terjawab ya, maka prosesnya dapat dianggap benar.
Pemboran Teknik
- Jenis Bor Teknik
Pada metode ini, lubang bor dibuat dengan cara mencacah dan memutar bor dengan cara menyemprotkan air ke bawah bor. Dengan menggunakan bor putar, tanah dikikis dari dasar lubang bor dengan mengalirkan air dan dibilas. Kelebihan dan kekurangan pengeboran siram adalah: tidak dapat diidentifikasi tanahnya, kurang cocok untuk pengeboran batuan, dapat diterapkan pada semua jenis tanah, sangat cocok untuk tanah lunak, gangguan struktur tanah minimal.
Tabung tunggal tidak memerlukan sirkulasi air dan tabung ganda atau tripel memerlukan sirkulasi air. Kelebihan dan kekurangan pengeboran inti adalah: dapat digunakan pada batuan, dapat langsung mengidentifikasi tanah, tidak cocok untuk pengeboran pada tanah lunak, dapat mengganggu struktur tanah.
Uji Penetrasi Standar (SPT)
- Alat-Alat
- Prosedur Uji dan Hasil Uji SPT
- Pengawasan Mutu Uji SPT
- Pengawasan Persiapan Uji SPT
Ketentuan Praktis untuk Pengujian Tanah Jembatan 22 ditancapkan ke dalam tanah di dasar lubang bor. Pengujian Standard Penetration Test (SPT) dilakukan pada setiap lubang bor teknis dengan interval pengujian setiap 2,0 m. Dalam uji SPT, indikasi tanah keras adalah lapisan tanah dengan nilai SPT di atas 50 guratan/30,0 cm 3 (tiga kali) pada 3 (tiga) kedalaman berturut-turut.
Prinsip pelaksanaan uji penetrasi standar (SPT) adalah dengan memukulkan pipa standar pada lubang yang dibor sampai dengan 450 mm dengan menggunakan palu bermassa 63,5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian 760 mm. Untuk panjang batang lebih dari 10 m dan nilai SPT lebih besar dari 30, pengaruh panjang batang cukup besar. Lubang yang tidak dibersihkan dengan baik dapat mengakibatkan sisa-sisa tanah menyumbat split scoop dan dapat menyebabkan NSPT lebih besar dari nilai sebenarnya;
Pengambilan Sampel Tanah
- Tabung Laras Belah (Split Barrel)
- Tabung Modifikasi California
- Pengambilan Sampel Tanah Tak Terganggu (Undisturbed sample)
- Tabung dinding tipis (thin wall sampler)
- Tabung Piston
- Tabung Pitcher
- Alat-Alat
- Pengawasan Pengambilan Sampel Tanah
- Pengawasan Pengambilan Sampel Tanah
- Pengawasan Penyimpanan Benda Uji Sampel Tanah Tak Terganggu
Tabung tipikal ini digunakan untuk Uji Penetrasi Standar atau SPT (ASTM D1586), dengan tabung sampel dipukul dengan palu seberat 63,5 kg dan tinggi jatuh 76 mm. Contoh tanah tidak terganggu yang diambil dari lapisan tanah lempung akan digunakan dalam uji laboratorium untuk mengetahui sifat teknik tanah. Sampel tanah yang tidak terganggu dari tanah berbutir kasar juga dapat dikumpulkan dengan prosedur khusus, seperti pembekuan atau waxing dan penyumbatan atau coring tube.
Pengambilan sampel yang dilakukan dengan instrumen khusus ini digunakan untuk membantu mengurangi gangguan pada struktur tanah dan kandungan air tanah di situ. Contoh tanah tidak terganggu juga dapat digunakan untuk menentukan kekuatan, stratifikasi, permeabilitas air, kepadatan, konsolidasi, sifat dinamis dan sifat teknis tanah lainnya. Pipa berdinding tipis biasanya digunakan untuk memperoleh sampel tanah kohesif yang relatif tidak terganggu untuk pengujian kekuatan dan konsolidasi.
Pipa berdinding tipis yang biasa digunakan mempunyai diameter luar 76 mm (3,071) dan diameter dalam 73 mm dengan perbandingan luas 9%. Tabung berdiameter lebih besar digunakan untuk sampel berkualitas lebih tinggi guna mengurangi gangguan pengambilan sampel (ASTM D 1587). Tabung dengan ujung depan yang dilubangi digunakan untuk memotong spesimen berdiameter lebih kecil (72 mm) untuk mengurangi gesekan.
Tabung ini terutama digunakan untuk pengambilan sampel tanah lunak yang sulit, tetapi dapat digunakan. Tabung gelas kimia digunakan untuk tanah liat kaku hingga keras dan batuan lunak serta disesuaikan untuk pengambilan sampel sedimen yang terdiri dari lapisan keras dan lunak. Pengambilan sampel tanah lunak pada dasarnya sama dengan pipa berdinding tipis dan bit dapat memindahkan material melalui pipa.
Sumur PIT
Penyelidikan Lapangan Lainnya .1 Uji Geser Baling (Vane Shear Test)
- Uji Pressuremeter
- Uji Dilatometer
- Uji Dynamic Cone Penetrometer (DCP)
- Geolistrik
- Jumlah dan Jarak Titik Penyelidikan Lapangan untuk Pondasi dan DPT Jembatan Jarak titik penyelidikan lapangan untuk pondasi dan DPT jembatan berkisar antara 25-50 meter
- Jumlah dan Jarak Titik Penyelidikan Lapangan untuk Oprit Jembatan
Menggunakan meteran terhadap patokan atau bangunan yang ada di lokasi penyelidikan tanah. Tepat di sini yang dimaksud dengan ketepatan antara titik survei di lapangan seperti terlihat pada gambar teknik dan lokasi survei di lapangan. Idealnya survei tanah dilakukan sejauh mungkin pada titik-titik atau koordinat rencana survei tanah.
Lokasi dan jumlah titik survei lapangan seperti sondir, lubang bor + SPT + UDS, pengujian sumur, serta pengujian lapangan langsung lainnya harus ditentukan agar gambaran geologi umum lokasi secara keseluruhan dapat diperoleh dengan teknis. detail dan karakteristiknya, dari permukaan tanah. Untuk jembatan dan bendungan, titik uji tanah ditempatkan pada sumbu struktur untuk mengetahui apakah kondisi tanah yang ada mampu menopang beban struktur di lokasi tersebut. Di bendungan lain, titik survei dilakukan di lokasi konstruksi pelengkap seperti lokasi bendungan Elak.
Jumlah titik survei lapangan pada setiap dermaga atau abutment berkisar antara 1-4 titik (untuk sondir) dan 0-2 titik (untuk pengeboran). Berikut ini adalah jumlah minimum umum dan jarak Sondir serta titik pengeboran untuk pondasi jembatan dan DPT. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah untuk Jembatan 39 Tabel 5.11 Jumlah Minimum dan Jarak Titik Bor Pondasi dan DPT Jembatan.
Jumlah titik survei lapangan untuk ramp jembatan berkisar antara 1-4 titik (untuk sondir) dan 0-2 titik (untuk latihan). Berikut ini secara umum jumlah dan jarak minimal titik Sondir dan Titik Bor untuk ramp jembatan. Ketentuan praktis untuk penyelidikan tanah jembatan 40 Tabel 5.13 Jumlah minimum dan jarak titik pengeboran dan SPT pada Ramp jembatan.
Penyelidikan Laboratorium
- Sampel Tanah
- Perlakuan Sampel Tanah dari Lapangan ke Laboratorium
- Cara Mengambil dari Tabung untuk Sampel Uji di Laboratorium
- Indeks Propertis
- Kadar Air (Moisture Content)
- Berat Jenis (Spesific Gravity)
- Berat Isi (Bulk Density) dan Berat Isi Kering (Dry Density)
- Uji Saringan (Grain Size Analysis)
- Uji Hidrometer (Hydrometer Test)
- Batas-Batas Atterberg (Atterberg Limits)
- Uji Kuat Geser Tanah
- Uji Kuat Tekan Bebas (Unconfined Compression)
- Uji Triaksial ( Triaxial Unconsolidated Undrained)
- Uji Geser Langsung Unconsolidated Undrained (Direct Shear)
- Uji Permeabilitas (Premeability Test)
- Uji Kompaksi (Compaction Test) Astm D-1883
- Uji CBR (CBR Test) ASTM D-698 (STANDART PROCTOR)
- Pengujian Laboratorium Untuk Jembatan
- Pondasi Tiang Pancang
Kadar air adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam contoh tanah atau agregat dengan berat kering tanah/agregat.Nilai kadar air biasanya dinyatakan dalam persentase. Pengujian kadar air bertujuan untuk mengetahui besarnya kadar air tanah, yaitu perbandingan antara berat air dengan berat kering tanah. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah Jembatan 43 ASTM D854-92 meliputi penentuan berat jenis tanah yang lolos saringan No. 4 (4,75 mm) dengan menggunakan labu kaca.
Batas cair adalah kadar air tertentu yang mengalami perubahan perilaku dari wujud plastis menjadi cair. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah Jembatan 45 Dari hasil pengujian ini dapat ditentukan klasifikasi tanah berbutir halus. Peralihan dari satu wujud ke wujud lain terjadi bertahap dan batas antar fasa didefinisikan sebagai: batas cair (LL) adalah batas kadar air antara wujud cair dan plastis dan batas plastis (PL) adalah batas kadar air antara wujud plastik. dan setengah padat; Batas susut (SL) adalah kadar air di bawah PL dimana penyusutan tanah telah berhenti dengan pengeringan lebih lanjut.
Kadar air sampel dikurangi hingga mencapai konsistensi dimana sampel dapat digulung tanpa menempel di tangan. PL dicapai selama pengujian berulang hingga sampel mengering seiring waktu; PL adalah kadar air pada saat tanah mulai hancur bila diguncang hingga mencapai 3,2 mm. Metode ASTM untuk menentukan batas susut (SL) tanah dijelaskan pada ASTM D4943-89 (Metode Uji Standar Faktor Penyusutan Tanah dengan Metode Lilin) dan ASTM D427-93 (Metode Uji Standar Faktor Penyusut Tanah dengan Metode Merkuri Metode). metode).
Tujuan dari uji pemadatan adalah untuk mencapai kadar air optimum (OMC) dan kepadatan kering maksimum dalam suatu proses pemadatan. Hasil pengujian ini digunakan untuk mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pemadatan di lapangan, yang dinyatakan dalam bentuk kurva pemadatan berupa grafik hubungan antara berat isi kering dengan kadar air. Pada kadar air yang relatif rendah maka tanah sulit untuk dipadatkan, sedangkan pada kadar air yang cukup tinggi nilai massa jenisnya akan menurun hingga kadar airnya sangat tinggi sehingga air tidak dapat dikeluarkan dengan cara pemadatan.
Pemadatan dengan kadar air yang berbeda akan menghasilkan nilai massa jenis yang berbeda pula, sehingga perlu dicari kadar air tertentu dengan keadaan paling padat (rasio rongga terendah). Untuk menentukan kadar air optimum biasanya dibuat grafik hubungan antara kadar air dengan berat satuan kering.