• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETUNJUK TEKNIS PENGUJIAN TANAH

N/A
N/A
Barrorotul Azizah

Academic year: 2023

Membagikan "PETUNJUK TEKNIS PENGUJIAN TANAH"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

ASTM D1586: Standard Test Method for Standard Penetration Test (SPT) and Barrel Sampling of Soils. ASTM D2974: Standard Test Method for Moisture, Ash, and Organic Matter of Peat and Other Organic Soils. ASTM D3966 : Standard Test Method for Deep Foundations Under Lateral Load ASTM D4186 : Standard Test Method for One-Dimensional Consolidation.

ASTM D-698: Standard Test Method for Laboratory Compaction Characteristics of Soil Using Standard Insert (12400 ft-lbf/ft3 (600 kN-m/m3)). Provisions Praktis Pengujian Tanah Jembatan 3 ASTM D854: Standard Test Method for Specific Gravity of Solids in Soil by Water.

Gambar 4.1 Gambar Bagian - Bagian Jembatan
Gambar 4.1 Gambar Bagian - Bagian Jembatan

SALINAN

Pondasi Telapak

Saat merencanakan jembatan di sungai aktif, pondasi dengan kaki tidak disarankan, dengan mempertimbangkan kemungkinan abrasi. Apabila konstruksinya untuk beban ringan, dapat dipadukan dengan konstruksi beton bertulang dan konstruksi beton batu kali 40%.

Pondasi Tiang Pancang

Pondasi Tiang Bor

Tujuan mendasar dari survei lapangan adalah untuk memperoleh data untuk tujuan desain dan konstruksi suatu proyek. Investigasi lapangan yang sering dilakukan berupa pengeboran mekanis dan pengeboran teknis untuk pengeboran inti, Undisturb Sample (UDS) dan pelaksanaan Standard Penetration Test (SPT). Profil dan analisis parameter tanah yang disajikan dalam laporan investigasi geoteknik mencakup:

Profil tanah untuk perencanaan (profil proyek) harus mewakili keadaan lapisan tanah, terutama parameter tanah untuk perencanaan pondasi. Selain itu, klasifikasi jenis tanah dan profil lapisan tanah paling sedikit sampai dengan kedalaman 30 m dimulai dari permukaan tanah aslinya.

Tahapan Penyelidikan Lapangan

  • Pengumpulan Data Terdahulu, Studi Literatur, dan Peninjauan Lapangan
  • Penyelidikan Utama
  • Penyelidikan Tambahan

Pengamatan tinggi muka airtanah pada setiap lubang bor teknis dilakukan untuk mengetahui kedalaman muka airtanah. Apabila penyelidikan umum menunjukkan bahwa kondisi tanah yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu atau diinginkan untuk dilakukan penyelidikan tambahan. Investigasi lapangan tambahan mungkin diperlukan untuk mendapatkan informasi tambahan dan/atau untuk mengkonfirmasi atau menyangkal data yang meragukan.

Terkadang kebutuhan akan pemeriksaan tambahan dapat ditiadakan jika pemeriksaan awal dilakukan dengan pengawasan yang tepat. Permasalahan dapat diidentifikasi selama pelaksanaan penyelidikan utama ini, dan rencana penyelidikan dapat dimodifikasi atau dikembangkan untuk memperoleh informasi tambahan yang diperlukan.

Sondir (Cone Penetrometer Test, CPT)

  • Alat-alat
  • Prosedur Uji dan Hasil Uji Sondir
  • Pengawasan Mutu Uji Sondir
    • Pengawasan Alat Uji Sondir
    • Pengawasan Prosedur Pengujian

Probe yang menghasilkan tahanan ultimit (qc), gesekan selimut (fs) dan tekanan air pori (u) mengacu pada ASTM D5778. Pengawas alat tes probe dapat mengikuti petunjuk dibawah ini, jika semua pertanyaan mempunyai jawaban ya, maka dapat melanjutkan ke proses selanjutnya. Pengawasan persiapan ujian probe dapat mengikuti petunjuk berikut, apabila semua soal mempunyai jawaban ya maka dapat dilanjutkan ke proses selanjutnya.

Pengawasan prosedur pengujian probe dapat mengikuti petunjuk berikut, apabila semua pertanyaan mempunyai jawaban ya maka dapat dilanjutkan ke proses berikutnya. Pengawasan tata cara pembacaan hasil tes dapat mengikuti petunjuk di bawah ini, jika semua soal terjawab ya, maka prosesnya dapat dianggap benar.

Gambar 5.2 Cara Kerja Alat Sondir Elektrik
Gambar 5.2 Cara Kerja Alat Sondir Elektrik

Pemboran Teknik

  • Jenis Bor Teknik

Pada metode ini, lubang bor dibuat dengan cara mencacah dan memutar bor dengan cara menyemprotkan air ke bawah bor. Dengan menggunakan bor putar, tanah dikikis dari dasar lubang bor dengan mengalirkan air dan dibilas. Kelebihan dan kekurangan pengeboran siram adalah: tidak dapat diidentifikasi tanahnya, kurang cocok untuk pengeboran batuan, dapat diterapkan pada semua jenis tanah, sangat cocok untuk tanah lunak, gangguan struktur tanah minimal.

Tabung tunggal tidak memerlukan sirkulasi air dan tabung ganda atau tripel memerlukan sirkulasi air. Kelebihan dan kekurangan pengeboran inti adalah: dapat digunakan pada batuan, dapat langsung mengidentifikasi tanah, tidak cocok untuk pengeboran pada tanah lunak, dapat mengganggu struktur tanah.

Uji Penetrasi Standar (SPT)

  • Alat-Alat
  • Prosedur Uji dan Hasil Uji SPT
  • Pengawasan Mutu Uji SPT
    • Pengawasan Persiapan Uji SPT

Ketentuan Praktis untuk Pengujian Tanah Jembatan 22 ditancapkan ke dalam tanah di dasar lubang bor. Pengujian Standard Penetration Test (SPT) dilakukan pada setiap lubang bor teknis dengan interval pengujian setiap 2,0 m. Dalam uji SPT, indikasi tanah keras adalah lapisan tanah dengan nilai SPT di atas 50 guratan/30,0 cm 3 (tiga kali) pada 3 (tiga) kedalaman berturut-turut.

Prinsip pelaksanaan uji penetrasi standar (SPT) adalah dengan memukulkan pipa standar pada lubang yang dibor sampai dengan 450 mm dengan menggunakan palu bermassa 63,5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian 760 mm. Untuk panjang batang lebih dari 10 m dan nilai SPT lebih besar dari 30, pengaruh panjang batang cukup besar. Lubang yang tidak dibersihkan dengan baik dapat mengakibatkan sisa-sisa tanah menyumbat split scoop dan dapat menyebabkan NSPT lebih besar dari nilai sebenarnya;

Gambar 5.6 Skema urutan uji penetrasi standar (SPT) (sumber : SNI 4153-2008)
Gambar 5.6 Skema urutan uji penetrasi standar (SPT) (sumber : SNI 4153-2008)

Pengambilan Sampel Tanah

  • Tabung Laras Belah (Split Barrel)
  • Tabung Modifikasi California
  • Pengambilan Sampel Tanah Tak Terganggu (Undisturbed sample)
    • Tabung dinding tipis (thin wall sampler)
    • Tabung Piston
    • Tabung Pitcher
  • Alat-Alat
  • Pengawasan Pengambilan Sampel Tanah
    • Pengawasan Pengambilan Sampel Tanah
    • Pengawasan Penyimpanan Benda Uji Sampel Tanah Tak Terganggu

Tabung tipikal ini digunakan untuk Uji Penetrasi Standar atau SPT (ASTM D1586), dengan tabung sampel dipukul dengan palu seberat 63,5 kg dan tinggi jatuh 76 mm. Contoh tanah tidak terganggu yang diambil dari lapisan tanah lempung akan digunakan dalam uji laboratorium untuk mengetahui sifat teknik tanah. Sampel tanah yang tidak terganggu dari tanah berbutir kasar juga dapat dikumpulkan dengan prosedur khusus, seperti pembekuan atau waxing dan penyumbatan atau coring tube.

Pengambilan sampel yang dilakukan dengan instrumen khusus ini digunakan untuk membantu mengurangi gangguan pada struktur tanah dan kandungan air tanah di situ. Contoh tanah tidak terganggu juga dapat digunakan untuk menentukan kekuatan, stratifikasi, permeabilitas air, kepadatan, konsolidasi, sifat dinamis dan sifat teknis tanah lainnya. Pipa berdinding tipis biasanya digunakan untuk memperoleh sampel tanah kohesif yang relatif tidak terganggu untuk pengujian kekuatan dan konsolidasi.

Pipa berdinding tipis yang biasa digunakan mempunyai diameter luar 76 mm (3,071) dan diameter dalam 73 mm dengan perbandingan luas 9%. Tabung berdiameter lebih besar digunakan untuk sampel berkualitas lebih tinggi guna mengurangi gangguan pengambilan sampel (ASTM D 1587). Tabung dengan ujung depan yang dilubangi digunakan untuk memotong spesimen berdiameter lebih kecil (72 mm) untuk mengurangi gesekan.

Tabung ini terutama digunakan untuk pengambilan sampel tanah lunak yang sulit, tetapi dapat digunakan. Tabung gelas kimia digunakan untuk tanah liat kaku hingga keras dan batuan lunak serta disesuaikan untuk pengambilan sampel sedimen yang terdiri dari lapisan keras dan lunak. Pengambilan sampel tanah lunak pada dasarnya sama dengan pipa berdinding tipis dan bit dapat memindahkan material melalui pipa.

Sumur PIT

Penyelidikan Lapangan Lainnya .1 Uji Geser Baling (Vane Shear Test)

  • Uji Pressuremeter
  • Uji Dilatometer
  • Uji Dynamic Cone Penetrometer (DCP)
  • Geolistrik
  • Jumlah dan Jarak Titik Penyelidikan Lapangan untuk Pondasi dan DPT Jembatan Jarak titik penyelidikan lapangan untuk pondasi dan DPT jembatan berkisar antara 25-50 meter
  • Jumlah dan Jarak Titik Penyelidikan Lapangan untuk Oprit Jembatan

Menggunakan meteran terhadap patokan atau bangunan yang ada di lokasi penyelidikan tanah. Tepat di sini yang dimaksud dengan ketepatan antara titik survei di lapangan seperti terlihat pada gambar teknik dan lokasi survei di lapangan. Idealnya survei tanah dilakukan sejauh mungkin pada titik-titik atau koordinat rencana survei tanah.

Lokasi dan jumlah titik survei lapangan seperti sondir, lubang bor + SPT + UDS, pengujian sumur, serta pengujian lapangan langsung lainnya harus ditentukan agar gambaran geologi umum lokasi secara keseluruhan dapat diperoleh dengan teknis. detail dan karakteristiknya, dari permukaan tanah. Untuk jembatan dan bendungan, titik uji tanah ditempatkan pada sumbu struktur untuk mengetahui apakah kondisi tanah yang ada mampu menopang beban struktur di lokasi tersebut. Di bendungan lain, titik survei dilakukan di lokasi konstruksi pelengkap seperti lokasi bendungan Elak.

Jumlah titik survei lapangan pada setiap dermaga atau abutment berkisar antara 1-4 titik (untuk sondir) dan 0-2 titik (untuk pengeboran). Berikut ini adalah jumlah minimum umum dan jarak Sondir serta titik pengeboran untuk pondasi jembatan dan DPT. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah untuk Jembatan 39 Tabel 5.11 Jumlah Minimum dan Jarak Titik Bor Pondasi dan DPT Jembatan.

Jumlah titik survei lapangan untuk ramp jembatan berkisar antara 1-4 titik (untuk sondir) dan 0-2 titik (untuk latihan). Berikut ini secara umum jumlah dan jarak minimal titik Sondir dan Titik Bor untuk ramp jembatan. Ketentuan praktis untuk penyelidikan tanah jembatan 40 Tabel 5.13 Jumlah minimum dan jarak titik pengeboran dan SPT pada Ramp jembatan.

Gambar 5.12 Macam-Macam Penyelidikan Lapangan
Gambar 5.12 Macam-Macam Penyelidikan Lapangan

Penyelidikan Laboratorium

  • Sampel Tanah
    • Perlakuan Sampel Tanah dari Lapangan ke Laboratorium
    • Cara Mengambil dari Tabung untuk Sampel Uji di Laboratorium
  • Indeks Propertis
    • Kadar Air (Moisture Content)
    • Berat Jenis (Spesific Gravity)
    • Berat Isi (Bulk Density) dan Berat Isi Kering (Dry Density)
    • Uji Saringan (Grain Size Analysis)
    • Uji Hidrometer (Hydrometer Test)
    • Batas-Batas Atterberg (Atterberg Limits)
  • Uji Kuat Geser Tanah
    • Uji Kuat Tekan Bebas (Unconfined Compression)
    • Uji Triaksial ( Triaxial Unconsolidated Undrained)
    • Uji Geser Langsung Unconsolidated Undrained (Direct Shear)
  • Uji Permeabilitas (Premeability Test)
  • Uji Kompaksi (Compaction Test) Astm D-1883
  • Uji CBR (CBR Test) ASTM D-698 (STANDART PROCTOR)
  • Pengujian Laboratorium Untuk Jembatan
  • Pondasi Tiang Pancang

Kadar air adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam contoh tanah atau agregat dengan berat kering tanah/agregat.Nilai kadar air biasanya dinyatakan dalam persentase. Pengujian kadar air bertujuan untuk mengetahui besarnya kadar air tanah, yaitu perbandingan antara berat air dengan berat kering tanah. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah Jembatan 43 ASTM D854-92 meliputi penentuan berat jenis tanah yang lolos saringan No. 4 (4,75 mm) dengan menggunakan labu kaca.

Batas cair adalah kadar air tertentu yang mengalami perubahan perilaku dari wujud plastis menjadi cair. Ketentuan Praktis Pengujian Tanah Jembatan 45 Dari hasil pengujian ini dapat ditentukan klasifikasi tanah berbutir halus. Peralihan dari satu wujud ke wujud lain terjadi bertahap dan batas antar fasa didefinisikan sebagai: batas cair (LL) adalah batas kadar air antara wujud cair dan plastis dan batas plastis (PL) adalah batas kadar air antara wujud plastik. dan setengah padat; Batas susut (SL) adalah kadar air di bawah PL dimana penyusutan tanah telah berhenti dengan pengeringan lebih lanjut.

Kadar air sampel dikurangi hingga mencapai konsistensi dimana sampel dapat digulung tanpa menempel di tangan. PL dicapai selama pengujian berulang hingga sampel mengering seiring waktu; PL adalah kadar air pada saat tanah mulai hancur bila diguncang hingga mencapai 3,2 mm. Metode ASTM untuk menentukan batas susut (SL) tanah dijelaskan pada ASTM D4943-89 (Metode Uji Standar Faktor Penyusutan Tanah dengan Metode Lilin) ​​dan ASTM D427-93 (Metode Uji Standar Faktor Penyusut Tanah dengan Metode Merkuri Metode). metode).

Tujuan dari uji pemadatan adalah untuk mencapai kadar air optimum (OMC) dan kepadatan kering maksimum dalam suatu proses pemadatan. Hasil pengujian ini digunakan untuk mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pemadatan di lapangan, yang dinyatakan dalam bentuk kurva pemadatan berupa grafik hubungan antara berat isi kering dengan kadar air. Pada kadar air yang relatif rendah maka tanah sulit untuk dipadatkan, sedangkan pada kadar air yang cukup tinggi nilai massa jenisnya akan menurun hingga kadar airnya sangat tinggi sehingga air tidak dapat dikeluarkan dengan cara pemadatan.

Pemadatan dengan kadar air yang berbeda akan menghasilkan nilai massa jenis yang berbeda pula, sehingga perlu dicari kadar air tertentu dengan keadaan paling padat (rasio rongga terendah). Untuk menentukan kadar air optimum biasanya dibuat grafik hubungan antara kadar air dengan berat satuan kering.

Tabel 6.1 Perlakuan Sampel Tanah
Tabel 6.1 Perlakuan Sampel Tanah

Gambar

Gambar 4.1 Gambar Bagian - Bagian Jembatan
Tabel 4.1 Tipe-tipe jembatan
Gambar 4.2 Pondasi Telapak Untuk Jembatan
Gambar 4.3 Jenis pondasi jembatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,