• Tidak ada hasil yang ditemukan

Martajasah Mangrove Ecotourism Development Strategy, Bangkalan Regency, Madura

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Martajasah Mangrove Ecotourism Development Strategy, Bangkalan Regency, Madura"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

221

Cite this as: Farid, A. (2023). Martajasah Mangrove Ecotourism Development Strategy, Bangkalan Regency, Madura. ECSOFiM: Economic and Social of Fisheries and Marine Journal. 10(02): 221-235. Available online at http://ecsofim.ub.ac.id/

MARTAJASAH MANGROVE ECOTOURISM DEVELOPMENT STRATEGY, BANGKALAN REGENCY, MADURA

STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE MARTAJASAH, KABUPATEN BANGKALAN, MADURA

Akhmad Farid*1), Hotimatus Zahroh1), and Teti Sugiarti1)

1) Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO Box 2 Kamal Bangkalan Madura Received: December 8, 2022 / Accepted: April 20, 2023

ABSTRACT

Ecotourism is one of the ecological-based tourism activities, one of which is mangrove ecotourism.

Martajasah is one of the mangrove ecotourism areas that have a high potential to be developed because it is adjacent to religious and culinary tourism. The purpose of this study is to determine the profile of tourists and to determine the development strategy of Martajasah Mangrove Ecotourism, Bangkalan Regency. The analytical method used in this study is Importance Performance Analysis (IPA). This analysis relates the level of importance of an attribute owned by a particular object with the reality (performance) felt by tourists. Based on the results of the study, it can be concluded that the majority of Martajasah Mangrove Ecotourism tourists come from Bangkalan Regency, male with student status, with an average age of 16-25 years. The biggest motivation for tourists to visit Martajasah Mangrove Ecotourism is for recreation. The development strategy of Martajasah Mangrove Ecotourism is to improve the quality and quantity of white sand, increase the length of the beach, increase the availability of travel agents to make it easier for tourists to go to Martajasah Mangrove Ecotourism and increase the number of facilities and infrastructure at the Martajasah Mangrove Ecotourism location.

Keywords: Martajasah, ecotourism, mangrove, strategy.

ABSTRAK

Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata berbasis ekologi, salah satunya adalah ekowisata mangrove. Martajasah merupakan salah satu kawasan ekowisata mangrove yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan karena berdekatan dengan wisata religi dan kuliner.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil wisatawan serta menganalisis strategi pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah Kabupaten Bangkalan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Importance Performance Analysis (IPA). Analisis ini mengaitkan antara tingkat kepentingan (importance) suatu atribut yang dimiliki obyek tertentu dengan kenyataan (performance) yang dirasakan oleh wisatawan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas wisatawan Ekowisata Mangrove Martajasah adalah berasal dari Kabupaten Bangkalan, berjenis kelamin laki-laki dengan status pelajar, berusia rata-rata 16-25 tahun. Motivasi terbesar wisatawan berkunjung ke Ekowisata Mangrove Martajasah adalah untuk berekreasi. Strategi pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pasir putih, menambah panjang pantai, meningkatkan ketersediaan agen perjalanan untuk mempermudah wisatawan menuju Ekowisata Mangrove Martajasah serta meningkatkan jumlah sarana dan prasarana di lokasi Ekowisata Mangrove Martajasah.

Kata kunci: Martajasah, ekowisata, mangrove, strategi.

* Corresponding author: Akhmad Farid, [email protected]

Institution and its address: Department of Natural Resource Management, Agriculture Faculty, University of Trunojoyo Madura, Bangkalan

(2)

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, sehingga ekowisata hutan mangrove dapat dijadikan sebagai destinasi wisata yang cukup menarik bagi para wisatawan (Farid et al., 2022). Lumaksono et al. (2012) menyatakan bahwa sektor pariwisata memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Pengembangan dan pelestarian sumberdaya alam melalui ekowisata adalah bentuk usaha wisata yang erat dengan prinsip konservasi, dengan menggunakan strategi konservasi untuk mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di wilayah yang masih alami, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut (Adharani et al., 2020). Ekowisata mangrove merupakan kegiatan pariwisata yang memberikan edukasi kepada wisatawan untuk menjaga kelestarian alam serta budaya masyarakat untuk dijadikan daya tarik dalam menjaga keberlangsungan hidup karena ekosistem mangrove memiliki banyak potensi dan manfaat dengan keindahan alam dan lingkungannya (Pellokila dan Sagala, 2019). Dalam beberapa tahun terakhir pariwisata mengalami perubahan yang sangat pesat, sehingga sangat memungkinkan jika adanya pengembangan ekowisata mangrove. Ekowisata merupakan salah satu aktivitas potensial yang dapat dipertimbangkan sebagai suatu pilihan untuk nilai ekonomi lokal (Wardhani, 2011).

Kepariwisataan mempunyai peran penting dalam memperluas serta memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, artinya dengan keberadaan wisata mangrove dapat membantu dalam hal perekonomian warga setempat. Dengan keberadaan ekowisata mangrove akan menjadikan kawasan tersebut menjadi kawasan wisata yang berkelanjutan, serta manfaat yang dirasakan bukan hanya saat ini akan tetapi dapat dirasakan dalam waktu yang akan datang dan berkelanjutan (Handayani et al., 2022). Pembangunan wilayah pesisir laut secara berkelanjutan adalah suatu kebijakan yang sangat penting dalam Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kebijakan ini berdasar pada pemikiran wilayah pesisir dan laut secara ekologis dan ekonomis sangat berpotensial untuk dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat bersama (Umam et al., 2015).

Keterlibatan masyarakat timbul ketika potensi pada kawasan wisata memberikan manfaat bagi masyarakat. Potensi pada kawasan wisata dapat memberi manfaat secara maksimal melalui kegiatan pelatihan bagi masyarakat (Hanun et al., 2021). Pengelolaan dan pengembangan tempat wisata harus dilakukan secara terpadu antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan milik bersama (Dewanti, 2019) melalui strategi pengembangan ekowisata secara tepat dan efektif. Menentukan strategi pengembangan ekowisata meliputi beberapa tahapan yaitu tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan, dan tahapan evaluasi. Berkembangnya dan keberhasilan ekowisata harus berbasis kepada wisata yang ramah lingkungan (Arisa et al., 2021). Salah satu metode analisis dalam menetukan strategi pengembangan tersebut adalah Importance Performance Analysis (IPA).

Importance Performance Analysis (IPA) merupakan suatu teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor kinerja penting apa saja yang harus ditunjukkan oleh suatu organisasi dalam memenuhi kepuasan para pengguna jasa (Umam et al., 2018). Importance Performance Analysis (IPA) bisa diartikan sebagai prosedur untuk menunjukkan kepentingan relatif

(3)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 223

berbagai atribut dalam menentukan atribut-atribut yang mendasar, sehingga dapat mengidentifikasikan area atau atribut untuk peningkatan kualitas jasa (Wijaya, 2018). Fungsi IPA dalam hal ini adalah untuk menentukan strategi pengembangan ekowisata mangrove berdasarkan atribut-atribut (atribut ekologi dan sapta pesona wisata) yang telah ditetapkan berdasarkan tingkat kepuasan wisatawan dan tingkat kepentingan dalam mendukung pelayanan yang menurut konsumen perlu dikembangkan karena performance-nya masih rendah.

Martajasah merupakan daerah yang berada di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur dan menjadi salah satu tempat wisata religi yang keberadaannya sudah dikenal secara nasional. Salah satu yang paling terkenal di Martajasah yaitu Makam Saikhona Kholil Bangkalan.

Martajasah juga terkenal dengan kekayaan wisata kuliner yang banyak disukai oleh para wisatawan yang berkunjung disini. Selain terkenal dengan wisata religi dan kulinernya, Martajasah juga merupakan kawasan ekowisata mangrove, maka sangat berpotensi jika kawasan ini dijadikan tempat pariwisata yang lebih baik lagi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil wisatawan, serta menganalisis strategi pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah Kabupaten Bangkalan.

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 12 – 29 Oktober 2022 di Ekowisata Mangrove Martajasah Kabupaten Bangkalan. Waktu pengambilan data kuesioner dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu selama empat minggu. Pengambilan data dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu dengan pertimbangan bahwasannya hari tersebut adalah hari libur sehingga lebih banyak pengunjung yang berwisata.

Sumber: Google Earth Pro (2022)

Gambar 1. Peta Lokasi Ekowisata Martajasah Kabupaten Bangkalan

(4)

Metode Pengambilan Data

Penelitian ini difokuskan pada kajian berbasis konsumen dalam hal ini objek risetnya adalah wisatawan, maka metode sampling dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Accidental Sampling, dimana responden yang diwawancarai adalah hanya wisatawan yang bekunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah. Responden ditentukan secara acak siapa saja yang bertemu dengan peneliti dan memiliki kriteria sebagai wisatawan (Meidatuzzahra, 2019). Metode Importance Perfomance Analysis merupakan metode dengan tujuan mengukur tingkat kepuasan wisatawan yang berkunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah (Immanuel & Setiawan, 2020). Hasil pengujian IPA digunakan untuk input strategi pengembangan Ekowisata Mangrove. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus yang diadopsi sebagai berikut (Suhendra & Prasetyanto, 2016):

𝑛 = 𝑝.(1−𝑝) (𝑍∝

𝑒

(1)

Keterangan:

n : Jumlah sampel

Z : Nilai standart 95% senilai 1,960

p : Proporsi populasi yang tidak diketahui jumlahnya senilai 0,5 e : Nilai error dengan nilai 0,10

Berdasarkan perhitungan rumus di atas didapatkan jumlah sampel yaitu sebanyak 96 responden.

Teknik Analisa Data Menggunakan Importance Perfomance Analysis (IPA)

Metode Importance Perfomance Analysis merupakan metode untuk mengukur tingkat kepentingan dan kepuasan wisatawan yang berkunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah (Immanuel & Setiawan, 2020). Analisis pengolahan data menggunakan software Microsoft Excel 2016. Menurut Umam et al. (2018), kepuasan dapat didefinisikan sebagai suatu tingkat perasaan seseorang sesudah membandingkan tingkat kinerja atau hasil yang diterima dengan harapannya.

Berikut hal-hal yang dipertimbangkan dalam implementasi metode IPA pada penelitian ini:

1. Menentukan Variabel Pengamatan

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel yang mempengaruhi kualitas produk wisata berupa ekologi, keamanan, ketertiban, kebersihan, kenyamanan, keindahan, ramah tamah, dan keunikan. Variabel-variabel tersebut digunakan untuk mengukut tingkat kepuasan wisatawan (Arcana, 2021).

2. Pembobotan

Pada setiap indikator akan digunakan skala pengukuran berupa skala likert untuk mengukur tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan wisatawan. Pada tingkat kepuasan wisatawan menggunakan skala angka 1 sampai dengan angka 5 dengan skala jawaban sangat tidak puas hingga sangat puas. Selanjutnya, pada tingkat kepentingan wisatawan menggunakan skala 1 sampai 5 dengan skala jawaban sangat tidak penting hingga sangat penting (Mardani et al., 2018).

3. Mengukur tingkat kesesuaian

(5)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 225 Kepuasan wisatawan dapat digambarkan oleh tingkat kesesuaian antara penilaian terhadap kepuasan (X) dan penilaian tingkat kepuasan (Y). Wisatawan akan merasa puas jika nilai kepuasan tersebut sebanding dengan kepentingan yang diharapkan. Wisatawan dapat dikatakan sangat puas jika nilai kesesuaian masing-masing atribut melebih nilai kesesuaian rata-rata. Tingkat kesesuaian diperoleh dengan menggunakan rumus (Arcana, 2021):

𝑇𝑘𝑖 =𝑋𝑖

𝑌𝑖× 100% (2)

Keterangan:

𝑇𝑘𝑖 : Tingkat kesesuaian responden

𝑋𝑖 : Skor penilaian pelaksanaan kinerja penyedia jasa 𝑌𝑖 : Skor penilaian kepentingan pengguna jasa (konsumen) 4. Diagram kartesius

Pada diagram ini terdapat sumbu X berupa tingkat persepsi wisatawan dan sumbu Y berupa tingkat harapan wisatawan. Setiap atribut yang mempengaruhi kepuasan wisatawan dapat menggunakan rumus sebagai berikut (Fitrianti et al., 2015):

𝑋̅ =∑ 𝑋𝑖

𝑛 dan 𝑌̅ =∑ 𝑌𝑖

𝑛 (3)

Keterangan:

𝑋̅ = Skor rata-rata persepsi/performance 𝑌̅ = Skor rata-rata harapan/Importance n = Jumlah responden

Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang terdiri dari 4 bagian yang dibatasi oleh dua garis tegak lurus yang berpotongan berupa garis X (rata-rata dari skor tingkat kepuasan wisatawan terhadap seluruh faktor atau atribut) dan garis Y (rata-rata dari skor tingkat kepentingan seluruh faktor yang mempengaruhi kepuasan wisatawan). Berikut rumus batas obyektif dalam pemetaan atribut diagram kartesius (Martilla & James, 1986):

= 𝑋=

𝑋𝑖 𝑛𝑖=1

𝐾 dan =𝑌=

𝑌𝑖 𝑛𝑖=1

𝐾 (4)

Keterangan :

=

𝑋 : Rata-rata dari rata-rata skor tingkat kinerja seluruh atribut

=

𝑌 : Rata-rata dari rata-rata skor tingkat harapan seluruh atribut k : Banyaknya item/atribut yang dinilai pengunjung

Setelah dilakukannya perhitungan, nilai-nilai yang diperoleh kemudian akan diplotkan ke dalam diagram kartesius. Berikut merupakan diagram pembagian kuadran Importance Performance Analysis (IPA) yang ditampilkan pada Gambar 2.

(6)

Sumber: Martilla dan James (1986) Gambar 2. Diagram Pembagian Kuadran IPA

Analisis ini mengaitkan antara tingkat kepentingan (importance) suatu atribut yang dimiliki obyek tertentu dengan kenyataan (performance) yang dirasakan oleh pengguna (Indrajaya, 2018):

1) Kuadran I Prioritas Utama (Concentrate These), memiliki faktor-faktor yang dianggap penting oleh konsumen namun faktanya faktor ini belum sesuai dengan harapan konsumen (tingkat kepuasan masih rendah) dan variabel-variabel tersebut harus ditingkatkan.

2) Kuadran II Pertahankan Prestasi (Keep Up The Good Work), memiliki faktor-faktor yang dianggap penting dan sudah sesuai dengan harapan konsumen sehingga memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi serta variabel yang ada harus tetap dipertahankan.

3) Kuadran III Prioritas Rendah (Low Priority), memiliki faktor yang dianggap kurang penting karena manfaat yang dirasakan konsumen sangat kecil sehingga peningkatan variabel perlu dipertimbangkan.

4) Kuadran IV Berlebihan (Possible Overkill), memiliki faktor yang dianggap kurang penting namun manfaat yang dirasakan terlalu berlebihan sehingga perusahaan perlu untuk mengurangi variabel-variabel yang ada untuk menghemat biaya.

HASILDANPEMBAHASAN Profil Pengunjung

Keberadaan Ekowisata Mangrove Martajasah tidak dapat dipisahkan dari pengunjung sehingga sebaran profil pengunjung menjadi penting untuk mengetahui pola tingkat kepuasan pengunjung pada saat berwisata serta untuk mengetahui performa apa saja yang masih kurang di Ekowisata Mangrove Martajasah. Usia wisatawan sangat berpengaruh terhadap keinginan untuk berwisata, semakin tua umur seseorang maka semakin berpotensi tidak tertarik untuk berwisata.

Wisatawan yang berkunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah digolongkan menjadi beberapa karakteristik yaitu karakteristik berdasarkan usia, berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan status pekerjaan, berdasarkan alamat asal wisatawan, dan berdasarkan tingkat pendidikan wisatawan.

Berdasarkan karakteristik usia, kunjungan wisatawan yang mendominasi wisatawan dengan usia 16 – 25 tahun yaitu 61%. Kunda et al. (2022), menyatakan bahwa pada umumnya kelompok dengan

(7)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 227 usia 16 – 26 tahun merupakan usia dimana orang lebih berenergi, sehingga diperkirakan pada usia ini orang lebih suka melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman baru dan mendatangi tempat yang lebih menarik.

Jenis kelamin yang lebih mendominasi yaitu dengan jenis kelamin laki-laki yang berkisar 62%, sedangkan jenis kelamin perempuan sebesar 38%. Maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan jenis kelamin yang berkunjung ke Ekowisata Mangrove Martajasah yaitu laki-laki. Cut Nelly (2022) mengungkapkan pada penelitiannya bahwa nilai kunjungan wisatawan berdasarkan usia pada jenis kelamin, jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan jenis kelamin perempuan. Hal ini sama dengan profil pengunjung Ekowisata Mangrove Martajasah yang didominasi oleh kaum laki-laki.

Pekerjaan wisatawan merupakan salah satu penunjang potensi para wisatawan untuk berkunjung. Berdasarkan profil pekerjaan wisatawan dapat ditarik kesimpulan bahwa pekerjaan wisatawan yang mendominasi di Ekowisata Mangrove Martajasah yaitu pelajar atau mahasiswa dengan nilai sebesar 56%. Sari et al. (2015), mengungkapkan bahwa pelajar dan mahasiswa memiliki kecenderungan untuk berwisata bernuansa alam secara berkelompok sehingga sering melakukan kegiatan yang dapat mengeksplorasi diri seperti halnya di Ekowisata Mangrove Martajasah yang digunakan untuk berkumpul dan berdiskusi, hal tersebut didukung juga lokasi Ekowisata Mangrove Martjasah tidak jauh dengan lingkungan kampus. Karakteristik kunjungan wisata di Ekowisata Mangrove Martajasah berdasarkan usia, jenis kelamin, status pekerjaan, alamat asal wisatawan, dan pendidikan dapat dilihat pada Gambar 3.

Sumber: Olahan Data Primer (2022)

Gambar 3. Karakteristik Wisatawan yang Berkunjung ke Ekowisata Mangrove Martajasah 5%

61%

33%

0% 1%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Usia

<15 16-25

26-35 62%

38%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Jenis Kelamin

Laki-Laki Perempuan

56%

6% 5% 1%

13%

19%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Status

Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa PNS/Pegawai BUMN/ABRI/POLRI Pegawai Swasta Wiraswasta

95%

5%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Alamat Asal

Wisatawan

Bangkalan

7% 0%

21%

57%

0%

15%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Pendidikan Wisatawan

Tidak Sekolah SD/Sederajat SMP/Sederajat

(8)

Ekowisata Mangrove Martajasah ini sudah banyak diketahui oleh berbagai macam kalangan.

Jika dilihat berdasarkan data yang diperoleh melalui kuisioner maka dapat disimpulkan untuk asal wisatawan yang berkunjung dan yang mendomisasi yaitu berasal dari Kabupaten Bangkalan dengan nilai 95%, sedangkan asal yang dari luar Kabupaten Bangkalan hanya bernilai 5%. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi wisata berada di daerah Kabupaten Bangkalan.

Karakteristik Kunjungan Wisatawan

Sumber: Olahan Data Primer (2022)

Gambar 4. Karakteristik Kunjungan Wisata di Ekowisata Mangrove Martajasah

Pengunjung dalam berwisata memiliki berbagai tujuan yang berbeda. Berbagai kategori yang dapat digunakan untuk mengetahui motivasi dan tujuan yaitu rekreasi, studi penelitian, menikmati keindahan alam, berlibur, refreshing, dan lain-lain. Motivasi pengunjung yang mendominasi yaitu dengan tujuan refreshing atau menyegarkan pikiran dengan nilai 65%, hal ini nilai tertinggi yaitu refreshing atau menyegarkan pikiran sehingga banyak yang berkunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah. Sari et al. (2015), menyatakan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi motivasi wisatawan berkunjung ke lokasi wisata yaitu faktor biaya yang relatif terjangkau.

Ketegori frekuensi wisatawan berkunjung di Ekowisata Mangrove Martajasah atau sering tidaknya wiatawan dalam berkunjung meliputi baru pertama kali, jarang (1 kali dalam setahun), cukup sering (2 – 6 kali dalam setahun), sering (rutin setiap bulan), dan sering sekali (lebih dari sekali tiap bulan). Frekuensi pengunjung yang tinggi memiliki nilai 62% dengan kategori cukup sering. Hal ini karena rasa nyaman sehingga berkunjung tidak cukup satu kali. Sari et al. (2015) menyatakan bahwa frekuensi kedatangan lebih dari satu kali menunjukkan adanya ketertarikan wisatawan terhadap tempat wisata.

Informasi merupakan suatu hal penunjang ekowisata. Salah satu hal yang harus kita ketahui untuk berkunjung ke suatu tempat yaitu adanya informasi baik itu informasi tempat, fasilitas dan lainnya. Kategori informasi diantaranya: internet, teman, keluarga, biro perjalanan, dan brosur.

Informasi yang digunakan oleh wisatawan paling banyak adalah didapat dari teman atau kolega 6% 8%

62%

8%

16%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Frekuensi

Pengunjung

Baru kali ini Jarang Cukup sering Sering

28%

2%

67%

0%0% 3% 0%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Sumber Informasi Diri sendiri Biro perjalanan Teman/Kolega Brosur/pamflet 3% 3%

8% 0%

65%

21%

Kunjungan Wisatawan Berdasarkan Motivasi dan Tujuan Berkunjung

Rekreasi Studi Penelitian Menikmati Keindahan Alam Berlibur

(9)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 229 sebesar 67%. Hal ini karena rata-rata yang mengunjungi Ekowisata Mangrove Martajasah adalah kalangan muda yang memiliki kemampuan menyebarkan informasi melalui media sosial pertemanan.

Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen

Analisa IPA (Importance-Performance Analysis)

Analisis pengolahan data menggunakan software Microsoft Excel 2016. Terdapat 36 atribut yang penulis cantumkan dalam penyebaran kuisioner tersebut yang berisi tentang kepuasan serta apa saja yang kurang di dalam ekowisata tersebut. Dalam penilaian terdapat beberapa kategori diantaranya yaitu: ekologi, keamanan, ketertiban, kebersihan, kenyamanan, keindahan, keramahtamahan, dan keunikan. Kepuasan pengunjung dapat dilihat berdasarkan data penyebaran kuisioner yang telah dilakukan dan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Atribut Importance Performance Analysis (IPA)

No Atribut IPA Xi Yi Tki

1. Kualitas perairan 334 412 81%

2. Kondisi Terumbu Karang 300 404 74%

3. Potensi Sumberdaya Ikan 331 391 85%

4. Tinggi Gelombang 280 348 80%

5. Kecerahan perairan 299 376 80%

6. Kualitas dan kuantitas pasir putih 232 364 64%

7. Kelandaian pantai 243 312 78%

8. Suhu udara 366 414 88%

9. Srus perairan 347 413 84%

10. Keberadaan ekosistem mangrove 419 455 92%

11. Keanekaragamaan spesies ikan 375 451 83%

12. Panjang pantai 267 349 77%

13. Terdapat pos keamanan 417 454 92%

14. Ketersediaan tempat parkir 380 435 87%

15. Terdapatnya rambu rambu petunjuk jalan dan arah 361 417 87%

16. Keteraturan penempatan sarana dan prasarana wisata 344 384 90%

17. Adanya pusat informasi dan pelayanan 373 422 88%

18. Kebersihan kondisi fisik lingkungan 405 458 88%

19. Ketersediaan fasilitas sanitasi seperti MKC dan tempat sampah 412 475 87%

20. Kondisi jaringan jalan menuju objek wisata 351 376 93%

21. Ketersediaan moda tranportasi menuju objek wisata 299 366 82%

22. Ketersediaan sarana akomodasi seperti hotel dan penginapan 338 378 89%

23. Kemudahan mencapai objek wisata 366 390 94%

24. Ketersediaan tempat makan dan minum 368 389 95%

25. Ketersediaan utilitas seperti jaringan listrik, air bersih dan komunikasi 391 415 94%

26. Tersedianya agen perjalanan 260 338 77%

27. Biaya tiket yang terjangkau 396 401 99%

28. Keindahan objek alam 408 424 96%

29. Keindahan objek buatan 378 416 91%

30. Memberikan perasaan senang dan betah 400 430 93%

31. Cocok untuk tempat berkumpul dengan keluarga ataupun teman 400 462 87%

32. Keragaman jenis wisata yang ditawarkan 353 396 89%

33. Keaslian objek wisata 413 425 97%

34. Adanya atraksi seni budaya daerah yang khas 303 368 82%

35. Adanya makanan dan minuman khas daerah 394 414 96%

36. Adanya cinderamata/souvenir khas daerah yang unik 371 389 95%

Sumber: Olahan Data Primer (2022)

Tingkat kepuasan bisa diukur dengan kriteria nilai 0%-34,99% dikatakan tidak puas 35%- 50,99% dikatakan kurang memuaskan, 51%-65,99% dikatakan cukup memuaskan, 66%-80,99%

(10)

memuaskan, dan 81%-100% sangat memuaskan (Pratama & Helma, 2019). Hasil analisis dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) pada Ekowisata Mangrove Martajasah dapat diketahui bahwa setiap atribut yang dipergunakan mempunyai nilai sangat puas dan memuaskan bagi wisatawan. Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa tingkat kepuasan di Ekowisata Mangrove Martajasah, memiliki skor nilai kepuasan yang tertinggi sebesar 99% yaitu biaya tiket yang terjangkau, sedangkan pada nilai kepuasan yang terendah sebesar 64% yaitu kualitas dan kuantitas pasir putih. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena berkunjung Ekowisata Mangrove Martajasah tidak memerlukan biaya dan cocok untuk kalangan anak SMA atau mahasiswa yang notabennya mencari tempat berkumpul dan berdiskusi yang tidak memerlukan biaya yang tinggi. Selanjutnya, kualitas dan kuantitas pasir putih mendapatkan nilai paling terendah, hal ini terjadi karena tidak adanya pasir putih di Ekowisata Mangrove Martajasah. Pada penelitian Alviani et al. (2018) menyatakan bahwa harga tiket masuk dan permainan wahana yang cukup terjangkau menjadi faktor utama untuk responden melalukan kunjungan di objek wisata mangrove, sedangkan souvenir yang khas dan menarik mendapatkan peringkat paling rendah, hal ini terjadi karena pendapat responden mengenai souvenir yang ditawarkan di objek wisata ini tidak terlalu khas, hanya terdapat beberapa anjungan yang menjual.

Berdasarkan Gambar 3, prioritas utama terdapat 4 atribut yang berarti kuadran I (Concentrate These), memiliki faktor-faktor yang dianggap penting oleh pengunjung akan tetapi faktanya faktor ini belum sesuai dengan harapan pengunjung (tingkat kepuasan masih rendah) dan variabel-variabel tersebut harus ditingkatkan. Empat atribut tersebut diantaranya sebagai berikut: atribut nomor 6 mengenai kualitas dan kuantitas pasir putih, atribut nomor 26 mengenai tersedianya agen perjalanan, atribut nomor 12 mengenai panjang pantai, dan atribut yang terakhir atribut nomor 4 mengenai tinggi gelombang. Akses publik ke kawasan wisata alam dengan tujuan berekreasi akan berdampak positif (Arcana, 2021), oleh sebab itu untuk memecahkan permasalahan teknis di lapangan diperlukan bentuk kemitraan antar stakeholder yang terlibat. Ekowisata Mangrove Martajasah perlu adanya pemecahan masalah seperti menyediakan agen perjalanan kepada para wisatawan serta memperpanjang panjang pantai untuk menambah daya tampung wisatawan sehingga memberikan dampak kenyamanan.

Kuadran II (Keep Up The Good Work), memiliki faktor-faktor yang dianggap penting dan sudah sesuai dengan harapan pengunjung sehingga memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi serta variabel yang ada harus tetap dipertahankan. Pada kuadran ini menunjukkan pertahankan prestasi dimana pada kuadran II terdapat 24 atribut yaitu diantaranya: atribut nomor 1 mengenai kualitas perairan, atribut 2 mengenai kondisi terumbu karang, atribut nomor 3 mengenai potensi sumberdaya ikan, atribut 5 mengenai kecerahan perairan, atribut 8 mengenai suhu udara, atribut 9 mengenai arus perairan, dan tribut selanjutnya yaitu terdapat pada nomor 10, 11, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 27 dan 29. Menurut Arcana (2021) menyatakan bahwa munculnya keluhan dari pengunjung perlu mendapat perhatian khusus karena akan membentuk loyalitas para wisatawan, maka dari itu salah satu membentuk untuk mempertahankan atribut yang sudah sesuai untuk para wisatawan.

(11)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 231 Gambar 2. Matriks IPA Penilaian Ekowisata Mangrove Martajasah Kabupaten Bangkalan

Kuadran III (Low Priority), memiliki faktor yang dianggap kurang penting karena manfaat yang dirasakan pengunjung sangat kecil sehingga peningkatan variabel perlu dipertimbangkan. Pada kuadran ke III atau prioritas rendah terdapat satu atribut yaitu atribut nomor 7 mengenai kelandaian pantai. Lelloltery et al. (2016) menyatakan bahwa daya dukung yang ada lebih sering diterapkan sebagai batas kegiatan wisata.

Kuadran IV (Possible Overkill), memiliki faktor yang dianggap kurang penting namun manfaat yang dirasakan terlalu berlebihan sehingga Ekowisata Mangrove Martajasah perlu untuk mengurangi variabel-variabel yang ada untuk menghemat biaya. Pada kuadran IV tidak terdapat atribut yang disebutkan dikarenakan kuadran ini dinilai kurang penting. Menurut Arcana (2021) perlu adanya perhatian penggunaan anggaran terhadap atribut jasa yang dianggap berlebihan oleh pengunjung untuk mengurangi beban ekowisata mangrove dengan asumsi atribut jasa tersebut memiliki kualitas yang baik khususnya bagi pengunjung. Namun berbanding terbalik di Ekowisata Mangrove Martajasah tidak adanya atribut yang berlebihan sehingga semua faktor masih penting dan ada juga yang lebih khusus diprioritaskan demi kebaikan ekowisata kedepannya.

2 1

3 4

6 5

7

8 9

11 10

12

13 14

15 16

17

1819

21 22 20 2324 25

26

27 29 28

1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00 5,50 6,00

2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00

Importance

Performance Prioritas Utama

Pertahankan prestasi

Prioritas

rendah Berlebihan

(12)

Strategi Pengembangan

Ekowisata Mangrove Martajasah masih banyak hal yang perlu dibenahi agar wisata tersebut dapat berkembang dan diminati oleh para pengunjung. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode IPA (Importance Performance Analysis), terdapat beberapa atribut yang belum memuaskan pengunjung sehingga diperlukan strategi pengembangan di Ekowisata Mangrove Martajasah. Strategi pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah yaitu sebagai berikut:

1. Kualitas dan kuantitas pasir putih. Atribut ini berada pada kuadran I yang artinya dianggap penting oleh pengunjung namun belum sesuai harapan pengunjung. Pengelola perlu melakukan peningkatan atau pengembangan agar dapat memberikan rasa kepuasan terhadap pengunjung. Strategi yang dapat digunakan yaitu seperti terdapatnya informasi mengenai biota apa saja yang berada di sekitar hutan mangrove seperti pengenalan jenis flora dan fauna, kemudian memelihara atau dijadikan sebagai objek di ekowisata hutan mangrove tersebut.

Pada penelitian Lelloltery et al. (2016) menyatakan bahwa kawasan pantai pasir putih dapat dilakukan kegiatan ekowisata pantai, dengan nilai indeks kesesuaian ekowisata pantai IKW (95,42 %) termasuk kategori “sangat sesuai” dengan daya dukung kawasan ekowisata pantai adalah 68 orang/hari. Oleh sebab itu perlu diterapkan dibeberapa objek Ekowisata Mangrove Martajasah.

2. Tersedianya agen perjalanan. Atribut ini berada pada kuadran I yang berarti kuadran ini dianggap penting oleh para wisatawan akan tetapi masih belum sesuai dengan yang diharapkan atau masih belum dikatakan puas oleh wisatawan. Para pihak yang bersangkutan diharapkan bisa memperbaiki dan menambah fasilitas transportasi menuju lokasi wisata. Strategi penambahan fasilitas transportasi ini dapat digunakan oleh pihak pengelola dengan harapan dapat memberikan rasa nyaman dan kemudahan dalam melakukan wisata di Ekowisata Mangrove Martajasah. Pada penelitian Anjana & Rachmawati (2021) mengungkapkan bahwa aksesibilitas yang baik akan membuat suatu lokasi wisata mudah untuk dikunjungi dengan berbagai jenis alat tranportasi

3. Panjang pantai. Atribut ini berada pada kuadran pertama (I) yang berarti pada kuadran tersebut dianggap mempunyai peran penting akan tetapi masih dianggap belum maksimal dalam hal pengelolaan. Menurut wisatawan, panjang pantai merupakan atribut yang penting untuk diperhatikan karena hal tersebut dinilai suatu komponen yang sangat berpengaruh dan dianggap menjadi daya tarik dalam ekowisata yang berbasis laut. Strategi yang dapat digunakan pada atribut ini yaitu pihak pengelola bisa menambah panjang pantai dengan melakukan penanaman mangrove sejajar garis pantai. Dengan penambahan tanaman mangrove secara horizontal pada garis pantai akan mampu menangkap sedimen dan akan berdampak pada bertambahnya panjang pantai pada Ekowisata Mangrove Martajasah. Maka, dengan adanya penambahan panjang pantai melalui program penanaman mangrove dapat menambah minat para wisatawan yang berkunjung. Selain itu menurut Lelloltery et al. (2016)

(13)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 233 menyatakan bahwa panjang pantai berfungsi menampung seluruh kegiatan wisatawan tanpa melebihi daya dukung kawasan.

4. Keteraturan penempatan sarana dan prasarana wisata. Atribut ini berada pada kuadran I dan dianggap penting oleh wisatawan akan tetapi pada atribut ini masih belum bisa dikatakan memuaskan para pengunjung. Keteraturan penempatan sarana dan prasarana adalah suatu hal yang berkaitan dengan keindahan suatu tempat sehingga pengunjung bisa melihat keindahan serta kerapian penempatan fasilitas wisata. Strategi yang dapat dikembangkan oleh pengelola wisata yaitu bisa menempatkan sarana dan parasarana dengan memperhatikan keindahan penempatan agar para pengunjung bisa puas dengan adanya fasilitas di Ekowisata Mangrove Martajasah. Peran wisatawan sangat penting untuk menjadi acuan dalam pengembangan dan strategi ekowisata mulai dari tata kelola yang baik dan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga memberi keuntungan bagi wisatawan yang berkunjung bahkan tidak hanya menyuguhkan wilayah yang masih alami saja, namun juga harus mengembangkan aspek lingkungan dalam hal konservasi (Farid et al., 2023).

KESIMPULANDANSARAN Kesimpulan

Mayoritas wisatawan Ekowisata Mangrove Martajasah adalah berasal dari Kabupaten Bangkalan, berjenis kelamin laki-laki dengan status pelajar, berusia rata-rata 16 – 25 tahun.

Wisatawan tersebut cukup sering mengunjungi Ekowisata Mangrove Martajasah. Motivasi terbesar wisatawan berkunjung ke Ekowisata Mangrove Martajasah adalah untuk berekreasi. Wisatawan tersebut berkunjung berdasarkan informasi dari teman/kolega. Strategi pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pasir putih, menambah panjang pantai, meningkatkan ketersediaan agen perjalanan untuk mempermudah wisatawan menuju Ekowisata Mangrove Martajasah serta meningkatkan jumlah sarana dan prasarana di lokasi Ekowisata Mangrove Martajasah.

Saran

Selain peningkatan jumlah sarana dan prasarana juga perlu ditingkatkan performance ekologi terutama yang berkaitan dengan kualitas pasir dan panjang pantai melalui program penanaman mangrove. Oleh sebab itu diperlukan keterlibatan semua pihak dalam proses pengembangan Ekowisata Mangrove Martajasah. Hasil penelitian ini juga perlu diturunkan kedalam Petunjuk Teknis Operasional Pengembangan (PTOP) yang lebih detail sehingga mudah dioperasionalkan secara teknis oleh pengelola Ekowisata Mangrove Martajasah Kabupaten Bangkalan dan Pemerintah Daerah.

(14)

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trunojoyo Madura yang telah memberikan dukungan finansial serta kesempatan penulis sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Adharani, Y., Zamil, Y. S., Astriani, N., & Afifah, S. S. (2020). Penerapan Konsep Ekowisata Di Kecamatan Cihurip Kabupaten Garut Dalam Rangka Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(1), 179.

Https://Doi.Org/10.24198/Jppm.V7i1.25235

Alviani, N. N., Suprapto, D., & Wijayanto, D. (2018). Valuasi Ekonomi Objek Wisata Trekking Mangrove, Grand Maerakaca Taman Mini Jawa Tengah Dan Potensi Pengembangannya.

Management Of Aquatic Resources Journal (Maquares), 7(3), 270–278.

Https://Doi.Org/10.14710/Marj.V7i3.22551

Anjana, Muhamad Redito Gea, & Rachmawati, E. (2021). Pengelolaan Sumberdaya Berkelnajutan Untuk Kesiapan Pengembangan Ekowisata Petulangan Di Curug Bibijilan Pasca Pandemi Covid 19. Semesta, 23–32.

Arcana, K. T. P. Dan P. I. B. G. (2021). Analisis Persepsi Pengunjung Kebun Raya Bali Menggunakan Importance-Performance Analysis. Journal Of Management And Public Policy, 04(02), 101–111.

Arisa, S., Sukendi, S., & Syahril, S. (2021). Strategi Pengembangan Ekowisata Bahari Selat Baru Kabupaten Bengkalis. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 45.

Https://Doi.Org/10.31258/Jil.15.1.P.45-53

Cut Nelly, Z. (2022). Persepsi Masyarakat dan Wisatawan Terhadap Rencana Pengembangan Ekowisata Mangrove. 3(1), 1–16.

Dewanti, I. S. (2019). Melancong Ke Laut Tata Kelola Pariwisata Maritim Indonesia:

Pengembangan Wisata Bahari Berbasis Masyarakat di Kawasan Pantai Kabupaten Batang(O.

Irianto, N. Loy, M. Rusdi, L. Madu, J. Cahyaningtyas, & S. Wibisono (eds.); pp. 217–236). PT Elex Media Komputindo.

Farid, A., Rosi, M. F., Arisandi, A. (2022). Struktur Komunitas Mangrove di Ekowisata Mangrove Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan. Jurnal Kelautan Nasional, 17(3), 231-242.

Https://dx.doi.org/10.15578/jkn.v17i3.11210

Farid, A., Arisandi, A., Faridy, A.F., Priyanto, M.W., (2023). Development of Mangrove Ecotourism Based on the Tourist Perspective in Lembung Village, Indonesia. Journal of Environmental Management and Tourism, 14(2), 425 - 434. https://doi.org/10.14505/jemt.14.2(66).12.

Fitrianti, S., Ismawati, I., & Nova, S. (2015). Analisis Tingkat Kepuasan Pengunjung Kawasan Wisata Lembah Harau. Polibisnis, 7(1), 37–46.

Handayani, K., Sulistyadi, Y., & Hasibuan, B. (2022). Optimalisasi Implementasi Prinsip-Prinsip.

Seminar Nasional Pariwisata Dan Kewirausahaan (Snpk), 1(April), 7–29.

Hanun, S. S., Muqoffa, M., & Hardiana, A. (2021). Penerapan Prinsip Ekowisata Pada Redesain Fasilitas Pusat Informasi Mangrove Di Kota Pekalongan. Senthong : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur, 4(2), 791–802. Https://Jurnal.Ft.Uns.Ac.Id/Index.Php/Senthong/Index

Immanuel, G. A., & Setiawan, R. (2020). Implementasi Metode Importance Performance Analysisuntuk Pengukuran Kualitas Sistem Informasi Akademik. Kurawal Jurnal Teknologi, Informasi Dan Industri, 3(2), 181–190.

Indrajaya, D. (2018). Analisis Kualitas Pelayananterhadap Tingkat Kepuasan Konsumen Menggunakan Metode Importance Performance Analysisdan Customer Satisfaction Index Pada Ukm Gallery. Jurnal Ikra-Ith Teknologi, 2(3), 1–6.

Kunda, E. E., Kisworo, & Wherrett, T. (2022). Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Lokal Di Desa Liliboi, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Jurnal Penelitian Kehutanan, 16(1), 44–59.

Lelloltery, H., Pujiatmoko, S., Fandelli, C., & Baiquni, M. (2016). Pengembangan Ekowisata Berbasis Kesesuaian Dan Daya Dukung Kawasan Pantai (Studi Kasus Pulau Marsegu Kabupaten Seram Bagian Barat). Jurnal Budidaya Pertanian, 12(1), 25–33.

(15)

ECSOFiM Journal of Economic and Social of Fisheries and Marine. 2023. 10(02): 221-235 235 Lumaksono, A., Priyarsono, D.S., Kuntjoro, K., & Heriawan, R. (2012). Dampak Ekonomi Pariwisata

Internasional Pada Perekonomian Indonesia . Forum Pascasarjana, 35(1), 53–68.

Mardani, A., Purwanti, F., & Rudiyanti, S. (2018). Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Pulau Pahawang Propinsi Lampung. Management Of Aquatic Resources Journal (Maquares), 6(1), 1–9. Https://Doi.Org/10.14710/Marj.V6i1.19804

Martilla, J. A., & James, J. C. (1986). Importance-Performance Analysis. Journal of Marketing, 41(1), 77–79.

Meidatuzzahra, D. (2019). Penerapan Accidental Sampling Untuk Mengetahui Prevalensi Akseptor Kontrasepsi Suntikan Terhadap Siklus Menstruasi. Avesina, 13(1), 9. Https://E- Journal.Unizar.Ac.Id/Index.Php/Avesina/Article/Download/124/100

Pellokila, I. R., & Sagala, N. (2019). Strategi Pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove Di Kawasan Pantai Oesapa. Tourism - Jurnal Pariwisata, 2(1), 47.

Https://Doi.Org/10.32511/Tourism.V2i1.319

Pratama, I. P., & Helma, H. (2019). Analisis Kepuasan Pengunjung Terhadap Pelayanan Wisata Pantai Tan Sirdano Kabupaten Pesisir Selatan Menggunakan Customer Satisfaction Index Dan Importance Performance Analysis. Unp Journal Of Mathematics, 2(4), 12–17.

Http://Ejournal.Unp.Ac.Id/Students/Index.Php/Mat/Article/View/7917

Sari, Y., Budi Yuwono, S., & . R. (2015). Analisis Potensi Dan Daya Dukung Sepanjang Jalur Ekowisata Hutan Mangrove Di Pantai Sari Ringgung, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Jurnal Sylva Lestari, 3(3), 31. Https://Doi.Org/10.23960/Jsl3331-40

Suhendra, A., & Prasetyanto, D. (2016). Kajian Tingkat Kepuasan Pengguna Trans Metro Bandung Koridor 2 Menggunakan Pendekatan Importance-Performance Analysis. Rekaracana: Jurnal Teknil Sipil, 2(2), 59–70.

Umam, K., Tjondro Winarno, S., & Sudiyarto, S. (2015). Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya. Agraris: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 1(1), 38–42. Https://Doi.Org/10.18196/Agr.116

Umam, R. K., & Hariastuti, N. P. (2018). Analisa Kepuasan Pelanggan Dengan Menggunakan Metode Customer Satisfaction Index (CSI) Dan Importance Performance Analysis (IPA).

Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Terapan VI Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya , 339–344.

Wardhani, M. K. (2011). Kawasan Konservasi Mangrove: Suatu Potensi Ekowisata Maulinna

Kusumo Wardhani. Jurnal Kelautan, 4(1), 60–79.

Https://Journal.Trunojoyo.Ac.Id/Jurnalkelautan/Article/View/891

Wijaya, T. (2018). Manajemen Kualitas Jasa (Desain Servqual, QFD, dan Kano). Jakarta Indeks.

Referensi

Dokumen terkait