• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT INDONESIA - ADOC.PUB

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "MASYARAKAT INDONESIA - ADOC.PUB"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

Karena itu, menurut saya mitos ini lebih banyak mengandung nilai budaya Bugis dan Makassar dibandingkan dengan mitos To-manurung lainnya. Mitos To-manurung dari Bantaeng di sini diambil dan diterjemahkan dari laporan pegawai pemerintah kolonial Belanda, O.M.

Nilai Budaya “Resiprositas”

Pertukaran yang terjadi di sini memang tidak seimbang, karena To-manurung terkesan memberi jauh lebih banyak kepada rakyat dibandingkan sebaliknya. To-manurung] menerima laporan setiap hari dari 12 orang yang dipilih dari populasi, dan mereka disebut To-mangada.

Nilai Budaya “Kebersamaan”

Nilai balas jasa pemimpin dapat dilihat pada kesepakatan perwakilan masyarakat (To-mangada) untuk membuka sawah bagi Tomanurung dan nilai kedua terlihat pada kerjasama mereka untuk melakukannya dan kemauan penduduk sekitar To- mangada. Hasil dari sawah yang diberikan kepada To-manurung tidak hanya untuk To-manurung, tetapi juga untuk pejabat lain dan mereka yang terlibat dalam pekerjaan sawah.

Nilai Budaya “Kesepakatan”

Dalam mitos ini terlihat bahwa perwakilan To-mangada dipilih sendiri oleh To-mangada berdasarkan kesepakatan di antara mereka. Nilai kesepakatan tersebut diwujudkan antara To-manurung dan To-mangada untuk mengangkat wakil yang tidak ditunjuk oleh To-manurung tetapi mereka memilih sendiri.

Nilai Budaya “Perwakilan”

Dengan mengatakan bahwa yang memilih Karaeng Bantaeng adalah To-mangada atau jannang, praktik demokrasi ternyata sudah lazim di Bantaeng. Sistem representasi yang diajukan To mangadas oleh Tomanurung adalah upaya untuk membuat hidup mereka lebih mudah.

Nilai Budaya “Restu Nenek-moyang”

Pengerjaan sawah untuk To-manurung harus dilakukan secara bersama-sama, namun agar lebih praktis penyatuan ini dilakukan dengan sistem perwakilan. Dengan mengikuti nasehat dan petunjuk To-manurung, maka sistem politik yang berlaku dianggap telah mendapat restu atau persetujuan dari para leluhur.

Nilai Budaya “Benda Pusaka adalah Penting”

Pada saat itu, seseorang yang ingin merebut kekuasaan dapat melakukannya dengan menyita atau menguasai harta pusaka milik penguasa (lihat Ahimsa-Putra 2007b). Kekuasaannya hanya akan terwujud jika mereka yang di atas dan di bawahnya setuju.

Nilai Budaya “Mimpi adalah Penting”

Dengan demikian, dalam sistem politik demokrasi harus ada proses pemilu yang (i) bebas (free Election) dan (ii) surat suara rahasia. Kita dapat menyebut sistem politik seperti ini, dan filosofi politik yang mendasarinya, sebagai sistem demokrasi dua manurung.

LEGENDA, CERITA RAKYAT, DAN BAHASA

DI BALIK KEMUNCULAN POLITIK PEREMPUAN JAWA

Sementara itu, kiprah perempuan Jawa dalam perjuangan politik dalam konteks Indonesia modern belum banyak dieksplorasi. Karya lain yang juga menunjukkan peran sentral perempuan Jawa dalam pembangunan peradaban Jawa adalah karya Ann Kumar.

Sosio-Kultural dan Politik Banyuwangi

Situasi ini tidak berubah pada Pemilu 2004, meskipun Partai Demokrat muncul dan menempati posisi keempat di belakang Partai Golkar. Namun, pada Pemilu 2009, PDIP justru melonjak ke urutan pertama di Banyuwangi, disusul Partai Demokrat, kemudian Golkar, sedangkan PKB turun ke urutan keempat.

Kemunculan Ratna: Dianggap Sebagai Sosok ‘Sri Tanjung’ dan

Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri, disusul Golkar pada Pileg 1999. Perkenalan mereka sampai ke pelaminan dan Ratna menjadi istri kedua WN, yang kemudian menjadi Ketua DPD PDIP Jembrana, meski pada 2008 WN beralih ke Partai Demokrat karena PDIP tidak mendukung pencalonannya sebagai Gubernur Bali pada 2008.

Sayu Wiwit’

Penelusuran sosok 'Sri Tanjung' di situs resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi (website resmi Pemkab Banyuwangi 2013) dan dari segi humanistik (Suhalik memberikan gambaran yang sama sebagai tokoh penting di pendahulu Banyuwangi, Sri Tanjung yaitu istri dari Patih Sidopekso yang mengabdi kepada seorang raja Sulahkromo yang menguasai ujung timur Pulau Jawa (Blambangan). RM menekankan Ratna sebagai sosok yang bersih, erat kaitannya dengan sosok Sri Tanjung yang terlihat dalam legenda sebagai seorang wanita. bersedia mempertahankan kesuciannya.

AGAMA, ETNISITAS, DAN

PERUBAHAN POLITIK DI MALUKU

REFLEKSI TEORETIK DAN HISTORIS

Pada tahun 1949, Belanda resmi membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Maluku menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT). Pada tahun 1920 Hollands Inlandsche Schools (HIS) dan Middelbaar Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) didirikan di Ambon dan Kepulauan Lease. Pada tahun 1920, Belanda juga mendirikan Volksscholen (sekolah negeri) di enam desa Muslim di Pulau Ambon.

PERILAKU POLITIK PRAGMATIS DALAM KEHIDUPAN POLITIK KONTEMPORER

KAJIAN ATAS MENYURUTNYA PERAN IDEOLOGI POLITIK DI ERA REFORMASI

Kajian budaya politik dalam ilmu politik diawali dengan munculnya pendekatan baru yaitu pendekatan behavioral. Berbagai ahli ilmu politik mengartikan budaya politik dalam definisi yang ringkas dan padat, yaitu orientasi atau seperangkat cara berpikir sekelompok warga negara terhadap politik dan pemerintahan (Almond 1997: 41; Ranney 1993: 65). Berkaitan dengan hakekat budaya politik, yang pada akhirnya berkaitan dengan norma dan nilai dasar yang dijadikan landasan aktivitas politik, maka salah satu kajian yang sangat relevan dalam bidang budaya politik adalah kajian mazhab politik. .

Demokrasi Liberal hingga Orde Baru

Kajian politik sekolah memiliki asumsi dasar kuatnya pengaruh ideologi politik dalam menentukan perilaku politik seseorang, termasuk perilaku memilih. Dalam konteks Indonesia, politik masa kini yang berintikan ideologi politik kerap diasosiasikan dengan komunitas besar tertentu yang mencakup banyak kelompok. Kajian Feith dan Castles menunjukkan bahwa fenomena politik seperti itu mendominasi dan mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan politik pada masa itu.

Gambar 1. Kategorisasi Partai Menurut Feith dan Castles
Gambar 1. Kategorisasi Partai Menurut Feith dan Castles

Era Reformasi

Dalam perspektif yang kurang lebih sama, Ufen (2005) juga mengkategorikan partai dengan penekanan pada ideologi politik. Namun terlepas dari hal-hal tersebut, ketiganya nampaknya sepakat bahwa ideologi politik berperan penting dalam mengatur cara pandang dan perilaku partai. Dalam hal ini, kajiannya yang ketiga terhadap partai-partai yang tumbuh sekitar 1998-1999 dan berpartisipasi dalam pemilu 1999 tampaknya masih meyakini adanya peran signifikan ideologi politik dalam kehidupan politik bangsa.

Politik Kartel dan “The End of Ideology”

Beberapa contoh menunjukkan bahwa ideologi politik berperan penting dalam mengarahkan perilaku politik, baik di tingkat partai maupun dalam hubungannya dengan pemilih. Kesan kuatnya naungan ideologi politik juga muncul ketika poros tengah dibentuk menjelang pemilihan presiden oleh MPR pada tahun 1999. Peran ideologi politik juga tercermin dalam upaya ormas Islam dan dua partai Islam, yakni. PPP dan PBB, yang meliputi tujuh kata yaitu kewajiban melaksanakan syariat. Islam untuk anggotanya sebagaimana tercantum dalam Piagam Jakarta dalam Pasal 29 (1) UUD 1945.

Pemilu Legislatif

Poros Tengah adalah kelompok yang terdiri dari partai-partai Islam di parlemen, termasuk PPP, PAN, PK, PSII, PKU dan PNU. Hal ini wajar mengingat aspek internalisasi ideologi melalui kaderisasi merupakan hal yang umumnya diabaikan dalam kehidupan partai (Haris 2004). Tercermin dari volatilitas perolehan suara partai yang cukup tinggi antara satu pemilu dengan pemilu berikutnya (Noor 2013).

Pemilihan Presiden

Memang ada konsistensi dalam pemilihan presiden ini, di mana tokoh-tokoh sekuler didukung oleh partai-partai yang sepaham. Dalam kontestasi saat itu, praktis hanya pasangan SBY-Boediono yang didukung partai menengah dan besar yang berbeda ideologi. Isu kalkulasi atau transaksi politik juga membuat dukungan partai Islam tertuju pada pasangan SBY-Boediono.

Pembentukan Koalisi

Hal itu terlihat dari keberhasilan pasangan SBY-Boediono yang meraih hingga 60,8% kursi, sementara Partai Demokrat (PD) hanya meraih sekitar 20% kursi. Pasangan SBY-Boediono merebut hampir semua provinsi yang ada, antara lain Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara. Bedanya, sebelumnya koalisi asli pendukung SBY hanya mengikutsertakan partai menengah dan kecil, namun pada Pilpres 2009 koalisi awal pendukung SBY-Boedion mengikutsertakan partai besar dan menengah.

Karakter Pemerintahan

Dengan bergabungnya hampir semua partai besar dan menengah yang ada, terlihat "pola koalisi pragmatis" yang membuat karakter ideologis koalisi SBY-JK menjadi subur. Dalam beberapa momen, partai cenderung melawan kepentingan koalisi, seperti kasus Bank Century dan mafia pajak. Beberapa momen justru menunjukkan kesepahaman antara partai sekuler (PDIP) dan Islam (PKS), dan ketidaksepakatan antara kedua partai dan partai yang sepaham, dan akhirnya semakin menunjukkan fenomena erosi.

Pemilihan Kepala Daerah

Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kajian penting tentang tipologi partai politik yang tidak bisa lepas dari keberadaan ideologi politik sebagai basis analisisnya. Masalah klasik yang muncul dalam dunia politik adalah terkait masalah ekonomi, hingga masalah kemandirian rakyat dalam politik. Selain itu, dokumen ini merujuk pada kondisi politik yang dapat mengaburkan makna demokrasi yang sebenarnya.

BUDAYA POLITIK KHAS MINANGKABAU

SEBAGAI ALTERNATIF BUDAYA POLITIK DI INDONESIA

Inilah salah satu hal yang membuat suasana pagi masyarakat Kota Padang terasa sejahtera karena tersedianya menu sarapan pagi yang dijual di warung-warung. Kekuasaan dilaksanakan secara damai melalui pembagian kekuasaan (power sharing) dengan penguasa setempat yang berada dalam kerangka kesatuan masyarakat adat yang disebut nagari.18 Penguasa nagari setempat disebut penghulu. Ia dipercaya untuk memimpin nagari dari hubungan pemerintahan, administrasi, sosial, ekonomi dan pemerintahan antar nagari.20 Selain urusan adat, agama, kekerabatan dan sistem pewarisan, kepemimpinan diatur dalam suatu kepadatan adat yang disebut Kerapatan Adat Nagari. (Kerapatan Adat Nagari). BENAR).

Pilkada dan Budaya Politik Universal

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa fenomena Pilkada praktis tidak dianggap sebagai budaya politik yang universal. Hal ini didasarkan pada argumentasi bahwa budaya politik tertanam dalam konteks budaya masyarakat tertentu. Konsep badunsanak yang diterapkan sebagai asas budaya politik menggunakan gagasan kekerabatan yang lazim dipahami oleh masyarakat Minangkabau.

DINAMIKA KOMUNITAS WARUNG KOPI DAN POLITIK RESISTENSI DI PULAU BELITUNG

Produk percakapan di kedai kopi memiliki implikasi politik yang lebih luas dan menyentuh institusi formal.

DISERTASI

REVITALISASI TRADISI

STRATEGI MENGUBAH STIGMA

KAJIAN PIIL PESENGGIRI DALAM BUDAYA LAMPUNG

Relasi Pertukaran Piil Pesenggiri

Piil Pesenggiri adalah nilai yang sudah lama hidup dan merasuk di hati setiap ulun Lampung. Dahulu, adok diambil oleh Banten pemberian gelar ulun Lampung sebagai bentuk kerjasama politik (pertukaran antara produsen dan konsumen menurut konsep Bourdieu (2003). Melalui metafora “saudara” yang diberikan kepada pendatang, Lampung meminta ulun untuk menghormati mereka yang datang sebagai tamu (nemui nyimah ).

TINJAUAN BUKU

SHADES OF GREY

INGATAN PRIBADI DAN SEJARAH

Buku ini juga mengatakan - sambil lalu - bahwa Masyumi dan PSI dibubarkan pada tahun 1959. Betapapun dekatnya hubungan pribadi Jusuf dengan Benny, ia beberapa kali menyinggung kenaifan Benny Moerdani dalam politik dalam buku ini. Tentang pencalonan Sudharmono sebagai wakil presiden, buku ini membenarkan gosip politik yang beredar selama ini.

Gambar

Gambar 1. Kategorisasi Partai Menurut Feith dan Castles
Tabel 1. Kondisi Hipotetis dan Riil Pengelompokkan Partai Pada Pilpres 2004
Tabel 2.  Komposisi Partai dalam Koalisi Pemerintah dan Oposisi

Referensi

Dokumen terkait

Dari hal tersebut, peneliti ingin mengetahui nilai dari Sasaran Keselamatan Pasien di RSGMP Unimus berdasarkan Sistem Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1.1