Petani kelapa sawit merupakan aktor yang berpotensi menjadi bagian penting dalam perdagangan minyak sawit global. Petani kelapa sawit kecil merupakan aktor potensial untuk menjadi bagian dari pasar minyak sawit global.
BOOK REVIEW
The main subject of this research is about the practice of modern capitalism in the form of large-scale oil palm plantations and the peasant resistance in the Indragiri Hulu, Riau. The main question in this study is why the farming community in Indragiri Hulu resisted the practice of plantation economics in this area.
DI BALIK KEBERLANJUTAN SAWIT: AKTOR, ALIANSI DALAM EKONOMI POLITIK SERTIFIKASI UNI EROPA*
Sertifikasi global yang dikeluarkan oleh Uni Eropa untuk perdagangan minyak sawit justru memicu respon dari pelaku negara produsen utama, Indonesia dan Malaysia. Resolusi ini merupakan ancaman bagi perdagangan minyak sawit antara Indonesia dan Malaysia, karena Uni Eropa tidak akan membeli minyak sawit dari negara produsen.
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY, SOCIAL CAPITAL AND SUSTAINABLE DEVELOPMENT: LESSONS FROM AN
INDONESIAN PALM OIL COMPANY*
Corporate sustainability is the 'simultaneous achievement of economic, social and environmental performance of the company' (Elkington. Impact at the 'bottom of the pyramid': The role of social capital in capability development and community empowerment.
PERSPEKTIF GENDER DALAM KEBERLANJUTAN SAWIT*
Pendekatan gender transformatif menekankan pentingnya partisipasi laki-laki dalam mencapai kesetaraan gender (Risman & Martin dalam Cole, Kantor, Sarapura, Rajaratnam, 2015). Kedua, percaya bahwa laki-laki juga bisa berperan sebagai agen perubahan untuk kesetaraan gender.
TANTANGAN KEBERLANJUTAN PEKEBUN KELAPA SAWIT RAKYAT DI KABUPATEN PELALAWAN, RIAU DALAM
PERUBAHAN PERDAGANGAN GLOBAL*
Perkembangan perkebunan kelapa sawit baru dimulai kembali ketika pemerintah Indonesia mendirikan Perusahaan Perkebunan Negara (PNP)/Perusahaan Terbatas (PTP) Perkebunan Kelapa Sawit pada tahun 1969 (Badrun, 2010a; Manggabarani, 2009b; Pahan, 2012). Sertifikasi kelompok pekebun swadaya pertama di Indonesia disertifikasi pada pertengahan 2013. Selama lima tahun terakhir, hanya empat kelompok pekebun swadaya yang telah menerima sertifikasi RSPO di Indonesia.
Sertifikasi yang berkaitan dengan produk kelapa sawit antara lain RSPO, Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), Forest Alliance (FA), dan Good Agricultural Practices (GAP). Saat ini dikenal beberapa istilah petani kelapa sawit skala kecil, seperti petani plasma dan petani swadaya (Badrun, 2010b; Manggabarani, 2009a). Perkebunan sawit skala kecil inilah yang kemudian disebut sebagai “perkebunan sawit mandiri” (Rahadian, 2013).
Luas perkebunan sawit swadaya kecil sangat bervariasi, mulai kurang dari 1 hektar hingga puluhan hektar. Praktek budidaya kelapa sawit Petani swadaya pada umumnya masih tradisional dengan cara produksi tradisional. Perusahaan dan pabrik kelapa sawit tidak berani membeli buah sawit dari pekebun swadaya yang tidak bersertifikat.
SISTEM ISPO UNTUK MENJAWAB TANTANGAN DALAM PEMBANGUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA
YANG BERKELANJUTAN*
Terakhir, pada tahun 2015, diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian No. 11/Permentan/OT tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) – selanjutnya disebut ISPO – adalah sistem bisnis dalam perkebunan kelapa sawit yang layak secara ekonomi, layak sosial dan ramah lingkungan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia (Peraturan Menteri Pertanian No. . 11/Permentan/OT Bahan hukum utama dalam penelitian ini adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur dan/atau berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan kelapa sawit Indonesia.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11/Permentan/OT Sertifikasi ISPO dilakukan untuk Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit, Usaha Perkebunan Plasma, Usaha Perkebunan Mandiri dan Kelapa Sawit untuk Energi Terbarukan (Permentan Nomor 11/ Permentan /PL lampiran I, 13) . Unit perkebunan perusahaan perkebunan yang dinilai berdasarkan prinsip dan kriteria ISPO minimum adalah pembulatan 0,8Öy; dimana y adalah jumlah perkebunan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Keanggotaan Komisi ISPO terdiri dari pejabat Level I dari instansi teknis dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Pelaku usaha perkebunan kelapa sawit yang akan mengajukan sertifikasi ISPO harus melengkapi beberapa dokumen untuk memenuhi aspek legalitas. Harus ada kesamaan pemahaman mengenai definisi dan konsep keberlanjutan dalam pengelolaan dan pengembangan kelapa sawit Indonesia. Peraturan Menteri Pertanian no. 11/Permentan/OT tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO).
PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN*
Sekitar 90% perkebunan kelapa sawit di Indonesia terletak di dua pulau sawit ini, dan kedua pulau ini menghasilkan 95% produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dianggap tidak berkelanjutan dan dituding sebagai penyebab utama deforestasi dan hilangnya habitat satwa liar. Sehubungan dengan itu, artikel ini ingin menganalisis perkebunan kelapa sawit Indonesia dalam perspektif pembangunan berkelanjutan (sustainability).
Perkebunan kelapa sawit (industri hilir) dengan demikian merupakan bentuk dan cara eksploitasi dan konservasi yang multifungsi. Keberlanjutan multifungsi perkebunan kelapa sawit Indonesia juga dinikmati oleh masyarakat dunia, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Selain itu, sumber daya manusia yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit di setiap daerah merupakan aliansi keragaman antaretnis di Indonesia.
Selain itu, perkebunan kelapa sawit meningkatkan ketersediaan infrastruktur pedesaan dan meningkatkan ketersediaan sarana pendidikan dan kesehatan (PASPI, 2014). Perkebunan kelapa sawit juga meningkatkan biomassa tanah (bahan organik), yang meningkat seiring bertambahnya usia tanaman (Chan, 2002). Dengan multifungsi tersebut, perkebunan kelapa sawit secara ekonomi, sosial dan lingkungan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
KEBERLANJUTAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA DAN PROSPEK PENGEMBANGAN
DI KAWASAN PERBATASAN*
Data empiris menunjukkan bahwa sebagian besar lapangan kerja di perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih tersedia di kegiatan hulu. Tingginya pendapatan rumah tangga di kedua kebun plasma kecil tersebut belum mencerminkan kelayakan ekonomi perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain, perkebunan kelapa sawit PTPN VII dari kebun plasma kecil rendah karena kelembagaan koperasi yang lemah.
Sisanya bekerja di berbagai perkebunan kelapa sawit di Pulau Kalimantan (provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, yang kemudian dimekarkan menjadi Kalimantan Utara). Personel AKAD Perkebunan Kelapa Sawit di Tiga Provinsi Perbatasan Berdasarkan Daerah Asal, 2015 Daerah Asal (Provinsi) Daerah Tujuan (Provinsi). Khusus di beberapa perkebunan sawit di kawasan perbatasan, pekerja AKAD berasal dari sembilan provinsi, seperti terlihat pada Tabel 6.
Mereka berstatus petani plasma dari PT PEL yang merupakan investor perkebunan kelapa sawit di daerah (Noveria).Berkembangnya usaha perkebunan kelapa sawit di kecamatan Sei Manggaris mengundang tenaga kerja lain untuk melakukan kegiatan. perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah memberikan pengaruh positif dan negatif bagi masyarakat.
BRIDGING PEOPLE, SEIZING THE FUTURE
INDONESIAN MIGRANT ENTREPRENEURS IN TAIWAN AND RETURN MIGRANT ENTREPRENEURSHIP IN
MALANG, EAST JAVA
In a study in Taiwan, the social role of an entrepreneur is created by elements of entrepreneurship such as structural conditions and personal experiences. This framework will be used to explain various social elements such as motivation, social networking and the Indonesian migrant model in the context of social interactions in Taiwan. Meanwhile, in the case of the entrepreneurship of return migrants in Indonesia, the most important problems in the development of entrepreneurial activities are the economic adaptation of the village and the constraints on the development of the enterprise, which become constraints for maintaining livelihood (structural condition) after the return of the migrant to the village. .
If a return migrant wants to establish an entrepreneurship in the home town, the relationship between the structural and individual conditions can develop socio-economic adjustment and economic reintegration. They are based on co-ethnic networks and dominant sectors, such as starting immigrant business activities in the food sector and facilitating the basic needs of immigrants. In the context of migrant entrepreneurship, entrepreneurs (as economic actors) are not only embedded in a (relatively) concrete network of social and economic relationships with clients and the business community, but also in the community through their interactions.
Social inclusion enables Indonesian entrepreneurs to identify the needs of the migrant community in the migrant niche and serve those needs. Entrepreneurial social activities and social embeddedness are mediating variables in the relationship between the structural and relational conditions of migrants within the broader Taiwanese society and the Indonesian community itself. In the context of return migrant entrepreneurship, such as the development of migrant participation, social relations between return migrants and their families and the local population or migrant associations.
PENGUASA, PENGUSAHA, DAN PETANI
Kapitalisme Perkebunan Sawit, Distorsi Sosial Ekonomi, dan Perlawanan Petani di Indragiri Hulu, Riau, 1978–2010
Kajian ini membahas dampak ekspansi kapitalisme perkebunan kelapa sawit dan munculnya perlawanan petani di Indragiri Hulu. 4, 1997; Ahmad Darmawi dkk., Bulean, Suku Talang Mamak Indragiri Hulu Riau, Pekanbaru: Dinas Kebudayaan, Seni dan Pariwisata Provinsi Riau, 2008. Dua kutipan di atas menunjukkan bahwa ekspansi modal yang besar membawa masalah baru di Indragiri Hulu.
Pengalaman warga etnis Talang Mamak Indragiri Hulu menunjukkan bahwa komersialisasi pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit, telah menimbulkan kemiskinan bagi masyarakat adat. Perampasan tanah oleh kaum kapitalis menjadi cikal bakal perlawanan kaum tani di Indragiri Hulu. Aktor utama konflik di Indragiri Hulu adalah negara yang ditandai dengan pemekaran negara oleh PTPN V.
Padahal kami bukan warga pendatang, kami adalah warga Talang Mamak asli yang sudah ratusan tahun mendiami Indragiri Hulu Riau. Kasus penyempitan lahan milik suku Talang Mamak terjadi di sekitar Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) Kabupaten Indragiri Hulu. Meski berbeda pandangan, negara tetap mengembangkan perkebunan sawit di tanah milik suku Talang Mamak.
TINJAUAN BUKU
MENGHIJAUKAN SEKTOR SAWIT MELALUI PETANI, LESSON-LEARNED HIVOS UNTUK ISU SAWIT
BERKELANJUTAN
Inisiatif-inisiatif ini menentukan standar produksi minyak sawit mereka sendiri yang disetujui yang kemudian digunakan sebagai definisi, peraturan dan pedoman untuk produksi minyak sawit berkelanjutan. Dalam RSPO, terdapat delapan prinsip yang harus dipenuhi untuk mengatakan bahwa produksi minyak sawit telah dilakukan secara berkelanjutan (Pramudya et al., 2015), yaitu (1) komitmen terhadap transparansi; 2) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku; (3) komitmen terhadap kelayakan. Terdapat dua kelompok utama petani kelapa sawit di Indonesia, yaitu petani plasma kecil dan petani swadaya.
Petani plasma secara struktural terikat kontrak atau perjanjian kredit dengan perusahaan kelapa sawit tertentu. Pemilik plasma kecil seringkali terorganisasi dan tidak dapat secara bebas mengelola perkebunan kelapa sawitnya, tetapi diawasi oleh manajer perusahaan mitra. Pekebun swadaya dicirikan dengan kebebasan untuk menentukan apa dan bagaimana mengelola kebun sawitnya (swakelola, swakelola, swadana) dan tidak terikat kontrak dengan perusahaan sawit.
Kedua, petani swadaya umumnya menggunakan bibit kelapa sawit yang berkualitas rendah, sehingga produktivitas kelapa sawit yang dihasilkan rendah (Pramudya et al., 2015; Brandi et al., 2013). Kelembagaan petani sangat penting dalam memberikan informasi kepada petani, antara lain informasi harga TBS, harga input dan teknologi terkini terkait produksi kelapa sawit. Upaya peningkatan kualitas produksi merupakan cara untuk meningkatkan efisiensi produksi kelapa sawit ke arah yang lebih berkelanjutan dan sekaligus meningkatkan perekonomian petani.