• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA KULIAH: PERENCANAAN WILAYAH - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "MATA KULIAH: PERENCANAAN WILAYAH - Spada UNS"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MATA KULIAH:

PERENCANAAN WILAYAH

TOPIK:

DISPARITAS ANTAR WILAYAH

Rama Permana Putra, S.T., M.Sc., M.P.W.K.

PRODI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

© PWK UNS 2020

Meeting #

Meeting #

(2)

Definisi dan Indikator

Disparitas antar wilayah merupakan perbedaan dalam pembangunan ekonomi dan pencapaian ekonomi yang tidak merata secara geografis.

 PDRB dan PDRB perkapita

 Tingkat kemiskinan

 Variasi Konsumsi Rumah Tangga perkapita

 Human Development Index

 Kontribusi sektoral Terhadap PDRB

 Struktur Fiskal

 Prosentase penduduk perkotaan

 Kelengkapan infrastruktur wilayah

(3)

Faktor Penyebab Ketimpangan (Tulus Tambunan)

 Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah

 Alokasi Investasi

 Tingkat Mobilitas

 Faktor Produksi yang Rendah antar Daerah

 Perbedaan Sumber daya Alam

 Perbedaan Kondisi demografis antar wilayah

 Kurang Lancarnya perdagangan antar propinsi

(4)

Faktor Penyebab Ketimpangan (Williamson)

 Migrasi kapital antar daerah,

 Proses aglomerasi pada daerah yang relatif kaya

 Pembangunan sarana publik pada daerah yang lebih padat

 Kurangnya keterkaitan antar daerah

 Migrasi tenaga kerja antar daerah bersifat selektif

(5)

Ketimpangan di Indonesia

 Di Indonesia, ketimpangan muncul disebabkan oleh mekanisme pasar yang berupa:

Input, Output, Kapital, Tenaga kerja dengan ketrampilan yang tinggi, yang terdistorsi oleh kebijakan ekonomi pemerintah pusat ke daerah.

 Akibat distorsi tersebut, menyebabkan terjadinya perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antar daerah.

 Perencanaan pembangunan yang cenderung bersifat sentralistik selama ini, juga dituding sebagai penyebab kesenjangan pembangunan ekonomi secara regional.

 Program yang dikembangkan utk menjembatani ketimpangan antar daerah selama ini

ternyata blm berjalan baik. Alokasi perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam

penganggaran pembangunan masih mengalami berbagai kendala.

(6)

Studi Tentang Kesenjangan di Indonesia

 Haeruman (1996) mengemukakan bahwa laju pembangunan antar daerah di Indonesia menyebabkan terjadinya kesenjangan antar daerah, terutama antara Jawa dengan luar Jawa, antara KBI dan KTI serta antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Ukuran yang digunakan untuk menghitung kesenjangan kesejahteraan ekonomi antar wilayah adalah Gross Regional Domestic Product (GRDP) perkapita.

 Kuznets mempelopori analisis pola–pola pertumbuhan historis di negara-negara maju. Ditemukan bahwa pada tahap-tahap pertumbuhan awal, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap berikutnya kecenderungannya akan membaik. Observasi inilah yang kemudian dikenal sebagai hipotesis kurva Kuznets U terbalik. Konsep tersebut memperoleh namanya dari bentuk rangkaian perubahan longitudinal (antar waktu) atas distribusi pendapatan (yang diukur berdasar koefisien Gini) sejalan dengan pertumbuhan GNP perkapita .

 Kawamura dan Akita (2000), melakukan studi tentang kesenjangan pendapatan regional dengan

membandingkan Cina dan Indonesia. Dengan menggunakan indeks Entropy Theil, hasil studi menunjukkan

bahwa di Cina, kesenjangan meningkat dari sebesar 0,230 pada tahun 1995 menjadi 0,235 pada tahun 1997,

dan kemudian terjadi peningkatan lagi pada tahun 1998 menjadi 0,249.

(7)

Studi Tentang Kesenjangan di Indonesia

 Sedangkan untuk Indonesia, penelitian dilakukan dengan dua periode yaitu tahun (sebelum krisis) dan tahun (selama krisis). Hasil studinya menunjukkan bahwa sebelum krisis ekonomi kesenjangan di Indonesia secara signifikan meningkat dari 0,262 pada tahun 1993 menjadi 0,287 pada tahun Sedangkan selama krisis terjadi penurunan kesenjangan menjadi 0,266 pada tahun 1998.

 Kuncoro (2002), dengan menggunakan indeks Entropy Theil melakukan penelitian tentang konsentrasi spasial industri manufaktur besar dan sedang di Indonesia untuk kurun waktu Hasil penelitian menunjukkan pola konsentrasi spasial industri berbentuk U, yaitu sampai dengan tahun 1984 konsentrasi cenderung menurun, namun pola sebaliknya terjadi mulai tahun Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan deregulasi dan liberalisasi yang diterapkan di Indonesia sejak tahun 1983 mendorong kecenderungan konsentrasi geografis di Indonesia.

 Studi yang dilakukan oleh Kuncoro (2002) tentang dinamika spasial industri manufaktur di Indonesia dengan

tahun pengamatan , menunjukkan bahwa terjadi aglomerasi industri terutama IBS dikota-kota besar di Pulau

Jawa. Studi ini menegaskan bahwa aglomerasi industri besar dan sedang sangat berhubungan dengan

konsentrasi perkotaan di Jawa. Aglomerasi industri manufaktur dan populasi yang besar telah berkembang di

Jabotabek dan Greater Bandung bagian Barat dan Greater Surabaya di bagian Timur pulau Jawa.

(8)

Garis Kemiskinan

 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk

memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

 Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

 Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll)

 Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan

kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis

komoditi di pedesaan.

(9)

Garis Kemiskinan

 Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk

memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

 Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

 Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll)

 Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan

kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis

komoditi di pedesaan.

(10)

Garis Kemiskinan Makanan

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari.

Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah :

Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100

kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga

implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari

penduduk referensi, sehingga :

(11)

Garis Kemiskinan Non Makanan

Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998 terdiri dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perkotaan dan 25 sub kelompok (47 jenis komoditi) di pedesaan. Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :

(12)

Indeks Ketimpangan Williamson

Indeks Williamson merupakan indikator ekonomi makro yang telah dikenal secara luas untuk mengukur ketimpangan pendapatan atau

mengetahui seberapa besar kesenjangan antarwilayah/daerah. Dasar perhitungan indikator ini adalah dengan menggunakan PDRB per kapita yang dikaitkan dengan jumlah penduduk per daerah. BPS mengemukakan rumus indeks williamson sebagai:

dengan:

Vw : Indeks Williamson

yi : PDRB per kapita wilayah-i

y : PDRB per kapita rata-rata seluruh wilayah

fi : jumlah penduduk wilayah-i

n : jumlah penduduk seluruh wilayah

Indeks ini bernilai antara nol sampai dengan satu. Nilai nol mengindikasikan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan antar kabupaten/kota di provinsi X adalah rendah. Sebaliknya jika indeks ini mendekati 1 maka dapat diartikan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan antar

kabupaten/kota di provinsi X adalah tinggi. Untuk level yang lebih rendah atau lebih luas indeks ini juga dapat digunakan untuk mengukur

ketimpangan antar Kecamatan/Kelurahan di Kabupaten/Kota X atau antar provinsi di negara X. Tinggal disesuaikan apakah data PDRB per kapita di wilayah terebut tersedia ataukah tidak. Karena beberapa kabupaten/kota di Indonesia belum memiliki angka PDRB sampai dengan level Kecamatan/Kelurahan.

(13)

Rasio Gini

 Rasio Gini atau koefisien adalah alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk.

 Ini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang

membandingkan distribusi dari suatu variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk.

 Koefisien Gini (Gini Ratio) adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu

(ketimpangan yang sempurna).

 Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis

diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu

berada.

(14)

Rasio Gini

Dari gambar disamping, sumbu horisontal menggambarkan prosentase

kumulatif penduduk, sedangkan sumbu vertikal menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing prosentase penduduk tersebut.

Sedangkan garis diagonal di tengah disebut “garis kemerataan sempurna”.

Karena setiap titik pada garis diagonal merupakan tempat kedudukan

prosentase penduduk yang sama dengan prosentase penerimaan pendapatan.

Semakin jauh jarak garis kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya. Pada gambar di atas, besarnya ketimpangan digambarkan sebagai daerah yang diarsir.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa suatu distribusi pendapatan makin

merata jika nilai Koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi

pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai Koefisien Gininya makin

mendekati satu.

(15)

Rasio Gini

Suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai Koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai Koefisien Gininya makin mendekati satu.

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.25/MEN/IX/2009 Tentang Tingkat Pengembangan Pemukiman Transmigrasi, gini rasio merupakan ukuran pemerataan

pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas pendapatan dalam 10 kelas pendapatan (decille) Rumus Gini Ratio:

GR = 1 - Σfi [Yi + Yi-1]

Ket : fi = jumlah persen (%) penerima pendapatan kelas ke i.

Yi = jumlah kumulatif (%) pendapatan pada kelas ke i.

Nilai GR terletak antara nol sampai dengan satu.

Bila GR = 0, ketimpangan pendapatan merata sempurna, artinya setiap orang menerima pendapatan yang sama dengan yang lainnya.

Bila GR = 1 artinya ketimpangan pendapatan timpang sempurna atau pendapatan itu hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja.

Nilai

Koefisien Distribusi Pendapatan

<0.4 Tingkat ketimpangan rendah

0,4-0,5 Tingkat ketimpangan sedang

>0,5 Tingkat ketimpangan tinggi

(16)

Diskusi

Disparitas antar wilayah disebabkan oleh faktor fisiografis dan sosial-ekonomi wilayah. Contoh faktor fisiografis meliputi: ketersediaan lahan untuk pembangunan, kesuburan tanah, sumberdaya alam dan keamanan dari potensi bencana alam. Sedangkan faktor sosial-ekonomi meliputi: sumberdaya finansial, akses teknologi, pelayanan publik, budaya masyarakat, tata kelola pemerintahan, kebijakan pembangunan dan superioritas politik dan ekonomi.

Salah satu solusi untuk mengurangi disparitas antar wilayah di Indonesia adalah Program Tol Laut. Namun, dikutip dari katadata.co.id (5/3/2020) dan bisnis.com (8/3/2020), Presiden Jokowi dan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), menilai tol laut belum berhasil dalam menurunkan disparitas harga antara Indonesia Barat dan Timur serta memberikan ketergantungan subsidi pelayaran dalam jangka panjang.

Faktor dan strategi fundamental apakah yang diharapkan mampu menekan disparitas antar

wilayah di Indonesia.

(17)

Diskusi

Referensi

Dokumen terkait