• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI-TEORI MENGENAI AZAS RELIGI

N/A
N/A
mayza fariza

Academic year: 2023

Membagikan "TEORI-TEORI MENGENAI AZAS RELIGI"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

NAMA : Mayza Fariza Nzulafri NIM : 210701073

MATA KULIAH : Antropologi Sastra

DOSEN : Dr. Drs. Hariadi Susilo, M.Si

TEORI-TEORI MENGENAI AZAS RELIGI

1. Tiga Pendekatan Terhadap Masalah Azas Religi.

Religi dan upacara religi memang merupakan suatu unsur dalam kehidupan masyarakat suku-suku bangsa manusia di dunia yang telah banyak menarik perhatian pengarang-pengarang etnografi dan merupakan suatu topik yang paling banyak dideskripsi dalam kepustakaan etnografi, terutama dalam abad ke-19 yang lalu. Dua teori yang menganalisa masalah asal mula religi adalah "teori jiwa" dari E. B. Tylor dan "teori batas kemampuan ilmu gaib" dari J. Frazer. Serupa dengan itu banyak teori lain tentang azas dan asal mula religi yang telah dikembangkan oleh berbagai ahli lain sebenarnya dapat juga kita golongkan ke dalam paling sedikit dua golongan seperti itu, tetapi menurut pendirian saya, ke dalam tiga golongan. Ketiga golongan teori itu adalah: (1) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada keyakinan religi;

(2) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada sikap manusia terhadap alam gaib atau hal yang gaib; (3) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada upacara religi.

2. Teori-Teori Yang Berorientasi Kepada Keyakinan Religi.

Teori Lang Tentang Dewa Tertinggi. Di antara buku-buku yang ditulis oleh Andrew Lang (1844—1912), ada sebuah buku yang mengandung teorinya tentang bentuk religi yang kuno berjudul The Making of Religion (1898). Buku ini terdiri dari dua bagian: yang satu mengenai gejala para-psikologi, dan yang kedua mengenai keyakinan yang ada pada Banyak suku bangsa primitif mengenai "tokoh dewa tertinggi". Pernah perhatian Lang terhadap gejala para psikologi bukanlah hal yang aneh, dan sesuai dengan keadaan zaman, yaitu pada akhir abad ke-19, tatkala banyak cendekiawan di Inggris tertarik akan gejala-gejala gaib yang aneh-aneh, yang sulit diterangkan oleh pikiran manusia secara rasional, atau secara ilmiah. Dalam bagian pertama buku tersebut, Lang sebenarnya ingin mengecam teori Tylor, ia kemudian menyatakan bahwa dalam jiwa manusia ada suatu kemampuan gaib yang dapat bekerja lebih kuat dengan makin lemahnya aktivitas pikiran manusia yang rasional. Gejala-

(2)

gejala gaib itu bisa bekerja lebih kuat pada orang-orang yang bersahaja yang kurang aktif hidup dengan pikirannya, dibandingkan dengan orang Eropa misalnya, yang lebih banyak tergantung dalam hidupnya kepada aktivitas pikiran rasionalnya. Bagian kedua dari buku Lang mengandung suatu uraian mengenai folklor dan mitologi suku-suku bangsa di berbagai daerah di muka bumi. Dalam dongeng-dongeng mitologi itu Lang sering menemukan adanya tokoh dewa yang oleh suku-suku bangsa yang bersangkutan dianggap dewa tertinggi, pencipta seluruh alam semesta beserta isinya, penjaga ketertiban alam dan kesusilaan.

Teori Marett Tentang Kekuatan Luar Biasa. Teori bahwa bentuk religi yang tertua adalah berdasarkan keyakinan manusia akan adanya kekuatan gaib dalam hal-hal yang luar biasa Dan yang menjadi sebab timbulnya gejala-gejala yang tak dapat dilakukan manusia biasa dikembangkan oleh R. R. Marett (1866—1940). Walaupun ia seorang ahli kesusastraan Yunani dan Rum Klasik, Marett juga banyak membaca karangan folklor dan etnografi, antara lain etnografi karangan pendeta penyiar agama Nasrani di daerah Kepulauan Melanesia bernama R. H. Codrington. Dalam bukunya yang berjudul The Melanesians (1891) itu ada uraian mengenai keyakinan orang Melanesia tentang suatu kekuatan gaib yang disebut mana, yang dipancarkan oleh roh- roh atau dewa-dewa tetapi dapat juga dimiliki oleh manusia. Konsep mana yang dideskripsi Codrington itu kemudian dipergunakan oleh Marett untuk mengembangkan suatu teori tentang apa yang dianggapnya sebagai bentuk religi yang tertua. Ia menulis suatu rangkaian karangan tentang topik tersebut dalam sebuah buku yang berjudul the Threshold of Religion (1909). Buku itu dimulai dengan suatu kecaman terhadap teori Tylor mengenai kesadaran manusia purba tentang jiwa sebagai pangkal religi. Sebagai lanjutan dari kecaman itu ia mengajukan teorinya sendiri tentang asal mula religi manusia, yaitu Bahwa pangkal Religi adalah suatu “emosi” atau suatu “getaran jiwa”

yang timbul karena kekaguman manusia terhadap hal-hal dan gejala-gejala tertentu yang sifatnya luar biasa. Dengan menunjuk kepada data etnografi tentang mana, Marett kemudian mengajukan teori bahwa manusia purba dalam hidupnya seringkagum akan hal-hal serta peristiwa-peristiwa yang gaib, yang tak dapat diterangkannya dengan akalnya yang masih terbatas kemampuannya itu. Bentuk religi semacam itu oleh Marett dianggap lebih tua dari religi di mana manusia menyembah makhluk halus dan roh, dengan perkataan lain, lebih tua dari religi animisme. Itulah sebabnya bentuk religi tertua yang diuraikannya itu disebut praeanimism.

(3)

Konsep Kruyt Tentang Animisme dan Spiritisme. Ada seorang pendeta bangsa Belanda bernama A. C. Kruyt (1869—1949) yang lama bekerja sebagai penyiar agama Nasrani di antara penduduk pegunungan, yaitu "orang Toraja" di Sulawesi Tengah. Iya telah menulis banyak karangan etnografi tentang suku-suku bangsa penduduk Sulawesi Tengah dan salah satu diantaranya berjudul Het Animisme in den Indischen Archipel (1906). Dalam buku tersebut ia mengembangkan suatu teori mengenai bentuk religi manusia primitif atau manusia kuno yang berpusat kepada suatu kekuatan gaib yang serupa dengan kekuatan mana dan kekuatan supranatural yang dikonsepsikan oleh Codrington dan Marett. Iya berkata bahwa manusia primitif atau manusia zaman kuno itu pada umumnya yakin akan adanya suatu zat halus yang memberi kekuatan hidup dan gerak kepada banyak hal di dalam alam semesta ini. Zat halus yang oleh Kruyt disebur zielestof itu terutama ada dalam beberapa bagian tubuh manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan tetapi seringkali juga dalam benda. Di samping keyakinan kepada Zielestof, manusia kuno juga mempunyai keyakinan lain yaitu kepada berbagai macam makhluk halus yang menempati alam sekeliling tempat tinggalnya makhluk-makhluk halus itu mempunyai pengaruh penting pada kehidupan manusia, karena mereka mempunyai kemauan sendiri dapat bergembira Apabila diperhatikan oleh manusia tetapi dapat pula marah apabila diabaikan. Sistem keyakinan akan adanya makhluk-makhluk halus tersebut di atas ini oleh Kruyt disebut spiritisme.

Mengenai hubungan antara animisme dan spiritisme, Kruyt mengembangkan sebuah pemikiran yang mengandung unsur-unsur cara berpikir Evolusionisme. ' katanya mula- mula, waktu Manusia masih hidup dalam suatu masyarakat yang bersifat communistisch, maka religi manusia yang pokok adalah keyakinan akan adanya suatu zat halus yang umum yaitu zielestof. Tetapi kemudian, ketika individualisme berkembang, maka keyakinan kepada suatu zat halus yang umum yaitu Zielestof tadi, mulai mengkhusus kepada zat-zat halus dari individu-individu, sedangkan keyakinan kepada zat-zat halus itu menjadi penting apabila individu yang mendukungnya telah meninggal, dan zat-zat halus tadi itu hidup sendiri sebagai makhluk halus. Pada suku- suku bangsa di Indonesia, misalnya suku-suku bangsa penduduk pegunungan Sulawesi Tengah kedua macam sistem religi itu hidup berdampingan. Walaupun unsur-unsur spiritisme itu sudah ada namun unsur-unsur animisme belum hilang sama sekali, bahkan masih meliputi bagian paling penting dalam kehidupan keagamaan bangsa Indonesia titik di mana ada pengaruh agama-agama besar seperti Islam dan Nasrani, maka pengaruh itu terutama akan merubah sistem spiritisme karena azas spiritisme

(4)

mengandung suatu persamaan dengan azas dari agama-agama besar itu, yaitu keyakinan akan keberlangsungan hidup jiwa manusia sesudah tubuh jasmaninya meninggal.

3. Teori Yang Berorientasi Kepada Sikap Manusia Terhadap Hal Yang Gaib.

Konsep R. Otto terhadap sikap kagum—terpesona terhadap hal yang gaib suatu konsepsi mengenai azas religi yang berorientasi kepada sikap manusia dalam menghadapi dunia gaib atau hal yang gaib berasal dari ahli teologi Rudolf Otto, yang diuraikannya dalam sebuah buku yang telah menarik perhatian kalangan luas berjudul Das Heilige (1917). Menurut Otto, semua sistem religi, kepercayaan dan agama di dunia berpusat kepada suatu konsep tentang hal yang gaib yang dianggap maha dahsyat dan keramat oleh manusia. Sifat dari hal yang gaib serta keramat itu adalah Maha- Abadi, Maha-Dahsyat, Maha-Baik, Maha-Adil, Maha-Bijaksana, tak terlihat, tak berubah tak terbatas, dan sebagainya. Walaupun demikian, dalam semua masyarakat dan kebudayaan di dunia, hal yang gaib dan keramat tadi yang menimbulkan sikap kagum-terpesona, selalu akan menarik perhatian manusia, dan mendorong timbulnya hasrat untuk menghayati rasa bersatu dengannya. Teori bahwa penyebab Religi adalah sikap kagum-terpesona tetapi tak tertarik untuk bersatu dengan hal yang gaib dan keramat yang tidak dapat dijelaskan dengan akal manusia itu memang sudah tampak dalam sekejap pandangan pada subjudul dari buku oto tersebut yang berbunyi Uber das Irrationale in der Idee des Gottlichen. Teori itu sangat disetujui dan dapat segera diterima oleh para ahli teologi dan para penganut agama yang serius. Namun sayang, teori itu hanya cocok untuk menerangkan sikap manusia yang menganut agama-agama besar seperti Islam, Kristen, atau Katolik, tetapi tidak untuk menerangkan adanya ratusan sistem kepercayaan dan religi yang kecil dalam masyarakat yang bersahaja.

Referensi

Dokumen terkait