• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah melakukan kajian yang mendalam, dapat disimpulkan mengenai status hukum barang temuan (luqat}ah), bahwa kedua mazhab berbeda pandangan dalam hal status hukum luqat}ah, walapun ada persamaannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Setelah melakukan kajian yang mendalam, dapat disimpulkan mengenai status hukum barang temuan (luqat}ah), bahwa kedua mazhab berbeda pandangan dalam hal status hukum luqat}ah, walapun ada persamaannya"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Masalah penemuan barang (lukat}ah) merupakan permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan, baik pencarian barang yang bernilai rendah (tidak penting) maupun yang bernilai tinggi (berharga), baik yang berstatus penemu (al-multaqit), atau hilangnya barang tersebut.. Dalam pembahasan tentang benda yang ditemukan (lukat}ah), tentu saja yang diteliti adalah masalah benda yang ditemukan/harta karun (al-Ma>l), maka hukum pencari/ pengumpul (al-Multaqit), pemilik (orang yang kehilangan) dan sumber hukum (nas}s}).

Pokok Masalah

Tujuan dan Kegunaan

Akademik, yaitu untuk pengembangan ilmu pengetahuan berupa sumbangan pemikiran khususnya dalam bidang keilmuan fiqih dan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik dalam menyerap ilmu pengetahuan.

Telaah Pustaka

Abdussala>m `Allau>syi>, buku ini bisa dikatakan cukup membahas tentang benda temuan (lukat}ah). Penulis terutama akan menekankan pada studi perbandingan setelah uraian status hukum benda temuan (lukat}ah), antara Mazhab Hanafijah dan Mazhab Malikijah.

Kerangka Teoretik

Penelitian yang membedakan penulis dengan peneliti terdahulu adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kedua kelompok mazhab ini dalam menentukan status hukum barang temuan (luqat}ah), menurut hukum fiqih Islam. Sedangkan pembahasan mengenai barang temuan (luqat}ah) erat kaitannya dengan status dan syarat penemunya (al-Multaqit}).

Metode Penelitian

Dalam pengumpulan datanya penulis tidak menggunakan teknik khusus, hanya diupayakan agar data yang berkaitan dengan penelitian ini dapat terkumpul selengkap-lengkapnya, baik itu data primer maupun sekunder, termasuk sumber data primer yaitu Bukhori-Muslim . kitab hadis, serta kitab hadis lainnya, kitab fiqh Bida>jatul Mujtahi>d karya Ibnu Rusyd, kitab Iba>natul Ahka>m syarah, kitab Bulu>gul Mara>m, kitab syarah hadits pilihan oleh Buha. >ri dan Muslim, Kitab Fiqh'ala> Mazha>hib al-Arba`ah karya Abdurrahma>n al-Jazi>ri>, Kitab Fiqih Lima Mazhab karya Muhammad Jawad Mughniyah, al-Asybahu wan Naz} a >ir karya Abdurahma>n es-Suyu>ti, buku Us}u>l Fiqh karya Muhammad al-Khudri, buku “Hukum Fiqih Islam” karya Muhammad Hasbi esh-Shiddieqy. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sastra dan sosio-historis yaitu pendekatan kajian hukum barang temuan (lukat}ah), kemudian pendekatan ini juga digunakan dalam penelitian ini.

Sistematika Pembahasan

Selanjutnya pada bab keempat penulis menganalisis dan membandingkan pandangan kedua mazhab Hanafi dan mazhab Maliki mengenai perspektif masalah status hukum barang temuan (luqatah), baik dari sudut pandang konsep mental, persamaan dan perbedaan faktor apa yang menjadi alasan kedua mazhab dalam menentukan hukum fiqh, khususnya status hukum benda temuan (luqat}ah), dengan memperhatikan aspek pendiri mazhab, pendidikan, sejarah, budaya (` urf ) dan sosiologis. Bab kelima merupakan bab terakhir sebagai bab penutup yang berisi simpulan dan saran mengenai kajian pemikiran dua kelompok antara mazhab Hanafiyyah dan mazhab Malikiyyah, mengenai status hukum benda temuan (luqatah).

TINJAUAN UMUM TENTANG BARANG TEMUAN (LUQAT { AH)

Pengertian Luqat } ah dan Dasar Hukum dan Jenisnya

  • Pengertian Luqat } ah
  • Dasar Hukum Luqat } ah
  • Luqat } ah berupa Makanan dan Barang Sepele
  • Luqat } ah di Kawasan Tanah Hara > m
  • Luqat } ah di Lihat dari Segi Nilainya
  • Zakat Luqat } ah
  • Anak Temuan (Al-La > qit } )
  • Kewajiban Bagi Penemu Barang Temuan (al-Multaqit } )

KONSEP PEMIKIRAN MAZHAB HANAFIYYAH DAN

Sejarah Mazhab Hanafiyyah dan Mazhab Malikiyyah

  • Latar Belakang Perkembangan Mazhab Hanafiyyah
  • Latar Belakang Perkembangan Mazhab Malikiyyah

Aku bertemu dengan Imam Malik di Madinah, lalu aku berkata kepadanya: Aku melihat kamu menyeka peluh di dahimu, lalu dia berkata kepadaku: Aku berpeluh bersama Abu Hanifah, sesungguhnya dia seorang ahli fiqh, wahai penduduk Mes}i> r. " 4. Fiqh mazhab ini dimulakan oleh Imam Ma>lik (93 - 179 H). 6 Beliau adalah Imam Madinah dan Ami>rul Mu`mini>n dalam hadis. Namanya Ma>lik bin Annas bin Abi> Ami>r al-As}bahie,> nama panggilannya ialah Abu Abdilla>h.

Imam Malik merupakan sosok yang berilmu luas, berkepribadian utuh dan pribadi yang sangat rendah hati. 34; Imam Malik adalah orang pertama yang mempunyai ahli fuqaha di Madinah, beliau ahli dalam fiqih, beliau menyukai ibadah dan darinya datanglah as-Sya>fi`i>.” 8. Imam Ma>lik. bin Annas dalam kehidupan banyak menyumbangkan pemikirannya terhadap pembangunan masyarakat pada masanya.

Selain itu, ada juga murid Imam Malik lainnya yang berasal dari Tunis, Irak, Hedjzaz dan Basra.

Konsep Pemikiran Mazhab Hanafiyyah dan Mazhab

Mazhab Malikiyyah mengambil amalan penduduk Madinah sebagai dalil dan mendahulukan mereka daripada qiya dan berita Ahad. Mazhab Maliki tidak mendakwa kemuliaan hadis dalam urusan umum, tidak juga menolak berita Ahad, termasuk kepastian keadaan perawi jika bertentangan dengan qiya>s dan lebih mengutamakan berita Ahad daripada qiya>s, dan menerima. hadis mursal14 dan hadis ahad dengan syarat tidak menyalahi perbuatan penduduk Madinah, mereka menetapkan hukum dengan istihsa>n, tetapi tidak banyak digunakan. 13http://www.google.co.id/search?hl=id&q=istinbat+hanafiyyah+and+malikiyyah&meta=.

Dalam dialek, ia bermaksud "isim maf`u>l dari arsala, yang bermaksud atlaqu, yang bermaksud "terputus atau terputus" dalam istila>han, ertinya orang yang melakukan kesalahan pada penghujung sanad hadis, selepas tabi`in atau tabi`it yang tidak berjumpa dengan Nabi SAW, tetapi berkata begini dan begini datangnya daripada Nabi SAW, tetapi tidak menggunakan perantara s}aha>bat.34;Setelah peristiwa yang tidak ada baginya. teks undang-undang dengan peristiwa yang ada nas undang-undang, jika ia adalah undang-undang yang ada nas untuk menyamakan dua peristiwa itu berdasarkan undang-undang itu." 16http://www.google.co.id/search?hl=id&q=istinbat+hanafiyyah+and+malikiyyah&meta=.

Perspektif antara mazhab Hanafi dan mazhab Maliki dalam menentukan status hukum benda yang ditemui (Lukat}ah).

Perspektif Antara Mazhab Hanafiyyah dan Mazhab Malikiyyah

  • Rukun-rukun Luqat } ah

Persamaan dan Perbedaan

  • Persamaan
  • Perbedaan

Yang dimaksud dengan barang temuan (luqat}ah) adalah segala benda yang disimpan dan hampir tidak ada gunanya serta tidak diketahui pemiliknya. Hadits di atas menjelaskan bahwa benda temuan (luqat}ah) yang tidak mudah rusak hendaknya diumumkan sifat-sifatnya dalam jangka waktu satu tahun. Zakat atas barang temuan (rikaz) wajib dikeluarkan atas barang yang ditemukan terkubur di dalam tanah, atau biasa disebut (harta karun).

Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki berpendapat bahwa jika benda yang ditemukan itu ditemukan di antara orang-orang yang tidak dapat dipercaya dan imamnya adalah orang yang jujur, maka wajib. Selain itu, benda-benda yang ditemukan di Makkah tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang hendak menerbitkannya. Mazhab Maliki berpendapat bahwa benda-benda yang ditemukan (luqat}ah) harus selalu dipublikasikan, baik yang ditemukan di kota Makkah (saat menunaikan ibadah haji) maupun di tempat lain.

Dalam hal ini kedua mazhab berbeda pendapat mengenai seorang budak yang memakan barang hasil temuan (luqat}ah). Mereka berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya orang yang menemukan barang itu mengembalikan barang yang dikeluarkan untuk barang yang ditemukan itu kepada pemiliknya. Jika dikaji secara mendalam status hukum barang temuan (luqat}ah) yang ditawarkan baik oleh Mazhab Hanafiyyah maupun Mazhab Malikiyyah.

Begitu juga, benda-benda yang terdapat di Makkah tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang ingin mengumumkannya. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemikiran Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki Dalam Menentukan Status Sah Barang Yang Dijumpai.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemikiran Mazhab Hanafiyyah

  • Faktor Pendiri Mazhab dan Pendidikan
  • Faktor Ideologi
  • Faktor Sosio-Historis

Perbedaan penentuan status hukum benda temuan (luqat}ah) merupakan perbedaan yang lazim terjadi dikalangan para fuqaha, khususnya antara mazhab Hanafiyyah dan mazhab Malikiyyah, dalam setiap hukum fiqh tentu ada persamaan dan perbedaannya. Misalnya pendapat mazhab Hanafiyyah: “Merampas benda temuan adalah kewajiban untuk menjaga harta benda umat Islam lainnya.” Sedangkan mazhab Malikiyyah justru menolak pendapat tersebut dengan mengatakan: “inilah. Konsep hukum luqat}ah yang dikemukakan mazhab Hanafiyyah tidak berbeda jauh dengan yang dikemukakan mazhab Malikiyyah, hanya saja terdapat perbedaan dalam penggunaan yang ditemukan. barang diambil.

Manakala golongan Madzah Malikiyyah pula meyakini bahawa mengambil barang yang ditemui adalah dilarang, jika orang itu tidak mampu menjaga barang yang ditemuinya (khianat), jika orang itu mampu menjaga dan bertanggungjawab menerima apa yang diambilnya (mengumpulnya). daripada barang-barang yang ditemui, dia mesti mengambilnya seperti yang dinyatakan oleh mazhab Hanafi. Dalam masalah barang yang ditemui (luqat}ah), kedua-dua mazhab tersebut cenderung berbeza pendapat, bahkan secara berhujah, dalam memahami nas, definisi hukum mengambil, mengumumkan dan status barang yang ditemui yang lebih daripada diumumkan. setahun dan memberi keterangan terhadap orang yang ditemui (perbendaharaan kata). Maka jelaslah bahawa konsep luqat}ah yang dikemukakan antara mazhab Hanafi dan mazhab Maliki, mengenai status hukum barang yang ditemui (luqat}ah), daripada mengambil kepada pengumuman barang yang ditemui (luqat}ah. ) ), tidak lain hanyalah melindungi sesuatu yang boleh membawa kepada perkara yang dilarang oleh Allah SWT dan RasulNya.

Kedua mazhab tersebut membahas tentang status hukum benda temuan (luqat}ah) yang bersifat khusus atau hanya jenis tertentu saja, apalagi mazhab Maliki memasukkan amalan penduduk Madinah (`urf) sebagai alat bukti dalam membuat suatu hukum. keputusan tersebut, tanpa disadari umat Islam akan menerapkan hukum yang diputuskan oleh kedua mazhab tersebut, khususnya mazhab Maliki yang menggunakan amalan masyarakat Madinah sebagai alat bukti dalam menentukan hukumnya. dunia yang tentunya mempunyai ciri khas yang berbeda-beda, pola budaya dan adat istiadat (`urf) yang berbeda-beda.

PENUTUP

Kesimpulan

Mazhab Hanafiyyah mendefinisikan luqat}ah dengan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah, atau mengikutinya dengan mengetahui dalil-dalil yang diperoleh dari Imam Abu Hanifah, yaitu bahwa mengumpulkan benda-benda temuan merupakan suatu keharusan untuk melestarikan harta benda guna melestarikan dan merawat sesama saudara. . sedangkan mazhab Malikiyyah yang mengartikan luqat}ah dengan menerima perkataan Imam Malik sebagai pendiri mazhab ini cenderung mengharamkan pengambilan dan hukuman makhruh karena dikhawatirkan terjadi kelalaian dalam pengawasan terhadap benda-benda temuan tersebut. Namun setelah penulis catat, bisa jadi keduanya (mazhab Hanafiyyah dan mazhab Malikiyyah) sedang membicarakan secara khusus tentang benda-benda yang ditemukan pada masa mereka hidup. Dalam penelitian yang membahas mengenai status hukum benda temuan (luqat}ah), penulis tidak menemukan bahwa kedua mazhab tersebut membahas atau mengangkat ayat Al-Qur’an sebagai argumen sekunder, padahal sama-sama mazhab. telah diketahui menggunakan nash-nash Al-Qur'an sebagai landasan utama dalam menetapkan hukum fiqh.

Setelah dilakukan kajian mengenai status hukum barang temuan (lukat}ah), maka dalam skripsi ini dapat disimpulkan bahwa barang temuan apa pun yang tidak dimiliki wajib diberitahukan dan diberikan kepada pemiliknya, karena dapat saja barang temuan itu. sangat dibutuhkan oleh pemiliknya, jika tidak dikembalikan. Muhammed Yusu>f al-Kandahlawy, Sirah Sahabat, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi, et., Tinur Jakarta ke-3: Pustaka al-Kautsar, 2000. Tidak membantu keduanya dan pemiliknya tidak melarikan diri serta barang yang ditemukan tidak halal, kecuali orang yang bersaksi, dan bukan dengan cara menipu, kata Abbas R.A.: Wahai Rasulallah.

Rasulallah SAW bersabda bahawa orang yang menjumpai sesuatu barang dan tidak mahu mengiklankannya atau tidak berniat mengembalikan barang itu kepada pemiliknya, orang itu dikira sesat.

Saran-saran

Referensi

Dokumen terkait

The writer found a pattern of adjacency pairs in a home movie: preferred and dispreferred by investigating and analyze the home movie's transcript according to Levinson’s theory and the