• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami ilmu Mekanika Tanah

N/A
N/A
Nadia Gitarista

Academic year: 2024

Membagikan "Memahami ilmu Mekanika Tanah"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

Untuk lebih memahami ilmu Mekanika Tanah, selain dipelajari melalui perkuliahan juga perlu dilakuakan penyelidikan di lapangan maupun pengujian di laboratorium.

Penyelidikan tanah di lapangan berguna untuk mengetahui unsur daerah/lokasi ditinjau dari kestabilab tanah, daya dukung tanah, gaya geser dan lain- lain memenuhi syarat atau tidak untuk didirikan bangunan sipil. Sedangkan pengujian di laboratorium berguna untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan mekanika tanah dari contoh-contoh yang diambil pada penyelidikan tanah.

Pengujian di laboratorium Mekanika Tanah yang merupakan materi dalam acara praktikum meliputi:

A. Sifat Fisik Tanah, yaitu sifat tanah dalam keadaan asli digunakan menentukan jenis tanah, terdiri dari :

1. Kadar Air, Bobot Isi, dan Berat Jenis.

2. Batas-batas Atterberg yaitu:

a. Batas Cair (Liquid Limit) b. Batas Plastis (Plastic Limit) c. Indeks Plastis (Plasticity Limit) d. Batas Susut (Shrinkage Limit) 3. Analisa Ukuran Butir

a. Analisis Ayakan b. Analisis Hidrometer 4. Permeabilitas Tanah

(2)

B. Sifat Mekanik Tanah, yaitu sifat-sifat tanah apabila memperoleh pembebanan, dan digunakan sebagai parameter perencanaan pondasi, diantaranya meliputi:

1. Pemadatan Tanah (Soil Compaction), terdiri dari : a. Pemadatan Standar

b. Pemadatan Modifikasi

2. Kekuatan Geser Langsung (Shear Strength Of Soil), parameternya dapat diperoleh dari pengujian:

a. Kuat Geser Langsung (Direct Shear Test)

b. Kuat Tekan Bebas (Uncomdined Compression Test) c. Triaksial (Triaxial Test)

3. Koefisien Konsolidasi, diperoleh dengan metode:

a. Square Root Fitting Method b. Log Fitting Method

Selain pengujian di laboratorium, dilakukan juga di lapangan atau pengujian in-situ yaitu:

1. DCP (Dynamic Cone Penetrometer), parameter yang diperoleh antara lain:

a. CBR (California Bearing Ratio) b. DDT (Daya Dukung Tanah)

2. Sondir, parameter yang diperoleh antara lain:

a. Perlawanan Gesek b. Hambatan Setempat

(3)
(4)

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Acara I (Kadar Air, Bobot Isi, dan Berat Jenis) 1. Analisis Data

Pada praktikum Acara I ini, di dapatkan hasil perhitungan yang kemudian di analisis sebagai berikut:

a). Kadar Air

Dalam melakukan uji kadar air, tanah yang sudah dalam keadaan basah yang telah dimasukkan ke dalam cawan dan ditimbang, Kemudian dimasukkan ke dalam oven. Hal ini dimaksudkan agar air yang terkandung pada tanah tersebut menguap dan tanah menjadi kering (dalam kadar air yang dapat dihitung). Dalam perhitungan kadar air yang dilakukan diperoleh hasil nilai kadar air yaitu sebanyak

(5)

20,8735%, dimana tanah ini termasuk jenis tanah loss karena memiliki kadar air 20%-30%.

b). Berat Jenis

Pada pengujian berat jenis, sampel yang telah dioven kemudian dihaluskan dan dimasukkan ke piknometer lalu ditambahkan air dan dipanaskan serta digoyang-goyangkan ketika akan mendidih. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan udara dalam tanah sehingga didapatkan berat jenis dari tanahnya saja, tanpa udara. Setelah itu piknometer didinginkan sampai mencapai suhu normal ruangan kemudian ditambahkan air hingga penuh dan ditimbang untuk mengetahui berat jenis sampel tanah. Dari hasil pengujian ini, didapat- kan berat jenis rata-rata sebesar 2,4392, maka dari itu tanah uji termasuk dalam jenis tanah lempung organik.

c). Bobot Isi

Pada pengujian bobot isi sampel tanah dimasukkan kedalam cincin kemudian dipadatkan agar hasil lebih akurat sehingga tidak ada rongga yang mengakibatkan volume berubah. Pada pengujian ini diperoleh perbandingan berat tanah dan volume total sebesar 1,72 gram/cm³. Dengan bobot isinya ini yang lebih dari 1,4 gram/cm³ maka tanah uji tergolong dalam jenis tanah kelas sangat berat.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari pengujian berat jenis, kadar air, dan bobot isi adalah sebagai berikut.

a. Untuk mengidentifikasi jenis tanah.

b. Untuk menganalisa kestabilan lereng.

c. Untuk menganalisa terowongan bawah tanah.

d. Mengetahui kadar air, bobot isi, dan berat jenis suatu tanah.

(6)

e. Sebagai informasi dalam pengelolaan air dan drainase tanan (porositas).

f. Sebagai informasi dalam perencanaan dan perancangan struktur bangunan atau konstruksi.

g. Sebagai informasi dalam pengelolaan air pada tanah.

3.2. Acara II (Analisis Ayakan dan Hidrometer) 1. Analisis Data

a. Analisis Ayakan

Setelah dilakukan analisis dan perhitungan data, didapat beberapa hasil yang mana dari hasil pengujian nilai Cu dan Cc didapatkan dengan menggunakan rumus :

Cu = D60 / D10 Cc = (D30)2 / D60.D10

Sehingga diperoleh nilai Cu sebesar 3,05 dan nilai Cc sebesar 3,64.

Klarifikasi tanah dengan menggunakan metode USDA mengklasifikasikan bahwa tanah ini mengandung 99,4% Sand dan 50,6%. Silt. Nilai Cu baik besar maupun kecil akan memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Tidak semua tanah yang memiliki nilai Cu rendah berkualitas buruk, begitupun sebaliknya.

b. Analisis Hidrometer

Dalam analisis hidrometer yang dilakukan dengan dengan cara memasukkan set hidrometer sehingga dapat mengukur konsentrasi tanah dengan kecepatan pengendapan dari butir tanah. Pada analisis ini diperoleh kecepatan pengendapan dengan rumus :

V = L / t

Maka diperoleh data kecepatan pengendapan setiap menit adalah sebagai berikut.

1. V pada waktu 0 menit = ~ (tidak terdefinisi) 2. V pada waktu 0,5 menit = 31

3. V pada waktu 1 menit = 15,5

(7)

4. V pada waktu 2 menit = 15,6 5. V pada waktu 5 menit = 15,8 6. V pada waktu 15 menit = 16,3

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari pengujian analisis ayakan dan analisis hidrometer adalah sebagai berikut.

1. Klasifikasi jenis tanah berdasarkan AASHTO, USCS, USDA - Klasifikasi berdasarkan metode USDA

Sistem didasarkan pada ukuran batas dari butiran tanah. Pasir (butiran dengan diameter 2-0,05 mm), (lanau atau butiran dengan diameter 0,05-0,002 mm), dan lempung (butiran dengan diameter <0,002 mm).

- Klasifikasi berdasarkan metode AASHTO

Tanah dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok besar, yaitu A-1 sampai dengan A-2. Kriteria yang harus diperhatikan yaitu ukuran butiran, plastisitas, dan apabila terdapat batu dengan ukuran lebih dari 75 mm maka harus dikeluarkan terlebih dahulu dan persentase batuan harus dicatat.

- Klasifikasi berdasarkan metode USCS

a. Fraksi butir halus = 50% persentase yang lolos dari saringan No.200

b. Fraksi butir kasar = 50% persentase yang tertahan Saringan No.200

c. Fraksi Gravel = lebih dari setengah fraksi kasar yang tertahan saringan No.4

d. Fraksi Sand = lebih dari setengah fraksi kasar berada antara ukuran saringan No.4. dan No.200.

3.3. Acara III (Batas-Batas Atterberg) 1. Analisis Data

(8)

Pada kegiatan praktikum acara III ini, dilakukan pengujian batas cair dan batas plastis pada tanah. Tanah yang diuji adalah tanah yang lolos ayakan No. 40. Tanah tersebut ditambahkan dengan air dikit demi sedikit ke dalam mangkuk kemudian diaduk hingga homogen. Setelah itu tanah dirapikan pada casagrande dan dibelah dua menggunakan grooving tools. Kemudian pengetukan dimulai hingga tanah menyatu kembali. Catat jumlah ketukan kemudian ambil sebagian tanah untuk menguji kadar air. Dari pengujian tersebut didapatkan batas cair sebesar 19,608%.

Batas plastis dapat ditentukan dengan rata-rata kadar air dari tiga pengujian tanah yang berdiameter 3mm dan sudah terjadi retakkan. Dari pengujian ini dihasilkan batas plastis sebesar 3,43%. Indeks plastisitas didapatkan dengan cara mengurangi batas cair dan batas plastis, sehingga diperoleh indeks plastisitas sebesar 16,178%. Berdasarkan Indeks plastisnya maka tanah ini merupakan jenis tanah lempung berlanau yang memiliki plastisitas sedang dan kohesif. Tanah terrebut termasuk klarifikasi tanah Clay Low berdasarkan grafik indeks plastisnya.

2. Aplikasi

Dari pelaksanaan praktikum acara III ini, pengujian sifat tanah dapat diaplikasikan ke beberapa hal sebagai berikut.

a. Mengklasifikasikan tanah berdasarkan metode USCS, USDA, dan, AASHTO.

3.4. Acara IV (Dynamic Cone Penetrometer) 1. Analisis Data

Pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP) dilakukan untuk melaksanakan evaluasi kekuatan tanah dasar dengan nilai hasil yaitu CBR (California Bearing Ratio). Pengujian dilakukan dengan mencatat nilai Blow dan penetrasi dari konus yang tertanam pada tanah. Pada pengujian DCP terdapat Zero Reading of Dynamic Cone Penetrometer

(9)

yang fungsinya untuk menghindari kesalahan dalam pembacaan saat alat DCP diletakkan diatas suatu lapisan tanah yang diuji. Tidak semua tanah dapat menahan tekanan dari DCP itu sendiri, sehingga terjadi penetrasi terlebih dahulu dari konus sebelum dilakukan Zero Reading of DCP yaitu keadaan dimana kedalaman batang utama pada lapisan tanah sebelum dilakukan pengujian.

Pada Dynamic Cone penetrometer (DCP) suatu lapisan tanah dapat dihentikan pembacaannya apabila setelah melakukan lima kali penumbukkan hanya menghasilkan kedalaman kurang lebih satu meter.

Hal ini berarti DCP sudah tidak dapat dilaksanakan pada tanah tersebut dan pada kedalaman tersebut karena adanya lapisan penyusun tanah yang keras.

Pada pengujian ini digunakan dua parameter yaitu nilai CBR ( California Bearing Ratio) dan DDT (Daya Dukung Tanah). Hasil yang didapat dari pengujian yang dilakukan di tiga titik yaitu DDT Segmen Seberar 15,3715 kg/cm³ dan CBR Segmen seberar 1814,0248.

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tanah memiliki tekstur yang lunak dengan hambatan setempat yang berkisar 20-50 sehingga termasuk jenis tanah kategori baik.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari pengujian Dynamic Cone Penetrometer adalah sebagai berikut.

a. Mengetahui lapisan struktur pengujian tanah b. Mengetahui kepadatan tanah

c. Mengevaluasi dan merekomendasi tebal perkerasan jalan tambang.

3.5. Acara V (Sondir) 1. Analisis Data

Pada praktikum acara V yaitu sondir, praktikan menggunakan sondir sebagai alat uji yang akan menghasilkan data. Pengujian sondir

(10)

merupakan metode uji penekanan yang dilakukan antuk menganalisa daya dukung tanah dan mengukur kedalaman lapisan tanah keras atau pendukung. Pengujian sondir menghasilkan data perlawanan gesek, hambatan pelekat, jumlah hambatan pelekat, dan hambatan setempat.

Dalam pengujian ini menggunakan alat yaitu sondir, kunci pas, dial, bikonus, konverter, batang dalam, pipa dorong, juga oli.

Pada pengujian ini, perhitungan data menggunakan data sekunder yang sudah memuat kedalaman, perlawanan konus, dan perlawanan konus ditambah perlawanan gesek. Selanjutnya akan mencari data perlawanan geser, hambatan pelekat, jumlah hambatan pelekat, juga hambatan setempat. Dalam pengujian ini didapat jumlah hambatan pelekat sebesar 282,2 kg/cm². Tekanan hambatan pelekat terbesar terletak pada kedalaman 6.4 m yaitu sebesar 86 kg/cm². Nilai perlawanan konus terbesar terletak pada kedalaman 6,4 m dengan nilai sebesar 100 kg/cm². Hal ini disebabkan adanya batuan keras yang berada didalam tanah sehingga menyebabkan konus naik. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai perlawanan konus, maka konsistensi tanah akan semakin keras.

Berdasarkan tabel klasifikasi tanan berdasarkan Qc, tanah yang diuji pada acara V ini termasuk dalam bentuk tanah pasir halus dan lanau yang memiliki Qc sebesar 15-35 kg/cm². Pada lapisan 1 kedalaman (0 - 2,2) memiliki jenis tanah Sand and Silty Clays, Lapisan 2 kedalaman (2,2 - 3,8) memiliki jenis tanah Silt Medium, Lapisan 3 kedalaman (3,8- 4,8) memiliki jenis tanah Loose, lapisan 4 kedalaman (4,8 - 6) memiliki jenis tanah Loose, dan lapisan 5 kedalaman (6 – 6,4) memiliki jenis tanah Very Shell Sand.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari pengujian Sondir adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui lapisan struktur penyusun tanah 2. Mengetahui kepadatan tanah

(11)

3. Mengevaluasi dan merekomendasikan pemadatan tanah yang dibutuhkan pada konstruksi bangunan.

3.6. Acara VI (Uji Permeabilitas) 1. Analisis Data

Permeabilitas merupakan kecepatan persatuan waktu dari suatu cairan pada suatu rekanan tertentu yang menembus atau lewat melalui pori-pori tanah. Permeabilitas tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk meloloskan air. Permeabilitas diuji menggunakan parameter untuk menguji seberapa cepat tanah dalam melolos kan air dalam tekanan tertentu.

Dalam pengujian ini diperoleh data yaitu pada target 10 ml dengan tinggi awal 62 cm dan tinggi akhir 48 cm serta waktu 219 detik dan luas penampang selang sebesar 0.502 cm² dan Luas penampang tanah 38,48 cm² diperoleh nilai K sebesar 1,981.10-4 cm/s, dengan gradien hidroulis sebesar 1,0769 dan kecepatan aliran sebesar 2,133.10-4 cm/s. Pada target 20 ml, diperoleh nilai K sebesar 2,008.10-4 cm/s dengan gradien hidraulis sebesar 2,4615 dan kecepatan aliran sebesar 4,94.10-4 cm/s.

Berdasarkan klarifikari jenis tanah berdasarkan nilai K, tanah yang diuji termasuk dalam jenis tanah Silt, Sand filt, Till dengan nilai K sebesar 10-6 -10-4. Semakin kecil ukuran butir maka semakin kecil pori- pori tanah yang berarti permeabilitas semakin kecil, maka kemampuan tanah untuk melolos kan air semakin kecil. Air akan mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Permeabilitas adalah sebagai berikut.

a. Pemodelan Air Tanah

Untuk menentukan kuantitas, arah aliran, dan kebutuhan pompa.

(12)

3.7. Acara VII (Uji Konsolidasi Tanah) 1. Analisis Data

Setelah melaksanakan praktikum pada acara VII yaitu uji konsolidasi tanah agar dapat mengetahui nilai penurunan ketika tanah diberi beban juga mengetahui lama waktu penurunan tanah dengan melewan 3 tahapan konsolidasi yaitu tahap I (Konsolidasi awal), tahap II (Konsolidasi primer), dan tahap III (Konsolidasi sekunder). Pembebanan yang diberikan adalah beban seberat 1 kg, 4 kg, 8 kg, dan 16 kg.

Pembacaan dial dilakukan pada detik ke - 6,10, 15. dan 30, lalu dilanjutkan pada menit ke -1, 2, 4, 8 dan 10.

Pada uji konsolidasi ini diperoleh nilai angka pori, t50, dan t10. Pada metode Casagrande diperoleh nilai t90 yaitu sebesar 0,714 Pada beban 0 kg, 0,7128 pada beban 1 kg. 0,7057 pada beban 4 kg, 0,6926 pada beban 8 kg, 0,6745 pada beban 16 kg, 0,6568 pada beban 8 kg, dan 0,6397 pada beban 1 kg. Pada metode Casagrande juga didapatkan nilai t50 sebesar pada beban 1 kg, 0,24 pada beban 4 kg, 0,23 ada beban 8 kg, dan 0,58 pada beban 16 kg. Pada merode taylor diperoleh nilai t90 sebesar 2,9241 pada beban 1 kg, 1, 2996 pada beban 4 kg, 2,924 Pada beban 8 kg, dan 1,44 pada beban 16 kg. Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa angka pori mengecil ketika diberi pembebanan bernilai benar, dapat dilihat dari data angka pori yang nilainya mengecil seiring dengan penambahan beban, namun saat beban dikurangi dari 16 kg menjadi 8 kg terdapat kenaikan pada angka pori. Hal ini dikarenakan pada saat pembebanan volume void mengecil, dimana volume void berbanding lurus dengan angka pori, otomatis angka pori juga mengecil. Sedangkan hubungan angka pori dengan deformasi yaitu angka pori berpengaruh terhadap kemampuan tanah untuk mengalami deformasi. Semakin tinggi angka pori tanah, semakin besar kemungkinan deformasi yang signifikan saat tekanan diterapkan.

Hal ini karena dalam pori-pori tanah ditekan saat konsolidasi menyebabkan perubahan volume.

(13)

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Konsolidasi Tanah adalah sebagai berikut.

a. Mengetahui nilai penurunan kerika tanah diberi beban.

Dalam uji konsolidasi ini diberikan beban terhadap suatu tanah sehingga mengakibatkan volume air dan udara berkurang. Ketika volume air dan udara berkurang, maka ketinggian tanah akan berkurang juga atau mengalami penurunan sehingga dari nilai tanah sebelum pembebanan dan setelah pembebanan akan dapat nilai penurunan tanah.

b. Mengetahui lama waktu penurunan tanah

Dalam uji konsolidasi ini juga dihitung waktu yang dibutuhkan suatu tanah (dengan suatu beban) untuk mengalami penurunan tanah.

Semakin lama waktu yang dibutuhkan, tanah akan semakin turun.

Semakin besar beban yang diberikan, tanah semakin cepat mengalami penurunan.

3.8. Acara VIII (Uji Pemadatan Tanah) 1. Analisis Data

Pada acara VIII Praktikum pemadatan tanah ini dapat diketahui bahwa pemadatan tanah merupakan peristiwa penambahan bobot isi kering sebagai akibat dari merapatnya partikel tanah yang diikuti dengan berkurangnya volume udara pada volume air tetap. Pada praktikum kali ini menggunakan tes proyeksi standar dengan berat penumbuknya 4,5 kg dan terdapat 3 lapisan sehingga tiap lapisan dilakukan 25 kali tumbukan.

Pada acara VIII ini didapatkan kadar air sebanyak 34,9359% pada lapisan 1, 46.5517%. pada lapisan 2, dan 55.5825%. pada lapisan 3.

Selain didapatkan kadar air, juga di dapatkan densitas basah, kering dan ZAV. Pada lapisan 1, didapatkan densitas basah = 0, 56 13 gram/cm³, densitas kering = 0,41595 gram /cm³, dan ZAV = 1,37605 gram/cm³.

Pada lapisan 2, densitas basah = 0,49954 gram/cm³, densitas kering =

(14)

0,7321 gram dan ZAV = 1,18641 gram/cm3. Pada lapisan 3, densitas basah = 1,3666 gram/cm³, densitas kering = 0,81835 gram/cm³, dan ZAV = 1,0716 gram /cm3. Pada pengujian kali ini didapatkan energi pemadatan sebesar 1,395 kg/cm².

Dari data yang didapatkan diperoleh grafik hubungan antara kadar air dan bobot isi kering. Pada grafik yang terlampir dapat dilihat bahwa grafik bobot isi kering dan kadar air tidak menyentuh garis ZAV, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kadar air belum mencapai titik optimum. Dikarenakan adanya kesalahan atau kurangnya pemberian air di tahap proses pencampuran air dengan tanah hingga homogen.

Pada praktikum kali ini memiliki hipotens bahwa kurva hubungan antara denfitas kering dengan kadar air tidak berpotongan dengan kurva ZAV itu benar karena apabila kurvanya berpotongan, maka ada yang salah atau terjadi kesalahan pada proses pengujian.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Pemadatan Tanah adalah sebagai berikut.

a. Pembuatan Jalan Tambang

Pemadatan sangat penting dalam pembuatan jalan tambang, karena dapat menstabilkan jalan serta mengurangi deformasi.

b. Konstruksi Tambang

Termasuk untuk membangun fondasi yang kuat, jalan dan akses c. Meningkatkan Daya Dukung Tanah.

Pemadatan tanah membuat tanah lebih tahan terhadap perubahan bentuk dan penurunan.

3.9. Acara IX (Uji Kuat Tekan Bebas) 1. Analisis Data

(15)

Pada praktikum acara IX ini bertujuan untuk mengukur kuat tekan bebas dari suatu tanah. Kuat tekan bebas adalah tegangan tekan yang terjadi ketika benda uji kuat tekan bebas runtuh melalui uji tekan. Pada praktikum kali ini menggunakan alat Unconfined Compression Test.

Terdapat empat kali pengujian yang diakukan pada praktikum ini, yang terdiri dari 2 benda uji undisturb dan dan benda uji remolded.

Pembacaan dial aksial setiap kelipatan 20 pada pembacaan dial beban hingga tanah mengalami runruh dan pembacaan dial bebannya menurun.

Pada praktikum acara IX ini diperoleh nilai Tegangan tekan sebesar 0,02446 kg/cm² pada beban undisturb 1, 0,01966 kg/cm² pada beban remolded 1, 0,020405 kg/cm² Pada beban undisturb 2, dan 0,01884 kg/cm² pada beban remolded 2. Nilai Sensivitas diperoleh sebesar 1, 24415 pada beban undisturb dan 1,08054 pada beban remolded. Untuk Modulus Elastisitas diperoleh sebesar 0, 6538 KN/m² Pada beban undisturb 1, 0,5693 kN/m² pada beban remolded 1, 0,23636 KN/m² pada beban undisturb 2, dan 0,24306 kN/m² pada beban remolded 2.

Berdasarkan hipotesis pada praktikum acara IX ini yaitu semakin besar nilai bobot isi, maka semakin tinggi nilai kuat tekannya, hal ini berarti bahwa ketika bobot isi semakin tinggi, maka jarak antar sampel atau ruang pori pada tanah semakin padat atau rapat. Hal ini menyebabkan tanah semakin compact dan sulit untuk terdeformasi.

Sebaliknya jika jarak antar sampel atau ruang pori semakin lebar maka bobot isi semakin kecil sehingga tanah akan mudah mengalami deformasi.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Kuat Geser Tanah adalah sebagai berikut.

a. Analisis Daya Dukung Tanah

Selain untuk mengukur tegangan dan regangan, pengujian Ini dilakukan juga untuk melihat kondisi tanah dengan mengukur konsistensi tanah serta sensivitas tanah. Apakah tanah tersebut

(16)

memiliki daya dukung tanah yang baik atau buruk. Jika belum maka diperlukan treatment terhadap tanah sesuai dengan kebutuhan tanah tersebut.

b. Mitigasi Bencana pada lereng.

Fungsi pengujian ini dilakukan untuk menganalisis kondisi tanah pada suatu lereng guna menghindari terjadinya bencana pada lereng.

3.10. Acara X (Uji Geser Langsung) 1. Analisis Data

Pada praktikum acara X ini yaitu Uji Geser Langsung, yang merupakan pengujian sederhana dan langsung yang dilakukan dengan menempatkan conto tanah ke dalam kotak geser dimana kotaknya terbelah dengan setengah bagian. Kuat geser tanah merupakan gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir tanah terhadap gesekan atau tarikan. Didapakan beberapa komponen penting pada uji geser langsung seperti kohesi dan sudut geser dalam. Dimana hubungan antar keduanya dapat saling berkaitan. Misalnya, kohesi yang tinggi pada suatu bahan dapat meningkatkan gaya gesek antar permukaan butiran, sudut gesek juga dapat dipengaruhi oleh sifat kohesif suatu bahan.

Pada praktikum ini diperoleh data luasan dari benda uji, yang digunakan untuk menghitung tegangan geser pada tiap beban. Beban yang diberikan adalah beban dengan berat 2 kg, 4 kg dan 6 kg pada 3 cetakan benda uji dengan contoh tanah yang sama. Setelah data dicatat setiap pembacaan dial horizontal berkelipatan 50 mm maka dapat diolah dan didapatkan data-data sebagai berikut ; Tegangan normal benda pada beban 2 kg adalah 0,00694 MPa; Pada beban 4 kg adalah 0.0138 MPa, dan pada beban 6 kg adalah 0,020802 MPa. Didapatkan juga data Tegangan geser pada beban 2 kg adalah 0,90862 kg/cm2; pada beban 4 kg adalah 09173574 kg/cm2 dan pada beban 6 kg adalah 0.9435674

(17)

kg/cm2. Diperoleh nilai kohesi sebesar 0, 08715 MPa serta kuat geser terbesarnya bernilai 0,940359 pada beban 6 kg.

Melalui perhitungan tersebut dapat menjawab hipotesis pertama yaitu semakin besar tegangan normal maka semakin besar tegangan geser bernilai benar karena peningkatan tegangan normal dapat meningkatkan daya gesek kohesif antara molekul-molekul pada permukaan yang meningkatkan resistensi terhadap pergeseran. Sedangkan hipotesis yang kedua yaitu semakin besar nilai kohesi dan sudut gesek dalam maka semakin besar tegangan geser bernilai benar karena kohesi dan sudut dalam memperkuat interaksi antar permukaan dan meningkatkan kestabilan relatif antara permukaan pada butiran.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Geser Langsung adalah sebagai berikut.

a. Aplikasi uji geser langsung pada praktikum yang dilaksanakan di laboratorium Mekanika Tanah adalah sebagai inputan Parameter Geoteknik. Nilai kohesi dan sudut geser dari suatu lapisan tanah dapat dijadikan acuan pada saat perencanaan geoteknik untuk menentukan perlakuan yang tepat pada tanah yang diuji.

3.11. Acara XI (Uji Triaksial) 1. Analisis Data

Pada acara XI kali ini melakukan pengujian triaksial yang mana pengujian ini menggunakan conto uji yang di bungkus karet kedap air lalu diberi tekanan ke semua arah dan diberi tekanan sampai terjadinya failure. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali dengan luas contu uji yang sama yaitu 9,07 cm². Pada setiap pengujian, dilakukan pembacaan dial Gauge Proving Ring (Div) kemudian dilakunan konversi dial guna mendapatkan nilai pada Beban.

Pada praktikum acara XI ini diperoleh data tegangan normal Tegangan xx atau Tegangan yy dan Tegangan zz pada setiap beban.

(18)

Untuk beban dengan berat 40,953 kg, diperoleh nilai Teg. xx atau Teg.

yy sebesar 98,0665 KPa dan Teg. zz sebesar 442,34 KPa. Pada beban dengan berat 56,1 kg, diperoleh nilai teg. xx atau teg. yy sebesar 196,133 KPa dan teg. zz sebesar 605,94 Kpa. Pada beban 88,077 kg, diperoleh nilai teg. xx atau teg. yy sebesar 392,264 KPa dan teg. zz sebesar 951, 339 KPa.

Dari hasil pengujian triaksial dapat diperoleh grafik yang memuat hubungan antara tegangan geser dan tegangan normal. Pada grafik tersebut dapat diperoleh nilai kohesi dan sudur geser dalamnya, dimana hal ini berkaitan dengan uji uniaksial dan kuat geser langsung. Pada grafik tersebut diperoleh Strength Envelope dimana garis ini menunjulikan batas kekuatan tanah untuk menahan tekanan yang diberikan. Jika grafik tegangan normal berada dibawah garis Strength Envelope maka tanah tersebut masih kuat untuk menahan tekanan yang diberikan. Jika grafik tegangan normal berada diatas garis atau memotong garis maka tanah akan mengalami runtuh atau failure karena tidak kuat menahan tekanan yang diberikan.

2. Aplikasi

Adapun aplikasi dari Uji Triaksial adalah sebagai berikut.

a. Aplikasi Uji Triaksial pada praktikum ini adalah agar mendapat dan mengetahui strength envelope dari suatu tanah. Kurva ini memberikan informasi tentang kekuatan tanah. Pada berbagai kondisi yang mungkin terjadi dilapangan, sehingga memungkinkan perencana dan insinyur untuk membuat keputusan yang tepat terkait stabilitas tanah.

BAB IV

PENUTUP

(19)

4.1. Kesimpulan

Dari seluruh kegiatan Praktikum Mekanika Tanah acara I-XI, penyusun dapat menyimpulkan:

1. Acara I (Kadar Air, Bobot Isi, dan Berat Jenis)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Kadar Air adalah perbandingan berat air terhadap berat sampel keseluruhan peralatan. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan kadar air tanah berdasarkan beratnya dengan metode pengujian di laboratorium. Adapun persamaannya yaitu:

W = (Berat Air Berat Tanah kering / berat tanah kering) x 100%

Berat jenis tanah adalah berat air dibandingkan dengan berat isi air seluruhnya dalam tanah tersebut. Dengan persamaan :

SG = W2- W1 / (W2-W1)+(W4-W3)

Bobot isi adalah perbandingan berat tanah asli dengan volume tanah itu sendiri. Persamaanya:

Bobot isi = W / V

2. Tata cara pengujian kadar air, bobot isi, dan berat jenis yaitu mengukur dan menimbang cincin uji pada pengujian kadar air dan bobot isi, serta mengukur berat piknometer pada pengujian berat jenis. Kemudian masukkan tanah lalu timbang, masukkan pada oven untuk pengujian kadar air, isi piknometer dan panaskan untuk pengujian berat jenis serta campurkan conto tanah dengan aquades kemudian cetak pada cincin uji pada pengujian bobot isi.

3. Hasil yang didapatkan dari pratikum acara I ini yaitu nilai : Kadar air rata-rata = 20,8735%

Berat jenis rata-rata = 2,4392 Bobot isi rata-rata = 2,4392

(20)

h. Aplikasi dari pengujian bobot isi, kadar air dan berat jenis adalah untuk mengidentifikasi jenis tanah, menganalisa kestabilan lereng, menganalisa terowongan bawah tanah, mengetahui kadar air, bobot isi, dan berat jenis suatu tanah, sebagai informasi dalam pengelolaan air dan drainase tanah (porositas).

2. Acara II (Analisis Ayakan dan Hidrometer)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Analisis ayakan adalah mengayak atau menggerakkan conto tanah menggunakan satu set ayakan yang disusun secara urut dari atas ke bawah dimulai dari ukuran lubang yang besar sampai lubang yang kecil. Tujuan analisis ayakan adalah untuk mengklasifikasikan partikel butiran berdasarkan ukuran. Kemudian angka-angka presentase dari perhitungan digambarkan ke dalam grafik pembagian butir. Analisis hidrometer adalah pengujian dengan dasar prinsip sedimentasi tanah dalam air. Analisis hidrometer mengukur berat jenis partikel dalam cairan pada berbagai Fraksi ukuran partikel yang berbeda, partikel akan mengendap dengan kecepatan berbeda tergantung dengan berat, ukuran, dan bentuk partikel tersebut.

2. Prosedur dalam analisis ayakan dan analisis hydrometer yaitu persiapkan satu set ayakan, timbang dan catat berat sampel, letakkan sampel pada ayakan terbesar dalam tumpukan ayakan, kemudian mulai mengayak. Timbang berat partikel disetiap ayakan. Pada analisis hidrometer, ambil conto yang lolos ayakan No.200, kemudian masukkan kedalam air, masukkan hidrometer pada gelas ukur untuk menentukan koreksi nol.

3. Aplikasi dari pengujian analisis ayakan dan analisis hidrometer adalah untuk mengklasifikasikan jenis tanah berdasarkan AASHTO, USCS, USDA.

4. Parameter yang didapatkan yaitu

(21)

% Kehilangan : 2,990 %

Cu : 3,05

Cc : 3,64

Klasifikasi tanah dengan metode USDA : Sand : 100%-50,6%. = 49,4%.

Silt : 50,6%.

Clay : 0%

3. Acara III (Batas-Batas Atterberg)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Batas-batas Atterberg merupakan sejumlah titik yang digunakan dalam pengujian konsistensi tanah, untuk menguji dan mengukur kemampuan tanah dalam berubah dari keadaan padat menjadi cair ataupun sebaliknya. Batas-batas ini terbagi atas batas cair yang merupakan kadar air minimum dimana tanah menjadi cair dan dapat mengalir, Batas plastis merupakan batas kadar air minimum dimana tanan masih dapat dibentuk tanpa ada retakan, dan batas batas susut yang merupakan batas dimana tanah tidak akan menyusut lagi walau kehilangan lebih banyak air.

2. Langkah-langkah dalam pengujian ini dengan mengaduk air dan tanah selama kurang lebih lima menit, simpan tanah selama beberapa saat lalu aduk kembali tanah sebelum masuk ke mangkuk kuningan dan pukulan 25 pukulan.

3. Hasil dari pengujian ini didapatkan LL = 19,608 %

IP = 16,178%

PL = 3,43%.

4. Acara IV (Dynamic Cone Penetrometer)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

(22)

1. DCP (Dynamic Cone Penetrometer) yaitu pengujtan penentuan nilai kepadatan tanah, dengan nilai hasil yaitu CBR (California Bearing Ratio). Pengujian DCP dilakukan untuk mengetahui klasifikasi lapisan tanah dan daya dukung tanah (DDT) secara langsung dilapangan.

2. Pengujian DCP dilakukan dengan memasang tegak alat diatas permukaan tanah. Satu orang memegang alat dan lainnya mengangkat dan menjatuhkan pembeban dan membaca kedalaman konus yang menembus tanah pada mistar. Pengujian dihentikan apabila telah mencapai kedalaman satu meter atau apabila telah dilakukan penumbukan sebanyak lima kali hanya menghasilkan kedalaman kurang dari satu meter.

3. Aplikasi dari pengujian DCP yaitu untuk mengetahui lapisan struktur pengujian tanah, mengetahui kepadatan tanah dan mengevaluasi dan merekomendasikan tebal kekerasan jalan tambang.

4. Parameter yang didapat yaitu : DDT Segmen : 15,3715 kg/cm³ CBR Segmen : 1814,0248

5. Acara V (Sondir)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Sondir merupakan alat uji penetrasi dengan daya statis, dimana nilai daya diperoleh dari pembacaan dial yang tampak kerika konus pada sondir mendapatkan perlawanan dari tanah. Pengujian sondir adalah suatu metode uji penekanan yang dilakukan untuk menganalisa daya dukung tanah dan mengukur kedalaman lapisan tanah keras atau pendukung.

2. Pengujian sondir dilakukan dengan perakitan alat, isi oli hingga penuh kemudian pasang konus atau bikonus pada ujung pipa pertama. Engkel diputar searah jarum jam hingga gigi penekan

(23)

hidrolik bergerak turun menekan pipa luar. Lakukan pembacaan setiap interval 20 cm dengan kunci yang menarik pengaturannya.

3. Aplikasi dalam pengujian menggunakan alat sondir ini yaitu untuk mengetahui lapisan struktur penyusun tanah, mengetahui kepadatan tanah, serta mengevaluasi dan merekomendasikan pemodelan tanah yang dibutuhkan pada konstruksi bangunan.

4. Parameter yang dihasilkan pada acara "Sondir" yaitu C max (Perlawanan konus maksimal) sebesar 100 kg/cm3 dan F geser sebesar 43 kg/cm³.

6. Acara VI (Uji Permeabilitas)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Permeabilitas tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk membiarkan air atau cairan lainnya lolos melalui rongga - rongga didalamnya. Setiap jenis tanah memiliki tingkat Permeabilitas yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh ukuran butir, porositas, kepadatan dan temperatur.

2. Pada pengujian ini dilakukan beberapa langkah untuk mendapat hasil permeabilitas tanah yaitu yang pertama masukkan air dari selang atau corong, tunggu sampai tanah dalam keadaan jenuh.

Kemudian ukur ketinggian air pada selang sebagai h1. Buka kran pada selang keluar, dan catat waktu ketika air mencapai 10 ml.

Kemudian ukur ketinggian air pada selang sebagai ha. Ulangi Percobaan hingga air mencapai 20 ml dan 30 ml.

3. Aplikasi yang didapat dari pengujian permeabilitas ini yaitu pemodelan air tanah, kemudian untuk menentukan kuantitas, arah aliran, dan kebutuhan pompa.

4. Parameter yang didapat adalah Nilai Koefisien kelulusan Air (K).

Pada pengujian ini diperoleh nilai K sebesar 1,981.10-4 cm/s, pada target 10 ml dan 2,008.10-4 cm/s, pada target 20 ml. Berdasarkan

(24)

nilai K tersebut maka tanah termasuk dalam kelompok jenis tanah Silt, Sand Silt dan Till.

7. Acara VII (Uji Konsolidasi Tanah)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Konsolidasi merupakan pembebanan pada suatu permukaan tanah yang dapat menyebabkan lapisan tanah tersebut mengalami pemampatan, dimana tanah yang jenuh air mengalami kompresi berlangsung akibat pengairan air keluar dari pori-pori tanah.

2. Pengusian konsolidasi tanah dilakukan dengan cara memasukkan tanah yang sudah dicampur ke dalam cincin uji. Lalu letakkan batu pori pada bagian atas dan bawah ring. Pasang alat penumpu diatas baru pori. Kemudian letakkan set konsolidasi yang telah berisi tanah pada alat konsolidasi. Terakhir, atur kedudukan arloji pengukur penurunan dan baca hasilnya.

3. Aplikasi dari pengujian konsolidasi tanah sendiri adalah untuk mengetahui nilai penurunan ketika tanah diberi beban dan mengetahui lama waktu penurunan tanah.

4. Parameter dari uji konsolidasi ini adalah:

a. Metode Taylor

Cv (Beban 1kg) = 28,9799 m² /tahun Cv (Beban 4kg) = 64,9829 m² / tahun Cv (Beban 8 kg) = 28,7785 m²/ tahun Cv (beban 16 kg) = 58,2687m² / tahun b. Metode Casagrande

Cv (beban 1 kg) = 40,0779 m2 / tahun Cv (beban 4 kg) = 43,0943 m² / tahun Cv (Besan 8 kg) = 44,4372 m² / tahun Cv (Beban 16 kg) = 17,2986 m² / tahun

8. Acara VIII (Uji Pemadatan Tanah)

(25)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Pemadatan tanah adalah proses naiknya kerapatan tanah dengan memperkecil jarak antara partikel sehingga terjadi penurunan volume udara pada tanah.

2. Praktikum dilakukan dengan cara mengukur berat cetakan dan alas.

Pasang cetakan dan keping atas, kemudian conto tanah yang telah diberi air dalam cetakan. Bagi conto dengan menjadi tiga lapisan dengan kadar air yang berbeda. Timbang cetakan dan ambil sampel disetiap lapisan dan ukur bobot isi keringnya.

3. Aplikasi dari pengujian pemadatan tanah pada praktikum acara VIII ini untuk meningkatkan daya dukung tanah yang digunakan beberapa diantaranya pada pembuatan jalan tambang dan konstruksi tambang.

4. Adapun parameter yang didapatkan pada praktikum ini yaitu : - Kadar air optimum = 55,5825%

- Berat jenis kering maksimum = 0,87835 gram/cm³

- CE = 1,395 kg/cm²

9. Acara IX (Uji Kuat Tekan Bebas)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Uji kuat tekan bebas adalah tegangan tekan yang terjadi pada saat benda uji kuat tekan bebas runtuh melalui uji kuat tekan.

Dinyatakan sebagai beban maksimum yang dicapai perluas penampang.

2. Prosedur pengujian kuat tekan bebas adalah siapkan conto tanah dan peralatan yang akan digunakan, ukur diameter dan tinggi ring, beri pelumas dan masukkan conto tanah lalu padatkan, timbang berat tanah dengan menggunakan Neraca O’Hauss, setelah itu conto tanah dikeluarkan dengan extrunder. Kemudian letakkan sampel tanah pada alat uji, serta tekan start pada alat uji tekan bebas, lalu lakukan pembacaan dial.

(26)

3. Aplikasi pengujian kuat tekan bebas adalah sebagai salah satu variabel dalam kajian geomekanik seperti, jalan tambang, pondasi konstruksi maupun bangunan,dan sebagainya.

4. Parameter pengujian kuat tekan bebas adalah sebagai berikut.

a). tegangan tekanan Undisturb 1 = 0,02446 kg/cm² tegangan tekanan Remolded 1 = 0, 01966 kg/cm² tegangan tekanan Undisturb 2 = 0,0204054 kg/cm² tegangan tekanan Remolded 2 = 0,01884 kg/cm² b). Si Undisturb = 1, 24415

Si Remolded = 1,08054

c). E Undisturb 1 = 0,65384 KN/m² E Remolded 1: 0,5693 KN/m² E Undisturb 2: 0,23636 KN/m² E Remolded 2 : 0,24306 KN/m²

10. Acara X (Uji Geser Langsung)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Kuat geser tanah merupakan gaya perlawanan yang dilakukan oleh butiran tanah terhadap desakan atau tarikan. kuat geser tanah tergantung pada gaya-gaya antar partikel atau antar butiran tanah.

2. Pengujian kuat geser tanah dimulai dengan mencetak contoh tanah pada cincin uji, lalu pasang conto tanah pada cincin pemeriksaan dan pasang batu berpori pada bagian atas dan bawah. Pasang stang penekan untuk memberi beban normal. Pasang penggeser beban pada arah mendatar, nyalakan alat, lalu baca dial horizontal setiap 50 mm dan baca dial beban.

3. Aplikasi dari uji geser langsung adalah sebagai inputan parameter geoteknik. Nilai kohesi dan sudut geser dari suatu lapisan tanah dapat dijadikan acuan pada saat perencanaan geoteknik untuk menentukan perlakuan yang tepat pada tanah yang di uji.

4. Parameter yang didapat dari pengujian ini yaitu:

(27)

- Besar sudut geser dalam sebesar 13,66°

- Kohesi =0,08715 MPa - Kuat geser langsung:

T1 = 0,905959 T2 = 0,923159 T3 = 0,940359.

11. Acara XI (Uji Triaksial)

a. Dalam praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Pengujian triakrial merupakan pengujian dari benda uji yang dibungkus karet kedap air, diberi tekanan ke semua arah dan kemudian diberi tekanan aksial sampi terjadi failure.

2. Prosedur pengujian triaksial yang pertama yaitu mencetak tanah dengan cetakan yang berbentuk silinder hingga padat, lalu tanah tersebut dikeluarkan dan kemudian dibungkus dengan membran hingga kedap air. Setelan itu sampel ditempatkan di alat uji triaksial dan pastikan dial sudah dikalibrasi. Selanjutnya, isi dengan air bertekanan dan jalankan alatnya. Baca dial dan catat.

3. Parameter pada pengujian triaksial yaitu:

a) Teg. xx dan Teg. yy = 3,470 KPa ; dengan Teg. zz = 25,307 KPa

b) Teg. xx dan Teg. yy = 6,940 KPa; dengan Teg. zz = 43,217 KPa

c) Teg. xx dan Teg. yy = 13,880 KPa ; dengan Teg. zz = 75, 923 KPa

4. Adapun aplikasi pada uji triaksial ini adalah untuk mengetahui strength envelope dari suatu tanah.

4.2. Saran

Saran yang dapat diberikan pada Praktikum Mekanika Tanah dalam satu semester ini antara lain :

(28)

a. Pada proses berlangsungnya praktikum diharapkan untuk benar-benar memastikan pemahaman kepada praktikan.

b. Setiap kali selesai praktikum membersihkan laboratorium bersama- sama, agar kebersihan selalu terjaga.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Afifah R.S. 2022. Falling Head (FH) Untuk Hubungan Sifat Batuan Dengan Koefisien Kelulusan Air di Daerah "BRG" Sekitarnya. Jurnal Sains dan Teknologi.

[2] Agung, Asep. 2016. Jurnal Konstruksi Penentuan Kapasitas Daya Dukung Tanah Berdasarkan Data Sondir di Kota Cirebon. Cirebon.

[3] Akbar. 2014. Mekanika Tanah. Malang: Konisius.

[4] Alista F.A., Soemarno. 2021. Analisis Permeabilitas Tanah Lapisan Atas dan Bawah di lahan Kopi Robusta. Jurnal Tanah dan Sumber Daya Lahan Vol.8 No.2.

[5] Badan Standarisasi Nasional. 2011. SNI 2812 : 2011. Cara Uji Konsolidasi Tanah Satu Dimensi (Rujukan ASTM 0 2435-90). Jakarta: BSN.

[6] Badan Standarisasi Nasional. SNI 03-4813 : 1998. Cara Uji Triaksial Untuk Tanah Kohesif dalam Keadaan Tidak Terkonsolidasi dan Tidak Terdrainase (UU). Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

[7] Badan Standarisasi Nasional. SNI : 2813 : 2008. Cara Uji Kuat Geser Langsung Tanah Terkonsolidasi dan Terdrainase. BSN: Jakarta.

[8] Badan Standarisasi Nasional. SNI 1742 : 2008. Cara Uji Kepadatan Ringan Untuk Tanah. Badan Standarisasi Nasional.

[9] Bambang H.S, Maharani P.H., Hanudin E. 2015. Penggunaan Fungsi Pedotransfer untuk Memperkirakan Permeabilitas Tanah di Sumatra Selatan dan Riau. Jurnal limu Pertanian Vol.18 No.1:37-43.

[10] Beer, F.P, Johnston, E.R., dan Dewolt, J.T. 2008. Mechanichs of Material (Edition 71 ) . Graw-Hill.

[11] Crag.R.F. 2004. Crag's Soil Mechanics, Serenth Edition. London : Spoon Press.

[12] Dras, Braja. M. 1995. Mekanika Tanah. Surabaya : Penerbit Erlangga.

(30)

[13] Edrick Tanuwijaya. 2019. Studi Korelasi Nilai Tahanan Konus Sondir Terhadap Parameter Tanah Pada Proyek di Jakarta Barat. Jurnal Mitra Teknik Sipil.

[14] Febri, A. A. 2021. Analisis Permeabilitas Tanah Lapisan Atas dan Bawah di Lahan Kopi Robusta. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan Vol. 8 No.

2:493-504.

[15] Hakim. 1986. Dasar - Dasar Fisika Tanah. Malang : Jurusan Tanah Fakultas Pertanahan Universitas Brawijaya.

[16] Hariyanto, R. dkk. 2020. Buku Panduan Praktikum Mekanika Tanah. UPN

"Veteran" Yogyakarta.

[17] Hardiyanto, P., Agus, P. 2017. Studi Pengolahan Air Hujan (Air Tanah ) Terhadap Muka Air Tanah Dengan Menggunakan Alat Permeabilitas lapangan (Sumur Uji). Tapak Vol.6 No.2.

[18] Hanafiah, K.A., 2012. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Press Jakarta.

[19] Hurry, 2003. Hukum Penataan Ruang dan Penatagunaan Tanah. Rajawali Press.

[20] Ismail, O.S., George, T.A. 2012. Analyses and Modeling of Laminar Flow in Pipes Using Numerical Approach. Journal of Software Engineering and Applications.

[21] Jirna, I. W. 2009. Penggunaan Batas - batas Atterberg Sebagai Dasar Untuk Memprediksi Kualitas Tanah. Bangunan: Teori, Praktek, Penelitian, dan Pengajaran Teknik bangunan, 7(2).

[22] Noto Hadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta, 237.

[23] Raharjo, Pudjo, dkk. 2001. Peran Beberapa Macam Sumber dan Dosis Bahan Organik Terhadap Ketersediaan Air Bagi Tanaman. Gambung: Pusat Penelitian The dan klan.

[24] Smith. M.Y. 1989. Mekanika Tanah: Foil Mechanics . Jakarta : Erlangga.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji perilaku interaksi tanah-geotekstil terhadap parameter kuat geser dari hasil uji geser langsung dan mengkaji pengaruh jenis

Selain itu, karena praktikum lab memerlukan contoh tanah undisturbed, maka tujuan lain dari praktikum handboring adalah mengambil contoh tanah undisturbed yang akan digunakan

Pada pengujian kuat geser langsung direct shear test tanah lempung diperoleh nilai kuat geser sebesar 25,96 kN/m² setelah penambahan masing-masing pasir pantai bervariasi

Kuat geser tanah pasir dapat ditentukan dari pengujian triaksial ( Triaxial Test ) atau pengujian geser langsung ( Direct Shear Test ). Kelebihan tekanan air pori akibat

Konsep perhitungan daya dukung batas tanah dan bentuk keruntuhan geser dalam tanah dapat dilihat dalam model pondasi menerus dengan lebar (B) yang diletakkan

Pengeringan Contoh Tanah Persiapan Contoh Tanah Pencampuran Pupuk Organik Granul Uji Geser Langsung Analisis Unsur Kimia Analisis Tekstur Tanah Uji Konsistensi Selesai

Contoh Soal & Penyelesaian Pada pengujian permeabilitas falling-head diperoleh data sbb: • Luas penampang benda uji A = 20 cm2 • Luas pipa pengukur = 2 cm2 • Sebelum contoh tanah

Laporan praktikum mekanika tanah untuk memenuhi tugas dosen dan menambah pengetahuan dan