PENDAHULUAN
Fokus Penelitian
Bagaimana pembiasaan budaya keagamaan dalam berperilaku sebagai upaya mendidik akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun pelajaran 2017/2018. Bagaimana pembiasaan budaya keagamaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun pelajaran 2017/2018. Bagaimana mengenal budaya religi dalam tradisi sebagai upaya mendidik akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun ajaran 2017/2018.
Tujuan Penelitian
Untuk mendeskripsikan pengenalan budaya keagamaan dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun pelajaran 2017/2018. Untuk mendeskripsikan pengenalan budaya religi ke tradisi sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun pelajaran 2017/2018.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dalam penulisan karya ilmiah sebagai bekal bagi peneliti untuk melakukan penelitian selanjutnya dan sebagai bekal untuk menambah ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan referensi untuk peningkatan program budaya keagamaan di sekolah sebagai upaya mendidik akhlak anak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi kekinian bagi masyarakat serta dapat menambah pengetahuan dan motivasi baik kepala madrasah maupun pendidik mengenai pengamalan budaya keagamaan sebagai upaya mendidik akhlak anak.
Definisi Istilah
Pembiasaan budaya keagamaan sebagai upaya dalam pendidikan akhlak anak tahun pelajaran Mima 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo. Oleh karena itu, pendidikan akhlak adalah suatu proses pendidikan yang dilaksanakan secara terus-menerus agar manusia berkembang secara jasmani dan rohani serta dapat memahami pentingnya tingkah laku yang baik dan buruk dalam tindakan, sikap, dan kewajibannya terhadap manusia dan kepada Tuhan. Pendidikan akhlak anak adalah pendidikan yang dilaksanakan dengan segala upaya atau tindakan yang terprogram dan tidak terprogram dalam pendidikan akhlak anak pada tingkat dasar.
Sistematika Pembahasan
Bab empat berisi tentang penyajian data dan analisis data, bab ini membahas tentang gambaran keseluruhan objek penelitian, penyajian dan analisis data, serta pembahasan temuan.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Kajian Teori
- Pembiasaan Budaya Religius
Nilai bersifat abstrak dan hidup dalam pikiran manusia, suka atau tidak suka, karena nilai tersebut melekat maka suatu masyarakat akan mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam budayanya. Jadi, budaya keagamaan merupakan suatu kegiatan mendarah daging yang diamalkan setiap hari berupa nilai-nilai keagamaan yang bersumber dari hati nurani dan dapat dilihat. Sekolah merupakan organisasi pendidikan yaitu lembaga yang dapat menginternalisasikan nilai-nilai dalam diri peserta didik.
Bahkan ketika mahasiswa lulus dan menjadi mahasiswa baru, nilai-nilai budaya tersebut akan tetap bertahan. Standar perilaku yang menjamin seluruh perilaku baik di sekolah tetap dipertahankan dalam bentuk standar atau diteruskan kepada anggota baru. Perwujudan budaya keagamaan di sekolah dapat disimpulkan dari proses akulturasi yang dilakukan melalui tiga tingkatan, yaitu: 37.
Tingkatan nilai-nilai yang dianut, yaitu nilai-nilai keagamaan yang disepakati bersama, dijalani dengan penuh pengabdian dan dibangun loyalitas bersama di kalangan warga sekolah. Kegiatan sehari-hari merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari di sekolah berdasarkan kesepakatan bersama dan dilakukan bersama-sama. Proses perkembangan moral pada anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, karena anak menerima nilai-nilai dari lingkungannya.47 Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan anak di keluarga dan di sekolah.
Nilai moral adalah tindakan menjalankan kebebasan dalam melaksanakan tugas dan kebaikan.48.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Pembiasaan Budaya Keagamaan dalam Perilaku Sebagai Upaya Pendidikan Akhlak Anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo Tahun Pelajaran 2017/2018. Implementasi Pembiasaan Budaya Keagamaan Dalam Aktivitas Sehari-hari Sebagai Upaya Pendidikan Akhlak Anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo Tahun Pelajaran 2017/2018. Penerapan adaptasi budaya keagamaan dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya mendidik akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah tercipta pada saat pelaksanaan program salat dhuha berjamaah.
Solat sunat Dhuha di MIMA 56 Salafiyah-syafi'iyah diadakan setiap hari pada pukul 7 setengah berjemaah. Bacaan Asmaul Husna dan Surah Yasin oleh MIMA 56 Salafiyah Shafi'iyah dilakukan selepas solat Dhuha. Bagaimana penerapan pembiasaan budaya agama dalam tradisi sebagai upaya mendidik anak-anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tahun ajaran 2017/2018.
Tradisi pendidikan akhlak kepada anak-anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah juga terlihat pada bulan Ramadhan. Pembiasaan budaya keagamaan dalam perilaku sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo Tahun Pelajaran 2017/2018. Penerapan pembiasaan budaya iman dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo dikarenakan adanya temuan yaitu.
Implementasi pembiasaan budaya keagamaan dalam tradisi sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo Tahun Pelajaran 2017/2018. Penerapan pembiasaan budaya keagamaan dalam tradisi sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo lahir dari kebiasaan merayakan hari besar Islam. Peneliti sangat mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pembiasaan budaya keagamaan sebagai upaya pendidikan akhlak pada anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo.
Bagaimana pembiasaan budaya religi dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya penanaman moralitas pada anak di lembaga Mima 56 Salafiyah Syafi'iyah Tempurejo. Cara pembiasaan budaya religi dalam tradisi sebagai upaya penanaman moralitas pada anak di lembaga Mima 56 Salafiyah Syafi'iyah Tempurejo.
Subyek Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Observasi sebagai suatu teknik pengumpulan data mempunyai ciri-ciri khusus dibandingkan dengan teknik lainnya. Teknik pengumpulan data observasi digunakan apabila penelitian menyangkut perilaku masyarakat, proses kerja, fenomena alam dan jumlah yang diamati tidak terlalu banyak.58. Lokasi geografis penelitian yang dilakukan adalah Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif 56 Salafiyah Syafi'iyah, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember.
Wawancara dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dengan perantara untuk memperoleh data.59. Wawancara yang akan peneliti lakukan akan menggunakan wawancara semi terstruktur yang biaya pelaksanaannya lebih murah dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diwawancarai ditanyai pemikiran dan gagasannya.
Sejarah atau Latar Belakang Berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif 56 Salafiyah Syafi'iyah, akan dilakukan wawancara dengan kepala sekolah. Kegiatan penerapan budaya religius dalam perilaku 3S tersenyum, menyapa dan menyapa dilakukan guru setiap pagi. Respon siswa tersebut berkaitan dengan penerapan budaya keagamaan dalam tradisi dan aktivitas siswa sehari-hari seperti sholat dzuhur, sholat dzuhur berjamaah, membacakan yasin setiap pagi dan lain sebagainya.
Serta dokumen atau foto terkait yang diperoleh dari berbagai sumber yang diakui keabsahannya.
Analisis Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih pokok-pokok, memfokuskan pada pokok-pokok penting dan mencari tema pola. Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif, menurut Miles dan Huberman (1984), adalah menarik kesimpulan dan memverifikasinya.
Keabsahan Data
Tahap-Tahap Penelitian
Data yang akan digali adalah menciptakan budaya religius melalui pembiasaan sebagai upaya dalam pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo Jember Tahun Pelajaran. Salat Dhuha di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah dipecah menjadi dua lokasi karena fasilitas bangunan yang kurang memadai. Selain salat Dhuha berjamaah, lembaga MIMA 56 Salafiyah Syafi'iyah juga melaksanakan salat Dhuhur berjamaah sebelum pulang sekolah.
Tradisi yang dilaksanakan di MIMA 56 Selefiyah-Syafi'iyah adalah tradisi memperingati hari-hari besar dalam Islam. Setiap kali ada hari besar Islam, lembaga MIMA 56 Selefiyah-Syafi'iyah selalu ikut serta dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Saya melihat dalam penerapannya di musala, santri MIMA 56 Salafiyah-Syafi'jah menyimaknya dengan antusias.
Implementasi pembiasaan budaya keagamaan dalam perilaku sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo merupakan bentuk implementasi yang disepakati dan dilakukan oleh seluruh warga secara berkesinambungan (lanjutan). Kegiatan salat di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo dilaksanakan tidak hanya di depan gerbang, namun juga di musala setelah salat Dhuha. Teori ini sejalan dengan kegiatan yang diprogramkan di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo tentang pelaksanaan tradisi pesantren.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Sejarah Singkat MI Ma’arif 56 Salafiyah Syafiiyah
Profil Madrasah
Siswa MIMA 56 Salafiyah Syafi'iyah sangat antusias dalam menerapkan adat budaya keagamaan dalam aktivitas sehari-hari dengan membaca Asmaul Husna dan membaca Al-Quran Jasin.
Visi dan Misi MI Ma’arif 56 Salafiyah Syafiiyah
Letak Geografis MI Ma’arif 56 Salafiyah Syafiiyah
Keadaan Guru dan Karyawan
Keadaan Siswa
Keadaan Sarana dan Prasarana
Struktur Organisasi
Penyajian Data dan Analisis
Pembagian kota ini menunjukkan bahwa lembaga MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah berupaya keras untuk memastikan program salat Dhuha berjamaah tetap berjalan.82. Penerapan pembiasaan agama dan budaya dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya pendidikan moral anak-anak di MIMA 56 juga terlihat pada akhir kegiatan sholat. Penerapan pembiasaan budaya keagamaan terhadap tradisi sebagai upaya peningkatan akhlak anak-anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah dilakukan untuk melahirkan penerus umat Islam yang menganggap penting pelaksanaan tradisi.
Perayaan hari besar Islam dilaksanakan di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah dengan cara mengenalkan kepada para santri agar mereka merasa senang memiliki tradisi Islam dengan mengikuti perayaan hari besar Islam. Pelaksanaan tadarus Al-Quran di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah dilaksanakan setelah istirahat pada jam setengah 10 sampai jam 11. Lembaga MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah mewajibkan anda membayar zakat fitrah di sekolah dengan tujuan agar siswa dapat memahami tata cara Zakat.Fitrah dan merasakan sendiri bagaimana cara menyalurkan zakat yang dikeluarkan.
Wujud pembiasaan budaya keagamaan sebagai upaya pendidikan akhlak anak di Mima 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo terlihat dari proses akulturasi yang dilakukan dalam tiga tataran yaitu: tingkah laku, aktivitas sehari-hari dan tradisi yang dilakukan. oleh komunitas sekolah. Oleh karena itu, sapaan yang dilaksanakan di MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo merupakan sebuah konsep untuk membentuk kepribadian siswa sesuai dengan norma dan keadaan bagaimana ia berperilaku terhadap guru dan orang lain di kemudian hari. Hasil temuan dari pelaksanaan salat sunah zuhur dan salat wajib zuhur di MIMA 56 Salafiyah-Syafi’iyah Tempurejo adalah siswa dapat menjaga salatnya sehingga menjadikan siswa sebagai pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, di lembaga MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo, setiap diperingati hari raya Islam selalu ikut serta dalam merayakan Maulid Nabi. Hikmah Penerapan Tradisi Islam di Lembaga MIMA 56 Salafiyah-Syafi'iyah Tempurejo merupakan salah satu bentuk transmisi nilai-nilai keagamaan kepada anak. Pembiasaan budaya keagamaan dalam aktivitas sehari-hari sebagai upaya pendidikan akhlak anak di MIMA 56 Salafiyah-Syafi’iyah Tempurejo dikonsep dari tataran pengamalan sehari-hari yaitu nilai-nilai agama yang disepakati sebagai perilaku ideal untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga sekolah yaitu melalui pelaksanaan salat Dhuha, berjamaah, salat magrib berjamaah, pembacaan Yasin dan Asmaul Husna serta istigosah.