• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENCONGKEL DURI DALAM DAGING

N/A
N/A
Anggraini Suksmawati

Academic year: 2023

Membagikan "MENCONGKEL DURI DALAM DAGING"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

MENCONGKEL DURI DALAM DAGING

Aku, adalah seorang wanita biasa yang memiliki cita-cita punya rumah tangga bahagia walau sederhana. Selepas lulus sekolah di salah satu Universitas Swasta di Jawa Timur, aku memilih harus mencari pekerjaan di seputar tanah kelahiranku karena alasan klasik dari orang tuaku; aku wanita , sehingga tidak diperbolehkan jauh-jauh bekerja. Masih bersyukur ada lowongan pekerjaan sebagai guru yang terhitung masih linier dengan ilmuku selama kuliah. Kala itu, bisa dibilang aku memiliki kehidupan yang lumayan lempeng; lulus kuliah langsung menikah dengan teman sekolah, langsung bisa bekerja walaupun sebagai guru tidak tetap.

Seiring waktu berjalan, karirku mulai meningkat, bahkan bersama teman-teman bisa menambah penghasilan dengan ikut proyek konstruksi di luar kantor. Dengan kondisi memiliki 2 anak, tempat tinggal masih numpang dengan orang tua sekalian makan, harusnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, anehnya tidak. Aku bahkan harus pontang panting ke sana sini untuk mencukupi kebutuhan pokok terutama untuk anak-anak. Belum lagi, ada hal di luar ekspektasiku, sosok yang seharusnya menjadi pemimpin dan pengayom, justru memperlihatkan entah itu sifat aslinya atau pengaruh buruk dari luar. Walau sudah bekerja, uangnya pun tidak mencukupi kebutuhan keluarga, dengan alasan untuk membeli barang ini itu, untuk menserviskan mobilnya yang mogokan. Ada saja alas an untuk tidak memberikan nafkah padaku, sehingga aku harus mencari tambahan penghasilan. Lebih memilih keluar rumah dengan alasan mencari link bisnis lah, pertemuan dengan teman-temannya lah, pulang larut tanpa ada penjelasan apapun.

Setelah 5 tahun berjalan, semakin kurasa kondisi rumah tangga tidak beres. Setiap kutanya baik-baik, jawabannya selali dengan bentakan.

Akhirnya lama-lama aku lebih memilih diam menghindari suara halilintar yang bisa memekakkan telinga seluruh rumah. Bahkan sering memecahkan

(2)

melempar benda di hadapanku dan anak-anak. Awalnya sempat berfikir lebih baik mengalah, kupendam di lubuk hati terdalam semua kepahitan demi semuanya tetap utuh. Juga agar semua melihat keluargaku keluarga harmonis dan baik-baik saja. Namun, ternyata tetap saja hati nurani ini tak bisa dibohongi. Kehampaan mulai menyelimuti. Tahun ke-6, ke-7, ke-8, pernikahanku, aku merasa hanya sebuah tubuh kosong tanpa penghuni.

Seonggok daging berjalan tanpa ada asa bahkan keinginan yang terlintas.

Lantas, akan sampai kapankah kondisi ini bisa kunikmati sembari menghabiskan hari-hari tanpa ada lagi ruh dalam diri? Gelap, kosong, sendiri di keramaian.

Senja itu, di depan pintu sebelah utara rumah, menginjak tahun ke-9, aku termenung sendiri. Kulempar jauh pandangan mataku menatap hijaunya tanaman padi yang mulai meninggi di sawah utara rumah. Aku memilih diam meratapi nasib yang kuanggap begitu menyayat merobek robek hati tak kunjung henti. Haruskah aku tetap diam begini memilih pasrah pada keadaan diri? Haruskah aku menerima dengan embel-embel ikhlas di bibir tapi sebenarnya hati sangat tersakiti? Sungguh pura-pura baik-baik saja di hadapan semua orang, berfikir kasihan anak kasihan orang tua jika aku beranjak dari diamku ternyata sangat melelahkan. Tapi,aku sangat tidak siap mendengar omongan-omongan tetangga yang pastinya tidak ada yang percaya dan pastinya menyayangkan. Ditambah mengerikan membayangkan cerita orang-orang tentang hidup tanpa suami yang katanya sangat menakutkan. Perang batin bergejolak hebat kala itu. Hingga tak terasa, sudah terlalu lama aku duduk diam mematung, membuat ibuku menghampiriku dan mengajakku bangkit dari dudukku. Dipeluknya tubuhku yang mengurus, bukan karena kurang makan, lebih pada beban fikiran menguras begitu banyak energi. Tak terasa air hangat mengalir di pipiku menderas, mengetahui ibuku tersedu-sedu melihat kejiwaan anaknya yang menurutnya semakin memburuk.

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai contoh adalah ketika seseorang ingin membeli motor misalnya, namun uangnya tidak cukup untuk membayar secara kontan, dengan alasan itu si- pedagang menawarkan dengan

memenuhi kebutuhan finansial, alasan lain ibu rumah tangga bekerja adalah untuk menambah penghasilan keluarga, karena penghasilan suami masih tergolong rendah dan

Rasa menyesal ini muncul karena mahasiswa menggunakan uangnya untuk membeli produk fashion yang tidak menjadi kebutuhan mendesak, padahal disi lain masih memiliki

Dalam membeli barang remaja tidak lagi melihat kebutuhan atau kegunaan barang tersebut, tetapi dengan alasan ingin terlihat menarik, mengikuti trend , mencoba

Dimana penelitian ini melihat apakah faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga, harga daging kuda, barang subsitusi,

Faktor yang mendorong istri bekerja sebagai TKW adalah adanya himpitan perekonomian keluarga yaitu; penghasilan suami yang kurang mencukupi kebutuhan keluarga, sempitnya

Sebagai konsumen, rumah tangga keluarga membeli barang- barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh rumah tangga produsen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.. Selain berperan sebagai

Tujuan Tujuannya adalah untuk menghidupi Keluarga, Dan juga mencukupi Kebutuhan sehari-hari.Menjadi pedagang kaki lima untuk mendapatkan keuntungan serta mencukupi Kehidupan