PENENTUAN KUALITAS BAHAN BANGUNAN - PANDUAN PRAKTIS” sambil menjalankan tanggung jawab berupa instruksi langsung kepada anggotanya, atau setidak-tidaknya mengawali pengetahuan bagaimana memilih dan menentukan mutu bahan bangunan. Oleh karena itu, salah satu faktor penentu yang harus diperhatikan dan menjadi bagian dari tahapan di atas berkaitan dengan pemilihan dan penentuan kualitas bahan konstruksi penyusun suatu bangunan. Kehati-hatian dalam pemilihan dan penentuan mutu bahan konstruksi yang digunakan pada suatu bangunan akan bermuara pada tercapainya nilai ekonomis, efisien dan efektif bagi bangunan tersebut.
Kriteria ini menjadi salah satu faktor pendorong diterbitkannya buku “Penentuan Kualitas Bahan Bangunan – Panduan Praktis”. Keamanan dan kenyamanan dalam kegiatan tersebut hanya dapat tercipta jika kualitas bahan bangunan pembentuk komponen bangunan dipilih sesuai dengan fungsinya dalam sistem struktur bangunan. Kesalahan dalam memilih kualitas bahan bangunan akan mengakibatkan pemborosan, kerusakan bahkan kegagalan konstruksi.
BETON
Agregat
Materi beton yang disajikan dalam panduan praktis ini berhubungan khusus dengan beton normal. Tabel 1 di bawah ini menunjukkan berbagai karakteristik agregat halus dan agregat kasar yang merupakan material beton normal.
Semen
Portland Cement Compsite (PCC) dengan panas hidrasi lebih rendah dibandingkan OPC. Semen Portland Pozzolan (Portland Pozzolan Cement, PPC) yang tahan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. Air yang dibutuhkan dalam perencanaan komposisi beton mempunyai dua fungsi[1], yaitu fungsi fisika yang memberikan sifat reologi suatu cairan pada beton dan fungsi kimia yang membantu berkembangnya reaksi hidrasi.
Jumlah minimum air yang diperlukan untuk menjamin terlaksananya proses hidrasi semen secara keseluruhan adalah pada nilai sekitar perbandingan jumlah air terhadap semen dalam satuan berat dan dikenal dengan faktor air semen, fas). Dengan asumsi nilai fasa = 0,35 maka campuran beton menjadi sangat kaku dan sulit dikerjakan, serta praktis tidak mungkin digunakan di lapangan. Di sisi lain, penambahan air mempunyai konsekuensi terhadap perubahan perilaku beton, yaitu hilangnya homogenitas, peningkatan porositas, yang pada akhirnya menurunkan daya tahan dan kekuatan mekaniknya [13].
Bahan Tambahan
Baja
Dalam bidang teknik sipil, material baja struktur dibedakan menjadi dua jenis, yaitu baja tulangan dan baja penampang. Penggunaan baja tulangan umumnya dikombinasikan dengan material beton untuk membentuk komponen sistem struktur bangunan, sedangkan baja profil digunakan dalam pekerjaan konstruksi sistem struktur baja dengan atau tanpa menggabungkannya dengan material beton. Selain material baja struktural, terdapat juga material baja nonstruktural yang biasanya diproduksi dalam bentuk kawat dan tidak dibahas dalam panduan praktis ini.
Demikian pula buku ini tidak membahas material baja ringan yang saat ini banyak digunakan sebagai material struktur rangka atap bangunan.
Baja Tulangan
Baja tulangan yang beredar di pasaran merupakan baja tulangan biasa dengan diameter nominal berkisar antara 6 – 32 mm. Untuk baja bertulang sirip, diameter nominalnya antara 6 - 50 mm dan diameter dalam nominalnya masing-masing berkisar antara 5,5 - 48 mm [14]. Fungsi utama material baja tulangan yang digunakan pada sistem struktur beton bertulang adalah untuk menopang tegangan tarik yang terjadi pada suatu penampang beton akibat gaya tarik dan geser yang nilainya melebihi daya dukung material beton tersebut.
Dalam prakteknya, daya dukung material beton terhadap gaya tarik umumnya diabaikan dan selalu digunakan tulangan tarik minimum sesuai dengan peraturan perencanaan struktur beton bertulang.
Baja Profil
Kayu
Kayu merupakan salah satu bahan bangunan yang berasal dari alam, dalam hal ini tumbuhan, dan sering digunakan untuk membentuk komponen struktural maupun non struktural/pemikul beban. Sebagai bagian struktural suatu bangunan, kayu biasanya digunakan untuk kolom/tiang, balok, lantai, dan rangka atap. Sedangkan sebagai bagian non struktural, kayu biasanya digunakan untuk dinding, kusen, pintu dan jendela, plafon dan lain sebagainya.
Berbagai jenis kayu tersedia di alam, namun tidak semuanya dapat dimanfaatkan langsung sebagai bahan bangunan. Untuk dapat digunakan sebagai bahan bangunan, kayu tersebut harus memenuhi persyaratan yang ditentukan tergantung pada jenis konstruksi dan peruntukan bahan kayu tersebut sebagai bagian struktural atau non struktural. Dari sekian banyak syarat yang diperlukan sebagai bahan bangunan, kayu terlebih dahulu harus memenuhi syarat kekuatan yaitu kemampuan memikul beban dan keawetan yang berkaitan dengan keawetan/umur lama bahan kayu tersebut dapat berfungsi sebagai bahan bangunan, seperti pada gambar di meja. 3 dan tabel 4[15].
Pemilihan kelas kayu yang akan digunakan sangat bergantung pada tujuan dan fungsinya pada bagian konstruksi serta umur rencana bangunan seperti terlihat pada Tabel 5.
Dinding Bangunan
Batu Bata
Batako
Jalan
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang mencakup seluruh bagian jalan, termasuk bangunan dan perlengkapan pelengkapnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang terletak di permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah tanah dan/atau permukaan air, dan di atas permukaan air, kecuali jalan raya. , kereta api, jalan truk, dan jalur kabel[17][18]. Secara umum jalan raya dapat dibagi menjadi empat klasifikasi berdasarkan :. jalan arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan utama yang mempunyai ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah pintu masuk yang efisien dan terbatas; jalan kolektor, jalan yang melayani angkutan kolektor/berbagi dengan karakteristik perjalanan jarak menengah, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah akses jalan terbatas; jalan lokal, jalan yang melayani angkutan lokal dengan ciri-ciri perjalanan jarak pendek, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah pintu masuk tidak terbatas, dan. jalan lingkungan, jalan yang berfungsi melayani angkutan lingkungan hidup dengan ciri-ciri perjalanan jarak pendek dan kecepatan rata-rata rendah. Sistem struktur konstruksi perkerasan dari ketiga jenis perkerasan jalan raya masing-masing diberikan pada Gambar 1 di bawah ini.
Bahan yang digunakan dalam pekerjaan perkerasan jalan adalah batu dasar, lanau, pasir, kerikil, beton bertulang dan tidak bertulang serta aspal. Batu pondasi, sirtu dan pasir digunakan sebagai pondasi jalan pada perkerasan lentur yang diakhiri dengan lapisan aspal.
LENTUR
KAKU KOMPOSIT
Batu Dasar dan Sirtu
Batu pondasi pekerjaan konstruksi jalan adalah batu sungai atau batu gunung dengan dimensi yang cukup besar yaitu sekitar 200 – 350 mm sesuai peruntukannya, yang kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi pondasi jalan yang akan dibangun. . Pada kondisi tertentu yang sulit memperoleh batuan dasar, material sirtu sering digunakan sebagai pengganti batuan dasar untuk pembuatan pondasi jalan. Pemadatan material sirtu ini harus dilakukan dengan baik agar benar-benar dapat dijadikan pondasi sesuai dengan grade jalan yang dibangun.
Selain digunakan sebagai bahan pondasi jalan, batu pondasi juga biasa digunakan pada pekerjaan pondasi batu sungai, pekerjaan dinding penahan tanah, baik yang disusun sesuai spesifikasi maupun diikat dengan kawat, pekerjaan saluran air dan pekerjaan lainnya.
Aspal
Berdasarkan jenis bahan aditifnya, aspal polimer terdiri dari aspal polimer elastomer dan aspal polimer plastomer. Komposisi molekul aspal umumnya didominasi oleh unsur karbon dan hidrogen dengan jumlah kurang lebih 90% dari berat aspal dan bersifat termoplastik yang perilakunya sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan. Fungsi utama bahan aspal selain sebagai perekat agregat pembentuk lapisan permukaan jalan juga untuk mengisi ruang-ruang kosong yang terbentuk di antara agregat dengan kandungan sekitar 4 - 10% berat dan 10 - 15% bila dilihat berdasarkan volume. 19].
KUALITAS BAHAN KONSTRUKSI
- Agregat
- Semen
- Bahan Tambahan
- Beton
- Baja Tulangan
- Kayu
- Batu Bata
- Batako
- Batu Dasar
- Aspal
Pemilihan grade dan jenis semen yang tepat berdampak pada meminimalisir kerusakan sekunder nonstruktural yang sering disebut dengan retakan rambut pada material beton. Selain itu, mutu semen yang baik dapat diamati secara fisik di lapangan dengan menggunakan kriteria yang diberikan pada Tabel 9. Penggunaan superplasticizer sebagai bahan tambahan pada campuran beton dapat mengubah dan meningkatkan perilaku dan kinerja material beton.
Namun dalam memilih jenis dan jenis bahan tambahan yang akan digunakan, perlu diperhatikan tingkat kesesuaiannya dengan bahan lain yang digunakan untuk membentuk bahan beton tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai kualitas material beton yang optimal sesuai pengukuran yang diinginkan. Kapasitas tarik material beton sangat kecil, sehingga peran memikul beban tarik pada umumnya diambil alih oleh baja tulangan yang mempunyai kemampuan tarik dan tekan yang sama, namun harga material baja tulangan sangat mahal dibandingkan material beton.
Perpaduan harmonis antara material beton dan baja tulangan dalam membentuk material beton bertulang menjadikan material beton bertulang jauh lebih ekonomis dibandingkan jika digunakan semua material baja serta memiliki sifat kuat tarik dan tekan yang sama baik. Cukup banyak ditemukan kasus cacat konstruksi pada bangunan gedung di bidang teknik sipil, yang disebabkan oleh ketidaktepatan dalam pemilihan mutu material beton berdasarkan jenis dan tipe bangunan yang direncanakan atau dilaksanakan. Mutu bahan penyusun bahan beton, perencanaan komposisi serta teknik dan proses pengolahannya memegang peranan penting dalam mencapai mutu bahan beton yang diinginkan.
Tercapainya tingkat kepadatan beton yang optimal, yang secara praktis dapat dilihat dari berat dan pori-pori material beton. Permasalahan yang muncul di lapangan terutama adalah adanya produk baja tulangan yang dihasilkan tanpa mengikuti aturan yang disyaratkan oleh badan standardisasi nasional. Berat jenis kayu dapat diamati di lapangan melalui berat per satuan volume potongan kayu yang sama ukuran atau dimensinya tetapi jenis kayunya berbeda dengan cara membandingkan beratnya melalui penimbangan atau secara kasar dengan merasakan sendiri beratnya dengan mengangkat potongan kayu tersebut. pohon.
Penentuan kualitas batu bata sebagai material dinding bangunan idealnya dilakukan dengan pengujian di laboratorium khusus. Namun dalam praktiknya, pengujian sederhana dapat dilakukan langsung di lapangan untuk memprediksi kualitas bahan bata yang baik. Namun secara praktis pengujian sederhana dapat dilakukan langsung di lapangan untuk memprediksi kualitas bahan bata yang baik seperti ditunjukkan pada Tabel 13.
PENUTUP
Manalip, “Kemungkinan dan Perkembangan Teknologi Beton Pratekan Menuju Abad XXI – Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Ilmu Beton Pratekan Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi”, Manado, 1996. Manalip, “Etude du Comportement en Flexion de Poutres Partiellement Precontraintes en Beton de Hautes Performances", These du Doctorat Intitute National des Sciences Appliquees, Toulouse-France, 1994. Kumaat, "Contribution de l'Etude des Conditions des Fissurations de Dalles en Beton de Hautes Performances" ', These du Doctorat Intitute National des Sciences Appliquees, Toulouse, Prancis, 1994.
Kumaat, “Teknologi Beton: Tantangan dan Cakrawala Baru”, Pernyataan Ilmiah pada Dies Natalis Fakultas Teknik Unsrat, Manado, 2001. Manalip dan E. XXXIV”, Manado, 1995. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 19/ Prt /M/ 2011 tentang persyaratan rekayasa jalan dan kriteria perencanaan rekayasa jalan.