MENGIDENTIFIKASI LANGKAH-LANGKAH DALAM STUDI KASUS
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:
“Studi Kasus Konseling”
Dosen Pengampu : Amal Hayati, M.Pd
KELOMPOK 5 :
Alya Citra Rauhali ( 0303213080 ) Aurel Zira Febita ( 0303212049 ) Nur Halimah Tusya’diah ( 0303211003 ) Rani Sahfitri ( 0303213148 )
PRODI BIMBINGAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
MEDAN 2024
i
KATA PENGATAR ميحرلا نمحرلا الله مسب
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Sholawat dan salam tetaplah kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita jalan yang lurus yang diridhai Allah SWT.
Kami bersyukur makalah ini dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Makalah dengan judul “Mengidentifikasi Langkah-Langkah Dalam Studi Kasus” ini sengaja disusun sebagai bahan diskusi pada mata kuliah Studi Kasus Konseling. Makalah ini disusun dengan mengacu dari berbagai referensi yang telah dikumpulkan. Referensi tersebut berupa informasi yang didapat dari akses internet maupun pendapat pribadi. Pendapat pribadi hanyalah bersifat analisis dari kutipan sumber yang ada.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
Aamiin ya rabbal’alamiin.
Medan, 16 Oktober 2024
Kelompok 05
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penulisan Makalah ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
A. Identifikasi Kasus/Masalah ... 3
B. Diagnosis ... 4
C. Prognosis ... 5
D. Treatment... 7
BAB III ... 11
PENUTUP ... 11
A. Kesimpulan ... 11
B. Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konseling merupakan salah satu metode intervensi profesional yang bertujuan untuk membantu individu mengatasi masalah atau meningkatkan kemampuan dirinya secara signifikan. Dalam praktek konseling, identifikasi langkah-langkah yang tepat dan sistematis sangat penting agar proses konseling dapat dilakukan dengan efektif. Namun, tidak semua kasus konseling memiliki karakteristik yang sama, sehingga perlu adanya analisis mendalam untuk menentukan strategi yang paling optimal.
Studi kasus merupakan salah satu metode penelitian yang digunakan untuk mempelajari dan menganalisis fenomena atau kejadian yang terjadi dalam suatu konteks tertentu. Mengidentifikasikan langkah-langkah dalam studi kasus konseling bukan hanya sekedar melakukan observasi tetapi juga melibatkan beberapa tahapan penting seperti identifikasi kasus/masalah, diagnosis, prognosis, dan treatment. Dengan adanya langkah-langkah yang sistematis dan terstruktur merupakan hal yang sangat diperlukan agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk pengembangan teori atau praktik di masa yang akan datang.
Identifikasi kasus/masalah adalah langkah awal yang sangat crucial karena bertugas untuk menemukan dan menerangkan dengan jelas apa saja aspek-aspek utama dari suatu permasalahan biasanya identifikasi terhadap kasus ini dapat di laksanakan jika kita sudah memiliki data/latar belakang kasus terlebih dahulu.
Setelah itu diagnosis, diagnosis ini dilakukan untuk mendiagnosa tentang bagaimana kondisi aktual dari kasus tersebut. Kedua hal tersebut kemudian akan diproses lebih lanjut kepada tahap prognosis, yaitu prediksi masa depan dari kondisi saat ini. Prognosis berguna untuk meramalkan bagaimana perkembangan suatu
2
kasus jika tidak ada intervensi apapun maupun bila sudah dilakukan tindakan preventif. Terakhir, setelah semua tahapan sebelumnya telah diselesaikan maka datanglah fase treatment atau pengobatan. Pada tahap inilah kita mencoba memberikan rekomendasi-rekomendasi praktis guna mengurangi dampak negatif dari suatu masalah hingga menciptakan suasana yang lebih stabil dan optimal.
Dalam konteks bimbingan dan konseling di sekolah, diagnosis dan prognosis menjadi penting karena permasalahan siswa sering kali berkaitan dengan berbagai faktor, baik akademik, sosial, maupun emosional. Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk melakukan diagnosis yang tepat agar intervensi yang diberikan efektif, serta mampu memprediksi perubahan yang akan terjadi melalui prognosis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan Identifikasi Masalah?
2. Apa yang dimaksud dengan Diagnosis?
3. Apa yang dimaksud dengan Prognosis?
4. Apa yang dimaksud dengan Treatment?
5. Apa yang dimaksud dengan Evaluasi Dan Tindak Lanjut?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Identifikasi Masalah 2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Diagnosis
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Prognosis 4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Treatment
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Evaluasi Dan Tindak Lanjut
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Identifikasi Kasus/Masalah
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) identifikasi memiliki makna tanda kenal diri, bukti diri, penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dan sebagainya. Identifikasi adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik. Langkah identifikasi kasus bertujuan untuk mengenal kasus dan gejala-gejala yang muncul. Dalam langkah ini perlu adanya kegiatan mencatat kasus-kasus serta mempertimbangkan kasus mana yang perlu adanya treatment atau bantuan segera. Sedangkan pengertian kasus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu keadaan yang sebenarnya dari suatu urusan atau perkara, keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan dengan seseorang atau suatu hal soal perkara. (Harahap & Simarmata, 2023)
Setiap individu pasti pernah mengalami masalah dalam hidupnya. Masalah adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari dan akan terus terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Permasalahan dapat muncul dari dalam diri sendiri, seperti emosi yang tidak stabil, ketakutan, dan keraguan, serta dari luar diri, seperti kesalahan dalam mempersepsi tindakan orang lain, konflik dengan orang lain, dan tekanan dari lingkungan sekitar. Dalam menghadapi permasalahan, individu perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi, mengidentifikasi penyebab masalah, dan mencari solusi yang tepat. Selain itu, individu juga perlu memiliki kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup. (Namora, 2014)
Tahapan identifikasi masalah merupakan langkah awal yang krusial dalam proses pemecahan masalah. Proses ini melibatkan mengidentifikasi dan mendefinisikan dengan jelas masalah atau tantangan yang dihadapi untuk memahami akar permasalahan yang menjadi dasarnya. Dengan pemahaman yang mendalam tentang masalah yang dihadapi, langkah-langkah selanjutnya Dalam
4
menemukan solusi yang efektif dapat dilakukan. Kombinasi dari berbagai metode identifikasi masalah membantu dalam memperoleh sudut pandang yang komprehensif dan akurat terhadap situasi yang dihadapi, menjadi landasan yang diperlukan untuk mengatasi masalah secara efektif dan efisien. (Rusdi, 2024)
Maka dapat di simpulkan bahwasannya identifikasi masalah ini adalah langkah awal yang krusial dalam proses pemecahan masalah, dimana individu perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi, mengidentifikasi penyebab masalah, dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
B. Diagnosis
Diagnosis adalah upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seorang dengan melalui pengujian dan studi seksama mengenai gejala-gejalanya (symptons). Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diagnosis memiliki makna penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya.(Harahap & Simarmata, 2023)
Diagnosis merupakan proses identifikasi terhadap masalah yang dialami klien.
Diagnosis dilakukan melalui berbagai metode, seperti wawancara, observasi, pengisian angket, serta asesmen. Proses ini penting untuk memahami akar masalah klien serta konteks di mana masalah itu muncul. Menurut (Daulay, 2021), diagnosis dalam konseling mencakup identifikasi aspek-aspek kognitif, emosional, dan perilaku yang menjadi hambatan bagi klien dalam mencapai kesejahteraan psikologis. Diagnosis juga melibatkan pemahaman tentang faktor eksternal seperti kondisi keluarga, lingkungan sosial, serta aspek budaya yang mungkin mempengaruhi klien.
Tujuan utama dalam diagnosis konseling dan psikoterapi adalah untuk merencanakan perlakuan yang berbeda terhadap klien, perlakuan dalam artian kata bahwa konselor harus dapat membantu klien memustuskan apa yang harus mereka lakukan dan merencanakan tujuan untuk kehidupan klien selanjutnya dengan arah positif. Minsalnya mereka membutuhkan informasi, kecewa karna kurangnya pengalaman atau sedang mengalami persepsi atau pemikiran yang menyimpang.
Konselor membutuhkan pendekatan yang berbeda beda pemberian informasi,
5
interpretasi, atau penemuan harga diri dan masalah pribadi. Tujuan diagnosis selanjutnya adalah untuk menginterpretasi data kasus,yang disebut diagnosis structural yaitu pola konsistensi yang membantu menjelaskan atau mengambarkan tingkahlaku klien.(Nurhafiza et al., 2023)
Langkah-langkah diagnosis meliputi:
• Pengumpulan informasi: Mengumpulkan data dan informasi berkaitan dengan latar belakang gejala yang bersumber dalam diri maupun dari luar diri atau dari lingkungan sosial melalui wawancara, observasi, atau penggunaan instrumen tes.
• Analisis data: Melakukan analisis dan sintesis dari data dan informasi yang telah dikumpulkan untuk menentukan masalah utama klien.
• Identifikasi masalah: Memperkirakan jenis kasus/masalah berdasarkan hasil dari analisis dan sintesis seperti menggambarkan masalah dalam bentuk yang lebih terfokus, misalnya masalah akademik atau emosional.
Jadi dapat disimpulkan bahwasannya Diagnosis adalah factor awal untuk mengikuti analisis data, konselor memilih dari berbagai kumpulan kasus, fakta- fakta yang relevan sehingga membentuk dasar prognosis dan rencana untuk konseling selanjutnya. Diagnosis merupakan hasil yang dilakukan factor antara klien dan konselor terlibat dalam penemuan kesulitan yang dialami klien saat ini, dan proses diagnosis berlangsung dari awal dan berlanjut sampai terapi akhir.
Konselor dapat mendiskusikan berbagai pertanyaan-pertanyaan sebagai proses awal terapi, mengembangkan perkiraan atau fenomena tentang klien, dan konselor dapat membicarakan perkiraan kepada klien secara terus menerus.
C. Prognosis
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) prognosis memiliki makna ramalan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi. Langkah prognosis adalah sebuah penetapan alternatif bantuan yang akan diberikan berdasarkan hasil dari kegiatan diagnosis. Rumusan akhir dari kegiatan atau tahap diagnosis adalah
6
mengenai jenis dan bentuk kasus atau masalah berdasarkan hasil dari analisis dan sintesis.
Dalam konteks bimbingan dan konseling, prognosis adalah merencanakan tindakan pemberian bantuan kepada peserta didik setelah dilakukan tahapan diagnosis dari masalah yang terjadi. Dalam tahapan prognosis ini, seorang guru bimbingan dan konseling menetapkan alternatif tindakan bantuan yang akan diberikan kepada peserta didik (Ridwan, 2018). Prognosis merupakan prediksi mengenai hasil yang mungkin terjadi dari intervensi yang dilakukan. Tujuan dari prognosis adalah untuk memberi gambaran kepada klien dan pihak terkait mengenai kemungkinan perubahan yang akan terjadi dan seberapa efektif intervensi dalam menangani masalah.
Strategi yang digunakan dalam prognosis yaitu:
1. Strategi intruksional, yaitu sebuah layanan bantuan yang diberikan pembelajaran secara terpadu dalam proses
2. Strategi interaktif, yaitu yang dilaksanakan dalam betuk interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik yang mengalami kasus atau masalah dengan alternatif cara berbasis individual maupun kelompok
3. Pendekatan system, yaitu bantuan yang diberikan dengan menciptakan suasana sekolah atau proses pembelajaran yang baik dengan cara membuat kegiatan-kegiatan belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan Langkah prognosis dapat dilakukan sendiri oleh konselor melalui interaksi kelompok seperti kegiatan bimbingan kelompok, diskusi, rapat dan kegiatan kelompok lainnya. Dengan adanya pendekatan berbasis kelompok sangat diharapkan diperoleh hasil yang lebih baik sehingga nantinya dapat membantu individu dalam mengatasi kasus atau masalah yang dihadapi.(Harahap &
Simarmata, 2023)
Prognosis adalah langkah yang dilakukan untuk menentukan alternatif bantuan guna memecahkan masalah yang dialami oleh peserta didik yang sulit mengendalikan emosi yang ditetapkan berdasarkan langkah identifikasi masalah dan diagnosis yang sudah dilakukan ditahap sebelumnya.(Luthfia, 2017)
7
D. Treatment
Treatment atau pemberian terapi atau bantuan merupakan realisasi dari langkah- langkah sebelumnya. treatment adalah hasil dari alternatif- alternatif bentuk bantuan yang diberikan berdasarkan gejala-gejala atau latar belakang yang menjadi penyebab dari kasus atau masalah yang timbul. Pemberian suatu treatment dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keseluruhan pelaksanaan bantuan dikelola dengan baik yaitu adanya perencanaan program, pengorganisasian, pengaturan, pembagian tugas, penjadwalan, penyediaan sarana, penggunaan pendekatan dan koordinasi, pemantauan dan evaluasi (Ade Chita Putri Harahap, 2023).
Treatment merupakan inti pelaksanaan konseling dengan memberikan berbagai usaha atau menerapkan teknik bantuan pemecahan masalah, diantaranya menciptakan hubungan yang baik (rapport), membantu klien meningkatkan pemahaman diri, memberikan berbagai informasi, arahan atau advice (secara langsung, persuasive, menerangkan), serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama klien dengan berbagai teknik konseling yang cocok berdasarkan pemasalahan klien (Saputra, 2023) .
Treatment dapat dilakukan atas dasar kesepakatan antara konselor dengan konseli dalam menangani masalah yang akan dihadapi, dalam hal ini konseli melaksanakan suatu tindakan untuk mengatasi masalah tersebut, dan konselor memberikan motivasi agar konseli dapat mengembangkan diri secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya (Astiti, 2019). Treatment dalam sebuah konseling juga dilaksanakan berdasarkan tujuan yang ingin di capai dalam proses konseling. Pelaksanaan treatment sangat bergantung pada permasalahan konseli dan pendekatan yang digunakan (Zahrah et al., 2024).
Menurut Eddy H dalam (Supriyanto, 2016) hasil dari treatment itu ada beberapa kemungkinan:
1. Gagal, kemungkinan paling pahit kalau setelah diberikan treatment justru terjadi penyimpangan-penyimpangan atau masalahnya menjadi lebih parah.
8
Padahal sebelumnya treatment yang diberikan sudah dipandang baik/tepat.
Implementasi ini mungkin terjadi karena dalam proses konseling, klien hanya ingin memuaskan konselor, sehingga kurang ada pertimbangan- pertimbangan yang mendalam.
2. Ada kemajuan, tetapi belum sepenuhnya. Keadaan seperti ini dimungkinkan klien belum melakukan treatment sebagaimana mestinya. Memantapkan treatment terutama disesuaikan dengan diri klien.
3. Berhasil, hasil ini sangat diharapkan apabila klien menunjukkan adanya kemajuan-kemajuan seperti yang diharapkan bersama.
E. Evaluasi Dan Tindak Lanjut
Evaluasi penanganan kasus dalam studi kasus konseling ditujukan untuk mengetahui penanganan siswa-siswa oleh guru-guru Bimbingan dan Konseling, yang membutuhkan perhatian khusus. Gronlund & Linn mengungkapkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan penafsiran data atau informasi untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan pelajaran yang diterima oleh peserta didik. Gibson & Mitchel juga mengatakan bahwa evaluasi merupakan suatu proses untuk menilai efektivitas program atau aktivitas (Amir, 2022). Sementara Tindak lanjut (follow-up) adalah proses melanjutkan hubungan setelah konseling utama selesai untuk memastikan bahwa kemajuan klien tetap stabil atau meningkat.(Reza, 2021). Adapun tujuan dari evaluasi dan tindak lanjut studi kasus konseling ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan evaluasi
a. Mengukur Efektivitas Intervensi: Evaluasi bertujuan untuk melihat sejauh mana intervensi atau teknik yang digunakan dalam konseling berhasil membantu klien mengatasi masalah atau mencapai tujuan yang ditetapkan pada awal sesi.
b. Menilai Kemajuan Klien: Evaluasi membantu memantau perkembangan klien dari waktu ke waktu. Dengan demikian, dapat dilihat apakah klien mengalami perubahan yang signifikan dalam pola pikir, perasaan, atau perilakunya.
9
c. Mengidentifikasi Hambatan atau Masalah: Proses evaluasi memungkinkan konselor untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menghambat kemajuan klien. Dengan begitu, pendekatan atau strategi yang kurang efektif dapat disesuaikan atau diubah.
d. Mengevaluasi Kualitas Hubungan Konselor-Klien: Evaluasi juga dapat digunakan untuk menilai dinamika hubungan antara konselor dan klien, karena hubungan ini sangat penting dalam kesuksesan konseling. Jika ada masalah dalam hubungan, hal tersebut dapat menjadi fokus pembenahan.
e. Memberikan Masukan untuk Perbaikan: Melalui evaluasi, konselor mendapatkan umpan balik yang berguna untuk menyempurnakan teknik dan pendekatan mereka, baik pada klien saat ini maupun klien di masa depan.
f. Menilai Kebutuhan Tindak Lanjut: Evaluasi membantu dalam menentukan apakah klien memerlukan tindak lanjut atau sesi lanjutan untuk memastikan keberlanjutan perubahan yang dicapai, atau apakah konseling dapat dianggap selesai.
g. Dokumentasi Hasil dan Pembelajaran: Dalam konteks studi kasus, evaluasi berfungsi sebagai alat dokumentasi yang memberikan catatan hasil dan pembelajaran yang dapat berguna untuk referensi di masa mendatang, baik bagi konselor maupun komunitas profesional lainnya (Hendrawati, 2017)
2. Tujuan Tindak Lanjut
a. Memantau perkembangan klien setelah sesi konseling selesai.
b. Menyediakan dukungan tambahan jika ada masalah yang muncul kembali atau hal-hal baru yang perlu diatasi.
c. Menilai keberlanjutan dari hasil konseling dan memberikan bimbingan atau intervensi tambahan jika diperlukan.(Putri, 2019)
10
Maka dapat disumpulkan bahwa Kegiatan evaluasi dan tindak lanjut bertujuan untuk mengidentifikasi proses dan hasil pelaksanaan. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan mengumpulkan data pada saat pemberian dukungan (pengobatan) dan pada akhir intervensi untuk mengetahui hasil yang dicapai. Anda dapat melakukan kegiatan evaluasi dengan mengumpulkan data selama proses penyampaian dukungan dan di akhir penyampaian. Proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan teknik pengumpulan data, yaitu wawancara , observasi, angket, dan analisis data lainnya. Informasi dari kegiatan evaluasi dapat dijadikan dasar penilaian berhasil tidaknya proses pengobatan. Tes lanjutan kemudian dapat dilakukan untuk mengatasi proses pengobatan.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Identifikasi masalah merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pemecahan masalah, yang mana dalam hal ini melibatkan kemampuan analitis untuk mengenali penyebab masalah serta mencari solusi yang tepat. Diagnosis dan prognosis adalah dua aspek penting dalam proses bimbingan dan konseling yang saling melengkapi. Diagnosis membantu konselor memahami akar masalah yang dihadapi klien, sementara prognosis memprediksi hasil intervensi yang dilakukan.
Melalui contoh kasus siswa dengan kecemasan sosial, kita dapat melihat bagaimana diagnosis yang akurat dan prognosis yang realistis dapat membantu merancang intervensi yang efektif.
Treatment adalah hasil dari alternatif-alternatif bentuk bantuan yang diberikan berdasarkan gejala-gejala atau latar belakang yang menjadi penyebab dari kasus atau masalah yang timbul. Pemberian suatu treatment dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keseluruhan pelaksanaan bantuan dikelola dengan baik, yaitu adanya perencanaan program, pengorganisasian, pengaturan, pembagian tugas, penjadwalan, penyediaan sarana, penggunaan pendekatan dan koordinasi, pemantauan dan evaluasi.
Kegiatan evaluasi dan tindak lanjut bertujuan untuk mengidentifikasi proses dan hasil pelaksanaan. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan mengumpulkan data pada saat pemberian dukungan (pengobatan) dan pada akhir intervensi untuk mengetahui hasil yang dicapai. Anda dapat melakukan kegiatan evaluasi dengan mengumpulkan data selama proses penyampaian dukungan dan di akhir penyampaian. Proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, angket, dan analisis data lainnya. Informasi dari kegiatan evaluasi dapat dijadikan dasar penilaian berhasil tidaknya proses pengobatan. Tes lanjutan kemudian dapat dilakukan untuk mengatasi proses pengobatan.
12
B. Saran
Makalah yang telah disusun ini pastinya tidak luput dari banyaknya kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Kami sabagai penyusun makalah mengaharapkan kepada pembaca makalah ini, semoga makalah yang kami susun ini dapat dengan mudah dipahami dan makalah ini dapat bermanfaat bagi orang lain maupun diri pribadi. Kami sebagai pemakalah mengharapkan partisipasi, kritik dan saran teman- teman semua agar kedepannya kami dapat lebih baik lagi.
13
DAFTAR PUSTAKA
Amir, F. (2022). Evaluasi Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Dengan Menggunakan Model Cipp Di Manu Putra Buntet Pesantren. JIECO Journal of Islamic Education Counseling, 2(2), 131–142.
https://doi.org/10.54213/jieco.v2i2.210
Astiti, S. P. (2019). Efektivitas Konseling Sebaya (Peer Counseling) dalam Menuntaskan Masalah Siswa. Indonesian Journal of Islamic Psychology, 1(2), 243–263.
Daulay, M. (2021). Proses Diagnosis dalam Bimbingan dan Konseling. Jurnal Al- Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 3(1), 101–116.
https://doi.org/10.24952/bki.v3i1.4065
Harahap, A. C. P., & Simarmata, S. W. (2023). Studi Kasus Konseling (Teori Dan Praksis Di Institusi Pendidikan). 1–5.
Hendrawati. (2017). Evaluasi Layanan Konseling Kasus Siswa PENDIDIKAN DASAR DI LOMBOK TIMUR. Jurnal Akuntansi, 11(1), 1–20.
Luthfia, F. (2017). Studi Kasus Tentang Peserta Didik Yang Sulit Mengendalikan Emosi Pada Kelas Viii Smp Negeri 14 Pontianak. JPPK : Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 6(12), 1–11.
Nurhafiza, N., Karneli, Y., Hariko, R., & Hasgimianti, H. (2023). Proses Diagnosis dalam Konseling: Konsep dan Menganalisa sebagai Konselor Profesional dalam Problem Solving Klien. Educational Guidance and Counseling Development Journal, 6(1), 59. https://doi.org/10.24014/egcdj.v6i1.22483 Putri, A. E. (2019). Evaluasi Program Bimbingan Dan Konseling: Sebuah Studi
Pustaka. JBKI (Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia), 4(2), 39.
https://doi.org/10.26737/jbki.v4i2.890
Reza. (2021). Tindak lanjut Hasil Evaluasi Bimbingan dan Konseling.
Ridwan, A. (2018). Peran Guru Agama Dalam Bimbingan Konseling Siswa Sekolah Dasar. Risalah, Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam, 4(1, March), 1–
13. https://doi.org/10.5281/zenodo.3550506
Zahrah, I., Zalukhu, M. W., & Zahratunnisa, N. (2024). Pentingnya Membangun Hubungan Antar Kualitas Pribadi Konselor Dan Kualitas Pribadi Konseling.
Realisasi : Ilmu Pendidikan, Seni Rupa Dan Desain, 1(3), 121–128.
Lumongga, Namora. (2014). Memahami Dasar-dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Indonesia: Kencana Prenada Media Group.
Rusdi, S.M. (2024). Learning Skill. (n.p.): Thalibul Ilmi Publishing & Education.