21 PENDAHULUAN
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya pada pasal 45 ayat (1) mengamanatkan bahwa setiap satuan pendidikan menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan Peserta didik.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.
Menyadari akan hal tersebut pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini menunjukkan hal yang positif, ditandai dengan banyaknya prestasi yang ditorehkan oleh generasi muda baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni maupun olah raga. Pemerintah terus berupaya untuk melakukan pembinaan berkelanjutan kepada Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan ataupun bakat istimewa untuk mencapai prestasi puncak, baik pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten, provinsi, nasional maupun internasional.
Sejalan dengan ini, pemerintah menumbuhkan iklim kompetitif dan kondusif bagi pencapaian puncak prestasi dengan cara memfasilitasi secara teratur dan berjenjang kompetisi yang melibatkan peran serta Peserta didik dan juga guru.
Berdasar beberapa hal tersebut di atas maka keberhasilan proses belajar mengajar sering dikaitkan dengan beberapa faktor antara lain: 1) kemampuan guru dalam memberikan bahan ajar; 2) kemampuan Peserta didik dalam menerima materi pelajaran; 3) karakteristik materi pembelajaran;
4) sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran; 5) pelibatan komponen sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.
Ilmu fisika memiliki peranan yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai peralatan industri yang menerapkan konsep-konsep fisika. Penerapan konsep fisika di berbagai bidang industri, kedokteran, transportasi, komunikasi maupun pendidikan menunjukkan betapa pentingnya fisika dalam kehidupan sehari- hari
Pembelajaran Fisika saat ini masih mengalami dua orientasi yang bertolak belakang dan sulit dipecahkan oleh seorang Guru. Di satu sisi pendidikan mengarah pada pembelajaran yang PADA PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA-1 SMAN 2 PACITAN
Misman SMA Negeri 2 Pacitan
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah (1). untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Fisika setelah diterapkannya model pembelajaran Learning Cycle 5E pada pada Peserta didik Kelas XI MIPA-1 SMAN 2 Pacitan Tahun Pelajaran 2022/2023. (2).Mengetahui perilaku atau aktivitas peserta didik setelah diterapkanya model pembelajaran Learning Cycle 5E pada Peserta didik Kelas XI MIPA-1 SMAN 2 Pacitan Tahun Pelajaran 2022/2023.
Penelitian dilaksanakan dua siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2x45 menit. Setiap siklus meliputi 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Data tentang aspek kerja diukur dari perhatian peserta didik dalam menyerap materi pembelajaran, proses kerja secara kelompok dan diskusi kelas, keaktifan dan peran serta memberikan usulan dan masukan selama pembelajaran dan hasil pengamatan kolaborator selama pembelajaran, sedangkan mengenai aspek prestasi diukur dari hasil test prestasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; metode pembelajaraan Learning Cycle 5E dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar peserta didik kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 2 Pacitan. Peningkatan aktivitas dapat dilihat dari peningkatan antusiasme selama KBM. Sedangkan Peningkatan prestasi belajar peserta didik dengan nilai di atas tuntas pada siklus I dari 60% menjadi 93,3% pada siklus II.
Kata kunci: Learning cycle, prestasi belajar, pembelajaran, elastisitas
mementingkan proses, di sisi lain pembelajaran harus menyelesaikan materi tiap semester yang harus diselesaikan. Semakin banyak materi kurikulum yang harus diselesaikan menyebabkan guru melaksanakan pembelajaran dengan cara- cara yang cenderung mengabaikan pengembangan kreativitas Peserta didik.
Pembelajaran Fisika di SMAN 2 Pacitan secara umum masih kurang optimal. Hal ini dapat dilihat dari data nilai rata-rata fisika kelas XI semester 1 tahun pelajaran 2019/2020 adalah 73 dan pada tahun pelajaran 2021/2022 adalah 74. Nilai tersebut masih di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Rendahnya nilai fisika dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor dari internal yaitu pengaruh yang dimiliki oleh setiap Peserta didik, misalnya minat, motivasi, kreativitas, kecerdasan, maupun usaha.
Pengaruh dari faktor eksternal yaitu pengaruh dari luar individu misalnya metode belajar, lingkungan keluarga, fasilitas sekolah, maupun masyarakat.
Ketidaktercapaian KKM di SMAN 2 Pacitan disebabkan hal-hal sebagai berikut: (1) metode ceramah masih dominan dalam kegiatan belajar- mengajar sehingga menimbulkan kejenuhan pada Peserta didik, (2) Peserta didik kurang diikutsertakan dalam proses belajar mengajar, (3) kurang optimal penggunaan media pembelajaran sehingga karakteristik materi fisika tidak dapat dipahami Peserta didik dengan baik, (4) aktivitas Peserta didik oral activities yaitu mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan dan mendebat pernyataan masih belum muncul selama proses KBM, (5) penilaian guru hanya menekankan pada ranah kognitif Peserta didik saja padahal penilaian seharusnya bersifat integratif karena dalam proses pembelajaran dipadukan secara utuh ketiga ranah, baik dari ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
METODE
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research). PTK memiliki tujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan budaya akademik di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dan peserta didik yang sedang belajar. Arikunto (2019) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas yang umum disingkat dengan PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK
berfokus pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, dilakukan pada situasi alami.
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus s.d September 2022. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMAN 2 Pacitan pada Semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023. Subjek penelitian adalah Peserta didik kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 2 Pacitan sejumlah 27 Peserta didik.
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal sampai dengan siklus II. Catatan observasi di gunakan untuk mengetahui peningkatan keaktifan, keseriusan, serta ketertarikan Peserta didik. Evaluasi digunakan untuk mengukur peningkatan prestasi belajar Peserta didik.
Jenis data yang didapatkan adalah jenis data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa pernyataan kurang sekali, kurang, cukup, baik, dan baik sekali. Data kuantitatif didapat dengan mengubah data kualitatif dengan skala nilai 1 sampai 5.
Cara mengambil data sebagai berikut: 1) Data peningkatan keaktifan atau kreativitas diperoleh dari pengamatan kolaborator selama pelaksanaan tindakan. 2) Data ketertarikan atau minat Peserta didik di peroleh dari isian angket Peserta didik setelah diadakan tindakan. 3) Data peningkatan prestasi belajar di peroleh dari soal pre-test dan pos-test.
Pada kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini Peneliti membuat instrumen untuk mengukur hasil yang ingin dicapai, instrumen yang dibuat seperti:
1. Angket atau Tes Minat Peserta didik
Instrumen ini digunakan untuk mem- peroleh data tentang minat Peserta didik dalam mempelajari fisika, sebelum menggunakan Sistem Pembelajaran LKPD dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E
2. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Instrumen ini digunakan untuk mengukur keadaan kelas; Peserta didik dengan Peserta didik, Peserta didik dengan guru dengan asumsi apabila terjadi interaksi Kegiatan Belajar Mengajar yang diharapkan sesuai dengan Instrumen, maka menunjukkan Peserta didik telah berminat dalam mengikuti pembelajaran Fisika dengan diterapkannya Sistem Pembelajaran dengan LKPD dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E.
3. Lembar Observasi Guru dalam PTK
Instrumen ini digunakan guru untuk merefleksi diri sehingga guru dapat melakukan kegiatan PTK secara optimal dengan Sistem
Pembelajaran dengan LKPD dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E.
4. Angket/Tes Tanggapan Peserta didik
Instrumen ini digunakan untuk mengetahui tanggapan Peserta didik tentang Kegiatan Pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan LKPD Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E.
5. Test Hasil Belajar
Instrumen ini digunakan untuk mengukur kemampuan Peserta didik terhadap materi pelajaran yang telah diberikan dalam setiap siklus dan digunakan pula untuk mengetahui ketuntasan belajar secara klasikal, dengan asumsi jika prosentasi klasikal PTK lebih tinggi dengan prosentasi ketuntasan sebelum PTK menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar.
Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus.
Masing-masing siklus meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan Refleksi. Setiap siklus berlangsung sesuai dengan jumlah pertemuan dalam subkonsep yang dipelajari. Ketika proses pembelajaran berlangsung, guru mengamati dan mencatat segala yang terjadi dalam PBM.
Kemudian data-data dan catatan tersebut dianalisis.
Perencanaan tindakan meliputi analisa materi pembelajaran, penyusunan rencana pembelajaran dan penyusunan isntrumen Pembelajaran, semua hasil penelitian dicacat dan direkam oleh guru pengajar. Pada akhir siklus direkam dalam refleksi, terhadap hasil-hasil temuan baik dari hasil angket maupun catatan guru.
Analisa dan Refleksi hasil penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Merekam/mendukumentasikan segala hasil kegiatan pelaksanaan PTK.
b. Untuk mengetahui perkembangan minat peserta didik dianalisa berdasarkan perbandingan hasil angket peserta didik sebelum PTK dilakukan dengan hasil angket peserta didik setelah melakukan tindakan PTK.
c. Untuk mengetahui perkembangan prestasi belajar peserta didik dianalisa berdasarkan perbandingan ketuntasan Tes hasil belajar sebelum PTK dilakukan dengan ketuntasan Tes Hasil belajar sesudah PTK dilaksanakan.
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan
untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai Peserta didik juga untuk memperoleh respons Peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas Peserta didik selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan peserta didik setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh Peserta didik, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah Peserta didik yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
∑ ∑
= N
X X
Dengan:
X = Nilai rata-rata
Σ X= Jumlah semua nilai Peserta didik Σ N= Jumlah Peserta didik
2. Untuk ketuntasan belajar digunakan dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Seorang Peserta didik telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 75% atau nilai 75, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 85%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
% . 100
.
. x
Siswa
belajar tuntas
yang Siswa
P=
∑ ∑
Data hasil pengamatan dianalisis bersama kolaborator. Data yang dianalisis meliputi hal- hal berikut: perubahan yang terjadi pada Peserta didik yaitu keaktifan dan kreativitas Peserta didik maupun ketertarikan dan minat Peserta didik. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar digunakan analisis kuantitatif dengan rumus:
P= Posrate - Baserate x Baserate 100%
Keterangan:
P= Persentase peningkatan Posrate= nilai sesudah tindakan Baserate= nilai sebelum tindakan
Tolok ukur refleksi penelitian tindakan kelas ini adalah; (1) adanya peningkatan kreativitas yang terlihat pada antusiasme, aktivitas dan peran sertanya dalam pembelajaran menggunakan dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E; (2) adanya peningkatan prestasi belajar yang signifikan dari nilai test Prestasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus I
Perencanaan Tindakan
Siklus 1 berlangsung dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran membahas materi pelajaran dengan Pokok Bahasan elastisitas. Adapun tindakan- tindakan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Penjelasan maksud diadakannya PTK.
2. Pembagian LKPD pembelajaran dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E 3. Pembagian Kelompok belajar
4. Penjelasan Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E
5. KBM dengan sistem Model Pembelajaran Learning Cycle 5E
Pelaksanaan Tindakan
Pada tatap muka pertama 2 jam pelajaran dan 2 jam pertemuan kedua:
1. Penjelasan maksud kegiatan pembelajaran kedepan dengan menggunakan LKPD dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E.
2. Pembagian kelompok kerja, satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok, sehingga setiap kelompok beranggotakan 6 sampai dengan 7 Peserta didik,
3. Pelaksanaan Tes Minat Peserta didik bersama- sama dengan kolaborator peneliti membagikan angket minat Peserta didik, untuk mengetahui perkembangan minat Peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil Angket Minat Peserta didik, Peserta didik yang sangat berminat tidak ada, Peserta didik yang berminat 24 orang, Peserta didik yang ragu-ragu 3 orang dan Peserta didik yang kurang dan tidak berminat tidak ada,
4. Penjelasan Penggunaan LKPD Pembelajaran dengan Model Pembelajaran LC 5E; bersama- sama kolaborator peneliti membagikan LKPD pembelajaran, kemudian memberikan penjelasan bagaimana penggunaan LKPD, dan tahapan KBM selanjutnya, tahapan demi tahapan yang harus dan akan dikerjakan Peserta didik dijelaskan secara detail, misalnya mengenai Materi Tes awal, Tujuan
Pembelajaran, baik kognitif, afektif maupun psikomotor, Buku referensi yang harus dibaca,
5. Langkah-langkah menggunakan LKPD antara lain Tes Awal, belajar memahami kandungan LKPD, diskusi teori materi LKPD, Melaksanakan Eksperimen atau LKPD dalam pengawasan dan bimbingan Guru, Diskusi Kelompok, Mengerjakan tugas umpan balik, diskusi Kelas yang dipimpin oleh Guru.
6. Peserta didik dipersilakan mempelajari secara kelompok di luar jam (tugas di rumah) dan memperiapkan diri untuk tes awal pada pertemuan berikutnya, materi tes awal adalah materi Hukum Hooke.
7. Pelaksanaan Tes Awal: pada pelaksanaan ini ternyata semua Peserta didik hadir, kemudian peneliti bersama-sama dengan kolaborator membagikan soal Tes Awal, Peserta didik diberi waktu mengerjakan selama 15 menit.
Hasil Tes Awal menunjukkan prestasi/nilai Peserta didik masih cukup rendah; hal ini ditunjukkan dengan adanya 4 Peserta didik sangat rendah, 13 Peserta didik tidak tuntas, 5 pas tuntas dan 5 Peserta didik di atas tuntas (baik).
8. Pelaksanaan LKPD pembelajaran: secara kelompok para Peserta didik mengerjakan LKPD, langkah demi langkah, memasukkan hasil pengukuran ke dalam tabel, menjawab pertanyaan, kemudian mendiskusikan secara kelompok baik jawaban-jawaban pertanyaan dan kesimpulan eksperimen yang dilakukan.
Pada pelaksanaan LKPD ini peneliti bersama kolaborator melakukan bimbingan dalam melaksanakan LKPD dan sambil mengamati aktivitas Peserta didik.
9. Diskusi Kelas;
Peneliti meminta kepada salah satu kelompok untuk menyampaikan dan menuliskan hasil eksperimennya dipapan tulis untuk ditanggapi bersama, dari empat kelompok ternyata ada satu kelompok yang menghasilkan data dengan pola yang berbeda, artinya tidak sesuai dengan hasil yang diminta oleh LKPD. Pada saat diskusi ini setiap kelompok harus menyerahkan hasil diskusinya berupa isian-isian yang diminta oleh LKPD untuk diadakan koreksi sambil didiskusikan, dari empat kelompok, ada 1 kelompok yang menjawab LKPD dengan 80% benar; 2 kelompok dengan 70%
benar; 1 kelompok 60% benar. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan materi dan memberikan kesimpulan materi yang harus dikuasai.
Observasi
Hasil Observasi kolaborator selama siklus 1 adalah sebagai berikut:
1. Hasil Observasi Guru
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus 1 ini masih terdapat kurang maksimal (kelemahan) guru dalam hal:
a. Guru kurang memotivasi minat Peserta didik b. Penjelasan LKPD kurang mendetail tahap
demi tahap.
c. Mengaitkan materi dengan kehidupan disekitarnya
d. Peran guru sebagai fasilitator kurang nampak, 2. Hasil Observasi Peserta didik dalam KBM:
Secara umum KBM masih belum kondusif dan belum maksimum seperti yang diharapkan, ada beberapa Peserta didik yang masih main-main atau diam tidak aktif melakukan pengamatan dan itu menjadi catatan peneliti untuk nanti dalam diskusi diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan eksperimen, ada sebagian (50%) yang melakukan dengan ogah-ogahan, namun tiap kelompok umumnya ada dua orang yang sangat aktif melakukan percobaan, dan menyatakan ide-idenya
Refleksi
Dari Kegiatan pembelajaran pada Siklus 1, diperoleh hasil tes minat peserta didik terhadap penggunaan LKPD dapat meningkatkan Peserta didik dalam belajar fisika. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Kolaborator ternyata peneliti masih ada beberapa kelemahan- kelemahan pada Siklus 1, sehingga peneliti perlu introspeksi diri mengenai Perbaikan dan penyiapan LKPD yang lebih baik, Pemberian motivasi kepada Peserta didik baik dalam hal membangkitkan Peserta didik untuk bertanya, minat Peserta didik dalam KBM, mengerjakan LKPD, diskusi dll. Selain itu Menjalin interaksi yang lebih efektif dengan murid, sehingga peran guru sebagai fasilitator lebih diefektifkan.
Hasil Tes Evaluasi atau Tes Akhir Peserta didik secara global jika dibandingkan dengan hasil Tes Evaluasi sebelum PTK dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Tabel 1: Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Peserta didik sebelum PTK dan Akhir Siklus I.
KET. Sebelum
PTK Sesudah PTK siklus 1 Di Atas Tuntas 5
33% 7
Tuntas 4 10 60%
KET. Sebelum
PTK Sesudah PTK siklus 1
Tidak Tuntas 13
67%
7 40%
Sangat Rendah 5 3
Dari hasil tes tersebut dapat disimpulkan untuk sementara walau teknik pemberian LKPD belum sempurna, ternyata sistem LKPD ini dapat meningkatkan prestasi Peserta didik secara klasikal, ini terlihat ada penurunan jumlah Peserta didik yang harus mengikuti remedi berkurang.
Langkah-langkah usaha tindakan untuk menyempurnakan siklus 1 yang diperlukan dalam Siklus 2 adalah:
1. Menyempurnakan LKPD, sehingga Peserta didik dengan mudah dapat menyelesaikannya tepat waktu dan lebih efisien.
2. Memberikan penjelasan LKPD secara tuntas, langkah demi langkah jika perlu memberikan contoh melakukan tindakan.
3. Memberikan motivasi dalam setiap tahapan atau langkah dalam menyelesaikan LKPD, sehingga setiap Peserta didik dapat terlibat kegiatan secara aktif.
4. Memfungsikan diri sebagai fasilitator dan sumber belajar dengan baik
Siklus II
Rencana Tindakan
Siklus II pelaksanaan kegiatan pembelajaran membahas materi elasitas dengan kombinasi beberapa pegas dengan alokasi waktu 2 minggu efektif yang terdiri dari 4 jam pelajaran efektif.
Adapun tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada Siklus II sama dengan rencana tindakan pada siklus I dengan memperjelas atau memperbaiki kelemahan-kelemahan siklus I.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada Pada tatap muka 3 dan 4 dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
1. LKPD pembelajaran sudah dibagikan kepada masing-masing Peserta didik pada minggu sebelumnya agar setiap Peserta didik dapat menyiapkan dan memahami langkah-langkah LKPD yang akan dikerjakan dan pada waktu penjelasan LKPD Peserta didik menjadi lebih faham dibandingkan pada siklus I.
2. Agar Peserta didik tidak menimbulkan kebosanan dengan kelompok dan untuk menimbulkan suasana baru dalam suatu kelompok maka pada siklus dua diadakan pembagian kelompok lagi yang anggota-
anggotanya tidak sama dengan anggota pada siklus I, tetapi jumlah kelompoknya sama.
3. Kepada masing-masing kelompok diberi waktu ± 10 menit untuk memahami LKPD secara kelompok dan mencatat hal-hal yang kurang jelas untuk nanti ditanyakan pada waktu penjelasan LKPD
4. Pelaksanaan LKPD pembelajaran: secara kelompok para Peserta didik mengerjakan LKPD, langkah demi langkah, memasukkan hasil pengukuran kedalam table, menjawab pertanyaan, kemudian mendiskusikan secara kelompok baik jawaban-jawaban pertanyaan dan kesimpulan eksperimen yang dilakukan.
Pada pelaksanaan LKPD ini peneliti bersama kolaborator melakukan bimbingan dalam melaksanakan LKPD dan sambil mengamati aktivitas Peserta didik.
5. Diskusi Kelas. Peneliti meminta kepada dua kelompok untuk menyampaikan dan menuliskan hasil eksperimennya di papan tulis untuk ditanggapi bersama, dari data kedua kelompok yang dipaparkan di papan tulis ternyata mempunyai hasil kerja yang hampir sama dan setelah didiskusikan ternyata 4 kelompok yang ada menghasilkan hasil kerja yang praktis sama dan sesuai dengan hasil yang diminta oleh LKPD. Pada saat diskusi ini setiap kelompok harus menyerahkan hasil diskusinya berupa isian-isian yang diminta oleh LKPD untuk diadakan koreksi sambil didiskusikan, dari 4 kelompok, ada 1 kelompok yang menjawab LKPD dengan 100% benar; 2 kelompok dengan 85% benar dan 1 kelompok 75% benar. Selanjutnya peneliti semacam penghargaan/pujian kepada kelompok yang berhasil 100% benar dan selanjutnya memberikan penjelasan materi dan memberikan kesimpulan materi yang harus dikuasai dan ini tidak sesulit pada siklus I.
6. Tes Akhir; bersama-sama dengan kolaborator peneliti membagikan soal tes akhir untuk dikerjakan Peserta didik secara pribadi selama 45 menit. Dengan memperhatikan hasil Tes Akhir dari 27 Peserta didik ternyata Peserta didik yang tuntas dengan nilai sangat baik 8 orang; tuntas dengan nilai baik 17 orang;
tuntas dengan tepat tuntas 2 orang; di bawah tuntas 0 orang
Observasi
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II ini tindakan Guru sudah sangat baik sesuai rencana dan karakter LKPD yang diprogramkan atau nyaris tidak ada kelemahan secara individual hanya
hubungan antara guru dan Peserta didik masih sedikit perlu diakrabkan, kondisi ini tercipta karena guru nampak berusaha untuk mengatasi segala kelemahan yang terdapat di siklus sebelumnya.
Refleksi
Hasil Observasi Kolaborator menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dngan LKPD dikemas sebaik-sebaiknya dan guru berperan semaksimal sebagai sumber belajar dan fasilitator, maka minat dan prestasi belajar Peserta didik dapat juga dimaksimalkan sehingga KBM benar-benar berhasil.
Hasil Tes Evaluasi atau Tes Akhir Peserta didik secara global jika dibandingkan dengan hasil Tes Evaluasi sebelum PTK dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Tabel 2: Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Peserta didik Sebelum PTK, Akhir Siklus I dan
Akhir Siklus II.
Ket. SebelumPTK Sesudah PTK Siklus 1
Sesudah PTK Siklus II Di atas
Tuntas 5
33% 8
60% 8
93,3%
Tuntas 4 10 17
Tidak Tuntas 13
67%
8
40%
2 Sangat 6,7%
Rendah 5 4 0
Dari hasil tes tersebut dapat disimpulkan sampai pada akhir siklus II ini dengan semakin sempurnanya KBM dan LKPD yang disediakan, metode eksperimen dengan LKPD dapat meningkatkan minat dan prestasi Peserta didik belajar fisika, ini terlihat ada penurunan jumlah Peserta didik yang harus mengikuti remedi berkurang: dari 67% jumlah Peserta didik remidi sebelum PTK, pada siklus I menjadi 40% jumlah Peserta didik dan pada siklus II menjadi 6,7%
Peserta didik yang harus remedi.
Refleksi
Melihat dan merenungkan dari hasil analisis data baik dari pengamatan, tes minat dan tes evaluasi yang diperoleh pada siklus II yang dikorelasikan dengan hasil pada Siklus I, sangat signifikan menunjukkan adanya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar Peserta didik. Fakta di lapangan dapat dilihat dan dijumpai banyak Peserta didik yang antusias dan kreatif, lebih-lebih yang dapat menggembirakan dari pelaksanaan LKPD ini.
Peserta didik yang tadinya cenderung ngobrol, kurang perhatian malah berubah menjadi kreatif dan mengambil inisiatif yang baik, sehingga
prestasinyapun tidak kalah dengan Peserta didik yang lain. Hal ini terjadi karena pada Siklus II, karena Guru semakin memaksimal peranan, tugas dan fungsinya, LKPD Pembelajaran sudah semakin baik, Situasi KBM sudah menjadi terbiasa dengan pola baru yaitu eksperimen dengan LKPD sehingga kelemahan yang ada pada Peserta didik dan guru pada siklus-siklus sebelumnya sudah tidak nampak lagi.
Pembahasan Siklus I
Berdasarkan pengamatan dan hasil tes yang diperoleh pada siklus 1, menunjukkan adanya peningkatan minat belajar dan prestasi Peserta didik walaupun belum signifikan, namun berdasarkan fakta di lapangan banyak Peserta didik yang antusias dan kreatif, lebih-lebih yang dapat menggembirakan dari pelaksanaan LKPD ini,
Dari hasil wawancara ditemui banyak anak yang sangat menyukai sistem pembelajaran LKPD karena mereka menjadi jelas apa yang harus dilakukan, pemetaan konsep yang harus dikuasai, tujuan pembelajaran, materi evaluasi, langkah- langkah kegiatan yang harus dilakukan sehingga KBM menjadi lebih hidup dan semuanya sudah dijelaskan dengan gamblang dalam LKPD, sehingga setiap Peserta didik dapat menyiapkan diri secara maksimal.
Siklus II
Dengan pembenahan LKPD dan mekanisme pembelajaran hasil refleksi di siklus I, maka pelaksanaan di siklus II mengalami perubahan prestasi belajar. Peneliti sudah melaksanakan pembelajaran lebih baik. Peserta didik sudah lancar dalam mengerjakan LKPD, sehingga mampu memperoleh prestasi yang maksimal.
Menyempurnakan LKPD dan memberikan penjelasan secara tuntas, langkah demi langkah serta memberikan arahan melakukan tindakan ternyata mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar.
Hasil prestasi belajar pada siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan nilai ketuntasan 93,3%.
PENUTUP Simpulan
Dari hasil pengamatan dan analisis hasil kegiatan siswa serta guru, selama PTK diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dapat meningkatkan prestasi belajar Fisika Siswa Kelas XI MIPA-1 SMAN 2 Pacitan. Hal ini dibuktikan peningkatan
prestasi dari 60% pada siklusI, menjadi 93,33% pada siklus II.
2. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dapat meningkatkan aktivitas belajar Fisika materi Elastisitas pada pada Siswa Kelas XI MIPA-1 SMAN 2 Pacitan.
Hal ini dibuktikan dengan perubahan tingkah laku pada sebagian besar siswa kearah yang lebih baik, diantaranya adalah minat belajar, keingintahuan, motivasi, keberanian melakukan tindakan (psikomotorik), keberanian menyampaikan pendapat (afektif) baik secara individu maupun kelompok.
Saran
Dari hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maka peneliti menyampaikan saran- saran sebagai berikut:
1. Bagi Guru:
a. Guru lebih mampu melakukan pengelolaan pembelajaran yang berkualitas, baik dari perencanaan, pelaksanaan maupun tindak lanjut.
Dan tidak segan-segan untuk selalu merefleksi diri untuk perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan berikutnya.
b. Untuk setiap topik pembelajaran membutuhkan penyiapan bahan ajar yang spesifik, karena itu perlu persiapan yang baik dalam menyiapkan LKPD, karena LKPD yang dipakai sangat menentukan keberhasilan KBM.
c. Guru diharapkan dapat mengembangkan alat peraga dan LKS yang inovatif untuk topik-topik yang lain.
2. Bagi Peserta didik:
Peserta didik diharapkan dapat selalu berperan aktif dan optimal dalam setiap kegiatan KBM.
Karena sebagai salah satu subyek dalam KBM agar dalam proses pengkonstruksian pengetahuan dalam dirinya dapat lebih permanen dan bermakna, dan bilamana perlu mencari strategi belajar sendiri yang sesuai dengan kondisi pribadinya masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Ariadi Wijaya. 2009. Learning cycle model For learning surface area of triangular prism.
regional center of qitep in mathematics.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2019. Penelitian Tindakan Kelas Cetakan Ketiga, Jakarta:
Bumi Aksara
Deborah Hanusein L. 2007. Memakai Pendekatan Learning Cycle pada Pengajaran Learning
Cycle Calon Guru Sekolah Dasar, University of Missouri-Colombia
Dorlince Simatupang. 2008. Pembelajaran Model Siklus Belajar (Learning Cycle). Jurnal Kewarganegaraan, Vol 10 No 01 Juni 2008.
PP. 62-70.
Fauziatul Fajaroh dan Iwayan Dasna. 2007.
Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle). Malang: LP3 UM
Ganti Depari. 2011. Pembelajaran Kooperatif Team Games Tournament Dan Learning Cycle Pada Mata Pelajaran Elektronika Digital.
Bandung: FPTK UPI
https://educhannel.id/blog/artikel/pengertian- lembar-kerja-peserta-didik.html diunduh Tanggal 16 Oktober 2022
Paul Suparno. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivis dan Menyenangkan.
Yogyakarta: Universitas Sanata Darma Waras Kamdi. 2007. Model-model Pembelajaran
Inovatif. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press)
Wina Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana