Jumat Akhir Ramadhan
تِائَيِّسَ نْمِوَ انَسِفُنْأَ رِوَرُشُ نْمِ هِللابِ ذُوْعُنْوَ هُرُفُغْتَسِنْوَ هِنَيِّعُتَسِنْوَ هُدُمَحْنْ هِ#لل دُمَحْلا #نَّا
#لَّضِمِ لَافَ هِللا هُدُهْيَ نْمِ انَلامَعْأَ
هِل يَدِاهَلَافَ لَّلضِيَ نْمِوَ هِل
هِللا ى#لصَ هِلوْسَرِوَ هُدُبْعْ ا3دُ#مَحْمِ #نَّأَ دُهْشُأَوَ هِل كَيَرُشُ لَا هُدُحْوَ هِللا #لَاإِ هِلإِ لَا نَّأَ دُهْشُأَ
نْيِّعُمَجْأَ هِبْحْصَوَ هِلآ ىلعْوَ هِيِّلعْ مَ#لسَوَ.
﴿ ] 102 : نَّارُمَعْ لآ نَّوْمَلسِمِ مَتَنْأَوَ# لَاإِ #نْتُوْمَتُ لَاوَ هِتُاقَتُ #قَّحْ هِ#للا اوْقَ#تُا اوْنَمِآ نْيَذِ#لا اهْ@يَأَ ايَ [ ﴾ .
﴿ امَهْنَمِ #ثَّبِوَ اهْجْوَزَ اهْنَمِ قَّلخَوَ Dةٍدُحْاوَ Dسٍفُنْ نْمِ مَكُقَلخَ يَذِ#لا مَكُ#بِرِ اوْقَ#تُا سُا#نَلا اهْ@يَأَ ايَ
ا3بْيِّقِرِ مَكُيِّلعْ نَّاكَ هِ#للا #نَّإِ مَاحْرِلأَاوَ هِبِ نَّوْلءَاسِتَتُ يَذِ#لا هِ#للا اوْقَ#تُاوَ 3ءَاسِنْوَ ا3رُيِّثِكَ3 لَااجْرِ
﴾ ] 1 : ءَاسِنَلا [ .
﴿ مَكُبِوْنْذُ مَكُل رُفُغْيَوَ مَكُلامَعْأَ مَكُل حْلصْيَ ا3دُيَدُسَ3 لَاوْقِ اوْلوْقِوَ هِ#للا اوْقَ#تُا اوْنَمِآ نْيَذِ#لا اهْ@يَأَ ايَ
: بازحْلأَا ا3مَيِّظِعْ ا3زَوْفَ زَافَ دُقَفَ هِلوْسَرِوَ هِ#للا عْطِيَ نْمِوَ [ ﴾ 70
- 71 ]
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah siang ini , khatib berwasiat kepada para jama’ah sekalian pada umumnya dan kepada diri khatib sendiri khususnya, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT Taqwa dalam arti
هِللا رُمِاوَأَ
لاثِتَمِا imtisalu awamirillah.Menjalankan , melaksanakan,serta mengerjakann apa 2 yang menjadi perintah Allah
. هِيِّهَاوْنْ بانَتَجْاوَ
Wa ijtinabu nawahi. Dan sekuat tenaga menjauhi larang2 Allah. Jika demikian InsyaAllah kita yang hadir di masjid ini akan termasuk menjadi golongan hamba2 Allah yang Muttaqin. Yang InsyaAllah kita termasuk orang yang akan masuk syurganya Allah.
Dan tentunya, shalawat serta salam semoga selalu tercurah tak henti-hentinya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para sahabatnya.
Jamaah Jumat Rahimakumulah..
Hari ini, kita berada di penghujung akhir bulan ramadhan, kita berada di 10 hari terakhir bulan ramadhan dan jumat terakhir dibulan ramadhan tahun ini.
sebentar lagi kita akan meninggalkan bulan mulia ini dan merayakan hari raya idul fitri. Sebagian di antara kita mungkin sangat senang dengan berakhirnya bulan ramadhan, karena puasa telah lewat, kita tidak lagi merasakan lapar dan haus di siang hari, dan hari-hari kembali normal sebagaimana biasanya.
Namun demikian, bila dipandang dari sudut agama sebenarnya kesenangan kita dengan meninggalkan bulan ramadhan itu membuktikan betapa rendah dan lemahnya iman kita, karena
dengan berakhirnya bulan ramadhan justru kita sudah tidak bisa mendapatkan pahala yang besar sebagaimana yang bisa kita dapatkan di bulan ramadhan.
Dalam sebuah hadis, nabi bersabda:
ةُكُئِلَامَلاوَ ضُرِلَااوَ تِاوْمَ#سِلا تِكُبِ نَّاضِمِرِ نْمِ Dةُليِّل رُخَا نَّاكَ اذُإِ
هِللا ىلصَ هِللا لوْسَرِ لاقِ Dةُبْيِّصْمِ @يَا لَّيِّقِ Dدُ#مَحْمِ انْدُيِّسَ ةُ#مِلَا 3ةُبْيِّصْمِ
Zةُبِاجَتَسِمِ هِيِّفَ تِاوْعْ#دُلا #نَّلَا نَّاضِمِرِ باهَذُ يَهَ مَلسَوَ هِيِّلعْ
Zعٌوْفَدُمِ باذِعُلاوَ ،Zةُفُعْاضِمِ تِانَسِحْلاوَ Zةُلوْبْقَمِ ةُقِادُ#صْلاوَ
.“Ketika tiba akhir malam Ramadlan, langit, bumi dan malaikat menangis karena adanya musibah yang menimpa umat nabi Muhammad SAW. (Sahabat) bertanya, “Musibah apakah wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Berpisah dengan bulan Ramadlan, sebab pada bulan ini do’a dikabulkan dan shadaqah diterima. Kebaikan dilipatgandakan dan siksa dihentikan”.
Para sahabat dan orang-orang yang shalih sungguh merasa sedih dan menangis bila ditinggalkan bulan ramadhan, hal ini paling tidak disebabkan 2 alasan, yaitu:
Pertama, Kesadaran mereka bahwa dengan perginya bulan ramadhan, pergi pula berbagai keutamaan yang ada di dalamnya.
Kita ketahui bahwa Bulan Ramadhan bulan yang sangat istimewa, syahrul maghfirah, shahru quran, syahrul mubarak ... bulan yg paling berkah, yang mana pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Dan Bukankah hanya di bulan suci ini syetan dibelenggu?
Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
هِمِايِّصَ مَكُيِّلعْ هِ#للا ضُرُتَفَا Zكٌرِابْمِ Zرُهْشُ نَّاضِمِرِ رُهْشُ مَكَءَاجْ دُقِ
هِيِّفَ @لَّغْتُوَ مَيِّحْجَلا باوْبِأَ هِيِّفَ قَّلغْيَوَ ةُ#نَجَلا باوْبِأَ هِيِّفَ حْتَفُيَ
نْيِّطِايِّ #شَّلا
( دُمَحْأَ هُاوَرِ )
Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta para syetan dibelenggu... (HR.
Ahmad)
Di bulan Ramadhan amal sunnah diganjar pahala amal wajib, seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tiada batasan? Semua keutamaan itu takkan bisa ditemui lagi jika bulan ramadhan telah pergi. Ia hanya akan datang pada bulan ramadhan setahun lagi. Padahal tiada yang dapat memastikan apakah seseorang masih hidup dan sehat pada bulan ramadhan yang akan
datang. Inilah alasan mengapa para sahabat zaman dahulu dan orang-orang shalih bersedih, bahkan menangis mendapati ramadhan akan pergi.
Kedua, adanya peringatan dari Rasulullah SAW bahwa semestinya bulan ramadhan menjadikan seseorang diampuni dosanya.
Jika seseorang sudah mendapati bulan ramadhan, maka ia sebulan bersama dengan peluang besar yang penuh keutamaan, namun jika ia masih saja belum mendapatkan ampunan, maka ia benar- benar menjadi orang yang sangat rugi, bahkan celaka. Rasulullah SAW bersabda:
هِل رُفُغْيَ مَلفَ ،نَّاضِمِرِ كٌرِدِأَ نْمِ دُعُبِ
Celakalah seseorang yang memasuki bulan ramadhan namun dia tidak diampuni (HR. Hakim dan Thabrani)
Para sahabat dan orang-orang shalih merasa bahwa diri mereka tidak bisa menjamin akan mendapatkan ampunan itu, sementara jika mereka tidak dapat ampunan, mereka tentu akan celaka.
Inilah yang kemudian menyentuh rasa khauf para sahabat dan orang-orang yang shalih. Mereka takut menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan, sementara bulan ramadhan akan segera pergi. Mereka pun menangis, meluapkan ketakutannya kepada Allah seraya bermunajat agar amal-amalnya diterima, mereka selalu melantunkan do’a
عْيِّمَ#سِلا تِنْأَ كَ#نْإِ انَتُوَلَاتُوَ انْدِوْجَسَوَ انَعْوْكَرِوَ انَمَيِّقِوَ انَمِايِّصَ ا#نَمِ لَّ#بْقَتُ انَ#بِرِ
مَيِّلعُلا
Wahai Tuhan kami... terimalah puasa kami, shalat kami, ruku' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Para sahabat dan orang-orang shalih bukan hanya berdoa di akhir bulan ramadhan. Bahkan, rasa khauf membuat mereka berdoa selama enam bulan agar amal-amal di bulan ramadhan mereka diterima Allah SWT. Lalu enam bulan setelahnya mereka juga berdoa agar dipertemukan dengan bulan ramadhan berikutnya.
:
#مَﺛُ ،ﻥَاضِمِﺭَ رُهْشُ مَهْغْلبْيَ ﻥَﺃَ Dرُهْشُﺃَ ةُ#تَسَ هِللﺍ ﻥَوْعْدُيَ ﺍوْنْاكَ ﻒُل#سِلﺍ ﺾُعُبِ ﻝَا مَهْنَمِ هِل#بْقَتَيَ ﻥَﺃَ Dرُهْشُﺃَ ةُ#تَسَ هِللانْوْعْدُيَ
... Apa yang dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang shalih ini tentu berbeda jauh dengan apa yang kita lakukan saat ini, untuk itu patutlah kita mawas diri apakah hingga akhir ramadhan ini kita sudah mendapatkan ampunan atau justeru kita menjadi orang celaka?
Rasulullah SAW dalam beberapa hadisnya memberikan teladan dan anjuran bagi kita, apa yang seharusnya kita lakukan jika kita berada pada 10 hari terakhir bulan ramadhan
. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasanya ‘Aisyah berkata:
ايِّحْأَوَ ،هُرِزئَمِ دُشُ رُشَّعُلا لَّخَدِ اذُإِ مَلسَوَ هِيِّلعْ هِللا ىلصَ هِللا لوْسَرِ نَّاكَ )
) : (
رُشَّعُلا يَفَ دُهْتَجَيَ نَّاكَ مَلسِمِ ةُيَاوَرِ يَفَوَ هِيِّلعْ قَّفُتَمِ هِلهَأَ ظقَيَأَوَ ،هِليِّل ( هُرُيِّغ يَفَ دُهْتَجَيَ لَا امِ رُخَاوَلأَا.
“Jika masuk 10 hari akhir bulan ramadhan Rasulullah SAW mengencangkan ikat sarungnya, beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan isterinya.
Dan dalam riwayat imam Muslim: “Rasulullah SAW bersungguh-sungguh (dalam melakukan ibadah) pada 10 hari akhir bulan ramadhan dibandingkan hari-hari selainnya” Hadis di atas menunjukkan bahwa ada 3 hal utama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika memasuki 10 hari terakhir bulan ramadhan, yaitu:
Mengencangkan ikat sarung, Sebagian ulama’ mengatakan bahwa arti “mengencangkan ikat sarung” adalah beliau lebih keras dalam melakukan ibadah, sementara sebagian ulama’
mengartikan bahwa beliau menjauhi isterinya dan menfokuskan untuk beribadah kepada Allah.
Menghidupkan malamnya, artinya beliau mengisi malam-malam tersebut dengan memperbanyak berdzikir, melakukan shalat2 sunah dan membaca al-Qur’an dan bentuk ibadah- ibadah lainnya. yang bisa dilakukan pada malam ramadhan.
Membangunkan keluarga dan istri beliau, dengan tujuan agar keluarga dan isteri-isterinya memperbanyak berdzikir, shalat, membaca al-Qur’an seperti yang beliau lakukan. Hal ini bertujuan agar isteri-isteri beliau mendapatkan berkah pada malam-malam tersebut. Meningkatkan ibadah lebih banyak dibandingkan hari-hari selainnya.
Jika kita perhatikan hadis di atas, maka sungguh apa yang dilakukan Rasulullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para isteri beliau dan para sahabat-sahabat sesudahnya, sangatlah berbalik dengan apa yang kita lakukan saat ini.
Pada saat ini kita bisa lihat jika masuk awal ramadhan kita banyak melihat masjid-masjid dan musalla-mushalla dipenuhi oleh jama’ah untuk melakukan shalat teraweh, tadarrus dan lain-lain, namun jika sudah memasuki akhir ramadhan jama’ah yang awalnya banyak sedikit-demi sedikit berkurang, shaf-shaf semakin maju karena semakin sedikitnya jama’ah, tadarus semakin berkurang, orang lebih banyak pergi ke toko membeli pakaian untuk lebaran daripada shalat teraweh, orang lebih sibuk mengecat rumahnya daripada tadarrus, orang lebih sibuk mengurus dunia daripada akhirat, padahal 10 hari-hari terakhir itu merupakan hari-hari yang utama dibandingkan 20 hari sebelumnya.
Jika Rasulullah SAW yang maksum (diampuni dosa-sanya) begitu giat melakukan ibadah pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, maka marilah kita merenung sejenak, apakah kita yang tidak maksum (tidak terlepas dari dosa) patut sembrono tidak meningkatkan ibadah pada hari-hari tersebut, apakah kita tidak takut jika bulan ramadhan ini berlalu sementara dosa-dosa kita belum terampuni? maka jadilah kita orang-orang yang celaka.
jangan sampai menjadi orang yang merugi . dosa kita belum dimaafkan . padahal bulan ini merupakan bulan maghfirah ..bulan ampunan, bulan rahmat,bulan berkah dan pintu langit dibuka lebar. Jangan sampai kita lewatkan saja sehingga ketika keluar belum mendapat ampunan dari Allah SWT
sebagaimana doa malaikat Jibril yang diamini rasulullah ketika menaiki mimbar pada tangga pertama beliau berucap âmîn. Pada tangga kedua dan ketiga beliau juga berucap âmîn. Para sahabat akhirnya bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan âmîn tiga kali.” Nabi menjelaskan, “Pada tangga pertama tadi, Jibril mendatangiku dan mengatakan,
هِل رُفُغْيَ مَلوَ هِنَمِ خَلسِنْافَ ،نَّاضِمِرِ كٌرِدِأَ Zدُبْعْ يَقَشُ
Artinya: “Celaka orang yang menjumpai Ramadhan dan melewatinya tapi dosa-dosanya tidak diampuni.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’.
Pada tangga kedua Jibril berkata,
ةُ#نَجَلا هُلَاخَدُيَ مَلفَ امَهَدُحْأَ وَأَ هِيَدُلاوَ كٌرِدِأَ Zدُبْعْ يَقَشُ
Artinya: “Celaka orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya tapi hal itu tidak bisa memasukkannya ke surga.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’.
Pada tangga ketiga Jibril berkata,
كَيِّلعْ لَّصْيَ مَلوَ هُدُنَعْ تِرُكَذُ Zدُبْعْ يَقَشُ
Artinya: “Celaka orang yang ketika namamu (Muhammad) disebut di dekatnya, tapi ia tidak bershalawat padamu.” Maka aku mengucapkan ‘âmîn’. (Imam al-Bukhari, al-Adabu-l Mufrad, bab Man Dzukira
‘Indahu an-Nabiyyu Falam Yushalli ‘Alaihi).
Doa tersebut disampaikan oleh malaikat terbaik dan diaminkan oleh manusia sekaligus makhluk terbaik.
Maka sungguh rugi orang beriman yang dosanya tidak diampuni oleh Allah setelah berlalunya Ramadhan.
Nau’udzubillahi min dzalik.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Akhirnya, marilah sisa-sisa hari terakhir di bulan ramadhan ini kita gunakan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, kita banyak memohon ampun kepada Allah dengan harapan ketika bulan ramadhan ini lewat dosa-dosa kita benar-benar diampuni Allah SWT.
Diantara do’a yang sangat dianjurkan rasulullah SAW untuk banyak dibaca pada bulan ramadhan adalah:
mوْفُعْ كَ#نْإِ #مَهْ#للا ،رِانَلاوَ كَتَخسَ نْمِ كَبِ ذُوْعُنْوَ ةُنَجَلاوَ كٌاضرِ كَلأسِنْ انْإِ مَهْللا انَعْ ﻒُعْافَ وْفُعُلا @بُّحْتُ Zمَيَرُكَ .
Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosa kita, menerima semua amalan kita di bulan ramadhan, semoga Allah menyelamatkan kita dari api neraka. Amin. Ya rabbal alamin
رُكَذِلاوَ تِايَلآا نْمِ هِيِّفَ امَبِ مَكَا#يَإِوَ يَنَعُفُنْوَ ،مَيِّظِعُلا نَّآرُقَلا يَفَ مَكُلوَ يَل هِللا كٌرِابِ
مَيِّلعُلا عْيِّمَ#سِلا وْهَ هِ#نْإِ َهِتُوَلَاتُ مَكُنَمِوَ يَنَمِ لَّ#بْقَتُوَ مَيِّكُحْلا . نْيِّنَمِؤْمَلاوَ تِامَلسِمَلاوَ نْيِّمَلسِمَلا رُئِاسِلوَ مَكُلوَ يَل هِللا رُفُغْتَسَأَ اذِهَ يَلوْقِ لوْقِأَ
تِانَمِؤْمَلاوَ
مَيِّحْ#رُلا رِوْفُغْلا وْهَ هِ#نْإِ هُوَرُفُغْتَسَافَ . Khutbah Kedua
.
هِللاوَ هِللا# لَاإِ هِلا لَا نَّأَ دُهْشُأَوَ هِنْانَتَمِاوَ هِقَيِّفَوْتُ ىلعْ هِل رُكُ @شَّلاوَ هِنْاسِحْإِ ىلعْ هِلل دُمَحْلا
هِنْاوْضرِ ىلإِ ىعْا#دُلا هِلوْسَرِوَ هُدُبْعْ ا3دُ#مَحْمِ انْدُيِّسَ #نَّأَ دُهْشُأَوَ هِل كَيَرُشُ لَا هُدُحْوَ
ىuلعْ مَلَا#سِلاوَ ةٍلَا#صْلابِ مَكَرُمِأَ ، يَلعُلا هِللا ىوْقَتَبِ يَسِفُنْوَ مَكُيِّصَوَأَ ،نَّوْمَلسِمَلا اهْ@يَأَ ايِّفَ
:
هِيِّلعْ اوْ@لصَ اوْنَمِآ نْيَذِ#لا اهْ@يَأَ ايَ يَبْ#نَلا ىلعْ نَّوْ@لصْيَ هِتَكُئِلَامِوَ هِ#للا #نَّإِ لاقَفَ مَيَرُكُلا هِيِّبْنْ
ا3مَيِّلسِتُ اوْمَلسَوَ،
كَ كَ إِ ،كَ يْ إِ كَ يْإِ إِ آ ىكَ كَ كَ كَ يْ إِ كَ يْإِ ىكَ كَ كَ يْكَ كَ اكَ كَ دٍ كَ كَ مُ إِ آ ىكَ كَ كَ دٍ كَ كَ مُ ىكَ كَ !لِّ كَ كَ #مُكَ لكَ
.
إِ آ ىكَ كَ كَ كَ يْ إِ كَ يْإِ ىكَ كَ كَ يْ %كَاكَ اكَ كَ دٍ كَ كَ مُ إِ آ ىكَ كَ كَ دٍ كَ كَ مُ ىكَ كَ &يْ%إِاكَ كَ دٌ يْ(إِكَ دٌ يْ إِ )كَ
Zدُيِّجَمِ Zدُيِّمَحْ كَ#نْإِ ،مَيِّهَارُبِإِ
كَ كَ إِ *إِ +كَيْ ,-كَل كَ يْ #مُ/يْإِ 0إِاكَ)يْ,-كَل *إِا/كَإِ 1يْ ل كَ 2كَيْ/إِإِ 1يْ ل كَ *إِاكَ إِ 3يْ ل كَ 2كَيْ إِ إِ 3يْمُ يْ لإِ يْ 4إِ5يْ كَ #مُ ل
تِاجْاحْلا يَضاقِ ايِّفَ ،تِاوْعْ#دُلا بُّيِّجَمِ Zبُّيَرُقِ Zعْيِّمَسَ
ةُفُلتَخمَلا فَوْيِّ@سِلاوَ يَغْبْلاوَ رُكُنَمَلاوَ ءَاشَّحْفُلاوَ ءَابِوْلاوَ ءَلَاغْلاوَ ءَلَابْلا ا#نَعْ عْفَدِا مَهْللا
دٌ 6يْإِ 7كَ 0دٍ8يْ9كَ !لِّمُ ىكَ كَ كَ كَ إِ ،:ةًكَ اكَ 2كَيْ إِ إِ 3يْمُ ليْ <إِ كَ يْ مُ 2يْإِ كَ :ةً كَ ا=كَ >كَكَ اكَ إِ كَ كَ 2يْإِ ،2كَ?كَكَ اكَ كَ ا#كَ/يْإِ كَ #كَ@كَ اكَ ،2كَكَ إِ ليْ كَ كَ Aإِ كَ Bكَل كَ
مَهْللا ،مَيِّحْرُلا باوْتَلا تِنْأَ كَنْإِ انَيِّلعْ بُّتُوَ مَهْللا ،نْيِّمَلاعُلا برِ ايَ انَلامَعْأَ لَّبْقَتُ مَهْللا نْيَرُهْطِتَمَلا نْمِ انَلعُجْاوَ نْيِّبِاوْتَلا نْمِ انَلعُجْاوَ ،نْيِّمَلاعُلا برِ ايَ انْرِوْمِأَ ةٍلَاوَ حْلصَا يَنَعْ ﻒُعْافَ وْفُعُلا @بُّحْتُ mوْفُعْ كَ#نْإِ #مَهْ#لل
ارِا#نَلا باذِعْ انَقِوَ 3ةُنَسِحْ ةٍرُخَلآا يَفَوَ 3ةُنَسِحْ ايِّنْ@دُلا يَفَ انَتُآ انَ#بِرِ
: هِللا دِابْعْ
ۚيَغْبْلاوَرُكُنَمَلاوَ ءَاشَّحْفُلا نْعْ uىهْنَيَوَ uىبِرُقَلا يَذُ ءَاتَيَإِوَ نَّاسِحْلْإِاوَ لدُعُلابِ رُمِأيَ هِـ#للا #نَّإِ
C ۚ نَّوَرُ#كَذِتُ مَكُ#لعُل مَكُظِعُيَ
رُبْكَأَ هِللا رُكَذِلوَ ،مَكَدِزيَ هِمَعُنْ ىلعْ هُوَرُكُشُاوَ ،مَكَرُكَذِيَ مَيِّظِعُلا هِللا اوَرُكَذُافَ