• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE DAKWAH DALAM AL-QUR`AN SURAT ALI- IMRAN AYAT 104 AN-NAHL AYAT 125 THAHA AYAT 43-44 MENURUT PANDANGAN M. QURAISH SHIHAB DAN HAMKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "METODE DAKWAH DALAM AL-QUR`AN SURAT ALI- IMRAN AYAT 104 AN-NAHL AYAT 125 THAHA AYAT 43-44 MENURUT PANDANGAN M. QURAISH SHIHAB DAN HAMKA"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

43-44 MENURUT PANDANGAN M. QURAISH SHIHAB DAN HAMKA

Skripsi ini Diajukan

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Istiqomah NIM. 15220008

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH

INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

1440 H / 2019 M

(2)
(3)
(4)
(5)

iv

Tanamkanlah Wujudmu Di Tanah Kerendahan.

Sesuatu Yang Tumbuh Dengan Tanpa Ditanam Maka Hasilnya Tidak Akan Sempurna”

(Ibnu `Athai`illah)

(6)

v

Skripsi Ini Saya Persembahkan

Untuk Kedua Orang Terkasih Saya, Ayah Dan Ibu Untuk Keluarga Tercinta

Untuk Para Dosen

Saudara-Saudara Serta Sahabat Seperjuangan Penulis Dan

Untuk Almamter Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Salam kasih Dari Istiqomah

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Alhamdulillah dan diiringi rasa syukur yang teramat dalam penulis curahkan kehadirat Allah Swt., yang telah memberikan nikmat, taufik, serta hidayahnya kepada penulis sehingga dengan kenikmatan dan rahmat dari Allah penulis bisa menyusun hingga menyelesaikan penulisan skripsi ini untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dan sebagai bentuk kewajiban penulis sebagai seorang mahasiswa untuk bisa menyelesaikannya. Salawat serta salam senantiasa disampaikan kepada baginda Nabi Muhammad Saw., sang teladan kehidupan, penuntun manusia dari abad kejahiliahan hingga abad yang penuh dengan ilmu dan pengetahuan.

Tulisan ini bisa selesai atas berkat motivasi dan dorongan dari semua pihak baik secara moril maupun materil sehingga skripsi ini bisa diselesaikan. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan dari lubuk hati terdalam, perkenankan penulis menyampaikan rasa ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rektor Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta ibu Prof. Dr. Hj.

Huzaemah T. Yanggo, L.c., M.A.

2. Wakil Rektor I Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta ibu Dr.Hj.Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum.

3. Wakil Rektor II Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Bapak H.M.

Dawud Arif Khan, S.E.,M.Si., Aka., Cpa.

4. Wakil Rektor III Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta ibuk Dr. Hj.

Romlah Widayati, M.Ag.

(8)

vii

6. Kepala Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta Bapak H. M. Haris Hakam, S.H.,M.A.

7. Bapak Isman Iskandar M.Sos selaku sekretaris Prodi KPI IIQ Jakarta yang senantiasa memberikan dorongan dan motivasi dari awal pertemuan perkuliahan bersama beliau hingga dalam menyusun skripsi ini.

8. Bapak M.Hizbullah,S.Kom.I.,M.A. selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu di tengah sibuknya kegiatan beliau.

Senantiasa memberikan arahan dan bimbingan serta menjelaskan kepada penulis dikala berkonsultasi, serta sabar dalam mengarahkan dan membimbing penulis

9. Seluruh Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Prodi KPI Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan

10. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta

11. Orang tua tercinta, ayah dan Ibu. Terima kasih atas segala jasa dan doa yang tak hentinya diberikan kepada penulis, juga ketulusan dan senantiasa memberikan semangat sehingga bisa terselesaikan skripsi ini, juga kepada kakak dan adik yang selalu mendoakan dan memberikan semangat

12. Sahabat tercinta KPI Perdana IIQ Jakarta yang senantiasa memberikan semangat kala putus asa menghampiri, terima kasih atas kebersamaan dan semangat yang diberikan

13. Teman-teman seperjuangan IIQ Jakarta angkatan 2015

(9)

viii

dorongan serta doa untuk menyelesaikan skripsi ini

15. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah ikut terlibat dalam penulisan ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena tanpa kalian penulis juga tidak akan bisa menyelesaikan skripsi ini.

Buku ini merupakan hasil dari penulisan skripsi yang telah dipertahankan dalam ujian munaqsyah di Program Strata-1 IIQ Jakarta pada tanggal 5 Agustus 2019 dengan judul Metode Dakwah Dalam Surat Ali-Imran ayat 104 An-Nahl ayat 125 dan Thaha ayat 43-44 Menurut Pandangan M. Quraish Shihab dan Hamka.

Akhir kata penulis hanya bisa berharap semoga Allah Swt., membalas semua kebaikan semua pihak yang telah membantu dengan pembalasan terbaik dari Allah Swt., Amin. Penulis berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat terkhusus buat penulis dan bagi pembaca umumnya.

Jakarta, 29 Juli 2019 Penulis

Istiqomah

(10)

ix

Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan skripsi IIQ Jakarta transliterasi Arab-Latin mengacu pada berikut ini:

1. Konsonan

أ

: a

ط

: th

ب

: b

ظ

: zh

ت

: t

ع

: „

ث

: ts

غ

: gh

ج

: j

ؼ

: f

ح

: h

ؽ

: q

خ

: kh

ؾ

: k

د

: d

ؿ

: l

ذ

: dz

ـ

: m

ر

: r

ف

: n

ز

: z

ك

: w

س

: s

ق

: ā

ش

: sy

ء

: ʼ

ص

: sh

ي

: y

ض

: dh

2. Vokal

Vokal tunggal vokal panjang vokal rangkap

Fatḫah : a آ : â ْ ي َ : ai

Kasrah : I ي : î ْ و َ : au

Dhammah : u و : û

(11)

x

Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

ةرقبلا

: al-Baqarah

ةنيدلما

: al-Madînah b. Kaat sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا) syamsiyah

Kata sandang yang diikuti oleh ali-lam (لا) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

لجرلا

: ar-rajul

ةديسلا

: as-Sayyidah

سمشلا

: asy-syams

يمرادلا

: ad-Dârimî c. Syaddah (Tasydîd)

Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab digunakan lambang (ْ َ), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd.

Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah. Contoh:

ِهّلل اِب اَّنَمَا

: Âmannâ billaâhi

ُء اَهَفُسلا َنَمَا

: Âmana as-Sufahâˊu

َنْيّدلا ّفِا

: Inna al-ladzîna

ِعَّكُّرلاَك

: wa ar-rukkaˊi d. Ta Marbûthah (ة)

Ta Marbûthah (ة) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (naˊat), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h”. contoh:

(12)

xi

ةّيملالسِْلْا ةةعمالجا

: al-Jâmiˊah al-Islâmiyyyah

Sedangkan ta Marbûthah (ة) yang diikuti atau disambung (di- washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi hurif “t”. contoh:

ُةَبِص اَن ٌةَلِمَع

: ˊÂmilatun Nâshibah

َرْػبُكلا ُةَيَلأا

: al-Âyat al-Kubrâ e. Huruf Kapital

Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada PUBEI berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya.

Contoh:

ˊÂlî Ḫasan al-ˊÂridh al-ˊAsqallânî, al-Farmawî, dan seterusnya.

Khusus untuk penulisan kata Al-Qur`an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf capital. Contoh:

Al-Qur`an, Al-Baqarah, Al-Fâtiḫah dan seterusnya.

(13)

xii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN PENULIS ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... x

DAFTAR ISI... xiii

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan ... 9

1. Identifikasi Masalah ... 9

2. Pembatasan Masalah ... 10

3. Perumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Tinjauan Pustaka ... 12

F. Metode Penelitian ... 15

G. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Dakwah ... 19

B. Hukum Berdakwah ... 21

C. Fungsi Dakwah ... 24

(14)

xiii

F. Sumber Metode Dakwah ... 40

G. Bentuk-bentuk Metode Dakwah ... 42

H. Faktor yang mempengaruhi pemilihan dan penggunaan metode Dakwah ... 49

I. Aplikasi Metode Dakwah Rasulullah ... 49

BAB III BIOGRAFI QURAISH SHIHAB DAN HAJI ABDUL MALIK KARIM AMRULLAH (HAMKA) A. Profil M. Quraish Shihab ... 51

B. Profil Buya Hamka... 58

BAB IV ANALISIS AYAT METODE DAKWAH A. Surat Ali Imran ayat 104 ... 68

a. Menurut M. Quraish Shihab ... 68

b. Menurut Hamka ... 73

B. Surat An-Nahl ayat 125 ... 80

a. Menurut M. Quraish Shihab ... 81

b. Menurut Hamka ... 85

C. Surat Thâhâ ayat 43-44 ... 94

a. Menurut M. Quraish Shihab ... 95

b. Menurut Hamka ... 99

D. Implementasi Terhadap Dakwah ... 105

BAB V PENUTUP... 117

A. Kesimpulan ... 117

B. Saran... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 121

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 127

(15)

xiv

Istiqomah, Metode Dakwah Dalam Al-Qur`an Surat Ali Imran 104 An-Nahl 125 dan Thaha 43-44 menurut pandangan M.Quraish Shihab dan Hamka, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IIQ Jakarta, 2019.

Dakwah adalah salah satu aktivitas yang berusaha menyampaikan pesan-pesan ilahi kepada manusia sehingga manusia bisa kembali kepada Allah dan menjalankan apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangannya. Agar berdakwah bisa berjalan lancar dan tercapai apa yang diharapkan, maka diperlukan cara atau metode dakwah yang tepat sehingga dakwah mencapai tujuannya. Al-Qur`an adalah petunjuk bagi manusia.

Sehingga dalam konteks dakwah sekalipun Allah telah menjelaskan bagaimana metode dakwah yang harus digunakan oleh seorang dai dalam berdakwah. Banyak ayat Al-Qur`an yang berbicara tentang metode dakwah, diantaranya yaitu surat Ali-Imran ayat 104, an-Nahl ayat 125 dan Thâhâ ayat 43-44. Adapun maksud ayat ini akan lebih jelas lagi apabila dilihat dengan penafsiran para ulama diantaranya yaitu tafsir Al-Misbah dan tafsir Al-Azhar yang merupakan mufasir Indonesia yang sangat terkenal akan keilmuannya.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan teknik studi kepustakaan. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif dengan berusaha menjelaskan pemikiran dan pandangan M. Quraish Shihab dan Hamka yang membahas tentang ayat metode dakwah sehingga akan terlihat bagaimana kedua mufasir memandang ayat-ayat metode dakwah tersebut.

Hasil penelitian dari penafsiran Quraish Shihab dan Buya Hamka, kedua mufasir menjelaskan bahwa Kewajiban dakwah adalah bagi semua umat muslim, akan tetapi harus ada kelompok khusus yang menjadi inti gerakan dakwah yang termaksud dalam surat Ali-Imran ayat 104. Lalu, metode dakwah yang disebutkan dalam an-Nahl ayat 125 yaitu metode hikmah, mau`izhah al-hasanah dan jidal. Dan terakhir dalam surat Thâhâ ayat 43-44 metode dakwah untuk para penguasa dijelaskan dengan menggunakan kelemahlembutan agar hatinya bisa menerima dan diharapkan mau mengikuti apa yang disampaikan dalam pesan dakwah.

Kata kunci: Dakwah, Metode Dakwah, Surat Ali-Imran, An-Nahl, Thâhâ.

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dakwah hakikatnya adalah upaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan. Menyeru seseorang pada agama Islam, maksudnya adalah berupaya untuk menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada apa yang diserukan, yakni Islam. Karenanya dakwah Islam tidak hanya terbatas pada aktivitas lisan saja, tetapi mencakup seluruh aktivitas lisan atau perbuatan yang ditujukan dalam rangka menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan pada Islam.1Dakwah merupakan aktualisasi iman yang mengambil bentuk berupa suatu sistem kegiatan manusia dalam bidang kemasyarakatan, yang dilaksanakan secara teratur untuk memengaruhi cara merasa, cara berpikir dan bersikap secara Islami, baik hiasan maupun perbuatan.2

Di dalam Al-Qur`an kata dakwah dan berbagai bentuk katanya ditemukan sebanyak 198 kali menurut hitungan Muhammad Sulthon (2003:4), 299 kali menurut Muhammad Fu`ad `Abd al-Baqi`

dan 212 kali menurut Asep Muhiddin. Dalam buku Ilmu dakwah yang ditulis oleh M. Aziz setidaknya ada 10 macam makna dakwah dalam Al-Qur`an diantaranya yaitu: pertama, mengajak dan menyeru, baik kepada kebaikan maupun kemusyrikan, kepada jalan ke syurga atau ke neraka. Kedua, doa seperti yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 38. Ketiga, mendakwah atau tidak menganggap baik, seperti dalam surah Maryam ayat 91. Keempat, mengadu seperti yang

1Ahmad Mahmud, Dakwah Islam, (Bogor: Thariqul Izzah, 2011), Cet. Ke-III, H.

13 2

Asep Muhyiddin, dkk, Kajian Dakwah Multiperspektif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), Cet.ke-I, h. 123

(17)

terdapat dalam surat al-Qamar ayat 10. Kelima, memanggil atau panggilan seperti yang terdapat dalam surah ar-Rûm ayat 25.

Keenam, meminta, seperti yang terdapat dalam surah Shad ayat 51.

Ketujuh, mengundang, seperti yang terdapat dalam surah al-Qasas ayat 25. Kedelapan, menyeru atau penyeru seperti yang terdapat dalam surat Thaha ayat 108. Kesembilan, panggilan nama atau gelar yang terdapat dalam surah an-Nur ayat 63. Dan kesepuluh, anak angkat, sebagaimana yang terdapat dalam surah al-Ahzab ayat 4.3

Dakwah berasal dari kata da`a, yad`una dan dakwah.4 Kata da`a adalah fi`il madhi yang memiliki makna memohon, meminta, berdoa dan memanggil yang disebutkan dalam Al-Qur`an pada 10 surah dan 11 ayat. Namun hanya 3 ayat yang mengandung makna dakwah yaitu surah Al-Anfal ayat 24, ar-Rum ayat 25 dan Fushshilat ayat 33. Kata yad`una adalah fi`il mudhari` yang disebut dalam Al- Qur`an sebanyak 21 ayat pada 20 surat. Kata yad`una dalam makna dakwah terdapat dalam 12 ayat. Kata dakwah merupakan isim mashdar yang disebut dalam Al-Qur`an sebanyak 5 kali di mana 2 ayat bermakna doa dan 3 ayat yang bermakna dakwah. Kata ud`u adalah bentuk fi`il Amr yang disebut dalam Al-Qur`an sebanyak 8 surat pada 12 ayat.5

Dari beberapa macam bentuk ayat dakwah tentu diantaranya termasuk juga ayat yang menjelaskan tentang metode dakwah. Di dalam Al-Qur`an tentu ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang metode dakwah yang telah diajarkan kepada para Nabi dan Rasul pada saat menyampaikan risalahnya. Sehingga apa yang telah

3 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta:Kencana, 2017), Cet. Ke- VI, h. 5

4 Abdullah, Ilmu Dakwah, Kajian Epistimologi, Aksiologi dan Aplikasi Dakwah, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2018), Cet. Ke-I, h. 3

5 Abdullah, Ilmu Dakwah, Kajian Epistimologi, Aksiologi dan Aplikasi Dakwah, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2018), Cet. Ke-I, h. 4-9

(18)

disampaikan oleh Allah melalui Al-Qur`an tentu saja perlu dijadikan pedoman bagi pelaku dakwah saat ini dalam menyampaikan dakwahnya.

Pemahaman yang dapat ditemukan adalah bahwa dakwah bersifat persuasif, yaitu mengajak manusia secara halus. Kekerasan, pemaksaan, intimidasi, ancaman atau teror agar seseorang melaksanakan ajaran Islam tidak bisa dikatakan dakwah. Pemahaman ini diperoleh dari makna dakwah yang berarti mengajak, berdoa, mengadu, memanggil, meminta, dan mengundang. Dengan makna- makan tersebut maka bisa dipahami bahwa dakwah tidak menekankan pada hasil, tetapi pada tugas dan proses.6

Al-Qur`an telah menjelaskan bagaimana urgennya dakwah Islam dan betapa butuhnya manusia akan dakwah Islam di dalam sejumlah besar ayatnya. Berbagai ungkapan Al-Qur`an memang tidak secara langsung berbicara tentang masalah dakwah. Akan tetapi banyak sekali ungkapan dan makna-makna yang dari ayat yang berbicara tentang dakwah Islam. Sebagaimana Al-Qur`an menjelaskan ihwal dakwah dan juga ihwal amar makruf nahi munkar:

























































“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar.

dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, Padahal air itu

6 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 8-9

(19)

tidak dapat sampai ke mulutnyadan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.(Q.S. Ar-Ra`d [13]: 14)

















































Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S. Ali-Imran [3]:110)

Selain ihwal tentang amar makruf nahi munkar, Al-Qur`an juga menyampaikan tentang tablig, menyeru kepada manusia untuk kembali ke jalan Allah dan juga menyampaikan risalahnya:



















































“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Q.S. Al-Maidah [5]: 67)





































“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan

(20)

hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (Q.S. Yusuf [12]: 108)

Saat ini, bisa dilihat bahwasanya banyak para dai yang melakukan gerakan dakwah dengan metode dan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah. Baik secara lembaga maupun individual yang didukung oleh manajemen tim yang baik. Seperti Ustadz Abdul Shomad Lc, M.A., Ustadz Adi Hidayat L.c.,M.A., Ustadz Khalid Basalamah, L.c. dan para dai lainya yang begitu aktif dalam menyampaikan pesan dakwah secara lisan melalui media youtobe, instagram dan media lainnya. Selain itu juga, ada organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Front Pembela Islam (FPI) dan organisasi lainnya yang menegakkan kegiatan amar makruf nahi munkar.

Tidak hanya kewajiban dai, tapi juga seluruh umat muslim untuk bisa mengamalkan dakwah dengan baik dan sesuai dengan metode yang telah diajarkan oleh Al-Qur`an. Sikap seorang muslim dalam menghadapi permasalahan yang ada dan berkaitan dengan ajaran Islam terkadang membuat buruk akan akhlak dalam Islam itu sendiri. sehingga Islam benar-benar menunjukkan keselamatan oleh umatnya sebagai muslim. Banyak permasalahan yang terjadi di masyarakat di antaranya seperti, wanita membawa anjing masuk ke masjid yang terjadi pada 2 juli 2019, adalah salah satu bentuk atau kewajiban muslim untuk bisa menghadapi dengan cara yang baik dan diajarkan oleh Islam. Karena Islam adalah agama yang penuh dengan keselamatan dan kesejahteraan. Selain permasalahan tersebut tentu saja banyak permasalahan lain yang berkaitan dengan dakwah Islam.

Ada banyak faktor yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap kesuksesan seorang dai dalam berbagai bidang dakwah,

(21)

mewujudkan keberhasilan dan produktifitas, serta memberikan kemampuan untuk mempengaruhi, berinteraksi, dan memasukkan ide-idenya dalam setiap kesempatan dan jenjang. Metodologi yang baik merupakan salah satu faktor konkret dan penting yang mampu membuat waktu dan kesungguhan seorang dai menjadi efektif, dan mengantarkannya ke pantai tujuan yang didambakan dengan pengorbanan yang lebih sedikit dan lebih ringan.7

Metode dakwah yang digunakan oleh para dai dan juga organisasi Islam dalam menyampaikan pesan dakwah berbeda-beda.

Ada yang menyampaikan dakwah dengan lemah lembut, tegas dan juga terkesan memaksa. Perbedaan dalam menyampaikan metode dakwah untuk menegakkan amar makruf nahi munkar tentu saja mempengaruhi bagaimana respon pesan dakwah yang sampai kepada sasaran dakwah.

Dalam pengembangan dakwah Islam, tentu saja Al-Qur`an perlu dijadikan sebagai kitab dakwah, baik sebagai sumber materi dakwah maupun sebagai metodologi atau landasan-landasan teori dalam dakwah, sebagaimana diungkapkan oleh Abu A`lâ al-Maudûdi bahwa Al-Qur`an adalah kitab dakwah dan kitab perjuangan.8

Al-Qur`an juga adalah kitab tentang manusia, hidupnya, makanannya dan fitrahnya.9 Kitab Al-Qur`an berisikan firman-firman Allah Swt., Tuhan Alam semesta. Di dalamnya tidak ada yang perlu diragukan. Dan kitab tersebut tidak dapat memberikan petunjuk

7Fathi Yakan, Problematik Dakwah dan Para Dai, terj. Darsim Ermaya Imam Fajarudin, , (Solo: Era Intermedia, 2004), Cet.ke-I, h. 135

8Abdul Basit, Wacana Dakwah Kontemporer, (Purwokerto: STAIN Purwokerto Press, 2006), Cet.ke-I, h. 19

9Taufik al-Wa`iy, Dakwah ke Jalan Allah, terj. Muhith M.ishaq, , (Jakarta: Robbani Press, 2010) Cet ke-I, h. 109

(22)

apapun, kecuali kepada orang-orang yang bertakwa hanya kepadanya.10

Berdakwah memerlukan strategi dan metode. Sebab, strategi dan metode merupakan hal yang dapat membantu dakwah terlaksana dengan baik, dan sesuai tujuan.11 Oleh karena itu, Dalam hal ini, penulis akan mengkaji salah satu unsur dalam dakwah yaitu metode dakwah. Metode dakwah adalah cara yang digunakan dai untuk menyampaikan materi dakwah. Metode dakwah sangat penting peranannya dalam penyampaian dakwah. Metode yang tidak benar, meskipun isinya baik, maka pesan baik tersebut bisa di tolak.12

Di zaman sekarang, Islam benar-benar membutuhkan para dai yang mumpuni, yang mampu mengomunikasikan pemikiran- pemikiran dan ideologinya dengan metodologi yang indah dan menawan. Mereka mampu mengomunikasikan Islam tanpa membuat orang berlari dan mampu menjelaskan pemikiran-pemikiran tanpa mendatangkan kesulitan,. Betapa banyak dai yang mencemarkan Islam karena keburukan metodologi dakwahnya. Mereka bersikap buruk terhadap Islam, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat kebajikan untuk Islam.13

Dari beberapa pemaparan diatas penulis tertarik untuk mengkaji metode dakwah yang Allah sebutkan dalam Al-Qur`an dengan melakukan menurut pandangan dua tafsir, yaitu tafsir al- Misbah dan tafsir al-Azhar. Penulis mengambil surat Ali-Imran ayat

10Fethullah Gulen, Dakwah Jalan Terbaik Dalam Berpikir Dan Menyikapi Hidup, (Jakarta: PT Gramedia, 2011), cet.ke-I, h. 194

11Khariri Syeikh Maulana Arabi, Dakwah Cerdas, (Yogyakarta: Laksana, 2007), Cet.ke-I, h. 73

12Acep Arippudin, Pengembangan Metode Dakwah, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), Cet.ke-I, h. 8

13Fathi Yakan, Problematik Dakwah dan Para Dai, terj. Darsim Ermaya Imam Fajarudin, , h. 137

(23)

104, An-Nahl ayat 125 dan Thaha ayat 43-44. Adapun alasan penulis mengambil ayat ini, karena penulis ingin mencoba menghubungkan antara kewajiban dakwah amar makruf nahi mungkar, kemudian metode-metode dakwah yang digunakan sekalipun terhadap orang yang sangat kejam. Dalam penelitian ini penulis mengambil sebuah judul yaitu “Metode Dakwah Dalam Surat Ali-Imran ayat 104, An-Nahl ayat 125, Thaha ayat 43-44 menurut pandangan M.Quraish Shihab dan Hamka”.

Penulis ingin meneliti bagaimana implementasi metode dakwah yang ada di dalam Al-Qur`an terhadap kegiatan dakwah saat ini. Karena melihat kegiatan dakwah saat ini sudah sangat banyak dilakukan oleh para dai yang mumpuni maupun oleh mereka yang ingin saling mengingatkan walaupun secara keilmuan masih sangat terbatas.

Untuk memahami lebih jelas dan rinci, kita memerlukan tafsir dari para ulama yang telah mumpuni dalam bidang tafsir. Sehingga sebagai manusia yang terbatas keilmuannya kita bisa memahami makna Al-Qur`an melalui tafsir yang telah ditulis oleh para ulama. Di sini penulis mengambil penafsiran dari dua orang mufasir Indonesia, yaitu tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab (1944) dan tafsir al- Azhar karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka 1908-1981).

Alasan penulis mengambil dua tafsir yang berbeda ini adalah dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan pemikiran mufasir lokal (Indonesia) dalam menafsirkan ayat metode dakwah dalam Al- Qur`an yang berbeda masa dan keadaan. Dalam artian, masa penulisan tafsir dan psikologi penulis pada saat penulisan tafsir.

Selain itu juga, kedua mufasir adalah dua sosok yang hebat apabila diamati secara teliti, beliau berdua telah aktif dalam

(24)

mengembangkan dan mengaplikasikan bidang dakwah baik lisan, tulisan dan hâl dengan metode yang telah beliau gunakan. Buya Hamka adalah salah satu tokoh yang termasuk dalam 50 pendakwah pengubah sejarah dalam buku yang ditulis oleh M. Anwar Djaelani.

Model dakwah hamka termasuk lengkap karena secara lisan dan tulisan sama-sama kuat. Dakwah Buya Hamka secara tulisan tidak hanya diterima di Indonesia, tetapi juga di luar Indonesia. Hampir semua karya Hamka digemari banyak kalangan, dan salah satu karyanya yang paling monumental adalah tafsir Al-Azhar.14

Sedangkan M. Quraish Shihab adalah satu ulama yang masih ada ditengah-tengah masyarakat saat ini, beliau adalah ulama besar yang produktif dalam berkarya, santun, dan mendalam dalam menyampaikan pandangan keagamaanya.15Secara lisan bisa dilihat dengan ceramah atau kajian yang beliau lakukan baik di kampus, masjid atau majelis tertentu. secara tulisan bisa dilihat dengan adanya buku-buku atau karya beliau dan secara hal bisa dilihat dari lembaga atau kegiatan yang beliau bangun untuk kepentingan sosial masyarakat. Dengan demikian, dakwah dan penerapan dakwah telah beliau aplikasikan dalam kehidupannya bisa dijadikan referensi dalam berdakwah.

B. Permasalahan

1. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah yang diidentifikasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Metode dakwah dalam Al-Qur`an

14M. Anwar Dajelani, 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), Cet. Ke-IV, h. 84

15Salah satu ulasan yang ditujukan kepada M. Quraish Shihab dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda M. Quraish Shihab yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dkk.

(25)

b. Macam-macam metode dakwah menurut para ahli dakwah c. Bentuk-bentuk Metode dakwah

d. Metode dakwah menurut pandangan M.Quraish Shihab dan Hamka

e. Perbandingan Metode dakwah menurut M. Quraish Shihab dan Hamka

f. Implementasi metode dakwah saat ini 2. Pembatasan masalah

Al-Qur`an menghimpun ayat-ayat dakwah baik sebagai sumber materi, kewajiban dakwah maupun metode dakwah.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mencoba memberikan batasan masalah agar dalam pembahasan tidak terlalu melebar.

Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi pembahasan metode dakwah dalam Al-Qur`an dalam surat Ali-Imran ayat 104, an-Nahl ayat 125 dan Thâhâ 43-44. Penulis mengambil ayat untuk diteliti tidak berdasarkan kesamaan redaksi atau kata dakwah yang ada di dalam ayat tersebut, akan tetapi penulis mengambil ayat berdasarkan maksud ayat dan penulis mencoba membuat suatu kesimpulan akan kewajiban dakwah sampai ke metode dakwah sesuai dengan ayat yang diambil. Sehingga membentuk hasil penelitian yang saling berhubungan dari segi makna dan tujuan yang ingin dicapai dalam ayat dan juga dalam penerapan dakwah.

3. Perumusan masalah

a. Metode dakwah surat Ali-Imran ayat 104 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

b. Metode dakwah surat An-Nahl ayat 125 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

(26)

c. Metode dakwah surat Thaha ayat 43-44 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

d. Implementasi dalam dakwah saat ini C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berhubungan secara fungsional dengan rumusan masalah penelitian, yang dibuat secara spesifik, terbatas dan dapat diperiksa dengan hasil penelitian.16 Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui Metode dakwah surat Ali-Imran ayat 104 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

2. Untuk mengetahui Metode dakwah surat An-Nahl ayat 125 ayat 104 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

3. Untuk mengetahui Metode dakwah surat Thaha ayat 43-44 menurut M.Quraish Shihab dan Hamka

4. Untuk mengetahui implementasi metode dalam dakwah saat ini D. Manfaat Penelitian

Mengacu pada penjabaran rumusan masalah di atas, maka manfaat penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu-ilmu teoritis yang digunakan serta menambah wawasan khazanah keilmuan terkait tema yang diangkat.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini secara praktis diharapkan bisa bermanfaat bagi para dai untuk bisa menjadi dai yang mumpuni serta memiliki

16Dewi Sadiah, Metode Penelitian Dakwah, (Remaja Rosdakarya: Bandung, 2015), Cet. Ke-I, h. 68

(27)

metode dakwah yang sesuai dengan zamannya dan tetap berpegang teguh pada Al-Qur`an.

E. Tinjauan Pustaka

1. Jurnal “Metode Dakwah Dalam Pengajaran Nabi Perspektif Hadis”, yang selesai pada tanggal 25 Mei 2019. Ditulis oleh Adi Abdullah Muslim, Dosen IAIN Pekalongan Indonesia, dalam jurnal ini menjelaskan bagaimana metode dakwah Nabi dalam mengajarkan kepada sahabat perspektif hadis sehingga terbentuk teori dalam komunikasi dakwah dan pendidikan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi literatur (library research) atau penelitian pustaka. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif-analisis, yakni penelitian yang berusaha menuturkan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan secara objektif. Persamaan dengan penelitian ini adalah pada metode dakwah yang digunakan, sedang perbedaannya adalah pada perspektif penelitian yaitu tafsir Al-Qur`an dan Hadis.17

2. Skripsi “Metode Dakwah Mau`izhah Hasanah dalam Program acara Mufasir di Kompas TV Jawa Tengah”,18 ditulis oleh Rizki Intan Aulia, mahasiswi UIN Walisongo Semarang, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 2018. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode mau`izhah hasanah yang diterapkan dalam acara mufasir di

17Adi Abdullah Muslim, “Metode Dakwah Dalam Pengajaran Nabi Perspektif Hadis” Jurnal Dakwah, Vol. 13 No.1. 25 Mei 2019.

https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Metode+dakwah+dalam+Pen gajaran+Nabi+Perspektif+hadis&btnG= diakses pada 7 Juli 2019

18Rizki Intan Aulia, “Metode Dakwah Mauizhah Hasanah dalam Program acara Mufasir di Kompas TV Jawa Tengah” Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas

Dakwah dan Komunikasi, UIN Walisongo Semarang, 2018.

https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_0%2C5&q=metode+dakwah+mauizhah+hasa nah+dalam+program+acara+&btnG= diakses pada 7 Juli 2019

(28)

Kompas TV Jateng. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa dokumentasi berupa tayangan video program “mufasir”.

Teknik yang digunakan yaitu mmode interaktif Miler dan Huberman. Persamaan dalam penelitian ini yaitu pada metode dakwah yang diteliti, sedangkan perbedaannya yaitu pada objek yang di analisis oleh peneliti. Peneliti terdahulu menganalisa metode dakwah dalam sebuah acara tv, sedangkan peneliti saat ini meneliti metode dakwah dalam Al-Qur`an dengan membandingkan dua tafsir.

3. Skripsi “Metode Dakwah Dengan Pendekatan Kultural Sunan Kalijaga”, ditulis oleh Melinda Novita Sari, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Raden Intan Lampung, 2018. Penelitian ini menggunakan penelitian sejarah yaitu melakukan penyelidikan terhadap keadaan dan pengalaman di masa lampau dengan teknik studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini ialah ditemukannya kegiatan dakwah dengan menggunakan metode dakwah kultural dengn media wayang, tembang, dan dari dakwah kultural ini menghasilkan kebudayaan baru dengan menggunakan pencampuran tradisi lama dan percampuran dengan budaya setempat di mana tidak terlepas dari unsur-unsru Islamnya.

Persamaan dengan penelitian ini ialah pada objek metode dakwah yang dikaji, sedankgkan perbedaannya yaitu pada subjek dari metode yang dikaji yaitu metode dakwah dalam Al-Qur`an dan relevansinya terhadap dakwah saat ini.

4. Skripsi “Metode Dakwah Dalam Tradisi Tahlilan di Kelurahan Plamongansari Kecamatan Padurungan Semarang”, ditulis oleh

(29)

Muhammad Aris Munandar, Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2018. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Dengan teknik pengumpulan data meggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini yaitu bahwasanya tradisi tahlilan merupakan tradisi turun temurun yang diadakan setiap malam Jumat dan dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ajang silaturahmi dan kerukunan umat. Persamaan penelitian yaitu mengkaji metode dakwah, hanya saja memiliki perbadaan pada objek yang diteliti yaitu tradisi tahlilan, di mana peneliti saat ini mengkaji metode dakwah dalam Al-Qur`an dan meneliti relevansinya terhadap dakwah saat ini.

5. Skripsi “Metode Dakwah Para Dai Dalam Menyampaikan Pesan- Pesan Keagamaan Di Kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan”,19 ditulis oleh Lina Karlina, mahasiswi IAIN Antasari, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 2016. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dakwah dan faktor pendukung apa saja yang menjadi kesuksesan seorang dai dalam menyampaikan pesan- pesan keagamaan. Jenis penelitian yaitu penelitian lapangan dengan teknik yang digunakan yaitu mengumpulkan data observasi, wawancara dan dokumenter. Persamaan penelitian

19Lina Karlina, “Metode Dakwah Para Dai Dalam Menyampaikan Pesan-Pesan Keagamaan Di Kecamayan Lampihong Kabupaten Balangan, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam fakultas dakwah dan komunikasi, IAIN Antasari,” 2016.

https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=skripsi+metode

+dakwah+dalam+menyampaikan+pesan+keagamaan+di+kecamatan+lampihong+kabupaten +balangan&btnG=#d=gs_qabs&u =%23p%3D3X3kmQdtSWIJ diakses pada 7 Juli 2019

(30)

yaitu pada pembahasan metode dakwah, sedangkan perbedaannya pada subjek penelitiannnya yaitu para dai dan mufasir.

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Metode penelitian merupakan strategi yang digunakan dalam sebuah penelitian dan menganalisis data yang diperlukan guna menjawab permasalahan yang diteliti. Adapaun yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik studi kepustakaan (library research). Penelitian kualitatif mengandung pengertian adanya upaya penggalian dan pemahaman pemaknaan terhadap apa yang terjadi pada berbagai individu atau kelompok, yang berasal dari persoalan sosial atau kemanusiaan.20 Kirk dan Miller mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dan kawasannya sendiri dan berhubungan langsung dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.21 Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang semua datanya berasal dari bahan-bahan tertulis berupa buku, naskah, dokumen, foto, dan lain-lain.22

2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan metode deskriptif dengan teknik pengamatan kejadian

20Septiawan Santana.K, Menulis Ilmiah Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2007), Cet. Ke-II, h. 1

21Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian, Kuantitatif, Kualitatif dan Tindakan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2014), Cet. Ke-II, h. 181

22Nashruddin Baidan, Erwati Aziz, Metodolgi Khusus Penelitian Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2016), Cet.ke-I, h.28

(31)

saat ini oleh penulis. Deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Metode ini bertujuan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat.23 Selain mendeskripsikan, peneliti juga melakukan analisis terhadap surat Ali Imran ayat 104, an-Nahl ayat 125 dan Thâhâ ayat 43-44. Setelah menganalisi penulis akan merelevansikan dengan kegiatan dakwah oleh lembaga organisasi dakwah.

3. Subjek dan objek penelitian

Subjek penelitian adalah orang/sesuatu yang terlibat dalam penelitian sebagai sumber data.24 Selain itu juga, subjek penelitian adalah keseluruhan atau totalitas dari suatu penelitian yang menjadi substansinya yang akan diteliti atau ingin dicarikan jawabannya dalam sebuah penelitian.25 Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah penafsiran metode dakwah dalam tafsir al-Misbah dan tafsir Al-Azhar. sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah surat Ali-Imran ayat 104, an- Nahl ayat 125 dan Thâhâ 43-44.

4. Sumber data penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data:

Pertama, sumber data primer ialah dua tafsir yang akan dikomparasikan yaitu tafsir al-Misbah dan tafsir al-Azhar.

23Dewi Sadiah, Metode Penelitian Dakwah, h. 19

24 Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan Jenis, Metode dan Prosedur, (Jakarta:

Prenadamedia Group, 2014), Cet.ke-II, h. 17

25Nashruddin Baidan, Erwati Aziz, Metodolgi Khusus Penelitian Tafsir, h. 24

(32)

Kedua, sumber data sekunder yang berasal, dari buku-buku, jurnal, atau internet serta data lain yang berkaitan dengan pembahasan.

5. Teknik Pengumpulan data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara studi pustaka. Yaitu, teknik yang dipusatkan pada penelitian kitab-kitab tafsir dan buku kepustakaan yang berkaitan dengan pembahasan. Setelah itu penulis menganalisa data yang sudah terkumpul dan membuat kesimpulan dari data yang sudah dianalisis.

6. Teknik Analisis data

Dalam penelitian ini, ada beberapa langkah yang bisa digunakan peneliti untuk menganalisis data dalam melakukan riset komparatif, yaitu:26

a. Menentukan tema yang diangkat

b. Mengidentifikasi aspek-aspek yang hendak diperbandingkan c. Mencari keterkaitan dan faktor-faktor yang mempengaruhi

antar konsep

d. Menunjukkan kekhasan dari masing-masing pemikiran tokoh.

Melakukan analisis secara mendalam dan kritis dengan argumentasi data

e. Membuat kesimpulan untuk menjawab problem riset.

7. Instrumen dan alat bantu penelitian

Instrumen penelitian adalah alat pengumpul data. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi alat penelitian adalah peneliti sendiri sehingga peneliti harus mengerti bagaimana penelitian

26 Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur`an dan Tafsir, h. 137

(33)

kualitatif, metode yang digunakan serta kesiapan untuk meneliti objek penelitian.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penyususnan skripsi, penulis akan membagi menjadi 5 bab yang terkait satu dengan yang lainnya. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan

Dalam bab ini terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, sistematika penulisan.

BAB II: Landasan Teori

Dalam bab ini membahasa tentang teori atau pemahaman tentang dakwah meliputi metode dakwah. Di mana komponen ini menjadi pokok penting dalam penulisan skripsi ini.

BAB III: Biografi M. Quraish Shihab Dan Haji Abdul Malik Kari Amrullah (HAMKA)

Dalam bab ini akan membahas profil M. Quraish Shihab dan Hamka BAB IV: Analisis Metode Dakwah Surat Ali Imran Ayat 104, An- Nahl Ayat 125 Dan Thâhâ 43-44

Dalam bab ini membahas tentang surat Ali Imran ayat 104, an-Nahl ayat 125 dan Thâhâ 43-44 menurtu M. Quraish Shihab dan Hamka serta relevansinya terhadap dakwah saat ini.

BAB V: PENUTUP

Dalam bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran.

(34)

19 BAB II

LANDASAN TEORI A. Pengertian Dakwah

Secara etimologi dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu dâ`a, yad`û, da`wan, du`â, yang diartikan dengan mengajak, menyeru, memanggil, seruan, permohonan, dan permintaan.1 Dakwah memiliki tiga huruf asal yaitu dal, `ain, dan wawu. Dari ketiga huruf asal ini, terbentuk beberapa kata dan ragam makna. Makna tersebut diantaranya ialah memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi.

Dalam Al-Qur`an kata dakwah dan berbagai bentuk katanya ditemukan sebanyak 198 kali menurut hitungan Muhammad Sulthon (2003: 4), 299 kali menurut hitungan Muhammad Fuad Abd al-Baqi (2006) atau 212 kali menurut Asep Muhiddin (2002: 40).2

Dakwah Islam adalah tugas suci yang dibebankan kepada setiap muslim di mana saja berada, sebagaimana termaktub dalam Al- Qur`an dan sunah Rasulullah Saw., kewajiban dakwah menyerukan dan menyampaikan agama Islam kepada masyarakat.3 Firman Allah dalam surah al-Imran ayat 104:4































1M. Munir, Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: PRenadamedia Group, 2015), Cet.ke-IV, h. 17

2Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta:Kencana, 2017), Cet. Ke- VI, h. 5

3M. Munir, Metode Dakwah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), Cet.ke-IV, h. 5

4Kata amar makruf nahi munkar di dalam Al-Qur`an disebut sebanyak 8 kali dalam 5 surat, dua kali pada surat makkiyah dan tiga kali pada surat madaniyah. Surat Ali Imran ayat 104, 110 dan 114. Surat Al-A`raf pada ayat 157, suart at-Taubah pada ayat 71 dan 112, surat Al-Hajj pada ayat 41 dan surat lukman pada ayat 17.

(35)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Al- Imran [3]:104)

Secara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan dan mendefinisikan dakwah, hal ini disebabkan oleh perbedaan para ulama dalam memaknai dan memandang kalimat dakwah itu sendiri.5 Pengertian dakwah secara terminologi menurut beberapa para ahli diantaranya, yaitu:

1. Syekh Muhammad al-Khadir Husain (t.t.:14) dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni (1933:17), dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkan dalam kehidupan nyata.6

3. Prof. Toha Yahya Omar (1922:1), dakwah Mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.7

4. Menurut Muhammad Natsir dakwah mengandung arti kewajiban yang menjadi tanggung jawab seorang muslim dalam amar ma`ruf nahi mungkar.8

5Faizah, Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Cet. Ke-IV, h. 5

6Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 10

7Toha Yahya Omar, Ilmu Da`wah, (Jakarta: Widya Karsa Pratama, 1992), Cet. Ke- V, h. 1

8Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Rajwawali Press, 2012), Cet.ke- II, h. 2

(36)

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat di simpulkan bahwa dakwah adalah salah satu bentuk kegiatan untuk menyeru atau mengajak orang lain baik individu atau kelompok untuk menjalankan syariat Islam berdasarkan Al-Qur`an dan hadis sehingga tercapainya tujuan dari kegiatan dakwah.

Dalam ilmu komunikasi, kegiatan ini disebut juga dengan proses komunikasi. Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai saat menciptakan informasi sampai dipahami oleh komunikasi.

Komunikasi merupakan proses sebuah kegiatan yang berlangsung kontinu.9

Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa dakwah adalah proses dari komunikasi hanya saja dengan tujuan yang berbeda.

Karena, dalam komunikasi kita tidak fokus pada apa yang harus disampaikan seperti yang harus disampaikan dalam dakwah. Dan untuk tercapainya komunikasi dan dakwah yang baik, kita harus memiliki sikap sesuai dengan budaya dan tuntunan agama yang berlaku sehingga dakwah dan komunikasi bisa berjalan dengan lancar.

B. Hukum Berdakwah

Setiap umat yang diambang kehancuran dan roboh pilar- pilarnya, kehilangan pengaruhnya, kehilangan eksistensinya, pasti diawali oleh diamnya para dai, lirih suaranya, rancu risalahnya, kehilangan tujuan utamanya, hancur peninggalanya. Umat mana pun yang ingin naik dan tinggi, harus memahami kebenaran dakwahnya, kesucian tujuan utamanya, keagungan risalahnya, para dainya

9Redi Panuju, Pengantar Studi (Ilmu ) Komunikasi, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Cet.ke-I, h. 39

(37)

memiliki titik tolak di muka bumi untuk membangun pilar dan dakwahnya.10

Umat Islam adalah umat risalah, ada karena ada sasaran dalam hidup ini, Allah menyebut mereka dengan:

















































Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S Ali-Imran [3]:110)

Jika tidak karena dakwah, hilanglah tujuan risalah dan lenyaplah tujuan pengangkatannya, kehancuran menyebar luas, kesesatan merata di mana-mana, kebaikan dan kebenaran telah hilang. Karena itulah kewajiban dakwah, amar makruf nahi mungkar ditegaskan dalam Al-Qur`an dan as-Sunah, serta ijmak ulama.11

Para pakar berselisih paham dalam menanggapi soal ini.

Sejauh pemikiran yang berkembnag, perselisihan dalam masalah ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga pendapat sebagai dijelaskan berikut ini:12

10Taufik al-Wa`iy, Dakwah ke Jalan Allah, terj. Muhith M.ishaq, (Jakarta: Robbani Press, 2010) Cet ke-I, h. 53

11Taufik al-Wa`iy, Dakwah ke Jalan Allah, terj. Muhith M.ishaq, h. 53

12A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), Cet. Ke-II, h. 63

(38)

Pertama, Dakwah dihukumi sebagai kewajiban personal (fard

`ain). Maksudnya dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim.

Ia akan diganjar jika melaksanakannya sebagaimana akan berdosa jika meninggalkannya. Dakwah menjadi kewajiban personal, karena ia merupakan tuntutan (implikasi) iman. Setiap orang mengaku beriman harus mempersaksikan imannya kepada publik. Selain melalui amal saleh, persaksian iman juga diwujudkan dalam bentuk dakwah, saling berpesan dengan kebajikan dan ketakwaan atau dengan menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar.13

Kedua, dakwah dihukumi sebagai kewajiban kolektif (fardu kifayah). Hal ini berarti dakwah merupakan kewajiban yang dibebankan kepada komunitas tertentu yang berkompeten dalam suatu masyarakat. Bila di dalamnya telah ditemukan sekelompok orang yang mewakili tugas itu, maka gugurlah kewajiban untuk yang lain. Sebaliknya, jika tidak ada, maka anggota masyarakat itu mendapat dosa seluruhnya. Tugas berdakwah itu tidaklah mudah, karena ia memerlukan keahlian dan keterampilan tersendiri, baik dari segi intelektual, emosiaonal maupun spiritual. Kalau demikian permasalahannya, berarti tidak semua orang dari umat Islam memiliki kompetensi tersebut.14

Ketiga, dakwah dihukumi wajib individual (fard `ain) sekaligus wajib kolektif (fardhu kifayah). Maksudnya, hukum asal dakwah itu adalah wajib `ain, sehingga setiap mukmin memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan agamanya sesuai dengan taraf kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Namun

13A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, h. 63-64

14A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, h. 65

(39)

demikian, pada aspek-aspek tertentu, dakwah tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang. Dakwah dalam posisi ini menjadi tugas berat dan menuntut profesionalisme. Dakwah memerlukan kompetensi dan itu hanya mungkin dilakukan oleh yang memiliki keahlian dalam bidang ini (kelompok profesional). Pendapat ketiga ini merupakan jalan tengah dari dua pendapat sebelumnya yang saling bertolak belakang. Pendapat ini menjadi jalan tengah, lantaran tidak memandang dakwah hanya sebagai kewajiban ulama semata (elitis), tetapi juga tidak membenarkan menyerahkan masalah dan tugas dakwah hanya kepada masing-masing orang (tugas individual) semata-mata.15

C. Fungsi Dakwah

Dakwah berfungsi menjaga orisinalitas pesan dakwah dari Nabi Saw., dan menyebarkannya kepada lintas generasi. Dengan dakwah pula, kebenaran Islam tidak akan berhenti dalam satu generasi. Dakwah berfungsi sebagai estafet bagi peradaban manusia.

Nabi Saw., tidak ingin dinamika dakwah terhenti karena kewafatannya. Sebagaimana yang beliau sampaikan pada saat haji wada (haji perpisahan).16 Selain itu juga, fungsi dakwah yaitu sebagai pembina, sebagai pengarah dan pembentuk manusia seutuhnya.17

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dakwah adalah salah satu proses komunikasi. Menurut Deddy Mulyana, komunikasi memiliki beberapa fungsi yaitu:18

15A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, 68-69

16Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 101

17Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah Perspektif Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. Ke-I, h. 193

18Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), Cet. Ke-XV, h. 5

(40)

a. Komunikasi Sosial

Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain.

b. Komunikasi Ekspresif

Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun tidak dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan emosi kita.

Perasaan-perasaan tersebut dikomunikasikan terutama melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun terutama lewat perilaku nonverbal.

c. Komunikasi Ritual

Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebagai rites of passage, mulai upacara kelahiran, sunatan, pernikahan, sungkeman dan sebagainya. Dalam acara tersebut orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku simbolik. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, komunitas, suku, bangsa, negara, ideologi, atau agama mereka.

(41)

d. Komunikasi Instrumental

Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum:

menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Bila diringkas, maka ke semua tujuan tersebut adalah membujuk (bersifat persuasif).

Dari fungsi dakwah dan fungsi komunikasi, bisa kita hubungkan bahwa komunikasi instrumental lebih cocok kepada fungsi dakwah, karena tujuannya selain menginformasikan yaitu mengajar dan mendorong manusia untuk mengubah sikap dan keyakinan sebagaimana dalam fungsi dakwah itu sendiri.

D. Tujuan Dakwah

Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia memiliki tujuan, baik untuk tujuan positif maupun negatif. Dalam hal ini tujuan yang ingin di capai dalam dakwah menurut beberapa ahli ada beberapa tujuan. Diantaranya yaitu tujuan dakwah adalah dunia dan akhirat.19 Realitanya, tujuan dakwah tiada lain mengajak manusia berjalan di atas jalan Allah dalam meniti jalan hidupnya. Secara filosofis, bisa dikatakan bahwa tujuan dakwah Islamiah adalah membentangkan jalan Allah di atas bumi agar dilalui umat manusia. Dari penjelasan tersebut, kiranya dipahami bahwa makna dari semuanya itu mengandung pengertian upaya mengubah sikap, sifat, pendapat, dan perilaku umat, ke arah yang Islami.20

Jika berbagai pendapat diakomodir, maka tujuan dakwah dapat dbedakan kepada tujuan umum, khusus, tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu terdapat tujuan dari sisi isi pesan dan

19Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 15

20Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah Perspektif Komunikasi, h. 23

(42)

mad`u serta tujuan insidentil. Adapun tujuan dakwah adalah sebagai berikut:21

1. Tujuan umum

Tujuan umum dari kegiatan dakwah sama dengan tujuan diturunkannya agama Islam. Kata Islam dari segi kebahasaan berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Bertitik tolak dari pemahaman kata Islam di atas, maka kegiatan dakwah harus mampu mewujudkan manusia atau masyarakat yang menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat kepada Allah Swt.

2. Tujuan khusus

Adapun tujuan dakwah secara lebih rinci atau tujuan khusus dapat dirumuskan berdasarkan tinjauan tertentu. Sekurang- kurangnya tujuan ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi mad`u dan dari segi materi yang disajikan. Tujuan dakwah kepada setiap pribadi dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu terbinanya pribadi muslim yang sejati, yakni figur insan kamil yang dapat menerjemahlan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupannya.

Tujuan dakwah untuk setiap keluarga Muslim adalah dapat terbinanya kehidupan yang Islami dalam rumah tangga, yaitu keluarga yang senantias mencerminkan nilai-nilai islam baik sesame anggota keluarga dan dengan tetangga. Sedangkan tujuan yang diharapkan terhadap masyarakat adalah terbinanya kehidupan yang rukun dan damai, taat dalam melaksanakan ajaran agama dan memiliki kepedulian sosial yang tinngi.

21Abdullah, Ilmu Dakwah Kajian Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Aplikasi Dakwah, h. 164

(43)

Selanjutnya tujuan dakwah adalah terwujudnya umat terbaik yang basisnya didukung oleh muslim yang berkualitas individu yang baik yang oleh Allah dijanjikan akan memperoleh ridha dan surga.

3. Tujuan dari segi materi dakwah

Tujuan dakwah jika berorientasi kepada pesan dakwah yang disampaikan, menurut Syekh Ali mahfudh meliputi enam hal, yaitu:

a. Untuk meluruskan akidah b. Untuk membetulkan amal c. Untuk membina akhlak

d. Mengokohkan persatuan dan persaudaraan muslim e. Menolak atau melawan ateis

f. Memberantas syubhat dalam agama.

E. Metode Dakwah

Metode secara bahasa berasal dari dua kata yaitu “meta

(melalui) dan “hodos” (jalan, cara). Metode berarti cara yang telah di atur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.22 Istilah metode berasal dari bahasa Inggris method yang berarti systematic arrangement (penataan yang sistematis), orddy procedure (prosedur yang rapih), mode of handling intellectual (cara penanganan masalah secara cerdik).23 Sumber yang lainnya menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Yunani yang berarti jalan yang dalam bahasa Arab disebut thâriq.24

22M. Munir, Metode Dakwah, h. 6

23Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah Perspektif Komunikasi, h. 166

24Moh. Ardani, Memahami Permasalahan Fikih Dakwah, (Jakarta: Mitra Cahaya Utama, 2006), Cet. Ke-I, h. 23

Referensi

Dokumen terkait