BAB II LANDASAN TEORI
C. Fungsi Dakwah
demikian, pada aspek-aspek tertentu, dakwah tidak dapat diserahkan kepada sembarang orang. Dakwah dalam posisi ini menjadi tugas berat dan menuntut profesionalisme. Dakwah memerlukan kompetensi dan itu hanya mungkin dilakukan oleh yang memiliki keahlian dalam bidang ini (kelompok profesional). Pendapat ketiga ini merupakan jalan tengah dari dua pendapat sebelumnya yang saling bertolak belakang. Pendapat ini menjadi jalan tengah, lantaran tidak memandang dakwah hanya sebagai kewajiban ulama semata (elitis), tetapi juga tidak membenarkan menyerahkan masalah dan tugas dakwah hanya kepada masing-masing orang (tugas individual) semata-mata.15
a. Komunikasi Sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain.
b. Komunikasi Ekspresif
Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun tidak dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan emosi kita.
Perasaan-perasaan tersebut dikomunikasikan terutama melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, peduli, rindu, simpati, gembira, sedih, takut, prihatin, marah dan benci dapat disampaikan lewat kata-kata, namun terutama lewat perilaku nonverbal.
c. Komunikasi Ritual
Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dan sepanjang hidup, yang disebut para antropolog sebagai rites of passage, mulai upacara kelahiran, sunatan, pernikahan, sungkeman dan sebagainya. Dalam acara tersebut orang mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku simbolik. Mereka yang berpartisipasi dalam bentuk komunikasi ritual tersebut menegaskan kembali komitmen mereka kepada tradisi keluarga, komunitas, suku, bangsa, negara, ideologi, atau agama mereka.
d. Komunikasi Instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum:
menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga menghibur. Bila diringkas, maka ke semua tujuan tersebut adalah membujuk (bersifat persuasif).
Dari fungsi dakwah dan fungsi komunikasi, bisa kita hubungkan bahwa komunikasi instrumental lebih cocok kepada fungsi dakwah, karena tujuannya selain menginformasikan yaitu mengajar dan mendorong manusia untuk mengubah sikap dan keyakinan sebagaimana dalam fungsi dakwah itu sendiri.
D. Tujuan Dakwah
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia memiliki tujuan, baik untuk tujuan positif maupun negatif. Dalam hal ini tujuan yang ingin di capai dalam dakwah menurut beberapa ahli ada beberapa tujuan. Diantaranya yaitu tujuan dakwah adalah dunia dan akhirat.19 Realitanya, tujuan dakwah tiada lain mengajak manusia berjalan di atas jalan Allah dalam meniti jalan hidupnya. Secara filosofis, bisa dikatakan bahwa tujuan dakwah Islamiah adalah membentangkan jalan Allah di atas bumi agar dilalui umat manusia. Dari penjelasan tersebut, kiranya dipahami bahwa makna dari semuanya itu mengandung pengertian upaya mengubah sikap, sifat, pendapat, dan perilaku umat, ke arah yang Islami.20
Jika berbagai pendapat diakomodir, maka tujuan dakwah dapat dbedakan kepada tujuan umum, khusus, tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu terdapat tujuan dari sisi isi pesan dan
19Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 15
20Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah Perspektif Komunikasi, h. 23
mad`u serta tujuan insidentil. Adapun tujuan dakwah adalah sebagai berikut:21
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari kegiatan dakwah sama dengan tujuan diturunkannya agama Islam. Kata Islam dari segi kebahasaan berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Bertitik tolak dari pemahaman kata Islam di atas, maka kegiatan dakwah harus mampu mewujudkan manusia atau masyarakat yang menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat kepada Allah Swt.
2. Tujuan khusus
Adapun tujuan dakwah secara lebih rinci atau tujuan khusus dapat dirumuskan berdasarkan tinjauan tertentu. Sekurang- kurangnya tujuan ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi mad`u dan dari segi materi yang disajikan. Tujuan dakwah kepada setiap pribadi dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu terbinanya pribadi muslim yang sejati, yakni figur insan kamil yang dapat menerjemahlan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupannya.
Tujuan dakwah untuk setiap keluarga Muslim adalah dapat terbinanya kehidupan yang Islami dalam rumah tangga, yaitu keluarga yang senantias mencerminkan nilai-nilai islam baik sesame anggota keluarga dan dengan tetangga. Sedangkan tujuan yang diharapkan terhadap masyarakat adalah terbinanya kehidupan yang rukun dan damai, taat dalam melaksanakan ajaran agama dan memiliki kepedulian sosial yang tinngi.
21Abdullah, Ilmu Dakwah Kajian Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Aplikasi Dakwah, h. 164
Selanjutnya tujuan dakwah adalah terwujudnya umat terbaik yang basisnya didukung oleh muslim yang berkualitas individu yang baik yang oleh Allah dijanjikan akan memperoleh ridha dan surga.
3. Tujuan dari segi materi dakwah
Tujuan dakwah jika berorientasi kepada pesan dakwah yang disampaikan, menurut Syekh Ali mahfudh meliputi enam hal, yaitu:
a. Untuk meluruskan akidah b. Untuk membetulkan amal c. Untuk membina akhlak
d. Mengokohkan persatuan dan persaudaraan muslim e. Menolak atau melawan ateis
f. Memberantas syubhat dalam agama.
E. Metode Dakwah
Metode secara bahasa berasal dari dua kata yaitu “meta”
(melalui) dan “hodos” (jalan, cara). Metode berarti cara yang telah di atur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.22 Istilah metode berasal dari bahasa Inggris method yang berarti systematic arrangement (penataan yang sistematis), orddy procedure (prosedur yang rapih), mode of handling intellectual (cara penanganan masalah secara cerdik).23 Sumber yang lainnya menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Yunani yang berarti jalan yang dalam bahasa Arab disebut thâriq.24
22M. Munir, Metode Dakwah, h. 6
23Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah Perspektif Komunikasi, h. 166
24Moh. Ardani, Memahami Permasalahan Fikih Dakwah, (Jakarta: Mitra Cahaya Utama, 2006), Cet. Ke-I, h. 23
Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang dai (komunikator) kepada mad`u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.25
Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 125 menyebut tiga metode dakwah yang intinya adalah menyesuaikan materi dan cara berdakwah dengan sasaran dakwah, terhadap cendekiawan dengan hikmah, orang awam dengan mau`izhah hasanah yakni memberi nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Ahl al-kitab dan penganut agama lain yang diperintahkan adalah jidal/diskusi dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan, dan umpatan.26
Menurut Moh. Ali Aziz dalam bukunya Ilmu Dakwah menjelaskan tentang perbedaan metode dakwah dalam surat An-Nahl ayat 125. Dalam ayat tersebut Nabi diperintahkan dua hal yaitu berdakwah dan berdebat. Merujuk pada fungsi wawu sebagai huruf
`athaf, penghubung dua kalimat yaitu berdakwah dan berdebat.
Pertama, menunjukkan kebersamaan dua hal. Dalam hal ini berdakwah dan berdebat. Kedua, menunjukkan sesuatu yang lebih dulu dari yang lain (lahiq). Dakwah dilaksankan terlebih dahulu, kemudian disusul berdebat. Ketiga, menunjukkan sesuatu yang diakhirkan dari yang lain (sabiq). Dengan demikian berdakwah dan berdebat adalah ssesuatu yang terpisah, tetapi pelaksanannya harus keduanya baik secara bersama sekaligus atau beriringan. Karena adanya perbedaan antara dakwah dan perdebatan walaupun memiliki tujuan yang sama yaitu memengaruhi orang lain untuk mengikuti
25M. Munir, Metode Dakwah, h. 7
26M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur`an jilid 2, (Ciputat: Lentera Hati, 2010), Cet.ke-I, 2011, h. 193
pendapatnya. Tidak ada pemaksaan dalam dakwah, sehingga targetnya hanya memberikan pemahaman secara benar. Berbeda dengan dakwah, perdebatan selalu menggunakan cara yang lebih tegas, karena targetnya adalah memperoleh kemenangan.27
Dengan adanya perbedaan antara dakwah dan perdebatan, berarti cara berdakwah menurut surah An-Nahl ayat 125 ada dua macam yaitu al-hikmah dan al-mau`izhah al-Hasanah.28
Menurut ulama dalam tafsir kontemporer saat ini metode dakwah dalam Al-Qur`an surah An-Nahl ayat 125 itu meliputi tiga cakupan, yaitu:
1. Bi al-hikmah
Hikmah secara mutlak bisa bermakna ilmu dan pemahaman.
Bisa juga bermakna keadilan, diungkapkan dalam bahasa Arab Huwa Ahkam al-Amrâ yang artinya dia melakukan sesuatu dengan baik dan al-hâkim adalah orang yang melakukan sesuatu secara profesional.29 Secara etimologi, hikmah digunakan untuk menunjuk kepada arti-arti seperti keadilan, ilmu, kearifan, kenabian, dan juga Al-Qur`an.
Dari kata hikmah juga dapat derivasinya “hakim”, yang berarti seorang yang berprofesi memutuskan perkara-perkara hukum.30 Kata hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih
27Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 333
28Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, h. 335
29Fawwaz bin Hulayyil bi Rabah as-Suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, terj.
Beni Sarbeni, (Jakarta: Darul Gaq, 2008), cet.ke- I, h. 142
30A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Islam, h. 201
besar serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar.31
Sedangkan ditinjau dari segi terminologi, hikmah merujuk kepada pengertian ketepatan berkata dan bertindak dan memperlakukan sesuatu secara bijaksana (al-ishâbat fî al-aqwâl wa al-af’âl wa wadla’â kulla syay’ fî maudlû’ihi).32 Hikmah juga bisa diartikan sebagai upaya mengajak bicara kepada akal manusia dengan dalil-dalil ilmiah yang memuaskan dan dengan bukti-bukti logika yang cemerlang dengan maksud mengikis keragu-raguan dengan argumentasi dan penjelasan.33
Hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi yang dilaksanakan atas dasar persuasif. Karena dakwah bertumpu pada human oriented maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan dan penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis agar fungsi dakwah yang utama bersifat informatif, sebagaimana ketentuan Al- Qur`an:
“Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”(Q.S. Al-Ghasyiyah [88]:
21-22)
Menurut al-Qahtany, hikmah dalam konteks metode dakwah tidak dibatasi hanya dalam bentuk dakwah dengan ucapan yang lembut, targhîb (nasihat motivasi), kelembutan dan amnesti, seperti
31M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an, (Ciputat: Lentera Hati, 2009), Cet.ke-I, h. 775
32A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Islam, h. 202
33Yusuf Al-Qaradhawi, Retorika Islam Bagaimana Seharusnya Menampilkan Wajah Islam, terj. Abdillah Noor Ridlo, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004), cet.ke-I, h. 19
selama ini dipahami banyak orang. Lebih dari itu, hikmah sebagai metode dakwah dengan kedalaman rasio , pendidikan, nasihat yang baik, dialog yang baik pada tempatnya, juga dialog dengan para penentang zalim pada tempatnya, hingga meliputi kecaman, ancaman, dan kekuatan senjata pada tempatnya.
Dari sinilah diperoleh pemahaman bahwa pendekatan hikmah adalah induk dari semua metode dakwah yang intinya menekankan atas ketetapan pendekatan terkait dengan kelompok mad`u yang dihadapi. Dalam pada itu, ketepatan pilihan metode sesuai dengan klasifikasi mad`u yang dihadapi tidak diragukan lagi sebagai kunci kesuksesan dakwah.34
Adapun cara dalam melakukan pendekatan dengan metode hikmah yaitu:35
a. Berbicara kepada seseorang dengan bahasanya
Termasuk hikmah adalah berbicara dan berdialog dengan orang lain menggunakan bahasanya, sehingga isi pembicaraan dan berkomunikasi timbal-balik dengan lancar. Artinya, bukan sekedar orang Cina dengan bahasa Cina, Rusia dengan bahasa Rusia, tetapi lebih dari itu, bahwasanya orang-orang berilmu diajak dengan bahasa mereka dan orang awam diajak bicara dengan bahasa mereka.
b. Bersikap ramah
Termasuk hikmah pula untuk bersikap ramah dan lemah lembut dalam menyampaikan perintah dan larangan. Kita tidak membebani seseorang dengan suatu yang tidak kuat
34A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Islam, h. 202
35Yusuf Al-Qaradhawi, Retorika Islam Bagaimana Seharusnya Menampilkan wajah Islam, terj. Abdillah Noor Ridlo, h. 20
dipikulnya. Dengan begitu dia tidak akan menolak seruan kita.
c. Memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan syariatnya
Termasuk kategori hikmah yang harus diperhatikan dengan baik dalam retorika dakwah Islam era kini, yaitu memperhatikan dan menjaga tingkatan jenis pekerjaan, nilainya dan legalitas syar’i-nya. Dengan cara menyusun pesan-pesan Islam dengan baik, sesuai dengan tempat dan waktu, dan tingkatan masing-masing. Kemudian kita sampaikan perintah dan larangan sesuai dengan prioritasnya.
d. Gerakan bertahap
Cara hikmah lainnya yang harus diperhatikan adalah mengajak manusia secara tadarruj (bertahap). Karena tadarruj itu sendiri merupakan hukum alam sebagaimana ia merupakan hukum syariat. Seperti penciptaan manusia yang melalui proses tahap demi tahapan.
Dengan demikian, hikmah itu mengandung arti menjaga kondisi dan keadaan manusia (sehingga seorang dai menggunakan cara yang sesuai dengan kondisi dan keadaan yang didakwahinya, karena manusia memiliki ragam pemahaman dan keilmuan, beragam dari sisi emosional, juga beragam dari sisi menyikapi kebenaran.
Dengan kata lain, seorang dai mesti menggunakan cara yang pantas dan lebih cepat diterima bagi orang yang didakwahinya, maka semua cara ini termasuk dakwah kepada Allah dengan hikmah).36
36Fawwaz bin Hulayyil bi Rabah as-Suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, terj.
Beni Sarbeni, h. 146
2. Al-maui`dzah Al-hasanah
Kata mau`izhah terambil dari kata wa`azha yang berarti nasihat. Mau`izhah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan.37 Dari makna bahasa, kita bisa memahami bahwa mau`izhah secara istilah adalah arahan, bimbingan dan nasihat dengan sesuatu yang meluluhkan hati, tepatnya dengan menyebutkan pahala atau siksa.38 Mau`izhah al-hasanah atau nasihat yang baik adalah memberikan nasihat kepada orang lain dengan cara yang baik yaitu petunjuk-petunjuk ke arah kebaikan dengan bahasa yang baik, dapat diterima, berkenan di hati, menyentuh perasaan, lurus di pikiran, menghindari sikap kasar, dan tidak mencari atau menyebut kesalahan audiens sehingga pihak objek dakwah dengan rela hati atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh pihak subjek dakwah.39 Jika cara hikmah mengajak berbicara kepada akal agar memaklumi pesan-pesan, maka dakwah dengan mau`izhah adalah hasanah adalah mengajak berbicara kepada hati dan perasaan agar menyadari dan tergerak untuk bertindak.40
Menurut Ibnu al-Atsir, nasihat merupakan untaian kata yang diungkapkan buat orang yang diberi nasihat dengan harapan orang yang diberi nasihat bertambah baik.41 Nasihat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi motivasi dan ancaman, juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara
37M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an, h.
775
38Fawwaz bin Hulayyil bi Rabah as-Suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, terj.
Beni Sarbeni, h. 150
39Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2009), cet. Ke- I, h. 99-100
40Yusuf Al-Qaradhawi, Retorika Islam Bagaimana Seharusnya Menampilkan wajah Islam, terj. Abdillah Noor Ridlo, h. 29
41Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2017), cet. Ke- II, h.148
melunakkan hati. Nasihat harus berkesan dalam jiwa atau mengikat jiwa dengan keimanan dan petunjuk.42
Al-Mau`izha Hasanah merupakan cara berdakwah atau bertablig yang disenangi, mendekatakan manusia padanya dan tidak menjerakan mereka, memudahkan dan tidak menyulitkan.
Singkatnya, ia adalah suatu metode yang mengesankan sasaran dakwah bahwa juru dakwah adalah sebagai teman dekat yang menyayanginya, dan sebagai yang mencari segala hal yang bermanfaat baginya dan membahagiakannya.43
Bentuk-bentuk dakwah mau`izhah hasanah diantaranya yaitu:
a. Nasihat
Nasihat berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja Nashaha yang berarti Khalasha yaitu murni dan bersih dari segala kotoran, juga berarti Khata yaitu menjahit.44 Sebagian ahli ilmu berkata nasihat adalah perhatian hati terhadap yang dinasihati siapa pun dia. Nasihat adalah salah satu cara dari al-mau`izhah al-hasanah yang bertujuan mengingatkan bahwa segala perbuatan pasti ada sangsi dan akibat. Secara terminologi nasihat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman.45
1) Kriteria seorang penasehat
Ibnu Taymiyah menyebutkan beberapa sifat yang harus dimiliki seorang penasihat yang mengajak kepada perbuatan makruf dan melarang orang lain berbuat mungkar haruslah memiliki ilmu tentang hal yang makruf dan yang mungkar
42M. Munir, Metode Dakwah, h. 243
43Muhammad Husain Fadhlullah, Metodologi dakwah dalam Al-Quran, terj.
Tarmana Ahmad Qosim, , (Jakarta: Lentera, 1997), Cet. Ke-I, h. 48
44M.Munir, Metode dakwah, h. 242
45M.Munir, Metode dakwah, h. 242
dan dapat membedakan antara keduanya dan harus memiliki ilmu tentang keadaan orang yang diperintah dan yang dilarang. Dan yang dimaksud dengan ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa Rasulullah dari apa-apa yang Allah utuskan kepadanya.46
b. Tabsyir wa Tanzir
Tabsyir secara bahasa berasal dari kata basyara yang mempunyai arti memperhatikan, merasa senang. Tabsyir dalam istilah dakwah adalah penyampaian dakwah yang berisi kabar-kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang mengikuti dakwah.47
Adapun tujuan tabsyir yaitu:48
1) Memperkuat atau memperkokoh iman 2) Memberikan harapan
3) Menumbuhkan semangat beramal 4) Menghilangkan sifat keragu-raguan
Sedangkan tanzir adalah penyampaian dakwah yang di mana isinya berupa peringatan terhadap manusia tentang adanya kehidupan akhirat dengan segala konsekuensinya.49 Adapun bentuk-bentuk tanzir diantaranya yaitu:50
1) Penyebutan nama Allah 2) Menunjukkan keburukan 3) Pengungkapan bahayanya
4) Penegasan adanya bencana segera 5) Penyebutan peristiwa akhirat
46M.Munir, Metode dakwah, h. 242
47M.Munir, Metode dakwah, h. 257
48M.Munir, Metode dakwah, h. 259
49M.Munir, Metode dakwah, h. 263
50M.Munir, Metode dakwah, h. 265
c. Kisah
Kisah atau qashash diklasifikasikan ke dalam dua makna yaitu yang berarti menceritakan dan mengandung arti menelusuri atau mengikuti jejak.51 Makna Qashash dalam sebagian besar ayat-ayat berartikan kisah atau cerita, sedangkan ayat-ayat yang berbicara menggunakan lafazh qashash ternyata juga muncul dalam konteks cerita atau kisah tentang Nabi Musa as.52 Macam-macam kisah dalam Al-Qur`an menurut Manna` Khalil al-Qatthan:53
1) Kisah para Nabi menyangkut dakwah mereka dan tahapan serta perkembangannya
2) Kisah peristiwa-peristiwa masa lalu dan pribadi-pribadi yang tidak diketahui secara pasti apakah mereka Nabi atau bukan.
3) Kisah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah seperti perang Badar, Uhud, Khandak, dan lain-lain.
3. Al-mujadalah
Dalam bahasa dikatakan jadalahu artinya mendebat dan melawannya. Jadal adalah sangat dalam perlawanan dan kemampuannya yaitu sangat melawan. Jadala adalah menghadapi argumentasi dengan argumentasi, sedang mujadalah artinya berdebat dan berbantah-bantahan.54
Mujadalah adalah berdiskusi dengan cara yang baik dari cara berdiskusi yang ada. Mujadalah merupakan cara terakhir yang digunakan untuk berdakwah manakala dua cara terakhir digunakan untuk orang-orang yang taraf berpikirannya maju, dan kritis seperti
51M.Munir, Metode dakwah, h. 292
52M.Munir, Metode dakwah, h. 292
53M.Munir, Metode dakwah, h. 293
54Syekh M. abu al-Fatah Al-bayanuiy, Ilmu Dakwah Prinsip Kode etik dalam berdakwah menurut Al-Quran dan As-Sunnah, terj. h Dedi Junaedi, , (Jakarta: Pressindo, 2010), Cet. Ke-I, h. 334
ahli kitab yang memang telah memiliki bekal ilmu agama dari para utusan sebelumnya.55 Pendekatan dalam dakwah ini dilakukan dengan dialog yang berbasis budi pekerti luhur, tutur kalam yang lembut, serta mengarah pada kebenaran dengan disertai argumentasi demonstratif rasional dan tekstual sekaligus dengan maksud menolak argumen bathil yang dipakai lawan dialog.56
Mengutip perkataan Imam Ibnu Baththah berkata tentang masalah ini, “yang mesti dimiliki oleh setiap muslim dalam pengajaran dan perdebatan mereka tentang masalah fikih dan hukum, adalah membenarkan niat, dengan maksud memberikan nasihat, bersikap adil, dan mencari kebenaran dengannya langit dan bumi bisa tegak”.57
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan apabila metode ini hendak dipakai, yakni:58
Pertama: tidak merendahkan pihak lawan.
Kedua, tujuan diskusi hanyalah semata-mata menunjukkan kebenaran sesuai nilai dan ajaran Islam.
Ketiga, tetap menghormati pihak lawan, sebab jiwa manusia tetap memiliki harga diri. Ia tidak boleh merasa kalah dalam diskusi sehingga harus diupayakan agar ia tetap merasa dihargai dan dihormati.
Adapun jidal yang diperintahkan oleh Allah adalah jidal yang bertujuan untuk mengalahkan lawan bukan karena hawa nafsu, tetapi untuk memenangkan pandangan yang benar. Meskipun pandangan yang akan dipaparkan adalah benar, Allah hanya membolehkan jidal
55Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, h. 100
56A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Islam, h. 206
57Fawwaz bin Hulayyil bi Rabah as-Suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, terj.
Beni Sarbeni, h. 155
58Moh. Ardani, Fikih Dakwah, h. 33
dengan cara yang baik.59 Terkadang mujadalah dilakukan dengan suatu tujuan yang baik dan terkadang dengan kebatilan. Allah berfirman:
……
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. An- Nahl [16]: 125)
…..
……
“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu” (Q.S. Al- Mukmin [40] : 5)
Atas dasar inilah para ulama membagi jadal kepada dua macam yaitu yang terpuji dan tercela, sesuai dengan tujuan, cara dan hal-hal yang menyebabkan terjadinya. 60 Debat yang terpuji dalam dakwah tidak memiliki tujuan pada dirinya sendiri. Ia lebih ditujukan sebagai wahana (wasilah) untuk mencapai kebenaran dan petunjuk Allah Swt. dakwah melalui pendekatan ini sangat tepat diterapkan kepada kelompok mad`u yang masih dalam pencarian kebenaran tetapi bukan termasuk kelompok awam (al-mutawasitun).61
Bentuk-bentuk dakwah bi al-mujadalah diantaranya yaitu:
a. Al-hiwar
Al-Hiwar dapat diartikan dengan dialog antara dua orang yang setara dari segi kecerdasan dan juga tidak ada dominasi antara
59Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2017), cet. Ke- II, h.128
60Syekh M. abu al-Fatah Al-bayanuiy, Ilmu Dakwah Prinsip Kode etik dalam berdakwah menurut Al-Quran dan As-Sunnah, terj. Dedi Junaedi, h. 335
61A. Ilyas Ismail, Prio Hotman, Filsafat Dakwah Islam, h. 206