KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI FAKULTAS SYARIAH
Jalan Sunan Ampel No. 7 Ngronggo Kota Kediri Jawa Timur Kode Pos 64127 Telepon.(0354) 689282, Faximile. (0354) 686564
Email: [email protected], Website: www.syariah.iainkediri.ac.id
FORMAT PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI
Nama :
NIM :
Jurusan : Hukum Keluarga Islam
A. Judul
Analisis Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Konsep Sibhul Iddah bagi Laki-Laki ( Studi Kasus Pernikahan dengan Saudara Istri)
B. LatarBelakang
Perkawinan merupakan salah satu institusi sosial yang memiliki kedudukan penting dalam berbagai sistem hukum dan agama. Dalam hukum Islam, perkawinan tidak hanya dimaknai sebagai ikatan sakral antara seorang laki-laki dan perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang bertujuan untuk menciptakan ketenangan, kasih sayang, dan keturunan yang sah. Di sisi lain, hukum positif di Indonesia mengatur perkawinan dalam kerangka peraturan yang bertujuan untuk menjamin hak dan kewajiban kedua belah pihak, serta melindungi nilai-nilai keluarga yang diakui oleh masyarakat. Perpaduan antara hukum Islam dan hukum positif sering kali menimbulkan diskusi, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan isu-isu unik seperti sibhul iddah bagi laki-laki.
Konsep sibhul iddah biasanya dikenal dalam konteks perempuan yang menjalani masa iddah setelah perceraian atau kematian suami. Masa iddah ini ditujukan untuk memastikan kebersihan rahim serta menghormati ikatan pernikahan sebelumnya. Namun, dalam hukum Islam, terdapat juga pembahasan mengenai larangan bagi seorang laki-laki untuk menikahi perempuan yang merupakan saudara istrinya, baik karena perceraian maupun kematian istri. Hal ini berkaitan dengan konsep yang lebih luas tentang hubungan mahram dan etika dalam menjaga harmoni keluarga. Meski jarang dibahas, konsep ini memiliki landasan kuat dalam fikih Islam dan sering kali memunculkan pertanyaan tentang bagaimana implementasinya dalam konteks hukum positif di Indonesia.
Dalam hukum positif Indonesia, larangan menikahi saudara istri diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang kemudian diperkuat oleh Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai pedoman hukum bagi umat Islam. Pasal 39 KHI menegaskan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menikahi dua perempuan yang memiliki hubungan mahram atau saudara kandung secara bersamaan. Namun, bagaimana ketentuan ini berlaku setelah perceraian atau kematian istri, serta bagaimana kaitannya dengan sibhul iddah bagi laki-laki, masih menjadi area abu-abu yang membutuhkan kajian lebih mendalam.
Kasus pernikahan dengan saudara istri tidak hanya menyangkut aspek legalitas, tetapi juga menyentuh nilai-nilai etika, moral, dan sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk,
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI FAKULTAS SYARIAH
Jalan Sunan Ampel No. 7 Ngronggo Kota Kediri Jawa Timur Kode Pos 64127 Telepon.(0354) 689282, Faximile. (0354) 686564
Email: [email protected], Website: www.syariah.iainkediri.ac.id
pandangan terhadap isu ini bisa sangat beragam, tergantung pada pemahaman agama, adat istiadat, dan interpretasi hukum. Dalam beberapa kasus, pernikahan semacam ini dapat memicu konflik internal keluarga atau bahkan stigma sosial yang mendalam. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis bagaimana hukum Islam dan hukum positif mengatur serta memberikan solusi terhadap masalah ini, dengan tetap mempertimbangkan aspek keadilan dan kemaslahatan.
Secara teoretis, hukum Islam memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis mengenai larangan menikahi dua saudara perempuan secara bersamaan. Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai penerapan larangan tersebut setelah salah satu saudara meninggal atau bercerai. Sebagian ulama berpendapat bahwa masa iddah bagi laki-laki harus dihormati sebagai bentuk penghargaan terhadap hubungan pernikahan sebelumnya, meskipun konsep iddah secara spesifik tidak disebutkan untuk laki-laki. Sebaliknya, sebagian lainnya berargumen bahwa tidak ada kewajiban seperti itu bagi laki-laki, sehingga pernikahan dengan saudara istri dapat dilakukan segera setelah masa iddah istri selesai.
Dalam konteks hukum positif, prinsip-prinsip yang diadopsi lebih cenderung berorientasi pada perlindungan hak dan kepentingan perempuan, anak, dan keluarga secara keseluruhan. Undang- Undang Perkawinan dan KHI memberikan kerangka hukum yang jelas tentang batasan dan persyaratan pernikahan, tetapi tidak secara eksplisit membahas isu sibhul iddah bagi laki-laki. Hal ini menimbulkan kesenjangan dalam aplikasi hukum, terutama ketika terjadi perselisihan antara pihak- pihak yang terlibat.
Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif bagaimana hukum Islam dan hukum positif di Indonesia mengatur konsep sibhul iddah bagi laki-laki dalam konteks pernikahan dengan saudara istri. Selain itu, penelitian ini juga akan mengeksplorasi implikasi hukum, sosial, dan moral dari pernikahan semacam ini, serta memberikan rekomendasi untuk mengatasi potensi konflik yang muncul. Dengan demikian, diharapkan kajian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih baik tentang sinergi antara hukum Islam dan hukum positif dalam mengatur isu-isu yang kompleks dan sensitif dalam kehidupan bermasyarakat.
Isu sibhul iddah bagi laki-laki menjadi relevan untuk dikaji karena menyangkut prinsip keadilan dan keseimbangan dalam hubungan pernikahan. Dalam perspektif hukum Islam, keadilan merupakan salah satu tujuan utama syariat yang harus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pernikahan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang konsep ini tidak hanya penting bagi kalangan akademisi dan praktisi hukum, tetapi juga bagi masyarakat umum yang sering kali menghadapi situasi serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, kajian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan hukum positif di Indonesia, khususnya dalam penyempurnaan regulasi yang berkaitan dengan perkawinan dan hubungan keluarga. Dalam menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang, hukum harus mampu merespons kebutuhan masyarakat dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI FAKULTAS SYARIAH
Jalan Sunan Ampel No. 7 Ngronggo Kota Kediri Jawa Timur Kode Pos 64127 Telepon.(0354) 689282, Faximile. (0354) 686564
Email: [email protected], Website: www.syariah.iainkediri.ac.id
keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan terhadap nilai-nilai moral dan agama. Dengan demikian, kajian ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang signifikan dalam mendukung harmonisasi antara hukum Islam dan hukum positif di Indonesia.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep sibhul iddah bagi laki-laki dalam hukum Islam diimplementasikan dalam kasus pernikahan dengan saudara istri, baik setelah perceraian maupun kematian istri, dan bagaimana pandangan ulama terkait hal ini?
2. Bagaimana hukum positif di Indonesia, khususnya dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), mengatur pernikahan dengan saudara istri, serta apa implikasinya terhadap keadilan dan kemaslahatan masyarakat?
D. Telaah Pustaka/ Penelitian terdahulu
1. Penelitisn dilakukan oleh Akhmad Miftakhurrozaq pada tahuan 2022 dari universitas islam negri wali songo semarang dengan judul (Sybhul ‘Iddah bagi Laki-Laki dalam Pembaharuan Hukum Keluarga Islam di Indonesia Perspektif Maqosid Syariah). Konsep syibhul 'iddah dalam pembaharuan hukum keluarga Islam di Indonesia. Dengan mengkombinasikan sejumlah pendapat mengenai konsep syibhul 'iddah, maka laki-laki mempunyai masa tunggu setelah putusnya perkawinan, di mana masa tunggu laki-laki sama dengan masa 'iddah-nya perempuan.Syibhul 'iddah bagi laki-laki dalam pembaharuan hukum keluarga Islam di Indonesia perspektif maqashid syariah. Syibhul 'iddah bagi laki-laki dalam pembaharuan hukum keluarga Islam di Indonesia perspektif maqashid syariah, berdasarkan lima unsur pokok maqashid syariah yang harus dipelihara dan diwujudkan, yaitu agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan harta (hifz al-mal), syibhul 'iddah bagi laki-laki tersebut bisa digunakan untuk laki-laki berpikir ulang ketika ingin menikah lagi. Maka dari itu ketentuan 'iddah bukan hanya berlaku untuk perempuan saja, melainkan laki-laki harus menjalankan syibhul 'iddah (Akhmad Miftakhurrozaq, 2022).
E. Landasan Teori
1. Pernikahan dalam Hukum Islam dan Hukum Positif a. Pengertian Pernikahan
b. Rukun dan Syarat Pernikahan
c. Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 2. Wali Hakim dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif
a. Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 23 tentang Wali Hakim b. Peran KUA dalam Menentukan Penggunaan Wali Hakim 3. Harmonisasi Hukum Islam dan Hukum Positif
a. Dampak Administratif Akibat Ketiadaan Pencatatan Pernikahan
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI FAKULTAS SYARIAH
Jalan Sunan Ampel No. 7 Ngronggo Kota Kediri Jawa Timur Kode Pos 64127 Telepon.(0354) 689282, Faximile. (0354) 686564
Email: [email protected], Website: www.syariah.iainkediri.ac.id
b. Dampak Sosial dan Stigma terhadap Perempuan
c. Upaya Penyelarasan antara Syariat Islam dan Hukum Negara F. Daftar Pustaka
Alamsyah, B. (2022). Kriminalisasi Nikah Siri Dalam Perspektif Hukum Pidana. Legalitas: Jurnal Hukum, 14(1). https://doi.org/10.33087/legalitas.v14i1.320
ATHA’ILLAH, M. (2023). ANALISA HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP
KETIDAKHADIRAN WALI NIKAH DALAM PELAKSANAAN RAPAK NIKAH (Studi Kasus pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri).
https://etheses.iainkediri.ac.id/11768/%0Ahttps://etheses.iainkediri.ac.id/
11768/2/931113719_bab2.pdf
Ginsu, D. (2022). Status Anak Luar Nikah Perspektif Hukum Islam Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010. SPECTRUM: Journal of Gender and Children Studies, 2(1). https://doi.org/10.30984/spectrum.v2i1.396
Hasbi, M. F. (2022). PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN. Hikami : Jurnal Ilmu Alquran Dan Tafsir, 3(1). https://doi.org/10.59622/jiat.v3i1.53
Sobari, A. (2018). Nikah Siri Dalam Perspektif Islam. Mizan: Journal of Islamic Law, 1(1).
https://doi.org/10.32507/mizan.v1i1.117
Solahudin. (2023). Analisis Hukum Pernikahan Menggunakan Wali Hakim Persfektif Hukum Islam Dan Kompilasi Hukum Islam. As-Sakinah : Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1(1), 79–88.
https://doi.org/10.51729/sakinah11133
Zimamul Wafi, M. (2022). Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Peralihan Wali Nasab Kepada Wali Hakim (Studi Kasus Di Kantor Urusan Agama (KUA) Pakualam Kota Yogyakarta Tahun 2016-2019) [Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga].
https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/52197/1/17103050092_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR- PUSTAKA.pdf
Kediri, 14 Januari 2025 Mengetahui,
Dosen Wali, Yang Bersangkutan,
H. Andi Ardiyan Mustakim, Lc.,M.H Rahma Fitria Fatma Sari NIP. 198606232019031005 21301003