• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitos kala dalam masyarakat hindu bali

N/A
N/A
Abi Achmad

Academic year: 2023

Membagikan "Mitos kala dalam masyarakat hindu bali"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

FILSAFAT ARSITEKTUR

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Arsitektur

Abi Achmad Fiqri 20321003

FILSAFAT ARSITEKTUR

Dosen pengampu : SUMAIYAH FITRIAN DINI

Tugas Sintesis Artikel Ilmiah

TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS GUNADARMA 2023

(2)

Mitos Kala dalam Arsitektur Wolff Schoemaker pada Gedung Landmark Bandung

a). Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji makna dan pengaruh kepala Kala dalam arsitektur Schoemaker pada Gedung Landmark Bandung.

Jika kita amati, terlihat pada Gedung Landmark karya arsitektur Schoemaker ini mencakup penyelesaian masalah- masalah yang berhubungan dengan perbedaan iklim, ketersediaan material, cara membangun, dan seni budaya yang terkait dengan estetika. Gedung Landmark yang di fungsikan sebagai toko buku mengalami penyatuan kebudayaan, contohnya terdapat campuran unsur tradisi hindu pada bentuk bangunan yang dikombinasikan dengan kepala Kala sebagai penerapan ragam hiasnya.

Dengan adanya proses akulturasi arsitektur Indo-Eropa maka terdapat banyak kesempatan yang menarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan ornamen candi yang mempengaruhi bangunan yang ada, seperti kombinasi kepala Kala sebagai penerapan ragam hias.

b). Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang secara umum dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu sebuah metode pengumpulan data dan metode analisis data:

(a). Metode pengumpulan data sendiri dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu, (1). Metode observasi yang dimana langsung terjun ke lapangan untuk

mengamati objek objek ornament kala yang berada di Gedung Landmark, (2).

metode studi kepustakaan yaitu tentang konsep yang melatarbelakangi keberadaaan ornament kala dalam candi serta penerapan dalam bangunan Gedung Landmark, (3). Wawancara terhadap narasumber yang dianggap kompeten dalam pengetahuan tentang candi dan ornamen.

(3)

(b). Metode analisis data yang digunakan untuk mengeksplorasi hubungan bentuk-bentuk dekoratif formal baik fungsi maupun kedudukannya

performativitasnya untuk bangunan, yaitu dipertajam oleh pemikiran semiologis Roland Barthes pada sistem tanda. Bagaimana pemahaman tentang Kala bisa muncul dan hiasi aplikasinya aspek termasuk bangunan kolonial karakteristik visual, referensi bentuk dan simbolisasi. teori semiotika terapan dalam penelitian terdistribusi menjadi dua level karakter yaitu

signifikasi dan makna. Denotasi adalah sebuah sistem arti utama

menciptakan makna sebenarnya di antara artinya adalah makna di dalamnya konstruktif mitos sebagai sistem tingkatan makna Kedua,

Bentuk dan proporsinya salah salah satu bagian dari arsitektur yang bisa menyebabkan interpretasi tertentu karena objek arsitektur adalah kendaraan tanda untuk menyampaikan maksud dan fungsi, mengandung arti ledakan sebagai ruang untuk orang juga dapat memiliki makna yang berbeda (konotatif) sebagai sistem komunikasi untuk menyampaikan pesan. Hal ini Menurut teori Roland Barthes perkembangan semiotika menjadi dua tingkat tanda, yaitu tingkat denotasi dan makna tambahan Signifikasi dalam

semiologi Barthes adalah sistem makna tingkat pertama, jika maknanya adalah tingkat lain, dalam hal ini denotasi ini lebih berkaitan dengan penutupan pentingnya Sebagai reaksi atas perkelahian ekspresi literal menyedihkan Barthes mencoba melepaskan diri dan menolak apa yang hanya dipikirkannya makna tambahan Dikatakan lebih arti literal adalah sesuatu dikenal sebagai alami teori makna. Teorinya adalah perkembangan teori tanda disajikan oleh Ferdinand de Saussure yang mengalami perluasan makna dan terjadi dalam dua tahap.

Sistem semiologi Roland Barthes berkata: Sistem semiologi Roland Barthes, pengertian dibagi dua tahap. Karakter (karakter dan tanda) pada langkah pertama dan terhubung bersama sehingga merek terbentuk di panggung lain, lalu di atas panggung tanda dan yang berikutnya meleleh, itu bisa terjadi penanda baru yang merupakan ekstensi pentingnya Fase denotasi memeriksa tanda menurut kosa kata, yang kemudian mendapatkan

maknanya jelaskan pada langkah kedua interaksi yang terjadi ketika seorang tokoh menghadapi perasaan atau emosi pengguna dan nilai-nilai budaya

(4)

mereka tingkat subyektif, oleh karena itu keberadaannya tidak sadar, yang kemudian terbentuk mitos sebagai sistem makna tanda di tahap kedua.

c). Pembahasan a. Wujud Kala

Proses akulturasi atau culture contact dapat terjadi jika suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan asing yang berbeda perlahan diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri (Nadyadilaga, dalam Roesli, 2009).

Dalam karyanya, Schoemaker menjadikan tradisi arsitektur masyarakat adat sebagai dasar pengembangan gaya bangunan kolonial. Dengan

menempatkan ornamen-ornamen fungsional pada bangunan Landmark sebagai sarana untuk menghadirkan estetika yang dibentuk oleh pemahaman budaya, dapat dikatakan bahwa perancang harus mengetahui latar belakang dan makna dari ragam ornamen tersebut.

Ornamen Kala pada arsitektur candi menjadi bagian dari “pembacaan”

terhadap lingkup sosial budaya untuk memunculkan ide dan pembaruan dalam penciptaan karya seni arsitektur di bandung.

Arsitektur merupakan suatu wujud yang terbentuk dari pandangan hidup, begitupun candi-candi di Jawa yang mempengaruhi proses Schoemaker dalam menemukan gaya arsitekturnya. Candi bukan hanya sebatas

bangunan melainkan wujud representasi kehidupan melalui berbagai simbol.

Simbol di dalam agama Hindu, berkaitan dengan berbagai bentuk, wujud, nama, dan mengandung arti untuk mendekatkan umat kepada yang dipuja, manifestasinya, para dewata, roh-roh suci para leluhur yang telah disucikan sesuai ajarannya (Titib, 2001: 67).

Candi Hindu adalah arsitetur hibrida yang ada karena pengaruh India Selatan yang masuk ke Indonesia melalui ornamen-ornamen yang sekarang mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Candi India dan Indonesia pun memiliki perbedaan, yaitu pada relief, ornamen, serta gaya pada bangunan. Mahakala biasanya berwarna hitam, semua warna diserap dan larut dalam hitam yang mewakili total ketiadaan warna. Karakter

(5)

tersebut menandakan sifat Mahakala sebagai realitas hakiki atau absolut, prinsip ini dikenal dalam bahasa Sanskerta sebagai Nirguna (Sumadi, 2011).

Kebudayaan India yang sudah ada di tanah jawa telah sukses dilebur dan diasimilasikan hingga akhirnya timbul kebudayaan yang baru yaitu Hindu- Jawa. Di jawa terdapat tiga kelompok penyebaran bangunan candi, di bagian barat lebih sedikit mendominasi dan terbatas karena daerahnya relatif kecil, pada bagian tengah terdapat banyak candi Siwa dan Budha, sedangkan pada bagian timur lebih banyak candi yang bercorak Budha, termasuk madura dan Bali. Dari ketiga kelompok penyebaran bangunan candi setiap daerah

memiliki perbedaan yang dapat di lihat dari ornamen Kala yang setiap daerah miliki.

b. Bentuk dan Citra

Berdasarkan semiotika, arsitektur dibaca sebagai “teks” yang tersusun seperti tata bahasa, dilihat sebagai tanda kolaborasi ruang dan tanda-tandanya melalui hubungan tanda dan detodatenya, yang menyangkut pemaknaan bentuk-bentuk arsitektural. Selain itu, dari sudut pandang pragmatis, pengaruh arsitektur terhadap pengguna bangunan dapat dilihat. Dalam desain Schoemaker, dekorasi di kedua sisi pintu masuk menyatu ke dalam tubuh bangunan melalui sambungan vertikal dan horizontal sebagai seperangkat makna. Jika dilihat dari massa bangunan secara keseluruhan, dekorasi berfungsi sebagai "lidah" dekoratif yang menopang proporsi bangunan dan menciptakan dinamika yang kontras dengan bentukan simetris. Ornamen bangunan dihadirkan berupa wajah tersenyum dengan mata melotot, letak ornamen yang terlihat saat ornamen ikan muncul di depan bangunan merupakan tanda yang memerlukan pemahaman

masyarakat sekitar. bangunan melihat bentuk ini “menjadi” sosok yang utuh dalam kesatuan bangunan.

Bentuk ragam hias yang berbeda sebenarnya memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi estetika murni dan fungsi simbolik. Ada juga ornamen fungsional struktural, yang secara struktural berarti ornamen dapat digunakan untuk menopang, menghubungkan atau memperkuat suatu struktur. Namun dalam hal ini, Ornamen Kala erat kaitannya dengan fungsi estetika.

Hubungan antara fungsi dan bentuk mempunyai keterkaitan yang sangat kuat yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya dengan ragam hias sebagai

(6)

bentuk estetika dan bangunan sebagai bentuk fungsional yang merupakan wadah bagi bentuk ragam hias tersebut.

Terkait fungsi dan bentuk terdapat guna dan citra di dalamnya, fungsi yang berkaitan dengan guna, dan citra yang berkaitan dengan bentuk. Guna lebih menuding pada segi kemampuan, sedangkan citra menunjuk pada tingkat kebudayaan (Mangunwijaya, 2013: 31). Dalam arsitektur terdapat bentuk komunikasi yang terjadi akibat peleburan satu kesatuan bangunan, yaitu hubungan antara guna dengan citra. Berdasarkan Mangunwijaya tahun 2013 Berarsitektur bagi manusia adalah berbahasa manusiawi dengan citra unsur- unsurnya, baik dengan bahan material maupun dengan bentuk serta

komposisinya. Bahasa dapat tersampaikan dengan baik maknanya melalui bangunan, maka dari itu bangunan harus memiliki fungsi yang baik dan benar. Dengan bangunan memiliki fungsi yang baik dan benar nilai estetik dari bangunan tersebut akan muncul dengan sendirinya. Dari situ lah setiap elemen yang ada pada bangunan memiliki arti tersendiri yang berkaitan dengan fungsi utama dari elemen arsitektur tersebut.

c. Citra ornamen dalam konstruksi mitos

Dalam kehidupan sosiokultural, pandangan masyarakat sebagai pengguna tanda cenderung mengubah tanda menjadi mitos. Roland Barthes

menyatakan bahwa mitos adalah sistem komunikasi atau gaya bicara untuk menyampaikan pesan daripada ucapan informal, mitos juga dapat terjadi dalam bentuk tertulis atau deskriptif. Mitos sebagai sebuah kebudayaan yang dibangun dan memiliki nilai kontekstualnya, dianggap sebagai hal yang

“wajar” dalam komunitas atau komunal tertentu (Benny H. Hoed, 2014 : 79).

Namun sampai saat ini pemahaman tentang mitos masyarakat Indonesia modern selalu dikaitkan dengan suatu asal usul yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, sehingga mitos hanya dipandang sebagai mistis dan bukan sebagai pertanda. Ketika mitos berfungsi sebagai cara membaca tanda pada masyarakat primitif, mereka belajar dari alam yang selalu memberi tanda dalam kehidupan. Hal ini karena masyarakat primitif Indonesia adalah masyarakat fonetis, bersifat religius, yang melahirkan kepercayaan tentang keberadaan manusia dan alam semesta. Ini adalah prinsip spiritual yang membutuhkan bentuk mitos untuk menjadi dasar dan pedoman hidup.

Dalam fonetik manusia Indonesia, ada prinsip yang mengubah tingkah laku

(7)

menjadi ilmu, atau sebaliknya, ilmu diambil dari praktek kehidupan.

Perilaku dalam kehidupan dilemparkan sebagai simbol yang merupakan bagian dari transendensi terhadap kekuatan lain.

Simbol budaya Indonesia modern tidak hanya merujuk pada konsep, tetapi juga pada sesuatu yang absolut dan transenden. Referensi simbolik bukan hanya makna ide (hubungan) dan pengalaman manusia (perasaan), tetapi juga kehadiran kekuatan atau energi supranatural. Simbol adalah tanda kehadiran Yang Maha Mutlak Transenden (Sumardjo, 2014: 43-45). Hal yang sama juga terjadi pada zaman Hindu, banyak dijumpai simbol-simbol yang ditempatkan pada bagian-bagian kehidupan dan kebudayaan, juga dari segi arsitektural. Selain sebagai ruang fisik yang mewadahi aktivitas yang

memungkinkan manusia berpindah dari satu ruang ke ruang lain, arsitektur dapat dilihat sebagai filosofi yang diwujudkan dalam bentuk artefak yang mengandung pertimbangan sejarah, konteks budaya, dan aspirasi masa depan (Zainuddin, 2004: 3).

Penciptaan mitos tidak berasal dari budaya manusia yang berdiri sendiri sebagai tanda, tetapi terbentuk dari rantai semiologis yang telah ada sebelumnya, yang bergerak menuju tanda baru menjadi sistem sekunder, atau yang disebut dengan makna konotatif. Karya-karya Roland Barthes.

semiologi Terdiri dari tanda yang sudah ada (significantly) dan signifikasi (to signify), tanda tersebut kemudian bergerak menjadi tanda baru dengan menjelajahi tanda-tanda dari sistem lain (Roland Barthes, 2006: 303). Ikan sebagai pencegah penguatan bangunan merupakan bentuk ideologi Hindu yang tertanam dalam arsitektur Schoemaker. Bentuk ikan merupakan gambaran umum yang dikenal masyarakat Jawa, yaitu sebagai penolak hal negatif di angkasa.

Dalam kepercayaan masyarakat jawa, bentuk kala dikenal sebagai bentuk penolak kenegatifan. Pada candi candi terdapat sosok kala, sosok kala itu berfungsi sebagai penjaga tempat ibadahnya DewaSiwa yang akan melewati BataraKala di atas pintu. Jadi siapapun yang lewat harus nunduk dan

menyembah untuk mendapatkan semacam rahmat dari Dewa Siwa. Ranah mitologis yang digambarkan dalam kepercayaan Hindu menjadi sarana penyampaian pesan berupa cerita fiksi yang membentuk tokoh sebagai metafora kebesaran atau sesuatu yang “besar” yang dijadikan pedoman hidup. Penghormatan dan kepasrahan adalah mitos yang lahir, tuturan yang mengandung esensi tujuan hidup dengan berserah diri hanya kepada “Dia”,

(8)

kemudian kenegatifan hidup sirna, rangkaian pesan bermakna akhirnya diwujudkan melalui bentuk materi. simbol menghindari perusakan dan membuat hiasan ikan adalah sakral. Hal tersebut karena pada dasarnya objek simbolis yang direpresentasikan pada tampilan objek fisik dalam kehidupan ini bersifat biasa-biasa saja (Profan), kemudian dalam konteks tertentu objek simbolis ini ditrasformasikan menjadi yang sakral oleh manusia (Daniesl L.

Pals, 2012: 242).

Mitologi karya arsitektur menghadirkan pembentukan makna-makna yang terkandung dalam ideologi, yang dapat diceritakan sehingga sebuah cerita dapat disebut sebagai mitos. Penempatan ikan pada bangunan penting yang dibangun oleh masyarakat Hindu memunculkan mitos bahwa penggunaan hiasan pulau pada bangunan tersebut merupakan ideologi Schoemaker untuk menciptakan identitas arsitektur Hindia Belanda Baru. Penataan ragam hias tersebut merupakan bagian dari konsep desain, dimana unsur- unsur pulau diaplikasikan dalam karya arsitektur sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dalam penciptaan identitas tersebut. Bangunan merupakan hasil pemikiran arsitektur lokal yang diterjemahkan ke dalam bentuk eksplisit, di mana ia juga memiliki makna implisit. Dengan demikian, penandaan

dekorasi terlihat dan dapat diakses di dalam gedung.

d). Kesimpulan

Latar belakang perkembangan arsitektur Indo-Eropa tidak lepas dari perubahan budaya yang terjadi di Hindia Belanda saat itu. Wolff

Schoemaker dari Eropa menginginkan arsitektur berdasarkan gaya Eropa modern, sangat cocok untuk lingkungan tropis dan tempat budaya yang diekspresikan sepenuhnya. Pengintegrasian unsur tradisional diwujudkan oleh Schoemaker untuk menemukan ide-ide baru dalam pengembangan ilmu arsitektur dengan mempelajari perkembangan arsitektur nusantara. Ketika menafsirkan sesuatu, seseorang tidak hanya mencapai tingkat makna pada tahap denotasi, tetapi menggunakan pengetahuannya melalui berbagai makna dan interpretasi, dari mana makna konotatif muncul.

Schoemaker menempatkan ornamen sebagai fungsi simbolik yang diambil dari konsep arsitektur tertinggi masyarakat Hindu Jawa. Arsitektur adalah cerminan pemikiran manusia tentang alam semesta, manusia dapat belajar

(9)

dari alam, yang selalu memberi tanda-tanda yang memandu interpretasi kehidupan, itu adalah ciri mitos yang mencoba membentuk makna.

Dalam perkembangan arsitektur Hindia Belanda, nilai-nilai, makna dan simbol ornamen yang digunakan dalam karya-karya yang lahir dari budaya budaya membuat pembaca berpikir bahwa hal-hal kecil pun memiliki sifat yang dapat diterapkan untuk kemajuan peradaban.

e). Refrensi

Dullemen, Van C.J. 2018. Arsitektur tropis Modern: Karya dan Biografi C.P Wolff Schoemaker. Jakarta: Komunitas Bambu

Hermianto. 2018. Sejarah dan Arsitektur candi di Indonesia. Sukoharjo:

Diomedia

Scheltema, J.F. 2018. Monumental Java. Yogyakarta: Alexander Books Barthes, Roland. 2006. Membedah mitos-mitos budaya massa: Semiotika atau sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. Yogyakarta: Jalasutra Hoed, Benny H. 2011. Semiotik dan Dimanika Sosial Budaya. Jakarta:

Komunitas Bambu

Mangunwijaya. 2013. Wastu Citra, Pengantar ke ilmu Budaya Bentuk Arsitektur, Sendi-sendi Filsafatnya, Beserta Contoh- contoh praktis.

Jakarta: Gramedia

Sumardjo, Jakob. 2014. Estetika Paradoks. Bandung: Kelir

Kunto, Haryoto. 1985. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granecia Kusuma, Laksmi. 2010. Fungsi Makna dan Simbol (sebuah kajian teoritik).

Surabaya: Seminar jelajah arsitektur nusantara ITS

Sachari, agus. 2000. Desain Dan Dunia Kesenirupaan Indonesia Dalam Wacana Tranformasi Budaya. Bandung: ITB

Sumadi, 2015. Various Decorative Of Kala as an Ornamental Art Works Dharma, Agus. “Semiotika Dalam Arsitektur”. Universitas Gunadharma.

Jakarta.

(10)

Wibisana, G. (2020) 'Mitos Kala dalam Arsitektur Wolff Schoemaker pada Gedung Landmark Bandung,' PANTUN Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 5 (1), pp. 12-24.

https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/pantun/article/view/1332

f). Lampiran

https://drive.google.com/file/d/1SZErlfqprRU4zlhzjPTFsiGP7pPs0Eu4/view?

usp=share_link

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya, penulis bisa menyelesaikan skripsi dengan judul “ MITOS DAN KOMUNIKASI (Studi Tentang Mitos Pernikahan dan

Karena, kontribusi Barthes atas studinya tentang mitos, paling tidak akan membuka cakrawala baru bagi kita terhadap pengertian, struktur dan relasi-relasi mitos dengan

Bisahah Matematika bebas dari mitos- mitos di atas? Untuk masyarakat Indonesia saat ini tampaknya tidak. Perlu pergeseran budaya ke arah budaya meneliti Matematika yang marak

Dari hasil penelitian hal ini sangat memprihatinkan karena sesungguhnya masyarakat etnis Bali sangat memegang kebudayaan dan tradisi nya tetapi dalam hal pengetahuan

Di sisi lain, dalam kumpulan cerpen tersebut juga ditemukan mitos masyarakat Jawa meliputi: (1) Mitos Kasekten meliputi (a) Mitos Kasekten Mata, (b) Mitos Kasekten

Di sisi lain, dalam kumpulan cerpen tersebut juga ditemukan mitos masyarakat Jawa meliputi: (1) Mitos Kasekten meliputi (a) Mitos Kasekten Mata, (b) Mitos Kasekten

Jadi, masyarakat Papua dalam novel Isinga ini, khususnya masyarakat di bawah pegunungan Megafu memercayai bahwa asap berguna bagi perempuan dan anak karena adanya sebuah mitos

Makna yang terkandung dalam mitos Keris Ki Baru Gajah dalam tradisi tersebut adalah bahwa keluarga Puri Kediri dan masyarakat Kecamatan Kediri, Tabanan, khususnya yang beragama Hindu di