• Tidak ada hasil yang ditemukan

MMR EPIDEMIOLOGI DD DAN PENGENDALIANNYA

N/A
N/A
Fauziah Husnu Shofiah

Academic year: 2025

Membagikan "MMR EPIDEMIOLOGI DD DAN PENGENDALIANNYA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

Mumps, Measles dan Rubela (MMR):

Epidemiologi, Deteksi Dini, Dan Pengendaliannya

dr. A Muchtar Nasir, M.Epid

(2)

Topik Bahasan

• Pendahuluan

• Situasi MMR Global

• Situasi MMR Nasional

• Surveilans dan Epidemiologi MMR

• Upaya Pencegahan MMR

• Strategi Komunikasi Risiko

(3)

3

PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MASIH MENGANCAM DUNIA

▪ Imunisasi mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun akibat

penyakit seperti difteri, tetanus, pertusis, influenza, dan campak (WHO, 2021)

▪ Terdapat berbagai vaksin untuk mencegah >20 penyakit yang mengancam jiwa, membantu orang-orang dari segala usia

hidup lebih lama, hidup lebih sehat

▪ PD3I termasuk kasus campak - rubela dan congenital rubella syndrome (CRS) masih mengancam dan diperlukan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata supaya:

1. Memberi perlindungan spesifik ketiap individu dan herd immunity di kelompok/komunitas

2. Mencegah/memutus penularan di masyarakat

(4)

PD3I Mempunyai Target Global

4

Salah satu target Global dan menjadi kebijakan nasional adalah Eliminasi Campak Rubela yang dibuktikan melalui surveilans Campak Rubela/CRS yang sensitive

1 2 3 4 5

Eradikasi Polio

Eliminasi Campak Rubela / CRS

Eliminasi Tetanus Neonatorum

Pengendalian Difteri

Pengendalian Pertusis

• 2014 SEARO bebas polio (Indonesia)

• 2026 Eradikasi Polio

• 2026 Indonesia eliminasi Campak dan Rubela / CRS

• 2026 SEARO

eliminasi Campak dan Rubela / CRS

• 2015 Tetanus Neonatorum

eliminasi di seluruh region

• Indonesia

mempertahankan status Eliminasi TN

Target Nasional Indonesia

Target Nasional

Indonesia

(5)

Situasi Global Mumps

https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/mumps---number-of-reported-cases

(6)

1 November 2024

Dilaporkan puluhan siswa di Tangerang Selatan terjangkit cacar air dan gondongan dalam dua bulan terakhir. Di Jakarta, tercatat 1.234 kasus gondongan dari Januari hingga Juni 2024. Kasus ini juga dilaporkan terjadi di beberapa sekolah di Bandung dan Cimahi, Jawa Barat. Virus ini juga menyebar di Jawa Timur, dengan 2.001 kasus di Kabupaten Malang, 215 kasus di Kota Kediri, 907 kasus di Banyuwangi dan 1.596 di Jombang. Kasus mumps juga dilaporkan menyebar di Kota Sorong, Papua Barat Daya, ketika enam anak mengalami keluhan pembengkakan pada bagian rahang disertai demam pada September

15 November 2024

(7)

Diseases Transmission R

0

Measles Airborne 12-18

Pertussis Airborne, droplet 12-17

Varicella Contact, Airborne 10-12

Diphtheria Droplet 6-7

Polio Fecal-oral route 5-7

Rubella Airborne, droplet 5-7

Mumps Airborne, droplet 4-7

HIV/AIDS Sexual contact 2-5

SARS Airborne, droplet, contact 2-3 Influenza (1918

pandemic strain)

Airborne, droplet 2-3

R 0 is affected by mode of transmission

R

0

= disease’s basic reproduction number: jumlah kasus baru dari sekitar penderita (kontak erat)

(8)

Patogenesis dan Gambaran Klinis Gondongan

Virus

paramyxovirus ditulark an melalui droplet

pernapasan yang menyebar melalui udara atau kontak langsung

Masa

inkubasinya adalah ~ 15-24 hari

Penularan Inkubasi Penyakit

Fase prodromal singkat terdiri dari:

• Demam ringan

• Anoreksia

• Mialgia

Malaise

• Sakit kepala

Infeksi dapat tetap

terlokalisasi di saluran

pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi organ dan

sistem lain seperti:

• Parotid

• Sistem sarafpusat

• Saluran kemih

• Organ genital

Penularannya mirip dengan influenza dan rubella. Pasien yang terinfeksi paling menular 1-2 hari sebelum timbulnya gejala klinis, dan

selama

beberapa hari setelahnya

Komunikabilitas

1. Hviid A et al. Lancet. 2008;371:932–944. 2. Causes: mumps. National Health Service Web site. https://www.nhs.uk/conditions/mumps/causes/.Accessed March 5, 2019. 3. Public Health Image Library. Centers for Disease Control and Prevention Web site. https://phil.cdc.gov/phil/details.asp?pid=130. Accessed March 5, 2019. 4. Centers for Disease Control and Prevention. Chapter 15:

Mumps. In: Hamborsky J, et al. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. 13th ed. Washington D.C. Public Health Foundation. 2015; 248-260.

(9)

INDIAN PEDIATRICS 2017 Cureus 2020

INDIAN PEDIATRICS 2024

(10)

Epidemiologi gondongan

Era Prevaksinasi (<1960s)

• Insiden global tahunan mumps di era

prevaksinasi adalah ~100-1.000 kasus/100.000 populasi, dengan epidemi setiap 2-5 tahun

1

Era Pascavaksinasi

• Kasus mumps yang dilaporkan menurun

dengan cepat dan drastis pada negara-negara dengan cakupan vaksinasi mumps yang luas

1,2

• Baru-baru ini, telah terjadi peningkatan kasus wabah mumps; ini mempengaruhi kalangan yang berada dalam lingkungan kontak dekat yang berkepanjangan seperti universitas dan sekolah

3-6

1. Pink Book. Chapter 15. Mumps. CDC website. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/mumps.html. 2. Mumps Vaccines: WHO Position Paper. February 2007. WHO website.

https://www.who.int/wer/2007/wer8207.pdf. Accessed October 6, 2020. 3. Mumps Cases and Outbreaks. CDC website. https://www.cdc.gov/mumps/outbreaks.html. Updated February 11, 2020. Accessed October 6, 2020. 4. Indenbaum V et al. Euro Surveill. 2017;22(35):30605. 5. Laboratory confirmed cases of measles, mumps and rubella, England: October to December 2016. Public Health England website. https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/594801/hpr0817 mmr.pdf. Updated February 24, 2017. Accessed October 6, 2020. 6. Ferenczi A et al. Euro Surveill. 2020;25(4):pii.

(11)

Kasus gondongan terus dilaporkan di seluruh dunia

Kasus Mumps yang Dilaporkan oleh Wilayah WHO(2000 and 2018)

1,a

• Pada tahun 2018, terdapat ~500.000 kasus yang dilaporkan secara global vs ~544.000 kasus pada tahun 2001

• Beberapa wilayah memiliki lebih banyak kasus yang dilaporkan dibandingkan 20 tahun sebelumnya; salah satunya di Asia Tenggara yang meningkat ~3x lipat

2000 2018

Amerika

44 K 66 K

20 K

200 0

201 8

Eropa

243 K

54 K

2000 2018

Afrika

39 K

66 K 23 K

2000 2018

Mediterania Timur

9 K 32 K

200 0

201 8

Asia Tenggara

Pasifik Barat

304 K

201 8

143 K

200 0

a Confirmed mumps cases (Clin+Epi+Lab).

WHO = World Health Organization; K = thousand.

1. Global Health Observatory Data Repository. Mumps Reported Cases by WHO region. WHO website. https://apps.who.int/gho/data/view.main.1520_53?lang=en. Updated September 11, 2019. Accessed October 6, 2020.

(12)

Gondongan (mumps) di Indonesia

• Satu studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps Anak di

Sekolah Dasar (n=127, Kelas 1-6), Jakarta (2004), potong lintang.

• Menggunakan uji ELISA untuk melihat IgG spesifik terhadap mumps

Riwayat Sakit Parotitis Usia 5-7 Tahun Usia 10-12 Tahun

Pernah 15 (62.5%) 9(37.5%)

Tidak Pernah 54(52.5%) 49 (47.5%)

Riwayat Vaksin 17 anak 3 anak

• Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah populasi yang diteliti telah memiliki titer antibodi

• Daya lindung vaksinasi mumps 85 %.

• Anak yang memiliki kekebalan alamiah sebanyak 25,6%

• Hanya 15,7% saja yang telah mendapat imunisasi dengan populasi terbanyak pada usia 5-7 tahun.

Hindra Satari et al. Sari Pediatri, Vol. 6, No. 3, Desember 2004: 134-137

(13)

Tata laksana gondongan

• Pengobatan parotitis simtomatik.

• Istirahat baring.

• Makanan disesuaikan dengan kemampuan mengunyah.

• Nonsteroid antiinflamasi selama 2-4 hari.

(14)

1. Penyelidikan Epidemiologi Suspek Mumps terutama di tempat kemungkinan terjadinya penularan

2. Konfirmasi suspek melalui lab

3. Isolasi Pasien

4. Identifikasi sumber infeksi dan lakukan penemuan kasus

5. Identifikasi kontak erat

(15)

Pencegahan

1. Vaksinasi MMR (Measles, mumps, rubella) usia 15 bulan dan 5 tahun

2. Perilaku hidup bersih dan sehat: menjaga higiene cuci tangan. tutup mulut dan hidung, serta tidak berbagi peralatan makan/minum

3. Hindari kontak penderita gondongan

4. Etika batuk menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin

5. Penderita istirahat 2 minggu di rumah karena masa

infeksius 10-12 hari

(16)

Surat Edaran Dirjen P2P tentang Kewaspadaan terhadap Peningkatan Penyakit Mumps

Surveilans

Komunikasi Risiko

(17)

Situasi Global Measles

https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/measles---number-of-reported-cases

(18)

Situasi Global Rubela

https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/rubella---number-of-reported-cases

(19)

Sebaran Kasus Campak Konfirmasi Lab dan Rubela Konfirmasi Lab Indonesia, 2023 - 2024

Dots are randomly placed within province

: Campak (C) : Rubela (R)

Data as received at central on 18 Nov 2024

1.977 Kasus campak konfirmasi laboratorium terdapat di 294 Kab/Kota di 35 Provinsi 428 Kasus rubela konfirmasi laboratorium terdapat di 154 Kab/Kota di 27 Provinsi 10.628 Kasus campak konfirmasi laboratorium terdapat di 373 Kab/Kota di 38 Provinsi

584 Kasus rubela konfirmasi laboratorium terdapat di 172 Kab/Kota di 31 Provinsi

2023 2024

(20)

Sebaran KLB Campak-Rubela Tahun 2024

(21)

SURVEILANS CAMPAK-RUBELA

(22)

A.SURVEILANS CAMPAK-RUBELA

Kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus berdasarkan data dan informasi tentang kejadian penyakit Campak-Rubela,

Kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit Campak-Rubela,

Memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan

penanggulangan Campak-Rubela secara efektif dan

efisien.

(23)

SURVEILANS CAMPAK-RUBELA

• Pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus DEMAM dan RUAM MAKULOPAPULAR /

BERCAK MERAH (SUSPEK CAMPAK) pada SEMUA USIA untuk dibuktikan BUKAN DISEBABKAN CAMPAK-RUBELA

• Surveilans CAMPAK-RUBELA mencari kasus SUSPEK CAMPAK bukan mencari kasus campak/rubela

SETELAH BERHASIL

DISCARDED*

SEBELUM BERHASIL

CAMPAK/

RUBELA

KONSEP SURVEILANS CAMPAK-RUBELA

SEBELUM & SESUDAH PROGRAM IMUNISASI CAMPAK-RUBELA BERHASIL

KASUS

SUSPEK CAMPAK

(DEMAM + RUAM MAKULOPAPULAR)

*DISCARDED:

BUKAN CAMPAK &

BUKAN RUBELA

DISCARDED*

(24)

Surveilans Campak Berbasis Kasus Individu/Case Based Measles Surveillance (CBMS)

Surveilans campak-rubela dilakukan berbasis kasus individu/Case Based Measles Surveillance (CBMS) untuk memonitor kemajuan program dan

mempertahankan kondisi eliminasi campak- rubela/CRS.

Dalam CBMS dilakukan: Pelaporan setiap kasus

suspek campak dalam waktu 1 x 24 jam, dilakukan investigasi dalam waktu 2 x 24 jam setelah laporan diterima, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan dicatat secara individual.

Tujuan CBMS adalah untuk mendeteksi, investigasi, mengklasifikasi semua kasus suspek campak,

melakukan respon terhadap KLB dan pemeriksaan

laboratorium untuk konfirmasi kasus

(25)

Eliminasi Campak-Rubela

Tidak ditemukan transmisi virus campak-rubela endemik/indigenous selama minimal 12 bulan,

dengan pelaksanaan surveilans campak-rubela yang adekuat.

Verifikasi status eliminasi diperoleh jika dapat mempertahankan zero transmission

selama minimal 36 bulan.

Endemis Campak-Rubela

Adanya penularan virus campak dan/atau virus

rubela secara terus-menerus, yang terjadi selama ≥12

bulan di suatu wilayah tertentu.

(26)

DEFINISI OPERASIONAL

Setiap kasus pada

SEMUA USIA dengan gejala:

✓ DEMAM DAN

✓ RUAM maculopapular

(padat, tidak berair)

SUSPEK CAMPAK

Bila ada keraguan ➔TETAP LAPORKAN

sebagai kasus SUSPEK CAMPAK

(27)

KONTAK SUSPEK CAMPAK

❑ Kontak suspek campak: Semua orang yang berhubungan (kontak) dengan suspek campak pada:

1.

7-21 hari sebelum ruam ➔ untuk mengetahui sumber infeksi dan identifikasi kasus lain serta penyebarannya.

2.

7 hari sebelum dan 7 hari setelah ruam ➔ untuk mencegah penyebaran kasus lebih meluas

❑ Yang dapat termasuk kontak suspek campak:

➔ Berada satu atap dengan kasus: satu rumah / asrama / kost / mess / kelas / ruang kerja

➔ Tetangga, kerabat, pengasuh

➔ Teman kelas / bermain / pengajian / sekolah minggu / guru / teman kerja

➔ Petugas kesehatan yang merawat kasus tanpa APD sesuai SOP

DEFINISI OPERASIONAL

(28)

CAMPAK RUBELLA

MINIMAL 2/100.000 PENDUDUK

BUKAN CAMPAK – BUKAN RUBELLA = DISCARDED

INDIKATOR

SURVEILANS CAMPAK-RUBELA YANG ADEKUAT

(29)

KLASIFIKASI KASUS

Kasus Campak Konfirmasi Laboratorium ➔ SUSPEK CAMPAK dengan hasil lab IgM Campak (+);

Kasus Rubela Konfirmasi Laboratorium ➔ SUSPEK CAMPAK dengan hasil lab IgM Rubela (+);

Kasus Campak/Rubela Hubungan Epid ➔ SUSPEK CAMPAK dg hub epid (+) dg kasus konfirmasi secara LAB ATAU dg kasus HUB EPID yang lain

Kasus Campak Klinis: SUSPEK CAMPAK yang tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tidak mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus pasti secara laboratorium, namun disertai gejala salah satu “C” (Cough/Batuk, Coryza/Pilek, Conjunctivitis/Mata Merah).

DISCARDED (BUKAN KASUS CAMPAK & BUKAN KASUS RUBELA) ➔ SUSPEK CAMPAK dg

hasil lab IgM Campak (-) dan IgM Rubela (-)

(30)

INDIKATOR KINERJA SURVEILANS CAMPAK-RUBELA

RUTIN

Discarded rate (kasus bukan campak dan bukan rubela) secara nasional

2/100.000 penduduk

Persentase kabupaten/kota melaporkan discarded rate > 2/100.000 penduduk 80%

Kasus suspek campak yang diinvestigasi adekuat (< 48 jam) ≥ 80%

Kasus suspek campak-rubela yang diperiksa IgM 80%

Kelengkapan Laporan Puskesmas (MR-01) 90%

Ketepatan Laporan Puskesmas (MR-01) 80%

Kelengkapan Laporan Surveilans Aktif Rumah Sakit 90%

Spesimen Adekuat untuk pemeriksaan IgM 80%

Spesimen Adekuat untuk pemeriksaan virologi 80%

KLB

Kelengkapan Laporan MR-KLB 90%

KLB dilakukan Investigasi menyeluruh (fully investigated) 100%

KLB dilakukan investigasi < 48 jam 80%

KLB suspek campak yang diperiksa virologi80%

(31)

SURVEILANS

CONGENITAL RUBELLA SYNDROME (CRS)

(32)

B. SURVEILANS CRS

Salah satu strategi untuk mengetahui dampak jangka panjang pelaksanaan program imunisasi campak-rubela adalah dengan melakukan surveilans CRS secara sentinel di rumah sakit (RS).

Pelaksanaan surveilans CRS dilakukan secara sentinel dengan melibatkan beberapa RS baik milik Pemerintah maupun daerah yang memenuhi kriteria yang ditentukan.

Saat ini lokasi surveilans sentinel CRS terdapat di 22

rumah sakit di 19 provinsi terpilih. Secara bertahap lokasi sentinel dapat diperluas sehingga akan diperoleh data

yang lebih representatif dan komprehensif.

Adalah pemantauan secara terus menerus dan sistematis terhadap penyakit CRS pada bayi usia <12 bulan; dimulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta diseminasi informasi sehingga menghasilkan rekomendasi.

03/03/2023 32

(33)

DEFINISI OPERASIONAL

SUSPEK CRS :

Bayi usia <12 bln dengan

minimal satu gejala klinis pada kelompok A

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTWsS1kZSH6mBw9Iy-revHK5KibhWdohVv8J8TyQYlfpOMNG3s5Yg

KELOMPOK GEJALA MANIFESTASI KLINIS CRS

CRS KLINIS

Suspek CRS TANPA adanya SPESIMEN YANG ADEKUAT dimana klinisi yang ahli

mengidentifikasi adanya:

2 manifestasi klinis kelompok A; ATAU

1 manifestasi klinis dari kelompok A DAN 1

manifestasi klinis dari kelompok B

CRS PASTI

Suspek CRS dengan hasil laboratorium menunjukkan hasil SALAH SATU diantara berikut:

JIKA USIA BAYI <6 BULAN: IgM rubela positif (termasuk hasil positif pada spesimen follow up)

JIKA USIA BAYI 6 BULAN - <12 BULAN:

IgM dan IgG rubela positif;

atau

IgG rubela dua kali pemeriksaan (dengan selang waktu 1 bulan) positif

DISCARDED

Suspek CRS dengan SPESIMEN YANG ADEKUAT dan TIDAK memenuhi kriteria CRS PASTI

ATAU

Suspek CRS TANPA SPESIMEN YANG ADEKUAT dan TIDAK memenuhi kriteria CRS KLINIS

KLASIFIKASI KASUS CRS

(34)

INDIKATOR SURVEILANS CAMPAK RUBELA untuk mencapai komitmen global

Target Surveilans Indikator Surveilans

Eliminasi Campak Rubela / CRS

Tidak ada transmisi virus campak & rubela

Surveilans Campak- Rubela/CRS adekuat

setidaknya 3 tahun berturut- turut dan dipertahankan

- Penemuan kasus SUSPEK CAMPAK (Demam- Ruam) yang dibuktikan secara laboratorium

bukan karena campak-rubela (Discarded rate) ≥ 2 per 100.000 penduduk

- Reporting rate suspek CRS ≥1/10.000 kelahiran hidup di provinsi sentinel

Catatan:

Discarded rate = Proporsi penemuan kasus SUSPEK CAMPAK yang dibuktikan bukan karena campak-rubela

CRS = Congenital Rubella Syndrome

(35)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK

(36)

GEJALA DAN TANDA

(37)

CAMPAK

✓ Penyebab: virus campak

✓ Penularan: melalui udara (aerosol /airborne) yang dapat berupa percikan mikro (droplet) yang keluar dari hidung, mulut atau

tenggorokan orang yang terinfeksi virus campak pada saat bicara, batuk, bersin atau melalui sekresi hidung, atau bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi

✓ Sangat menular pada 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah munculnya bintik-bintik (ruam) kemerahan ➔ laju reproduksi (R 0 ): 17-18

✓ Gejala:

o

Gejala awal: Demam, batuk, pilek, radang mata (konjungtivitis)

o

Bintik-bintik kemerahan (ruam maculopapular) muncul 2-4 hari setelah gejala awal.

✓ Komplikasi : diare, pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), kebutaan.

✓ Berat-ringannya tergantung usia (usia muda), status gizi (malnutrisi) dan gangguan kekebalan tubuh ➔ KEMATIAN

✓ Masa inkubasi: 7 – 18 hari, rata-rata 10 hari

(38)

KALAU ANAK KENA CAMPAK, SEMUA KEKEBALAN HILANG

INFEKSI AWAL

VIRUS MELUAS

GEJALA

AWAL, VIRUS BANYAK,

MENULAR

BINTIK MERAH MELUAS

BINTIK HILANG/

KEHITAMAN ->

“SEMBUH”,

KEKEBALAN

TURUN/LUPA

(39)

WASPADA : KOMPLIKASI MUNCUL 2-3 MINGGU SETELAH RUAM/BINTIK-BINTIK MERAH

PNEUMONIA/ INFEKSI PARU-PARU

DIARE BERAT

RADANG OTAK

JANGKA PANJANG

“SEMBUH”

“HARUS TETAP DIPANTAU DAN PASTIKAN DAPAT VITAMIN A”

PENURUNAN PENGLIHATAN

DAN KEBUTAAN

(40)

RUBELA

✓ Penyebab: virus rubela ➔ dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin.

✓ Penularan: melalui udara (aerosol /airborne) yang dapat berupa percikan mikro (droplet) yang keluar dari hidung, mulut atau tenggorokan orang yang terinfeksi virus rubela pada saat bicara, batuk, bersin atau melalui sekresi hidung, atau bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi

✓ Sangat menular pada 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah munculnya bintik-bintik (ruam) kemerahan ➔ laju reproduksi (R

0

): 6-7

✓ Gejala: demam ringan, bercak merah/ruam makulopapular, disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening pada belakang telinga / leher belakang.

✓ Risiko tinggi jika menginfeksi ibu hamil trimester 1 : abortus, lahir mati atau cacat berat bawaan (Congenital Rubella Syndrome/CRS

→ gangguan jantung, kebutaan, gangguan pendengaran)

✓ Masa inkubasi : 14 – 21 hari

Ruam

(41)

WAKTU PALING MENULAR DARI CAMPAK

-1 -2 -3 -4 Onset

ruam 1 2 3 4

4 HARI SEBELUM MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM DAN 4 HARI SESUDAH MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM

MENULAR MENULAR

WAKTU PALING MENULAR DARI RUBELA

-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7

Onse t ruam

1 2 3 4 5 6 7

7 HARI SEBELUM MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM DAN 7 HARI SESUDAH MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM

MENULAR MENULAR

(42)

SUSPEK CAMPAK

• Dalam rangka meningkatkan sensitivitas penemuan kasus suspek campak untuk mencapai eliminasi campak-rubela/CRS ➔ Penemuan kasus suspek campak ditujukan untuk semua kasus DEMAM dan RUAM MAKULOPAPULAR / BERCAK MERAH (SUSPEK CAMPAK) pada SEMUA USIA untuk

dibuktikan BUKAN DISEBABKAN CAMPAK-RUBELA

• Surveilans CAMPAK-RUBELA mencari kasus SUSPEK CAMPAK bukan mencari kasus campak/rubela

MACULAR ATAU

MACULOPAPULAR Papulovesicular Petechiae atau Purpura

JENIS RUAM

(43)

DEMAM DAN RUAM CAMPAK

RUBELA

Epstein-Barr virus

Roseola Infantum

Scarlet Fever

Meningococcal infection (early) Early Rocky

Mountain spotted fever Kawasaki

disease Other Viral

Exanthema HFMD

VARICELLA

DENGUE HAEMORRHA

GIC-FEVER

DIAGNOSIS BANDING

DEMAM DAN RUAM

✘ ✘ ✘

DIAGNOSIS INI DAPAT DILAPORKAN SEBAGAI SUSPEK CAMPAK➔ LAKUKANPENGAMBILAN

SPESIMEN SERUM SEBANYAK MINIMAL0,5ML

(44)

STRATEGI PENEMUAN KASUS

(45)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK BISA DILAKUKAN RUMAH SAKIT DAN MASYARAKAT

DUA JENIS SURVEILANS

SURVEILANS BERBASIS RUMAH SAKIT (HBS) -

Tugas DINKES KAB./KOTA untuk meyakinkan semua kasus PD3I yang datang ke RS sudah dilaporkan

SURVEILANS BERBASIS MASYARAKAT (CBS) -

Tugas

PUSKESMAS untuk meyakinkan semua kasus PD3I yang datang ke unit-unit pelapor berikut sudah dilaporkan:

• Masyarakat (rumah, kepala desa)

• Puskesmas

• PKK

• Praktek swasta

• Fasyankes lain, bidan

STRATEGI PENEMUAN KASUS

- Sosialisasi dokter, bangsal anak/saraf, poli anak/dewasa/saraf, fisioterapi, UGD.

- Surveilans aktif rumah sakit (SARS) dinkes dan RS

- Review rekam medis (HRR)

- Sosialisasi di masyarakat : pertemuan masyarakat.

- Pelapor-pelapor baru : tokoh agama/adat, kader, kepala kampung, dukun bayi, klinik

dokter/perawat/bidan, dst

- Pelaporan rutin SKDR oleh puskesmas

- Terintegrasi dengan promkes, imunisasi dst

di puskesmas

(46)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI PUSKESMAS

❖ Melakukan penemuan suspek campak dengan gejala demam dan ruam maculopapular di setiap unit yang potensial (poli MTBS, poli KIA, poli umum, bangsal rawat inap, IGD, dll)

➔ dilaporkan dalam waktu 1x24 jam

➔ wajib dilakukan penyelidikan epidemiologi dalam waktu 2x24 jam setelah suspek ditemukan

❖ Hasil investigasi diisi ke dalam Form investigasi kasus suspek campak-rubela (Form MR-01) yang dibuat untuk masing-masing suspek (form individual).

❖ Melibatkan peran aktif kader atau petugas desa siaga dalam pencarian kasus suspek campak di masyakarat dan segera melaporkan ke petugas puskesmas.

❖ Pada saat melakukan penyelidikan epidemiologi: petugas puskesmas juga mencari kasus tambahan lainnya dengan menanyakan apakah ada kasus yang sama di keluarga atau tempat lain.

❖ Jika jumlah kasus suspek campak di suatu wilayah telah memenuhi kriteria KLB suspek

campak ➔ lakukan penanggulangan KLB tanpa menunggu hasil laboratorium kasus suspek campak yang telah diambil spesimen serumnya.

❖ Melakukan verifikasi jika ada rumor/issue di masyarakat, media massa dan atau media sosial dalam

waktu <24 jam sejak sinyal diterima.

(47)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI FASYANKES LAINNYA

❖ Penemuan kasus suspek campak bisa berasal dari Dokter Praktek Mandiri (DPM), bidan praktek swasta (BPS), dan klinik/balai pengobatan lainnya.

❖ Setiap suspek campak yang ditemukan di fasyankes lainnya ➔ harus diinformasikan ke Puskesmas di tempat fasyankes tersebut berkedudukan (puskesmas

setempat) dalam waktu 1x24 jam sejak suspek ditemukan ➔ Informasi dapat disampaikan dalam formulir notifikasi fasyankes melalui mekanisme pelaporan yang ditentukan (WA, email, dsb)

❖ Setelah mendapatkan informasi dari fasyankes swasta ➔Puskemas segera

melakukan investigasi sekaligus pengambilan spesimen (jika fasyankes swasta tidak melakukan pengambilan spesimen serum).

❖ Fasyankes swasta menginformasikan kepada kasus bahwa akan ada petugas

puskesmas yang berkunjung ke rumah kasus ➔ untuk investigasi dan sekaligus

melakukan pengambilan spesimen.

(48)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI RUMAH SAKIT

❖ Penemuan suspek campak dapat berasal dari semua unit yang berpotensi seperti Rawat Inap, Rawat Jalan, Gawat Darurat, NICU/PICU/ICU, Rekam Medis, dll

❖ Contact person di setiap unit terkait menelusuri setiap kasus atau kematian yang

disebabkan oleh bronchopneumonia, diare, ensefalitis. dan lainnya yang merupakan salah satu

komplikasi dari penyakit campak. Jika merupakan komplikasi dari penyakit campak maka

kasus tersebut harus dicatat dan dilaporkan sebagai kasus suspek campak.

(49)

PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI RUMAH SAKIT (2)

Dokter Poli/Bangsal

KASUS

SUSPEK CAMPAK

Petugas Surveilans Rumah Sakit

Dinas Kesehatan Kab/Kota

Segera, setiap ada suspek:

RS memberikan notifikasi ke Dinkes Kab/Kota

menggunakan form NOTIFIKASI RS/FASYANKES SWASTA

Mingguan, hari Senin

RS mengirimkan form SARS-PD3I ke Dinkes Kab/Kota

Pasien Masih Dirawat RS

1. Dinkes Kab/Kota (bersama Puskesmas setempat) datang ke RS, melakukan investigasi (isi form investigasi MR01) 2. Nakes di RS melakukan pengambilan

spesimen

3. Dinkes Kab/Kota menjemput spesimen yang sudah diambil oleh RS, dan mengirim ke Dinkes Provinsi/Laboratorium

Pasien Sudah Pulang/Keluar RS

1. Petugas surveilans RS menginfokan alamat dan nomor telpon kasus/orang tua

2. Dinkes Kab/Kota berkooordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan investigasi

(mengisi form investigasi MR01) ke rumah kasus dan pengambilan spesimen

3. Dinkes Kab/Kota dan Puskesmas datang ke RS untuk bertemu dengan dokter/perawat dan melengkapi form investigasi MR01

Penting:

1. Catat kontak person petugas surveilans Dinas Kesehatan Provinsi

2. Adanya WAG khusus Surveilans PD3I di

RS untuk koordinasi lebih cepat

(50)

TATA LAKSANA

(51)

SATU KASUS SUSPEK CAMPAK ➔ LAKUKAN INVESTIGASI

KLB Suspek Campak/KLB Campak/KLB Rubela dimulai dari 1 kasus SUSPEK CAMPAK

Setiap kasus SUSPEK CAMPAK yang dilaporkan berguna untuk mengidentifikasi terjadinya KLB lebih dini.

KLB SUSPEK CAMPAK

Adanya 5 atau lebih kasus suspek campak dalam waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi

mengelompok dan mempunyai hubungan epidemiologi

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI MENYELURUH (FULLY INVESTIGATED)

1.Kunjungan rumah ke rumah: Setiap kasus suspek campak dilacak untuk mencari kasus tambahan dan identifikasi kontak

2.Pencatatan setiap kasus menggunakan form MR-01

3.Pengambilan SPESIMEN:

✓ SERUM : pd SEMUA SUSPEK CAMPAK

✓ URINE/USAP TENGGOROK: pd suspek

campak yang ditemukan dalam periode 5 hari sejak onset ruam DAN disertai gejala KHAS CAMPAK (batuk/pilek/conjungtivitis) atau gejala KHAS RUBELA (pembengkakan KGB belakang telinga/nyeri sendi pada wanita

dewasa) ➔ minimal 1 kasus/KaKo/tahun

LAKUKAN

SUSPEK CAMPAK

SEMUA KASUS pada SEMUA USIA dengan gejala DEMAM dan BERCAK MERAH

(52)

Penyelidikan Epidemiologi (PE) Menyeluruh (Fully

Investigated)

PE menyeluruh (Fully Investigated) dilakukan pada setiap suspek

campak

Dengan melakukan:

1.

Kunjungan rumah ke rumah

2.

Pencatatan kasus

dalam format individu

3.

Pengambilan spesimen

Kunjungan Rumah ke Rumah

• Setiap rumah dikunjungi seluas perkiraan transmisi (mobilitas, kepadatan penduduk, kondisi yg membatasi wilayah)

• Mis: sekolah penderita dan sekitar rumah anak sekolah tsb

• Tujuan : mencari kasus tambahan, identifikasi kontak, tata laksana kasus dan kontak, review status imunisasi campak-rubela serta

faktor risiko lainnya, edukasi

Pencatatan Individu Menggunakan Form MR-01

• Tanyakan apakah ada yang bergejala demam dan ruam

makulopapular selama 1 bulan terakhir ➔ catat dalam form MR01

• Mencatat kontak di form MR 01

• Tanyakan apakah ada ibu hamil trimester 1 dan 2 ➔ pisahkan (hindari kontak) dengan suspek campak

Pengambilan Spesimen

• Pengambilan SPESIMEN SERUM pd SEMUA SUSPEK CAMPAK

• Pengambilan spesimen URINE/USAP TENGGOROK pd suspek

campak yang ditemukan dalam periode 5 hari sejak onset ruam

DAN disertai gejala khas campak (batuk/pilek/conjungtivitis) atau

gejala khas rubela (pembengkakan KGB belakang telinga/nyeri

sendi pada wanita dewasa)

(53)

VARIABEL YANG DITANYAKAN SAAT INVESTIGASI KASUS

FORM MR 01

1. IDENTITAS PASIEN (NAMA, ALAMAT, UMUR, JENIS KELAMIN)

2. TANGGAL MULAI DEMAM / MUNCUL GEJALA RUAM-BINTIK2 (ONSET)

3. KOMPLIKASI

4. RIWAYAT IMUNISASI

5. VITAMIN A

6. RIWAYAT BEPERGIAN DALAM 1 BULAN TERAKHIR

7. INFORMASI KASUS TAMBAHAN

8. PENGAMBILAN SPESIMEN

9. IDENTIFIKASI KONTAK

10. YANG MELAKUKAN INVESTIGASI

(54)

TINDAKAN AWAL

1. Lakukan ISOLASI kasus: minimal 7 hari sejak onset ruam

2. Lakukan KARANTINA kontak: minimal 7 hari sejak kontak dg kasus

3. Konsultasi dengan dokter terkait perawatan medis ➔ berikan obat- obatan sesuai anjuran dokter;

4. Siapkan vitamin A ➔ berikan sesuai dosis;

5. Dipakaikan masker untuk menghindari penularan (minimal selama 7 hari sejak munculnya ruam) dan terapkan PROKES & PHBS;

6. Jika muncul komplikasi seperti sesak nafas, demam tetap tinggi diare atau TANDA BAHAYA lainnya ➔ SEGERA BAWA ke Rumah Sakit.

PENGAMBILAN SPESIMEN:

1. Koordinasi dengan petugas laboratorium;

2. Spesimen serum sebanyak ≥0,5 mL diambil sebelum hari ke-28 sejak munculnya ruam;

3. Satu spesimen urine 60 mL /spesimen apus tenggorok diambil pada hari ke-0 sampai ke-5 sejak muncul ruam (terutama kasus suspek campak yang disertai dengan gejala khas campak/rubela)

4. Segera dikirimkan dalam suhu 2-8

O

C.

DOSIS VIT A

TANDA BAHAYA

SEGERA BAWA KE RS

(55)

UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI CAMPAK-RUBELA

Pasien:

1. Tempatkan di ruangan terpisah dengan pasien lain (ISOLASI) 2. Batasi pergerakan pasien keluar ruang isolasi

3. Jika harus ada pergerakan keluar ruang isolasi ➔ pastikan pasien menggunakan masker medis

Keluarga:

1. Hand hygiene

2. Menggunakan masker jika kontak dengan pasien.

3. Cuci tangan pakai sabun setelah kontak dengan pasien

4. Menggunakan peralatan makan/minum khusus untuk satu pasien (terpisah dengan anggota keluarga lainnya). Lakukan pembersihan dan disinfeksi setelah pemakaian peralatan tersebut.

5. Hindari memegang mata, hidung atau mulut dengan tangan yang terkontaminasi

6. Hindari/cegah kontaminasi pada permukaan-permukaan seperti gagang pintu, tombol lampu, telepon dsb.

Petugas Kesehatan:

1. Hand hygiene

2. Menggunakan ADPD sesuai standar, minimal masker medis dan gloves, jika melakukan pemeriksaan pada pasien.

3. Lepaskan APD sesuai prosedur setelah melakukan pemeriksaan pasien

4. Menggunakan alat-alat sekali pakai atau khusus untuk satu pasien. Jika tidak lakukan pembersihan dan disinfeksi setelah pemakaian dari satu pasien ke pasien lain.

5. Hindari memegang mata, hidung atau mulut dengan gloves yang terkontaminasi atau tanpa gloves.

6. Hindari/cegah kontaminasi pada permukaan-permukaan seperti gagang pintu, tombol lampu, telepon dsb.

(56)

PENANGGULANGAN KLB CAMPAK-RUBELA

(57)

CAKUPAN IMUNISASI menjadi salah satu penentu utama keberhasilan

penanggulangan PD3I (ERADIKASI/ELIMINASI/PENGENDALIAN) atau masih tetap ENDEMIS dan menimbulkan KLB ➔ dibuktikan melalui Surveilans PD3I yang sensitif

TIDAK ADA IMUNISASI ADA IMUNISASI dengan CAKUPAN TINGGI & MERATA

PENULAR RENTAN PENULAR RENTAN PENULAR/SAKIT IMUNISASI RENTAN

Bakteri atau virus SANGAT MUDAH MENULAR

dari PENULAR ke populasi RENTAN (tidak ada imunisasi)

Kelompok RENTAN secara tidak langsung

TERLINDUNGI oleh anak/orang DENGAN IMUNISASI

(58)

ORI/Imunisasi massal, Tatalaksana,

Pemberian obat pencegahan (profilaksis) & respon lainnya Situasi jika tdp

Deteksi dini dan surveilans

berjalan dengan baik →

penanganan dini/respon di

komunitas Verifikasi rumor

Situasi jika Terlambat dilaporkan atau tidak dilaporkan ➔ Kasus terus bertambah/Sudah dalam kondisi parah ➔

Risiko kematian tinggi

PERAN SURVEILANS: PENEMUAN DAN PELAPORAN SECARA RUTIN DARI SEMUA FASKES TERMASUK RS

(59)

PRINSIP DASAR

PRA-KLB

• Penemuan kasus dini

• Tatalaksana kontak

• Imunisas rutin, kejar/catch- up

KLB

• Penemuan kasus tambahan (fully investigated)

• Tatalaksana kontak erat

• Outbreak Response Immunisazation

POST-KLB

• Penguatan surveilans

• Penguatan imunisasi rutin

• Penguatan komunikasi

risiko

(60)

KLB Suspek Campak : Apabila ditemukan lima (5) atau lebih suspek

campak dalam waktu empat (4) minggu berturut-turut dan ada hubungan epidemiologi

KLB Campak Pasti : Apabila hasil pemeriksaan laboratorium minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dari hasil pemeriksaan kasus pada KLB suspek campak atau hasil pemeriksaan kasus pada CBMS

ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dan ada hubungan epidemiologi

KLB Rubela Pasti : Apabila hasil pemeriksaan laboratorium minimum dua (2) spesimen positif IgM rubela dari hasil pemeriksaan kasus pada KLB suspek campak atau hasil pemeriksaan kasus pada CBMS

ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM rubela dan ada hubungan epidemiologi

KLB Mix : Apabila ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dan minimum dua (2) spesimen positif rubela

DEFINISI OPERASIONAL KLB CAMPAK-RUBELA

KLB dinyatakan berhenti apabila tidak ditemukan kasus baru dalam

waktu dua kali masa inkubasi atau rata-rata satu

bulan setelah kasus terakhir . KLB ditetapkan

oleh kepala dinas kesehatan

kabupaten/kota, kepala

dinas kesehatan provinsi atau

menteri kesehatan.

Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi atau menteri kesehatan

harus mencabut penetapan daerah dalam keadaan KLB

➔ berdasarkan

kriteria tersebut.

(61)

KILAT CAMPAK

DEMAM (PANAS)

DAN

RUAM (BINTIK-BINTIK MERAH)

≥5 KASUS SUSPEK CAMPAK DALAM WAKTU 4 MINGGU BERTURUT-TURUT, MENGELOMPOK

(dalam satu daerah tertentu) DAN ADA BUKTI KONTAK

1. KENALI 2. LAPORKAN 3. TINDAKAN AWAL

PUSKESMAS

SURVEILANS DINAS KESEHATAN

KAB/KOTA

SURVEILANS DINAS KESEHATAN

PROVINSI

SUSPEK CAMPAK JIKA:

KLB SUSPEK CAMPAK JIKA:

SEGERA

1. Lakukan ISOLASI kasus: minimal 7 hari sejak onset ruam

2. Lakukan

KARANTINA kontak erat: minimal 7 hari

sejak kontak dg kasus

3. Konsultasi dengan dokter terkait perawatan medis ➔ berikan obat-obatan sesuai anjuran dokter;

4. Siapkan vitamin A ➔ berikan sesuai dosis;

5. Dipakaikan masker untuk menghindari penularan (minimal selama 7 hari sejak munculnya ruam) dan terapkan PROKES & PHBS;

6. Jika muncul komplikasi seperti sesak nafas, demam tetap tinggi atau diare SEGERA bawa ke Rumah Sakit.

PENGAMBILAN SPESIMEN:

1. Koordinasi dengan petugas laboratorium;

2. Spesimen serum sebanyak ≥0,5 mL diambil sebelum hari ke-28 sejak munculnya ruam;

3. Satu spesimen urine 60 mL /spesimen apus tenggorok diambil pada hari ke-0 sampai ke-5 sejak muncul ruam (

terutama

kasus suspek campak yang disertai gejala khas campak/rubela)

4. Segera dikirimkan dalam suhu 2-8O C.

MR 01

MR 01

KEMENKES

MR 01 MR 02

MR 02

https://bit.ly/SurvCampakRubela

(62)

Tantangan dan Solusi Pencegahan MMR

(63)

STRATEGI

KOMUNIKASI

(64)

Isu Seputar Imunisasi

Pemberitaan yang menghambat peningkatkan cakupan imunisasi

Percakapan negatif di social media (X.com)

(65)

Tujuan Strategi Komunikasi

Meningkatkan kesadaran masyarakat Membangun Kepercayaan

Melawan Misinformasi Mendorong Partisipasi Aktif

Menggalang dukungan lintas program,

lintas sektor serta pemangku kebijakan

guna keberhasilan pelaksanaan ORI

(66)

Tantangan dalam Komunikasi

Mis-informasi

Akses Informasi Terbatas di Daerah Terpencil

Respon Emosional Masyarakat

Ketidakpercayaan Masyarakat terhadap Imunisasi

Koordinasi Antar Pemangku Kepentingan

Kompleksitas Pesan

(67)

Photo byAnna ShvetsfromPexels

PENDEKATAN &

STRATEGI KOMUNIKASI

(68)

Komunikasi interpersonal / komunikasi antar pribadi (KAP) merupakan komunikasi tatap muka yang dilakukan dengan membangun suasana menyenangkan dan akrab, mendorong

sasaran untuk berbicara dan mendengarkan, serta mengarah pada komitmen aksi perubahan perilaku.

Kegiatan

o Mendengarkan dengan Aktif:

Dengarkan kekhawatiran masyarakat dan jawab dengan empati.

o Gunakan Bahasa yang Mudah

Dipahami: Sederhanakan istilah medis dan gunakan bahasa sehari-hari.

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

KOORDINASI PENTAHELIX

Komunikasi dan koordinasi yang melibatkan lima elemen utama (pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media). Kolaborasi membantu

memaksimalkan potensi sumber daya dan keahlian

yang tersedia

(69)

ADVOKASI

Merupakan proses mengedukasi, memotivasi, dan mendorong pihak-pihak berpengaruh untuk mengambil tindakan tertentu terkait imunisasi

Kelompok Sasaran Kegiatan

Pemerintah di tingkat

pusat, pemerintah daerah, pemangku kebijakan

Kesehatan; Tokoh agama/masyarakkat

Pertemuan

koordinasi/konsolidasi, Audiensi, lokakarya, simulasi

MOBILISASI SOSIAL,

PELIBATAN MASYARAKAT

Kelompok Sasaran Kegiatan

Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama

Nenek/Kakek, Anggota keluarga, Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb); Tenaga kesehatan, Kader

Sesi Posyandu, kunjungan rumah,

telekonsultasi, kelas ibu hamil, Kelas BKB, pengajian/acara keagamaan, kegiatan komunitas, media sosial dan daring

Termasuk melibatkan dan mendukung partisipasi dari institusi, jejaring komunitas, organisasi sosial/sipil untuk membantu mengubah sikap, struktur, dan norma.

Pendekatan ini juga akan termasuk komunikasi interpersonal.

(70)

Kelompok Sasaran Kegiatan

Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama

Nenek/Kakek, Anggota keluarga, Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb); Tenaga kesehatan, Kader

Adanya Juru Bicara; relasi dengan media;

informasi dan edukasi di media massa, media sosial; kegiatan media briefing, konferensi

pers; membuat advertorial

PEMANFAATAN MEDIA DAN TEKNOLOGI

Guna memaksimalkan jangkauan dan dampak, pemberian

informasi didiseminasikan secara berkelanjutan oleh penyampai pesan terpercaya seperti pihak pemerintah, ahli, maupun KOL (key opinion leader).

Kelompok Sasaran Kegiatan

Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama;

Nenek/Kakek, Anggota keluarga,

Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb);

Tenaga kesehatan, Kader

Media sosial (Facebook, Tiktok, Instagram, Whatsapp, Youtube); Media komunitas (lagu, drama, tari, story-telling, brosur);

Media massa (televisi, radio, HP, cetak); Outdoor media (wall paintings, billboards/hoardings, bus panels, LED scroll, poster, banner); Testimonial

KOMUNIKASI PUBLIK

Pendekatan komunikasi ini dilakukan untuk mengatasi disinformasi atau informasi meragukan, rendahnya rasa urgensi dan skeptis terhadap efikasi, keamanan, dan manfaat imunisasi; sekaligus sebagai strategi komunikasi krisis

(71)

PESAN KUNCI

“Imunisasi segera melindungi keluarga Anda dari penyakit berbahaya. Imunisasi itu aman dan efektif.”

”Cukup percayakan informasi dari sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.”

” Jangan tunda! Vaksinasi sekarang untuk menghentikan penyebaran wabah.”

” Anggota keluarga tidak perlu cemas karena efek

samping imunisasi bersifat sementara dan dapat diatasi dengan mengompres bagian yang bengkak atau

memberikan obat penurun panas saat terjadi demam.”

Catatan:

Pesan Kunci nantinya dapat diadaptasikan dalam Strakom Imunisasi skala lokal sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah

Di skala nasional menggunakan pesan kunci/pemicu, yaitu:

# CegahKLBDenganImunisasi

# LindungiKeluargaDenganImunisasi

# AyoImunisasiLawanKLB

Beberapa contoh pesan kunci untuk dapat

diturunkan di skala lokal :

(72)

JURU BICARA

Sesuai dengan UU Kesehatan No.

17 tahun 2023 tentang

Kesehatan,terkait penanggulangan wabah, Jika ada daerah sudah

menetapkan KLB maka harus segera di umumkan kepada publik

JURU

BICARA

(73)

73

JURU BICARA

Pusat:

Kementerian / Kementerian Lembaga (Menkes, Es.I/II)

Daerah:

Gubernur, Bupati, Kadinkes

Non Pemerintah:

Pakar, Nakes, tokoh, Influencer

Tugas utama juru bicara dalam

kaitannya dengan

krisis kesehatan ialah sebagai corong

organisasi.

Juru Bicara

(74)

• Epidemiologi MMR membantu memahami penyebaran dan faktor risiko.

• Surveilans efektif untuk deteksi dini dan pengendalian penyakit.

• Pencegahan berbasis populasi dengan vaksinasi (herd immunity) adalah kunci keberhasilan.

• Membangun strategi komunikasi efektif sangat diperlukan dalam menurunkan Tingkat risiko kejadian penyakit di masyarakat karena kurangnya informasi dan pemahaman masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

Kesimpulan

(75)

Thank You

Webinar on March 17 th ,2025

Presented by dr. A M Nasir

Referensi

Dokumen terkait