Mumps, Measles dan Rubela (MMR):
Epidemiologi, Deteksi Dini, Dan Pengendaliannya
dr. A Muchtar Nasir, M.Epid
Topik Bahasan
• Pendahuluan
• Situasi MMR Global
• Situasi MMR Nasional
• Surveilans dan Epidemiologi MMR
• Upaya Pencegahan MMR
• Strategi Komunikasi Risiko
3
PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MASIH MENGANCAM DUNIA
▪ Imunisasi mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun akibat
penyakit seperti difteri, tetanus, pertusis, influenza, dan campak (WHO, 2021)
▪ Terdapat berbagai vaksin untuk mencegah >20 penyakit yang mengancam jiwa, membantu orang-orang dari segala usia
hidup lebih lama, hidup lebih sehat
▪ PD3I termasuk kasus campak - rubela dan congenital rubella syndrome (CRS) masih mengancam dan diperlukan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata supaya:
1. Memberi perlindungan spesifik ketiap individu dan herd immunity di kelompok/komunitas
2. Mencegah/memutus penularan di masyarakat
PD3I Mempunyai Target Global
4
Salah satu target Global dan menjadi kebijakan nasional adalah Eliminasi Campak Rubela yang dibuktikan melalui surveilans Campak Rubela/CRS yang sensitive
1 2 3 4 5
Eradikasi Polio
Eliminasi Campak Rubela / CRS
Eliminasi Tetanus Neonatorum
Pengendalian Difteri
Pengendalian Pertusis
• 2014 SEARO bebas polio (Indonesia)
• 2026 Eradikasi Polio
• 2026 Indonesia eliminasi Campak dan Rubela / CRS
• 2026 SEARO
eliminasi Campak dan Rubela / CRS
• 2015 Tetanus Neonatorum
eliminasi di seluruh region
• Indonesia
mempertahankan status Eliminasi TN
Target Nasional Indonesia
Target Nasional
Indonesia
Situasi Global Mumps
https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/mumps---number-of-reported-cases
1 November 2024
Dilaporkan puluhan siswa di Tangerang Selatan terjangkit cacar air dan gondongan dalam dua bulan terakhir. Di Jakarta, tercatat 1.234 kasus gondongan dari Januari hingga Juni 2024. Kasus ini juga dilaporkan terjadi di beberapa sekolah di Bandung dan Cimahi, Jawa Barat. Virus ini juga menyebar di Jawa Timur, dengan 2.001 kasus di Kabupaten Malang, 215 kasus di Kota Kediri, 907 kasus di Banyuwangi dan 1.596 di Jombang. Kasus mumps juga dilaporkan menyebar di Kota Sorong, Papua Barat Daya, ketika enam anak mengalami keluhan pembengkakan pada bagian rahang disertai demam pada September
15 November 2024
Diseases Transmission R
0Measles Airborne 12-18
Pertussis Airborne, droplet 12-17
Varicella Contact, Airborne 10-12
Diphtheria Droplet 6-7
Polio Fecal-oral route 5-7
Rubella Airborne, droplet 5-7
Mumps Airborne, droplet 4-7
HIV/AIDS Sexual contact 2-5
SARS Airborne, droplet, contact 2-3 Influenza (1918
pandemic strain)
Airborne, droplet 2-3
R 0 is affected by mode of transmission
R
0= disease’s basic reproduction number: jumlah kasus baru dari sekitar penderita (kontak erat)
Patogenesis dan Gambaran Klinis Gondongan
Virus
paramyxovirus ditulark an melalui droplet
pernapasan yang menyebar melalui udara atau kontak langsung
Masa
inkubasinya adalah ~ 15-24 hari
Penularan Inkubasi Penyakit
Fase prodromal singkat terdiri dari:
• Demam ringan
• Anoreksia
• Mialgia
• Malaise
• Sakit kepala
Infeksi dapat tetap
terlokalisasi di saluran
pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi organ dan
sistem lain seperti:
• Parotid
• Sistem sarafpusat
• Saluran kemih
• Organ genital
Penularannya mirip dengan influenza dan rubella. Pasien yang terinfeksi paling menular 1-2 hari sebelum timbulnya gejala klinis, dan
selama
beberapa hari setelahnya
Komunikabilitas
1. Hviid A et al. Lancet. 2008;371:932–944. 2. Causes: mumps. National Health Service Web site. https://www.nhs.uk/conditions/mumps/causes/.Accessed March 5, 2019. 3. Public Health Image Library. Centers for Disease Control and Prevention Web site. https://phil.cdc.gov/phil/details.asp?pid=130. Accessed March 5, 2019. 4. Centers for Disease Control and Prevention. Chapter 15:
Mumps. In: Hamborsky J, et al. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. 13th ed. Washington D.C. Public Health Foundation. 2015; 248-260.
INDIAN PEDIATRICS 2017 Cureus 2020
INDIAN PEDIATRICS 2024
Epidemiologi gondongan
Era Prevaksinasi (<1960s)
• Insiden global tahunan mumps di era
prevaksinasi adalah ~100-1.000 kasus/100.000 populasi, dengan epidemi setiap 2-5 tahun
1Era Pascavaksinasi
• Kasus mumps yang dilaporkan menurun
dengan cepat dan drastis pada negara-negara dengan cakupan vaksinasi mumps yang luas
1,2• Baru-baru ini, telah terjadi peningkatan kasus wabah mumps; ini mempengaruhi kalangan yang berada dalam lingkungan kontak dekat yang berkepanjangan seperti universitas dan sekolah
3-61. Pink Book. Chapter 15. Mumps. CDC website. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/mumps.html. 2. Mumps Vaccines: WHO Position Paper. February 2007. WHO website.
https://www.who.int/wer/2007/wer8207.pdf. Accessed October 6, 2020. 3. Mumps Cases and Outbreaks. CDC website. https://www.cdc.gov/mumps/outbreaks.html. Updated February 11, 2020. Accessed October 6, 2020. 4. Indenbaum V et al. Euro Surveill. 2017;22(35):30605. 5. Laboratory confirmed cases of measles, mumps and rubella, England: October to December 2016. Public Health England website. https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/594801/hpr0817 mmr.pdf. Updated February 24, 2017. Accessed October 6, 2020. 6. Ferenczi A et al. Euro Surveill. 2020;25(4):pii.
Kasus gondongan terus dilaporkan di seluruh dunia
Kasus Mumps yang Dilaporkan oleh Wilayah WHO(2000 and 2018)
1,a• Pada tahun 2018, terdapat ~500.000 kasus yang dilaporkan secara global vs ~544.000 kasus pada tahun 2001
• Beberapa wilayah memiliki lebih banyak kasus yang dilaporkan dibandingkan 20 tahun sebelumnya; salah satunya di Asia Tenggara yang meningkat ~3x lipat
2000 2018
Amerika
44 K 66 K
20 K
200 0
201 8
Eropa
243 K
54 K
2000 2018
Afrika
39 K
66 K 23 K
2000 2018
Mediterania Timur
9 K 32 K
200 0
201 8
Asia Tenggara
Pasifik Barat
304 K
201 8
143 K
200 0
a Confirmed mumps cases (Clin+Epi+Lab).
WHO = World Health Organization; K = thousand.
1. Global Health Observatory Data Repository. Mumps Reported Cases by WHO region. WHO website. https://apps.who.int/gho/data/view.main.1520_53?lang=en. Updated September 11, 2019. Accessed October 6, 2020.
Gondongan (mumps) di Indonesia
• Satu studi Sero epidemiologi pada Antibodi Mumps Anak di
Sekolah Dasar (n=127, Kelas 1-6), Jakarta (2004), potong lintang.
• Menggunakan uji ELISA untuk melihat IgG spesifik terhadap mumps
Riwayat Sakit Parotitis Usia 5-7 Tahun Usia 10-12 Tahun
Pernah 15 (62.5%) 9(37.5%)
Tidak Pernah 54(52.5%) 49 (47.5%)
Riwayat Vaksin 17 anak 3 anak
• Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah jumlah populasi yang diteliti telah memiliki titer antibodi
• Daya lindung vaksinasi mumps 85 %.
• Anak yang memiliki kekebalan alamiah sebanyak 25,6%
• Hanya 15,7% saja yang telah mendapat imunisasi dengan populasi terbanyak pada usia 5-7 tahun.
Hindra Satari et al. Sari Pediatri, Vol. 6, No. 3, Desember 2004: 134-137
Tata laksana gondongan
• Pengobatan parotitis simtomatik.
• Istirahat baring.
• Makanan disesuaikan dengan kemampuan mengunyah.
• Nonsteroid antiinflamasi selama 2-4 hari.
1. Penyelidikan Epidemiologi Suspek Mumps terutama di tempat kemungkinan terjadinya penularan
2. Konfirmasi suspek melalui lab
3. Isolasi Pasien
4. Identifikasi sumber infeksi dan lakukan penemuan kasus
5. Identifikasi kontak erat
Pencegahan
1. Vaksinasi MMR (Measles, mumps, rubella) usia 15 bulan dan 5 tahun
2. Perilaku hidup bersih dan sehat: menjaga higiene cuci tangan. tutup mulut dan hidung, serta tidak berbagi peralatan makan/minum
3. Hindari kontak penderita gondongan
4. Etika batuk menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin
5. Penderita istirahat 2 minggu di rumah karena masa
infeksius 10-12 hari
Surat Edaran Dirjen P2P tentang Kewaspadaan terhadap Peningkatan Penyakit Mumps
Surveilans
Komunikasi Risiko
Situasi Global Measles
https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/measles---number-of-reported-cases
Situasi Global Rubela
https://www.who.int/data/gho/data/indicators/indicator-details/GHO/rubella---number-of-reported-cases
Sebaran Kasus Campak Konfirmasi Lab dan Rubela Konfirmasi Lab Indonesia, 2023 - 2024
Dots are randomly placed within province
: Campak (C) : Rubela (R)
Data as received at central on 18 Nov 2024
1.977 Kasus campak konfirmasi laboratorium terdapat di 294 Kab/Kota di 35 Provinsi 428 Kasus rubela konfirmasi laboratorium terdapat di 154 Kab/Kota di 27 Provinsi 10.628 Kasus campak konfirmasi laboratorium terdapat di 373 Kab/Kota di 38 Provinsi
584 Kasus rubela konfirmasi laboratorium terdapat di 172 Kab/Kota di 31 Provinsi
2023 2024
Sebaran KLB Campak-Rubela Tahun 2024
SURVEILANS CAMPAK-RUBELA
A.SURVEILANS CAMPAK-RUBELA
❑
Kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus berdasarkan data dan informasi tentang kejadian penyakit Campak-Rubela,
❑
Kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit Campak-Rubela,
❑
Memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan
penanggulangan Campak-Rubela secara efektif dan
efisien.
SURVEILANS CAMPAK-RUBELA
• Pengamatan yang dilakukan terhadap semua kasus DEMAM dan RUAM MAKULOPAPULAR /
BERCAK MERAH (SUSPEK CAMPAK) pada SEMUA USIA untuk dibuktikan BUKAN DISEBABKAN CAMPAK-RUBELA
• Surveilans CAMPAK-RUBELA mencari kasus SUSPEK CAMPAK bukan mencari kasus campak/rubela
SETELAH BERHASIL
DISCARDED*
SEBELUM BERHASIL
CAMPAK/
RUBELA
KONSEP SURVEILANS CAMPAK-RUBELA
SEBELUM & SESUDAH PROGRAM IMUNISASI CAMPAK-RUBELA BERHASIL
KASUS
SUSPEK CAMPAK
(DEMAM + RUAM MAKULOPAPULAR)
*DISCARDED:
BUKAN CAMPAK &
BUKAN RUBELA
DISCARDED*
Surveilans Campak Berbasis Kasus Individu/Case Based Measles Surveillance (CBMS)
❑
Surveilans campak-rubela dilakukan berbasis kasus individu/Case Based Measles Surveillance (CBMS) untuk memonitor kemajuan program dan
mempertahankan kondisi eliminasi campak- rubela/CRS.
❑
Dalam CBMS dilakukan: Pelaporan setiap kasus
suspek campak dalam waktu 1 x 24 jam, dilakukan investigasi dalam waktu 2 x 24 jam setelah laporan diterima, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan dicatat secara individual.
❑
Tujuan CBMS adalah untuk mendeteksi, investigasi, mengklasifikasi semua kasus suspek campak,
melakukan respon terhadap KLB dan pemeriksaan
laboratorium untuk konfirmasi kasus
Eliminasi Campak-Rubela
➢
Tidak ditemukan transmisi virus campak-rubela endemik/indigenous selama minimal 12 bulan,
dengan pelaksanaan surveilans campak-rubela yang adekuat.
➢
Verifikasi status eliminasi diperoleh jika dapat mempertahankan zero transmission
selama minimal 36 bulan.
Endemis Campak-Rubela
➢
Adanya penularan virus campak dan/atau virus
rubela secara terus-menerus, yang terjadi selama ≥12
bulan di suatu wilayah tertentu.
DEFINISI OPERASIONAL
Setiap kasus pada
SEMUA USIA dengan gejala:
✓ DEMAM DAN
✓ RUAM maculopapular
(padat, tidak berair)
SUSPEK CAMPAK
Bila ada keraguan ➔TETAP LAPORKAN
sebagai kasus SUSPEK CAMPAK
KONTAK SUSPEK CAMPAK
❑ Kontak suspek campak: Semua orang yang berhubungan (kontak) dengan suspek campak pada:
1.
7-21 hari sebelum ruam ➔ untuk mengetahui sumber infeksi dan identifikasi kasus lain serta penyebarannya.
2.
7 hari sebelum dan 7 hari setelah ruam ➔ untuk mencegah penyebaran kasus lebih meluas
❑ Yang dapat termasuk kontak suspek campak:
➔ Berada satu atap dengan kasus: satu rumah / asrama / kost / mess / kelas / ruang kerja
➔ Tetangga, kerabat, pengasuh
➔ Teman kelas / bermain / pengajian / sekolah minggu / guru / teman kerja
➔ Petugas kesehatan yang merawat kasus tanpa APD sesuai SOP
DEFINISI OPERASIONAL
CAMPAK RUBELLA
MINIMAL 2/100.000 PENDUDUK
BUKAN CAMPAK – BUKAN RUBELLA = DISCARDED
INDIKATOR
SURVEILANS CAMPAK-RUBELA YANG ADEKUAT
KLASIFIKASI KASUS
Kasus Campak Konfirmasi Laboratorium ➔ SUSPEK CAMPAK dengan hasil lab IgM Campak (+);
Kasus Rubela Konfirmasi Laboratorium ➔ SUSPEK CAMPAK dengan hasil lab IgM Rubela (+);
Kasus Campak/Rubela Hubungan Epid ➔ SUSPEK CAMPAK dg hub epid (+) dg kasus konfirmasi secara LAB ATAU dg kasus HUB EPID yang lain
Kasus Campak Klinis: SUSPEK CAMPAK yang tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium dan tidak mempunyai hubungan epidemiologi dengan kasus pasti secara laboratorium, namun disertai gejala salah satu “C” (Cough/Batuk, Coryza/Pilek, Conjunctivitis/Mata Merah).
DISCARDED (BUKAN KASUS CAMPAK & BUKAN KASUS RUBELA) ➔ SUSPEK CAMPAK dg
hasil lab IgM Campak (-) dan IgM Rubela (-)
INDIKATOR KINERJA SURVEILANS CAMPAK-RUBELA
RUTIN
• Discarded rate (kasus bukan campak dan bukan rubela) secara nasional
≥ 2/100.000 penduduk
• Persentase kabupaten/kota melaporkan discarded rate > 2/100.000 penduduk ≥ 80%
• Kasus suspek campak yang diinvestigasi adekuat (< 48 jam) ≥ 80%
• Kasus suspek campak-rubela yang diperiksa IgM ≥ 80%
• Kelengkapan Laporan Puskesmas (MR-01) ≥ 90%
• Ketepatan Laporan Puskesmas (MR-01) ≥ 80%
• Kelengkapan Laporan Surveilans Aktif Rumah Sakit ≥ 90%
• Spesimen Adekuat untuk pemeriksaan IgM ≥ 80%
• Spesimen Adekuat untuk pemeriksaan virologi ≥ 80%
KLB
• Kelengkapan Laporan MR-KLB ≥ 90%
• KLB dilakukan Investigasi menyeluruh (fully investigated) 100%
• KLB dilakukan investigasi < 48 jam ≥ 80%
• KLB suspek campak yang diperiksa virologi ≥ 80%
SURVEILANS
CONGENITAL RUBELLA SYNDROME (CRS)
B. SURVEILANS CRS
❑
Salah satu strategi untuk mengetahui dampak jangka panjang pelaksanaan program imunisasi campak-rubela adalah dengan melakukan surveilans CRS secara sentinel di rumah sakit (RS).
❑
Pelaksanaan surveilans CRS dilakukan secara sentinel dengan melibatkan beberapa RS baik milik Pemerintah maupun daerah yang memenuhi kriteria yang ditentukan.
❑
Saat ini lokasi surveilans sentinel CRS terdapat di 22
rumah sakit di 19 provinsi terpilih. Secara bertahap lokasi sentinel dapat diperluas sehingga akan diperoleh data
yang lebih representatif dan komprehensif.
❑
Adalah pemantauan secara terus menerus dan sistematis terhadap penyakit CRS pada bayi usia <12 bulan; dimulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta diseminasi informasi sehingga menghasilkan rekomendasi.
03/03/2023 32
DEFINISI OPERASIONAL
SUSPEK CRS :
Bayi usia <12 bln dengan
minimal satu gejala klinis pada kelompok A
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTWsS1kZSH6mBw9Iy-revHK5KibhWdohVv8J8TyQYlfpOMNG3s5Yg
KELOMPOK GEJALA MANIFESTASI KLINIS CRS
CRS KLINIS
Suspek CRS TANPA adanya SPESIMEN YANG ADEKUAT dimana klinisi yang ahli
mengidentifikasi adanya:
❖ 2 manifestasi klinis kelompok A; ATAU
❖ 1 manifestasi klinis dari kelompok A DAN 1
manifestasi klinis dari kelompok B
CRS PASTI
Suspek CRS dengan hasil laboratorium menunjukkan hasil SALAH SATU diantara berikut:
❖ JIKA USIA BAYI <6 BULAN: IgM rubela positif (termasuk hasil positif pada spesimen follow up)
❖ JIKA USIA BAYI 6 BULAN - <12 BULAN:
✓ IgM dan IgG rubela positif;
atau
✓ IgG rubela dua kali pemeriksaan (dengan selang waktu 1 bulan) positif
DISCARDED
❖ Suspek CRS dengan SPESIMEN YANG ADEKUAT dan TIDAK memenuhi kriteria CRS PASTI
ATAU
❖ Suspek CRS TANPA SPESIMEN YANG ADEKUAT dan TIDAK memenuhi kriteria CRS KLINIS
KLASIFIKASI KASUS CRS
INDIKATOR SURVEILANS CAMPAK RUBELA untuk mencapai komitmen global
Target Surveilans Indikator Surveilans
Eliminasi Campak Rubela / CRS
Tidak ada transmisi virus campak & rubela
Surveilans Campak- Rubela/CRS adekuat
setidaknya 3 tahun berturut- turut dan dipertahankan
- Penemuan kasus SUSPEK CAMPAK (Demam- Ruam) yang dibuktikan secara laboratorium
bukan karena campak-rubela (Discarded rate) ≥ 2 per 100.000 penduduk
- Reporting rate suspek CRS ≥1/10.000 kelahiran hidup di provinsi sentinel
Catatan:
Discarded rate = Proporsi penemuan kasus SUSPEK CAMPAK yang dibuktikan bukan karena campak-rubela
CRS = Congenital Rubella Syndrome
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK
GEJALA DAN TANDA
CAMPAK
✓ Penyebab: virus campak
✓ Penularan: melalui udara (aerosol /airborne) yang dapat berupa percikan mikro (droplet) yang keluar dari hidung, mulut atau
tenggorokan orang yang terinfeksi virus campak pada saat bicara, batuk, bersin atau melalui sekresi hidung, atau bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi
✓ Sangat menular pada 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah munculnya bintik-bintik (ruam) kemerahan ➔ laju reproduksi (R 0 ): 17-18
✓ Gejala:
o
Gejala awal: Demam, batuk, pilek, radang mata (konjungtivitis)
o
Bintik-bintik kemerahan (ruam maculopapular) muncul 2-4 hari setelah gejala awal.
✓ Komplikasi : diare, pneumonia (radang paru), ensefalitis (radang otak), kebutaan.
✓ Berat-ringannya tergantung usia (usia muda), status gizi (malnutrisi) dan gangguan kekebalan tubuh ➔ KEMATIAN
✓ Masa inkubasi: 7 – 18 hari, rata-rata 10 hari
KALAU ANAK KENA CAMPAK, SEMUA KEKEBALAN HILANG
INFEKSI AWAL
VIRUS MELUAS
GEJALA
AWAL, VIRUS BANYAK,
MENULAR
BINTIK MERAH MELUAS
BINTIK HILANG/
KEHITAMAN ->
“SEMBUH”,
KEKEBALAN
TURUN/LUPA
WASPADA : KOMPLIKASI MUNCUL 2-3 MINGGU SETELAH RUAM/BINTIK-BINTIK MERAH
PNEUMONIA/ INFEKSI PARU-PARU
DIARE BERAT
RADANG OTAK
JANGKA PANJANG
“SEMBUH”
“HARUS TETAP DIPANTAU DAN PASTIKAN DAPAT VITAMIN A”
PENURUNAN PENGLIHATAN
DAN KEBUTAAN
RUBELA
✓ Penyebab: virus rubela ➔ dapat menembus plasenta dan menginfeksi janin.
✓ Penularan: melalui udara (aerosol /airborne) yang dapat berupa percikan mikro (droplet) yang keluar dari hidung, mulut atau tenggorokan orang yang terinfeksi virus rubela pada saat bicara, batuk, bersin atau melalui sekresi hidung, atau bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi
✓ Sangat menular pada 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah munculnya bintik-bintik (ruam) kemerahan ➔ laju reproduksi (R
0): 6-7
✓ Gejala: demam ringan, bercak merah/ruam makulopapular, disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening pada belakang telinga / leher belakang.
✓ Risiko tinggi jika menginfeksi ibu hamil trimester 1 : abortus, lahir mati atau cacat berat bawaan (Congenital Rubella Syndrome/CRS
→ gangguan jantung, kebutaan, gangguan pendengaran)
✓ Masa inkubasi : 14 – 21 hari
Ruam
WAKTU PALING MENULAR DARI CAMPAK
-1 -2 -3 -4 Onset
ruam 1 2 3 4
4 HARI SEBELUM MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM DAN 4 HARI SESUDAH MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM
MENULAR MENULAR
WAKTU PALING MENULAR DARI RUBELA
-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7
Onse t ruam
1 2 3 4 5 6 7
7 HARI SEBELUM MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM DAN 7 HARI SESUDAH MUNCUL BINTIK-BINTIK/RUAM
MENULAR MENULAR
SUSPEK CAMPAK
• Dalam rangka meningkatkan sensitivitas penemuan kasus suspek campak untuk mencapai eliminasi campak-rubela/CRS ➔ Penemuan kasus suspek campak ditujukan untuk semua kasus DEMAM dan RUAM MAKULOPAPULAR / BERCAK MERAH (SUSPEK CAMPAK) pada SEMUA USIA untuk
dibuktikan BUKAN DISEBABKAN CAMPAK-RUBELA
• Surveilans CAMPAK-RUBELA mencari kasus SUSPEK CAMPAK bukan mencari kasus campak/rubela
MACULAR ATAU
MACULOPAPULAR Papulovesicular Petechiae atau Purpura
JENIS RUAM
DEMAM DAN RUAM CAMPAK
RUBELA
Epstein-Barr virus
Roseola Infantum
Scarlet Fever
Meningococcal infection (early) Early Rocky
Mountain spotted fever Kawasaki
disease Other Viral
Exanthema HFMD
VARICELLA
DENGUE HAEMORRHA
GIC-FEVER
DIAGNOSIS BANDING
DEMAM DAN RUAM
✘ ✘ ✘
DIAGNOSIS INI DAPAT DILAPORKAN SEBAGAI SUSPEK CAMPAK➔ LAKUKANPENGAMBILAN
SPESIMEN SERUM SEBANYAK MINIMAL0,5ML
STRATEGI PENEMUAN KASUS
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK BISA DILAKUKAN RUMAH SAKIT DAN MASYARAKAT
DUA JENIS SURVEILANS
SURVEILANS BERBASIS RUMAH SAKIT (HBS) -
Tugas DINKES KAB./KOTA untuk meyakinkan semua kasus PD3I yang datang ke RS sudah dilaporkan
SURVEILANS BERBASIS MASYARAKAT (CBS) -
Tugas
PUSKESMAS untuk meyakinkan semua kasus PD3I yang datang ke unit-unit pelapor berikut sudah dilaporkan:
• Masyarakat (rumah, kepala desa)
• Puskesmas
• PKK
• Praktek swasta
• Fasyankes lain, bidan
STRATEGI PENEMUAN KASUS
- Sosialisasi dokter, bangsal anak/saraf, poli anak/dewasa/saraf, fisioterapi, UGD.
- Surveilans aktif rumah sakit (SARS) dinkes dan RS
- Review rekam medis (HRR)
- Sosialisasi di masyarakat : pertemuan masyarakat.
- Pelapor-pelapor baru : tokoh agama/adat, kader, kepala kampung, dukun bayi, klinik
dokter/perawat/bidan, dst
- Pelaporan rutin SKDR oleh puskesmas
- Terintegrasi dengan promkes, imunisasi dst
di puskesmas
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI PUSKESMAS
❖ Melakukan penemuan suspek campak dengan gejala demam dan ruam maculopapular di setiap unit yang potensial (poli MTBS, poli KIA, poli umum, bangsal rawat inap, IGD, dll)
➔ dilaporkan dalam waktu 1x24 jam
➔ wajib dilakukan penyelidikan epidemiologi dalam waktu 2x24 jam setelah suspek ditemukan
❖ Hasil investigasi diisi ke dalam Form investigasi kasus suspek campak-rubela (Form MR-01) yang dibuat untuk masing-masing suspek (form individual).
❖ Melibatkan peran aktif kader atau petugas desa siaga dalam pencarian kasus suspek campak di masyakarat dan segera melaporkan ke petugas puskesmas.
❖ Pada saat melakukan penyelidikan epidemiologi: petugas puskesmas juga mencari kasus tambahan lainnya dengan menanyakan apakah ada kasus yang sama di keluarga atau tempat lain.
❖ Jika jumlah kasus suspek campak di suatu wilayah telah memenuhi kriteria KLB suspek
campak ➔ lakukan penanggulangan KLB tanpa menunggu hasil laboratorium kasus suspek campak yang telah diambil spesimen serumnya.
❖ Melakukan verifikasi jika ada rumor/issue di masyarakat, media massa dan atau media sosial dalam
waktu <24 jam sejak sinyal diterima.
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI FASYANKES LAINNYA
❖ Penemuan kasus suspek campak bisa berasal dari Dokter Praktek Mandiri (DPM), bidan praktek swasta (BPS), dan klinik/balai pengobatan lainnya.
❖ Setiap suspek campak yang ditemukan di fasyankes lainnya ➔ harus diinformasikan ke Puskesmas di tempat fasyankes tersebut berkedudukan (puskesmas
setempat) dalam waktu 1x24 jam sejak suspek ditemukan ➔ Informasi dapat disampaikan dalam formulir notifikasi fasyankes melalui mekanisme pelaporan yang ditentukan (WA, email, dsb)
❖ Setelah mendapatkan informasi dari fasyankes swasta ➔Puskemas segera
melakukan investigasi sekaligus pengambilan spesimen (jika fasyankes swasta tidak melakukan pengambilan spesimen serum).
❖ Fasyankes swasta menginformasikan kepada kasus bahwa akan ada petugas
puskesmas yang berkunjung ke rumah kasus ➔ untuk investigasi dan sekaligus
melakukan pengambilan spesimen.
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI RUMAH SAKIT
❖ Penemuan suspek campak dapat berasal dari semua unit yang berpotensi seperti Rawat Inap, Rawat Jalan, Gawat Darurat, NICU/PICU/ICU, Rekam Medis, dll
❖ Contact person di setiap unit terkait menelusuri setiap kasus atau kematian yang
disebabkan oleh bronchopneumonia, diare, ensefalitis. dan lainnya yang merupakan salah satu
komplikasi dari penyakit campak. Jika merupakan komplikasi dari penyakit campak maka
kasus tersebut harus dicatat dan dilaporkan sebagai kasus suspek campak.
PENEMUAN KASUS SUSPEK CAMPAK DI RUMAH SAKIT (2)
Dokter Poli/Bangsal
KASUS
SUSPEK CAMPAK
Petugas Surveilans Rumah Sakit
Dinas Kesehatan Kab/Kota
• Segera, setiap ada suspek:
RS memberikan notifikasi ke Dinkes Kab/Kota
menggunakan form NOTIFIKASI RS/FASYANKES SWASTA
• Mingguan, hari Senin
RS mengirimkan form SARS-PD3I ke Dinkes Kab/Kota
Pasien Masih Dirawat RS
1. Dinkes Kab/Kota (bersama Puskesmas setempat) datang ke RS, melakukan investigasi (isi form investigasi MR01) 2. Nakes di RS melakukan pengambilan
spesimen
3. Dinkes Kab/Kota menjemput spesimen yang sudah diambil oleh RS, dan mengirim ke Dinkes Provinsi/Laboratorium
Pasien Sudah Pulang/Keluar RS
1. Petugas surveilans RS menginfokan alamat dan nomor telpon kasus/orang tua
2. Dinkes Kab/Kota berkooordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan investigasi
(mengisi form investigasi MR01) ke rumah kasus dan pengambilan spesimen
3. Dinkes Kab/Kota dan Puskesmas datang ke RS untuk bertemu dengan dokter/perawat dan melengkapi form investigasi MR01
Penting:
1. Catat kontak person petugas surveilans Dinas Kesehatan Provinsi
2. Adanya WAG khusus Surveilans PD3I di
RS untuk koordinasi lebih cepat
TATA LAKSANA
SATU KASUS SUSPEK CAMPAK ➔ LAKUKAN INVESTIGASI
KLB Suspek Campak/KLB Campak/KLB Rubela dimulai dari 1 kasus SUSPEK CAMPAK
Setiap kasus SUSPEK CAMPAK yang dilaporkan berguna untuk mengidentifikasi terjadinya KLB lebih dini.
KLB SUSPEK CAMPAK
Adanya 5 atau lebih kasus suspek campak dalam waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi
mengelompok dan mempunyai hubungan epidemiologi
PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI MENYELURUH (FULLY INVESTIGATED)
1.Kunjungan rumah ke rumah: Setiap kasus suspek campak dilacak untuk mencari kasus tambahan dan identifikasi kontak
2.Pencatatan setiap kasus menggunakan form MR-01
3.Pengambilan SPESIMEN:
✓ SERUM : pd SEMUA SUSPEK CAMPAK
✓ URINE/USAP TENGGOROK: pd suspek
campak yang ditemukan dalam periode 5 hari sejak onset ruam DAN disertai gejala KHAS CAMPAK (batuk/pilek/conjungtivitis) atau gejala KHAS RUBELA (pembengkakan KGB belakang telinga/nyeri sendi pada wanita
dewasa) ➔ minimal 1 kasus/KaKo/tahun
LAKUKAN
SUSPEK CAMPAK
SEMUA KASUS pada SEMUA USIA dengan gejala DEMAM dan BERCAK MERAH
Penyelidikan Epidemiologi (PE) Menyeluruh (Fully
Investigated)
➢
PE menyeluruh (Fully Investigated) dilakukan pada setiap suspek
campak
➢
Dengan melakukan:
1.
Kunjungan rumah ke rumah
2.
Pencatatan kasus
dalam format individu
3.
Pengambilan spesimen
Kunjungan Rumah ke Rumah
• Setiap rumah dikunjungi seluas perkiraan transmisi (mobilitas, kepadatan penduduk, kondisi yg membatasi wilayah)
• Mis: sekolah penderita dan sekitar rumah anak sekolah tsb
• Tujuan : mencari kasus tambahan, identifikasi kontak, tata laksana kasus dan kontak, review status imunisasi campak-rubela serta
faktor risiko lainnya, edukasi
Pencatatan Individu Menggunakan Form MR-01
• Tanyakan apakah ada yang bergejala demam dan ruam
makulopapular selama 1 bulan terakhir ➔ catat dalam form MR01
• Mencatat kontak di form MR 01
• Tanyakan apakah ada ibu hamil trimester 1 dan 2 ➔ pisahkan (hindari kontak) dengan suspek campak
Pengambilan Spesimen
• Pengambilan SPESIMEN SERUM pd SEMUA SUSPEK CAMPAK
• Pengambilan spesimen URINE/USAP TENGGOROK pd suspek
campak yang ditemukan dalam periode 5 hari sejak onset ruam
DAN disertai gejala khas campak (batuk/pilek/conjungtivitis) atau
gejala khas rubela (pembengkakan KGB belakang telinga/nyeri
sendi pada wanita dewasa)
VARIABEL YANG DITANYAKAN SAAT INVESTIGASI KASUS
FORM MR 01
1. IDENTITAS PASIEN (NAMA, ALAMAT, UMUR, JENIS KELAMIN)
2. TANGGAL MULAI DEMAM / MUNCUL GEJALA RUAM-BINTIK2 (ONSET)
3. KOMPLIKASI
4. RIWAYAT IMUNISASI
5. VITAMIN A
6. RIWAYAT BEPERGIAN DALAM 1 BULAN TERAKHIR
7. INFORMASI KASUS TAMBAHAN
8. PENGAMBILAN SPESIMEN
9. IDENTIFIKASI KONTAK
10. YANG MELAKUKAN INVESTIGASI
TINDAKAN AWAL
1. Lakukan ISOLASI kasus: minimal 7 hari sejak onset ruam
2. Lakukan KARANTINA kontak: minimal 7 hari sejak kontak dg kasus
3. Konsultasi dengan dokter terkait perawatan medis ➔ berikan obat- obatan sesuai anjuran dokter;
4. Siapkan vitamin A ➔ berikan sesuai dosis;
5. Dipakaikan masker untuk menghindari penularan (minimal selama 7 hari sejak munculnya ruam) dan terapkan PROKES & PHBS;
6. Jika muncul komplikasi seperti sesak nafas, demam tetap tinggi diare atau TANDA BAHAYA lainnya ➔ SEGERA BAWA ke Rumah Sakit.
PENGAMBILAN SPESIMEN:
1. Koordinasi dengan petugas laboratorium;
2. Spesimen serum sebanyak ≥0,5 mL diambil sebelum hari ke-28 sejak munculnya ruam;
3. Satu spesimen urine 60 mL /spesimen apus tenggorok diambil pada hari ke-0 sampai ke-5 sejak muncul ruam (terutama kasus suspek campak yang disertai dengan gejala khas campak/rubela)
4. Segera dikirimkan dalam suhu 2-8
OC.
DOSIS VIT A
TANDA BAHAYA
SEGERA BAWA KE RS
UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN INFEKSI CAMPAK-RUBELA
Pasien:
1. Tempatkan di ruangan terpisah dengan pasien lain (ISOLASI) 2. Batasi pergerakan pasien keluar ruang isolasi
3. Jika harus ada pergerakan keluar ruang isolasi ➔ pastikan pasien menggunakan masker medis
Keluarga:
1. Hand hygiene
2. Menggunakan masker jika kontak dengan pasien.
3. Cuci tangan pakai sabun setelah kontak dengan pasien
4. Menggunakan peralatan makan/minum khusus untuk satu pasien (terpisah dengan anggota keluarga lainnya). Lakukan pembersihan dan disinfeksi setelah pemakaian peralatan tersebut.
5. Hindari memegang mata, hidung atau mulut dengan tangan yang terkontaminasi
6. Hindari/cegah kontaminasi pada permukaan-permukaan seperti gagang pintu, tombol lampu, telepon dsb.
Petugas Kesehatan:
1. Hand hygiene
2. Menggunakan ADPD sesuai standar, minimal masker medis dan gloves, jika melakukan pemeriksaan pada pasien.
3. Lepaskan APD sesuai prosedur setelah melakukan pemeriksaan pasien
4. Menggunakan alat-alat sekali pakai atau khusus untuk satu pasien. Jika tidak lakukan pembersihan dan disinfeksi setelah pemakaian dari satu pasien ke pasien lain.
5. Hindari memegang mata, hidung atau mulut dengan gloves yang terkontaminasi atau tanpa gloves.
6. Hindari/cegah kontaminasi pada permukaan-permukaan seperti gagang pintu, tombol lampu, telepon dsb.
PENANGGULANGAN KLB CAMPAK-RUBELA
CAKUPAN IMUNISASI menjadi salah satu penentu utama keberhasilan
penanggulangan PD3I (ERADIKASI/ELIMINASI/PENGENDALIAN) atau masih tetap ENDEMIS dan menimbulkan KLB ➔ dibuktikan melalui Surveilans PD3I yang sensitif
TIDAK ADA IMUNISASI ADA IMUNISASI dengan CAKUPAN TINGGI & MERATA
PENULAR RENTAN PENULAR RENTAN PENULAR/SAKIT IMUNISASI RENTAN
Bakteri atau virus SANGAT MUDAH MENULAR
dari PENULAR ke populasi RENTAN (tidak ada imunisasi)
Kelompok RENTAN secara tidak langsung
TERLINDUNGI oleh anak/orang DENGAN IMUNISASI
ORI/Imunisasi massal, Tatalaksana,
Pemberian obat pencegahan (profilaksis) & respon lainnya Situasi jika tdp
Deteksi dini dan surveilans
berjalan dengan baik →
penanganan dini/respon di
komunitas Verifikasi rumor
Situasi jika Terlambat dilaporkan atau tidak dilaporkan ➔ Kasus terus bertambah/Sudah dalam kondisi parah ➔
Risiko kematian tinggi
PERAN SURVEILANS: PENEMUAN DAN PELAPORAN SECARA RUTIN DARI SEMUA FASKES TERMASUK RS
PRINSIP DASAR
PRA-KLB
• Penemuan kasus dini
• Tatalaksana kontak
• Imunisas rutin, kejar/catch- up
KLB
• Penemuan kasus tambahan (fully investigated)
• Tatalaksana kontak erat
• Outbreak Response Immunisazation
POST-KLB
• Penguatan surveilans
• Penguatan imunisasi rutin
• Penguatan komunikasi
risiko
KLB Suspek Campak : Apabila ditemukan lima (5) atau lebih suspek
campak dalam waktu empat (4) minggu berturut-turut dan ada hubungan epidemiologi
KLB Campak Pasti : Apabila hasil pemeriksaan laboratorium minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dari hasil pemeriksaan kasus pada KLB suspek campak atau hasil pemeriksaan kasus pada CBMS
ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dan ada hubungan epidemiologi
KLB Rubela Pasti : Apabila hasil pemeriksaan laboratorium minimum dua (2) spesimen positif IgM rubela dari hasil pemeriksaan kasus pada KLB suspek campak atau hasil pemeriksaan kasus pada CBMS
ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM rubela dan ada hubungan epidemiologi
KLB Mix : Apabila ditemukan minimum dua (2) spesimen positif IgM campak dan minimum dua (2) spesimen positif rubela
DEFINISI OPERASIONAL KLB CAMPAK-RUBELA
KLB dinyatakan berhenti apabila tidak ditemukan kasus baru dalam
waktu dua kali masa inkubasi atau rata-rata satu
bulan setelah kasus terakhir . KLB ditetapkan
oleh kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota, kepala
dinas kesehatan provinsi atau
menteri kesehatan.
Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi atau menteri kesehatan
harus mencabut penetapan daerah dalam keadaan KLB
➔ berdasarkan
kriteria tersebut.
KILAT CAMPAK
DEMAM (PANAS)
DAN
RUAM (BINTIK-BINTIK MERAH)
≥5 KASUS SUSPEK CAMPAK DALAM WAKTU 4 MINGGU BERTURUT-TURUT, MENGELOMPOK
(dalam satu daerah tertentu) DAN ADA BUKTI KONTAK
1. KENALI 2. LAPORKAN 3. TINDAKAN AWAL
PUSKESMAS
SURVEILANS DINAS KESEHATAN
KAB/KOTA
SURVEILANS DINAS KESEHATAN
PROVINSI
SUSPEK CAMPAK JIKA:
KLB SUSPEK CAMPAK JIKA:
SEGERA
1. Lakukan ISOLASI kasus: minimal 7 hari sejak onset ruam2. Lakukan
KARANTINA kontak erat: minimal 7 harisejak kontak dg kasus
3. Konsultasi dengan dokter terkait perawatan medis ➔ berikan obat-obatan sesuai anjuran dokter;
4. Siapkan vitamin A ➔ berikan sesuai dosis;
5. Dipakaikan masker untuk menghindari penularan (minimal selama 7 hari sejak munculnya ruam) dan terapkan PROKES & PHBS;
6. Jika muncul komplikasi seperti sesak nafas, demam tetap tinggi atau diare ➔ SEGERA bawa ke Rumah Sakit.
PENGAMBILAN SPESIMEN:
1. Koordinasi dengan petugas laboratorium;
2. Spesimen serum sebanyak ≥0,5 mL diambil sebelum hari ke-28 sejak munculnya ruam;
3. Satu spesimen urine 60 mL /spesimen apus tenggorok diambil pada hari ke-0 sampai ke-5 sejak muncul ruam (
terutama
kasus suspek campak yang disertai gejala khas campak/rubela)4. Segera dikirimkan dalam suhu 2-8O C.
MR 01
MR 01
KEMENKES
MR 01 MR 02
MR 02
https://bit.ly/SurvCampakRubela
Tantangan dan Solusi Pencegahan MMR
STRATEGI
KOMUNIKASI
Isu Seputar Imunisasi
Pemberitaan yang menghambat peningkatkan cakupan imunisasi
Percakapan negatif di social media (X.com)
Tujuan Strategi Komunikasi
Meningkatkan kesadaran masyarakat Membangun Kepercayaan
Melawan Misinformasi Mendorong Partisipasi Aktif
Menggalang dukungan lintas program,
lintas sektor serta pemangku kebijakan
guna keberhasilan pelaksanaan ORI
Tantangan dalam Komunikasi
Mis-informasi
Akses Informasi Terbatas di Daerah Terpencil
Respon Emosional Masyarakat
Ketidakpercayaan Masyarakat terhadap Imunisasi
Koordinasi Antar Pemangku Kepentingan
Kompleksitas Pesan
Photo byAnna ShvetsfromPexels
PENDEKATAN &
STRATEGI KOMUNIKASI
Komunikasi interpersonal / komunikasi antar pribadi (KAP) merupakan komunikasi tatap muka yang dilakukan dengan membangun suasana menyenangkan dan akrab, mendorong
sasaran untuk berbicara dan mendengarkan, serta mengarah pada komitmen aksi perubahan perilaku.
Kegiatan
o Mendengarkan dengan Aktif:
Dengarkan kekhawatiran masyarakat dan jawab dengan empati.
o Gunakan Bahasa yang Mudah
Dipahami: Sederhanakan istilah medis dan gunakan bahasa sehari-hari.
KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
KOORDINASI PENTAHELIX
Komunikasi dan koordinasi yang melibatkan lima elemen utama (pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media). Kolaborasi membantu
memaksimalkan potensi sumber daya dan keahlian
yang tersedia
ADVOKASI
Merupakan proses mengedukasi, memotivasi, dan mendorong pihak-pihak berpengaruh untuk mengambil tindakan tertentu terkait imunisasi
Kelompok Sasaran Kegiatan
Pemerintah di tingkat
pusat, pemerintah daerah, pemangku kebijakan
Kesehatan; Tokoh agama/masyarakkat
Pertemuan
koordinasi/konsolidasi, Audiensi, lokakarya, simulasi
MOBILISASI SOSIAL,
PELIBATAN MASYARAKAT
Kelompok Sasaran Kegiatan
Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama
Nenek/Kakek, Anggota keluarga, Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb); Tenaga kesehatan, Kader
Sesi Posyandu, kunjungan rumah,
telekonsultasi, kelas ibu hamil, Kelas BKB, pengajian/acara keagamaan, kegiatan komunitas, media sosial dan daring
Termasuk melibatkan dan mendukung partisipasi dari institusi, jejaring komunitas, organisasi sosial/sipil untuk membantu mengubah sikap, struktur, dan norma.
Pendekatan ini juga akan termasuk komunikasi interpersonal.
Kelompok Sasaran Kegiatan
Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama
Nenek/Kakek, Anggota keluarga, Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb); Tenaga kesehatan, Kader
Adanya Juru Bicara; relasi dengan media;
informasi dan edukasi di media massa, media sosial; kegiatan media briefing, konferensi
pers; membuat advertorial
PEMANFAATAN MEDIA DAN TEKNOLOGI
Guna memaksimalkan jangkauan dan dampak, pemberian
informasi didiseminasikan secara berkelanjutan oleh penyampai pesan terpercaya seperti pihak pemerintah, ahli, maupun KOL (key opinion leader).
Kelompok Sasaran Kegiatan
Orang tua (ayah, ibu); pengasuh utama;
Nenek/Kakek, Anggota keluarga,
Tetangga, Kelompok-kelompok sosial dan komunitas (agama, adat, dsb);
Tenaga kesehatan, Kader
Media sosial (Facebook, Tiktok, Instagram, Whatsapp, Youtube); Media komunitas (lagu, drama, tari, story-telling, brosur);
Media massa (televisi, radio, HP, cetak); Outdoor media (wall paintings, billboards/hoardings, bus panels, LED scroll, poster, banner); Testimonial
KOMUNIKASI PUBLIK
Pendekatan komunikasi ini dilakukan untuk mengatasi disinformasi atau informasi meragukan, rendahnya rasa urgensi dan skeptis terhadap efikasi, keamanan, dan manfaat imunisasi; sekaligus sebagai strategi komunikasi krisis
PESAN KUNCI
“Imunisasi segera melindungi keluarga Anda dari penyakit berbahaya. Imunisasi itu aman dan efektif.”
”Cukup percayakan informasi dari sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.”
” Jangan tunda! Vaksinasi sekarang untuk menghentikan penyebaran wabah.”
” Anggota keluarga tidak perlu cemas karena efek
samping imunisasi bersifat sementara dan dapat diatasi dengan mengompres bagian yang bengkak atau
memberikan obat penurun panas saat terjadi demam.”
Catatan:
Pesan Kunci nantinya dapat diadaptasikan dalam Strakom Imunisasi skala lokal sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah
Di skala nasional menggunakan pesan kunci/pemicu, yaitu:
# CegahKLBDenganImunisasi
# LindungiKeluargaDenganImunisasi
# AyoImunisasiLawanKLB
Beberapa contoh pesan kunci untuk dapat
diturunkan di skala lokal :
JURU BICARA
Sesuai dengan UU Kesehatan No.
17 tahun 2023 tentang
Kesehatan,terkait penanggulangan wabah, Jika ada daerah sudah
menetapkan KLB maka harus segera di umumkan kepada publik
JURU
BICARA
73
JURU BICARA
Pusat:
Kementerian / Kementerian Lembaga (Menkes, Es.I/II)
Daerah:
Gubernur, Bupati, Kadinkes
Non Pemerintah:
Pakar, Nakes, tokoh, Influencer
Tugas utama juru bicara dalam
kaitannya dengan
krisis kesehatan ialah sebagai corong
organisasi.
Juru Bicara
• Epidemiologi MMR membantu memahami penyebaran dan faktor risiko.
• Surveilans efektif untuk deteksi dini dan pengendalian penyakit.
• Pencegahan berbasis populasi dengan vaksinasi (herd immunity) adalah kunci keberhasilan.
• Membangun strategi komunikasi efektif sangat diperlukan dalam menurunkan Tingkat risiko kejadian penyakit di masyarakat karena kurangnya informasi dan pemahaman masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit
Kesimpulan
Thank You
Webinar on March 17 th ,2025
Presented by dr. A M Nasir