Modul 9 AKNOP Jaringan Irigasi
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi I-2
Kelemahan OP irigasi ditandai dengan rendahnya prioritas kegiatan OP, kurang konsistennya komitmen pemerintah dalam menangani OP, pembiayaan yang tidak memadai, tidak sesuai dengan Angka Kebutuhan Nyata akan Operasi dan Pemeliharaan ( AKNOP ) dan rendahnya tenaga pelaksana OP baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Perhitungan biaya OP umumnya di hitung berdasarkan luas areal bukan berdasar angka kebutuhan Nyata lapangan sesuai kondisi jaringan yang ada, Akibat dari ini semua sistim OP kurang berjalan sebagaimana mestinya. OP irigasi selalu kurang prioritas dibanding dengan Rehabilitasi dan pembangunan baru. Akibatnya kerusakan infrastruktur irigasi terjadi dan kinerja irigasi menjadi semakin menurun , sehingga perlu dilakukan rehabilitasi lebih cepat dari rencana, Kejadian ini berulang terus. Dan terjadi apa yang dinamakan lingkaran setan (Viscous circle) yang tidak berujung, biaya untuk melakukan rehabilitasi akibat OP yang tertunda jauh lebih besar dibanding biaya OP yang mestinya normal dikeluarkan tiap tahun.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dalam kurun waktu 7 tahun, belakangan telah mengalokasikan dana untuk OP, pada areal yang lebih besar 3000 ha, dengan luas sekitar 2 juta ha, walaupun dana yang tersedia belum sesuai dengan AKNOP, namun dampaknya telah terasa dan terlihat secara fisik di lapangan, dengan cara yang sama kita berharap Provinsi dan Kabupaten/ Kota juga melakukan hal ini, mengapa ? karena sampai saat ini walaupun sudah 8 tahun undang undang mengamanatkan tetapi masih ada Provinsi/Kabupaten/Kota yang belum menindak lanjuti, hal ini terlihat dari jabaran APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, setiap tahun nya , bila mana ini berjalan terus pada OP Irigasi, maka sistim seperti ini tentunya kurang efisien. Akibat lemahnya OP, air irigasi sampai di sawah dalam jumlah yang kurang memadai, berdampak pada menurunnya intensitas tanam dan produktifitas pertanian menjadi rendah. Akhirnya produksi menurun dan ujung- ujungnya pendapatan dan kesejahteraan petani berkurang. Hal ini tentunya tidak boleh dibiarkan terus, karena kinerja irigasi merupakan pendukung utama ketahanan pangan nasional.
Modul 9 AKNOP Jaringan Irigasi
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi I-3
UU No. 11/1982 tentang pengairan yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah No.23/1982 tentang Irigasi,dan Permen PUPR NO.12/2015, tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Irigasi, telah mengamanatkan pentingnya kegiatan OP irigasi dalam rangka menjaga keberlanjutan irigasi dalam rangka menunjang ketahanan pangan nasional.
Bahan serahan ini dipersiapkan untuk diklat OP Irigasi tingkat dasar diperuntukan bagi pejabat setingkat pengamat/staf pada Dinas PU Kabupaten/Kota, Dinas PU Provinsi atau Balai Wilayah Sungai agar yang bersangkutan mempunyai kompetensi dan mampu dalam melaksanakan kegiatan Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi khususnya dalam menghitung angka kebutuhan nyata Operasi dan Pemeliharaan jaringan Irigasi dan Bendung, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal sesuai yang diharapkan.
Dengan demikian materi yang disampaikan sebagai bahan diklat ini mengacu pada Peraturan Menteri PUPR tersebut.
1.2. Deskripsi singkat
Mata pendidikan dan pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan mengenai AKNOP jaringan irigasi pada diklat teknis operasi dan pemeliharaan irigasi tingkat dasar yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab.
1.3. Tujuan Pembelajaran 1.3.1 Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat peserta diklat diharapkan mampu memahami AKNOP jaringan irigasi pada diklat teknis operasi dan pemeliharaan irigasi tingkat dasar.