1
MOTIVASI PETANI DALAM MENANAM TANAMAN HORTIKULTURA DI KENAGARIAN SUNGAI NANAM KECAMATAN
LEMBAH GUMANTI KABUPATEN SOLOK
JURNAL
RIANOVITA NIM 10030166
Pembimbing I
Slamet Rianto, S.Pd, M.Pd
Pembimbing II
Rozana Eka Putri, S.Pd, M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG 2014
2 MOTIVASI PETANI DALAM MENANAM TANAMAN HORTIKULTURA DI
KENAGARIAN SUNGAI NANAM KECAMATAN LEMBAH GUMANTI KABUPATEN SOLOK
(Motivation of Farmers to Grow Horticulture crops in Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok. )
Oleh :
Rianovita* Slamet Rianto** Rozana Eka Putri**
Mahasiswa Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat*
Dosen Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat**
ABSTRAC
The agricultural sector is one of the focus priority of development in Indonesia because most of the population is still engaged in farming. Development of the agricultural sector aims to increase the yield and quality of production, incomes, living standards of farmers, expandss employment and business opportunities and increase exports. This research aims to describe the motivation of farmers to grow horticulture crops in Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok.
This research aims to obtain information about : high price, short production time, the processing of which is not too difficult, not too expensive capital to motivate farmers to grow horticulture crops in Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok. The research used qualitative method with snowball techniques (snowball sampling). Conducting interviews with horticultural farmers in Sungai Nanam, collecting samples in small numbers at first, then enlarged. Like a snowball rolling into big.
From the results of the research is found that a high price, short production time, the management of which is no too difficult, not too expensive capital are motivating farmers to grow horticulture crops in Kenagarian Sungai Nanam. It can be look from the socio-economic life of farmers who have increased from the previous both in the field of education, health, and housing.
Key words: Motivation Farmers Horticulture
PENDAHULUAN
Sektor pertanian merupakan salah satu titik berat pembangunan Indonesia yang merupakan prioritas, karena sebagian besar dari penduduk masih bergerak dalam usaha tani. Pembangunan disektor pertanian disamping bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi, meningkatkan pendapatan, dan taraf hidup petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta meningkatkan ekspor.
Untuk Kecamatan Lembah Gumanti, Kenagarian Sungai Nanam merupakan daerah perkebunan hortikultura yang luas serta produksi yang cukup tinggi. Daerah penghasil tanaman hortikultura terbesar di Kabupaten Solok adalah Sungai Nanam, dari berbagai jenis komoditi masyarakat Nagari Sungai Nanam, hasil komoditi yang terbesar adalah tanaman hortikultura. Hortikultura merupakan salah satu tanaman yang diminati banyak kalangan, baik dari kalangan masyarakat bawah, masyarakat
3 menengah sampai masyarakat kalangan
atas.
Kenaikan pendapatan hasil tanaman hortikultura dari tahun ketahun telah membawa perubahan bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat di Kenagarian Sungai Nanam. Pada kehidupan sosial mereka meningkatkan derajat sosialnya dan lebih dipandang oleh masyarakat.
Kehidupan petani yang awalnya biasa- biasa saja perlahan-lahan mulai meningkat.
Secara umum ekonomi masyarakat di Kenagarian Sungai Nanam sangat ditunjang oleh kondisi dan potensi alam yang ada. Sebelum pertanian hortikultura berkembang, masyarakat di Kenagarian Sungai Nanam kehidupan ekonomi masyarakat masih rendah karena pendapatan mereka tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah pertanian hortikultura berkembang kehidupan masyarakat dari tahun ke tahun sudah nampak kemajuanya. Hal ini dapat dilihat dari kemajuan dalam bidang ekonomi seperti pemilikan barang-barang mewah, pemilikan rumah yang permanen, perbaikan kualitas pendidikan. Kehidupan sosial masyarakat Sungai Nanam telah memiliki beberapa organisasi seperti Organisasi Pemuda, Perkumpulan Kelompok Tani, persatuan sepak bola disetiap jorong.
Perekonomian masyarakat di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan lembah Gumanti Kabupaten Solok mengandalkan tanaman hortikultura sebagai pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Perekonomian petani ini mulai maju dari tahun 2000 sampai sekarang ditunjang oleh pertanian hortikultura yang mengakibakan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Hal ini disebabkan juga karena sebagian besar masyarakat Sungai Nanam mata pencahariaannya petani hortikultura, meskipun ada yang berprofesi sebagai pegawai negri namun setelah melaksanakan tugas wajibnya mereka pergi ke ladang untuk bekerja mengurus tanaman hortikultura sebagai pemenuhan kebutuhan tambahan. Mata
pencaharian hortikultura ini tidak hanya saja menguntungkan bagi orang yang mampu bertani tetapi juga bagi anak sekolahan (SD, SMP, SMA), contohnya pada salah satu jenis tanaman hortikultura bawang merah. Mereka juga bisa menghasilkan uang sendiri dengan cara membersihkan bawang dari urat dan kulit luar bawang (maurek/maloseh bawang) di rumah sendiri atau di rumah tetangga dengan upah yang telah ditentukan perkilonya oleh pemilik bawang, pekerjaan ini mereka lakukan diwaktu luang setelah pulang sekolah dan juga malam setelah belajar dan sebelum tidur dan juga pada liburan sekolah.
Pada observasi awal, menurut Martius (umur 56 tahun), hortikultura memang cocok di tanam di daerah dingin seperti di daerah kita ini dengan modal dan pengelolaan yang tidak terlalu sulit, pertanian hortikultura telah berkembang sejak tahun 2000 sampai sekarang, dengan bertani hortikultura ini taraf hidup telah baik dari sebelumnya, dengan tanaman hortikultura ini bisa menyekolahkan anak- anak kesekolah yang lebih tinggi, tanaman hortikultura ini dalam setiap jenis memiliki keunggulan masing-masing, contohnya bawang merah setelah dipanen untuk membersihkannya dibantu oleh orang lain dan nantinya mereka dapat upah sedangkan bagi pemilik bawang untungnya itu bisa di tabungkan, seledri dipanen dua kali dalam seminggu untuk memenuhi kebutuhan dapur perminggunya, selada bisa ditanam ditepi-tepi tanaman cabe, sebelum buah cabe dipanen maka selada sudah bisa dipanen dalam jangka waktu yang pendek dan dijual kepasar untuk kebutuhan sehari-hari.
Sehubungan dengan masalah tersebut penulis tertarik melakukan penelitian “ Motivasi Petani Dalam Menanam Tanaman Hortikultura di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok”
4 METODOLOGI PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah, jenis penelitian ini tergolong kedalam penelitian kualitatif yang bermaksud untuk memahami masalah atau gejala yang dialami oleh subjek penelitian yang dilakukan secara natural dan alamiah.
Fokus masalah dalam penelitian ini adalah motivasi petani dalam menanam tanaman hortikultura di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok.
Penelitian ini dilakukan di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok dengan subjek penelitian yaitu orang-orang yang terlibat dengan pertanian khususnya petani hortikultura di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok dengan informan penelitan yang diambil secara Snowball Sampling, yaitu teknik pengumpulan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar.
Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya sehingga jumlah sampel semakin banyak (Sugiyono, 2013).
HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan informan penelitian, serta dilihat dari fokus masalah penelitian yaitu bagaimana motivasi petani dalam mengusahakan tanaman hortikultura di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan
Lembah Gumanti Kabupaten Solok dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama : Kesejahteraan petani di Kenagarian Sungai Nanam tergantung pada harga yang tinggi. Semenjak tanaman hortikultura mulai berkembang kehidupan sosial ekonomi masyarakat mulai meningkat, hal ini ditandai dengan sudah banyak anak petani hortikultura yang telah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan juga dilihat dari segi perumahan yang telah banyak memiliki rumah permanen.
Berbicara mengenai gaya hidup suatu masyarakat tidak terlepas dari keadaan ekonomi masyarakat. Masyarakat Nagari Sungai Nanam yang berprofesi sebagai petani hortikultura, walaupun masih ada yang berprofesi sebagai pedagang, Pegawai Negeri Sipil (PNS), buruh, tukang ojek, tetapi hanya dalam skala kecil. Pada umumnya masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani hortikultura.
Rumah merupakan tempat berkumpulnya anggota keluarga dan merupakan tempat untuk melangsungkan proses kehidupan baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai tempat bermusyawarah. Sebelum tahun 2000 rumah yang ada di Kenagarian Sungai Nanam pada umumnya masih terbuat dari kayu, hanya sebagian kecil rumah masyarakat yang sudah permanen.
Pada tahun 2013 rumah penduduk sudah banyak yang permanen dan semi permanen yang berawal dari rumah kayu yang mereka tempati. Perubahan itu dikarenakan mereka telah mendapatkan penghasilan dari pertanian hortikultura.
Meskipun masyarakat mengalami gagal panen dan harga pertanian hortikultura tidak menentu setiap tahunnya tapi masyarakat tidak pernah putus asa untuk
5 menanamnya. Pada waktu tanaman
hortikultura naik hasilnya sebagian mereka tabung, sehingga mereka mampu membuat rumah yang sudah permanen (rumah yang sudah terbuat dari keramik).
Pengaruh dalam bidang pendidikan di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti dapat dilihat dari banyak anak-anak yang melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi baik di Nagari Sungai Nanam maupun keluar Nagari Sungai Nanam seperti ke Padang, ke Solok, Padang Panjang, Jawa, Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan pendapatan yang diperoleh dari pertanian hortikultura mereka dapat menabung sedikit demi sedikit sehingga anaknya dapat mendapatkan sekolah yang diinginkannya.
Seperti yang telah diuraikan oleh Alex S. Nitisemito (1991: 55), Harga diartikan sebagai nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut seseorang atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimiliki kepada pihak lain.
Kedua : Selain harga tanaman hortikultura yang tinggi, waktu produksi yang pendek juga merupakan motivasi bagi petani. Meskipun harga suatu produksi tinggi tapi kalau waktu untuk produksinya lama maka ketahanan labanya tidak akan lama, berbeda jika harga tinggi dan waktu produksinya pendek maka petani bisa menabungkan uangnya.
Dibandingkan waktu produksi padi, memang waktu produksi tanaman hortikultura sangat mendukung untuk keberhasilan petani, rata-rata umur tanaman hortikultura tiga bulan dan ada yang kurang dari tiga bulan seperti selada, dengan demikian maka petani bisa menerima hasil empat kali dalam setahun.
Petani sangat memanfaatkan waktunya
untuk pengolahan tanaman hortikultura seperti kalau sudah panen maka petani secara cepat melakukan pengolahan yang baru, untuk hasil yang maksimal agar tanaman hortikultura subur dan bagus maka petani sekali-kali melakukan penanaman tanaman yang berbeda dari yang sebelumnya.
Kebiasaan petani dalam menerima hasil yang cepat bukan saja menabung dari sega uang tetapi juga beras, gula, minyak goreng, telur, tepung dan lain sebagainya, hal ini mengantisipasi kalau suatu saat panen bisa saja macet apalagi kalau menghadapa bulan ramadhan maka petani tidak perlu risau lagi.
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.
Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Skala waktu diukur dengan satuan detik, menit, jam, hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu), bulan (Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember), tahun, windu, dekade (dasawarsa), abad, milenium (alaf) dan seterusnya.
Ketiga : Mengerjakan pekerjaan sehari-hari petani pemilik dan petani pekerja bersatu dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam proses pertanian hortikultura ini ada dua cara yang dilakukan oleh petani yaitu dilakukan sendiri dan mempekerjakan orang lain sesuai dengan luas lahan yang dimiliki petani, bagi petani yang memiliki lahan yang sempit hanya dilakukan sendiri yang dibantu oleh anggota keluargannya, dan bagi petani yang memiliki lahan luas
6 dikerjakan dengan mempekerjakan orang
lain dengan pemberian upah.
Ada pengelolaan yang dilakukan masyarakat seefisien munkin agar menghemat waktu dan modal seperti penanaman anak seledri di tengah-tengah baris bawang, penanaman anak seledri ini pada saat umur bawang separuh, setelah bawang dipanen maka seledri juga hampir bisa dipanen, dan ada juga seperti penanaman bawang prai di ujung-ujung guludan bawang merah, penanaman ini dilakukan kalau penanama bawang merah tidak menggunakan plastik mulsa. Contoh lain seperti penanaman selada di pinggir- pinggir batang tomat, menjelang tomat dipanen maka selada sudah bisa di panen duluan karena umurnya yang pendek.
pengelolaan dalam proses produksi lainnya terlihat dari keikutsertaan. anak-anak petani dalam membantu seperti pemotongan daun bawang dari umbinya.
Mereka ikut bekerja setelah pulang sekolah dan waktu libur.
Seperti yang dikatakan oleh (Murniati) pengelolaan adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan semua sumber daya, baik manusia maupun teknikal, untuk mencapai berbagai tujuan khusus yang ditetapkan dalam suatu organisasi.
Keempat : Sedikit banyaknya modal tidak menghalangi usaha petani dalam menanam tanama hortikultura karena dalam usaha tanaman hortikultura tidak memerlukan modal terlalu besar, hal ini bisa dilihat pada penanaman wortel, modal yang dibutuhkan hanya pembelian benih, sedikit pupuk, dan satu kali penyemprotan hama. Setelah itu petani hanya mencabut gulma dan menunggu-nunggu waktu panen saja, kalau tanaman wortel tersebut tumbuh dengan selamat maka untungnya cukup besar. Seperti modal yang diuraikan
oleh Subroto dalam Aulia (2008) adalah segala benda atau alat buatan yang digunakan untuk memperlancar proses- proses produksi yang menghasilkan barang atau jasa. Modal menurut bentuknya dibagi modal barang dan modal berbentuk barang atau selain uang.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pemahaman dalam penelitian mengenai motivasi petani dalam mengusahakan tanaman hortikultura di Kenagarian Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Harga yang tinggi sangat memotivasi petani dalam menanam tanaman hortikultura. Dengan harga yang tinggi kehidupan masyarakat di kenagarian Sungai Nanam sudah meningkat, hal ini dapat dilihat dari gaya hidupnya, dimana mereka sanggup membeli barang-barang mewah seperti mobil, sepeda motor, peralatan rumah tangga yang canggih, mendirikan rumah yang permanen, dan mampu menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi.
2. Waktu produksi yang pendek sangat memotivasi petani dalam menanam tanaman hortikultura. Untuk mencapai hasil yang maksimal petani memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk bercocok tanam agar petani bisa panen empat kali dalam satu tahun, waktu produksi yang pendek tidak terlalu banyak memboroskan dalam pemakaian pestisida maupun pupuk, dan waktu.
3. Pengelolaan yang tidak terlalu sulit sangat memotivasi petani dalam
7 menanam tanaman hortikultura,
dengan demikian petani tidak ada beban maupun rintangan untuk menanam tanaman hortikultura dan pengelolaan yang tidak telalu sulit juga sebagai penyemangat bagi petani dalam berusaha.
4. Modal yang tidak terlalu mahal sangat memotivasi petani dalam menanam tanaman hortikultura. Menanam tanaman hortikultura tidak membutuhkan biaya yang tinggi atau mahal, dengan demikian tidak menyulitkan bagi para patani untuk bertani.
Saran
1. Disarankan kepada petani hortikultura lebih ditingkatkan lagi kualitas tanaman hortikultura agar harganya tetap tinggi
2. Disarankan kepada petani hortikultura waktu kerjanya lebih disiplin agar panennya bisa empat kali dalam satu tahun.
3. Disarankan kepada petani hortikultura untuk lebih giat dan bersungguh- sungguh dalam pengelolaan agar pengelolaan tanaman hortikultura lancar.
4. Disarankan kepada petani hortikultura supaya hasil penjualan disimpan untuk memenuhi kebutuhan dan untuk modal selanjutnya.
5. Disarankan kepada pemerintahan untuk membuat kebijakan terhadap pertanian hortikultura agar hasil pertanian lebih maksimal lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Firdaus, Muhammad. 2010. Manajemen Agribisnis. Jakarta : Bumi Aksara Hadi. Rahmini., & Parno, 2011.
Manajemen Keuangan: Konsep, Teori dan Praktiknya di
Sekolah Dan Pondok Pesantren.
Purwokerto : STAIN Press.
Hasibuan, Malayu. 2007. Manajemen:
dasar, pengertian, dan masalah.
Jakarta : Bumi Aksara.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997.
(http://id.answers.yahoo.com/queston /index?qid=20080710191323LlSa diakses 5 Februari 2014)
Lensufiie, Tikno. 2010. Leadership untuk Professional dan Mahasiswa.
Erlangga.
Moleong, J Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Remaja Rosdakarya.
Najmudin. 2011. Manajemen Keuangan dan Akuntansi Syar’iyyah Modern.
Yogyakarta : Andi.
Poli. Carla. dkk. 1997. Pengantar Ilmu Ekonomi I Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&B.
Bandung : Alfabeta.
Tika, Moh. Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Bumi Aksara.
Yusuf, A. Muri. 2007. Metode Penelitian:
Dasar-dasar Penyelidikan Ilmiah.
Padang : UNP Press.
Zulkanain, 2010. Dasar-dasar Hortikultura. Jakarta : Bumi Aksara.