BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam. Sekitar 30000 jenis tumbuhan yang telah di identifikasi dan 950 jenis diantaranya diketahui memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat, suplemen makanan, kosmetik dan nutrisi (BPOM RI, 2012). Kosmetik merupakan bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (Chan, 2016).
Dewasa ini pemanfaatan sabun sebagai pembersih kulit makin menjadi trend dan beragam. Keragaman sabun yang dijual secara komersial terlihat pada jenis, warna, wangi dan manfaat yang ditawarkan. Berdasarkan jenisnya, sabun dibedakan atas dua jenis yaitu sabun padat (batangan) dan sabun cair.
Kulit yang kotor seharian, jika tidak dibersihkan maka bakteri akan mudah menginfeksi. Penambahan bahan berkhasiat pada sabun diharapkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri lebih efektif.
Kebersihan merupakan hal yang sangat penting karena semakin banyaknya penyakit yang timbul karena bakteri dan kuman dan hal-hal lain yang membuat tubuh menjadi kotor. Bahkan di zaman sekarang ini sabun bukan hanya digunakan untuk membersihkan diri, tetapi juga ada beberapa sabun yang sekaligus berfungsi untuk melembutkan kulit, memutihkan kulit, maupun
menjaga kesehatan kulit. Dalam pembuatan sabun sering digunakan bermacam-macam lemak ataupun minyak sebagai bahan baku. Jenis-jenis minyak ataupun lemak yang digunakan dalam pembuatan sabun ini akan mempengaruhi sifat-sifat sabun tersebut, baik dari segi kekerasan, banyaknya busa yang dihasilkan, maupun pengaruhnya bagi kulit (Maripa 2018).
Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut padat (batang) karena sejarah dan bentuk umumnya. Keunggulan dari sabun padat yaitu lebih ekonomis, lebih cocok untuk kulit berminyak, kadar pH lebih tinggi dibandingkan dengan sabun cair, lebih mudah membuat kulit kering, sabun padat ini juga memiliki kandungan gliserin yang bagus untuk mereka yang punya masalah kulit (Effendi, 2019).
Buah apel yang merupakan salah satu jenis buah yang disukai oleh kebanyakan orang. Rasa manis dan segar dari buah apel membuat banyak orang menyukai walaupun mungkin tanpa menyadari khasiat buah apel itu sendiri Buah apel mengandung zat antioksidan alami yang sangat bagus untuk kesehatan kulit dan mata. Dari buah yang matang ini dihasilkan cuka apel yang bisa digunakan untuk meremajakan sel kulit. Sementara dalam bentuk jus, buah apel memiliki khasiat yang sama pentingnya dengan jus bayam yaitu sebagai anti keriput. Dalam hal ini, jus apel bisa menjadi minuman alternatif guna mengatasi sembelit.
1.2 Rumusan Masalah
Formulasi manakah yang paling baik dari beberapa konsentrasi untuk dijadikan sabun mandi padat Ekstrak Buah apel (Malus domesticus).
1.3 Tujuan Penelitian
Diketahuinya formulasi yang paling baik untuk dijadikan sabun mandi padat Ekstrak Buah apel (Malus domesticus)
1.4 Manfaat Penelitian 1. Untuk peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan memperluas wawasan bagi peneliti supaya bisa dikembangkan lagi dibidang kefarmasian dan khususnya untuk pembuatan formulasi dan evaluasi sediaan sabun mandi padat.
2. Bagi Masyarakat
Buah apel sendiri yang sering dikonsumsi Masyarakat dikarenakan rasanya yang enak, Buah apel sendiri bisa dimanfaatkan sebagai zat aktif untuk pembuatan sabun padat dikarenakan mengandung antioksidan yang tinggi.
3. Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi pengetahuan dan referensi bacaan tentang Ekstrak Buah apel (Malus domesticus). yang dapat dijadikan sebagai sabun mandi padat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Buah Apel
Gambar 2.1
Apel (Malus domestica) merupakan tanaman buah tahunan berasal dari Asia Barat yang beriklim sub tropis. Apel dapat tumbuh di Indonesia setelah tanaman apel ini beradaptasi dengan iklim di Indonesia, yaitu iklim tropis (Baskara, 2010). Penanaman apel di Indonesia dimulai sejak tahun 1934 dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga sekarang. Apel di Indonesia dapat tumbuh dan berbuah baik di dataran tinggi, khususnya di Malang (Batu dan Poncokusumo) dan pasuruan (Nongkojajar), jawa timur (Fajri, 2011). Tumbuhan apel dikategorikan sebagai salah satu anggota keluarga mawar-mawaran dan mempunyai tinggi batang pohon dapat mencapai 7-10 meter. Daun apel sangat mirip dengan daun tumbuhan bunga mawar. Berbentuk bulat telur dan dihiasi gerigi- gerigi kecil pada tepiannya (Anonim, 2010).
2.1.1 Klasifikasi Buah Apel (Malus domestica)
Gambar 2.2 Regnum : plantae (tumbuhan)
Divisi : magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : magnoliopsida (tumbuhan dikotil) Ordo : rosales
Famili : rosaceace Bangsa : maleae Genus : malus
Spesies : malus domestica
Buah apel mempunyai bentuk bulat sampai lonjong bagian pujuk buah berlekuk dangkal, kulit agak kasar dan tebal, pori-pori buah kasar dan renggang tetapi setelah tua menjadi halus dan mengkilap. Warna buah hijau, hijau kemerah- merahan, hijau kekuning-kuningan, hinjau berbintik-bintik, merah tua dan sebagiinya sesuai dengan variatesnya. Bijinya ada yang berbentuk panjang dengan ujung meruncing, ada yang berujung bulat dan tumpul, ada pula yang bentuknya antara pertama dan kedua (Handayani dan Prayitno, 2009)
Buah ini merupakan buah yang tahan lama dari pada buah- buah lainnya (umur petik 114 hari umur dan umur pemasaran/penyimpanan 21-28 hari). Buah apel yang telah disimpan memiliki rasa yang lebih enak, dari pada saat dipetik dari kebun tetap mengalami pernafasan dan penguapan, maka apabila dibiarkan buah akan masak, lewat masak dan busuk, proses ini disebut respirasi (Bambang, 2005)
2.1.2 Senyawa Antioksidan Pada Buah Apel
Antioksidan merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain.
Oksidasi adalah reaksi kimia yang dapat menghasilkan radikal bebas, sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel.
Antioksidan seperti tiol atau asam askorbat (vitamin C) mengakhiri reaksi berantai ini.
Apel mendapat perhatian khusus karena komposisi kimianya, terutama karena karakteristik antioksidannya. Di antara berbagai kelompok antioksidan alami, senyawa fenolik merupakan unsur utama yang bertanggung jawab atas sifat antioksidan apel.
A. Vitamin
Apel merupakan sumber yang kaya akan vitamin, terutama vitamin C dan E. Dari segi kandungan vitamin C, apel menempati peringkat kedua buah tertinggi setelah cranberry.
Konsentrasi vitamin C berkisar antara 2 hingga 35 mg/100 g berdasarkan varietas apel, dan ditemukan dalam dua bentuk
pada apel, yaitu asam askorbat dan bentuk teroksidasinya, asam dehidroaskorbat. Vitamin C telah dilaporkan memiliki sifat antioksidan dengan aktivitas menangkal radikal bebas sebesar EC50 = 0,35 (di sini EC50 adalah konsentrasi yang diperlukan untuk memperoleh efek antioksidan 50%). Di sisi lain, vitamin E sebagian besar terdapat pada biji apel. Hasilnya, pomace apel merupakan sumber yang kaya akan vitamin E, dan ditemukan bahwa konsentrasi vitamin E dalam pomace apel adalah 5,5 mg/100 g dengan aktivitas menangkal radikal bebas EC50 = 0,30. Vitamin lain yang ditemukan dalam apel adalah vitamin B12 dan vitamin D, namun jumlahnya sangat sedikit.
B. Senyawa Fenolik
Senyawa fenolik merupakan salah satu golongan metabolit sekunder tumbuhan terbesar yang memiliki fungsi biologis pada manusia. Mereka mengandung satu atau lebih cincin aromatik dalam struktur molekulnya dengan satu atau lebih gugus hidroksil, yang bertanggung jawab untuk menunjukkan fungsi biologis. Hingga saat ini, lebih dari 60 senyawa fenolik telah ditemukan dalam apel, yang sebagian besar terdiri dari asam fenolik dan flavonoid.
Gambar 2.3 Senyawa Fenolik apel
Asam Fenolik
Asam fenolik merupakan komponen utama yang termasuk dalam kelompok senyawa fenolik non-flavonoid.
Mereka adalah asam aromatik dengan cincin fenolik dan asam karboksilat organik (kerangka C6-C1). Mereka juga dikenal sebagai asam fenol karboksilat. Menurut klasifikasinya, ada dua jenis utama: asam hidroksibenzoat (C6-C1) dan asam hidroksisinamat (C6-C3).
Asam hidroksibenzoat merupakan turunan dari asam benzoat, ditemukan pada buah-buahan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi (ester atau glikosida) tetapi dapat juga terdapat dalam bentuk bebas. Umumnya terikat pada komponen dinding sel (seperti selulosa atau lignin atau bahkan membentuk kompleks protein) yang dapat dihubungkan dengan gula atau asam organik. Contoh asam hidroksibenzoat yang terdapat dalam apel termasuk asam galat, asam protocatechuic, asam vanillic, dan asam syringic. Di sisi lain, asam hidroksisinamat jarang tersedia dalam bentuk bebas dan sebagian besar terdapat dalam bentuk terkonjugasi (glikosilasi atau ester). Asam hidroksisinamat yang paling banyak dilaporkan ditemukan dalam apel adalah asam kuinat dan asam caffeic, dan perkiraan kisarannya adalah 4 hingga 18% dari total senyawa fenolik berdasarkan varietas apel. Selain itu, 5′-
caffeoylquinic atau asam klorogenat, p-coumaroylquinic, dan p-coumaric juga terdapat dalam apel. Mereka lebih banyak terdapat pada kulit apel dibandingkan dengan daging apel
Flavonoid
Apel diperkaya dengan flavonoid. Di antara delapan subkelas flavonoid, apel terutama mengandung empat subkelas, yaitu flavonol (71–90%), flavanol-3-ols (1–11%), antosianin (1–3%), dan kalkon/dihidrokalkon (2–6%).
Flavonol yang paling melimpah ditemukan dalam apel adalah quercetin glikosida (dengan quercetin 3-glikosida), sedangkan katekin, epikatekin, dan procyanidin B2 adalah senyawa utama yang termasuk dalam flavan-3-ols (terutama terdapat dalam kulit dan daging buah apel). Subkelompok ketiga “antosianin” mencakup sianidin 3-galaktosida, yang paling banyak terdapat pada kulit apel merah karena bertanggung jawab atas warna merah. Contoh senyawa fenolik yang termasuk dalam dihidrokalkon adalah phlorizin dan phloretin. Senyawa ini lebih banyak terdapat pada biji apel dan pomace apel dan terutama ditemukan dalam bentuk terkonjugasi (terkait dengan kandungan gula buah, seperti glukosa dan xyloglucan)
2.2 Definisi Sabun Padat
Gambar 2.4 Sabun Batang 2.2.1 Definisi Sabun Padat
Sabun padat adalah alat kebersihan diri dengan penggunaan tubuh dalam keadaan basah, yang dibuat dari simplisia daun pule atau bahan kimia lain untuk menjaga kesehatan kulit dan aroma harum tubuh. Manfaat yang di dapat dari penggunaan sabun padat yaitu badan menjadi segar, bersih dan halus. Penggunaan sabun padat di waktu-waktu pagi dan sore akan memberikan efek segar, dengan begitu pengguna akan merasakan suasana semangat dan pengguna akan lebih terlihat berseri-seri. Sabun adalah pencampuran antara garam natrium dan kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau minyak hewani (Khuzaimah, 2018).
Banyak jenis sabun yang dipasarkan, mulai dari sabun padat, sabun cair, dan sabun kertas yang baru-baru ini lagi ngetrend di media sosial (Silviyati dkk., 2021). Sabun padat umumnya lebih
diminati dari sabun-sabun jenis lainnya, hal tersebut dikarenakan sabun padat relative lebih murah dengan penggunaan yang tidak begitu mudah aus atau boros.
Setiap jenis sabun harus melewati tahap pengujian kadar pH, hal ini cukup riskan bila sabun yang kita gunakan memiliki risiko efek samping pada kulit. Pengujian pH nantinya bisa mengevaluasi pada formulasi dan produk agar bisa menghasilkan produk sabun yang memiliki efek aman dan segar pada kulit.
Syarat standar mutu pH untuk sabun mandi berkisar antara 8-11 (SNI, 2016).
2.2.3 Tinjauan Sabun
Sabun merupakan pencampuran alkali garam natrium atau kalium dari asam lemak nabati atau hewani. Badan Standarisasi Nasional menyatakan bahwa sabun merupakan benda yang digunakan untuk mencuci, mengemulsi yang terdiri atas susunan asam lemak dengan rantai carbon C12 dan C18 dan sodium atau potassium (BSN, 2016).
Gambar 2.5 Reaksi Saponifikasi
Permukaan kotoran yang kebanyakan terlapisi minyak sukar untuk dibersihkan. Akan mudah jika hal tersebut diemulsikan
dengan air terlebih dahulu. Sabun yang dihasilkan melaui proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam NaOH (minyak dipanaskan dengan NaOH) sampai terhidrolisis sempurna (Roza & Laksanawati, 2018).
Asam lemak yang berikatan dengan natrium dengan natrium ini dinamakan sabun.
2.2.4 Metode Pembuatan Sabun Padat
Metode pembuatan sabun padat sebenarnya bermacam- macam. Ada beberapa teknik sederhana yang mudah dilakukan dalam pembuatan sabun padat. Perbedaan teknik pembuatan sabun hanya terletak pada suhu yang digunakan.
1. Metode Cold Process
Metode ini merupakan yang cukup sederhana dan mudah, tidak membutuhkan suhu yang tinggi. Pencampuran minyak dengan alkali dilakukan saat temperature keduanya berada pada suhu 32-35 °C. Kemudian dilakukan pengadukkan hingga tercampur sempurna dan mengental. Setelah itu, campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan dan memasuki fase curring. Biasanya memakan waktu kurang lebih 2- 4 minggu untuk benar-benar siap digunakan dan proses saponifikasi sudah selesai (Cahyarani dkk., 2022). Metode ini menghasilkan sabun dengan tekstur yang halus. Sabun yang dihasilkan oleh metode cold process hanya berupa sabun padat.
2. Metode Hot process
Metode hot process merupakan variasi dari metode cold process. Pada saat campuran sudah sempurna dan mengental, campuran tidak langsung dimasukkan ke cetakan. Tetapi dipanaskan. Tetapi dipanaskan terlebih dahulu untuk memaksa proses saponifikasi. Kelebihan dari metode ini yaitu sabun sudah aman untuk langsung digunakan. Fase curring tidak berlangsung lama hanya sekitar 1-2 minggu.
Menghasilkan sabun yang memiliki tekstur agak kasar. Untuk menghasilkan sabun cair, sabun padat transparan dan sabun cream biasanya menggunakan metode hot process (Ohello, 2022).
2.2.5 Bahan Dasar Pembuatan Sabun Padat
Apel (Malus domestica)
Apel mengandung antioksidan alami yang sangat baik untuk kesehatan kulit dan mata serta apel yang dapat digunakan untuk meremajakan sel-sel kulit, sehinngga ini digunakan sebagai sumber tambahan dalam pembuatan sabun padat.
Minyak Zaitun (oleum oil)
Pemerian : Cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau lemah, tidak tengik, rasa khas.
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah larut dalam klorofom P, eter P, dan dalam eter minyak tanah P.
Khasiat : untuk melembabkan kulit (19).
Asam Stearat
Asam stearat adalah zat padat keras mengkilat menunjukkan sususan hablur, putih atau kuning pucat milik lemak lilin. Praktis tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol (96%). Pada proses pembuatan sabun, asam stearat berfungsi untuk mengeraskan dan menstabilkan busa.
Gliserin (C3H8O3)
Gliserin merupakan cairan seperti sirop, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa panas, dan higrokopis. Sinonimnya gliserol, glicerolum, 1,2,3-propanetriol. Gliserin larut bila dicampur dengan air, dan etanol (95%), praktis tidak larut dalam kloroform, dalam, etanol dan minyak lemak. Gliserin berfungsi sebagai pelembab pada kulit.
NaOH (Natruim Hidroksida)
NaOH (Natrium Hidroksida) merupakan bentuk batang, butiran, massa lebur atau keping, kering,
keras, rapuh dan menunjukkan sususan hablur putih mudah meleleh basah. Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (96%). Natrium hidroksida bereaksi dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi.
Etanol
Etanol (etil alkohol) berbentuk cair, jernih dan tidak berwana, merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol pada proses pembuatan sabun digunakan sebagai pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
Texapon
Texapon merupakan bahan kimia yang mampu mengangkat lemak dan kotoran atau zat yang bersifat surfaktan sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sabun.
Parfum
Parfum bertujuan untuk menutupi aroma dari percampuran bahan kimia aktif lainnya, pewangi tambahan juga dapat berfungsi untuk memposisikan sebuah brand dengan cara tertentu, misalnya seperti menarik perhatian konsumen agar mudah dikenali atau membedakan produk mereka dari produk lainnya.
2.3 Hipotesis
Ternyata Buah apel (Malus domestica) kaya sangat akan kandungan antioksidan. Dimana kandungan antioksidan bagus untuk melawan radikal bebas pada tubuh manusia Apel mendapat perhatian khusus karena komposisi kimianya, terutama karena karakteristik antioksidannya