• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUNDARDJITO, CAGAR BUDAYA DAN IDENTITAS BANGSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "MUNDARDJITO, CAGAR BUDAYA DAN IDENTITAS BANGSA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

MUNDARDJITO, CAGAR BUDAYA DAN IDENTITAS BANGSA

Gutomo Bayu Aji*1, Sucoro Setrodiharjo2 Peneliti pada Pusat Riset Kependudukan, IPSH-BRIN1;

Budayawan, Pengasuh Ruwat Riwat Borobudur2 E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Arkeologi lingkungan terutama pada hubungan antara cagar budaya, lingkungan dan kebudayaan. Tesis itu ia kembangkan dalam diskursus akademik yang beroperasi di lingkungan akademis, birokrat dan komunitas masyarakat. Sikap intelektualnya sangat jelas dimana ia berdiri tegak diantara keroposnya bangunan karakter bangsa Indonesia. Pandangannya tentang pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya paralalel dengan beberapa pandangan akademisi, antara lain Cagmani yang mengemukakan pendekatan endogen serta Tanudirjo yang melihat cagar budaya tidak terlepas dari dinamika budaya kontemporer dan lanskap sosialnya.

Kata Kunci: Mundardjito, Arkeologi lingkungan, cagar budaya, lingkungan, kebudayaan, pelestarian, pembangunan

ABSTRACT

This paper presents Mundardjito's role as an academic-cum-intellectual in the field of Archeology. His role in the development of the discipline of Archeology can be traced from his dissertation related to space-archeology which is influential in environmental archeology, especially on the relationship between cultural heritage, environment and culture. He developed the thesis in an academic discourse that operates in academia, bureaucrats and the community. His intellectual outlook is very clear where he stands tall among the porous buildings of the Indonesian nation's character. His views on development with the perspective of preserving cultural heritage are parallel to those of several academics, including Cagmani who put forward an endogenous approach and Tanudirjo who saw cultural heritage as inseparable from the dynamics of contemporary culture and its social landscape.

Keywords: Mundardjito, environmental archeology, cultural heritage, environment, culture, preservation, development

(2)

PENDAHULUAN

Pada 2 Juli 2021 lalu, di saat pandemi Covid-19 masih memenjara dunia, seorang Arkeolog terkemuka di Indonesia meninggal dunia. Dia adalah Mundardjito, seorang akademisi UI, Arkeolog senior, sebagian menjuluki

“bapak Arkeologi”, tetapi juga seorang intelektual yang dekat dengan masyarakat khususnya di sekitar cagar budaya. Dalam sebuah renungan yang digelar secara online tidak lama setelah kepergiannya itu, tampak tidak hanya para Arkeolog baik kolega maupun murid-muridnya, tetapi juga kalangan Sejarawan, Antropolog, Arsitek serta wartawan. Renungan itu setidaknya menunjukkan luasnya interaksi Mundardjito di dunia akademis yang ia geluti, yang tidak tersekat pada batas-batas disiplin.

Mundardjito, setelah gurunya, Sukmono, mungkin sosok-sosok Arkeolog yang sulit dicari kualitas serta karakter pribadinya sekarang ini. Selain meraih jabatan tertinggi di dunia akademis, yang tentu profesor dengan gaya lama: otoritatif sekaligus kebapakan, tetapi juga advokat cagar budaya yang gigih. Ia hampir selalu berdiri paling depan, dengan nada yang lembut tetapi tegas, ketika harus berhadapan dengan kasus-kasus penyalahgunaan cagar budaya. Tidak jarang pula ia harus berhadapan langsung dengan para penguasa pemerintahan, para birokrat ataupun orang di lingkaran istana.

Tidak hanya terjun di gelanggang kebijakan, ia juga paling sering terlihat

“turun gunung”. Pribadinya yang sederhana, berpenampilan seperti rakyat biasa, memudahkan ia bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat termasuk masyarakat bawah khususnya di kawasan cagar budaya. Ia memperkenalkan diskursus baru dalam dunia Arkeologi yang bernuansa kerakyatan yaitu Arkeologi publik. Diskursus itu beroperasi, setidaknya di kawasan cagar budaya Muara Jambi, melalui peran komunitas Rumah Menapo.1 Melalui diskursus itu, ruang partisipasi masyarakat dalam pelestarian cagar budaya terbuka lebar.

Dengan gambaran sosok akademisi yang utuh seperti itu, Mundardjito sesungguhnya adalah seorang akademisi-

cum

-intelektual. Ia sering menyebut Arkeolog sebagai detektif masa lalu, yang oleh karenanya agak sepi dari popularitas. Tetapi yang tidak banyak disadari oleh publik adalah bahwa artefak atau benda-benda purbakala yang menjadi obyek detektif itu memiliki arena yang terkait dengan identitas bangsa. Sebagai seorang intelektual, arena ini dimaknai atau bahkan dikonstruksi secara sadar oleh Mundardjito melalui berbagai peran di berbagai lapisan diatas. Dengan kata lain, perhatian Mundardjito sebagai seorang intelektual sesungguhnya tidak berbeda dengan

(3)

perhatian kalangan intelektual yang lain dalam mencapai jalan kemanusiaan di dalam konteks negara-bangsa Indonesia.

Makalah singkat ini berupaya mengetengahkan peranan Mundardjito sebagai seorang akademisi-

cum

-intelektual yang berdiri tegak diantara keroposnya bangunan karakter bangsa itu. Jejak akademis dan intelektualitasnya mungkin bisa dirunut sebagai bukti kegigihannya dalam memaknai dan merekonstruksi identitas bangsa dan mungkin menjadi satu- satunya jalan yang masih bisa disebut otentik dalam menegakkan bangunan karakter bangsa itu. Tiga pilar bangunan karakter bangsa yaitu politik, ekonomi dan budaya bukanlah benda padat yang tidak pudar ataupun terakulturasi dengan identitas budaya lain di era global. Tetapi cagar budaya khususnya artefak atau benda-benda purbakala merupakan bukti otentik dari identitas bangsa ini yang mungkin hanya akan tergerus oleh peristiwa alam, bencana atau tangan manusia.

CAGAR BUDAYA DAN LINGKUNGANNYA

Warisan akademis Mundardjito mungkin bisa ditelusur dari disertasinya di Universitas Indonesia yang berjudul, “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi- ruang Skala Makro” (Mundardjito, 1993). Melalui disertasi itu, ia berpandangan bahwa masyarakat yang meletakkan, mendirikan atau membangun suatu artefak memiliki rasionalitas kebudayaan tertentu, yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam proses pembuatannya. Terutama artefak yang dibuat dari bahan dasar batu dan tanah (bata merah), dibangun atas dasar perhitungan yang matang seperti dalam perhitungan kepadatan tanah, tingkat kemiringan permukaan tanah, serta jarak artefak itu dari sumber air.

Hasil penelitiannya itu memiliki arti penting dalam sejarah perkembangan Arkeologi, setidaknya dalam dua konsep berikut ini. Pertama, istilah artefak tidak bisa lagi dipahami sebagai benda-benda purbakala yang berdiri sendiri atau otonom yang seolah-olah terpisah dari kondisi lingkungan di sekitarnya. Artefak harus dipahami bersama-sama dengan lingkungannya, setidaknya dengan unsur-unsur lingkungan yang diteliti oleh Mundadjito diatas.

Dengan melekatkan artefak pada lingkungannya maka benda-benda purbakala itu, baik dalam satuan maupun kelompok, kemudian bisa dipahami di dalam konteks suatu kawasan lingkungan tertentu yang di dalam Arkeologi dikenal sebagai cagar budaya.

(4)

Konsep cagar budaya yang menggeser artefak sebagai benda-benda purbakala yang bersifat otonom, telah menggeser pendekatan keilmuan di dalam Arkeologi. Pertanyaan penting yang mengemuka disini adalah sejauh mana kawasan cagar budaya itu didefinisikan dan pada batas-batas seperti apa ditentukan? Jawaban atas pertanyaan ini sudah tentu relatif sehingga membutuhkan penelitian di setiap artefak dan cagar budayanya untuk memahami konteks lingkungan di sekitarnya. Kawasan candi Borobudur misalnya, memiliki batas-batas yang berbeda dengan kawasan Majapahit di Trowulan, begitupun di kawasan candi Muaro Jambi. Deangn kata lain, Arkeologi memiliki tantangan yang lebih besar dari pergeseran pendekatan ini.

Selain itu, pergeseran pendekatan keilmuan juga berimplikasi terhadap kebijakan pemerintah terutama dalam pelestarian artefak di suatu cagar budaya. Apabila kebijakan sebelumnya hanya berlaku pada artefak atau sekumpulan artefak, tetapi implikasi dari pergeseran pendekatan ini mengubah kebijakan pada suatu kawasan cagar budaya. Implikasi bisa berdampak serius apabila kawasan yang ditentukan secara keilmuan oleh para ahli Arkeologi meliputi properti milik pihak lain seperti tanah milik individu ataupun tanah negara dalam kawasan hutan, misalnya. Persoalan ini kemudian menjadi kompleks karena melibatkan banyak pihak di dalam pelestarian cagar budaya.

Lebih jauh, pendekatan ini juga berimplikasi pada konep pengelolaan yang tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah melainkan juga oleh pihak-pihak lain yang berhubungan dengan kawasan cagar budaya itu, baik masyarakat setempat maupun lembaga pemeritah serta badan-badan usaha lainnya.

Pengelolaan kawasan candi Borobudur bisa dilihat sebagai contoh kompleksitas pengelolaan yang melibatkan banyak pihak itu, ketika candi tidak lagi dilihat sebagai artefak melainkan sebagai cagar budaya. Konsep pengelolaan kawasan candi Borobudur juga memperlihatkan dua paradigma yaitu pelestarian dan pembangunan, yang menurut Mundardjito tidak saling bertentangan.

Kedua, disertasi Mundardjito juga berkontribusi dalam perkembangan cabang disiplin Arkeologi yaitu Arkeologi lingkungan atau disiplin Arkeologi yang mengkaji cagar budaya bersama-sama dengan lingkungan pendukung disekitarnya. Disini, cagar budaya hampir dipahami seperti sebuah konsep ekosistem. Oleh karena cagar budaya bukan diletakkan di dalam ruang kosong, melainkan di dalam suatu ekosistem dan di dalam suatu kebudayaan tertentu, maka perlu dipahami bersama-sama dengan unsur-unsur yang mendukung lingkungannya. Unsur-unsur itu antara lain tanah, lanskap dan atmosfer serta sumber air yang secara keseluruhan melekat bersama-sama dengan cagar budaya.

(5)

Dengan kata lain, memahami artefak dan cagar budaya sama pentingnya dengan memahami lingkungannya, bahkan kebudayaannya. Keduanya harus dipahami bersama-sama secara utuh sehingga diperoleh pemahaman kebudayaan suatu masyarakat, setidaknya dari sudut pandang Arkeologi lingkungan. Bagaimanapun, lingkungan dan kebudayaan dari masyarakat pendukungnya merupakan aspek penting dalam pembangunan benda-benda purbakala yang monumental, religius, memiliki fungsi ritual dan pada umumnya dibuat dengan visi lintas generasi atau bahkan lintas peradaban.

Upaya Mundardjito yang melampaui Arkeologi sebagai disiplin ilmu yang mempelajari benda-benda purbakala itu telah membuka sekat Arkeologi dari kotak yang sempit ke susunan kotak yang luas tetapi juga rumit, yang harus ditemukan relasi-relasinya bersama-sama dengan disiplin ilmu lain. Di sini, Mundardjito telah membawa Arkeologi dari pendekatan disiplin ke pasca- disiplin. Langkah pertama yang ia lakukan adalah menjalankan prinsip detektif masa lalu, meletakkan cagar budaya di dalam konsep kebudayaan masyarakat aslinya. Apabila suatu artefak ditemukan telah bergeser dari tempat asalnya atau hancur dan tidak diketahui lokasi asalnya, maka perlu memahami kebudayaan masyarakat aslinya itu sehingga Arkeolog bisa mengembalikan artefak itu ke tempat asalnya, di dalam konteks lingkungan dan kebudayaannya.

Upaya yang sesungguhnya tidak mudah karena membutuhkan bukti- bukti material otentik untuk memaknai lingkungan dan kebudayaan di masa lalu, yang bisa jadi ribuan atau jutaan tahun silam. Dalam konsep kebudayaan seperti itu, Mundardjito tampak terpengaruh oleh pandangan Antropologi terutama dari tradisi Boasian dan Kroeberian, dimana keduanya mengaitkan kebudayaan dengan geografi (lihat misalnya Mikesell, 1967), hanya saja digunakan untuk menjelaskan rentang masa silam hingga masa kini. Dengan konsep kebudayaan itu, kebudayaan bukan hanya perlu dipahami unsur- unsur material dari lingkunganya, melainkan juga perlu diletakkan di dalam suatu wilayah tertentu sehingga kebudayaan itu bersifat relatif. Dengan kata lain, suatu artefak atau cagar budaya akan memiliki kebudayaan tertentu yang bisa jadi berbeda- beda dari satu artefak atau cagar budaya satu dengan lainnya disebabkan karena perbedaan letak geografisnya.

Meskipun demikian, Mundardjito tampaknya tidak menolak teori difusi, yang antara lain terlihat dari asumsi yang dibangun di dalam disertasinya yang menggunakan model candi Hindu India untuk menjelaskan teorinya tentang artefak atau benda-benda purbakala yang ia teliti di sekitar Borobudur. Hal itu menunjukkan bahwa kebudayaan yang bersifat relatif itu juga terpengaruh oleh persebaran budaya dari satu tempat ke tempat lain sehingga sifat relativitasnya

(6)

bisa pudar karena peniruan di dalam proses akulturasi. Namun demikian, diskusi mengenai hal ini mungkin terlalu dalam dan bisa dianggap keluar (terlalu jauh) dari batasan disertasinya serta disiplin Arkeologi secara umum, sehingga yang paling menonjol sebenarnya adalah pengaruh hubungan antara kebudayaan dan geografi dalam konsepsi Arkeologi lingkungan itu.

Apabila artefak atau cagar budaya diletakkan dalam konsepsi itu, maka tantangan lain – kalau bukan dari teori difusi di atas – adalah dari pengalaman praktis yaitu pembangunan di masa kini. Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana melestarikan cagar budaya yang harus diletakkan di dalam lingkungan dan kebudayaan otentiknya apabila pembangunan masa kini memiliki kecenderungan mengubahnya? Pembangunan yang bukan lagi dalam semangat nasionalisme melainkan neoliberalisme, memiliki kecenderungan mengesktraksi ekosistem yang merupakan aspek penting dalam Arkeologi lingkungan diatas. Model pembangunan ini bisa dengan mudah mengupas lanskap bentang alam suatu kawasan cagar budaya, membongkar tanahnya, membelokkan sumber airnya atau bahkan menghancurkan artefak dan cagar budayanya.

Sejumlah persoalan itu mungkin sudah diluar cakupan disertasinya.

Tetapi sesudah tesis disertasinya itu, Mundardjito tampak ingin menghadirkan tesis baru dari persoalan itu, di dalam diskursus yang lebih praktis yaitu pelestarian cagar budaya dalam pembangunan. Menurutnya, pelestarian cagar budaya dan pembangunan tidak saling kontradiksi melainkan konvergen.

Sebagaimana yang ia sampaikan dalam pidato singkat ketika ia menerima penghargaan Achmad Bakrie XII 2014 di bidang pemikir sosial, ia mengatakan bahwa pelestarian cagar budaya dan pembangunan bukanlah sesuatu yang saling bertentangan.2 Keduanya bisa saling mendukung atau bersinergi dalam pendekatan pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya.

Pandangan ini setidaknya ia buktikan dalam pelestarian cagar budaya di kawasan candi Borobudur, kawasan Majapahit di Trowulan dan kawasan candi Muara Jambi. Intensitas keterlibatannya di ketiga kawasan cagar budaya itu mungkin menunjukkan peranannya dalam menyeimbangkan diskursus antara pelestarian cagar budaya dan pembangunan. Diskursus itu bekerja melalui pandangan intelektualnya, beroperasi di berbagai lapisan baik di

2 https://www.youtube.com/watch?v=cvc4Fjz9JXI. Lihat juga https://www.viva.co.id/

berita/nasional/566767-enam-tokoh-pemenang-achmad-bakrie-award-xii?page=4, dimana disebut- kan bahwa, “Mundardjito (pemikir sosial), dia adalah orang paling terdepan dalam

(7)

lingkungan akademis, birokrat, wartawan, aktivis maupun komunitas- komunitas pelestarian cagar budaya. Persebaran pandangan intelekualitasnya yang luas itu mungkin juga menunjukkan bekerjanya suara hatinya yang ingin mengatakan bahwa pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya merupakan jalan otentik untuk menunjukkan sejarah awal identitas bangsa ini.

IDENTITAS BANGSA

Mungkin ini yang membedakan Mundardjito dengan kalangan akademisi lain yang mengembangkan debat akademik antara pelestarian cagar budaya dengan pembangunan. Perdebatan itu sendiri sudah dimulai sejak UNESCO menetapkan konvensi tentang Warisan Budaya dan Daftar Warisan Dunia pada tahun 1972.

Perdebatan semakin berkembang ketika diselenggarakan konferensi di Nara tahun 1994 yang menyatakan bahwa “perlindungan dan peningkatan keragaman budaya dan warisan di dunia harus secara aktif dipromosikan sebagai aspek penting dari pembangunan manusia” (Musteata, 2020). Tegangan antara keduanya semakin menguat, antara lain di Indonesia yang sedang menghadapi tekanan penduduk, persaingan global untuk mencapai pertumbuhan dan meningkatnya peran swasta dalam pengelolaan cagar budaya.

Beberapa perdebatan, sekedar sebagai contoh, antara lain dikemukakan oleh Brockwell, et.al. (2013), termasuk didalamnya Tanudirjo (2013) pada kasus candi Borobudur, Masanori (2016) pada kasus yang sama, dan Musteata (2020) serta Camagni (2020) secara umum. Brockwell, et.al., (2013) menyoroti pengaruh konvensi itu terhadap cagar budaya di dunia non-Barat, yang menurutnya menjadi cengkeraman 'kawasan konservasi global'.

Operasionalisasi konvensi itu, dalam banyak kasus, masih memisahkan antara budaya dan alam, yang berakibat pada tidak diautentifikasinya budaya lokal. Hal ini berakibat serius pada budaya lokal yang oleh para petugas kawasan bisa dianggap sebagai “penyakit” dalam pengelolaan kawasan cagar budaya.

Di bagian enam dari buku itu, Tanudirjo (2013) menjelaskan implikasi konvensi itu di kawasan candi Borobudur. Selama empat dekade terakhir, implementasi konvensi itu berakibat pada marjinaliasi masyarakat di sekitar kawasan candi Borobudur serta mengeluarkan situs warisan budaya dunia itu dari budaya kontemporernya.

Menanggapi hal itu, masyarakat mengembangkan gerakan perlawanan yang inovatif untuk menghubungkan kembali monumen dengan lanskap sosial di sekitarnya. Sementara itu, Masanori (2016) melihat gerakan perlawanan

(8)

di kawasan candi Borobudur itu sebagai konter diskursus terhadap konsep warisan budaya Eropa sehingga pengalaman Asia dalam wacana warisan budaya mulai berdampak signifikan pada standar Eropa.

Secara umum, menguatnya perdebatan itu juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu pariwisata yang intensif, pekerjaan restorasi yang berlebihan, dan investasi baru yang tidak tepat atau intervensi swasta yang tidak berkorelasi (Musteata, 2020). Sedangkan Camagni (2020), melihat perdebatan itu terjadi di antara mereka yang melihat kebijakan pelestarian sebagai kewajiban moral dan mereka yang melihatnya sebagai bagian dari strategi berwawasan ke depan yang lebih luas untuk mendukung evolusi dan kinerja ekonomi.

Menurutnya, daripada gagasan tradisional pariwisata yang sejauh ini dianggap sebagai konvergensi antara pelestarian dan pembangunan, akan lebih kreatif mengedepankan gagasan cagar budaya sebagai seperangkat aset - materi dan immaterial, publik dan privat, kognitif dan relasional - yang menghasilkan perkembangan endogen.

Mundardjito, meskipun menyeburkan dirinya di dalam perdebatan itu di berbagai ranah baik akademik, kebijakan maupun praktik komunitas, tampak melampaui konvergensi itu. Ia tampak mengkritik konsep pariwisata massal sebagaimana yang dipromosikan oleh pemerintah di kawasan candi Borobudur dan dalam beberapa hal juga terlihat di kawasan Majapahit di Trowulan; sebaliknya, ia mendekati dengan apa yang disebut oleh Cagmani diatas sebagai aset kreatif. Kepada Sucoro misalnya, salah seorang penduduk di sekitar kawasan candi Borobudur yang dipindahkan karena restorasi tahun 1980-an, tetapi yang saat ini menjadi penggagas “Ruwat Rawat Borobudur” - - suatu ritus yang dalam istilah Tanudirjo diatas disebut sebagai upaya untuk mengembalikan monumen di dalam lanskap sosialnya --, Mundardjito berkata,

“apa yang dilakukan oleh Mas Coro ini sudah benar”.3

Perdebatan antara pelestarian cagar budaya dan pembangunan bukan hanya terjadi di negara-negara Asia atau non-Barat umumnya. Di Amerika Serikat misalnya, sebagaimana ditulis oleh Chaban (2015), sebuah jalan paling terkenal di dunia dan yang menjadi tulang punggung Kota New York yaitu

Broadway

; rumah bagi

Canyon of Heroes, Trinity Church, City Hall, Macy's,

MTV, Great White Way, Lincoln Center, Columbia

, juga menghadapi persoalan serupa.4 Pemerintah kota dihadapkan pada persoalan antara pelestarian bangunan-bangunan bersejarah dan tuntutan perubahan yang sangat cepat di jantung ekonomi dunia itu. Bukan hanya pariwisata, namun juga sektor

(9)

bisnis lainnya yang digerakkan oleh korporasi-korporasi multi-nasional yang kini mengendalikan model pembangunan neoliberalisme.

Pandangan Mundardjito tentang pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya diatas mungkin bisa dilihat sebagai konter diskursus dari model Barat itu. Pandangannya yang tampak parallel dengan Cagmani mungkin menunjukkan maksud dari tesis barunya tentang konvergensi antara pelestarian dan pembangunan itu. Bukan pariwisata massal, bukan pula koorporasi- koorporasi besar yang mengendalikan kawasan cagar budaya untuk mengeruk keuntungan bisnisnya, melainkan seperti yang terlihat di Kawasan candi Borobudur dan disampaikan oleh Tanudirjo di atas sebagai upaya mengembalikan monument itu ke dalam lanskap sosialnya, di dalam budaya kontenporernya. Model ini memungkinkan pendekatan pembangunan berwawasan peletarian cagar budaya itu tidak bersifat eksklusif melainkan sebaliknya lebih bersifat inklusif.

Melalui model pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya seperti ini, Mundardjito lebih bisa meletakkan suara hatinya yang menyuarakan bahwa artefak atau benda-benda purbakala dalam konsepsi cagar budayanya ini bukan sekedar bukti material dari pembentukan negara awal, sebagaimana yang hal ini disampaikan oleh Tjoa-Bonatz, et. al. (2012), melainkan juga bukti otentik dari jati diri bangsa Indonesia. Kebudayaan yang ia maknai dan ia rekonstruksi dari berbagai kawasan cagar budaya itu, terlepas dari perdebatan teori tentang kebudayaan yang menyertainya, merupakan fragmen identitas bangsa yang perlu disusun menjadi dasar dari nasionalisme kita hari ini. Bukti material yang otentik ini, mungkin menjadi satu-satunya materi yang dimiliki bangsa Indonesia di tengah keroposnya bangunan karakter bangsa yang diterjang arus deras globalisasi.

KESIMPULAN

Sebagai seorang akademisi-

cum

-intelektual, tesis di dalam disertasinya tentang Arkeologi-ruang yang mengilhami perkembangan Arkeologi lingkungan, tampak konsisten dengan praktik diskursus yang ia jalani diantara pelestarian cagar budaya dan pembangunan. Di dalam perdebatan diskursus itu, Mundardjito memperlihatkan sikap yang jelas yang tidak ingin memisahkan antara warisan budaya dan alam lingkungannya. Di mata Mundardjito, dinamika budaya komunitas lokal menjadi elemen penting di dalam pelestarian, melalui pendekatan yang ia perkenalkan sebagai Arkeologi publik, yang dari sudut pandang Tanudirjo bisa mengembalikan monument

(10)

yang dijauhkan oleh konvensi warisan budaya dan daftar warisan dunia ke dalam lanskap sosialnya.

Pengelolaan kawasan cagar budaya yang lebih bersifat endogen seperti itu akan mencapai suatu konvergensi di dalam pendekatan pembangunan berwawasan pelestarian cagar budaya, sebagaimana yang ia maksudkan. Dengan kata lain, Mundarjito ingin menyuarakan model pembangunan nasional yang didasarkan pada fragmen-fragmen kebudayaan otentik yang bisa menjadi ciri identitas bangsa Indonesia.

REFERENSI

Brockwell, Sally, Sue O'Connor, and Denis Byrne. 2013. Transcending the Culture–

Nature Divide in Cultural Heritage, Views from the Asia–Pacific region ANU Press Chaban, Matt A.V. 2015. June, 30. The New York Times

Cagmani, Roberto, Roberto Capello, Silvia Cerisola, Elisa Panzera. 2020. The Cultural Heritage – Territorial Capital Nexus: Theory and Empirics. Il Capitale: Studies on the Value of Cultual Heritage, Vol 0, ISS 11, pp 33-59.

https://doi.org/10.13138/2039-2362/2547

Marvin W. Mikesell. 1967. “Geographic perspective in Anthropology”. Annals of the Association of American Geographers. Vol. 57, No. 3 (Sep., 1967), pp. 617-634 (18 pages). Taylor & Francis, Ltd. https://www.jstor.org/stable/2561655

Masanori, Nagaoka. 2016. Cultural Landscape Management at Borobudur, Indonesia. Springer.

Mundardjito. 1993. Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-ruang Skala Makro. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Musteata, Sergiu. 2020. The State of Conservation and Periodic Reporting – A Way for Better Preservation and Sustainable Development of the World Heritage Sites, Journal Plural:

History, Culture, Society, Vol 8, Iss 1, Pp 227-242, Editura ARC, https://doi.org/10.37710/plural.v8i1_11

Tjoa-Bonatz, Mai Lin, Reinecke, Andreas, Bonatz, Dominik. 2012. Connecting Empires and States: Selected Papers from the 13th International Conference of the European Association of Southeast Asian Archaeologists. SINGAPORE:

NUS Press.

Tanudirjo, Daud. 2013. “Changing perspectives on the relationship between heritage, landscape and local communities: A lesson from Borobudur”, dalam Brockwell, Sally, Sue O'Connor, and Denis Byrne. 2013. Transcending the Culture–Nature Divide in Cultural Heritage, Views from the Asia–Pacific region ANU Press

Referensi

Dokumen terkait

Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan

Penjelasan tersebut sesungguhnya telah dinyatakan sejak awal dalam Menimbang butir (b) yang berbunyi: "bahwa untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya diperlukan

Ketentuan Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, menetapkan bahwa benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu yang

Kegiatan Pemerintah (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman) mengenai pendukungan pendaftaran dan penetapan Cagar Budaya (terutama workshop pendaftaran Cagar

Partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian warisan budaya merupakan salah satu prioritas yang harus tercapai dalam setiap kegiatan pemanfaatan benda cagar budaya

Penjelasan tersebut sesungguhnya telah dinyatakan sejak awal dalam Menimbang butir (b) yang berbunyi: "bahwa untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya diperlukan

pelestarian kawasan cagar budaya di kawasan tempat tinggal mereka. cagar budaya Meyakinkan masyarakat melalui program penyuluhan atau dipengaruhi untuk terlibat dalam

Peraturan daerah ini mengatur tentang pelestarian dan pengelolaan cagar budaya untuk memajukan kebudayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan