• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nadya Prameski Putri, Lu'luil Maknun

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Nadya Prameski Putri, Lu'luil Maknun"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Guru dalam Ketercapaian Hasil Pembelajaran Jarak Jauh di MI Al-Mursyidiyyah

Nadya Prameski Putri, Lu’luil Maknun

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[email protected], [email protected]

Abstrak

Penulisan artikel ini bertujuan untuk menganalisaperanan penting para pendidik dalam ketercapaian hasil pembelajaran jarak jauh di MI Al-Mursyidiyyah. Metode yang digunakan ialah mix method, dimana sumber yang dikaji berasal dari hasil kajian literatur dan hasil pengolahan kuesioner. Hasil dari pengolahan kuesioner dan kajian literatur tersebut memberikan 3 poin pembahasan yang penting yaitu; (1) PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), (2) Peran Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh dan, (3) Kriteria Ketercapaian Hasil Belajar.Melihat situasi saat ini peranan pendidik memang harus lebih dioptimalkan agar dapat menjalankan perannya dan proses pembelajaran dengan baik. Pendidik tidak hanya semata-mata menyampaikan materi, melainkan juga harus dapat merancang proses pembelajaran yang semenarik mungkin dengan menggunakan media pembelajaran seperti games online dan lain sebagainya, sehingga pendidik dapat menarik perhatian peserta didik agar tetap semangat dalam proses pembelajaran.

(2)

Kata Kunci: Peran Penting Pendidik, Capaian Pembelajaran, Pembelajaran Jarak Jauh.

PENDAHULUAN

Virus Corona atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-Cov 2) merupakan salah satu virus baru yang sangat berbahaya dan mematikan. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir bulan Desember tahun 2019 yang dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk negara Indonesia hanya dalam waktu yang singkat. Penyakit infeksi Virus Corona ini biasa dikenal dengan sebutan Covid-19.

Virus Corona ini merupakan salah satu dari keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit baik dari gejala yang ringan maupun gejala yang berat (Dewi, 2020). Virus ini dapat menyerang semua manusia tanpa memandang usia dan jenis kelamin, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Saat virus ini diidentifikasikan pada tubuh manusia, maka akan terdapat gejala berupa gangguan pernapasan akut atau sesak napas, demam dan batuk.

Hal ini membuat masyarakat menjadi khawatir karena terjadi peningkatan pasien virus corona dalam waktu yang singkat di negaranya, sehingga pemerintah segera mengambil kebijakan untuk melaksanakan program lockdown

(3)

di beberapa tempat serta melakukan program social physical distancing dan stay at home (Brand, 2020). Pemerintah menghimbau para masyarakat untuk melakukan semua kegiatannya dari rumah masing-masing guna mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

Virus yang membuat resah masyarakat ini, berhasil merusak seluruh aspek kegiatan manusia, termasuk kehilangan banyak nyawa di berbagai belahan dunia secara tragis dalam waktu yang singkat (Zhao, 2020).Tidak hanya itu, Virus Corona juga merusak seluruh aktivitas di masyarakat dalam jangka waktu yang panjang, terutama kegiatan pendidikan.Virus ini telah mengganggu operasi kegiatan jutaan sekolah di berbagai negara (Zhao, 2020), terutama di negara Indonesia. Bahkan pemerintah memaksa para pihak sekolah untuk menghentikan kegiatannya dan melakukan proses pembelajaran jarak jauh secara daring guna mencegah penyebaran Virus Corona.

Isman mengatakan bahwa pembelajaran daring merupakan sebuah cara penggunaan jaringan internet untuk meninjau proses pembelajaran (Dewi, 2020). Melalui kebijakan tersebut, para guru berusaha untuk menata ulang pendidikan, terutama dari segi metode pembelajaran.Hal ini dilakukan agar pembelajaran yang berlangsung tidak terlalu memberatkan siswa dan mudah untuk dipahami, sehingga ketercapaian hasil belajar siswa pun tidak menurun.

Dalam pembelajaran jarak jauh ini, masih banyak guru tidak hanya semata-mata memberikan tugas kepada peserta

(4)

didiknya, melainkan guru juga harus memberikan pemaparan materi dengan menggunakan media pembelajaran seperti zoom, video converence, maupun video call via WhatsApp Group. Hal ini juga dilakukan oleh para guru untuk berinteraksi dengan para peserta didiknya guna mengetahui seberapa jauh kemampuan dan perkembangan kognitif peserta didiknya selama pembelajaran jarak jauh.Melalui interaksi virtual inilah, guru dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan hasil capaian belajar selama pandemi Covid-19.

Melihat kondisi saat ini, maka pelaksanaan pembelajaran jarak jauh diharapkan mampu untuk membantu mengurangi kecemasan masyarakat serta membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 (Pujilestari, 2020). Hal ini sesuai dengan Perpres Nomor 7 Tahun 2020 tentang Satgas Percepatan Koagulasi COVID-19 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara Nomor 34 Tahun 2020 yang kemudian diubah menjadi Perpres 19 Tahun 2020, dimana isinya memuat tentang instruksi untuk bekerja dari rumah hingga 21 April, 2020 (Yulia, 2020).

Namun, pada kenyataannya himbuan ini tidak berlaku bagi beberapa lembaga pendidikan, karena hingga saat ini

lembaga pendidikan masih diberhentikan

pengoperasiannya.Melihat kondisi negara saat ini, maka pemerintah tetap menghimbau para pendidik untuk mendidik

(5)

siswanya melalui sistem online agar tidak terjadi kontak sosial yang memungkinkan terjadinya penyebaran Covid-19.

Hal ini juga sesuai dengan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia Nadiem Makarim dalam SK Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan pada fase darurat pandemi virus Corona (Anugrahana, 2020). Kebijakan tersebut memuat 4 poin penting yaitu; (1) Study at home (belajar di rumah) menggunakan alat pembelajaran jarak jauh (teknologi) untuk memberikan pengalaman belajar tanpa dibebani untuk mencapai tujuan kurikulum kenaikan kelas atau kelulusan, (2) Pembelajaran jarak jauh dapat digunakan untuk memberikan pendidikan karakter (life skills) seperti pendidikan tentang covid 19, (3) Kegiatan dan tugas siswa dibuat bervariasi sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi termasuk keterbatasan belajar dan fasilitas yang dimiliki di rumah serta, (4) Memberikan feedback yang bersifat kualitatif dan berguna bagi para guru tanpa memberikan skor (Yulia, 2020).

Tidak hanya itu, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19 juga diharapkan mampu untuk meningkatkan kreatifitas guru dalam menentukan metode dan menggunakan media pembelajaran yang dapat menarik perhatian peserta didiknya selama proses pembelajaran dari rumah. Harapan lain dari pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini ialah mengisi waktu luang para peserta didik untuk hal-hal yang bermanfaat seperti belajar di rumah, sehingga

(6)

para peserta didik akan cenderung berada di rumah dan menghindari kerumunan (Wahyono, 2020).

Dalam pelaksanaannya, tak jarang banyak guru yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh. Hal ini bisa terjadi akibat kurangnya pelatihan guru dalam menggunakan teknologi dan media pembelajaran secara online, sehingga guru cenderung hanya memberikan tugas dan tidak memberikan penjelasan materi.Adanya perubahan metode pembelajaran dari konvensional menjadi pembelajaran menggunakan media elektronik juga mampu membuat para guru mengalami kesulitan (Dewi, 2020).

Namun, pada kenyataannya tidak seluruh guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, seperti guru-guru yang ada di MI Al-Mursyidiyyah.

Hal ini dapat dilihat dari hasil survey yang menyatakan bahwa terdapat 70,4% guru di MI Al-Mursyidiyyah tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini bisa saja terjadi, karena beberapa guru telah memahami teknologi informasi dan komunikasi dengan baik, sehingga para guru tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh.Meskipun guru-guru di MI Al- Mursyidiyyah banyak yang tidak mengalami kesulitan, tetap saja para guru membutuhkan pelatihan penggunaan teknologi agar lebih mahir dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui media elektronik tersebut.

(7)

Apabila dalam suatu lembaga pendidikan tidak menyediakan pelatihan teknologi dalam proses pembelajaran jarak jauh untuk para tenaga pengajar, bisa jadi berdampak buruk pada kinerja dan hasilnya (Dewi, 2020). Hal ini dapat berdampak buruk karena guru tidak mampu menjalankan perannya dengan baik selama proses pembelajaran jarak jauh tersebut. Para guru hanya akan memberikan tugas tanpa menjelaskan materi dan melakukan interaksi dengan peserta didiknya secara virtual, sehingga tidak dapat mengapresiasi dan memberikan feedback secara langsung terhadap hasil kerja peserta didiknya. Hal inilah yang membuat para peserta didik cenderung merasa bosan dan kurang termotivasi, sehingga ketercapaian hasil belajar peserta didik tidak memenuhi kriteria.

Hal tersebut juga dapat disebabkan dari kurangnya pengetahuan guru tentang tools atau media pembelajaran apa saja yang dapat digunakan selama pembelajaran jarak jauh, sehingga para guru cenderung lebih memanfaatkan penggunaan WhatsApp Group untuk memberikan tugas. Oleh karena itu, peran guru selama pembelajaran jarak jauh ini harus dioptimalkan dengan cara membentuk tim pelatihan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh antara guru yang sudah paham dengan guru yang masih kurang paham (Khasanah, 2020).

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian dengan judul “Peran Guru dalam Ketercapaian Hasil Pembelajaran Jarak Jauh di MI Al-

(8)

Mursyidiyyah“ untuk mengetahui bagaimana peran guru yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran jarak jauh agar capaian hasil belajar peserta didik memenuhi kriteria.

METODE

Pada penulisan artikel ini, penulis menggunakan mix method, dimana penyajian datanya dilakukan dengan menggunakan teknik kualitatif deskriptif yang bersumber dari hasil kajian literatur dan teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif melalui kuesioner yang disebar menggunakan platform google form (Mustaqim, 2016), yang kemudian diisi oleh 27 orang guru di MI Al-Mursyidiyyah.

Pada penyajian data kualitatif, penulis menggunakan instrumen berupa referensi dan catatan penulis dari beberapa jurnal, tesis, potongan makalah, dan sumber lain yang dianggap memiliki keterkaitan dengan judul yang diangkat oleh penulis. Dalam hal ini penulis tidak hanya semata-mata membaca sumber yang ada, melainkan penulis akan membaca dengan saksama dan mencatat beberapa hal penting yang nantinya akan diolah dengan teliti oleh penulis.

DISKUSI

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau yang lebih dikenal dengan pembelajaran secara daring (online) merupakan salah satu solusi yang dilakukan oleh pemerintah untuk

(9)

memutus mata rantai penyebaran Covid-19 (Wargadinata, 2020).Hanum mengatakan bahwa pembelajaran secara online merupakan sebuah model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pelaksanaannya (Anugrahana, 2020).

Model pembelajaran jarak jauh ini memanfaatkan kinerja elektronik dan jaringan internet yang digunakan untuk menyampaikan materi, berinteraksi dan memfasilitasi proses kegiatan belajar mengajar (Anugrahana, 2020). Menurut Seokartawi dalam Waryanto (2006), pembelajaran online sangatlah dianggap bermanfaat untuk menggantikan kegiatan pembelajaran di kelas.

Pembelajaran online ini dapat menjadi; (1) Suplemen yang memberikan kebebasan kepada para peserta didiknya untuk memilih dalam memanfaatkan materi pembelajaran yang ada atau tidak, sehingga peserta didik tidak diwajibkan secara keseluruhan untuk mengunduh atau mengakses materi pembelajaran online tersebut; (2) Komplemen, dimana materi pembelajaran online yang diberikan dijadikan sebagai pelengkap materi pembelajaran langsung di dalam kelas.

Materi pembelajaran online ini dapat dijadikan sebagai sebuah evaluasi atau remedial bagi peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran secara konvensional dan; (3) Substitusi, dimana materi pembelajaran yang diberikan secara online ini dijadikan sebagai materi pengganti untuk pembelajaran tatap muka secara langsung di dalam kelas (Anugrahana, 2020).

(10)

Berdasarkan definisinya, pelaksanaan PJJ menuntut para pelaku pendidikan untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi baik berupa laptop maupun smartphone. Proses pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini tidak hanya semata-mata menggunakan teknologi canggih saja, tetapi juga menggunakan platform-platform yang telah disediakan oleh pemerintah untuk menunjang proses pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19, seperti google classroom, zoom, rumah belajar, video converence, live chat¸ dan lain-lain (Dewi, 2020). Berikut hasil survey yang di dapatkan dari guru MI Al-Mursyidiyyah :

22.35%

18.44%

16.76%

12.29%

2.79%

0.56%

17.32%

7.26%

1.12% 0.56% 0.56%

Google Form WhatsApp Group Zoom Google Meet Instagram Telegram YouTube Google Class- room Edmodo Quiz Maker Teams

Gambar 1. Media yang Digunakan dalam Pembelajaran Daring di MI Al-Mursyidiyyah

Berdasarkan hasil observasi di MI Al-Mursyidiyyah, dapat diketahui bahwa banyak sekali guru yang menggunakan media Google Form untuk melaksanakan

(11)

pembelajaran secara online. Hampir sekitar 22% guru di MI Al-Mursyidiyyah menggunakan media google form untuk melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19. Tidak hanya google form, guru-guru di MI Al-Mursyidiyyah juga banyak yang menggunakan media WhatsApp Group untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan mengirimkan VN (Voice Note), PPT (Power Point), Video Pembelajaran atau melakukan interaksi dengan peserta didiknya menggunakan VC (Video Call).

Hampir sekitar 18% guru di MI Al-Mursyidiyyah melaksanakan kegiatan pembelajarannya melalui media WhatsApp. Media WhatsApp ini menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif selama proses pembelajaran jarak jauh. Hal ini dikarenakan guru dan para wali murid serta peserta didiknya sudah merasa familiar dengan media WhatsApp tersebut, sehingga pembelajaran di media WhatsApp terasa lebih mudah dan efektif (Wargadinata, 2020). Selain itu, WhatsApp juga tidak menghabiskan kuota yang banyak, sehingga peserta didik mampu berkomunikasi dengan mudah dan berbagi file PPT (Power Point), Microsoft Word, Voice Note, dan link-link sumber belajar lainnya (Wargadinata, 2020). Tidak hanya Google Form dan WhatsApp saja, berbagai media lain juga banyak digunakan oleh para guru di MI Al-Mursyidiyyah untuk melaksanakan proses pembelajaran seperti media Zoom, Google Meet, Instagram, Telegram, YouTube, Google Classroom, Edmodo, Quiz Maker, dan Teams.

(12)

Proses pembelajaran jarak jauh ini juga menjadi sebuah inovasi berupa tantangan akan adanya sumber belajar yang variatif (Dewi, 2020). Berdasarkan hasil penelitian, sumber belajar yang digunakan oleh guru di MI Al-Mursyidiyyah selama pembelajaran jarak jauh ini sangat beragam, baik sumber belajar cetak maupun sumber belajar dari internet.

Berikut hasil survey yang didapatkan dari guru di MI Al- Mursyidiyyah :

49.15%

13.56%

28.81%

5.08% 1.69% 1.69%

Buku Primer/Modul Buku Cerita Internet YouTube Artikel Wikipedia

Gambar. 2 Sumber Belajar yang Digunakan dalam Pembelajaran Daring di MI Al-Mursyidiyyah

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan melalui media google form, dapat diketahui bahwa hampir sekitar 49% guru di MI Al-Mursyidiyyah menggunakan sumber belajar yang berasal dari sumber primer atau buku modul pelajaran siswa yang biasa di dapat dari sekolah baik buku paket maupun LKS selama pembelajaran jarak jauh. Buku modul atau buku primer ini menjadi acuan atau sumber utama yang paling dominan digunakan oleh guru di MI Al-

(13)

Mursyidiyyah selama pembelajaran jarak jauh. Namun, beberapa guru juga menggunakan sumber lain seperti buku bacaan/cerita, internet google, YouTube, dan artikel sebagai penunjang pengetahuan dalam proses pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, terdapat 3 jenis pembelajaran jarak jauh yaitu; (1) Pembelajaran online langsung/sinkron.

Pada jenis pembelajaran ini, guru dan peserta didik akan melakukan sebuah komunikasi, sehingga akan terjadi feedback atau umpan balik terhadap hasil kerja peserta didiknya selama proses pembelajaran, (2) Pembelajaran online Asynchronous. Jenis pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran online langsung/sinkron, dimana dalam jenis pembelajaran ini interaksi antara guru dan peserta didik tidak terjadi secara instan, sehingga tidak terdapat umpan balik dari guru terhadap hasil kinerja peserta didiknya. Namun, dalam jenis pembelajaran ini peserta didik menjadi lebih mandiri tetapi kurang termotivasi karena tidak adanya interaksi, dan (3) Pembelajaran online blended. Jenis pembelajaran ini juga biasa disebut dengan blended learning, dimana proses pembelajarannya menggunakan pesan, diskusi, kuis, maupun tes. Dalam jenis pembelajaran ini, terdapat feedback yang diberikan oleh guru terhadap hasil dari kuis online yang dapat menentukan sejauh mana pengetahuan para peserta didiknya (Yulia, 2020).

Dari ke-3 jenis pembelajaran jarak jauh tersebut dapat diketahui variasi mana yang lebih penting dan tepat dalam

(14)

melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh. Tidak hanya itu, ketiga jenis pembelajaran jarak jauh tersebut juga dapat dijadikan sebagai kerangka kerja yang dapat dikelola untuk membedakan aktivitas-aktivitas online yang akan dipraktikkan (Yulia, 2020).

Peran Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Pada saat pemerintah menghimbau untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh, banyak dari pelaku pendidikan dan lembaga pendidikannya yang menata ulang kembali sistem pembelajarannya sesuai dengan kondisi saat ini. Berdasarkan hasil survey di MI Al-Mursyidiyyah, sekitar 96,3% guru melakukan perubahan target pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran yang berjalan selama pandemi Covid-19 dapat mencapai tujuannya dengan efektif, sehingga diperlukan perubahan target pembelajaran sesuai dengan kondisi saat ini.

Dalam hal pendidikan, guru adalah garda terdepan untuk melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga guru harus dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan dan efisien, serta mengandung nilai transfer dari pengetahuan dan transfer dari nilai (Saifulloh, 2020). Oleh karena itu, peranan guru selama pembelajaran jarak jauh sangatlah penting untuk membantu ketercapaian hasil belajar peserta didiknya agar tidak menurun.Namun, pada kenyataannya banyak sekali

(15)

guru yang masih kurang paham dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Guru cenderung hanya memberikan tugas dan tidak memberikan pemaparan materi ataupun melakukan interaksi dengan peserta didiknya, sehingga tidak terjalin proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

Hal ini biasa terjadi akibat kurangnya pelatihan guru dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh. Berdasarkan survey di MI Al-Mursyidiyyah, hampir 55,6% guru sangat membutuhkan pelatihan pengunaan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19. Hal ini sangat dibutuhkan bagi para guru agar dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan efektif dan tidak merasa kesulitan.

Namun, berdasarkan survey di MI Al-Mursyidiyyah terdapat 70,4% guru yang tidak merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Walaupun merasa tidak sulit dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, para guru di MI Al-Mursyidiyyah tetap membutuhkan pelatihan untuk mengoptimalkan peranannya selama pembelajaran jarak jauh.

Menurut Solomon: 1996, peran guru dalam pembelajaran jarak jauh secara online ialah sebagai seorang ahli diagnosa dan moderator yang memiliki tanggung jawab untuk bekerjasama dengan peserta didiknya, dan membantu guru dalam menghadapi tantangan yang diberikan oleh teknologi kepada para guru selama pembelajaran jarak jauh (Nir-gal, 2002). Sheidlinger: 1999 juga mengungkapkan

(16)

bahwa peran guru selama pembelajaran jarak jauh ialah sebagai pendidik pribadi, dimana guru harus memberikan perhatian pribadi kepada peserta didiknya melalui interaksi dalam sebuah teknologi yang digunakan (Nir-gal, 2002).

Nir-Gal dan Klein juga mengatakan bahwa kegiatan guru yang efektif dalam proses belajar mengajar selama pandemi Covid-19 ialah sebagai mediator yang menfokuskan untuk memfasilitasi emosi, perasaan, indera dan kemampuan dalam pembelajaran jarak jauhnya (Nir-gal, 2002). Peran guru sebagai mediasi selama pembelajaran jarak jauh ini dianggap sangat memungkinkan untuk para peserta didik memanfaatkan teknologi guna mengembangkan kemampuan kognitif dan pembelajarannya selama pandemi Covid-19 (Nir- gal, 2002).

Tidak hanya itu, peran guru sebagai pembimbing, pemberi arahan, dan pemberi feedback juga sangat diperlukan selama pembelajaran jarak jauh, karena peran ini mampu meningkatkan semangat dan antusias peserta didiknya (Huang, 2018).Peran manajerial guru selama pembelajaran jarak jauh juga sangat penting, dimana guru harus mampu mengawasi peserta didiknya dengan melakukan interaksi selama pembelajaran jarak jauh untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kognitif peserta didiknya selama belajar di rumah (Huang, 2018). Hal ini menandakan bahwa peran guru selama pembelajaran jarak jauh berbeda dengan pembelajaran tatap muka secara langsung. Oleh karena itu, peran guru harus mengalami

(17)

perubahan dari format pembelajaran konvensional menjadi lingkungan belajar yang menggunakan media teknologi.

Pada kondisi pembelajaran jarak jauh ini, banyak dari guru yang tetap melibatkan interaksi dengan peserta didiknya dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Cohen: 1999 mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh akan sangat efektif apabila terdapat kontak mata dengan peserta didiknya, maka guru harus berusaha tampil di layar dalam pembelajaran virtual (Nir-gal, 2002). Oleh karena itu, dalam pembelajaran jarak jauh ini interaksi merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.Tujuan dari interakasi ini adalah untuk membangun ketertarikan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, serta membangun motivasi bahwa pembelajaran jarak jauh itu tetap menyenangkan seperti melakukan pembelajaran tatap muka secara langsung.Guru juga dapat memberikan pemaparan materi menggunakan video tutorial agar lebih menarik perhatian peserta didiknya (Batubara, 2020).

Berdasarkan survey di MI Al-Mursyidiyyah terdapat 66,7% peserta didik merasa cukup antusias dan bersemangat dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Hal ini menandakan bahwa peran guru di MI Al-Mursyidiyyah sudah dijalankan secara cukup optimal dan para guru mampu menarik perhatian peserta didiknya dengan media-media pembelajaran atau melakukan interaksi yang menyenangkan serta menarik, sehingga peserta didik merasa cukup antusias dan bersemangat. Maka dari itu, guru dituntut untuk kreatif

(18)

dalam menciptakan pembelajaran virtual tersebut. Terdapat 92,6% guru di MI Al-Mursyidiyyah yang menggunakan games untuk melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh bersama dengan peserta didiknya. Hal ini juga dilakukan para guru untuk menarik perhatian peserta didik agar termotivasi dan tetap semangat dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Kriteria Ketercapaian Hasil Pembelajaran

Selama proses pembelajaran jarak jauh berlangsung, banyak dari peserta didik yang merasa bahwa pembelajaran jarak jauh ini kurang efektif, karena peserta didik cenderung merasa bosan akibat pemberian tugas setiap hari (Putria, 2020). Hal ini dapat menyebabkan para peserta didik terlambat dalam mengumpulkan tugas, karena merasa malas, bosan, dan lelah atas semua tugas yang diberikan oleh guru (Putria, 2020).Tidak hanya itu, keterbatasan kepemilikan smartphone juga menyebabkan para peserta didik terlambat mengumpulkan tugas.Hal-hal inilah yang dapat menghambat ketercapaian hasil belajar jarak jauh peserta didik selama pandemi Covid-19.Oleh karena itu, guru dan orangtua di rumah harus memberikan motivasi dan dorongan agar peserta didiknya tidak merasa bosan dan menjadi semangat untuk belajar di rumah (Putria, 2020).

Namun, terdapat beberapa peserta didik yang juga beranggapan bahwa pembelajaran jarak jauh ini cukup efektif, karena para peserta didik merasa lebih santai,

(19)

fleksibel, mudah, dan hemat waktu serta tenaga (Wahyono, 2020), sehingga peserta didik merasa antusias dan semangat dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Hal ini bisa terjadi karena peran guru yang dilakukan secara baik dan sesuai dengan kondisi saat ini, sehingga peserta didik merasa senang dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh dan memungkinkan terjadinya ketercapaian hasil pembelajaran yang lebih baik dibanding dengan pembelajaran tatap muka secara langsung.

Hasil pembelajaran jarak jauh ini dikatakan tercapai apabila peserta didiknya merasa puas dalam menggunakan teknologi dan puas terhadap pengetahuan yang didapatkannya (Baber, 2020).Tidak hanya dari kepuasan peserta didik, mutu pembelajaran yang baik juga memberikan dampak positif yang sangat signifikan dengan capaian hasil belajar peserta didik selama pandemi Covid-19 (Prasetya, 2020).Selain itu, adanya interaksi antara guru dengan peserta didik selama pembelajaran jarak jauh juga dapat menentukan ketercapaian hasil pembelajaran jarak jauh (Nir-gal, 2002).Oleh karena itu, guru harus mampu mengelola semua kegiatan belajar-mengajar agar capaian hasil belajar peserta didik dapat memuaskan sesuai dengan kriteria yang telah ada (Saifulloh, 2020).

Secara umum kriteria ketercapaian hasil pembelajaran peserta didik terdiri atas; (1) Keberhasilan peserta didik dalam mengerjakan berbagai macam tes dengan rata-rata keberhasilan 60%, (2) Keberhasilan peserta didik dalam

(20)

mencapai kompetensi dasar dengan rata-rata 75%, dan (3) Keberhasilan peserta didik dalam mencapai keterampilan praktik sesuai dengan tingkat resiko dan tingkat kesulitan dengan rata-rata ideal 75%. Pada pembelajaran jarak jauh, kriteria tersebut dapat tercapai apabila guru mampu melaksanakan perannya dengan baik dan benar.Interaksi antara guru dan peserta didik sangatlah mempengaruhi ketercapaian hasil belajar peserta didiknya (Baber, 2020).

Dalam pembelajaran jarak jauh, ketercapaian hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari kepuasan peserta didik dalam menggunakan teknologi (Baber, 2020). Hal ini dapat dilihat berdasarkan survey di MI Al-Mursyidiyyah terdapat 66,7% peserta didik yang cukup antusias dan bersemangat dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Ketercapaian hasil belajar ini dapat tercipta akibat adanya rasa puas dalam menggunakan teknologi dan rasa puas terhadap peran guru yang mampu menarik perhatian peserta didik, sehingga ketercapian hasil pembelajaran peserta didik di MI Al- Mursyidiyyah dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria secara ideal, karena cukup banyak peserta didik yang memberikan respon baik dengan bersikap antusias serta semangat dalam melaksanakan proses pembelajaran.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran guru selama pembelajaran jarak jauh ini sangat mempengaruhi ketercapaian hasil belajar

(21)

peserta didiknya. Hal ini dapat dilihat dari hasil survey di MI Al-Mursyidiyyah yang menyatakan bahwa terdapat 66,7%

peserta didik yang cukup antusias dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh. Keantusiasan peserta didik ini menandakan bahwa media pembelajaran yang digunakan guru menarik, sehingga para peserta didik merasa bersemangat dan akan merasa puas dengan menggunakan media pembelajaran tersebut.

Melihat hal ini, maka dapat diketahui bahwa guru di MI Al-Mursyidiyyah mampu memahami perannya selama pembelajaran jarak jauh berlangsung, sehingga para guru mampu melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan baik, efektif, dan menyenangkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ketercapaian hasil pembelajaran peserta didik di MI Al-Mursyidiyyah selama pembelajaran jarak jauh ini akan memberikan hasil yang baik dan memuaskan, serta sesuai dengan kriteria ketercapaian hasil pembelajaran pada umumnya.

Dari tulisan ini diharapkan akan ada penelitian lebih lanjut terkait dengan ketercapaian hasil capaian belajar peserta didik di MI Al-Mursyidiyyah dan peran guru yang paling tepat untuk meningkatkan hasil capaian belajar jarak jauh peserta didik selama pembelajaran jarak jauh. Penelitian lebih lanjut ini dilakukan agar dapat dijadikan sebagai rujukan para guru dalam menjalankan perannya untuk membantu memperbaiki capaian hasil belajar peserta didik selama pandemi Covid-19.

(22)

REFERENSI

Anugrahana, A. (2020). Hambatan , Solusi dan Harapan : Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid-19 Oleh Guru Sekolah Dasar. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10(3), 282–289.

Baber, H. (2020). Determinants of Students’ Perceived Learning Outcome and Satisfaction in Online Learning during the Pandemic of COVID19. Journal of Education and E-

Learning Research, 7(3), 285–292.

https://doi.org/10.20448/journal.509.2020.73.285.292

Batubara, H. H., & Batubara, D. S. (2020).Penggunaan Video Tutorial Untuk Mendukung Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Virus Corona. MUALLIMUNA: Jurnal Madrasah Ibtidaiyah, 5(2), 74–84.

Brand, P. L. P. (2020). COVID-19 : a unique learning opportunity if the well-being of learners and frontline workers is adequately supported. Perspect Med Educ, 9, 129–131.

https://doi.org/10.1007/s40037-020-00596-y

Dewi, W. A. F. (2020). Dampak COVID-19 terhadap Implementasi Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar.

Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(1), 55–61.

https://doi.org/10.31004/edukatif.v2i1.89

Huang, Q. (2018). Examining Teachers’ Roles in Online Learning. The Eurocall, 26(2), 3–18.

Khasanah, D. R. A. U., Pramudibyanto, H., & Widuroyekti, B.

(2020). Pendidikan Dalam Masa Pandemi Covid-19 Pendahuluan. Jurnal Sinestesia, 10(1), 41–48.

(23)

Kusuma, J. W., & Hamidah.(2020). Perbandingan Hasil Belajar Matematika dengan Penggunaan Platform WhatsApp Group dan Webinar Zoom dalam Pembelajaran Jarak Jauh Pada Masa Pandemic Covid-19. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 5(1), 97–106.

Mirzaqon, A., & Purwoko, B. (2017).Studi Kepustakaan mengani Landasan Teori dan Praktik Konseling Expressive Writing Library Research of The Basic Theory and Practice of Expressive Writing Counseling. Jurnal BK UNESA, 8(1).

https://media.neliti.com/media/publications/253525-studi- kepustakaan-mengenai-landasan-teor-c084d5fa.pdf

Nir-gal, O. (2002). Distance Learning : The Role of the Teacher in a Virtual Learning Environment. Research Gate, 8(1–2), 23–

50.

Prasetya, T. A., & Harjanto, C. T. (2020).Pengaruh Mutu Pembelajaran Online dan Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Hasil Belajar Saat Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejujuran, 17(2), 188–197.

Pujilestari, Y. (2020). Dampak Positif Pembelajaran Online Dalam Sistem Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi Covid-19.

Adalah: Buletin Hukum Dan Keadilan, 4(1), 49–56.

Putri, A. E. (2019). Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling: Sebuah Studi Pustaka. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 4(2), 39–42.

Putria, H., Maula, L. H., & Uswatun, D. A. (2020).Analisis Proses Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) Masa Pandemi

(24)

Covid-19 pada Guru Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(4), 861–872. https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i4.460

Saifulloh, A. M., & Darwis, M. (2020).Manajemen Pembelajaran dalam Meningkatkan Efektivitas Proses Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19. Bidayatuna, 3(2), 285–

311.

Somantri, G. R. (2005). Memahami Metode Kualitatif. Makara, Sosial Humaniora, 9(2), 57–65.

Wahyono, P., Husamah, H., & Budi, A. S. (2020). Guru Profesional di Masa Pandemi COVID-19: Review Implementasi, Tantangan, dan Solusi Pembelajaran Daring. Jurnal Pendidikan Profesi Guru, 1(1), 51–65.

Wargadinata, W., Maimunah, I., Dewi, E., & Rofiq, Z. (2020).

Student’s Responses on Learning in the Early COVID-19 Pandemic. Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, 5(1), 141–153. https://doi.org/10.24042/tadris.v5i1.6153

Yulia, H. (2020). Online Learning to Prevent the Spread of Pandemic Corona Virus in Indonesia. ETERNAL: English Teaching Journal, 11(1), 48–56.

Zhao, Y. (2020). COVID-19 as a catalyst for educational

change. PROSPECTS, 49(1), 29–33.

https://doi.org/10.1007/s11125-020-09477-y

Referensi

Dokumen terkait

1 Saya merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Frame Coffee House 2 saya merasa puas dengan hiburan yang disediakan oleh Kafe Frame Coffee House 3 Saya merasa puas