• Tidak ada hasil yang ditemukan

naskah akademik - JDIH Kemendag

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "naskah akademik - JDIH Kemendag"

Copied!
252
0
0

Teks penuh

Kami menyadari bahwa hasil harmonisasi ini masih mempunyai kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dan masukan guna menyempurnakan dan menyempurnakan naskah akademik RUU Perlindungan Konsumen. Pengaturan hakikat perlindungan konsumen terkait dengan pengembangan metode perdagangan dengan menggunakan sistem elektronik (e-commerce/transaksi digital). Saat ini berlaku beberapa undang-undang sektoral yang mengatur perlindungan konsumen, termasuk Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

Undang-undang ini juga mengatur tentang Perlindungan Konsumen Jasa Keuangan dalam bab khusus yaitu Bab VI yang membahas tentang perlindungan konsumen dan masyarakat. Perubahan UUPK ini hendaknya tetap menjadi payung hukum pelaksanaan kewenangan perlindungan konsumen dalam berbagai undang-undang sektoral.

Identifikasi Masalah

Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik

Bingkai permasalahan hukum yang kita hadapi sebagai alasan untuk dibuatnya RUU Perlindungan Konsumen sebagai landasan hukum penyelesaian permasalahan tersebut. Merumuskan pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan hukum bagi rumusan usulan undang-undang tentang perlindungan konsumen. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, ruang lingkup pengaturan, jangkauan dan arah pengaturan RUU Perlindungan Konsumen.

Kegunaan naskah akademis ini sebagai rujukan atau rujukan dalam penyusunan dan pembahasan rancangan undang-undang perlindungan konsumen.

Metode

Bahan hukum sekunder diperoleh melalui penelaahan hasil penelitian, buku, jurnal ilmiah, dan bahan pustaka lainnya yang membahas substansi hukum dan kelembagaan dalam perlindungan konsumen. Data sekunder ini dilengkapi dengan data primer yang diperoleh melalui diskusi publik yang menghadirkan narasumber sesuai kompetensinya dan melibatkan berbagai aktor.

Kajian Teoretis

Efektivitas dan Efisiensi Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR) sebagai Penyelesaian Sengketa Bisnis di Indonesia”, Hukum Perdata 1 2, No. Mediasi juga dikenal di pengadilan sebagai cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan hingga mencapai kesepakatan antara para pihak dengan bantuan pihak mediator yang akan datang. 53 Lihat ketentuan Pasal 59 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Salah satunya adalah penyelesaian sengketa secara online (konsumen) yang dikenal dengan istilah online dispute resolusi (ODR). ODR merupakan suatu metode penyelesaian sengketa yang dilakukan melalui internet, dalam artian proses penyelesaiannya dilakukan oleh pihak-pihak yang berada di wilayah lintas batas negara (cross-border area) tanpa harus bertatap muka. SRS jenis ini tidak sepenuhnya menerapkan mekanisme penyelesaian sengketa secara online, hanya menggunakan beberapa prosedur yang dilakukan secara online.

BBBOnLine mengembangkan penyelesaian sengketa yang timbul dari keluhan konsumen di Amerika Serikat.

Kajian terhadap Asas/Prinsip yang terkait dengan Penyusunan Norma Penyusunan Norma

Pengaturan Perlindungan Konsumen, Konsep Pelaku Usaha, Barang, dan Jasa

Konsumen berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (UU Dagang) erat kaitannya dengan pelaku usaha, barang dan jasa. Berbeda dengan pengertian konsumen dalam UU OJK, pengertian konsumen dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan adalah setiap orang atau badan yang membeli tenaga listrik dari pemegang izin usaha yang menyediakan tenaga listrik. Bentuk perlindungan konsumen adalah pemegang izin perusahaan penyedia tenaga listrik wajib memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada konsumen dan masyarakat sebagaimana diatur dalam § 28 huruf b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009.

Selain undang-undang tersebut di atas, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) mengatur norma terkait perlindungan konsumen. UU ITE mengatur transaksi online, khususnya pada Pasal 9 UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengaturnya. Sehingga masyarakat sebagai pengguna sediaan farmasi dan alat kesehatan mendapat perlindungan dan sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Bagian keenam belas UU Kesehatan mengatur peraturan mengenai makanan dan minuman yang aman, yang merupakan bentuk perlindungan konsumen. Selain itu, perlindungan konsumen juga diatur dalam UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang menekankan tanggung jawab industri pangan. Berdasarkan Pasal 89 Undang-Undang Pangan, dilarang memperdagangkan pangan yang tidak memenuhi keamanan dan mutu pangan yang tertera pada kemasan pangan.

UU Pangan secara jelas mengatur kewajiban dan larangan bagi produsen dan pelaku usaha terkait produk pangan. Bentuk perlindungan konsumen menurut pasal 5 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1999 mengatur bahwa pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaing untuk menentukan harga barang dan/atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan. di pasar relevan yang sama. Perlindungan konsumen juga diberikan kepada pengguna angkutan umum melalui pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Kelembagaan Perlindungan Konsumen a. BPKN

Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perlu adanya penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat posisi kompetitif Indonesia dalam kehidupan global. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus merencanakan dan melaksanakan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendekatan yang lebih optimal dan strategis. Perencanaan dan pelaksanaan dimaksud dirumuskan dalam bentuk arah, prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditetapkan sebagai kebijakan strategis bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

Menteri berkewajiban mengoordinasikan penetapan arah strategis dengan memperhatikan seluruh masukan dan kedudukan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendukung menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam merumuskan hal tersebut, pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional (NRC) yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk perwakilan DRD. Dewan Riset Daerah) (19 Pasal UU – UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang 180 Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Namun demikian, bukan berarti DRN tidak berperan dalam penyusunan rencana induk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan Pasal 9(2), Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait dalam penyusunan Rencana Induk Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Stakeholder yang dimaksud adalah semua pihak yang terkait dengan penyelenggaraan ilmu pengetahuan dan teknologi. 16 Tahun 2015 tentang Dewan Riset Nasional sebagai salah satu pihak yang terkait dengan penyelenggaraan ilmu pengetahuan dan teknologi (Pasal 1 Nomor 22 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

DRD merupakan lembaga yang kegiatannya berkaitan dengan penyusunan kebijakan strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang yang bersangkutan. Penyusunan kebijakan strategis diperlukan agar seluruh pihak yang berkepentingan memahami arah, prioritas dan kerangka kebijakan pemerintah daerah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewan Riset Daerah juga berfungsi mendukung pemerintah daerah dalam mengkoordinasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan daerah lain, serta mewakili daerah dalam Dewan Riset Nasional (Pasal 20 no Penjelasan Pasal 20 Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penyelenggaraan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ).

Penyelesaian Sengketa Konsumen

Sanksi Administratif dan Keperdataan a. Sanksi Administratif

187 1) Pasal 15 Setiap pemilik gudang yang tidak mendaftarkan gudangnya dikenakan sanksi administratif berupa penutupan gudang untuk jangka waktu tertentu dan/atau denda paling banyak Rp.

Sanksi Pidana

188 menimbulkan kerugian dan pada pasal 39 juga disebutkan bahwa gugatan perdata pada pasal 38 dikembangkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Pedagang yang tidak memiliki izin di bidang Perdagangan yang diberikan oleh Menteri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp sepuluh miliar. Apabila pelanggaran tersebut mengakibatkan cacat atau kematian, maka pimpinan institusi pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp satu miliar. .

Landasan Filosofis

Dalam penjualan yang dilakukan oleh pelaku usaha, negara tetap mempunyai tugas dan kewajiban untuk melindungi masyarakat konsumen barang dan/atau jasa terhadap perbuatan pelaku usaha barang dan penyedia jasa. Untuk memberikan perlindungan tersebut tentunya harus dibarengi dengan edukasi kepada konsumen agar cerdas dalam menggunakan haknya. Tak hanya konsumen, negara juga harus memastikan pelaku usaha selain memenuhi kewajibannya terhadap hak-hak konsumen juga menjamin kelangsungan usahanya.

Selain itu, negara harus mengedukasi konsumen dalam memenuhi haknya dan mengawasi pelaku usaha dalam memenuhi kewajibannya.

Landasan Sosiologis

Hal ini terjadi secara wajar, namun pada kenyataannya perdagangan terjadi karena berbagai alasan dan kondisi yang seringkali didasari oleh hubungan yang tidak adil antara pelaku usaha dan konsumen. Kondisi ini pada gilirannya memerlukan norma hukum sebagai peraturan untuk menjamin adanya hubungan yang adil antara pelaku usaha dan konsumen. Selama hampir 20 (dua puluh) tahun berlakunya Undang-Undang Perlindungan Konsumen, banyak terjadi perubahan dalam kehidupan masyarakat yang menimbulkan kesenjangan.

Perkembangan globalisasi terlihat dari pesatnya perkembangan ekonomi digital yang berdampak pada kebijakan hukum perlindungan konsumen. Memasuki tahun 2018, dunia hampir didominasi oleh perusahaan-perusahaan Internet.111 “Perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat harus dikoordinasikan dengan perlindungan konsumen yang nyata, karena transaksi perdagangan saat ini tidak hanya dilakukan dalam satu negara, namun juga antar negara. 112 Era merespons ekonomi digital tersebut dengan merevisi UNGCP. -konsumen-hadapi- Ekonomi- digital., Diunduh pada 11 Februari 2019 pukul 09:02 WIB.

194 salah satunya terlihat dengan masuknya prinsip-prinsip praktik bisnis yang baik dalam revisi UNGCP yang menandai era baru perlindungan konsumen. Fakta tersebut tentunya harus diikuti dengan penyempurnaan UUPK agar sejalan dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat yang semakin dinamis.

Landasan Yuridis

195 konstitusional dalam arti, selain menjamin hak-hak individu, konstitusi juga harus menentukan cara-cara prosedural untuk mencapai perlindungan hak-hak yang dijamin dan menjamin independensi peradilan.113 Dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen, hal ini tentu saja terkait dengan jaminan hak-hak tersebut. konsumen dan badan usaha serta cara prosedur untuk memperoleh perlindungan hak yang dijamin. Konsumen mempunyai hak atas kewajiban pelaku usaha dan sebaliknya, sehingga tercipta keseimbangan yang berkeadilan dan kesetaraan kedudukan dalam pergerakan perekonomian nasional. Jaminan perlindungan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam Pasal 28 D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlindungan hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Salah satu hak konsumen yang menjadi kewajiban pelaku usaha adalah memperoleh segala informasi mengenai barang/jasa melalui semua jenis saluran yang tersedia. Perlindungan konstitusional, dalam arti selain menjamin hak-hak individu, konstitusi juga harus menetapkan cara-cara prosedural untuk mencapai perlindungan terhadap hak-hak yang dijamin tersebut.

Referensi

Dokumen terkait