B. Kajian terhadap Asas/Prinsip yang terkait dengan Penyusunan Norma Penyusunan Norma
2. Kelembagaan Perlindungan Konsumen a. BPKN
177 Berdasarkan uraian diatas, maka bentuk dan pola perlindungan konsumen menjadi landasan dan acuan dalam pengaturan perlindungan konsumen.
2. Kelembagaan Perlindungan Konsumen
178 a) merancang dan merumuskan kebijakan energi nasional untuk ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR;
b) menetapkan rencana umum energi nasional;
c) menetapkan langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi; serta
d) mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas sektoral (Pasal 12 ayat (2) UU Energi).
Pelaksanaan tugas DEN mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas sektoral dilakukan secara terkoordinasi dengan instansi terkait baik Pusat maupun daerah dan pihak lain terkait dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang- undangan. Hasil pelaksanaan tugas DEN dibahas dalam Sidang Anggota, yang hasilnya dilaporkan kepada Ketua DEN (Pasal 23 Peraturan Presiden No.
26 Tahun 2008 tentang Pembentukan Dewan Energi Nasional dan Tata Cara Penyaringan Calon Anggota Dewan Energi Nasional).
Dengan demikian, DEN sebagai suatu lembaga yang dibentuk oleh Presiden memiliki tugas mulai dari merancang kebijakan energi nasional sampai mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas sektoral. Hal ini tentunya dapat menjadi pembanding dalam menyusun tugas BPKN dalam upaya pengembangan perlindungan konsumen di Indonesia.
179 2) Dewan Riset Nasional
Seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat posisi daya saing Indonesia dalam kehidupan global. Oleh karena itu, bangsa Indonesia perlu merencanakan dan melaksanakan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendekatan yang lebih optimal dan strategis. Perencanaan dan pelaksanaan dimaksud dirumuskan dalam bentuk arah, prioritas utama, dan kerangka kebiajakn pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menteri berkewajiban mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mendukung menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam merumuskan hal tersebut, pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional (DRN) yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk mencakup perwakilan dari Dewan Riset Daerah DRD) (Pasal 19 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang
180 Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan Teknologi, DRN tidak disebutkan dalam UU dimaksud. Namun bukan berarti DRN tidak memiliki peran dalam menyusun Rencana Induk Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Menurut Pasal 9 ayat (2), Pemerintah Pusat dalam menyusun Rencana Induk Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkoordinasi dengan Pemangku Kepentingan terkait. Pemangku kepentingan yang dimaksud adalah semua pihak yang terkait dengan Penyelenggaraan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dalam hal ini, DRN merupakan Lembaga Non Struktural independen yang dibentuk Pemerintah (Pasal 1 angka 1 jo Pasal 2 ayat (2) jo Pasal 3 Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2015 tentang Dewan Riset Nasional sebagai salah satu pihak yang terkait dengan Penyelenggaraan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pasal 1 angka 22 UU No. 11 Tahun 2019 tentang Sisnas Iptek). Hal ini dapat terlihat dari tugas DRN, yaitu:
a) membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi;
b) memberikan berbagai pertimbangan kepada Menteri dalam penyusunan kebijakan strategis
181 pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi.
Agar terwujud sinkronisasi program, dibentuk Dewan Riset Daerah (DRD). DRD merupakan lembaga yang kegiatannya berkaitan dengan penyusunan kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah yang bersangkutan. Penyusunan kebijakan strategis tersebut diperlukan agar semua pihak yang berkepentingan dapat memahami arah, prioritas, serta kerangka kebijakan pemerintah daerah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewan Riset Daerah juga berfungsi untuk mendukung pemerintah daerah melakukan koordinasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan daerah- daerah lain, serta mewakili daerah di Dewan Riset Nasional (Pasal 20 jo Penjelasan Pasal 20 Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
Dengan demikian, BPKN sebagai lembaga independen dapat mengambil peran dalam menyusun kebijakan di bidang pelindungan konsumen yang disusun oleh Pemerintah Pusat.
b. BPSK
Lembaga penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan sebenarnya bukan hanya BPSK. Jika dibandingkan dengan sengketa konsumen pada sektor jasa keuangan, ada beberapa lembaga alternatif penyelesaian sengketa konsumen pada sektor jasa
182 keuangan yang dibentuk sejalan dengan karakteristik dan perkembangan di sektor jasa keuangan yang senantiasa cepat dinamis dan penuh inovasi. Lembaga alternative penyelesaian sengketa konsumen jasa keuangan tersebut dibentuk oleh pelaku usaha jasa keuangan yang dikoordinasikan oleh asosiasi masing- masing sektor jasa keuangan. Lembaga tersebut berfungsi sebagai wadah penyelesaian sengketa antara konsumen dan lembaga jasa keuangan di sektor masing- masing dan harus menenuhi prinsip aksesibilitas, independensi, keadilan, efisien dan efektifitas serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Contoh pembentukan lembaga alternatif penyelesaian sengketa (LAPS) di sektor perbankan yang dibentuk oleh bank dengan dikoordinasikan oleh asosiasi sektor perbankan misalnya perhimpunan bank nasional (Perbanas), perhimpunan bank milik negara (Himbara), perhimpunan bank perkreditan rakyat Indonesia (Perbarindo), asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda), Asosiasi bank syariah Indonesia (Asbisindo) dan asosiasi bank asing Indonesia.110
LAPS konsumen sektor jasa keuangan menyediakan layanan yang mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu juga dilengkapi dengan organ pengawas yang bertugas untuk memastikan lembaga penyelesaian sengketa telah memenuhi persyaratan untuk menjalani fungsinya. Lembaga ini juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan laporan berkala kepada OJK. Selain
110 Penjelasan Pasal 10 ayat (1) POJK Nomor 1/POJK.7/2014 tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Di Sektor Jasa Keuangan
183 LAPS yang telah disebutkan dalam POJK Nomor 1/POJK.7/2014, ada beberapa LAPS yang juga berfungsi sebagai lembaga arbitrase yang ditetapkan oleh OJK dalam daftar LAPS yakni, Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI), Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI), Badan Mediasi Dana Pensiun (BMDP), Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI), dan Badan Arbitrase dan Mediasi Perusahaan Penjamninan Indonesia (BAMPPI).
Peraturan OJK ini merupakan sebuah upaya pelaksanaan Pasal 29 UU OJK yang mengatur bahwa OJK melakukan pelayanan pengaduan konsumen yang meliputi:
a. Menyiapkan perangkat yang memadai untuk pelayanan pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan.
b. Membuat mekanisme pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan, dan
c. Memfasilitasi penyelesaian pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di lembaga jasa keuangan sesuai dengan peraturan perundang- undangan di sektor jasa keuangan.
Kelebihan dari LAPS ini adalah dalam eksekusi putusan karena ada otoritas OJK yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi jalannya eksekusi putusan LAPS tersebut. Terlebih lagi ketentuan dalam Pasal 30 UU OJK mengatur bahwa untuk perlindungan Konsumen dan masyarakat, OJK berwenang melakukan
184 pembelaan hukum, yang salah satunya dengan cara memerintahkan atau melakukan tindakan tertentu kepada Lembaga Jasa Keuangan untuk menyelesaikan pengaduan Konsumen yang dirugikan Lembaga Jasa Keuangan dimaksud. Ini mengindikasikan bahwa kewenangan OJK akan digunakan untuk memaksa pelaku usaha pada sektor jasa keuangan untuk mematuhi dan melaksanakan putusan dari LAPS maupun lembaga arbitrase yang menangani sengketa konsumen sektor jasa keuangan. Jika ingin menguatkan fungsi kelembagaan BPSK sebagai LAPS maupun sebagai lembaga arbitrase, maka BPSK harus diberikan kewenangan untuk memaksa para pihak melaksanakan putusan BPSK.
c. LPKSM
Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga non Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen.
Tugas LPKSM meliputi kegiatan:
1. menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban serta kehati-hatian konsumen, dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
2. memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukan;
185 3. melakukan kerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen;
4. membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen;
5. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap pelaksanaan perlindungan konsumen.
Penyebaran informasi yang dilakukan oleh LPKSM, meliputi penyebarluasan berbagai pengetahuan mengenai perlindungan konsumen termasuk peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah perlindungan konsumen. Pemberian nasihat kepada konsumen yang memerlukan dilaksanakan oleh LPKSM secara lisan atau tertulis agar konsumen dapat melaksanakan hak dan kewajibannya. Pelaksanaan kerjasama LPKSM dengan instansi terkait meliputi pertukaran informasi mengenai perlindungan konsumen, pengawasan atas barang dan/atau jasa yang beredar, dan penyuluhan serta pendidikan konsumen.
Dalam membantu konsumen untuk memperjuangkan haknya, LPKSM dapat melakukan advokasi atau pemberdayaan konsumen agar mampu memperjuangkan haknya secara mandiri, baik secara perorangan maupun kelompok. Pengawasan perlindungan konsumen oleh LPKSM bersama Pemerintah dan masyarakat dilakukan atas barang dan/atau jasa yang beredar di pasar dengan cara penelitian, pengujian dan/atau survei. Dalam
186 melaksanakan tugas, LPKSM dapat bekerjasama dengan organisasi atau lembaga lainnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional.