• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI PENDIDIKAN DALAM SY A'IR SY AFl'I DAN AHMAD SYAUQI SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "NILAI PENDIDIKAN DALAM SY A'IR SY AFl'I DAN AHMAD SYAUQI SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM "

Copied!
84
0
0

Teks penuh

NILAI PENDIDIKAN PADA SYA'IR IAMAM SY AFI'I DAN AHMAD SYAUQI DITERAPKAN SECARA MENDALAM. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan akhlak yang didalilkan terutama oleh Imam Syafi’i dan Ahmad Syauqi melalui puisi-puisinya.

Pedoman Transliterasi Arab-Latin u1 a

Konsonan

Vokal

Muhammad Iskandar selaku Direktur Program Pascasarjana yang memotivasi dan memberikan berbagai masukan dan fasilitas demi terselesaikannya penelitian disertasi ini. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik materil maupun materil, sehingga terselesaikannya penelitian dan penulisan disertasi ini.

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Maksudnya adalah orang yang memahami ilmu agama dan mengamalkannya, bukan orang yang hanya pandai berbicara dan berucap. Demikian pula, orang kaya adalah orang yang kaya karena keadaannya, dan bukan orang kaya karena kekuasaan dan kekayaannya. Demikian pula, orang yang benar-benar kaya bukan hanya orang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang banyak, namun tidak pernah memberi keuntungan pada dirinya sendiri, apalagi kepada orang lain.

Namun, orang yang benar-benar kaya adalah orang yang pandai bersyukur dan mempunyai kemampuan untuk merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan dimilikinya, tentunya tanpa mengorbankan usahanya. Sebaliknya, dengan harta yang sedikit, maka orang yang kaya hati dan jiwa akan mampu merasa puas dengan apa yang dimiliki dan dimilikinya, dan pada saat itulah ia akan benar-benar menduduki posisi “orang kaya”.

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Untuk mengkaji relevansi dan implikasi kedua nilai puisi tersebut terhadap sistem pendidikan nasional Indonesia. Menyumbangkan pemikiran kepada para pemimpin pendidikan mengenai perlunya membangun konsep pendidikan yang memperhatikan keseimbangan antara pendidikan intelektual, emosional, spiritual dan rasional. Untuk memperkaya khazanah keilmuan mengenai nilai-nilai pendidikan, khususnya nilai-nilai pendidikan akhlak dan akhlak.

Kajian Pustaka

32 Bahagian II Perkara 1 membincangkan syair Syafi'i yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan antaranya taat setia, berdikari, tawa4u' dan lain-lain, selain terdapat juga karya syair beliau yang berkaitan dengan penerapan syariat Islam. Kajian lain tentang syair Syafi'i ialah Dfwan al-Imam asy-Syiji 'i Warasatun Adabiyatun Naqdiyatun. Dalam karya penelitiannya, Fathurrahman memfokuskan penelitiannya pada syair-syair Syafi’i yang mempunyai nilai-nilai keutamaan yang membawa kepada kehidupan sufi untuk mencapai darjat muttaqi melalui jabatan tertentu seperti; sabar, memaafkan, merendah diri, tawakkal, qana'ah, ri

Di akhir bukunya, al-Hufi berbicara tentang masalah kebahasaan, serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat-ayat puisi Syauqi. Sedangkan kelompok keempat banyak bercerita tentang puisi yang bersifat drama panggung seperti perjuangan Kleopatra dan Majniin Laila.

Kerangka Teoretik

Menurut Pradopo, hal ini disebabkan oleh hakikat karya sastra itu sendiri yang mempunyai banyak penafsiran, sehingga dengan teori ini dapat terjadi perbedaan pemaknaan terhadap suatu karya sastra, 41 karena pembaca sebagai penemu karya sastra tersebut sebenarnya tidak demikian. faktor yang stabil karena yang disebut pembaca adalah faktor yang berubah menurut waktu, tempat, dan kondisi sosial budaya yang mendasari pembacaan. 38 Pendekatan mimesis adalah pendekatan yang dalam kajian karya sastra berupaya memahami hubungan antara karya sastra dengan realitas kehidupan. 39 Pendekatan pragmatis merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana penyampaian tujuan kepada pembacanya, dimana tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama dan lainnya.

Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan, Broudy (1961) mengatakan bahwa filsafat pendidikan adalah suatu pembahasan sistematis mengenai masalah-masalah pendidikan pada tataran filosofis, yaitu menelaah suatu masalah pendidikan hingga direduksi menjadi persoalan-persoalan pokok metafisika, epistemologi, logika, etika dan estetika. . Dari beberapa penjelasan tentang pendidikan dan pemikiran atau filsafat pendidikan di atas dapat dipahami bahwa hakikat pendidikan yang tidak dapat dipisahkan dari filsafat pendidikan sebagaimana dikemukakan para ahli dapat dilihat dari tiga persoalan pokok, yaitu; ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Metode Penelitian

Dalam analisis data penelitian ini digunakan metode intertekstual Roland Barthes yang mengatakan bahwa intertekstualitas merupakan jalinan baru kutipan-kutipan dari teks-teks sebelumnya, sehingga jika seseorang menciptakan sebuah teks baru, maka teks baru tersebut juga merupakan interteks, karena itu diambil dari teks lain. Intertekstualitas menurut Demildan merupakan fenomena anonim yang tidak perlu dikomentari, karena berupa pemikiran yang berbeda dan berasal dari teks lain. 49 Selain metode intertekstual ala Roland Barthes di atas, karena penelitian ini mengkaji teks dengan dua tokoh, maka metode intertekstual ala Riffaterre juga digunakan sebagai pelengkap dan pendukung metode pertama, yang memandang bahwa intertekstual adalah intertekstual. Prinsipnya memerlukan metode komparatif.

Perlu dikatakan pula di sini bahwa kajian terhadap teks-teks puisi tersebut tidak berhenti pada interteks antara karya puisi kedua tokoh tersebut, karena teks-teks Al-Qur'an dan HadH; Nabi digunakan sebagai payung di dalamnya. Oleh karena itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan fenomenologi dengan kajian intensionalitas, intersubjektivitas, 51 dan logika transendental Husserl dipilih karena berbeda dengan fenomenologi Derrida yang menolak pemahaman transendensi dalam kajian teks Al-Quran ketika mengkajinya. nilai-nilai pendidikan yang penulis rangkum dari puisi kedua tokoh Syafl'i dan Syauqi mencapai nilai-nilai transendental surgawi Qucini, oleh karena itu jalan Husserl dengan mempelajari intensionalitas, intersubjektivitas dan logika transendental, menurut penulis mengacu pada pendapat Noeng Muhadjir, menjadi lebih cocok untuk digunakan.52 Selain metode-metode tersebut di atas, untuk memperoleh hasil analisis yang lebih rinci dalam analisis data penelitian ini digunakan juga metode analisis isi, karena dengan Metode ini, setiap bait puisi yang diteliti dianalisis menurut isi, isi dan pesan yang dikandungnya, dengan mengabaikan kandungan makna simbolis yang terkandung di dalamnya53•.

Sistematika Pembahasan

Pembahasan biografi kedua tokoh tersebut dari sudut pandang pendidikan, sosial, politik, dan budaya diharapkan dapat membantu mempermudah pengkajian pokok-pokok pikiran, kandungan nilai-nilai pendidikan dalam puisi-puisinya, serta ciri-cirinya. puisi mereka. Bab keempat penelitian ini merupakan bagian utama penelitian, karena bab ini mengkaji secara detail nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam puisi dua tokoh (Syafi'i dan Syauqi). Nilai pendidikan mengacu pada pendidikan individu dan pendidikan sosial, dimana nilai pendidikan individu meliputi: nilai kerja, nilai moral, nilai agama, dan nilai sosial yang masing-masing akan dirinci lebih lanjut dalam nilai disiplin. kemandirian, kejujuran, kesetiaan, toleransi, kepedulian, kerjasama dan saling berdiskusi.

Selanjutnya kita lihat perbedaan dan persamaan pesan-pesan pendidikan yang disampaikan dalam puisi Syafi'i dan Syauqi, dan karena semua nilai yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut pada hakikatnya bersumber dari al-. Bab kelima merupakan pembahasan terakhir dalam penelitian ini, bab ini masih mengupas permasalahan yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan, hanya saja pembahasannya mengarah pada bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam diri peserta didik melalui isi pesan puitis kedua tokoh tersebut (Syafi’i dan Syauqi), yang mencakup nilai-nilai kelembagaan individu dan kemasyarakatan, untuk kemudian mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam pendidikan Islam, serta implikasi dan signifikansinya bagi pendidikan nasional, mengingat sistem pendidikan yang ada, baik Islam dan nasional, namun belum sepenuhnya mampu memenuhi tuntutan yang diharapkan melalui upaya pendidikan.

BAB VI PENUTUP

Kesimpulan

Adapun pemikiran atau gagasan Syafi'i dan Syauqi secara esensial dan substantif tentang pendidikan nilai-nilai yang berkesinambungan terkait dengan perilaku manusia dalam kehidupan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu karya-karya keduanya secara umum menunjukkan pentingnya menghubungkan nilai-nilai. seperti: kejujuran, kesetiaan, kerjasama, toleransi, kepedulian, kemandirian dan kedisiplinan dengan ilmu manajemen pendidikan, dan apabila terdapat perbedaan tingkat pemanfaatan maka perbedaan tersebut hanya bersifat teknis operasional dan tidak bersifat substantif esensial. Kandungan puisi Syafi’i dan Syauqi yang menyangkut nilai-nilai dasar pendidikan yang meliputi kejujuran, kemandirian, toleransi, kepedulian, kesetiaan, kerjasama dan disiplin belum diterapkan secara serius dalam pelaksanaan proses pembelajaran, baik pada lembaga pendidikan yang berlabel Islam maupun nasional, karena sistem pendidikan yang ada dan berjalan saat ini belum tepat. Sementara itu, kondisi lingkungan dan budaya masyarakat di era modern dan era global saat ini sudah tidak memadai lagi untuk mendukung terlaksananya transformasi nilai-nilai tersebut pada diri peserta didik, karena dalam kehidupan nyata sehari-hari banyak terdapat realitas yang sebenarnya merupakan kebalikan dari nilai-nilai tersebut, yaitu nilai-nilai luhur yang disampaikan Syaf'i dan Syauqi.

Terhadap sistem pendidikan yang ada dan saat ini, baik itu sistem pendidikan Islam maupun pendidikan nasional, belum ada upaya maksimal yang dilakukan semua pihak. mengimplementasikan atau menyandingkan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya puisi kedua tokoh yang diteliti dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Fakta tersebut jelas menunjukkan bahwa kesadaran dan keyakinan semua pihak untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya masih rendah.

Saran-Saran

Abdul Aziz, Saleh, Et-Tarbijatu el-Hadisatu, Miidatuha, Mabadiuha, Tefbfka tuha el-flmijeh, Mesir: Dar el-Ma'arif, t.t. Abdurrahman bin Ab1 Hatim er-Razi, Ebu Muhamed, Adah asy-Syafi 'T ue Menakibuhu, Bejrut: Dar el-Maktabah el-Islamiyah t.t.p. Dhaif, Syauki, El-Fannu ve Meianibuhu ft Syi'r el-'Arabi, Mesir: Dar el-Ma'iirif, t.t.

Ibrahim, 'Abd al-'Alim, Muvajjih el-Fanni Ii Mudarrisi el-Lugah el-'Arabiyah, Kairo: Dar el-Ma'arif, t.t. Mursyidi El-, Muhamed Ahmedi etj., El-Adab ue en-N~iis ue el-Baliigah, Mesir: Dar el-Ma' arif, t.t. Syauqi, Ahmad, Asy-Syauqiyyiit, Syi'r el-MarhUm Ahmad Syauqi, Bejrut: Dar el-Fikr el-Ilmiyah, t.t.

منذ, رايموند, الأداه الموقرين ده الأداه القيم, بجروت: دار الكتاب اللوباني, إذ.

Identitas Diri

Riwayat Pendidikan

Riwayat Pekerjaan

Karya Ilmiyab

Tafsir Surah asy-Syu' ara', Maka/ah, untuk diskusi ilmiah, dosen tetap IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1998. Dasar-dasar pendidikan anak dalam Al-Qur'an (Kajian ayat-ayat pendidikan dalam surah Lukman), Peneliti Perorangan , Puslit IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1999. Lukman al-Hakim model pendidikan anak, Jurnal Penelitian Agama, Puslit IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol.

Peran Sastra dalam Pendidikan Islam, (Studi Analisis Puisi Imam Syafi'i), Jurnal Penelitian Individual, Puslitbang IAIN Sunan Kalijaga Yogykarta, 2002. Ciri-ciri Pendidikan Islam Tradisional (Potret Pendidikan Pondok Pesantren di Pulau Jawa ), Jurnal Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol.

Referensi

Dokumen terkait

0.48 I was asking for help from my caregivers during pain 0.46 Labor pain becomes more intense 0.46 The severity of my labor pain was less than I had heard 0.45 I had enough