• Tidak ada hasil yang ditemukan

nilai sosial tradisi sayyang pattu'du' dalam masyarakat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "nilai sosial tradisi sayyang pattu'du' dalam masyarakat"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

PENELITIAN RELEVAN DAN INDENTIFIKASI TEORI

Kebudayaan

Herskovits dan Bronislaw Malinowski menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di masyarakat ditentukan oleh budaya masyarakat itu sendiri. Unsur kebudayaan dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti bagian kebudayaan yang dapat dijadikan bahan analisis khusus. Selain itu manusia dan masyarakat juga memerlukan kepuasan, baik dalam bidang spiritual maupun material, dan kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang berasal dari masyarakat itu sendiri. Dikatakan bahwa, secara luas, karena kapasitas manusia terbatas, maka kapasitas budaya yang dihasilkan dari penciptaannya juga terbatas dalam memenuhi segala kebutuhan.

Masyarakat

Misalnya: hubungan cinta antara dua remaja yang sedang jatuh cinta atau bergairah dalam percintaan. Tindakan ini biasanya terjadi karena adanya rangsangan dari luar yang bersifat otomatis sehingga dapat bermakna. Interaksi sosial adalah hubungan kontak atau timbal balik atau interstimulasi dan respon antar individu, antar kelompok atau antara individu dengan kelompok.” Berdasarkan pendapat Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dapat berlangsung apabila terpenuhi dua syarat dibawah ini, yaitu ( hal.26).

Nilai Sosial

Sayyang Pattu’du’

Keistimewaan acara ini, puncak acara khatam Al-Qur'an adalah festival adat Sayyang Pattu'du' dengan daya tarik tersendiri. Namun kami hanya mengambil satu sampel saja, yaitu Sayyang Pattu'du' yang artinya kuda menari. Sayyang Pattu'du' (kuda menari) begitulah masyarakat suku Mandar, Sulawesi Barat, menyebut acara yang diadakan untuk merayakan anak-anak yang telah tuntas mengaji.

Masyarakat Sulawesi Barat yang telah menyelesaikan Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat istimewa, dan hal tersebut patut kita syukuri terutama dengan diadakannya perayaan adat Sayyang Pattu'du'. Al-Qur'an dan upacara adat Sayyang Pattu'du' mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lain. Pementasan atau venue festival adat Sayyang Pattu'du' ini biasa digelar di Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Di sekitar Sayyang Pattu'du' dari Polewali Mandar, kedua kuda itu langsung mengangguk ketika rebana dibunyikan. Sayyang Pattu'du' biasanya diadakan untuk merayakan selesainya membaca Al-Qur'an oleh anak-anak. Bagi mereka, ada kaitan erat antara Sayyang Pattu'du' dengan momen khatam Al-Qur'an ini.

Sayang pattu'du' eller hwad man kan kalde ko pattu'du' Air Mandar-Falkett Asli Kunst, Sulawesi Barat.

Landasan Teori

Dengan demikian peneliti memfokuskan penelitiannya pada Nilai-Nilai Sosial Tradisi Sayyang Pattu’du’ Pada Masyarakat Mandar Di Kabupaten Polewali Mandar. Teknik dokumentasi merupakan teknik pelengkap penelitian mengenai ritual adat Sayyang Pattu’du’ di Kabupaten Polewali Mandar. Dari data tersebut diperoleh beberapa jawaban mengenai tradisi sayyang pattu’du’ di desa Pambusuang kecamatan Balanipa.

Bahkan, sudah menjadi agenda tahunan penyelenggaraan festival Sayyang Pattu'du' di Kabupaten Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Masuknya pengaruh politik praktis tidak mengikis nilai-nilai tradisi Sayyang Pattu’du’. Salah satu faktornya adalah acara Sayyang Pattu'du' berfungsi sebagai sarana komunikasi budaya masyarakat.

Sebagai sarana komunikasi budaya, acara Sayyang Pattu’du’ secara tidak langsung akan memperkuat identitas masyarakat setempat. Bagi masyarakat Mandar, Sayyang Pattu'du' ibarat festival rakyat yang dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Perubahan sosial yang berdampak pada pertunjukan tradisional Sayyang Pattu’du’ di Kabupaten Polewali Mandar mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai.

Nilai estetika, Pissawe dalam tradisi Sayyang Pattu'du' biasanya mengenakan pakaian adat Mandar (pasangan mamea) berwarna merah yang berpenampilan transparan. Seiring berjalannya waktu, para wanita tidak lagi memakai pakaian mamea, namun sebagian masyarakat Mandar memadukannya dengan kreasi modern (present tense).

Gambar 2.1  Bagan Kerangka Konsep
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Konsep

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Informan Penelitian
  • Fokus Penelitian
  • Instrumen Penelitian
  • Jenis dan Data Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
    • Teknik Keabsahan Data

Lokasi penelitian ini adalah Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini berkaitan dengan permasalahan nilai-nilai sosial tradisi Sayyang Pattu’du’ pada masyarakat Mandar Kabupaten Polewali Mandar. Dimana penulis ingin mengkaji dinamika sosial yang muncul terkait tradisi Sayyang Pattu’du’ dan menganalisis sejauh mana masyarakat Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa memaknai tradisi Sayyang Pattu’du’. Deskripsi Prosesi Tradisi Sayyang Pattu'du' di Kabupaten Polewali Mandar Dalam ilmu sosiologi, dinamika sosial diartikan sebagai keseluruhan perubahan seluruh komponen masyarakat dari waktu ke waktu.

Dalam perkembangannya, Sayyang Pattu'du' dijadikan sebagai motivasi agar anak-anak cepat selesai membaca Al-Qur'an dan berjanji akan mengaraknya keliling desa. Jika kita melihat perkembangan tradisi Sayyang Pattu’du’ dari awal berdirinya hingga saat ini, tentu ada perubahan, baik positif maupun negatif. Salah satu upacara adat tersebut adalah Sayyang Pattu’du’ yang berlangsung di negeri Mandar tepatnya di desa Pambusuang tempat penulis melakukan penelitian.

Sayyang Pattu’du’ sebagai warisan budaya yang diwujudkan dalam bentuk upacara ini mempunyai fungsi dan makna tersendiri bagi masyarakat. Misalnya, jika kudanya "di sana", maka itu adalah kuda, Anda tidak bisa mengucapkan Sayyang Pattu'du', tetapi Anda harus mengucapkannya. Sayyang Pattu'du' tidak diperuntukkan bagi anak-anak yang sudah menguasai Al-Qur'an, apalagi sudah bergeser peran dan fungsinya.

Sayyang Pattu'du' yang juga merupakan aset budaya daerah Mandar, sayang sekali jika tidak dilestarikan oleh pemerintah daerah.

Tabel 3.1  Daftar Informan Penelitian
Tabel 3.1 Daftar Informan Penelitian

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sejarah Desa

Desa Pambusuang merupakan salah satu dari 17 desa dan 1 kelurahan di Balanipa Kabupaten Polewali Mandar, desa induk dari Desa Lalliko dan Desa Kenje. Pada awal terbentuknya wilayah Desa Pambusuang mempunyai wilayah yang cukup luas dengan jumlah 8 (delapan) dusun, yaitu: Dusun Lapeo, Dusun Parabaya, Dusun Babatoa, Dusun Kappung Buttu, Dusun Gonda, Dusun Labuang, Dusun Galung, dan Dusun Umapong. Dengan dasar pertimbangan untuk memaksimalkan dan mempermudah pelayanan kepada masyarakat, Desa Lapeo dimekarkan menjadi 3 desa, yaitu Desa Lapeo sebagai desa induk, Desa Kenje dan Desa Lalliko.

Keadaan Geografis

Berdasarkan batas wilayah tersebut di atas, luas wilayahnya adalah 2.192,2 Ha, terdiri dari 3 dusun yaitu: Dusun Lapeo, Dusun Parabaya, Dusun Babatoa.

Sumber Daya Alam

Sumber Daya Manusia

Keadaan Ekonomi

Karena kondisi geografis Desa Lapeo yang terletak di wilayah pesisir pantai, hal ini mempengaruhi pola kerja utama penduduk Desa Lapeo yang sangat beragam, kemudian dilihat dari tingkat pendidikan yang rata-rata cukup memadai. , sehingga banyak juga yang berkesempatan bekerja sebagai PNS atau pegawai swasta.

Kondisi Sosial Budaya

Sayyang Pattu'du' dalam bahasa Mandar khususnya di Desa Lapeo juga merupakan acara besar bagi masyarakat disini, sehingga tidak heran jika setiap perayaannya ada Sayyang Pattu'du' (Wawancara 29 Agustus 2018). Dari pernyataan kedua informan di atas terlihat jelas bahwa tradisi Sayyang Pattu’du’ bukan lagi sekadar perayaan atau upacara adat biasa, namun sudah menjadi ikon dan identitas daerah Polman itu sendiri. Bentuk rasa syukur tersebut adalah dengan mengarak keliling desa dengan menunggang kuda yang pandai menari atau populer di Sayyang Pattu'du' (wawancara 25 Agustus 2018).

Dari pernyataan di atas terlihat jelas bahwa tradisi Sayyang Pattu’du’ ini berada pada masa Kerajaan Balanipa, dimana Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa sendiri masuk dalam wilayah Kerajaan Balanipa sekarang Kecamatan Balanipa dan. Sebagai sebuah sistem sosial, acara Sayyang Pattu’du’ mempunyai peranan yang sangat penting dalam terwujudnya solidaritas masyarakat Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa pada khususnya dan masyarakat Mandar pada umumnya. Khusus di Pambusuang, momen Maulid (hari lahir Nabi Muhammad SAW) dirayakan cukup meriah dengan Sayyang Pattu'du' yang bernuansa religi dan budaya.

Prasyarat yang telah dibahas di atas menjelaskan bahwa setiap syarat atau barang di atas harus ada karena masing-masing mempunyai fungsi dalam perayaan Sayyang Pattu’du’ di tanah Mandar. Ku Sayyang Pattu’du’ merupakan kesatuan beberapa orang yang mempunyai fungsi masing-masing. Bila bersatu maka disebut Sayyang Pattu'du'. Sebagai sebuah warisan budaya, acara Sayyang Pattu’du’ sudah selayaknya ditransformasikan kepada generasi penerus agar upacara semacam ini dapat tetap mempertahankan eksistensinya di masa yang akan datang.

Besar harapan kami juga agar semua pihak yang berpartisipasi dan berpartisipasi dalam pelaksanaan acara Sayyang Pattu'du' mendukungnya.

Kondisi Pemerintah Desa

  • Nilai Sosial Tradisi Sayyang Pattu’du’ di Kabupaten

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Tradisi Sayyang Pattu'du' di Kabupaten Polewali Mandar diadakan untuk mengapresiasi seorang anak yang telah memahami Al-Quran dengan cara diarak keliling desa dengan menunggang kuda diiringi musik rebana dan untaian pantun bahasa Mandar (Kalinda'da)'. ), serta untuk menjaga keseimbangan pengendara diperlukan adanya pendamping (passarung). Dalam perkembangan terakhir, tradisi Sayyang Pattu’du’’ di Kabupaten Polewali Mandar tidak lagi hanya digunakan untuk anak yang telah menguasai Al-Qur’an saja, namun cenderung digunakan untuk tujuan lain yaitu sebagai media promosi politik, budaya. festival, penjemputan tamu, dan identitas atau simbol daerah Mandar, terlihat pada pembukaan pada Perayaan HUT Kabupaten Polewali Mandar. Nilai-nilai keagamaan sebagaimana tadi dalam tradisi Sayyang Pattu’du’ yang berperan sebagai Pissawe adalah seorang Tomala’bi’ (orang yang rendah hati, bertakwa, dan terpelajar), sehingga anak yang paham Al-Qur’an juga demikian. ciri-cirinya bagus, sama dengan temannya.

Nilai etika terlihat pada pemain tambura (Parrawana) dan orang yang menyanyikan pantun Mandar (Pakkalinda'da') mengalami pergeseran nilai yang sama yaitu sebelum memainkan musik tambura dan menyanyikan kalinda'da' terlebih dahulu mengucapkan syahadat dan shalawat.namun, kebiasaan ini mulai hilang. Beberapa generasi muda pemain rebana dan pemain Kalinda’da’ di Kabupaten Majene sudah tidak mempunyai etika lagi, tidak lagi mengucapkan syahadat dan shalawat, malah para pemainnya mabuk-mabukan agar semakin percaya diri saat tampil dalam adat Sayyang Pattu’du’. pertunjukan, hal ini mencerminkan seseorang, yang berperilaku buruk atau tidak menghormati orang tua dan tradisi.

Saran

Meski masih baru, status provinsi Sulawesi Barat sebagai daerah otonom sangat penting dan mutlak bagi terciptanya karakter dan jati diri budaya. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah daerah dan swasta membangun gambaran Sulawesi Barat secara holistik di berbagai daerah serta proaktif dan melibatkan seluruh elemen masyarakat di daerah terkait. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan terkait berkewajiban untuk selalu menjaga, melestarikan dan mengembangkan tradisi Sayyang Pattu’du’ beserta unsur-unsur tradisionalnya.

Sehingga ke depan dan ke depan para pelaku kebudayaan dalam upacara ini berdaya dan memaksimalkan potensinya untuk meraih prestasi, serta mengharumkan nama Provinsi Sulawesi Barat dalam kancah kebudayaan nasional dan internasional.

Gambar

Gambar 2.1  Bagan Kerangka Konsep
Tabel 3.1  Daftar Informan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tentang ” Tradisi dan Perubahan Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Pedesaan (Perubahan Tradisi Rewang di Desa Banjarsari Wetan Kabupaten Banyumas ).”

Hasil penelitian mengenai tradisi Ngayau ini menunjukkan bahwa (i) tradisi Ngayau merupakan ritual berburu kepala manusia dalam masyarakat Dayak, (ii) proses dan tatacara ritual

Masih dilestarikanya tradisi potong rambut gimbal oleh masyakakat desa Tlogojati, menunjukkan bahwa masyarakat desa Tlogojati masih memegang teguh tradisi-tradisi

Penelitian ini membahas tentang bagaimana prosesi tradisi tedhak siten serta nilai budaya dan sosial yang terkandung dalam rangkaian tradisi tedhak siten yang dilakukan oleh masyarakat

Dimana kuda menganggut anggutkan kepalanya serta kakinya menarik-narik yang mengikuti irama rebana dan ditunggangi gadis cantik dan menggandeng anak kecil yang sudah khatam Al-Qur’an,

Dari hasil peneliitian ini menunjukan bahwa tradisi “Beqen” memiliki dampak besar dalam membangun pola kehidupan sosial masyarakat Desa Pene hal tersebut disebabkan karena adanya

Hasil penelitan menunjukkan bahwa a kepercayaan masyarakat terhadap tradisi nyadran yaitu untuk menghilangkan bala’ atau musibah serta budaya nyekar sebelum hajatan dipercaya untuk

Hasil dari artikel ini menunjukan bahwa tradisi mbue-mbue sebagai lagu pengantar tidur masyarakat Muna merupakan tradisi pengasuhan kepada anak dengan menanamkan nilai karakter