• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi ber-arsitektur masyarakat Sidatapa, Buleleng Bali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2025

Membagikan "Tradisi ber-arsitektur masyarakat Sidatapa, Buleleng Bali"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Tradisi ber-arsitektur masyarakat Sidatapa, Buleleng Bali

Ni Ketut Ayu Siwalatri1, 2, Josef Prijotomo 3, Purwanita Setijanti4

1Lecturer of Architecture Department Udayana University Denpasar Bali

2Doctorate Program of Architecture Department, Civil Engineering and Planing Faculty, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Indonesia

3Professor in Critics and Traditional Architecture, Architecture Department, Civil Engineering and Planning Faculty, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Indonesia

4Doctor of Housing and Settlement, Architecture Department, Civil Engineering and Planing Faculty, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Indonesia

Abstrak

Potensi arsitektur tradisional di Indonesia sangat kaya dan bervariasi, namun belum banyak dilakukan eksplorasi untuk mengupas tradisi yang dimiliki masyarakat menjadi sebuah pengetahuan ke arsitekturan. Tradisi berarsitektur pada masyarakat etnik di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Bali dibungkus dalam bentuk mitos, kepercayaan dan ceritra rakyat, karena masyarakat belummemiliki budaya menulis. Desa Sidatapa merupakan sebuah desa Bali kuno yang terletak di kabupaten Buleleng dan berkembang pada perioda abad 9- 11 AD dan memiliki tradisi yang unik yang mampu menjaga keberlangsungan arsitektur dan lingkungannya.

Eksplorasi dan telaah mendalam pada rumah adat desa Sidatapa bertujuan untuk mengupas tradisi yang dimiliki oleh masyarakat menjadi ilmu pengetahuan tentang arsitektur di Bali. Tradisi berarsitektur masyarakat Sidatapa dapat menjadi salah satu referensi untuk mengembangkan arsitektur Bali di masa yang akan datang.

Kata kunci :tradisi, arsitektur, Bali Aga, tradisi berarsitektur

A. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan arsitektur vernakularyang berlimpah dan tersebar diseluruh kepulauan Indonesia dari Aceh sampai dengan Papua.

Kekayaan arsitektur vernakular di Indonesia belum semuanya di eksplorasi dengan mendalam, dan masih banyak tersimpan di lapangan sebagai kekayaan masyarakat etnik di Indonesia. Eksotikisme arsitektur vernakuar telah ditulis dalam beberapa buku seperrti Rudovsky, Paul Oliver dan Rapoport dan sebagainya

Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang berkembang pada suatu masyarakat lokal yang dalam proses pengembangan arsitekturnyan menggunakan pengetahuan dan material yang tersedia disekitarnya. Bangunan vernakular merupakan ekspresi dari bahasa setempat dan menjadi milik masyarakat dari suatu tempat. Analogi linguistik dari bahasa vernakular dari bangunan sering dilakukan karena dengan melakukan analogi memungkinkan untuk melakukan perbandingan dengan struktur tatabahasa dengan style atau bagaimana masyarakat mengekspresikkan ke dalam kebudayaan material dan bentuk verbal (Oliver, 1997:xxi,dalam Bronner, 2006:23). Arsitektur vernakular menekankan bangunan sebagai teks dalam konteks lingkungan dan teknologi yang tersedia. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan bagaimana dan mengapa arsitektur ini diproduksi. Jawabannya terdapat pada nilai-nilai masyarakat dan

ways of living" dan cara bangunan diwariskan dan diteruskan .(Bronner, 2006:43).

(2)

Tradisi berarsitektur dapat sekaligus menjadi subjek dan objek, dimana tradisi membentuk bangunan dan bangunan mengandung tradisi. Kata tradisional yang digunakan untuk menjelaskan bangunan adalah sebuah struktur referensi dari objek yang lebih luas.

(Bronner, 2006:24). Tradisi dan arsitektur vernakular saling berkaitan karena arsitektur terbentuk melalui tradisi yang dilakukan oleh masyarakat. Bila vernakular mengimplikasikan budaya, menghasilkan grammar/aturan untuk teks material, maka tradisi adalah sebuah referensi untuk mempelajari bagaimana ekspresi kultural dihasilkan. Tradisi juga dilihat sebagai proses sosial dimana masyarakat membagi/berbagi pengetahuan dan ditransmisikan melalui ruang dan waktu dan menjadi sumber dari model untuk menjelaskan arsitektur vernakular (Bronner, 2006:25).

Dalam proses pembuatan bangunan, tradisi menjadi referensi yang tetap dan dalam bangunan vernacular menerapkan kekuatan autoritas tertentu saja. Berbeda dengan

;peranan/rule" dan kadang menerapkan kode tidak tertulis dan bahkan tidak disadari. Tradisi sebagai sebuah referensi pada masa lalu oleh karena itu bersifat tidak pasti, dan sebagai sebuah struktur sosial sering dilakukan re-negosiasi pada setiap generasi dan pada setiap komunitas . Menggunakan model linguistik vernakular, tradisi dapat dilihat sebagai bahasa lokal yang mendapatkan penghormatan karena penggunaan yang sering dan lama. Bahasa lokal yang mengadung ke arifan yang terbentuk sebagai kata kerja dan diterima oleh masyarakat. Kearifan lokal ini penting karena telah diterima oleh masyarakat, telah diwariskan, dan sudah dicobakan dalam waktu yang lama, dan mungkin mendapatkan berbagai pengaruh dari persepsi masyarakat pada kondisi lingkungan (Bronner: 2006 :43)

B. Pembahasan

Desa-desa kuno di wilayah Buleleng Barat terdapat di kecamatan Banjar yang terdiri dari 5 desa yaitu desa Sidatapa, Tigawasa, Pedawa, Cempaga dan Banyusri. Desa Sidatapa terletak di kecamatan Banjar dan terletak diatas pengunungan. Untuk mencapai desa Sidatapa dapat melalui kota Singaraja ke arah barat dan naik ke pegunungan atau dapat dicapai dari Bedugul melewati Gobleg menuruni bukit. Berbeda dengan desa Julah di desa Sidatapa belum ditemukan peninggalan arkeologis yang dapat digunakan sebagai bukti sejarah awal perkembangan desa Sidatapa. Dilihat dari perioda waktu perkembangan kedua desa ini memiliki kesamaan yaitu berkisar abad 9 -11 dan keduanya termasuk kedalam desa kuno yang ada di Kabupaten Buleleng (Rahayu, 2010 :47). Peninggalan kebudayaan megalitik berupa sarkopagus batu dapat ditemukan di desa Tigawasa yang merupakan desa

(3)

yang bersebelahan dengan desa Sidatapa. Menurt Informasi resmi pemerintah daerah Buleleng masyarakat desa Sidatapa merupakan pengikut Resi Markandya yang migrasi dari gunung Raung Jawa timur sebelum mendirikan Pura Besakih.

Desa Sidatapa pada awalnya bernama Gunung Sari yang dihuni oleh tiga kelompok masyarakat yaitu (a) kelompok yang menamakan dirinya warga Pasek yang mendiami wilayah Leked, (b) kelompok yang menamakan dirinya warga Patih yang mendiami wilayah Desa Kunyit, (c) kelompok yang menamakan dirinya warga Batur yang mendiami wilayah Sekarung. Karena warga Leked mengalami marabahaya berupa serangan semut yang merajalela, maka dalam rapat yang dilaksanakan warga, maka diputuskan untuk melakukan upacara memohon petunjuk kepada Tuhan. Setelah berhasil mengatasi marabahaya, desa Gunung Sari berubah menjadi nama Desa Gunung Sari Munggah Tapa dan selanjutnya menjadi desa Sidatapa (sida=berhasil, tapa=tapa) (Kominfo Buleleng, 2009, Rahayu, 2010:50). Sejarah terbentuknya desa Sidatapa merupakan legenda yang diceritrakan dalam buku Eka Lila Cita Desa Sidatapa tahun 1990 dan belum ditemukan bukti arkeologis yang mendukung.

B.1 Tradisi berarsitektur masyarakat Sidatapa

Pada masyarakat Sidatapa ada beberapa tradisi yang memungkinkan arsitekturnya tetap terjaga dan bertahan dan mampu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Masyarakat Sidatapa memiliki tradisi apabila ada pasangan yang baru menikah diwajibkan untuk membangun rumah tinggal yang baru dan tidak boleh tinggal se-rumah dengan orang taunya selam kurun waktu tertentu. Menurut nara sumber waktu yang diperkenankan untuk tinggal bersama dengan orang tua nya maksimal 7 tahun, namun ada juga yang mengatakan maksimal 3 tahun. Dengan tradisi seperti ini maka setiap pasangan wajib membangun rumah tinggal yang baru.

Rumah tinggal di desa Sidatapa atau disebut dengan rumah adat adalah sebuah bangunan dengan 12 tiang kayu/saka. Satu unit rumah adat hanya terdiri dari satu bangunan dan semua aktivitas dilakukan di dalam rumah ini. Rumah adat disebut dengan “bale gajah, bale tumpang talu dan bale saka roras”. "Penamaan" bertujuan untuk melengkapi makna dan untuk melengkapi identitas dari prototipe. Bangunan masa lalu menjadi independen pada jamanya dan menjadi objek estetik apabila ada kepekaan untuk jarak waktu tertentu (Bandmann, 2005:63). Penamaan rumah adat ini berkaitan dengan bentuk dan ekspresi arsitekturnya. Bale gajah memiliki pengertian rumah besar serba ada karena pada saat itu bangunan terbesar yang dikenal oleh masyarakat Bali adalah bale saka roras. Sedangkan bale tumpang talu memiliki pengertian bangunan yang bertingkat tiga,dimana bale saka roras

(4)

ini dibuat bertingkat tiga yaitu bagian yang paling tinggi adalah disebut dengan bale tumpang yang terdiri dari dua buah balai-balai/pedeman, dan paga kedulu /sanggah. Di tingkat kedua adalah bale paebatan dan perapian untuk dapur, dan di tingkat paling rendah adalah ampik yaitu ruangan setengah terbuka yang digunakan untuk bekerja, bersantai dan bersosialisasi dengan anggota masyarakat lainnya.

Pola permukiman desa Sidatapa adalah linear, dimana rumah-rumah diletakkan berjejer di sisi kiri dankanan di sepanjang jalan utama desa. Desa ini terletak di atas pegunungan sekitar 450 m diatas permukaan laut (Google earth, imagery date 2/21/ 2011, tele atlas image 2013),dan dikelilingi oleh pegunungan di sebelah timur desa. Apabila dilihat dari jalan utama desa yang digunakan sebagai sumbu, maka jalan utama akan mengarah ke arah timur 20° kearah tenggara yaitu posisi pegununagn tertinggi yaitu pegunungan Munduk sari, dengan ketinggian 650 m diatas permukaan laut ke arah 20° ke arah tenggara. Arah oreintasi kaja yang digunakan oleh masyarakat desa Sidatapa adalah arah timur ke arah gunung Munduk Sari. Dengan menentukan arah orientasi tersebut sempat membinggungkan penulis karena penulis dari Denpasar dimana arah kaja sama dengan arah utara. Untuk daerah Buleleng arah kaja adalah arah selatan karena mengacu pada posisi pengunungan di selatan Buleleng, namun arah timur barat tidak berbeda. Untuk masyarakat Sidatapa arah kaja adalah arah timur tenggara dan seletan adalah arah barat. Dengan mengambil orientasi arah seperti itu maka menentukan arah kangin/timur agak membingungkan. Dari informasi yang diperoleh arah kangin/timur adalah arah utara dan kauh/barat adalah arah selatan. Dari informasi penduduk diperoleh alasan mengapa menentukan arah kangin ke arah utara karena mataharit terbit di arah tersebut. Apabila di telaah lebih mendalam arah matahari terbit/kangin memiliki alasan yang masuk akal, karena posisi pulau Bali di kawasan sebelah selatan katulistiwa, 8° lintang selatan, maka matahari akan lebih banyak terlihat di posisi utara, dan selain itu posisi jalan utama yang digunakan sebagai aksis/sumbu kaja kelod tidak sepenuhnya mengarah ke arah timur tetapi sedikit miring ke arah tenggara, karena arah yang digunakan untuk menunjukkan arah adalah adalah menunjuk secara visual, bukan arah secara digital/kompas.

Kehadiran arsitektur pada sebuah lingkungan merupakan ekspresi bagaimana masyarakat memahami lingkungannya dan memasukkan pemahaman tersebut ke dalam arsitekturnya (Schulz, 2000:59). Masyarakat memahami sebuah tempat/place merupakan ekspresi bagaimana masyarakat menggunakan tempat tersebut, dan penggunaan tersebut disesuaikan dengan preference/pilihan yang dibuat oleh masyarakat, ideologi masyarakatnya dan teori yang digunakan untuk memahami tempat secara total (Schulz, 2000: 87). Dengan

(5)

posisi daerah tertinggi di arah timur, maka secara keseluruhan kemiringan tapak di desa Sidatapa adalah ke arah barat. Dari kondisi seperti itu, maka cara terbaik untuk membuat jalan/akses adalah mengikuti garis kontur tanah. Namun kondisi jalan utama desa adalah langsung memotong garis kontur sehingga jalan utama desa memiliki tanjakan yang cukup tajam. Apabila dilihat dari sejarah berdirinya desa Sidatapa, masyarakat Sidatapa berasal dari Danau Batur (Rahayu 2010: 23). Penelitian Vira ( 2011) menemukan bahwa masyarakat Trunyan, karena lokasi desa yang dikelilingi pegunungan menentukan arah kaja ke arah timur. Selain itu bentuk ekspresi rumah tinggal masyarakat desa Trunyan juga memiliki kemiripan dengan rumah adat desa Sidatapa yaitu bale saka roras dan sanggah kemulan nya juga diletakkan di dalam rumah. Hasil analisis pada arah orientasi yang dimiliki oleh masyarakat Sidatapa memiliki dua kemungkinan yaitu :

1. Kemungkinan pertama, Dari sejarah keberadaan masyarakat Sidatapa yang berasal dari danau Batur. Kalau dilihat dari pola tata ruang rumah dan arah orientasi yang digunakan masyarakat di Trunyan juga mirip yaitu arah timur digunakan sebagai arah kaja karena masyarakat Batur/Trunyan di sisi timur adalah gunung Abang/tempat yang lebih tinggi. Sehingga pada saat memilih lokasi permukiman kemungkinan mereka cenderung memilih lokasi yang memiliki karakteristik yang sama

2. Kemungkinan kedua, menentukan arah kaja-kalod dibutuhkan untuk mengetahui posisi kita terhadap lingkungan sehingga tidak kehilangan arah. Ada istilah yang dimiliki masyarakat Bali untuk menyatakan seseorang dalam keadaan bingung yaitu : “sing nawang kangin kauh”, yang artinya tidak mengetahuai arah kangin/timur dan kauh/barat. Memahami orientasi menjadi sangat penting bagi orang Bali untuk mengetahui keberadaan kita pada lingkungan. Schulz juga menyatakan bahwa orientasi merupakan salah satu elemen yang penting untuk memahami sebuah tempat (Schulz, 2000 :44 ), dengan mengetahui orientasi kita mengetahui posisi kta terhadap tempat yang dikunjungi.

3. Kemungkinan ketiga, arah kaja-kelod tidak digunakan untuk menentukan letak paga kedulu atau sanggah. Arah kaja-kelod hanya digunakan untuk menentukan hirarkhi ruang ke arah horisantal di dalam rumah adat. Balai-balai yang berada di sisi kaja digunakan untuk bale sumanggen atau tempat untuk meletakkan sesaji pada saat melakukan upacara seperti Galungan, Kuningan atau upacara lainnya.

Apabila rumah menggunakan arah kaja-kelod/timur-barat, maka menentukan arah kaja menjadi permasalahan apakah akan menggunakan sisi kangin atau kauh. Dan

(6)

rumah yang menggunakan arah kaja kelod yang peneliti temukan hanya satu. Agar salah satu sisi rumah ada di sisi kaja

Pemahaman masyarakat pada lingkungan berkaitan dengan preferences/pilihan-pilihan yang dimiliki masyarakat. Memilih lokasi yang mirip kondisi nya dengan lokasi awal mereka merupakan salah satu pilihan, sehingga menetapkan wilayah tersebut sebagai lokasi desa yang baru. Selain itu dari pola tata letak bangunan rumah adat, masyarakat berusaha semaksimal mungkin rumahnya berorientasi kangin-kauh sehingga setiap rumah memiliki kemungkinan satu sisi kaja, karena sisi ini digunakan untuk menentukan posisi balai- balai/pedeman yangmemiliki hirarkhi lebih tinggi.

B.2. Konsep keruangan Arsitektue Sidatapa

Asumsi awal penulis setelah melakukan observasi pada rumah adat adalah arsitektur Sidatapa menggunakan konsep hirarkhi ruang dan arah orientasi adalah arah kaja/kegunung/tempat yang lebih tinggi. Kesimpulan sementara itu muncul karena posisi rumah yang berjejer disis kiri kana jalan dan hampir semua rumah membelakangi jalan. Kemungkinan dahulu semua rumah membelakangi jalan, namun sekarang sesuai dengan kebutuhan pencapaian beberapa rumah membalikan arah hadap rumahnya. Dengan posisi membelakangi jalan maka posisi paga kedulu akan selalu membelakangi dan dekat dengan jalan utama (pada umumnya jalan lebih tinggi dari level tapak rumah). Pada awal penelitian penulis berasumsi bahwa penulis harus memilih rumah adat yang menjadi sampel adalah rumah yang berada di sisi timur,barat, utara dan selatan jalan. Asumsi ini diambil untuk menemukan arah orientasi utama yang digunakan oleh masyarakat Sidatapa.

Pola keruangan rumah adat desa Sidatapa, untuk menentukan nilai utama tidak sepenuhnya menggunakan orientasi kaja/ke gunung/ke tempat yang lebih tinggi. Karena posisi paga kedulu yang berfungsi sebagai sanggah kemulan pada arsitektur Bali Aga letaknya harus di hulu rumah, atau tempat terdalam/terjauh dari natah atau arah masuk.

Ruang terdalam/ terjauh memiliki nilai yang paling tinggi dan memiliki nilai sakral. Posisi letak paga kedulu tidak dikaitkan dengan arah kaja-kelod atau kangin kauh. Tingkatan yang paling tinggi pda Bale tumpang talu adalah bale tumpang. Hirarhi tertinggi ini tidak hanya secara fisikal dan tetapi juga secara fenomenal memiliki nilai yang lebih tinggi. Konsep hirarkhi ruang rumah adat lebih cenderung menggunakan konsep hirarhi ruang vertikal.

Posisi ruangan yang lebih di atas merupakan ruang yang memiliki nilai lebih tinggi/utama dan sebaliknya. Orientasi kaja-kelod hanya digunakan untuk menentukan hirarhi ruang

(7)

secara horisontal, seperti menentukan balai upacara keagamaan , adalah balai

penerapan konsep hirarhi secara horisontal tidak dilakukan secara ketat, disesuaikan dengan kondisi rumah, karena ada beberapa rumah yang melakukan sebaliknya (

Kesimpulan ini dapat dilihat dengan melakukan analisa beb (sketsa 1).

Balai/pedeman Paga kedulu perapian tempat air

Sketsa 1 pola tata petak rumah di desa sidatapa dan pola ruang di dalam rumah adat

Apabila dilihat secara vertikal bangunan rumah adat

digunakan untuk meletakkan atau difungsikan untuk kegiatan keagamaan. Tempat teratas dari paga kedulu adalah untuk pemujaan para

pemujaan pada Penembahan

Hyang Widi Wasa atau dewa tertinggi. Setiap keluarga memiliki jumlah berbeda berkisar antara 4 sampai dengan 8.

penembahan tidak boleh disebutka

kepada beliau. Agar tradisi terjaga, maka anak

nama-nama Penembahan mereka sehingga dapat di ingat da masyarakat tradisional anak

langsung (learning by experiencing sepanjang hidup, sehingga tradisi tetap

secara horisontal, seperti menentukan balai-balai yang digunakan pada saat melaksanakan upacara keagamaan , adalah balai-balai yang terletak di sisi kaja bangunan

penerapan konsep hirarhi secara horisontal tidak dilakukan secara ketat, disesuaikan dengan kondisi rumah, karena ada beberapa rumah yang melakukan sebaliknya (

Kesimpulan ini dapat dilihat dengan melakukan analisa beberapa rumah ada

Sketsa 1 pola tata petak rumah di desa sidatapa dan pola ruang di dalam rumah adat

Apabila dilihat secara vertikal bangunan rumah adat masyarakat Sidatapa digunakan untuk meletakkan atau difungsikan untuk kegiatan keagamaan. Tempat

adalah untuk pemujaan para Penembahan

nembahan bagi masyarakat Sidatapa adalah pemujaan pada Ida Sang Widi Wasa atau dewa tertinggi. Setiap keluarga memiliki jumlah

berbeda berkisar antara 4 sampai dengan 8. Dalam tradisi masyarakat Sidatapa nama penembahan tidak boleh disebutkan, hanya disebutkan pada saat upac

gar tradisi terjaga, maka anak-anak pada setiap keluarga diberitahukan mereka sehingga dapat di ingat dan diwariskan kembali. Pada t tradisional anak-anak belajar tradisi melalui pengalaman dan melakukan learning by experiencing dan learning by doing), dan kegiatan itu dilakukan sepanjang hidup, sehingga tradisi tetap dapat dilangsungkan secara turun temurun

balai yang digunakan pada saat melaksanakan bangunan. Namun penerapan konsep hirarhi secara horisontal tidak dilakukan secara ketat, disesuaikan dengan kondisi rumah, karena ada beberapa rumah yang melakukan sebaliknya (ngedel/kidal).

rapa rumah adat di desa Sidatapa

Sketsa 1 pola tata petak rumah di desa sidatapa dan pola ruang di dalam rumah adat

Sidatapa, bagian teratas digunakan untuk meletakkan atau difungsikan untuk kegiatan keagamaan. Tempat/tingkatan keluarga. Makna bagi masyarakat Sidatapa adalah pemujaan pada Ida Sang Widi Wasa atau dewa tertinggi. Setiap keluarga memiliki jumlah Penembahan yang Dalam tradisi masyarakat Sidatapa nama n, hanya disebutkan pada saat upacara persembahan anak pada setiap keluarga diberitahukan n diwariskan kembali. Pada ar tradisi melalui pengalaman dan melakukan ), dan kegiatan itu dilakukan secara turun temurun. Pewarisan

(8)

tradisi dari satu generasi ke generasi selanjutnya akan terjadi proses adaptasi, renegosiasi dan re interpretasi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dan ada proses pembelajaran//apprenticeship dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Bronner, 2006:27- 28). Tradisi berasitektur dengan membangun rumah adat bagi setiap pasangan yang menikah akan mempertahankan keberlanjutan pengetahuan tentang pembangunan rumah adat.

Dengan datangnya modernisasasi dan kebutuhan kemudahan pencapaian rumah-rumah adat dibangun menghadap ke jalan utama, namun bentuk, posisi dan fungsi paga kedulu tidak berubah, tetap berada di hulu rumah. Ditingkat di bawah pemujaan penembahan adalah tempat pemujaan Ida pra taksu, atau dalam pengertian masyarakat Sidatapa adalah pemujaan bagi para pengikut Penembahan. Apabila keluarga tersebut memiliki keahlian khusus seperti balian, maka benda sakral di upacarai di tingkat di bawahnya. (Gambar 1 dan 2).

Gambar 1 dan 2 bentuk paga kedulu/sanggah,gambar 3 dapur/perapian

Sedangkan di bagian atas balai-balai/pedeman kaja dan kelod ada beberapa tempat untuk pemujaan yang lain. Di atas bale pedeman di sisi kaja untuk pemujaan Dewi Sri/dewa kesuburan yang di simbolkan dengan meletakkan tiga buah pulu/tempat beras yang di isi beras. Di atas kepala tempat tidur juga digantungkan pelangkiran untuk pemujaan Hyang Kumara. Apabila keluarga memiliki senjata atau artibut/benda yang disakralkan yang disebut dengan permas, maka para-para di sisi kaja digunakan untuk meletakan barang yang disakralkan, dan pemujaan dewi sri akan diletakkan di bagian atas di sisi kelod bale pedeman.

Hampir di semua sisi bangunan di bagian atas digunakan untuk tempat pemujaan, baik untuk para Penembahan, leluhur,atau dewa-dewa yang disimbolkan dengan benda-benda sakral seperti keris, tombak atau benda lainnya. Diatas perapian ada para-para untuk pemujaan dewa Brahma dan dan di atast tempat air ada pemujaan untuk dewa Wisnu, dan diatas bale paebatan adapara-para digunakan untuk pemujaan leluhur. Dari tata letak tempat pemujaan dapat disimpulkan bahwa arah atas/vertikal memiliki nilai utama. Konsep dewa-dewa yang beristana di langit/di atas merupakan salah satu keyakinan masyarakat timur. Pengertian

(9)

langit bagi masyarakat timur adalah tanpa batas/infinitive, berbeda pada pengertian langit pada masyarakat barat, bahwa langit adalah terbatas dan masif. Pada masyarakat timur mempercayai bahwadi atas langit adalah istana para dewa dan hubungan manusia dan para dewa dilakukan dengan melakukan persembahan dan doa-doa yang dilantunkan dan melalui media asap/dupa doa dan permohonan disampaikan.

Konsep hirarhi ruang vertikal memang banyak diterapkan pada masyarakat tradisional di asia tidak hanya bagi masyarakat beragama Hindu tetapi konsep ini juga ditemukan di Aceh yang masyarakatnya mayoritas memeluk agama islam (Waterson, 1990: ). Konsep hirarhi ruang kearah vertikal pada arsitektur Sidatapa juga diguankan untuk menentukan batas ruangan sakral dan profan. Pada sebagain masyarakat bale tumpang tidak boleh dimasuki oleh orang luar, karena dianggap sakral. Namun menurut nara sumber lainnya mengatakan bahwa bale tumpang boleh dimasuki orang luar kalau sudah me-bersih (sudah mandi dan diperciki air suci). Dahulu penghuni rumah juga tidak boleh memasuki rumah setelah mengikuti upacara orang meninggal, dan boleh masuk kalau sudah me-bersih. Bagi wanita (ibu atau anak peremuan) yang sedang mengalami menstruasi tidak boleh tidur di balai-balai yang berada di sisi kaja bangunan, tapi tidur di bale pedeman kelod Konsep sakral-profan lebih banyak ditentukan dengan membedakan ketinggian lantai bangunan. Pada bagian bale tumpang lantainya di naikkan ± 45 cm dari lantai bale paebatan. Selain itu level tempat pemujaan juga memiliki ketinggian yang berbeda sesuai dengan tingkatan dewa-dewa yang dipuja. Tingkatan yang paling tinggi adalah pemujaan untuk para Penembahan.

(gambar 4, 5 dan 6).

Gambar 4 penggunaan pedeman kaja untuk meletakan sesaji dan gambar 5 pedeman kelod untuk tidur, gambar 6 lengatan untuk menyimpan hasil panen

Sedangkan untuk bagian rumah di tingkat kedua digunakan untuk mempersiapkan makanan, memasak dan mempersiapkan sarana upacara. Pada masa lalu bagian rumah ini juga digunakan untuk melahirkan anak. Pada bagian ini terdapat sebuah balai-balai yang lebih kecil yang dibuat dengan mengikat 2 buah tiang /saka rumah dan ditambahkan dua buah tiang pendek/saka pandak. Di sisi kaja bagian rumah ini diletakkan perapian yang digunakan

(10)

untuk memasak dan mengawetkan makanan. Di bagian atas digunakan untuk menyimpan hasil panen seperti padi gaga, jagung dan hasil panen lainnya. Saat ini hampir semua rumah adat tidak lagi menyimpan hasil panennya di atas para-para bale paebatan, karena hasil panen masyarakat saat ini adalah cengkeh dan cokelat.

Pada bagian ampik merupakan perluasan/perpanjangan bale saka roras. Bagian bangunan ampik ini adalah ruangan setengah terbuka dengan dinding dari anyaman bambu yang menutupi setengah bagian dinding samping. Ruangan ini biasanya digunakan untuk menganyam bambu, membuat kerajinan tangan, bersosialisasi dan sebagainya. Setelah ruangan ampik adalah natah ruang terbuka yang digunakan untuk ruang bersama, jalur sirkulasi dan meletakan asagan untuk memandikan mayat. Rumah adat satu dengan yang lainnya tidak dibatasi dengan tembok pembatas, maka ruangan natah menjadi ruangan bersama yang digunakan untuk bersama. Di sisi kiri dan kanan rumah adat ada jarak sempit yang memisahkan satu rumah dan rumah lainnya. Jalur ini disebut dengan selepitan.

Selepitan ini ada yang disebut dengan selepitan mati dan selepitan hidup. Selepitan hidup digunakan untuk jalur sirkulasi menuju jalan utama dan jalur membawa mayat ke kuburan.

Selepitan ini memiliki makna sakral dan dengan adanya selepitan ini warga yang tinggal pada jalur natah yang sama tidak terkena cuntaka/kesebelan. Menurut Shculz penggunaan sebuah arsitektur terdiri space .form, dan figure. Penggunaan sebuah ruang atau arsitektur membuat sebuah lingkungan mendapatkan maknanya. Pemahaman masyarakat pada kondisi lingkungannya di artikulasikan pada arsitekturnya (Schulz, 2000:59) Penciptaan sebuah ruangan bertujuan untuk tujuan praktis dan karena kebutuhan tetapi juga dikembangkan dari prosesi liturgi, namun diluar tujuan fisikal. ada makna khusus atau tujuan khusus yang diikatkan bersama dengan bentuk bangunan (Bandmann, 2005 :69 ). Prosesi membawa mayat kekuburan merupakan bagian dari prosesi upacara . Kondisi lingkungan yang berkontur dan situasi rumah tanpa tembok pembatas yang masif diselesaikan dengan membuat jalan kecil tempat untuk jalur sirkulasi sakral (gambar 7 dan 8).

Gambar 7selepitan dan gambar 8 bale paebatan

(11)

Dari pola tata ruang rumah adat dan penggunaan bagian atas bangunan untuk tempat pemujaan, apabila dilihat dalam konteks

berfungsi untuk tempat pemujaan sekaligus berfungsi sebagai balok pengikat antar tiang kayu/saka. Paga kedulu, pemujaan pada Dewi Sri dan pemujaan pada leluhur dibuat dengan balok-balok kayu yang mengikat kolom. Walaupun diatas kolom ada balok yang secara struktural mengikat kolom, penggunaan para

bangunan. Selain itu pola tata ruang rumah adat Sidatapa sangat efektif dan efisien. Setiap bagian ruangan dimanfaatkan dengan baik dan sangat fungsional. Dinding kayu sebagai pemisah antara bale tumpang

untuk meletakan pernak-pernik memasak. Ruangan di bawah lantainya di naikkan) digunakan untuk tempat alat

digunakan untuk mengasapi daging pada s

elemen bangunan dapat menjadi salah satu referensi pengembangan rumah tradisional Bali dimasa yang akan datang.

Apabila di telaah lebih mendalam sistem pertahanan (defensible space

jendele kecil yang oleh masyarakat diberi nama

sumber menyebutkan apabila ada orang yang dianggap mencurigakan dan membahayakan anggota keluarga, terutama ibu

menyampaikan pesan ini kepada

dianggap berbahaya, maka anggota masyarak hutan yang berada di depan rumah mereka menghadap ke ladang bukan ke jalan utama

kelod lebih banyak disebabkan karena sistem pertahanan yang diciptakan oleh masyarakat.

Dari sejarah masa lalu daerah Sidatapa memiliki

ancaman dari pihak luar, sehingga pola tata ruang rumah adat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya.

Gambar 9 tampak depan rumah menghadap ke kebun dan gambar 10

Dari pola tata ruang rumah adat dan penggunaan bagian atas bangunan untuk tempat dalam konteks konsep struktur bangunannya, maka para

berfungsi untuk tempat pemujaan sekaligus berfungsi sebagai balok pengikat antar tiang , pemujaan pada Dewi Sri dan pemujaan pada leluhur dibuat dengan balok kayu yang mengikat kolom. Walaupun diatas kolom ada balok yang secara struktural mengikat kolom, penggunaan para-para akan menambah rigiditas struktur gunan. Selain itu pola tata ruang rumah adat Sidatapa sangat efektif dan efisien. Setiap bagian ruangan dimanfaatkan dengan baik dan sangat fungsional. Dinding kayu sebagai

dan bale paebatan dibuat seperti lemari built in pernik memasak. Ruangan di bawah bale pedeman

lantainya di naikkan) digunakan untuk tempat alat-alat pertanian, dan ruangan diatas perapian digunakan untuk mengasapi daging pada saat hari raya Galungan. Efektifi

elemen bangunan dapat menjadi salah satu referensi pengembangan rumah tradisional Bali

Apabila di telaah lebih mendalam, selepitan ini juga dibutuhkan untuk menciptakan defensible space). Pada dinding di sisi kiri dan kanan

jendele kecil yang oleh masyarakat diberi nama jaro. Menurut beberapa ibu

pabila ada orang yang dianggap mencurigakan dan membahayakan ibu-bu dan anak-anak, maka para ibu-ibu akan berbisik menyampaikan pesan ini kepada anggota keluarga di rumah sebelahnya dan apabila dianggap berbahaya, maka anggota masyarakat akan melarikan diri ke kebon,

epan rumah mereka (gambar 8 dan 9). Konsep orientasi rumah yang ke ladang bukan ke jalan utama dan tidak juga mengikuti arah orientasi lebih banyak disebabkan karena sistem pertahanan yang diciptakan oleh masyarakat.

daerah Sidatapa memiliki banyak pengalaman yang berkaitan dengan ancaman dari pihak luar, sehingga pola tata ruang rumah adat menyesuaikan dengan

9 tampak depan rumah menghadap ke kebun dan gambar 10

Dari pola tata ruang rumah adat dan penggunaan bagian atas bangunan untuk tempat konsep struktur bangunannya, maka para-para yang berfungsi untuk tempat pemujaan sekaligus berfungsi sebagai balok pengikat antar tiang , pemujaan pada Dewi Sri dan pemujaan pada leluhur dibuat dengan balok kayu yang mengikat kolom. Walaupun diatas kolom ada balok yang secara para akan menambah rigiditas struktur gunan. Selain itu pola tata ruang rumah adat Sidatapa sangat efektif dan efisien. Setiap bagian ruangan dimanfaatkan dengan baik dan sangat fungsional. Dinding kayu sebagai built in yang digunakan bale pedeman (karena alat pertanian, dan ruangan diatas perapian Efektifitas fungsi setiap elemen bangunan dapat menjadi salah satu referensi pengembangan rumah tradisional Bali

ini juga dibutuhkan untuk menciptakan ). Pada dinding di sisi kiri dan kanan selepitan dibuat Menurut beberapa ibu-ibu sebagai nara pabila ada orang yang dianggap mencurigakan dan membahayakan ibu akan berbisik-bisik anggota keluarga di rumah sebelahnya dan apabila ancaman at akan melarikan diri ke kebon, ladang atau . Konsep orientasi rumah yang tidak juga mengikuti arah orientasi kaja- lebih banyak disebabkan karena sistem pertahanan yang diciptakan oleh masyarakat.

pengalaman yang berkaitan dengan ancaman dari pihak luar, sehingga pola tata ruang rumah adat menyesuaikan dengan

9 tampak depan rumah menghadap ke kebun dan gambar 10 jaro

(12)

Kesimpulan

Tradisi diciptakan oleh masyarakat untuk mempreservasi nilai dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakatnya. Pengetahuan tentang arsitektur disimpan di balik tradisi dan mitos yang diciptakan oleh nenek moyangnya untuk dilakukan dan di interpretasikan kembali. Tradisi berarsitektur adalah usaha untuk menciptakan arsitektur yang sama namun disisi lain di dalam tradisi ada nilai kelenturan/fleksibelitas karena tradisi dapat di re negosiasi dan di re-interpretasikan oleh generasi selanjutnya, disesuaikan dengan kebutuhan.

Daftar pustaka

Bandmann, 2005,

Early Medieval Architectur as Bearer of Meaning, Columbia University Press Clara Cooper, 1995

House as A mirror of Self, Exploring The Deeper Meaning of Home, Nicolas Hyas, Berwick, Maine

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2011

Sejarah Bali Kuno, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali

Gelebet I Nyoman, 1986, Arsitektur Tradisional Daerah Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali.

Geria , I Made, 1997

Laporan penelitian Arkeologi, Survei Pola Permukiman Bali Aga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Balai Arkeologi Denpasar

Groat and Wang, 2002

Arcchitectural Research Method, John Weiley and Son, canada Lindsay Asquith and Marcel Vellinga, (editor) 2006,

Vernacular Architecture in The Twenty-First Century Theory, Education and Marcus, Miller Lane, Barbara, 2007

Housing and Dwelling, Perspective on Modern Domestic Architecture, Routledge, Taylor and Francis Group, London.

Oliver, Paul (editor), 1997

Shelter, Sign and Symbol, The Overlook Press, Woodstock New York Oliver, Paul, 2003

Dwellings. The Vernacular House World Wide, Phaidon Press Limited, London Pringle, Robert, 2005

A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm, Allen & Unwin, NSW Reuter, Thomas, 2005.

Custodians of Sacred Mountains, Budaya dan Masyarakat di Daerah Pengunungan Bali, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Runa, I Wayan, 2004

Sistem spatial Rumah Tinggal di desa Pengunungan di Bali dalam perspektif social budaya, Thesis Magister Arsitektur, Universitas Gajah Mada Yogyakarta Runa. I Wayan, 2009

Identifikasi nilai-nilai Tradisional Rumah Tinggal Desa Pengunungan, Hibah penelitian Fundamental

Schulz, Christian Norberg. 2000.

(13)

Architecture : Presence, Language, Place.Skira Editore, S.p.A, Milano, Italy Sri Rahayu, Ni Nyoman , 2010,

Konsep Hirarkhi Ruang pada Rumah Adat Di Desa Sidatapa, Kabupaten Buleleng, Thesis, Program Magister Arsitektur, Universitas Udayana Suartika, G A M, 2010.

Morphing Bali, The State, Planning and Culture, Lambert Academic Publishing, Saarbruken, Germany

Vira Driti Satwika, Ida Ayu, 2011

Pola Permukiman dan Arsitektur Rumah Tinggal Tradisional di Desa Adat Terunyan,Bangli Bali, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana Waterson, Roxana, 1990

The Living House, An Anthropology of Architecture in South East Asia,Oxford University Press, New York

Referensi

Dokumen terkait

Jawa... Pemberian Nama Yang Baik Kepada Anak ………... Prosesi Upacara Selamatan ―Kepungan‖ Di Desa Ujungmanik Sebagai Ucapan Syukur Dan Pedoman Hidup …………...

kehidupan masyarakat Trunyan lebih khusus dalam tradisi upacara kematian ada hal-hal yang. disakralkan oleh masyarakat seperti yang telah diuraikan dalam Bab III,

dianggap profan bagi Eliade menjadi suatu yang sakral dalam kehidupan masyarakat. Trunyan terlebih dalam Tradisi penguburan dan memperlakukan jenazah,

Saran diberikan kepada Pemerintah, penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional empiris, dan masyarakat sehingga Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng dapat melaksanakan

Untuk menjelaskan makna dan penerapan falsafah salunglung sabayantaka dalam mendidik anak pada hidup orang Bali maka teori yang digunakan untuk menganalisa penelitian

Susunan ruang yang ada dalam rumah tinggal masyarakat Julah saat ini, di komparasi dengan bukti sejarah dan hasil wawancara serta observasi sehingga dihasilkan sebuah temuan yang

Orang tua dan masyarakat mengizinkan anak mereka untuk mengikuti tradisi Ngukok tersebut karena dianggap suatu kebiasaan yang sudah lama dilakukan secara turun temurun dari orang-orang

Akhirnya mereka yang berasal dari pulau Jawa dan Bugis tidak hanya membangun rumah akan tetapi juga melakukan pernikahan dengan warga lokal sehingga mereka bisa saling hidup rukun