MAKALAH
POPULASI IKAN HYBRIDOGENESIS DAN GYNOGENESIS
OLEH :
NISA NADZIRO KHOOLISHOH L011211098
EKOLOGI POPULASI C
MATA KULIAH EKOLOGI POPULASI DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
I. PENDAHULUAN
Tingkah laku dan proses reproduksi pada ikan merupakan hal yang sangat menarik untuk dipelajari. Beberapa pola pemijahan (perkawinan) ikan berdasarkan jumlah pemijahan dalam satu tahun, pemilihan pasangan, jenis kelamin, pembuatan dan tipe sarang, serta pemeliharaan anak dan lainnya. Tentu saja mekanisme pemijahan pada ikan tidaklah sederhana, tetapi dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal. Pola pemijahan/ spawning pada ikan, meliputi kesempatan melakukan pemijahan ada yang hanya satu kali seumur hidup, ada yang beberapa kali dalam setahun. Pasangan dalam pemijahan, pada ikan ada yang monogami ada yang poligami. Kepastian jenis kelamin ikan (gonochorisme) ada yang sudah diketahui pada saat masih muda, ada yang baru diketahui menjelang dewasa.
Permasalahan dalam kualitas benih ikan adalah pertumbuhan ikan yang lambat, dan juga sering terjadi kelainan dalam tubuh ikan dan rendahnya Survival Rate ikan.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahn tersebut harus diimbangi dengan perbaikan genetik. Yaitu dengan upaya peningkatan dan perbaikan kualitas induk maupun benih ikan. Upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan produktivitas (produksi) dan perbaikan serta peningkatan kualitas genetik ikan seperti program seleksi, manipulasi jenis kelamin melalui perlakuan hormonal maupun manipulasi kromosom. Manipulasi kromosom pada ikan bertujuan untuk memproduksi keturunan dengan sifat unggul dan kualitas genetiknya, baik memiliki pertumbuhan relatif cepat, tahan terhadap penyakit, kelangsungan hidup yang tinggi, toleran terhadap perubahan lingkungan seperti suhu, pH, oksigen terlarut, dan salinitas. Dan juga mudah dibudidayakan.
Sesungguhnya reproduksi hybridogenesis tak murni aseksual, tapi hemiclonal (separuh genom diturunkan pada generasi selanjutnya, sedangkan separuh lain dimusnahkan). Hibridogenesis terjadi karena perkawinan dua spesies berbeda. Betina hibridogenesis bisa kawin dengan pejantan spesies lain dan keduanya menurunkan materi genetik pada keturunan. Ketika keturunannya yang betina menghasilkan telur, tak ada materi genetik pihak ayah di dalamnya. Telur hanya mengandung kromosom dari pihak ibu karena gen sang ayah dibuang. Proses ini berlangsung terus sehingga tiap generasi hanya separuh klonal dari sisi ibu dan separuh materi genetik baru dari sisi ayah. Tipe semacam ini terdapat pada ikan Poecilicops serta antara kodok Rana esculenta dan Rana lessonae.
II. PEMBAHASAN A. Sekuensi Gen atau Kromosom
Dalam upaya untuk memperbaiki kualitas ikan diperlukan program pemuliaan yang ditujukan untuk pemurnian jenis/strain maupun mencari jenis yang unggul yaitu yang pertumbuhannya cepat, warna bagus/disukai konsumen dan tahan terhadap penyakit dengan cara yang relatif murah, mudah dan cepat. Untuk itu ilmu genetika memegang peranan penting dalam bidang pemuliaan. Untuk meningkatkan kualitas ikan sebagaimana yang diharapkan dapat dilakukan program pemuliaan yang dapat ditempuh dengan beberapa cara yaitu melalui seleksi induk, hybridisasi, gynogenesis dan manipulasi kromosom. Pada ikan, genetika ini dapat diterapkan dalam hal manipulasi kromosom untuk menghasilkan ikan dengan kromosom yang berbedabeda sesuai keinginan, misalnya bisa membuat ikan dengan kromosom 2n (diploid), 3n (triploid), dan 4n (tetraploid).
Manipulasi kromosom dilakukan selama siklus nukleus dalam pembelahan sel, dasarnya adalah penambahan atau pengurangan sel haploid dan diploid. Salah satu metode manipulasi kromosom adalah ginogenesis. Dengan ginogenesis, pembuatan populasi monoseks betina dapat diproduksi dalam satu generasi dan populasi homozygous inbread line dikombinasikan dengan program peningkatan kualitas genetik ikan yang dapat dilakukan dalam waktu realtif singkat.
Penerapan manipulasi kromosom yang sering dilakukan adalah untuk membuat ikan yang steril dengan kromosom 3n. Hal ini misalnya dilakukan terhadap ikan-ikan yang cepat matang gonad seperti ikan nila yang dalam ukuran kecil sudah dapat memijah, sehingga dapat merugikan karena pertumbuhan badan ikan tidak bisa maximal. Karena itu untuk ikan ini dilakukan manipulasi kromosom untuk menghasilkan ikan yang steril dengan kromosom 3n, sehingga energi untuk pertumbuhan gonad dapat dialihkan untuk digunakan dalam pertumbuhan badan sehingga ikan dapat berukuran besar. Penerapan genetika yang lain adalah melakukan persilangan antara strain ikan yang satu dengan strain yang lain melalui hibridisasi, sehingga dapat diperoleh strain baru yang mempunyai sifat-sifat yang unggul yang diwarisi dari kedua induknya. Metode hybridisasi merupakan kombinasi antara manipulasi kromosom dengan teknik hybridisasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan variasi yang lebih banyak dan induk yang baik serta unggul.
B. Manipulasi Suhu
Proses pengarahan jenis kelamin dapat dilakukan dengan manipulasi suhu lingkungan. Suhu merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi-reaksi
kimia dalam tubuh seperti laju metabolisme. Pada suhu 30°C, induk ikan berada pada suhu relatif tinggi yang mengakibatkan menurunnya nafsu makan dan tingkat konsumsi pakan sehingga energi yang diperoleh tidak optimum untuk proses perkembangan gonadnya. Pada suhu 33°C nafsu makan ikan berkurang, sedangkan metabolisme relatif meningkat, sehingga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut induk ikan akan mengabsorbsi nutrien dari jaringan tubuh termasuk gonad yang terlihat tersekat-sekat dan mengalami penipisan dindingnya (Tytler dan Calow, 1985). Dengan demikian bakal anak yang terdapat pada induk tersebut diduga telah tereduksi sehingga tidak terjadi kelahiran.
C. Adaptasi Faktor Lingkungan Perairan
Kondisi lingkungan membentuk seleksi alam yang menyebabkan ikan harus memaksimalkan kemampuan reproduksinya. Strategi dan taktik reproduksi merupakan upaya adaptasi ikan terhadap lingkungannya untuk keberlangsungan hidup keturunan sampai dewasa dan menjamin kelangsungan hidup spesiesnya.
Pengelolaan ekosistem, sistem hidrologis dan dinamika ekologis suatu sistem perairan sangat penting untuk menjaga populasi jenis ikan dan dalam rangka mempertahankan kelestarian suatu spesies ikan.
Bahkan dalam spesies, fekunditas bervariasi sebagai hasil dari perbedaan adaptasi ikan terhadap lingkungannya. Ikan yang berukuran besar menghasilkan fekunditas yang besar. Pada ukuran yang sama, ikan betina dalam kondisi yang baik menghasil-kan fekunditas yang lebih tinggi. fekunditas bisa dijadikan indikator produktivitas suatu organisme yang ditunjang oleh faktor lingkungan, genetika, pertumbuhan, umur dan kematangan gonad. Tinggi rendahnya nilai IKG disebabkan oleh faktor lingkungan yang berhubungan langsung dengan ketersediaan makanan sebagai sumber energi untuk perkembangan somatik dan reproduksinya. Siby et al.
(2009) menyatakan bahwa nilai rata-rata IKG ikan betina selalu lebih besar daripada IKG ikan jantan pada TKG yang sama. Hal ini disebabkan pertambahan bobot ovarium selalu lebih besar daripada pertambahan bobot testis. Peningkatan bobot ovarium berhubungan dengan proses vitellogenesis dalam perkembangan gonad, sedangkan peningkatan bobot testis berhubungan dengan proses spermatogenesis dan peningkatan volume semen dalam tubulus seminiferi.
DAFTAR PUSTAKA
Arfah, H., & Mariam, S. Pengaruh Suhu Terhadap Reproduksi Dan Nisbah Kelamin Ikan Gapi (Poecilia Reticulata Peters).
Hasani, Q. 2022. Strategi Dan Taktik Reproduksi Ikan, Hubungannya Dengan Kondisi Lingkungan. Aquacoastmarine: Journal Of Aquatic And Fisheries Sciences, 1(2), 97-101.
Irawan, B. 2021. Genetika Molekuler–Edisi 2. Airlangga University Press.
Kasmi, M., Hadi, S., & Kantun, W. 2017. Biologi Reproduksi Ikan Kembung Lelaki, Rastreliger Kanagurta (Cuvier, 1816) Di Perairan Pesisir Takalar, Sulawesi Selatan. Jurnal Iktiologi Indonesia, 17(3), 259-271.