• Tidak ada hasil yang ditemukan

· NO. 1 Penyakit infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "· NO. 1 Penyakit infeksi yang menyebabkan kematian pada manusia"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penulisan

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: Apa itu asuhan keperawatan komprehensif pada keluarga dengan kasus TB Paru.

Manfaat Penulisan

  • Bagi Penulis
  • Bagi Keluarga
  • Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Subyek karya tulis ilmiah ini adalah penderita tuberkulosis paru pada keluarga yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Sempaja Samarinda dan akan mendapat asuhan keperawatan secara detail dan mendalam. Studi kasus ini dilakukan pada individu dalam keluarga yang terjangkit tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Šempaja. Berdasarkan data penilaian kurangnya pengetahuan kedua klien diketahui bahwa terdapat kurangnya pengetahuan tentang tuberkulosis paru baik pada klien maupun pada keluarganya, hal ini menunjukkan bahwa klien dan keluarga tidak mengetahuinya. jelaskan apa itu tuberkulosis paru. Itu adalah tuberkulosis.

Kurangnya pengetahuan tentang tuberkulosis paru pada kedua klien disebabkan oleh ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan tuberkulosis paru. Evaluasi masalah keperawatan keluarga klien 1 dan 2 terselesaikan pada hari ke 4 dan 6 dengan klien dan keluarga mampu memahami apa itu tuberkulosis paru beserta tanda, gejala, dan komplikasinya.

TINJAUAN PUSTAKA

Struktur Keluarga

  • Struktur Peran Keluarga
  • Sistem Nilai dalam Keluarga
  • Pola dan Proses Komunikasi
  • Struktur Kekuasaan dalam Keluarga

Peran didasarkan pada resep peran dan harapan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan individu dalam situasi tertentu untuk memenuhi harapan mereka sendiri atau harapan orang lain mengenai peran tersebut. Nilai-nilai keluarga diartikan sebagai suatu sistem gagasan, sikap dan keyakinan tentang nilai keseluruhan atau konsep yang secara sadar atau tidak sadar mengikat seluruh anggota keluarga menjadi satu kesatuan budaya. Kekuasaan keluarga sebagai ciri sistem keluarga merupakan potensi dan kemampuan nyata seseorang individu dalam mengubah perilaku anggota keluarga.

Fungsi Keluarga

Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Tugas Perkembangan

Konsep Dasar Tuberkulosis Paru

  • Pengertian
  • Etiologi
  • Patofisiologi
  • Tanda Dan Gejala
  • Klasifikasi Tuberkulosis
  • Penatalaksanaan

Tuberkulosis terpapar ke udara sebagai droplet nuklei dari batuk, bersin, teriakan atau nyanyian penderita tuberkulosis paru. Begitu berada di dalam cangkang penghalang, basil tuberkel dikatakan terkendali, sehingga membentuk keadaan infeksi tuberkulosis laten. Orang-orang pada tahap ini tidak menunjukkan gejala tuberkulosis, tidak dapat menyebarkan infeksi, dan oleh karena itu tidak dianggap sebagai kasus tuberkulosis.

Secara lebih rinci, tanda dan gejala tuberkulosis paru dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu gejala sistemik dan gejala pernafasan. Klasifikasi tuberkulosis paru dibuat berdasarkan gejala klinis, bakteriologis, radiologis dan riwayat pengobatan sebelumnya, hal ini penting karena merupakan salah satu faktor penentu dalam menentukan strategi terapi.

Gambar 2.1 Estimasi Jumlah Kasus Baru (incidence) TBC di Negara yang Memiliki Paling Sedikit 100.000 Kasus Baru,
Gambar 2.1 Estimasi Jumlah Kasus Baru (incidence) TBC di Negara yang Memiliki Paling Sedikit 100.000 Kasus Baru,

Konsep Asuhan Keperawatan

  • Pengkajian Keperawatan
  • Diagnosa Keperawatan
  • Perencanaan Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Setiap anggota keluarga klien 1 dan 2 menyayangi, menghormati, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anggota keluarga lainnya. Menurut asumsi penulis, permasalahan kurangnya pengetahuan tentang tuberkulosis paru mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi pada klien 1 dan 2, diantaranya klien dan keluarga mengatakan kurang memahami secara detail tentang tuberkulosis paru dan tingkat pendidikan. klien. 1 dan 2 yang masih cukup rendah. Dari data pengkajian perilaku kesehatan pada kedua klien terlihat adanya risiko perilaku kesehatan pada keluarga yang ditandai dengan pernyataan klien dan keluarga bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memodifikasi kehidupannya. lingkungan.

Hal yang dicapai yaitu klien dan keluarga mengetahui komponen makanan apa saja yang dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarganya. Klien dan keluarga mengatakan mereka tidak tahu bahwa penyakit ini akan menyebabkan masalah yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Tabel 2.1 Skala Untuk Menentukan Prioritas (Maglaya, 2009).
Tabel 2.1 Skala Untuk Menentukan Prioritas (Maglaya, 2009).

METODE PENELITIAN

Subyek Penulisan

Subyek penulisan yang akan dilakukan adalah dua pihak yang mempunyai kasus yang sama dan kriteria yang sesuai.

Batasan istilah (Definisi operasional)

Seluruh anggota keluarga klien 1 dan 2 berpendapat bahwa kesehatan sangat penting dan harus dijaga. Oleh karena itu, keluarga biasakan mencuci tangan sebelum makan dan memperhatikan kecukupan gizi. Baik klien maupun keluarga mengatakan mereka tidak yakin bagaimana menyesuaikan lingkungan rumah dengan cara yang baik bagi kesehatan. Intervensi yang akan dilaksanakan adalah dengan mengidentifikasi kemampuan keluarga dalam beradaptasi dengan lingkungan, membantu keluarga menemukan keterampilan yang sesuai dengan keluarga dalam beradaptasi dengan lingkungan dan memberikan pendidikan kesehatan mengenai adaptasi lingkungan yang baik. Evaluasi masalah keperawatan keluarga klien 1 dan 2 yang terselesaikan pada hari ke 5 dan 5. Klien dan keluarga mendapat intervensi seperti mengidentifikasi kemampuan keluarga dalam mengubah lingkungan, menemukan kemampuan keluarga dalam mengubah lingkungan, dan pendidikan kesehatan terkait perubahan lingkungan yang baik.

Menurut asumsi penulis mengenai masalah keperawatan, perilaku kesehatan yang berisiko bagi keluarga mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang umum terjadi pada klien 1 dan 2, antara lain klien melaporkan jarang membuka jendela dan jarang sinar matahari masuk. risiko infeksi. Klien 2 mengatakan nafsu makannya menurun, makannya hanya setengah porsi, keluarga mengatakan klien jarang menghabiskan makanannya dan keluarga sudah tidak mampu memberikan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi. Implementasi yang dilakukan terdiri dari mengidentifikasi klien dan keluarga yang memahami pemenuhan kebutuhan gizi dan menjelaskan kepada klien dan keluarga pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi.

Evaluasi masalah keperawatan keluarga klien 2 yang masih belum terselesaikan Klien dan keluarga diberikan intervensi untuk mengidentifikasi klien dan keluarga mengenai pengetahuan tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi, memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Keabsahan Data

Validasi data bertujuan untuk memvalidasi kualitas data atau informasi yang diperoleh sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Dalam asuhan keperawatan ini uji keabsahan data dilakukan dengan cara perpanjangan waktu observasi atau tindakan, penambahan sumber informasi dengan menggunakan triangulasi dari tiga sumber data utama yaitu klien, perawat dan keluarga klien mengenai masalah yang ditulis.

Analisis Data

R dan keluarga berharap selalu sehat dan tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik, tepat dan cepat kepada siapa saja yang membutuhkan. Klien 2 Ny S dan keluarga berharap selalu dalam keadaan sehat dan tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik, tepat dan cepat kepada siapapun yang memerlukannya. Menurut asumsi penulis mengenai masalah keperawatan peningkatan kesiapan mungkin disebabkan oleh beberapa faktor yang ada pada klien 2 antara lain klien mengatakan nafsu makannya menurun dan keluarga klien mengatakan tidak mampu membeli makanan yang bergizi tinggi bukan karena dana tidak mencukupi sehingga menyebabkan bobot klien menurun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Lokasi Penelitian

Puskesmas Sempaja diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1985 oleh Walikota Samarinda (Bapak Waris Husein) didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda (Dr. Supangat). Gedung Puskesmas Sempaja yang lama berbentuk bangunan permanen, memiliki 8 ruangan dengan fasilitas listrik (PLN) dan sumur gali.

Gambaran Subjek Studi Kasus

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan
  • Perencanaan Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan

Sebagai ibu rumah tangga, kondisinya secara umum sehat dan tidak ada keluhan. perempuan laki-laki Tunjuk ke pintu masuk. Pelanggan 1, seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, anggota keluarga saling menyayangi dan membantu. Klien 2, seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, anggota keluarga saling menyayangi dan membantu.

J berpegang pada norma yang berlaku di masyarakat, jika ada anggota keluarga yang sedikit menyimpang maka anggota keluarga yang lain akan mengingatkannya. Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat jika ada anggota keluarga yang sakit dengan membawanya ke rumah sakit. J mengatakan tidak tahu/tidak mengerti dengan penyakit Ny. Keluarga belum mampu mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi ketika ada anggota keluarga yang sakit.

Keluarga dapat mengambil keputusan yang tepat jika ada anggota keluarga yang sakit dengan membawanya ke puskesmas. Rambut panjang Warna hitam Tidak ada bekas luka.. penyakit kuning Konjungtiva tidak anemia Tidak ada peradangan. Bunyi nafas vesikular Perkusi sonor Tidak ada kroni Tidak ada stridor Tidak ada mengi Tidak ada bunyi tambahan.

Pergerakan dada simetris Bunyi nafas vesikular Perkusi nyaring Tidak ada ronki Tidak ada stridor Tidak ada mengi Tidak ada bunyi tambahan. Tidak ada masalah menelan. Tidak... pembesaran tiroid. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.. Pembesaran kelenjar tiroid. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.. Pembesaran kelenjar tiroid. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.. Pembesaran kelenjar tiroid. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Gerakan dada yang simetris. Bunyi nafas vesikular. Perkusi yang nyaring. Ada rhonchi. Lobus kanan bawah dada. Tidak ada stridor. Tidak mengi. Tidak ada suara tambahan.

Tabel 4.1 Komposisi klien 1 No Nama Jenis Kelamin Hub
Tabel 4.1 Komposisi klien 1 No Nama Jenis Kelamin Hub

Pembahasan

Menurut asumsi penulis mengenai masalah keperawatan, tidak efektifnya bersihan jalan nafas pada keluarga kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yang umum terjadi pada Klien 2 antara lain klien mengeluh batuk dan sesak nafas akibat adanya lendir yang menyumbat saluran nafas sehingga mengakibatkan keluhan pernafasan. halangan. Klien 1 mengatakan belum mengetahui secara pasti apa itu tuberkulosis paru, hanya mengetahui penularannya melalui udara, sedangkan klien 2 menyatakan belum mengetahui apa itu tuberkulosis paru, prosedur yang harus dilakukan. Menurut penulis hal ini sesuai dengan teori. Penelitian terkait juga dikemukakan oleh Sulistyana dan Susanti (2017) yang menyatakan bahwa pengetahuan dan sikap keluarga penderita TBC berpengaruh terhadap upaya pencegahan TBC.

Sehingga upaya pencegahan tuberkulosis dapat dilakukan pada tingkat terkecil yaitu keluarga dalam hal ini kepala keluarga yang memegang peranan penting dalam upaya pencegahan tuberkulosis. Perilaku kesehatan berisiko dalam keluarga disebabkan oleh ketidakmampuan keluarga dalam mengubah lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan. Menurut penulis hal ini sejalan dengan penelitian Hidayat (2017) Ventilasi ruangan yang memenuhi syarat memungkinkan terjadinya pertukaran udara di dalam ruangan.

Ventilasi dalam rumah yang kurang menyebabkan udara tidak tertahan sehingga kelembapan dalam ruangan meningkat dan kondisi ini menjadi sarana yang baik bagi berkembangnya patogen. Berdasarkan data pengkajian gizi pada klien 2, terdapat kekurangan kebutuhan nutrisi pada klien yang ditandai dengan penurunan nafsu makan klien. Menurut penulis hal ini sesuai dengan teori.Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ristyo Sari P,dkk (2012) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendapatan dengan kejadian tuberkulosis paru.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seseorang yang tingkat sosial ekonominya baik maka akan mempunyai tingkat kesehatan yang baik pula. Status sosial ekonomi yang rendah mengakibatkan rendahnya pengetahuan tentang tuberkulosis paru BTA positif dan sulitnya memperoleh pelayanan kesehatan yang baik. Hasil penelitian ini sejalan dengan Fariz Muaz (2014) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian tuberkulosis paru.

Keterbatasan Penelitian

Selasa, 9 April 2019 Kurangnya pengetahuan tentang tuberkulosis paru, terkait ketidakmampuan keluarga dalam mengenali gangguan kesehatan yang berhubungan dengan tuberkulosis paru. Kamis, 11 April 2019 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit TBC paru berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan yang berhubungan dengan TBC paru. Selasa, 16 April 2019 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit TBC paru berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan yang berhubungan dengan TBC paru.

18 April 2019 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit TBC paru berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan TBC paru. Sabtu 20 April 2019 Kurangnya pengetahuan tentang penyakit TBC paru berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan TBC paru.

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran

Gambar

Gambar 2.1 Estimasi Jumlah Kasus Baru (incidence) TBC di Negara yang Memiliki Paling Sedikit 100.000 Kasus Baru,
Gambar 2.1 Pathway Tuberkulosis Paru
Tabel 2.1 Skala Untuk Menentukan Prioritas (Maglaya, 2009).
Tabel 4.1 Komposisi klien 1 No Nama Jenis Kelamin Hub
+3

Referensi

Dokumen terkait

Elderly people can think positively by looking at the good things they get while living in the nursing homes, namely facilities, social relations with other residents,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak proses pembelajaran berani di tengah pandemi covid-19 pada mata pelajaran PKn dan untuk mengetahui