TUGAS BELA NEGARA
PAHLAWAN NASIONAL (JENDERAL SUDIRMAN) PARALEL G136
Disusun Oleh :
Noviar Rizky Ramadhan (20032010137) Dosen Pengampu :
Dra. Sri Wibawani, M.Si Prasmita Dian Wijayati, S.P., M.Si
Ftiri Wijayanti, S.P., M.Si
PARALEL G136
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2022
Nama : Noviar Rizky R.
NPM : 20032010137 Kelas : Bela Negara G136
BIOGRAFI
Nama : Raden Soedirman
Tempat, Tanggal Lahir : Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal : 29 Januari 1950 (umur 34) di Magelang
Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman (EYD: Sudirman; 24 Januari 1916 – 29 Januari 1950) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi. Soedirman sangat dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, hingga kemudian diasingkan ke Bogor.
Biografi Jenderal Soedirman menunjukan peran Sang Jenderal selain menjadi guru adalah ia aktif berorganisasi di pemuda Muhammadiyah. Pada saat penjajahan Jepang tahun 1942, aktivitas mengajarnya dibatasi oleh Jepang dan sekolah tempat ia mengajar dijadikan sebagai pos militer Jepang. Biografi Jenderal Soedirman menunjukan peran Sang Jenderal selain menjadi guru adalah ia aktif berorganisasi di pemuda Muhammadiyah. Pada saat penjajahan Jepang tahun 1942, aktivitas mengajarnya dibatasi oleh Jepang dan sekolah tempat ia mengajar dijadikan sebagai pos militer Jepang. Keaktifannya di militer membawa Jenderal Soedirman bertemu Soekarno dan Hatta dan ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri para tentara Jepang di Banyumas, tepatnya setelah ia mendirikan divisi lokal dari Badan Keamanan Rakyat Indonesia saat itu. Keaktifannya di militer membawa Jenderal Soedirman bertemu Soekarno dan Hatta dan ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri para tentara Jepang di Banyumas, tepatnya setelah ia mendirikan divisi lokal dari Badan Keamanan Rakyat Indonesia saat itu. Setelah itu pada Konferensi TKR tanggal 2 November 1945, Sang Jenderal terpilih menjadi Panglima Besar TKR atau Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia yang pertama. Meskipun belum dilantik secara resmi sebagai panglima, Jenderal Soedirman sudah sigap memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.Karena tindakannya itulah membuat rakyat menjadi semakin kuat
mendukung perjuangan Sang Jenderal. Perannya yang besar itulah mengantarkan Soedirman diberikan pangkat Jenderal yang dilantik oleh Presiden Soekarno pada 18 Desember 1945 yang juga dapat Grameds baca melalui buku Jenderal Soedirman: Teladan Pemimpin yang Bersahaja.
Perjuangan Jenderal Sudirman untuk Indonesia memiliki kontribusi yang sangat besar.
Diplomatik pertama yang gagal adalah Perjanjian Linggarjati yang dalam penyusunannya ikut andil Sang Jenderal Soedirman. Selain itu kegagalan pada Perjanjian Renville yang harus membuat Indoensia mengembalikan wilayah yang berhasil diambil pada Agresi Militer Belanda I kepada Belanda dan mengharuskan Jenderal Soedirman menarik 35 ribu pasukannya.
Perundingan Roem Royen juga melibatkan peran Jenderal Soedirman karena berkaitan dengan kemiliteran dan upaya pemberontakan dalam negeri tahun 1948 dari peristiwa G30S PKI di Madiun. Dari segala perjanjian dengan Belanda, Jenderal Soedirman terus mendesak Soekarno untuk tetap melanjutkan perang gerilya karena ia tidak percaya Belanda yang akan benar-benar memenuhi janjinya. Namun saat itu Soekarno menolak dan membuat Sang Jenderal sangat terpukul dan membuatnya jatuh sakit. Jenderal Soedirman mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC) karena terinfeksi saat berjuang pada November 1948 yang menyebabkan paru-paru kanannya harus dikempeskan. Kepergian Oerip meninggal dunia pada tahun 1948 juga semakin memperburuk kondisi Sang Jenderal. Ia sempat ingin mengundurkan diri dari kemiliteran Indonesia namun ditolak Soekarno karena dapat menimbulkan ketidakstabilan perjuangan negara saat itu. Setelah Jenderal Soedirman keluar Rumah Sakit pada 19 Desember 1948, Belanda justru melancarkan Agresi Militernya yang ke 2. Penyakit parah yang ia derita rupanya tidak menghalangi Sang Jenderal untuk tetap berjuang melawan Belanda. Jenderal Soedirman pun akhirnya pergi ke Selatan bersama kelompok kecil dan dokter pribadinya melakukan gerilya selama tujuh bulan dalam kondisi yang memprihatinkan, yakni ditandu dengan peralatan medis seadanya dan terbatas. Pasukan mereka sempat ditemukan Belanda, namun mereka berhasil kabur ke Sobo dekat Gunung Lawu dari kejaran Belanda. Jenderal Soedirman memimpin kemiliteran di Jawa termasuk tetap mengomandoi Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta melawan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.
Kondisinya yang semakin parah membuatnya harus mundur dari medan perang melawan Belanda secara langsung di lapangan. Kegigihannya melawan Belanda sangat dikagumi oleh para pasukannya dan memberikan mereka motivasi besar untuk terus melawan Belanda. Kisah lengkap mengenai tokoh Soedirman juga dapat Grameds baca melalui buku Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir.
Wafatnya Jenderal Indonesia, Penyakit yang diderita Jenderal Soedirman kian parah setelah memaksakan diri untuk tetap bergerilya melawan Belanda. Kondisinya yang semakin memburuk tersebut rupanya tidak membuat Jenderal Soedirman menyerah untuk sembuh.Sang Jenderal tetap rajin kontrol ke Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta untuk berjuang melawan penyakitnya. Saat ia sedang di rawat di Sanatorium Pakem Desember 1949, Jenderal Soedirman memperoleh berita bahagia karena Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia melalui Republik Indonesia Serikat Tepatnya 27 Desember 1949. Sang Jenderal pun akhirnya dipindahkan ke Magelang untuk memperoleh perawatan yang lebih intensif. Namun upaya pengobatan Sang Jenderal tidak berhasil, tepat 1 bulan setelah kedaulatan Indonesia merdeka dari Belanda, Jenderal Soedirman wafat karena penyakit yang ia derita pada 29 Januari 1950. Ada pasukan konvoi dengan empat buah tank dan 80 buah kendaraan bermotor kemiliteran Indonesia yang mengiringi pemakaman Jenderal Soedirman di Taman Makam
Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Kepergian Jenderal Soedirman ini dinobatkan sebagai kepergian Sang Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Rakyat Indonesia pun sangat terpukul dan kehilangan sosok pahlawan besar, bahkan ribuan rakyat berkumpul sepanjang 2 kilometer menyaksikan prosesi pemakaman Sang Jenderal. Masyarakat Indonesia pun mengibarkan bendera merah putih setengah tiang untuk menghormati kepergian Jenderal Soedirman pada hari kematiannya tersebut. Jejak perjuangannya kemudian menjadi esprit de corps untuk tentara Indonesia, yakni taktik gerilyanya yang sangat berani. Rute perang gerilya sepanjang 100 kilometer yang pernah dilakukan Jenderal Soedirman pun menjadi zona pelatihan kemiliteran bagi para taruna Indonesia yang belum lulus dari akademi militernya. Kisah perjuangan Jenderal Soedirman abadi bagi bangsa Indonesia, hingga namanya banyak dijadikan nama- nama jalan, gedung, universitas, dan museum. Sang Jenderal kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sejak 10 Desember 1964 oleh Presiden Soekarno. Pada tahun 1997 Jenderal Soedirman dianugerahi gelar Jenderal Besar Anumerta oleh Soeharto, dimana gelar tersebut hanya dimiliki oleh tiga orang saja di Indonesia hingga saat ini.
Hikmah yang dapat diambil dari Jenderal Sudriman Adalah :
“Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita wasapada dan bertindak sebagai patriot.” –Jogjakarta, 1 Januari 1946.
Sebuah narasi pendek dari Jenderal Soedirman agar selalu waspada dan tidak mudah terbawa oleh arus-arus tertentu. Saat ini masalah yang dihadapi pemuda berkaitan dengan berbagai teknologi yang berkembang dan era industri 5.0. Salah satunya adalah degradasi moral yang sudah menjadi problem mengkhawatirkan. Krisis ini disebabkan oleh meningkatnya pergaulan seks bebas, pornografi melalui media sosial dan internet, serta maraknya kekerasan (bullying) anak-anak dan remaja.
Bentuk nasionalisme Jenderal Soedirman adalah sikap membela dan memperjuangkan tanah air dari penguasaan penjajah. Beliau selalu memberi pesan agar dengan segala daya dan upaya berusaha mempertahankan tanah air Indonesia. Nasionalisme beliau juga dapat dilihat pada amanah yang dikeluarkan pada 1 Mei 1949 (Sardiman, 2000). Salah satunya berbunyi:
“Tunaikan sumpah dan tugas kewajiban sebagai prajurit negara Republik Indonesia, yang sanggup menjamin keamanan dan keselamatan nusa dan bangsa”.
Patriotisme Jenderal Soedirman juga dapat dilihat pada beberapa amanat yang disampaikan selama karir militernya, seperti : “Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat menyerah kepada siapapun juga, yang akan menjajajh dan menindas kita kembali”. Bukti semangat patriotisme lainnya adalah kerelaan berkorban tanpa perhitungan, komitmen pada janji membela negara dan bangsa, dan tidak kenal menyerah.
Banyak nilai keteladanan yang dapat dipetik dari sosok Jenderal Soedirman. Nilai-nilai ini penting untuk diinternalisasikan oleh pemuda era 5.0. Pemuda diharapkan tidak hanya fokus pada bidang teknologi dan informasi, namun juga aktif berorganisasi serta bijak dalam memaknai kemajuan. Karena problem yang dihadapi bangsa semakin berat, tentu diperlukan sikap para pemuda yang nasionalis, agamis, dan patriotis untuk menunjang ketahanan bangsa.