• Tidak ada hasil yang ditemukan

Opini Publik

N/A
N/A
Mys Lea

Academic year: 2024

Membagikan "Opini Publik"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

OPINI PUBLIK

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik yang diampu oleh Dr. H. Mohammad Ali Al Humaidy, M.Si.

Oleh:

Mayasinta Indah Utami (22384022005) Moh. Zubaidi (22384021025)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA MEI 2024

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik yang diampu oleh Bapak Dr. H.

Mohammad Ali Al Humaidy, M.Si.

Makalah ini disusun dengan harapan, kami dan para pembaca dapat memperluas ilmu tentang Komunikasi Politik khususnya mengenai Opini Publik.

Makalah ini kami buat berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi dan referensi.

Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun akan senantiasa kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Sampang, 12 Mei 2024

Penyusun

(3)

iii

KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan ... 1 BAB II PEMBAHASAN

A. Karakteristik Opini Publik ... 2 B. Pembentukan Opini Publik ... 3 C. Teori Pembentukan Opini Publik ... 6 BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 8 B. Saran ... 9

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Opini publik merupakan salah satu cara untuk masyarakat atau sekumpulan orang-orang yang ingin menyampaikan suatu pendapat, masukan atau aspirasi yang ada dipikirannya tentang hal-hal yang di lihat atau yang dirasakan secara langsung atau melalui media/perantara, hal ini dilakukan dengan cara melalui interaksi secara langsung ataupun melalui media seperti media cetak, media massa bahkan media sosial. Opini publik adalah hal yang selalu dan pasti akan terus terjadi selama ada hal yang dapat dikomentari atau menjadi bahan publik.

Makalah ini bertujuan untuk membahas secara mendalam mengenai karakteristik, pembentukan, dan teori pembentukan opini publik dalam komunikasi politik. Diharapkan, makalah ini dapat memberikan sumbangsih pengetahuan dan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena opini publik dan perannya dalam konteks komunikasi politik.

B. Rumusan Masalah

1. Apa karakterisitik dari opini publik?

2. Bagaimana proses pembentukan opini publik?

3. Apa saja teori pembentukan opini publik?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui karakteristik dari opini publik

2. Untuk mengetahui dan memhami proses pembentukan opini publik 3. Untuk mengetahui apa saja teori pembentukan opini publik

(5)

2 BAB II PEMBAHASAN A. Karakteristik Opini Publik

Opini publik merupakan refleks dari perilaku manusia, baik sebagai aktor politik maupun khalayak politik. Pesan politik yang dikemas sebagai berita/

informasi yang dipublikasikan melalui media massa atau media sosial melalui media massa mewakili rencana, tujuan, dan kepentingan aktor politik sekaligus mempertimbangkan secara serius setting peristiwa, keinginan, harapan, dan tujuan khalayak.1

Aktor atau pelaku politik tidak akan berhasil membentuk opini publik jika tidak memikirkan kepentingan khalayak atau target politik. Pada era teknologi komunikasi yang melahirkan media baru (media sosial), pertimbangan agenda khalayak menjadi sangat diperlukan karena khalayak dapat bebas mengakses informasi dari beragam media secara bebas.

Fenomena the power of social media menuntut pelaku politik untuk mengelola khalayak sebaik mungkin dengan semua jenis media yang ada, sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada era internet saat ini, proses komunikasi politik tidak mungkin mengabaikan keberadaan dan kekuatan media sosial. Pembicaraan politik dalam pembentukan opini publik dilakukan umumnya secara verbal. Kata- kata sebagai alat konstruksi realitas politik harus dikemas secara tepat dan sesuai karena bahasa memiliki kekuatan dalam mengontruksi kekuasaan.

Tanpa bahasa, realitas tidak akan mudah disampaikan kepada publik.

Individu-individu adalah publik yang terlibat secara sadar sekaligus target pemasaran politik. Khalayak membutuhkan informasi yang jelas dan objektif sehingga dapat mengenal serta mengetahui secara jelas kebijakan, program, dan pelaku politik. Publik pun mempunyai hak untuk diinformasikan berbagai rencana dalam proses komunikai politik.

Beberapa karakteristik opini publik sebagai berikut:

1. Merupakan perilaku manusia individu-individu.

2. Dinyatakan secara verbal.

3. Melibatkan banyak individu.

4. Situasi dan objeknya dikenal secara luas.

5. Penting untuk orang banyak.

6. Pendukungnya bersedia untuk terlibat.

7. Disadari, kesadaran bahwa setiap situasi berbeda reaksinya.

8. Diekspresikan, sikap atau pendapat melibatkan ekspresi.

9. Pendukungnya tidak harus berada pada tempat yang sama.

1 Umaimah Wahid, Komunikasi Politik: Teori, Konsep, dan Aplikasi pada Era Media Baru (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016), 134.

(6)

3

10. Bersifat menentang atau mendukung sesuatu, adanya pro kontra.

11. Mengandung unsur pertentangan sebagai upaya menuju tujuan bersama.

12. Efektif untuk mencapai objektivitas dalam mencapai tujuan bersama.2 B. Pembentukan Opini Publik

C.

D.

E.

F.

1. Persepsi

Persepsi adalah suatu proses memberikan makna, yang sebenarnya merupakan akar dari opini. Persepsi ditentukan oleh faktor-faktor seperti:

 Latar belakang budaya

 Pengalaman masa lalu

 Nilai-nilai yang dianut

 Berita-berita yang berkembang

Ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang baru kali ini dikenalnya, biasanya orang akan segera mempunyai opini. Opini ini muncul karena orang tersebut mempunyai persepsi. Misalnya, orang yang bertubuh tinggi, berkumis, dan berbadan atletis itu dianggap “pasti penggemar olahraga basket”. Mengapa orang itu berpendapat demikian? Hal itu antara lain disebabkan oleh kenyataan yang ditemuinya di masa lalu: orang-orang seperti itu adalah pemain bola basket. 3

2 Ibid., 135.

3 Rhenald Kasali, Manajemen Public Relations : Konsep dan Aplikasinya di Indonesia (Jakarta:

Pustaka Utama Grafiti, 1994), 23-24.

Persepsi Opini Konsensus OPINI

PUBLIK

 Latar belakang budaya

 Pengalaman masa lalu

 Nilai-nilai yang dianut

 Berita yang berkembang

Pendirian (Attitude)

Affect

Behavior

Cognition

(7)

4 2. Opini

Opini sendiri mempunyai kaitan yang erat dengan pendirian (attitude).

Opini mempunyai usur sebagai molekul opini, yakni:

Belief (Kepercayaan tentang sesuatu)

Attitude (apa yang sebenarnya dirasakan seseorang)

Perception (persepsi)

Pendirian (attitude) sering disebut sikap, merupakan opini yang tersembunyi didalam batin seseorang (latent opinion). Pendirian yang diungkapkan, dalam bentuk apa pun disebut opini.4

3. Konsensus

Opini individu bisa berkembang menjadi luas, menjadi “milik suatu segmen masyarakat”. Opini yang terkristal menjadi luas itu disebut opini publik. Untuk berkembang menjadi opini publik, opini-opini tersebut melewati sejumlah dimensi, yakni:

 Waktu

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sangat tergantung pada unsur emosi anggota segmen masyarakat, kesamaan persepsi, kepercayaan atas isu yang dibicarakan, pengalaman yang sama, tekanan-tekanan dari luar, dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sumber berita.

 Cakupan (luasnya publik)

Konsensus atas masing-masing individu terhadap suatu opini tertentu biasanya dimulai dari suatu kelompok segmen yang paling kecil, kemudian berkembang menjadi kelompok yang lebih luas.

 Pengalaman masa lalu khalayak

Khalayak umumnya pernah memiliki suatu pengalaman tertentu atas objek yang dibicarakan. Pengalaman masa lalu ini biasanya diperkuat oleh informasi lain. Pengalaman masa lalu diekspos oleh hal-hal yang dialami sendiri maupun didengar atau dibaca dari

4 Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto, Dasar-Dasar Publik Relation (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003), 109.

(8)

5

sumber lain. Makin tinggi dan sama pengalaman masing-masing individu akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya konsensus diantara mereka.

 Media massa

Konsensus biasanya akan berkembang lebih pesat lagi apabila suatu kejadian diekspos oleh media massa. Bahkan, media massa sering disebut sebagai alat pembentukan opini publik.

 Tokoh

Hampir dalam setiap kasus selalu tampil seorang tokoh. Konsensus yang muncul biasanya amat tergantung pada tokoh yang menangani kasus tersebut.

4. Pendirian

Sebagai ramuan pembentuk opini, pendirian mempunyai tiga komponen pembentuk yang dikenal sebagai A – B – C of Attitude.

a. Affect atau perasaan (Emosi)

Komponen afektif merupakan elemen evalusasi dalam unsur pendirian berdasarkan seseorang untuk menilai sesuatu: baik atau buruk.

b. Behavior atau perilaku

Merupakan komponen untuk menggerakan seseorang secara aktif untuk melakukan tindakan atau berperilaku atau suatu reaksi yang sedang dihadapinya. Seperti: memukul, menghancurkan, menerima, menolak, dsb.

c. Cognition atau pengertian (penalaran)

Komponen ini berkaitan dengan penalaran seseorang untuk menilai sesuatu informasi, pesan, fakta dan pengertian yang berkaitan dengan pendiriannya. Komponen ini menghasilkan pengertian dari seseorang berdasarkan rasio atau kemampuan penalarannya.5

5 Rhenald Kasali, Manajemen Public Relations : Konsep dan Aplikasinya di Indonesia (Jakarta:

Pustaka Utama Grafiti, 1994), 26.

(9)

6 C. Teori Pembentukan Opini Publik

1. Teori Agenda Setting

Teori agenda setting diperkenalkan oleh Maxwell Mccomb dan Donald Shaw dalam “Public Opinion quarterly” Tahun 1972. Agenda setting merupakan teori yang berkaitan dengan dampak media massa terhadap pengetahuan dan pendapat khalayak terhadap suatu isi. Teori ini berintikan bahwa apa yang diannggap penting oleh media massa akan dianggap penting pula oleh khalayak. Media massa memberi penekanan pada isu-isu tertentu. Penekanan itu mengakibatkan khalayak menganggap bahwa isu yang ditekankan oleh media massa tersebut merupakan isu yang penting, menjadi bahan pemikiran, dan pembicaraan masyarakat.jadi ada ketertarikan antara isu yang ditekankan oleh media.

Liputan media membantu untuk mendifiniskan hal-hal yang dipikirkan orang dan dicemaskan orang. Ini dinamakan penentuan agenda setting.6

Agenda Setting adalah menciptakan public awareness (kesadaran masyarakat) dengan menekankan sebuah isu yang dianggap paling penting untuk dilihat, didengar, dibaca, dan dipercaya di media massa.

Sebagai contoh misalnya tim redaksi Mata Najwa. Dalam menentukan topik apa yang akan diangkat tiap minggu, biasanya mereka akan mengumpulkan isu-isu yang potensial dan memiliki banyak nilai berita yang bisa menarik perhatian publik. Misalnya isu tentang banjir Jakarta, atau virus corona. Dari sekian banyak isu ini, mereka akan memilih dan menekankan satu isu yang dianggap paling penting, misalnya tentang virus corona. Apabila satu media memberitakan tentang isu virus corona, biasanya semua media akan ikut memberitakannya, dan itu semua adalah bagian dari Agenda Setting media.7

Melalui teori agenda setting khalayak tidak hanya mempelajari isu- isu yang muncul dipemberitaan media massa, tetapi juga mempelajari seberapa penting isu atau topik tersebut dengan melihat cara media massa memberi penekanan terhadap isu atau topik tersebut. Hal-hal yang dipandang penting oleh media akan dianggap penting pula oleh publik sehingga menjadi agenda publik. Jika media masssa menganggap suatu isu sangat penting maka isu akan dianggap sangat penting oleh publik.

Demikian juga halnya kalau media menganggap suatu isu kurang penting, maka publik pun akan menganggap isu itu kurang penting. Dalam bahasa McCombs dan Shaw agenda setting secara lugas dan singkat berarti

“what to think about.” Kepentingan yang dibawa media dalam agenda

6 Vivian. John, Teori Komunikasi Massa (Jakarta: Kencana, 2008), 495.

7 Adhimurti Citra Amalia, Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations, Binus University, diakses dari Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations (binus.ac.id) pada tanggal 12 Mei 2024 pukul 18.55 WIB.

(10)

7

setting beragam, ada kepentingan politik, ekonomi dan budaya. Hal yang ditampilkan bisa berupa isu-isu abstrak menyangkut aktifitas tertentu yang sifatnya kongkrit, defisit anggaran negara, maupun kegiatan bersifat personal.

2. Teori Framing

Teori Framing Merupakan pendekatan analisis sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak tertuju pada pesan tersebut. Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengethaui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. 8Framing sebagai sebuah proses yang menekankan atau mengonstruksi penafsiran pesan penerima adalah proses dimana terdapat tekanan atau konstruksi pengaruh pesan yang dipahami oleh penerima.

Framing bagaimana media menempatkan sebuah berita dan memberikannya makna tertentu. Sebagai contoh misalnya berita tentang virus corona tadi. Media online detikhealth mungkin akan fokus dengan topik-topik kesehatan seperti bagaimana caranya menghindari virus corona. Koran Kompas mungkin akan fokus ke dampak virus corona terhadap perekonomian Indonesia. Atau Metro TV akan fokus kepada bagaimana virus corona dipolitisasi oleh beberapa pejabat yang memiliki kepentingan. Topiknya bisa jadi sama, tapi cara mem-framingnya berbeda-beda.9

3. Teori Priming

Teori priming merupakan konsep yang menjelaskan bagaimana paparan terhadap informasi tertentu (stimulus awal) dapat mempengaruhi bagaimana kita memproses informasi selanjutnya (stimulus baru). Dalam konteks komunikasi politik, priming berfokus pada bagaimana media massa atau aktor politik dapat mempengaruhi cara pandang publik terhadap isu atau kandidat politik melalui paparan informasi tertentu.

Teori priming menawarkan perspektif yang penting dalam memahami bagaimana komunikasi politik dapat mempengaruhi opini publik. Dengan memahami konsep priming, kita dapat menjadi konsumen informasi yang lebih kritis dan waspada terhadap upaya manipulasi opini publik.

8 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: Lkis Yogyakarta, 2007), 3.

9 Adhimurti Citra Amalia, Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations, Binus University, diakses dari Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations (binus.ac.id) pada tanggal 12 Mei 2024 pukul 18.55 WIB.

(11)

8 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

1. Karakteristik opini publik ialah: merupakan perilaku manusia individu- individu, dinyatakan secara verbal, melibatkan banyak individu, situasi dan objeknya dikenal secara luas, penting untuk orang banyak, pendukungnya bersedia untuk terlibat, disadari, kesadaran bahwa setiap situasi berbeda reaksinya, diekspresikan, sikap atau pendapat melibatkan ekspresi, pendukungnya tidak harus berada pada tempat yang sama.

2. Proses pembentukan opini publik dimulai dari persepsi, opini, konsensus, dan opini publik.

3. Teori pembentukan opini publik diantaranya, teori agenda setting, teori framing, dan teori priming.

B. Saran

Opini publik harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum diungkapkan ke kekhalayak dan disebar luaskan ke masyarakat lain baik diluar daerah atau diluar negeri. Opini publik harus dilakukan secara berhati-hati agar komunikan tersebut tidak menimbulkan kesimpulan sendiri dari apa yang telah disampaikan

(12)

9

DAFTAR PUSTAKA

Citra Amalia, Adhimurti. Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations, Binus University, diakses dari Teori Agenda Setting dan Framing dalam Media Relations (binus.ac.id) pada tanggal 12 Mei 2024 pukul 18.55 WIB.

Eriyanto. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta:

Lkis Yogyakarta, 2007.

Kasali, Rhenald. Manajemen Public Relations : Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto. Dasar-Dasar Publik Relation. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003.

Vivian. John. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana, 2008.

Wahid, Umaimah. Komunikasi Politik: Teori, Konsep, dan Aplikasi pada Era Media Baru. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini adalah profitabilitas, Kepemilikan publik, opini audit, ukuran perusahaan, variabel independen sedangkan ketepatan waktu

Peran Media Sosial Dalam Membentuk Opini Publik pada Politik di Indonesia ABSTRAK Oleh William Alexander WIjaya Skripsi ini membahas tentang peran media baru yaitu sosial media

Opini publik dalam konteks hukum menurut Dicey adalah “keyakinan atau conviction yang hidup dan tersebar di masyarakat bahwa suatu hukum itu bermanfaat, karenanya

Opini publik adalah kelompok yang tidak terorganisir serta menyebar diberbagai tempat dengan disatukan oleh suatu isu tertentu dengan saling mengadakan kontak

Opini publik yang diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan, menurut Hennesy (1970) adalah suatu kompleksitas dari pandangan- pandangan, kelompok, dan individual

Untuk mendeskripsikan hal tersebut, peneliti mendeskripsikan opini publik terhadap kesesuaian Patung Jayandaru dengan citra Kabupaten Sidoarjo, opini publik

Tujuan dari penulisan makalah dengan judul “Peran Pers dan Media Terhadap Pembentukan Opini Publik dalam Ruang Sistem Komunikasi Indonesia” ini adalah untuk

Ketepatan pemberian opini auditor adalah opini yang diberikan oleh seorang auditor yang telah memenuhi kriteria dalam Standar Profesional Akuntan Publik yang