• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORISINALITAS PENELITIAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ORISINALITAS PENELITIAN "

Copied!
133
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Pertanyaan Penelitian

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang memenuhi syarat keilmuan dan dapat memberikan gambaran yang sesuai dengan judul, maka berdasarkan latar belakang tersebut di atas perlu adanya pertanyaan penelitian. Bagaimana ketentuan tunjangan orang tua atas harta bersama terhadap anak akibat perceraian menurut hukum perdata Islam.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Menetapkan ketentuan tentang nafkah orang tua atas harta bersama terhadap anak akibat perceraian menurut hukum perdata Islam. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan bahan acuan dalam memberikan harta bersama kepada anak dan akibat hukum dari pemberian tersebut.

Penelitian Relevan

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembagian harta bersama akibat perceraian berdasarkan undang-undang no. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dan berdasarkan hukum adat Batak Toba. Bagaimana implementasi UU no. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Hukum Adat Batak Toba dengan Pembagian Harta Bersama Akibat Perceraian.

Metode Penelitian

  • Jenis dan Sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Sumber data sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan yang berkaitan dengan bahan hukum primer, seperti: hasil penjelasan yang berkaitan dengan bahan hukum primer, seperti: hasil penelitian dan karya ilmiah dari kalangan hukum, yang mengacu pada pembagian harta bersama orang tua. harta benda kepada anak akibat perceraian. Sumber data tersier adalah bahan pendukung di luar bidang hukum, seperti kamus atau jurnal ensiklopedi, terkait pembagian harta bersama orang tua kepada anak akibat perceraian.

KAJIAN TEORI

Pengertian Hibah

1. 46 Gudang Pengetahuan, “Pengertian Subsidi, Undang-undang, Pilar dan Ketentuan serta Penarikan Subsidi dan Jenis Subsidi,” di . http://www.ilmusaudara.com/2016/12/pengertian-hibah-Hukum-rukun-dan.html yang diunduh pada tanggal 24 Oktober diminta kembali kecuali tunjangan yang diberikan orang tua kepada anaknya, tetapi tidak sebaliknya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hibah adalah suatu akad atau perjanjian yang menetapkan bahwa harta seseorang dialihkan kepada orang lain selama ia masih hidup, tanpa mengharapkan imbalan atau ganti rugi sedikit pun.

Tujuan dan Fungsi Hibah

Menurut Pasal 35(1) di atas, harta bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan. Laki-laki atau perempuan tidak boleh menjual atau mengalihkan harta bersama tanpa persetujuan pihak lain, termasuk dalam hal ini pemberian harta bersama kepada anak-anaknya. Sedangkan harta bersama adalah harta yang diperoleh suami istri selama perkawinan dan/atau termasuk harta yang dibeli selama perkawinan.

Berdasarkan Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan di atas, ditegaskan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh suami istri selama perkawinan. Kajian tentang harta bersama dalam hukum Islam tidak terlepas dari pembahasan konsep syirkah dalam perkawinan. Menurut ketentuan mengenai harta bersama berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) diatur dalam Bab XIII tentang harta benda dalam perkawinan pada Pasal 85-97.

Pasal 85 KUH Perdata menyatakan bahwa adanya harta bersama tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing laki-laki dan perempuan. 161 Masyitha Putri Awaliah, Harta Bersama Diserahkan kepada Anak Pasca Perceraian, Skripsi, (Makassar: Universitas Hasanuddin, 2012), h. Kesesuaian pelaksanaan hibah yang diatur dalam Hukum Islam dengan penerapan yang berlaku di masyarakat dan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai hukum positif dalam pelaksanaan hibah di Indonesia telah menetapkan batasan harta bersama yang dapat dihibahkan oleh orang tua. anak mereka.

Ketentuan tentang tunjangan orang tua atas harta bersama akibat perceraian anak, harta yang dihibahkan harus menjadi hak pemberi hibah. Masyitha Putri Awaliah, Harta Bersama yang Diwariskan kepada Anak Pasca Perceraian, Skripsi, Makassar: Universitas Hasanuddin, 2012.

Hibah Dalam Keluarga

Batasan Hibah

Artinya, pembentukan harta bersama dalam perkawinan adalah sejak tanggal perkawinan sampai dengan putusnya ikatan perkawinan. Menurut Pasal 37 sebagaimana diuraikan di atas, dijelaskan bahwa dalam hal terjadi perceraian, harta bersama yang diperoleh selama perkawinan dapat diatur menurut aturan hukum yang berbeda-beda tergantung pada adat atau hukum masing-masing agama. Menurut Pasal 92 disebutkan bahwa suami istri tanpa persetujuan pihak lain tidak diperbolehkan menjual dan mengalihkan harta bersama.

Hal ini ditegaskan dalam Pasal 96 Kompendium Hukum Islam, yaitu sebagai berikut: Dalam hal perceraian karena kematian, maka setengah dari harta bersama menjadi milik pasangan yang hidup lebih lama. Maka sesuai dengan apa yang dirumuskan dalam Ikhtisar Hukum Islam, pelaksanaan Pasal 37 UU No. 1 Tahun 1974 masing-masing suami istri berhak atas setengah harta bersama jika terjadi perceraian. Hibah dianjurkan kepada orang tua dalam memberikan harta bersama sebagai hibah kepada anak-anaknya agar berlaku adil karena harta bersama itu merupakan warisan semua anaknya ketika mereka telah meninggal dunia.

Pada umumnya dari kasus hibah harta bersama, misalnya berupa tindakan pembatalan hibah oleh seorang anak terhadap orang tua yang telah menghibahkan harta bersama kepada salah satu anaknya. Kemudian, batalnya hibah orang tua dalam harta bersama dapat terjadi karena suami mewariskan harta bersama tanpa persetujuan istri. Islam menganjurkan agar para orang tua dalam memberikan harta bersama sebagai hibah kepada anaknya harus adil, karena harta bersama itu adalah harta warisan seluruh anaknya ketika mereka meninggal dunia.

Harta Bersama

  • Pengertian Harta Bersama
  • Ketentuan Hukum Harta Bersama Dalam Perkawinan
  • Harta Bersama Dalam Hukum Islam

Perceraian

  • Pengertian Perceraian
  • Alasan Perceraian
  • Akibat Perceraian

PEMBAHASAN

Hibah Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah

Hibah Dalam Kompilasi Hukum Islam

Sekurang-kurangnya 1/3 dari harta dihibahkan kepada orang atau lembaga lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi untuk menjadi pemilik c. Jadi, jika harta yang dihibahkan adalah harta bersama, harus ada persetujuan dari suami dan istri. Menurut pasal 210 ayat 2 bahwa: “Harta benda yang dihibahkan harus menjadi hak pemberi hibah”.122 Salah satu syarat pemberi hibah adalah bahwa pemberi hibah adalah pemilik dari apa yang dihibahkan.123 Hal ini menunjukkan bahwa pemberi hibah memiliki pemilik sah benda yang dihibahkan.

121 Ratih, Triyana, “Analisis Hukum Hibah Yang Dihitung Sebagai Warisan Orang Tua Kepada Anak Menurut Hukum Islam Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 10 PK/AG/2006”, http://repositori.usu . ac.id, diunduh pada 3 Februari 2019. Lebih lanjut, terlihat dari pasal 211 KHI bahwa hibah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dapat dianggap sebagai warisan. Apabila anak sebagai ahli waris telah menerima suatu bagian tertentu secara hibah, maka hibah itu diperhitungkan sebagai pembagian harta warisan, sehingga jika ayah atau ibunya meninggal dunia, pembagian harta warisan itu tidak terjadi lagi, karena pengaturan harta itu dalam sesuai dengan wasiat ahli waris, sejak ia masih kecil.

Selain itu, jika pada saat kematian orang tua harta yang dihibahkan masih ada dan ada ahli waris yang masih kekurangan bagiannya atau belum mendapat hibah, maka pembagian harta warisan akan seimbang di antara para ahli waris. Praktek pemberian hibah kepada ahli waris yang diperhitungkan sebagai warisan dapat ditelaah dari contoh kasus yang terjadi di masyarakat, yang ditulis oleh Soerojo Wignjodipoero dalam bukunya “Pengantar dan Asas Hukum Adat”, menjelaskan bahwa, dalam kebiasaan masyarakat Barat Jawa, hibah dapat dihitung sebagai warisan. Kemudian, setelah meninggalnya orang tua yang mewariskannya, harta warisan dibagikan kepada ahli waris.

Hibah Menurut Fiqh

Ketentuan tunjangan orang tua untuk harta bersama akibat perceraian dalam pengertian KHI terdapat dalam pasal 1 ketentuan umum pasal 171. Berkaitan dengan harta bersama yang diserahkan kepada anak sebagai tunjangan, terlebih dahulu harus melalui proses mediasi antara suami istri untuk berunding.161 Dalam bernegosiasi juga harus melalui proses mediasi untuk membicarakan segala akibat yang timbul akibat penyerahan harta bersama sebagai suatu putusan seperti siapa yang menanggung biaya pembuatan akta hibah dan akta pembalikan nama dan honorarium notaris serta berapa tanggungan masing-masing dan hal-hal lain yang dipandang perlu dan perlu untuk dibuat suatu perjanjian.162 Jika para pihak telah mencapai kesepakatan untuk menjual harta bersama mereka menyumbangkan , maka pengadilan harus keputusan hakim dapat memutuskan tentang harta bersama yang akan diberikan kepada anak. Harta yang dimiliki oleh suami istri merupakan harta bersama karena merupakan harta yang diperoleh selama masa perkawinan. 165 Disamping itu tujuan lain dari hukum adalah kemaslahatan, keadilan dan kepastian hukum yang menjadi landasan hakim dalam.

Memberikan harta bersama kepada anak yang sah menurut hukum Islam, karena termasuk dalam pengertian hibah wajib.171 Pasal 171 huruf (g) KHI menyatakan bahwa hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup. Dasar pemikirannya adalah selama para pihak yang bersengketa tidak mengajukan banding atas keputusan hakim untuk menyumbangkan harta bersama, maka para pihak yang menyumbangkan harta bersama dianggap setuju dan bersedia. Penolakan pemberian izin kepemilikan bersama hanya dilihat sebagai proses hukum dengan mengajukan kasasi ke Pengadilan Tinggi.

Dengan demikian, dalam hal harta bersama yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya, maka menjadi milik anak yang menerima pertolongan, tetapi hak-hak anak lain, jika ada, juga harus diperhitungkan dalam pemberian harta bersama. untuk memperhitungkan. Dalam memberikan harta bersama kepada anak, orang tua harus tetap berlaku adil terhadap hak anak lain (bila ada) yang juga merupakan ahli waris atas harta bersama tersebut, agar tidak ada tuntutan hukum yang berkaitan dengan harta tersebut di kemudian hari. Muhammad Isna Wahyudi, Harta Bersama: Antara Representasi dan Tuntutan Keadilan, Kontribusi Calon Hakim Agung RI.

Ketentuan Hibah Orangtua Atas Harta Bersama Akibat

PENUTUP

Saran

Abul A'la al-Maududi, The Principles of Islam, Terjemahan Abdullah Suhaili, Cet.3, Bandung: PT al-Ma'arif, 1985. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Waris, Hukum Agama Pengadilan dan zakat menurut hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafik, 1995 Jimmy Joses Sembiring, Cara Menyelesaikan Sengketa Di Luar Pengadilan, Jakarta. Yahya Harahap, S.H, Kedudukan dan Kewenangan dan Tata Cara Peradilan Agama, Cet 2, Jakarta: PT.Garuda Metropolitan Press, 1993.

Pusat Pembinaan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, Jakarta: Balai Pustaka, 1995. Ramlan Yusuf Rangkuti, Studi Fiqih Kontemporer di Indonesia tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Medan: Pustaka Bangsa Press, 2010 Sayuti Thalib, Hukum Keluarga Indonesia, Cet.V, Jakarta: UI Pres, 1986 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 5, Jakarta: Aksara Pena Pundi, 2011.

Si'ah Khosyi'ah, Wakaf dan Hibah dari Perspektif Ulama Fiqh dan Perkembangannya di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010. Tamakiran S i Abdul Manan, Berbagai Isu Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media Group, 2008. Witanto, Hukum Acara Mediasi Perkara Perdata di Peradilan Umum dan Peradilan Agama, Bandung: Alfabeta, 2011.

Referensi

Dokumen terkait

Hambatan koneksi jaringan yang tidak stabi yang dimaksud yakni ketika mahasiswa melakukan perkuliahan secara online menggunakan media sebagai sarana pembelajaran kerap