REMAJA PACARAN DAN PENOLAKAN ORANG TUA (Studi Kasus: Di Kampung Lubuk Gambir Nagari Kapelgam Koto Berapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan)
ARTIKEL
ATIK AMELIA NPM. 11070096
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2015
ATIK AMELIA (NIM: 11070096). Teens Women Dating And Rejection Parents (Case Study: In The Village of Lubuk Gambir Kapelgam Nagari
Koto Subdistrict Berapak Shaded South Coastal District), Thesis, Department of Sociology Education STKIP PGRI West Sumatera, Padang,
2015).
Atik Amelia1 ,Drs. Yulkardi, M.Si2. Inoki Ulma Tiara, M.Pd3
Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Courtship today is viewed by society as a behavior that is not enviable, for damaging the image of a teenager who is not good. Behavior that violetes norms and values in the society. One behsavior emerge that dating behavior and rejection of parent who did not approve. The aim in this study were 1) to describe the reasons young women about dating, 2) describenthe action of parents who refused (not approved) relationship dating their daughter.
The theory used in this research is the the theory of social action according to max weber.
This research approach is qualitative descriptive type. The teacnique of taking informan study conducted by purposive sampling with 14 informants 7 parents who refuse active adolescent girls who are dating amd 7 adolscent girls who are actively involved. The type of data in this study are primary data and secondary data. Data were collected through interviews, observation and document study with the unit of analysis is the family. Data analysis model used is an interactive model by Miles and Huberman, which consists of four staged: data collection, data reduction, data presentation, and conclusion.
Based on the results of this study indicate that adolescent girls counship and rejection of parents in the study site in terms of 1) reason teen dating are: a) for tun, b) show off to friends, c) namely: a) a widely used to phoned and play outsed with men. b) children demanded by parents to the school. c) 4) the action takrn by parents who refuse their daughter dating that is: there are two kinds of a) the initial act which parents try to advise a child with a good way, and give examples of role models for their teenagers, and attact all facility that supports them to datting such as:
handpone, motors, reducing, the money in his pocket, and gave the job responsibilitas in the home, b) the final act that is where the parents are trying to ban and separates her from her boyfried in a way that is good all the effort has been carried out, and in the end the parents chose magic act or (shaman) by drinking a potion or or flower bath as recommended by the smart people.
Key Words: Teens, Women, Parents
1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2011
2 Pembimbing I Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
3 Pembimbing II Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya.
Hubungan yang berkesinambungan tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi sosial. Pergaulan tersebut menghasilkan pandangan- pandangan mengenai kebaikan dan keburukan. Pandangan-pandangan tersebut merupakan nilai-nilai manusia yang kemudian sangat berpengaruh terhadap cara dan pola berpikirnya. Sikap tersebut merupakan kecenderungan untuk berbuat atau tidak berbuat terhadap manusia, benda atau keadaan. Sikap tertentu akan membentuk perilaku tertentu yang kemudian menjadi pola perilaku tertentu. (Soekanto, 2010: 103).
Manusia berperilaku diatur oleh nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri, agar setiap individu memiliki perilaku yang ideal di tengah kehidupan masyarakat. Perilaku yang ideal adalah perilaku yang tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Perilaku yang merugikan untuk diri sendiri maupun orang lain yaitu berupa kenakalan remaja yang berada di tengah kehidupan masyarakat.
Etika pergaulan tersebut adalah perilaku pacaran muda mudi yang bisa kita saksikan sendiri di tengah masyarakat kita.
Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang di terima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulus eksternal maupun stimulus internal. Namun sebagian terbesar dari perilaku organisme itu sebagian respon terhadap stimulus eksternal. Perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri. di samping itu perilaku juga berpengaruh pada lingkungan dapat mempengaruhi individu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:16).
Etika yang merusak yaitu perilaku yang timbul dari tutur kata, tingkah laku yang tidak baik. Etika yang merusak menghasilkan pekerjaan buruk dan tingkah laku yang tidak baik. Etika buruk merupakan sifat sifat yang tercela, dilarang oleh Adat istiadat yang berlaku dan Agama dalam kehidupan sehari-hari (Abdullah, 2006: 93 dan 157-158). Etika pergaulan tersebut adalah perilaku pacaran muda mudi yang
bisa kita saksikan sendiri di tengah masyarakat kita. Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah jalinan cinta antara seseorang remaja atau pemuda dengan lawan jenisnya.
Bentuk dari pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar telepon, menjemput antar pulang sekolah, atau menemani pergi ke suatu tempat, makan bersama, berkunjung ke rumah wanita hingga melakukan layaknya pasangan suami istri. Melihat kondisi demikian dibutuhkan kontrol dari pihak kedua orang tua anak mereka. Untuk membentuk perilaku yang baik agar anaknya tidak menyimpang dari perilaku yang tak diinginkan oleh orang tuanya, maka orang tua dapat melakukan berbagai macam tindakan, misalnya saja menarik semua fasilitas yang mereka miliki mulai dari handphone, motor, dan menjauhkan dari teman-temannya yang memberikan dampak negatif dan memberikan perhatian lebih agar anak-anaknya tidak keluyuran pada malam hari atau bersenang-senang di luar pengawasan orang tuanya (Abdullah, 2006:
93).
Dari data yang didapat terlihat bahwa saat ini sudah banyak kasus anak perempuan yang melakukan tindakan kenakalan remaja. Karena sudah semakin banyak kasus yang terjadi pada anak remaja perempuan, khusunya mereka yang masih berusia belia, hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada diri orang tua. Karena mereka tidak bisa sepenuhnya mengawasi dan mengontrol tingkah laku anak gadisnya ketika di luar rumah. Apalagi anak-anak yang masih dalam masa puberitas yang masih ingin mencari jati diri mereka masing- masing, ditambah kehadiran teknologi yang semakin maju saat sekarang, si anak tidak hanya cukup dengan pengaruh dari pergaulan tapi dari teknologi, anak remaja sekarang sibuk dengan gadgetnya sendiri.
Karena hal ini semakin maraknya pergaulan bebas, mulai timbul kecemasan orang tua terhadap anak-anak mereka. tibul kecemasan terhadap pergaulan anaknya, khawatir dengan masa depan anak-anaknya.
Sehingga timbul tindakan dari orang tua terhadap anaknya. Seperti mengambil fasilitas seperti handphone, kemudian melarang anaknya untuk pergi main terlalu lama. Hal ini dilakukan untuk menutupi aib
keluarga, gunjingan dari masyarakat sekitar.
Karena berbagai upaya sudah dilakukan dan masalah tersebut tidak kunjung bisa terselesaikan hingga berujung pada tindakan orang tua yang menggunakan cara magic.
Cara magic ini adalah dengan menggunakan ramuan, yang dimasukkan ke dalam minuman, air untuk mandi dan masih banyak lagi. Ramuan ini bertujuan untuk membuat patuh anak mereka.
Hal ini harusnya menjadi perhatian kita semua sebagai orang orang di sekitar mereka terutama pastinya bagi orang tua dan keluarga terdekat, tidak terkecuali pemerintah serta para guru untuk mencari solusi serta membatasi ruang gerak bagi mereka melakukan hal-hal seperti itu.
Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk penelitian tentang “Remaja pacaran Dan Penolakan Orang Tua studi kasus kampung lubuk gambir Di Nagari kapelgam koto berapak kecamatan bayang kabupaten pesisir selatan.
Terkait dengan penelitian ini teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindakan sosial Max weber dalam pokok pembahasan sosiologi yang disebut sebagai tindakan sosial (social action).
Menurutnya sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial.
Rasiolanalitas merupakan konsep dasar yang di gunakan weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial.
Pembedaan pokok yang di berikan adalah antara tindakan rasional dan nonrasional. Singkatnya, tindakan rasional (menurut weber) berhubungan dengan pertimbangan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Dalam kedua kategori utama mengenai tindakan rasional dan nonrasional itu, ada dua bagian yang berbeda satu sama lain. (Johnson, 1994:220).
a. Rasional Instrumental
(Zweckrationalitat)
Tingkat rasionalitas yang paling tinggi ini meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar dan berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang di pergunakan untuk mencapaianya. Individu di lihat sebagai memiliki macam-macam tujuan yang diinginkannya, dan atas dasar suatu kriterium menentukan suatu pilihan di antara tujuan-tujuan yang paling bersaingan ini.
Individu itu lalu menilai alat yang mungkin
dapat di pergunakan untuk mencapai tujuan yang di pilih tadi. Hal ini mungkin mencakup pengumpulan informasi, mencatat kemungkinan-kemungkinan, serta hambatan-hambatan yang terdapat dalam lingkungan, dan mencoba untuk meramalkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dari beberapa alternatif tindakan sosial.
Akibatnya suatu pilihan dibuat atas alat yang dipergunakan yang sekiranya mencerminkan pertimbangan individu atas efesiensi dan aktivitasnya. Sesudah tindakan itu dilaksanakan, orang itu dapat menentukan secara objektif sesuatu yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai.
b. Rasionalitas Yang Berorientasi Nilai (Wertrationalitat)
Dibandingkan dengan rasionalitas instrumentar, sifat rasioanalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah alat- alat hanya merupakan objek pertimbangan yang perhitingan yang sadar, tujuan- tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya.
Nilai-nilai akhir bersifat non rasional dalam hal dimana seseorang tidak dapat memperhitungan secara objektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus dipilih.
Lebih lagi, komitmen terhadap nilai-nilai adalah ini sedemikian sehingga pertimbangan-pertimbangan rasioanal mengenai kegunaan ( utility ), efesiensi, dan sebagainya tidak relevan.Juga orang tidak memperhitungkannya (kalau nilai-nilai itu benar-benar bersiafat absolut).
Dibandingkan dengan nilai-nilai alternatif.
Individu mempertimbangkan alat untuk mencapai nilai-nilai seperti itu, tetapi nilai- nilai itu sendiri sudah ada. Tindakan religius mungkin merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai ini. Orang yang beragama mungkin menilai subjektif mengenai kehadiran Allah bersamanya atau perasaan damai dalam hati atau dengan manusia seluruhnay suatu nilai akhir dimana dalam perbandingan nilai-nilai lain yang menjadi tidak penting.
Nilainya sudah ada, individu memilih alat seperti meditasi, do’a menghadiri upacara di gereja untuk pengalaman yang religius. Apakah nilai itu dicapai secara efektif, tidak dapat
“dibuktikan” secara objektif dengan cara
yang sama seperti kita membuktikan keberhasilan dalam mencapai tujuan dalam tindakan instrumental.
c. Tindakan Tradisional
Tindakan tradisional merupakan tipe tindakan yang bersifat non rasional.
Kalau seorang individu memperlihatkan perilaku karena kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan, perilaku seperti itu di golongkan sebagai tindakan tradisional. Individu akan membenarkan dan menjelaskan tindakan itu, kalau diminta, dengan hanya mengatakan bahwa dia selalu bertindak dengan cara seperti itu atau perilaku seperti itu merupakan suatu kebiasaan baginya (Ritzer, 1992:47).
d. Tipe tindakan yang sadar tindakan emosional.
Seseorang yang sedang mengalami persaaan meluap-meluap seperti cinta, kemarahan, ketakutan dan kegembiraan, dan secara spontan mengungkapkan persaan itu serara refleksi, bearti sedang memperlihatkan tindakan efektif. Tindakan itu benar-benar tidak rasional karena kurangnya pertimbangan logis, ideologi, atau kriteria rasionalitas lainnya. (Johnson, 1986:220-221).
Dari keempat tindakan rasionalitas yang dikemukakan oleh weber tersebut maka masalah penelitian yang sedang peneliti tersebut tergolong kedalam jenis tindakan rasionalitas instrumental. Karena tindakan yang dilakukan oleh para orang tua yang tidak menyetujui anak perempuannya berhubungan dengan laki-laki yang menjadi pilihan anak perempuannya tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan yang bermaksud untuk memahami tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Data yang diperoleh dalam berbentuk kata-kata (Moleong, 2010:6).
Tipe dari penelitian ini adalah deskriptif yaitu tipe penelitian yang memadu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam sesuai dengan tujuan mencari informasi dan menyelesaikan karya ilmiah (Sugiyono, 2009: 289). Dengan menggunakan tipe penelitian ini dengan
memiliki tujuan untuk mendeskripsikan proses remaja pacaran dan penolakannya itu terbentuk dan terbiasa dan sudah di anggap lazim dikalangan masyarakat.
Pemilihan informan adalah secara purposive sampling, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relavan dengan masalah tertentu (Bungin, 2011:107). Informan dalam penelitian ini adalah orang yang akan memberikan informasi tentang situasi dan kondisi yang akan diteliti (Moleong,2010:132). Kriteria informan yaitu remaja perempuan terlibat aktif berpacaran atau remaja setiap hari berpacaran, disekolah, bepergian dengan laki-laki dan orang tua pelaku yang tidak menyetujui anaknya berpacaran.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan Penelitian yang akan peneliti lakukan menggunakan teknik observasi dan wawancara.
a. Observasi adalah kegiatan pengumpulan data dengan mengenai panca indera ( mata dan telinga) sebagai alat bantu.sumber dalam pelaksanaan observasi ini, selalu berupaya mengkaitkan antara apa yang dilihat dan apa yang didengar dan proses kegiatan ini lebih ditekankan pada pengamatan secara langsung tempat yang akan digunakan peneliti.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi dengan cara melihat, mengamati remaja pacaran di kampung Lubuk Gambir yang mana anak remaja kampung tersebut pada umumnya melakukan hubungan pacaran dimalam hari.
Kegiatan yang dilakukan oleh informan pada saat penelitian.
Kegiatan mengamati tempat dilakukan dengan cara mengamati bagimana bentuk dan tindakan orang tua yang tidak menyetujui anaknya berpacaran.
b. Wawancara dilakukan ada yang dirumah informan dan luar ruangan adalah bentuk komunikasi antara dua orang yang akan melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari orang lain dengan menagajukan pertanyaa-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu.
(Burgin,2011: 126) dalam akan melakukan penelitian maka penulis menggunakan wawancara secara mendalam (pertanyaan terbuka).
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya bersifat luas dan memberikan kebebasan kepada subjek untuk memberikan banyak informasi secara mendalam (Herdiansyah, 2012:126). Orang yang akan penulis wawancarai adalah anak perempuan yang melakukan hubungan dengan laki-laki atau bisa disebut pacaran, beserta orang tua yang tidak menyetujui anaknya berpacaran Di Nagari Lubuk Gambir Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.
Wawancara mendalam dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data dari informan secara langsung bertatap muka dengan subjek penelitian maupun dengan informan pendukung. Untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti, maka terlebih dahulu dipersiapkan pedoman wawancara yang akan ditanyakan kepada informan, pertanyaan selanjutnya akan dikembangkan berdasarkan jawaban dari informan. Wawancara diakhiri jika data yang dikumpulkan telah mencapai titik jenuh, artinya data yang dikumpulkan tersebut telah menunjukan hasil yang sama dengan informan lainnya maka kegiatan wawancara dihentikan.
Tujuan digunakan metode wawancara mendalam ini adalah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan lebih dalam, serta dapat menjawab rumusan mengenai bagaimana tindakan oarng tua atas ketidaksetujuannya.
Wawancara dilakukan serta informal ditempat tinggal informan yaitu di kampung lubuk gambir yang dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan sebelumnya. Untuk mendapatkan informasi menyangkut tujuan penelitian. Ketika wawancara berlangsung maka diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada informan yang sebelumnya telah dibuat. Jika informasi yang diberikan oleh informan berada diluar lingkup jawaban untuk menjawab tujuan penelitian maka
dilakukan pengarahan kembali pada fokus pertanyaa yang ada dalam pedoman wawancara penelitian.
Pada saat wawancara dilakukan maka informasi dicatat dalam bentuk cacatan ringkas. Sebelum mengahkiri wawancara maka diminta terlebih dahulu nomor ponsel informan. Tujuannya agar dapat menanyakan waktu luang informan sehingga wawancara selanjutnya dapat dilakukan dengan nyaman. Sesampainya dirumah, cacatan lapangan ke dalam buku hasil cacatan lapangan. Penulisan dilakukan secara detail dengan cara mengikat kembalisegal hal yang tidak tercatat pada cacatan ringkas. Setelah menyalin cacatan ringkas yang diperoleh dilapangan kembali dilihat lalu kemudian dibuat cacatan lapangan ke buku hasil cacatan ringkas yang diperoleh dilapangan ke dalam buku cacatan lapangan maka data dapat diolah dengan baik.
PEMBAHASAN.
Pada bab ini peneliti menguraikan data dan hasil penelitian tentang permasalahan yang telah dirumuskan pada bab satu yaitu remaja pacaran dan penolakan orang tua, dalam masalah ini bagaimana remaja berpacaran di kampung Lubuk Gambir tersebut, hasil penelitian ini diperoleh dengan teknik wawancara dan observasi dengasn informan sebagai bentuk dokumentasi langsung dari lapangan dan langsung dianalisis. Analisis itu sendiri terfokus pada bentuk ketidaksetujuan orang tua mereka terhadap pacaran. penelitian ini lebih akurat, peneliti mencari informasi- informasi dengan melakukakn wawancara dengan informan untuk mencari tau langsung informasi tentang berpacaran di Nagari Kapelgam Koto Berapak khusus di Kampung Lubuk Gambir Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan.
Selain itu peneliti juga melakukan konfirmasi-konfirmasi kepada masyarakat setempat untuk mendukung informasi yang di peroleh. Wawancara dan observasi juga di lakukan untuk mengumpulkan dokumen, dan mengolah data hasil penelitian dilaksankan terhitung mulai tanggal 17 juni samapi 23 juli 2015. Adapun tempat pelaksanaannya adalah kampung Lubuk Gambir Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. Untuk tahap anlisis membuat
daftar pertanyaan sebagai pedoman wawancara, pengumpulan data dan anlisis data yang dilakukan sendiri oleh peneliti.
5.1 Definisi Pacaran Bagi Remaja
Pacaran remaja bagian terpenting dalam perjalanan remaja untuk menemukan calon pasangan hidupnya kelak menjadi suami istri. Pacaran ini sebagai sarana mengenal pribadi individu lawan jenis seks atau untuk mengekspresikan rasa sayang terhadap seseorang yang spesial. Melalui pacaran seorang remaja belajar untuk menghubungkan satu sama lain dan
menggali kecocokan dalam
menghubungkan. Pengalaman berpacaran tidak hanya memperlihatkan hubungan sosial tetapi juga perilaku seksual, serta membangun hubungan intim yang berdasarkan kepercayaan, perhatian, dan cinta. Dari penjelasan diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa berpacaran adalah proses mencari teman dekat atau pasangan untuk membangun suatu hubungan kedekatan emosi serta proses pendewasaan kepribadian yang didasari oleh kepercayaan, perhatian,serta cinta. Perilaku seorang remaja dalam berpacaran sangat beragam dan bentuk ekpresi fisik seperti berpengangan tangan, mencium kening, berciuman bibir, mencium leher, saling meraba.
Pacaran merupakan terjadinya proses adaptasi dan saling pengertian serta kesepahaman antara keduanya, namun dalam perjalanannya pacaran sering ternodai oleh perilaku-perilaku yaitu anggapan bahwa cinta adalah seks. Sehingga anggapan ini banyak menyesatkan dan menjerumuskan pelaku pacaran pada perbuatan yang tidak semestinya. berikut ungkapan dari 13 remaja 8 orang remaja yang menjawab dengan pernyataan yang berbeda dan 1 diantara mereka tersebut adalah ungkapan dari salah satu sahabat mereka.
Hasil wawancara tersebut mengungkapkan bahwa remaja tersebut sudah mulai mengenal yang namanya berpacaran dan juga terpengaruh oleh teman-temannya, kesenagan remaja menelfon dan di telfon menghilangkan rasa percaya orang tuanya terhadap remaja tersebut untuk melakukan hal yang tidak di harapkan oleh anaknya tersebut.
Seiring berkembangnya zaman banyak kemajuan teknologi salah satunya media masa yang bisa kita sebut dalam kehidupan sehari-hari yaitu facebook, media ini digunakan kebutuhan para remaja seperti internet, browsing, chat, pacaran sudah dijadikan kebutuhan anak remaja pada zaman sekarang, pacaran tidak hanya pergi main bareng, makan bareng, duduk berduan, tapi ada kala remaja yang melakukan seperti berpengang tangan, ciuman, bermesraan atau bercumbu mesra ditempat-tempat yang telah mereka senangi, dan facebook menjadi ajang tempat pamer-pameran, memperlihatkan pasangan mereka, dan gonta ganti photo yang memakai pakaian yang kurang sopan.
Dari hasil wawancara diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi alasan remaja pacaran yaitu remaja hanya mencari kepuasan tersendiri dan untuk menghilangkan suasana jenuh karena seharian belajar disekolah, dan remaja juga untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut seperti, antar jemput sekolah, pergi main- main, sementara remaja diumur yang masih rentan yang mudah dipengaruhi oleh budaya asing seperti tradisi pacaran, telfon-telfonan, antar jemput sekolah itu semua akan menjadi kekahwatiran semua orang tua. Pacaran remaja bertujuan tidak hanya untuk saling mengenal saja tapi sudah disalah artikan oleh remaja pada jaman sekarang melainkan untuk saling berbagi kasih sayang yang melampui batas yang seharusnya mereka belum mengenal hal tersebut.
5.1.2 Alasan Remaja Pacaran
Dari uraian diatas yang mana remaja sudah mulai mengenal laki-laki untuk berbagi rasa kasih sayang untuk menyenagkan hati mereka, dari hanya mengenal saja dan sampai lah pada titik yang mana remaja dikatakan pacaran. Yang mana remaja sudah mulai ketergantungan satu sama yang lain untuk saling bertemu, member kabar, janjian keluar berduan, saling membutuhkan seperti, menelfon dan ditelfon, dijemput pergi dan pulang sekolah sehingga tidak ada alasan untuk remaja tidak memilih pacaran.
Dari beberapan informan tersebut menjelaskan dengan baik tentang pengetahuan dan alasan mereka memilih untuk berpacaran atau memulai menyukai lawan jenisnya, bisa kita tarik kesimpulan
bahwa mereka mulai terpengaruh dengan budaya berpacaran yang saat ini mulai merusak masa depan muda-mudi sekarang, mereka sama-sama menjelaskan berpacaran memang harus, dan bahkan sudah menjadi ketergantungan kepada sang lai-laki yang dianggap pahlawan menurut mereka sendiri tanpa mereka memikrkan dengan baik dan pikiran jernih mengenai berpacaran tersebut.
Dari kutipan wawancara tersebut dapat kita simpulkan dengan seorang remaja yang sedang duduk di bangku sekolah SMP, remaja tersebut menjelaskan berpacara memeng memberikan sensasi yang berbeda karena mereka sudah memulai hal yang baru dan mencoba apa yang belum pernah mereka coba, dari mulai yang awalnya hanya mencoba-coba saja saat peneliti wawancarai mereka mulai ketagihan dan mulai menyukai hal tersebut. Wawancara tersebut dapat kita simpulkan bagaimana remaja mulai melemah dengan pendidikan karena sudah terpengaruh dengan hal baru yaitu berpacaran.
Kutipan wawancara tersebut merupakan pengakuan dari remaja yang dapat kita simpulkan dengan jelas, yang awalnya menikmati hubungan berpacaran tersebut tanpa berpikir panjang akan masa depanya tersebut, sehingga remja tersebut terjerumus akan pergaulan yang merusak masa depannya, remaja tersebut harus mengorbankan sekolahnya demi pergaulan tersebut, pihak sekolah terpaksa mengeluarkan dari sekolah lantaran tingkah laku yang mereka lakukan, dari kajadian tersebut para orang tua dapat belajar dan baerpikir lebih baik akan terjadi kasus tersebut.
Seperti yang telah peneliti jelaskan dalam bab sebelumnya yang mana peneliti mengambil teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh max weber, yang mana max weber menjelaskan ada 4 tahap yaitu:
rasional instrumental, rasional yang beroriantasi nilai, tindakan rasional, dan tipe tindakan yang sadar dan tindakan emosional yang mana individu melakukan tindakan tersebut dengan sadar dan individu tersebut mulai ada rasa ketertarikan dengan lawan jenis dan mengharapkan kasih sayang dari seorang laki-laki.
Dalam kehidupan sehari-hari pada saat sekarang remaja memang menjadi
trending topik dan menarik perhatian dari semua kalangan masyarat sekitar, yang mana remaja mulai meresahkan masyarakat dengan tingkah laku dan membuat para orang tua semakin cemas akan perkembangan anaknya. Tindakan perilaku tersebut sangat berdampak buruk bagi remaja karena sudah mulai dipenagruhi dengan hal tersebut yang menjadi sasarannya adalah pendidikan yang terabaikan, pergaulan yang akan merusak diri remaja tersebut dan orang tua yang akan malu akan perbuatan yang mereka lakukan, kalau ini sudah terjadi siapa yang harus dipersalahkan dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam maslah ini, itu semua sudah bisa dijawab dengan secara logika yang tak lain adalah keluarga terutama orang tua yang pertama yang akan dipandang buruk oleh masyarakat sekitar karena tidak bisa membimbing anak-anak mereka tumbuh dengan baik. Orang tua semakin cemas akan tingkah laku dan sikap anaknya tersebut kasus perkasus sudah sering terjadi dikalangan masyarakat tersebut kasusnya bermacam ada yang dikeluarkn sekolah, ada yang hamil luar nikah, ada yang nikah diusia muda, dan ada pula yang dijodohkan dari kasus tersebut orang tua seharusnya sudah bisa berfikir baik dan rasional bagaimana dengan pengawasa anak mereka untuk kedepannya, anak tidak bisa dipercaya begitu saja kalau kita tidak begitu ekstra terhadap anak maka kita akan kecolongan untuk sekian kalinya seperti kasus diatas tersebut.
5.2 Alasan Orang Tua Menolak Anak (Perempuan) Berpacaran.
Orang tua merupakan wadah utama dalam pertumbuhan anak, dan orang tua menjadi contoh utama sebelum anak mencoba mencari informasi-informasi diluar tanpa arah dan tujuan, informasi yang didapatkan sering kali terjadi dan didapatkan tanpa bimbingan orang tua akan salah diartikn oleh anak-anak tersebut. Perubahan anak-anak tumbuh dari anak-anak ke remaja bermacam-macam dan menjadi kontroversi para orang tua tersebut. Tingkah laku anak untuk menunjukan kalau mereka sudah cukup umur untuk mengetahui hal yang baru sering ditolak orang tua, karena bentuknya bermacam-macam sehingga membuat orang tua cemas akan pengaruh tersebut, namun anak-anak tidak selalu mengerti dengan
penolakan tersebut. Dari 8 informan yang peneliti temui dan diwawancarai dengan waktu yang berbeda dan 5 orang yang menjawab berbeda dan menjadi pembahasan bagi peneliti.
Penolakan orang tua terhadap kebiasaan berpacaran untuk saat ini memeng sudah ditolak mentah oleh semua orang tua, yang mana pacaran bukan hanya untuk mengenal kasih sayang seperti yang diutarakan remaja pada umumnya yang mana remaja tersebut mulai mengenal lingkungan dengan cara setengah menyadari perubahan dalam dirinya yang mudah saja dipengaruhi oleh budaya tersebut. Penolakan ini sering diperlihatkan oleh orang tua dengan cara melihat anaknya tumbuh kembang dengan baik yang mana ada sebagian remaja menganggap hubungan pacaran sebagai motivasi untuk meningkatnya prestasi atau cara belajar dengan baik sehingga tidak terjadi kebosanan saat disekolah, Namun sebgaian besar remaja ketika dipuncak peberitas lupa akan identitas sebagai pelajar belia yang masih duduk dibangku sekolah dikarenakan terlalu dibuai oleh hasyrat untuk saling bertemu, telfon-telfonan,disekolah selalu berduan sehingga itu semua membuat prestasi menurun, kemauan untuk belajar mulai berkurang, sehingga orang tua menjadi cemas dan menolak anak-anak mereka berpacaran saat masih dibangku sekolah apalagi masih diumur rentan.
Dari hasil wawancara diatas, maka dapat disimpulkan bahwa alasan orang tua menolak anak remaja berpacaran yaitu karena remaja berpacaran disaat bangku pendidikan akan merusak masa pendidikan anak, semua orang tua tidak mengetahui betul apa kegiatan anak mereka, apa yang dilakukan anak diluar sana, orang tua laki-laki berpikiran hanya untuk mencari nafkah tidak untuk mengetahui semua kegiatan atau aktifitas apalagi masalh pacaran, pacaran sering dianggap banyak oleh orang tua hanya akan merusak citra seorang anak perempuan yang mana yang merasakan dampak negatif pacaran tersebut adalah seorang perempuan. Maka dari itulah semua orang tua menolak anak perempuan mereka berpacran.
Penolakan berpacaran sering diperlihatkan para orang tua bahkan inilah yang sering menjadi kontoversi didalam keluarga yang melibatkan ibu dan ayah karena ketika yang tidak diiginkan terjadi orang tua sering kali saling menyalahkan bapak yang dikodratkan mencari nafkah sering menyalahkan ibu karena dengan alasan ibu lah yang berhak sepenuhnya untuk menagrahkan anak untuk lebih lebih baik, karena ayah tidak mempuyai waktu banyak seperti ibu yang hanya menguruh rumah tangga.
Alasan orang tua tersebut bermacam- macam yang mereka ungkapkan dari mulai mereka cemas atau khawatir terhadap hubungan berpacaran anak zaman sekarang dan cemas akan sekolah anak-anaknya terputus ditengah jalan, orang tua hanya menuntut sekolah dengan baik, bertingkah laku seperti yang diharapkan orang tua lainnya, orang tua juga berpikiran jodoh didapatkan dengan sekolah yang baik, dan orang tua juga bisa mencarikan jodoh untuk anaknya yang terbaik menurut mereka tanpa harus berhubungan pacaran diusia yang masih relatif dibawah umur, ini semua mengundang perhatian dikalangan masyarakat khususnya para orang tua yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya, tetapi pernyataan dan dan kekawatiran tersebut sering ditolak mentah para anak-anaknya tersebut.
5.3 Tindakan yang dilakukan orang tua yang menolak anak perempuan mereka berpacaran.
Tindakan Orang Tua
Tindakan awal yang dimaksud disini adalah untuk mengatasi masalah anak remaja tersebut, yang mana orang tua memilih jalan terbaik untuk memecahkan masalah dengan cara tidak melakukan kontroversi yang menegangkan, orang tua mencoba berbicara dari hati ke hati dan tidak mendahulukan egois ataupun emosi tersebut. Orang tua sudah berusaha untuk menesehati dan memberikan contoh- contoh yang baik kepda anaknya tersebut dan menggunakan cara membandingkan dengan kakak-kakaknya tersebut, namun anak- anak mereka dan memberikan panismen sesuai dengan tindakan yang dilakukannya.
5.4.1Tindakan Awal
Tindakan yang dilakukan orang tua bermacam-macam ada sebagian orang tua yang melakukannya berdampak positif dan negative, bentuk positifnya orang tua memberikan fasilitas yang menunjang anaknya untuk belajar dengan baik, seperti memberika handpone yang bagus dan dilengapi fitur-fitur yang canggih dan lengkap, dan memberikan kendaraan untuk memudahkan aktifitas anaknya tersebut, tetapi jalan yang dipilih orang tua tersebut tidak selalu cara jalan yang damai saja namun ketika anak tidak bisa diajari dengan baik-baik atau cara apapun sudah dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk mengubah baik kearah lebih baik.
5.4.1.1 Memberikan Nasehat
Memberikan nasehat atau arahan adalah tujuan dan cara yang baik disetiap tindakan yang dilakukan oleh orang tua, nasehat yang diberikan orang tua adalah untuk membuka dan saling bercerita diantara anak dan orang tua, namun tidak semua anak bisa menerima tindakan seperti yang dilakukan oleh anak.
pemberian nasehatpun bermacam-macam yang dilakukan oleh orang tua ada sebagian orang tua memberikan nasehat didepan banyak orang dimana itu akan membuat anak malu atau merasa unsure kesengajaan umtuk membuat anak tidak bisa menjawab.
Pemberian nasehat yang baik untuk anak adalah cara yang dilakukan oleh orang tua agar anaknya tidal lagi menggulangi kelakuan yang telah mereka perbuat, dan pemberian nasehat tidak selalu ditanggapi dengan baik oleh anak, karena anak merasa sudaj besar dan orang tua tidak boleh ikut campur dengan masalahnya.
Bentuk atau tindakan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah cara orang tua untuk menunjukan kasih sayang dan melindunginya anaknya agar tidak salah memilih jalan dalam hal apapun, tindakan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya menunjukan ketidaksetujuannya bermacam- macam. Tindakan yang dilakukan berawal dari anak karena anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua, mereka lebih membangkang terhadap orang tua dari pada harus menuruti apa kata orang tuanya yang menurut itulah yang terbaik dan cara mereka untuk membingbing dengan baik.
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dimana orang tua sudah berusaha mendidik dengan baik, namun komunikasi antara ana dan orang tua tidak selalu baik, dan cara yang dilakukan oleh orang tua pun tidak selalu ditanggapi oleh ana, pemberian nasehat tidak menjadi cara yang paling ampuh, ana merasa dipermalukan didepan keluarga. Cara tersebut hanya sebagai selingan bagi para anak-anak remaja, anak tidak mau lagi mendengarkan apa yang dibicarakan.
Namun orang tua selalu ingin melanjutkan cara-cara yang terbaik untuk anak-anaknya walaupun selalu ditentang oleh para anak- anaknya.
5.4.1.2 Failitas Ditarik
Fasilitas merupakan kemudahan yang diberikan disetiap orang tua untuk anaknya, fasilitas yang diberikan orang tua terhadap anaknya bermacam seperti pemberian motor, handpone canggih dan dilengakapi fitur-fitur yang canggih dan lengkap sehingga anak terbiasa dengan hal demikian, ketika itu semua diambil dengan tiba-tiba, maka anak akan merasa bingung dan sedikit canggung.
Fasilitas bagi anak adalah hal yang perlu dan wajib bagi anak, apalagi dijaman sekarang para orang tua berlomba-lomba dalam pemenuhan kebutuhan anak, orang tua dituntut untuk memenuhi semua kebutuhan anak. karena anak selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. orang tua berhak memenuhi kebutuhan anaknya selagi itu dengan wajar tidak memaksakan orang tua harus membelikan, dan orang tua berhak membatasi semua keinginan anaknya dengan tujuan agar anak tidak kelewatan batas, dan tahu mana yang boleh dan mana yang tidak agar anak tumbuh dan berkemabang dengan baik.
Dari wawancara diatas dapat disimpulkan yang mana orang tua menggunakan cara-cara yang baik menurut orang tua dan selalu dipandang oleh anak- anaknya, penarikan fasilitas adalah yang paling tepat bagi orang tua karena menganggap anak selalu bergantung kepada fasilitas yang diberikan oleh orang tua seperti handpone canggih, dan motor adalah sebagai alat penunjang untuk pergi keluyuran dan pergi main dengan sang pacar dan teman-temannya.
Bentuk atau tindakan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah cara orang tua untuk menunjukan kasih sayang dan melindunginya anaknya agar tidak salah memilih jalan dalam hal apapun, tindakan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya menunjukan ketidaksetujuannya bermacam- macam. Tindakan yang dilakukan berawal dari anak karena anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua, mereka lebih membangkang terhadap orang tua dari pada harus menuruti apa kata orang tuanya yang menurut itulah yang terbaik dan cara mereka untuk membingbing dengan baik.
5.4.1.3 Di Beri Amanah Tugas Orang tua adalah panutan bagi ana supaya anak bertingkah dengan apa yang kita harapkan, anak dituntut tumbuh dan berkembang dengan baik memberikan pekerjaan atau tidak yaitu semua tergantung orang tua mendidiknya, seorang anak perempuan wajib tahu pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, pakaian, membersihkan rumah, itu semua wajib diketahui oleh anak remaja perempuan.
Namun kini orang tua tidak begitu melibatkan atau mengajak anak untuk ikut bekerja atau mengajarkan anak untuk melakukan hal tersebut. Anak dibiarkan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang manja dan pemalas sehingga orang tua melakukan pekerjaan itu semua sebenarnya anak sudah bisa melakukan pekerjaan itu seperti mencuci pakianya sendiri, dan membersihkan rumah.
Dari wawancara diatas bisa dilihat seberapa kuat usaha orang tua untuk merubah anak-anaknya agar kembali seperti yang diinginkan oleh orang tuanya.
Pemberian nasehat, dan menarik semua fasilitas dan melarang keras anak agar tidak keluyuran tengah malam, dan orang tua hanya menuntut sekolah dengan baik dan belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak selalu mengikuti pergaulan teman-temannya yang akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangan dirinya sendiri.
5.3.2 Tindakan Akhir
Orang tua merupakan wadah utama dalam tumbuh berkembang anak agar menjadi anak yang baik dan menjadi pribadi yang disenangi banyak masyarakat, dan dihargai dalam masyarakat dengan menyandang status pelajar karena tokoh masyarakat akan menghargai anak-anak
yang duduk dibangku pendidikan tersebut.
Orang tuapun telah berupaya untuk mencoba dan berulang-ulang kali untuk menasehati dan memberikan contoh tauladan agar anak mereka tidak mencoreng nama keluarga dikarenakan tindakan yang mereka lakukan tersebut. Didalam tindakan khusus ini orang tua memilih tindakan yang melibatkan orang lain, atau membagi kepercayaan kita terhadap orang lain atau disebut orang pintar (dukun) untuk mengatasi masalah kita tersebut, inilah informan yang peneliti wawancarai sebanyak 11 orang 6 diantaranya yang jawab yang berbeda.
Dari ungkapan orang tua dan disertai anak-anak mereka dan sekaligus teman akrab anak remaja tersebut mengungkapkan anak yang tidak bisa dikontrol dinasehati secara baik-baik lagi.
Hubungan berpacaran yang membuat remaja hilang kontrol dari keluarga atau orang tua khususnya, ini semua mengundang perhatian khusus pada semua kalangan. Bentuk punishman telah mereka terima mulai dari peringatan sekolah, gunjingan masyarakat atas perbuatannya, dijauhi teman-temannya lantaran malas untuk belajar, tidak mau mengikuti program sekolah yang ada disekolahnya.
Dari informan yang peneliti lakukan mulai terhitung dari tanggal 17 juni sampai 23 juli informan telah berusaha menguraikan apa yang semua pertanyaan, informasi yang didapatkan telah peneliti uraikan sebaik-baik mungki. Dan dapat disimpulkan dari penjelasan tersebut bagaimana orang tua cemas akan pergaulan anak-anak mereka, ketika di temui saat melakukan wawancara orang tau mengeluh dan tingkat kecemasannya semakin dalam terhadap perkembangan anaknya.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan dalam pembahasan maka dapat disimpulkan remaja yang berpacaran di kampung lubuk gambir tidak bisa lagi dikontrol dengan cara melemah saja, namun adanya kerja sama dengan orang tua dan tokoh masyarakat seperti ketua pemuda dan warga lingkungan tersebut, perilaku yang mencemarkan nama baik orang tua dan keluarga tersebut sudah menjadi perhatian khusus, orang tua berupaya melakukan tindakan-tindakan yang bisa membawa
anaknya kembali kejalan yang baik, adapun tindakan yang dilakukan para orang tua untuk mengiring anaknya supaya tidak melakukan tindakan tersebut adalah
1) Alasan remaja berpacaran saat peneliti wawancarai remaja menjelaskan dengan jawaban yang mencengangkan dan luar biasa, 2) alasan orang tua menolak anak (perempuan) berpacaran, orang tua menolak anak mereka berhubungan pacaran dengan tujuan yang masuk akal dan logis yang mana semua orang tua menolak anaknya berpacaran dengan alasan anak akan menjadi pribadi yang tidak patuh orang, anak akan lupa akan tanggung jawabnya seperti lupa akan waktu belajar, sekolah dengan baik, suka melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. 3) pengetahuan orang tua terhadap anak perempuan berpacaran. 4) selanjutnya tindakan orang tua menolak anak mereka berpacaran, tindakan yang dilakukan orang tua bermacam-macam tetapi jalan yang ditempuh untuk pilihan terakhir yaitu tindakan yang dilakukan tanpa sepengetahun anak, dengan cara meminta tolong kepada orang yang dipercayai yang bisa kita sebut dukun( orang pintar) mereka melakukan dengan cara memberikan berupa minuman, ramuan yang dibawa untuk mandi.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dikemukakan saran- saran sebagai berikut:
a. Bagi anak-anak remaja masa depan yang akan menjadi tumbuh kembang dengan baik sehingga orang tua tidak cemas dengan pergaulan yang tidak bisa dihindarkan pada zaman sekarang sebaiknya untuk hati-hati dalam memilih teman laki-laki karena tidak semua teman laki-laki yang bisa menjaga diri kita sepenuhnya.
b. Bagi para orang tua bisa lebih memperhatikan anak-anak nya sehingga anak mereka tidak membuat perbuatan yang tidak diinginkan semua para orang tua, orang tua bertindak dengan menggunakan cara-cara yang tidak semua orang tua mau melakukan hal tersebut, tetapi anak tersebut yang tidak merubah perbuatan tersebut sehingga orang tua harus melakukan tindakan yang magic.
c. Bagi pihak sekolah hendaknya dapat menjalin kerja sama dengan orang tua anak dan masyarakat sekitar untuk sama-sama memperlihatkan perilaku- perilaku remaja tersebut. Dan terlihat adanya rasa tanggung jawab bersama dalam membina moral remaja-remaja lainnya.
Berdasarkan hasil pembahasan dalam bab ini telah menjelaskan yang mana antara orang tua dan anak tidak selalu menjadi bahan kontroversi dalam keluarga menyingung masalah pacaran, yang mana hasil menjelaskan anak yang selalu menentang peraturan orang tua dan orang berupaya melakukan upaya dan tindakan agar anak tidak menyimpang dari perbuatan yang tidak diinginkan. Berhubungan dengan tindakan yang dilakukan para orang tua maka orang tua melakukan pra tindakan seperti menarik semua fasilitas yang pernah diberikan orang tua untuk menunjang anaknya agar mendapatkan pendidikan yang baik.
Namun itu semua tidak membantu anak dalam bersikap dan berilaku, dan hasil menunjukan orang tua akhirnya bertindak dan bersifat non rasional seperti dalam teori tindakan sosial yang dikemukan oleh max weber yang mana individu yang bersifat non rasional dalam hal dimana seseorang tidak dapat memperhitungkan secara objektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus dipilih. Dalam teori ini dijelaskan bahwa seseorang melakukan tindakan karena memiliki tujuan dan nilai. Serta untuk mendapatkan tujuan tersebut manusia mempunyai alat. Jadi jika dihubungkan pada hasil dan pembahasan bahwa tindakan orang tua dalam penelitian ini memiliki tujuan dan orang tua memiliki alat untuk mencapain tujuan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Adil Fathi. 2000. Seni bergaul dengan lawan jenis. Kairo Mesir:
Ad-Dar Azhadabiah.
Afrizal. 2005. Metode Penelitian II. Padang:
Jurusan Sosiologi. FISIP UNAND.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Manajemen Penelitian kualitatif. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif (Komonikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya).
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mathew, Milles dan Michael A. Huberman.
1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Moleong, Lexy. 2010. Metodologi penelitian Kualitaif. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Ritzer, George. 2010 .teori sosiologi modern, edisi ke-6. Jakarta:
kencana.
Walgito, Bimo. (2003). Psikologi sosial (suatu pengantar). Yogyakarta:
Andi