Pada tahun 1870, lama pendidikan formal di sekolah-sekolah ELS (Europese Lagere School) yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda umumnya berlangsung selama beberapa tahun, biasanya empat hingga enam tahun tergantung pada program dan kurikulum yang diterapkan. Namun, pendidikan informal yang diterima di pondok pesantren atau surau dapat berlangsung selama beberapa tahun juga, tergantung pada tingkat pengetahuan yang ingin dicapai oleh siswa dan kebijakan lembaga tersebut.
Pendidikan Tradisional: Meliputi sistem pendidikan agama Islam yang dikelola oleh pondok pesantren dan surau, serta pendidikan tradisional adat istiadat yang diajarkan di lingkungan masyarakat.
Pendidikan Kolonial: Belanda mulai mengintroduksi sistem pendidikan formal dengan mendirikan sekolah-sekolah ELS (Europese Lagere School) untuk anak-anak pribumi yang mampu berbahasa Belanda.
Pendidikan Elite: Anak-anak bangsawan atau keturunan bangsawan mungkin mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga atau melalui guru pribadi
Pada tahun 1870, kurikulum di sekolah-sekolah ELS yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda umumnya didasarkan pada pendekatan pendidikan Barat. Kurikulum ini fokus pada pembelajaran bahasa Belanda, agama Kristen, serta pelajaran-pelajaran dasar seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, dan sejarah yang disesuaikan dengan kepentingan kolonial Belanda. Namun, untuk pendidikan di pondok pesantren atau surau, kurikulumnya lebih menekankan pada pembelajaran agama Islam, bahasa Arab, serta adat istiadat dan kearifan lokal.