PENDAHULUAN
Konteks Penelitian
Pernikahan merupakan suatu ikatan jasmani dan rohani antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dipersatukan dalam suatu rumah tangga yang ditandai dengan suatu kontrak. Pendidikan yang setara antara suami dan istri di negara kita tentunya akan memudahkan komunikasi dan mendekatkan keduanya, sehingga dapat tercipta kerjasama yang baik dalam pendidikan anak atau hal lain yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga. Penyelesaian permasalahan dalam rumah tangga dapat dilakukan dengan rasa kesetaraan diantara keduanya, tidak mendahulukan salah satu dari yang lain dan dengan rasa tanggung jawab bersama, sehingga dalam setiap pengambilan keputusan keduanya harus terlibat, karena permasalahan rumah tangga bukanlah suatu masalah. untuk satu sekutu, tetapi tanggung jawab bersama.11 .
Misalnya saja, jika ada pasangan suami istri yang isterinya ijazah sarjana muda dan sang suami ijazah sekolah menengah pertama, maka hal ini dianggap kesenjangan karena pembagian tugas rumah tangga mengharuskan suami mengasuh anak sedangkan isteri bekerja. dan hal ini akan menyebabkan istri semakin kasar terhadap suaminya.
Fokus Penelitian
Namun seperti budaya yang diwariskan secara turun temurun, suku Kurahtakiri merasa jika pendidikan istri lebih tinggi dari suami, maka keluarga mereka tidak akan harmonis.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui revisi hukum Islam bagi pasangan yang pendidikan istri lebih tinggi dibandingkan suami di desa Curahtakir kecamatan Tempurejo kabupaten Jember. Untuk mengetahui pandangan tokoh masyarakat Islam terhadap pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan literatur atau referensi bagi Institut UIN KHAS Jember dan mahasiswa yang ingin mengembangkan kajian mengenai pandangan masyarakat terhadap pendidikan istri yang lebih tinggi dibandingkan suami. Penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pola hubungan suami istri yang istrinya berpendidikan tinggi.
Definisi Istilah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), masyarakat adalah sekelompok orang yang hidup bersama di suatu tempat atau wilayah dengan ikatan atau aturan tertentu.15 Sedangkan Muslim berarti penganut agama Islam. Jadi yang dimaksud dengan masyarakat Islam di sini adalah sekelompok orang yang beragama Islam yang hidup bersama dalam suatu daerah dengan ikatan tertentu. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan diperlukan. keterampilan. diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.16.
Perkembangan suatu masyarakat sangat bergantung pada kondisi pendidikan masyarakatnya dan potensi pendidikan yang ada di wilayah tersebut.
Sistematika Pembahasan
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Metode kualitatif atau penelitian lapangan yang digunakan dalam penelitian ini dimana peneliti terjun langsung ke lokasi Desa Tambakrejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan dengan menggunakan langkah observasi, wawancara dan dokumentasi.18. Persamaan dan perbedaan yang berkaitan dengan penelitian ini akan dimasukkan dalam penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini hanya observasi dan wawancara, sedangkan peneliti menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi.
Penelitian ini hanya berfokus pada pendidikan perempuan/perempuan dalam rumah tangga tanpa melibatkan pendidikan laki-laki.
Kajian Teori
- Masyarakat Muslim
- Hak dan Kewajiban Suami Istri
- Pola Hubungan Yang Baik Antara Suami Istri
- Relasi Suami Istri Dalam Rumah Tangga
Sekufu' adalah keseimbangan atau keharmonisan antara suami dan istri dengan tujuan agar masing-masing calon tidak berkeberatan terhadap perkawinan tersebut. 27. Dalam mengurus rumah tangga, suami dan isteri masing-masing harus menunaikan tanggung jawabnya masing-masing guna mencapai kedamaian dan ketentraman, guna mencapai kebahagiaan seutuhnya dalam berumah tangga.30 Dr. Ali Yusuf As-Subki berpendapat bahwa Islam secara umum memisahkan hak dan kewajiban suami istri dalam 3 arah utama.
35 Syekh Muhammad Bin Umar An-Nawawi, Tercapainya Keharmonisan Suami Istri Diterjemahkan oleh „Uqudulijain, (Surabaya: AMPEL MULIA, 2002), 5. Suami istri cenderung menyikapi segala sesuatunya dengan komunikasi terbuka antara kedua belah pihak dan pihak wanita. juga berhak ikut serta dalam perencanaan kehidupan masa depan. Dari segi penghidupan tidak jauh berbeda dengan model sebelumnya yaitu suami adalah pencari nafkah dan istri mengurus anak dan keluarga, namun yang membedakan disini adalah suami istri akan meluangkan waktu untuk menikmati waktu bersama. .
Dalam mengambil keputusan, suami istri juga memperhatikan kebutuhan bersama, dan disini seorang wanita dapat memperoleh pengakuan dari orang lain atas kemampuannya yang tidak ada hubungannya dengan suaminya. Dalam rumah tangga sudah ada bagian antara hak dan kewajiban suami istri yang masing-masing dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di kemudian hari. Hal ini merupakan bentuk kerjasama antara suami dan istri, serta kepekaan suami dalam memahami kondisi istrinya.
Kasih sayang, hormat-menghormati dan menghargai antara satu sama lain adalah sokongan utama seorang lelaki dan wanita dalam menangani sesuatu masalah tanpa keganasan. Istilah sekufu dalam memilih bakal pasangan hidup di sini berasal daripada perkataan kafa’ah yang bermaksud setaraf atau setaraf.38 Yang dimaksudkan dengan sekufu ialah kedua-dua belah pihak bakal suami isteri mempunyai kedudukan yang sama. dari segi moral, sosial dan ekonomi.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Subjek Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Keabsahan Data
- Tahap-Tahap Penelitian
Bapak Abdul Jalil dan Ibu Sri merupakan pasangan suami istri yang istri mempunyai pendidikan lebih tinggi dari suami. Tinjauan Hukum Islam bagi pasangan yang istrinya mempunyai pendidikan lebih tinggi dari suaminya di desa Curahtakir. Dalam sebuah wawancara dengan pemimpin Hamlet, Mr. Apakah dia tidak setuju jika pendidikan istri lebih tinggi dari pada suami?
Dari wawancara Ibu Sunarmi dikatakan bahwa tidak masalah jika pendidikan perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Hubungan suami istri yang lebih berpendidikan dibandingkan suaminya di desa Curahtakir kecamatan Tempurejo kabupaten Jember. Di antara beberapa pasangan yang istri mempunyai pendidikan lebih tinggi dibandingkan suami di Desa Curahtakir, sebagian besar menggunakan pola kemitraan yang setara dalam mengurus seluruh aspek rumah tangga.
Pandangan Masyarakat Muslim terhadap pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Studi Kasus di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember). Bagaimana keadaan pasangan suami istri yang mempunyai pendidikan lebih tinggi dari suami di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Bagaimana masyarakat Islam memandang pendidikan perempuan lebih unggul dibandingkan laki-laki di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember.
Mengenai kegiatan pasangan suami istri yang istrinya berpendidikan lebih tinggi dari suami di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Dokumentasi terkait pandangan masyarakat muslim terhadap pendidikan perempuan yang lebih tinggi dibandingkan suami di desa Curahtakir kecamatan Tempurejo kabupaten Jember.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA
Gambaran Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember dengan informan utama adalah pasangan suami istri yang istri mempunyai pendidikan lebih tinggi dibandingkan suami. Meskipun pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, namun perempuan harus tetap patuh kepada suaminya dalam kehidupan rumah tangga. Ya, jangan sampai pendidikan istrimu melebihi pendidikan suaminya, jangan sampai suaminya dikalahkan oleh istrinya (in.
Pertama, pada pasangan Mr. Jalil dan Ny. Sri, jika pendidikan istri lebih tinggi dari suami, tidak semua orang menggunakan konsep kesetaraan. Namun hal ini bertolak belakang dengan pandangan masyarakat desa Curahtakir yang berpandangan bahwa jika pendidikan seorang istri lebih tinggi dari suami pasti akan berdampak besar terhadap keharmonisan rumah tangga. Kebanyakan berpendapat bahwa istri yang lebih berpendidikan dibandingkan suaminya akan memperlakukan suaminya semena-mena dan meninggalkannya.
Cara berpikir seperti ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga perkawinan yang perempuan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan laki-laki agak dihindari. Kedua, ada satu orang yang menyetujui dengan syarat, dalam artian tidak mempermasalahkan pendidikan perempuan itu lebih tinggi dari suaminya. Zakinuddin, Hanad Alkahfi: “Tinjauan Hukum Islam tentang Istri Lebih Tinggi dari Suami di Desa Tambakrejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan.”
Penyajian dan Analisis Data
Pembahasan Temuan
Dalam hal ini cukup dibuktikan bahwa keberadaan pasangan suami istri yang pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki tidak serta merta mengurangi rasa hormat perempuan terhadap laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Dari pemaparan di atas terlihat bahwa pandangan masyarakat yang menganggap tidak baik seorang perempuan berpendidikan lebih tinggi dari suaminya dapat dipatahkan oleh anjuran agama dalam memilih pasangan hidup di masa depan. Berkaca dari perbedaan pandangan di masyarakat bahwa pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan suami, tujuh dari dua puluh informan berpendapat bahwa kesetaraan gender harus dilaksanakan.
Dalam hal ini masyarakat beranggapan bahwa pendidikan suami yang lebih tinggi akan menghasilkan pendapatan istri yang lebih tinggi dibandingkan suami, sedangkan kewajiban nafkah ada di tangan suami. Di sisi lain, ada yang berpendapat sedikit berbeda, yaitu Pak Mulyadi, sebagai tokoh masyarakat yang mengamini bahwa pendidikan istri lebih tinggi dari suami dalam kondisi tertentu. Dalam hal ini tingginya pendidikan suami dalam rumah tangga tidak menjadi masalah, dengan syarat istri tidak dapat meninggalkan tanggung jawabnya dalam rumah tangga dan tidak meninggalkan kodratnya yang harus patuh kepada suami sebagai kepala rumah tangga.
Kondisi pasangan suami istri yang mempunyai pendidikan lebih tinggi dibandingkan suami di desa Curahtakir adalah sebagian dari mereka dapat menjalankan rumah tangga dengan dibantu oleh hubungan yang baik antara suami dan istri, yaitu dengan menggunakan pola kemitraan yang setara, dan pada setidaknya ada yang menggunakan pola pemilik properti. Pertama, ada tujuh orang yang setuju atau tidak mempermasalahkan pendidikan perempuan lebih tinggi dari suaminya, karena tidak ada larangan mutlak dalam hukum Islam. Ketiga, 12 orang tidak setuju apakah pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk merasa superior dan berujung pada pelecehan terhadap laki-laki.
Bagi masyarakat, khususnya masyarakat Curahtakir, sudah saatnya terbebas dari paham budaya patriarki yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Dengan ini saya menyatakan bahwa judul skripsi “Pandangan Masyarakat Muslim Terhadap Pendidikan Tinggi Istri Dibanding Suami (Studi Kasus di Desa Curahtakir Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember)” dan seluruh isinya adalah semata-mata hasil karya sendiri dan bukan hasil plagiat.
PENUTUP
Kesimpulan
Hukum Islam menganjurkan agar seseorang mempertimbangkan empat hal dalam memilih calon istri, yaitu kekayaannya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak pendapat yang menunjukkan perlunya pemerataan pendidikan dalam sebuah rumah tangga, agar terhindar dari ketimpangan/kesenjangan antara suami dan istri yang dapat menjadi penyebab berkurangnya keharmonisan dalam rumah tangga.
Saran
- Jumlah Penduduk Berdasarkan Tamatan Sekolah
- Pemetaan Penelitian Terdahulu
- Persentase Mata Pencaharian Penduduk Curahtakir
- Nama Kepala Desa Curahtakir Dari Masa ke Masa
- Relasi Suami Isti Yang Pendidikan Istrinya Lebih Tinggi Dari
- Tipologi Pandangan MasyaratTerhadap Pendidikan Istri Lebih
Pandangan Masyarakat Desa Induk Sapa Terhadap Istri Sebagai Pencari nafkah Ekonomi Keluarga Perspektif Hukum Islam”, Skripsi, IAIN Manado, 2021. Berbagai faktor yang mempengaruhi kontribusi pengambilan keputusan dalam rumah tangga (kasus PNS perempuan menikah di Kabupaten Tabanan.” 7.4, E- “Jurnal Universitas Udayana https://ojs.unud.ac.id/index.php/EEB/article/download. Tinjauan Hukum Pernikahan di Indonesia Terhadap Konsep Kafa’ah dalam Hukum Pernikahan Islam.” Yustita , Jilid 1 No.