PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Penelitian Relevan
Kesetaraan gender harus saling melengkapi dan menghormati.13 Berdasarkan penelitian di atas, penulis mempunyai persamaan yaitu sama-sama meneliti kesetaraan gender, namun yang membedakan adalah subjek penelitiannya berfokus pada perempuan karir dalam upaya mencapai kesetaraan gender. . Penulis mengangkat topik Persepsi masyarakat terhadap kesetaraan gender dalam keluarga. Keadaan ini tidak lepas dari masih adanya budaya patriarki dalam masyarakat yang lebih mengunggulkan anak laki-laki untuk mendapatkan akses dalam segala bidang.15 Berdasarkan penelitian di atas, persamaannya adalah sama-sama mengeksplorasi peran laki-laki dan perempuan, namun perbedaannya terletak pada peran laki-laki dan perempuan. budaya patriarki. di bidang pendidikan, dan peneliti mempelajari persepsi sosial tentang kesetaraan gender dalam keluarga.
Tinjauan Teori
Gender merupakan karakteristik yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Stereotip merupakan salah satu bentuk pelabelan terhadap pihak-pihak yang selalu dirugikan, oleh karena itu kita dapat mengubah persepsi bahwa laki-laki dan perempuan adalah sosok yang dapat menjalankan perannya masing-masing atau menjadi tokoh sentral dalam kehidupan masyarakat guna mencapai keadilan gender. Laki-laki dan perempuan didasarkan pada stereotip yang menggambarkan mereka sebagai pihak yang selalu berjalan beriringan dan saling membutuhkan.
Pandangan ini masuk akal, terutama mengakui adanya segala variasi kegiatan publik antara laki-laki dan perempuan. Pandangan ini merupakan kesadaran kolektif untuk membuktikan dirinya akibat dominasi laki-laki dalam sistem sosial. Laki-laki dan perempuan tidak hanya dipandang sebagai faktor biologis yang melekat pada dirinya dan tidak dapat diubah, namun lebih dipandang secara umum sebagai manusia yang mempunyai status tersendiri.
Menurut Gheaus, laki-laki dan perempuan sebenarnya sama-sama berhak mendapatkan perlakuan yang adil, sehingga orang yang mengalami ketidakadilan karena gender berarti mereka adalah korban ketidakadilan gender. Penempatan laki-laki dan perempuan dalam sosial masyarakat tidak lagi mengacu pada orientasi seksual, namun dikendalikan oleh intensitas dan kemampuan.
Kerangka Konseptual
Dalam struktur sosial terdapat berbagai macam jabatan yang masing-masing mempunyai fungsinya sesuai dengan kedudukannya dalam sistem struktur sosial, oleh karena itu sedapat mungkin dijalankan masing-masing fungsi tersebut. Apabila terjadi penyimpangan atau ketertutupan antar kemampuan. , maka penataan kebutuhan keluarga akan mengalami ketidakseimbangan. Oleh karena itu, keluarga rukun adalah keluarga yang dibangun atas dasar orientasi keadilan dan persamaan antar jenis kelamin dengan terjalinnya perkawinan yang sah, dilengkapi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara sah dan wajar serta dengan iklim kasih sayang antar saudara dan sahabat yang kekinian. Ketika pasangan sudah memahami kebebasan dan komitmennya, maka kedua belah pihak harus melakukan upaya berbeda yang dapat mendorong tercapainya standar memahami keluarga bahagia dan sejahtera.
Kesetaraan gender tercipta ketika laki-laki dan perempuan mempunyai kondisi dan kedudukan yang setara untuk memperoleh kesempatan dan hak berperan dan berpartisipasi. Kesetaraan gender tidak bisa dipahami hanya dengan melihat satu sudut pandang saja, namun harus mempunyai sudut pandang dengan meneliti, melihat dan menganalisis. Untuk mewujudkan kesetaraan gender, kita perlu memahami permasalahan laki-laki dan perempuan sehingga kita dapat melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Keluarga merupakan kesatuan terkecil dalam masyarakat, terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang menjadi anggotanya dan berkumpul dalam satu tempat serta saling bergantung. Berdasarkan pengertian di atas maka secara konseptual apa yang dimaksud dengan judul penelitian ini Persepsi Masyarakat Terhadap Kesetaraan Gender dalam Keluarga di Desa Mattiro Ade.
Kerangka Pikir
Persepsi masyarakat terhadap kesetaraan gender dalam keluarga merupakan penyelidikan bagaimana kesetaraan dipersepsikan dan diwujudkan dalam sebuah keluarga.Untuk memahami hal tersebut maka teori yang digunakan adalah Persepsi, Kesetaraan Gender dan Keluarga. Persepsi adalah segala sesuatu yang ditangkap dari luar diri individu dan akan diolah dengan akal.Kesetaraan gender merupakan persepsi tentang pemahaman pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang mempunyai hak dan kewajiban.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Fokus Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
- Uji Keabsahan Data
- Teknik Analisis Data
Berdasarkan data penduduk Desa Mattiro Ade, penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1.812 jiwa dan perempuan sebanyak 2.028 jiwa berdasarkan jenis kelamin. Penelitian ini berfokus pada keluarga di Desa Mattiro Ade Kecamatan Pinrang mengenai bagaimana mereka memandang kesetaraan gender dalam keluarga. Observasi merupakan suatu metode untuk mengumpulkan data mengenai persepsi warga Desa Mattiro Ade Kecamatan Pinrang mengenai pemahaman kesetaraan gender dalam keluarga.
Masyarakat Desa Mattiro Ade mengatakan, berdasarkan penjelasan peneliti, makna gender adalah masyarakat lebih mengenal pembagian peran. Perempuan bekerja di rumah dan laki-laki bekerja di luar rumah atau bahkan keduanya mempunyai dua peran, gambaran masyarakat Desa Mattiro Ade. Masyarakat Desa Mattiro Ade belum menerapkan nilai-nilai kesetaraan gender dalam rumah tangga, hal ini dapat dilihat dari prinsip mempunyai tanggung jawab.
Berdasarkan uraian penelitian yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan penelitian tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Kesetaraan Gender Dalam Keluarga di Desa Mattiro Ade Kabupaten Pinrang; Wawancara Masyarakat di Desa Mattiro Ade Kabupaten Pinrang 1. Apa yang Anda ketahui tentang gender?
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Persepsi Masyarakat Terhadap Kesetaraan Gender dalam Keluarga di
Namun untuk memahami peran laki-laki dan perempuan, kita bisa melihat analisis gender. Analisis gender merupakan alat untuk melihat sistem dan struktur sosial yang tidak terjebak dalam pemahaman reduksionis yang hanya melihat perempuan sebagai pihak yang dirugikan, namun lebih melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan, laki-laki dan perempuan sebagai aktor yang berperan dalam hal ini. sistem sosial. Kesetaraan gender tercipta ketika laki-laki dan perempuan mempunyai kondisi dan kedudukan yang sama untuk memperoleh kesempatan dan hak, sehingga keduanya dapat berperan dan berpartisipasi.21 Oleh karena itu, analisis ini diharapkan mampu mencapai kesetaraan gender di antara berbagai kebijakan. peran laki-laki dan perempuan, laki-laki dan perempuan untuk kebijakan responsif. Namun pendidikan tersebut tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan sehingga diberikan kesempatan yang sama dalam menguasai teknologi, ekonomi, pasar dan informasi sehingga dapat meningkatkan kedudukannya di masyarakat tanpa harus bergantung pada laki-laki dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. status. wanita.
Secara umum gender dimaknai untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sudut pandang sosial budaya.38 Konsep kesetaraan gender yang diteliti dalam penelitian ini terletak di Desa Mattiro Ade, Kabupaten Pinrang. Pembagian pertama yang merupakan anugerah Tuhan dan tidak dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan disebut dengan pembagian seksual. Sedangkan pembagian peran, sifat dan watak serta tanggung jawab yang dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan inilah yang disebut gender (Khanafi).39.
Kenyataannya kita diciptakan dari jenis kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan yang saling membutuhkan, layaknya keluarga laki-laki dan perempuan yang mempunyai peran berbeda, namun dapat saling melengkapi. Pembagian peran gender antara laki-laki dan perempuan baik untuk keluarga, saya bekerja sebagai polisi dan biasanya pulang pada malam hari bahkan bermalam di kantor. Di saat seperti ini, istri saya mengurus rumah dan anak-anak. Pak Abbas menjelaskan pandangannya mengenai gender yaitu pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, oleh karena itu sangat baik diterapkan dalam keluarga agar dapat saling memahami sehingga seluruh pekerjaan rumah tangga dapat terlaksana dengan baik.
Gambaran tersebut dapat diilustrasikan sebagai perempuan yang mengasuh anak, memasak, mencuci bahkan bekerja sebagai pekerja kantoran atau laki-laki.
Wujud Kesetaraan Gender dalam Keluarga di Desa Mattiro Ade
Tn. Laming menjelaskan, bentuk pembagian peran dalam keluarga adalah pembagian peran berdasarkan budaya yang terdapat dalam masyarakat. Gender adalah pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, sangat baik diterapkan dalam keluarga karena mengatur pembagian kerja, dalam keluarga, saya sebagai ibu rumah tangga mengurus urusan rumah tangga dan tanggung jawab saya yang lain adalah menghadiri acara-acara lingkungan atau acara keluarga seperti pernikahan, hakika atau acara keluarga lainnya selama suami saya bekerja sebagai petani, tukang kebun dan mattassi, saya tidak pernah mencampuri urusan suami saya”58. Persepsi masyarakat terhadap kesetaraan gender dalam keluarga di Desa Mattiro Ade adalah sistem kesetaraan gender dalam keluarga sangat baik karena mengajarkan kita untuk saling bekerjasama dan bertanggung jawab terhadap peran masing-masing.
Mewujudkan kesetaraan gender dalam keluarga di desa Mattiro Ade, maka konsep pembagian peran merupakan konsep yang diterapkan dalam keluarga di desa Mattiro Ade karena mereka mempunyai tanggung jawab masing-masing, laki-laki bertanggung jawab untuk bekerja di urusan publik, seperti mencari nafkah. . memenuhi kebutuhan keluarga dan perempuan bertanggung jawab untuk bekerja. Dengan adanya penelitian ini diharapkan sosialisasi konsep kesetaraan gender dapat dilakukan agar masyarakat memahami konsep kesetaraan gender dalam keluarga. Jerohmi, Arini, “Persepsi Masyarakat Terhadap Kesetaraan Gender Dalam Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Keluarga (Studi Deskriptif Analitik Pada Petani Kopi Di Desa Uning Teritit Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah)” (Skripsi Sarjana; Fakultas Dakwah dan Komunikasi : Bandace , 2021).
34;Dinamika gender dan peran perempuan dalam perekonomian keluarga." AL-MAIYYAH: Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan 8, no. Rahma, Anita, "Harmoni Dalam Keluarga Perempuan Upaya Karir Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender, Jurnal Palastren 8, No. Gender merupakan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, sangat baik diterapkan dalam keluarga karena mengatur tentang pembagian kerja.
Menurut saya istri dan suami mempunyai hak yang sama dalam keluarga c) Bagaimana pembagian peran dalam keluarga?
PENUTUP
Simpulan
Saran
Keluarga yang terdiri dari anak, suami dan istri merupakan suatu kelompok kecil yang diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran penerapan konsep kesetaraan gender agar tidak terjadi kekerasan atau diskriminasi yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga. pasangan, mereka harus saling membantu dan memahami agar menjadi keluarga bahagia. , adil, tenang dan damai. Gusri Wandi, “Rekonstruksi Maskulinitas: Menemukan Peran Laki-Laki dalam Perjuangan Kesetaraan Gender”, Jurnal Ilmiah Kajian Gender 5, no. 34; Gender dalam Perspektif Budaya dan Linguistik.” AL-MAIYYAH: Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan.
Kemitraan Australia - Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Pertukaran Pengetahuan di Indonesia Timur, Perempuan, Masyarakat Patriarkat dan Kesetaraan Gender, (2020). Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Selain menjadi ibu rumah tangga, saya juga menjadi perawat di sebuah puskesmas untuk membantu perekonomian keluarga. Suami saya juga bekerja di tempat yang sama, namun jadwal kerja kami berbeda. Penelitian Anda tentang gender juga bagus karena seseorang di sini memberi tahu saya apa yang dilakukan pria dan wanita. Jika saya tidak tertarik dengan gender laki-laki dan perempuan, maka lanjutkanlah penelitian Anda tentang kesetaraan gender.