Ketik Judul Makalah dengan Huruf Kapital di Setiap Awal Kata dan Dicetak Tebal
(TNR 16pt, Single Line Spacing, 1 pt after Spacing)
Penulis Pertama a,1,*, Penulis Kedua b,2, Penulis Ketiga b,3 (Tanpa Gelar; TNR 11)
a Afiliasi Penulis Pertama, Alamat, Kota dan Kode Pos, Negara (TNR 10pt)
bAfiliasi Penulis Kedua dan Ketiga, Alamat, Kota dan Kode Pos, Negara (TNR 10pt)
1 Email Penulis Pertama*; 2 Email Penulis Kedua; 3 Email Penulis Ketiga (10pt)
* Penulis Penanggungjawab (Corresponding Author)
Abstract (Bold, TNR 10 pt, line spacing 1pt): Type your abstract here. Abstract should be made in a single paragraph with at least 70 and at most 200 words and should be set in Time New Roman with size equal to 10-point. It provides a brief description of research problems, aims, method used, and results.
Keywords (Bold, TNR 10 pt): Keyword_1, Keyword_2, Keyword_3 etc. ( TNR 10 pt, italic, 3 to 5 keywords)
Abstrak (Bold, TNR 10 pt, line spacing 1pt): Ketikkan abstrak Anda di sini. Abstrak harus dibuat dalam satu paragraf yang terdiri dari 70-200 kata dan harus diatur dalam format Time New Roman dengan ukuran 10-point. Abstrak harus memberikan deskripsi singkat tentang masalah penelitian, tujuan, metode yang digunakan, dan hasil.
Kata kunci (Bold, TNR 10 pt): Kata Kunci _1, Kata Kunci _2, Kata Kunci _3 dst. (TNR 10 pt, miring, 3 hingga 5 kata kunci)
A. Pendahuluan (Bold, TNR 12 pt)
Pendahuluan pada jurnal ini berisi tentang ibadah yg pada dasarnya di bagi mnjadi dua bagian yaitu yang pertama ibadah yang bersifat umum (masalah mu'amalah) hukum asalnya adalah "mubah - ibahah" yang pada dasarnya segala sesuatu itu diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya. Dengan kata lain bahwa dalam konteks ini, ibadah adalah segala kebaikan yang dilakukan dan diperbolehkan oleh syara'. Dan yang kedua ibadah yang bersifat khusus, ibadah ini terikat pada prinsip "iitiba'u Rasul" yang dilakukan dengan cara mengikuti teladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dan menurut kaidah fikih dikatakan bahwa dalam ibadah-ibadah khusus pada dasarnya dilarang kecuali ada perintahnya, dan jika tidak dipraktekkan oleh Nabi, maka dianggap sebagai praktik bid'ah yang dilarang.
Ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi umat Islam adalah ilmu astronomi karena ilmu ini berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, antara lain;
shalat, puasa dan haji. Berkaitan dengan ibadah shalat, pada masa Rasulullah SAW, penentuan waktu salat dikaitkan dengan fenomena astronomi pada saat itu (terutama posisi matahari), hal ini dipahami dari penjelasan hadis Abdullah bin Amar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa ketika Malaikat Jibril menemui Nabi Muahmmad SAW dan mengajarkan waktu-waktu shalat, yang
ditentukan berdasarkan pergerakan matahari. Shalat Zuhur dimulai sejak matahari bergerak menjauh dari meridian sampai bayangan sesuatu sama panjang, salat Ashar dimulai ketika bayangan sesuatu sama panjang atau sejak bayangan sesuatu dua kali panjangnya sampai matahari menguning, salat Magrib dimulai ketika terbenamnya matahari hingga hilangnya mega merah, salat Isya mulai dari hilangnya mega merah hingga tengah malam, dan salat Subuh dimulai dari terbitnya fajar selama matahari belum terbit.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkontribusi dalam menentukan waktu shalat. Penentuan awal waktu salat di atas dapat dihitung secara astronomis, tanpa melihat fenomena pergerakan matahari lagi. Akan tetapi, bisa langsung melihat waktu salat berdasarkan hasil hisab. Selain berdasarkan pedoman syar'i, waktu salat yang selama ini menjadi acuan bagi umat Islam Indonesia, juga dikaitkan dengan posisi matahari di kutub langit. Artinya, dalam menentukan waktu salat, posisi matahari telah diperhitungkan, terutama ketinggian, jarak zenith, fenomena fajar shadiq, terbitnya matahari, matahari melintasi meridian, garis matahari terbenam, dan fenomena senja. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan umat Islam dalam menjalankan ibadah salatnya.
Sejauh ini, tidak banyak masalah yang pelik dalam penentuan waktu salat.
Namun, belakangan ini hal tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Islam (Indonesia). Hal ini muncul karena adanya berbagai macam penafsiran terhadap teks-teks hadis terkait waktu salat, yang kemudian dikaitkan dengan fenomena astronomi posisi matahari di awal waktu salat. Salah satu contoh masalah yang dimuat di Majalah Qiblat adalah waktu fajar yang digunakan di Indonesia belum tiba (terlalu cepat 24 menit). Berdasarkan latar belakang di atas, jurnal ini menjelaskan tentang "Penafsiran Waktu Shalat dari Bahasa Al-Quran dan Sunnah ke dalam Kaidah Astronomi".
Setiap paragraf setelah heading dijorokkan/diindentasi1.
Tabel 1. Keterangan Tabel (Capitalize Each Word, TNR 10 pt)
Tahun Hijriyah Masehi
2016 5 Sya’ban 1437 13 Mei 2016
2017 15 Sya’ban 1438 7 Mei 2017
2018 25 Sya’ban 1439 1 Mei 2018
2019 5 Ramadhan 1440 10 Mei 2019
2020 15 Ramadhan 1441 8 Mei 2019
B. Metode (Bold, TNR 12 pt)
1 Times New Roman, 10 pt
Setiap paragraf setelah heading dijorokkan/diindentasi2.
Gambar 1. Keterangan Gambar (Capitalize Each Word, TNR 10 pt)
Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kepustakaan yang bertujuan untuk mengetahui penafsiran waktu salat dari bahasa Al-Quran dan Sunnah ke dalam kaidah astronomi. Penafsiran bahasa Al-Quran dalam penelitian ini diperoleh dari Imam Muslim, Shahìh Muslim Syarah an-Nawawì, Juz II, III (Beirut: Dâr Ihya at-Turats al-'Arabi, 1415/1995).
Sedangkan kaidah astronomi, para peneliti berdasarkan pada Badan Hisab dan Rukyat, Almanak Hisab Rukyat, Kementerian Agama Republik Indonesia.
C. Hasil dan Pembahasan (Bold, TNR 12 pt)
Hasil penelitian dari jurnal ini menyatakan bahwa 1. Sub bagian
Setiap paragraph setelah heading dijorokkan/diindentasi3. 1. Menentukan Awal Waktu Shalat
Hasil penelitian dari jurnal ini menyatakan bahwa Berdasarkan petunjuk al- Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad SAW, dapat dipahami bahwa ketentuan waktu salat berkaitan dengan posisi matahari pada bola langit. Sehingga dalam perspektif ilmiah (astronomi) untuk menentukan awal waktu salat ada beberapa hal penting yang harus dipahami lebih awal, antara lain: posisi matahari, terutama tinggi matahari (h), jarak zenith (bu'du as-sumti), Zm = 900-h. Fenomena- fenomena awal waktu fajar (cahaya senja pagi), matahari terbit, matahari melintasi meridian (kulminasi), matahari terbenam (sunset) dan senja akhir (senja sore) terkait dengan jarak zenith matahari.
Petunjuk hadis-hadis Nabi Muhammad SAW tentang waktu salat. Secara umum, ada dua hadis yang menjelaskan waktu salat untuk lima waktu salat wajib.
Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut. Hadis pertama; Rasulullah SAW telah bersabda; "Waktu Duhur adalah apabila matahari telah tergelincir hingga bayangan seseorang sama panjang dengan badannya, yaitu sebelum waktu Ashar.
2 Times New Roman, 10 pt
3 Times New Roman, 10 pt
Merahnya belum hilang, waktu shalat Isya sampai tengah malam. Hadis kedua, waktu salat Subuh dimulai dari terbitnya fajar hingga terbitnya matahari... "
(Diriwayatkan oleh Muslim).
Hasil pengamatan para astronom dan ahli falak Islam, menyimpulkan bahwa perjalanan semu matahari relatif konstan. Jadi, ketika matahari terbit, terbenam, tergelincir, dan membentuk bayangan dapat diperhitungkan. Dikatakan bahwa perjalanan semu dari matahari, karena perjalanan harian matahari yang terbit dari Timur dan terbenam di Barat, bukanlah gerak matahari yang sebenarnya, tetapi disebabkan oleh perputaran bumi pada porosnya (rotasi) selama sehari semalam.7 Dengan dasar astronomis di atas, maka waktu shalat berkaitan dengan posisi matahari yang dapat dihitung dengan mudah. Berikut ini adalah sebuah kajian astronomis tentang posisi matahari pada awal waktu salat:
a. Waktu Dzuhur
Awal waktu Dzuhur ditentukan sejak seluruh lingkaran matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar dua derajat setelah tengah hari.
Ketika mencapai puncaknya di atas pusat lingkaran matahari berada di meridian.
Ketika matahari bergeser dari meridian, maka titik pusatnya pun ikut bergeser. Demikian juga, jika matahari bergeser dari titik zenith, titik kulminasinya secara otomatis juga bergeser. Dan yang menyebabkan titik kulminasi bergeser adalah lintang tempat dan deklinasi matahari sehingga lintang tempat dianggap sama dengan sama dengan jarak zenith dan pusat matahari ketika berkulminasi setelah dikurangi dengan deklinasi matahari.
Gambar tersebut menunjukkan bahwa ketika matahari tergelincir, atau sesaat setelah seluruh meninggalkan titik kulminasi dalam siklus hariannya, itulah awal waktu Zuhur. Data perataan waktu yang menentukan kapan matahari
"berkulminasi" setiap hari berubah-ubah, namun dari tahun ke tahun relatif sama10
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa secara astronomis waktu Zuhur dimulai Ketika seluruh lingkaran matahari meninggalkan meridian langit hingga bayang-bayangnya sama panjang dengan objek atau lebih panjang dari objek.
Fenomena astronomi seperti ini dapat terjadi, ketika matahari berkulminasi jauh dari Markaz. Selanjutnya, waktu Zuhur adalah dirumuskan dengan 12 - e.
b. Waktu Ashar
Awal waktu salat Ashar dalam astronomi dinyatakan sebagai ketinggian matahari sama dengan jarak zenith pusat matahari pada waktu kulminasi ditambah dengan angka satu.
Merujuk pada hadis, Nabi SAW melaksanakan salat Asar ketika gambar sesuatu sama dengan tingginya atau dua kali dari tingginya. Gambaran
astronomisnya adalah ketika matahari melintasi garis meridian, yang ditancapkan tegak lurus pada bidang datar akan membentuk bayangan yang panjangnya ditentukan oleh ketinggian matahari saat berkulminasi. Semakin tinggi posisi matahari, semakin pendek bayangan tongkat, dan semakin rendah posisi matahari, semakin panjang bayangan tongkat.
Secara astronomis pada saat waktu Asar, bayangan benda yang berdiri tegak lurus pada permukaan bidang datar akan sama dengan tinggi benda tersebut. Jika pada saat kulminasi telah membentuk bayangan, maka ada kemungkinan bayangan tersebut akan lebih tinggi dari bendanya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara astronomis, tinggi tinggi matahari pada awal waktu Asar dihitung dari ufuk sepanjang lingkaran vertikal adalah: cotg ha = tg (zm + 1) atau panjang bayang-bayang waktu Asar = bayang-bayang waktu Zuhur + satu kali bayang-bayang
c. Waktu Magrib
Berdasarkan hadis, waktu Maghrib dimulai sejak terbenamnya matahari (gurùb) hingga hilangnya mega merah (syafaq). Secara astronomis, yang dimaksud dengan terbenam adalah ketika seluruh piringan matahari tidak terlihat oleh pengamat, artinya piringan matahari benar-benar sepenuhnya di bawah cakrawala. Thomas Djamaluddin menyatakan:
"Secara astronomis, matahari terbit atau terbenam didefinisikan ketika jarak zenith adalah z = 90˚50 ' (Almanak Astronomi) atau z = 91˚ jika Anda menyertakan koreksi untuk lebih rendah karena ketinggian pengamat 30 meter dari permukaan tanah. Untuk penentuan waktu salat Maghrib, biasanya ditambahkan 2 menit saat matahari terbenam karena ada larangan salat tepat pada saat matahari terbit, terbenam, atau puncak"14.
Berdasarkan hasil penelitian secara visual dan astronomis, Departemen Agama merumuskan jarak zenith matahari pada saat terbenamnya matahari adalah 90° + (34' + 16' + 10') untuk tempat-tempat di pantai, sehingga posisi matahari pada saat itu memiliki jarak zenith 91° atau -1°. Sementara itu, untuk tempat- tempat lain harus disesuaikan dengan ketinggian tempat dan pengaruhnya terhadap rendahnya ufuk yang biasanya digunakan rumus D' = 1,76 x √ ketinggian tempat. Mengacu pada penjelasan di atas, secara astronomis waktu Maghrib dimulai ketika piringan matahari benar-benar berada di bawah cakrawala (matahari telah terbenam). Posisi matahari pada saat itu memiliki jarak 91º atau 1º di bawah ufuk.
d. Waktu Isya'
Secara astronomis, awal waktu salat Isya' ditandai dengan memudarnya cahaya merah (asy-syafaq al-ahmar) di bagian barat langit, yang merupakan tanda masuknya malam yang gelap. Substansi dari informasi ini dapat dilihat dalam Qur'an surat al-Isra' ayat 78. Dalam ilmu astronomi, peristiwa ini dikenal dengan
istilah senja astronomi (astronomical twilight). Ketinggian matahari pada saat itu adalah 18 ° di bawah cakrawala (horizon), dan jarak zenith matahari adalah 108 ° (90 ° + 18 °), atau h = -18 °.
Dalam astronomi dikenal dengan istilah senja astronomi. Menurut Abdur Rachim, senja dibagi menjadi tiga tingkatan: Pertama; senja cipil, yaitu ketika matahari berada 6° di bawah ufuk. Pada saat itu benda-benda di lapangan terbuka sudah terlihat jelas dan bintang-bintang yang paling terang dapat terlihat. Kedua;
senja laut, yaitu ketika posisi matahari 12° di bawah ufuk, jika kita berada di laut, ufuk hampir tidak terlihat dan semua bintang terang dapat terlihat. Ketiga; senja astronomi, yaitu adalah ketika posisi matahari berada 18 ° di bawah cakrawala, pada saat itu benar-benar gelap gulita di malam hari, yang menandai masuknya waktu Isya16.
Menurut Saadoe'ddin Djambek, masuknya waktu Isya ditandai dengan hilangnya syafaq atau warna merah di langit sebelah barat. Situasi ini terjadi ketika matahari terbenam di sebelah barat. Titik pusat matahari terletak beberapa derajat di bawah cakrawala.
Alasan astronomis pengambilan posisi matahari 18° di bawah ufuk adalah karena pada saat matahari berada pada posisi tersebut, seluruh permukaan bumi menjadi gelap. Karena permukaan bumi yang gelap, benda-benda di lapangan terbuka tidak bisa lagi terlihat dan bintang-bintang di langit mulai tampak.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa awal waktu Isya dimulai ketika matahari berada pada posisi -18°.
e. Waktu Subuh
Awal waktu Subuh dipahami sejak terbitnya fajar hingga saat matahari akan terbit. Shadik fajar dalam astronomi dipahami sebagai awal astronomi senja (fajar astronomi), cahaya ini mulai muncul di ufuk timur sebelum matahari terbit ketika matahari berada pada posisi sekitar 18° di bawah ufuk atau jarak zenith matahari.
Menurut Thomas Djamaluddin: "Fajar shadiq bukanlah fajar dalam pengertian umum, yang secara astronomis yang secara astronomis disebut dengan cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu antar planet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi zodiak (serangkaian rasi bintang yang dilalui matahari). Oleh karena itu, fajar kdzib tampak menjulur ke atas seperti ekor serigala, yang arahnya searah dengan arah ekliptika. Fajar kadzib muncul sebelum fajar menyingsing ketika malam masih gelap. Sementara itu, fajar shaddiq adalah hamburan sinar matahari oleh partikel-partikel di udara yang mengelilingi bumi. Dalam bahasa Alquran, hal ini diibaratkan dengan ungkapan "cahaya bagimu adalah benang putih dari benang hitam", yaitu peralihan dari malam yang gelap (hitam) menuju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam berarti tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih berarti ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya berasal dari
matahari dan penghamburnya adalah udara, cahaya fajar melintasi cakrawala. Ini adalah tanda berakhirnya malam, sebelum matahari terbit. Semakin dekat matahari ke cakrawala, semakin terang fajar akan terlihat.19
Keterangan di atas menunjukkan bahwa secara astronomis, yang dimaksud dengan fajar dan merupakan tanda masuknya waktu Subuh adalah cahaya yang menyebar atau melintas di sepanjang ufuk timur, dan secara horizontal memenuhi langit timur. Fenomena awal waktu Subuh hampir sama dengan fenomena awal waktu Isya'.
Dapat digambarkan bahwa setiap negara memiliki perbedaan dalam menentukan posisi matahari pada awal waktu Subuh. Perbedaan ini disebabkan oleh kondisi geografis masing-masing negara. Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa memiliki ketebalan atmosfer yang lebih yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang jauh dari garis khatulistiwa. Oleh karena itu, Indonesia memiliki menetapkan posisi matahari pada awal waktu Subuh berada pada ketinggian 18º - 20º di bawah ufuk.
C.2. Analisis Posisi Matahari Saat Penentuan Waktu Shalat
Penentuan jadwal salat, data astronomi yang paling penting adalah data posisi matahari pada koordinat ufuk, terutama ketinggian atau zenith jarak. Fenomena yang kita cari dalam kaitannya dengan posisi matahari adalah fajar (senja pagi), terbit, melintasi meridian, terbenam, dan senja.
Dalam Hadis waktu Zuhur dimulai ketika matahari tergelincir. Secara astronomis, yang dimaksud dengan tergelincir adalah yang dimaksud dengan tergelincir adalah waktu setelah matahari mencapai titik kulminasi dalam siklus harian atau saat titik pusat matahari terlepas dari meridian lokal. Dengan demikian, acuan astronomis dalam penentuan awal waktu Zuhur tidak bertentangan dengan hadis.
Mengenai waktu Asar, beberapa hadits menunjukkan dua pilihan untuk awal waktu. Kedua pilihan waktu tersebut adalah: pertama, ketika bayangan suatu benda sama panjang dengan benda panjangnya sama dengan bendanya; kedua, ketika bayangan suatu benda dua kali panjang benda tersebut.
Selanjutnya, untuk waktu Maghrib, antara petunjuk syar'i dan astronomis tidak bertentangan, karena dalam hadits-hadits dijelaskan bahwa waktu Maghrib dimulai sejak terbenamnya matahari. Secara astronomi, yang disebut terbenamnya matahari adalah ketika seluruh piringan matahari seluruh piringan matahari berada di bawah ufuk, yang kemudian dilakukan beberapa koreksi (refraksi, semi diameter, dan rendah ufuk), sehingga waktu salat tidak tepat pada saat matahari terbenam. Waktu Isya dimulai dengan hilangnya syafaq, dan secara astronomi
dikenal sebagai akhir astronomi (Astronomical Twilight), ketika matahari berada 18° di bawah ufuk. Astronomi seperti ini, dapat dijadikan acuan awal waktu Isya.
Berdasarkan hadits, waktu Subuh dimulai pada saat fajar shadaq. Dalam hal ini, para ahli astronomi berbeda pendapat dalam menentukan kriteria posisi matahari di awal waktu Subuh.
Secara global, Alquran telah menetapkan waktu shalat bagi umat Islam, yang kemudian diperjelas kemudian diperjelas melalui hadis Nabi. Waktu salat ditentukan berdasarkan fenomena fenomena posisi matahari. Dengan acuan ini, kemudian dibuatlah rumus-rumus astronomi astronomis, maka dibuatlah rumus- rumus untuk setiap awal waktu salat. Waktu Zuhur dirumuskan dengan 12-e.
Waktu Asar; cotg ha = tg (zm + 1). Waktu Maghrib dimulai ketika matahari berada 1º di bawah horizon. Waktu Isya dimulai ketika matahari berada 18º di bawah ufuk, dan waktu Subuh ketika matahari berada 18º - 20º di bawah ufuk25.
a. Sub-bagian.
Setiap paragraph setelah heading dijorokkan/diindentasi4. D. Kesimpulan (Bold, TNR 12 pt)
Kesimpulan dari dua sub masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
Menurut syara' waktu shalat Dhuhur, adalah ketika posisi matahari tergelincir, sedangkan waktu waktu shalat Ashar, jika bayangan suatu benda sama panjang dengan bendanya. Sedangkan waktu salat Magrib, adalah ketika matahari telah terbenam sampai warna merah yang megah belum hilang atau selama belum hilang atau selama mega merah masih ada. Sedangkan untuk waktu salat Isya, dimulai ketika mega merah telah hilang hingga terbit fajar, dalam riwayat lain hingga tengah malam atau separuh malam, dan tengah malam atau separuh malam, dan untuk waktu shalat Subuh adalah ketika terbit fajar.
Menurut ilmu pengetahuan (astronomi), penentuan awal waktu salat sangat dipengaruhi oleh beberapa hal penting dalam Sistem ordinat, termasuk deklinasi matahari dan penyelarasan waktu. Awal Waktu Zuhur; dirumuskan sejak seluruh lingkaran matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 derajat setelah tengah hari, ketika matahari berada di atas pusat, peredaran matahari di meridian. Awal waktu salat Ashar; dalam astronomi, dinyatakan sebagai ketinggian matahari sama dengan jarak zenith dari pusat matahari pada saat kulminasi ditambah dengan angka satu. Sedangkan waktu salat Magrib; berarti saat matahari terbenam (ghurub), yaitu seluruh piringan matahari tidak terlihat
4 Times New Roman, 10 pt
oleh pengamat. Selanjutnya, awal waktu salat Isya; ditandai dengan memudarnya cahaya merah (asy-syafaq al-ahmar) di bagian barat langit. Sedangkan untuk awal waktu salat Subuh; dipahami sejak terbitnya fajar hingga saat matahari akan terbit.
Dasar hukum penentuan awal waktu shalat terdiri dari 2 macam macam dalil.
Pertama, dalil naqly yang meliputi ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi. Kedua dalil aqly yang terdiri dari kaidah-kaidah fiqhiyyah dan perkembangan ilmu pengetahuan secara umum, khususnya astronomi.
Daftar Pustaka (Bold, TNR 12 pt, Sitasi dan daftar pustaka dibuat menggunakan references manager seperti zotero, mendeley, atu endnote)
1. Buku
Azhari, S. (2007). Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern.
Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
2. Buku Terjemahan
Mernisi F. (1995). Pemberontakan Wanita, terj. Rahman Astuti. Bandung: Mizan.
3. Artikel Jurnal
Hidayat, E. (2019). Sejarah Perkembangan Hisab dan Rukyat. Elfalaky: Jurnal Ilmu Falak, 3, 56–70.
4. Artikel Prosiding Seminar/Konferensi
Kalkan, H., Kiroglu, K., Turk, C., Bolat, M., Kalkan, S., & Aslanturk, A. (2014).
Basic Astronomy Concepts In The Footsteps Of Eratosthenes. Procedia on Fifth World Conference on Educational Sciences, 3731–3739.
5. Artikel Media Massa
Dewi E. A. (2016). Idul Fitri Falls on Wednesday, Government Says. The Jakarta Post, diakses 4 Oktober 2019.
6. Skripsi, Tesis, atau Disertasi
Atiqoh, A. A. (2017). Analisis Implementasi Ilmu Falak dalam Penentuan Waktu- Waktu yang Diharamkan untuk Melaksanakan Shalat. Semarang:
Universitas Islam Negeri Walisongo.
7. Kitab Suci
Qs. Al-Baqarah: 7.
8. Website
https://planetarium.jakarta.go.id/index.php/artikel-astronomi/145-press-release- penentuan-awal-syawal-1440h, diakses 4 Oktober 2019.