• Tidak ada hasil yang ditemukan

Papalia & Olds (2001) Berpendapat bahwa masa Remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Papalia & Olds (2001) Berpendapat bahwa masa Remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

Berdasarkan pengertian beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, dimana anak tidak lagi merasa berada di bawah tingkat orang tua, tetapi berada pada tingkat yang sama. Dimana remaja menganggap dirinya cukup mengetahui tentang kehidupan sehingga tidak terlalu membutuhkan bimbingan dari orang tuanya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja mempunyai beberapa ciri antara lain masa remaja sebagai masa penting, masa remaja sebagai masa peralihan, masa remaja sebagai masa perubahan, masa remaja sebagai masa pencarian jati diri, masa remaja sebagai masa peralihan.

Menurut asal usulnya, pesantren berasal dari kata “santri” yang mempunyai awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti suatu tempat, artinya tempat para santri. Terkadang pesantren juga dianggap sebagai gabungan kata “santri” (orang baik) dengan suku kata “tra” (suka menolong). Dengan demikian, kata pesantren dapat diartikan sebagai tempat pendidikan manusia yang baik (Zarkasy, 1998). Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang banyak mengajarkan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gejala klinis yang ditimbulkan dari penyakit skabies adalah munculnya rasa gatal yang hebat pada malam hari, ruam kulit yang biasanya muncul di sela-sela jari, ketiak, pinggang, kemaluan, sekitar siku dan di permukaan kulit.kyre.

Penularan Skabies

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penularan penyakit skabies terjadi melalui kontak langsung (skin to skin) dan kontak tidak langsung (melalui benda).

PENERIMAAN DIRI

  • Pengertian Penerimaan Diri
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
  • Faktor Yang Dapat Meningkatkan Penerimaan Diri
  • Aspek-aspek Penerimaan Diri
  • Ciri-ciri Penerimaan Diri

Menurut Johada (dalam Ernawati. 2002), penerimaan diri berarti individu telah belajar hidup dengan dirinya sendiri, dalam artian individu dapat menerima kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada dirinya. Berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri adalah kemampuan untuk secara jujur ​​memahami atau menerima keadaan diri sendiri karena keterbatasan atau keterbatasan yang dimilikinya, serta bersikap terbuka dan tidak malu serta ragu untuk mengakui kelemahan dan kelebihan diri sendiri dan untuk diri sendiri. diri sendiri untuk mengakuinya. dari yang lain. Individu yang mengidentifikasi diri sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat mengembangkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan berperilaku baik, yang dapat mengarah pada penerimaan diri dan penilaian diri yang baik.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi penerimaan diri menurut Nurviana (dalam Izzati dan Wahyu. 2012) antara lain: Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi penerimaan diri antara lain pemahaman diri, harapan. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat meningkatkan penerimaan diri antara lain cita-cita realistis, kesuksesan, pemahaman diri, wawasan sosial dan konsep diri yang stabil.

Menurut Jersild (dalam Izzati & Wahyu, 2012) yang juga menyoroti berbagai aspek penerimaan diri sebagai berikut. Individu yang memiliki penerimaan diri berpikir lebih realistis tentang penampilan dirinya dan bagaimana penampilannya di mata orang lain. Individu yang memiliki penerimaan diri melihat kelemahan dan kelebihan dirinya lebih baik dibandingkan individu yang tidak memiliki penerimaan diri.

Individu yang terkadang merasa rendah diri atau disebut dengan inferiority complex merupakan individu yang tidak memiliki sikap penerimaan diri dan akan mengharapkan evaluasi yang realistis terhadap dirinya. Individu yang memiliki penerimaan diri tidak menyukai kritik, namun ia mempunyai kemampuan menerima kritikan bahkan dapat mengambil pelajaran darinya. Individu yang memiliki penerimaan diri adalah individu yang menjaga harapan dan tuntutan dalam dirinya dalam batas-batas kemungkinan, individu ini mungkin memiliki ambisi yang besar, namun mustahil untuk mencapainya meskipun membutuhkan banyak waktu dan tenaga. .

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek penerimaan diri meliputi aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, aspek moral dan keyakinan akan kemampuan seseorang dalam menghadapi kehidupan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri penerimaan diri meliputi harga diri, keyakinan terhadap kemampuan diri.

POLA ASUH

  • Pengertian Pola Asuh
  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua
  • Jenis-Jenis Pola Asuh Orang Tua
  • Aspek – Aspek Pola Asuh

Artinya, orang tua belajar dari metode pengasuhan yang mereka terima dari orang tuanya sendiri. Orang tua yang cenderung sibuk dengan pekerjaannya terkadang kurang memperhatikan kondisi anaknya. Dari berbagai faktor diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua meliputi faktor internal dan faktor eksternal.

Dimana faktor internal merupakan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua berdasarkan pola asuh yang diperoleh sebelumnya. Sedangkan faktor eksternal merupakan model pola asuh orang tua yang dapat dilihat dari tingkat pendidikan orang tua, serta pekerjaan orang tua. Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan terhadap kemampuan anak oleh orang tua, anak diberikan kesempatan untuk tidak selalu bergantung pada orang tua.

Hardy dan Heyes (dalam Suharsono dkk. 2009) mengemukakan empat jenis pola pengasuhan yang dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu. Ditandai dengan aturan orang tua yang kaku dan kebebasan anak yang sangat terbatas. Dari berbagai pola pengasuhan yang disebutkan di atas, pada dasarnya ada tiga pola pengasuhan yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pola asuh otoriter merupakan cara membesarkan anak yang dilakukan oleh orang tua dengan menetapkan aturan dan batasan yang harus dipatuhi oleh anak tanpa mempertimbangkan kondisi anak. Hurlock (1980) menjelaskan penerapan pola asuh otoriter adalah disiplin orang tua otoriter yang merupakan disiplin tradisional. Menurut Baumrind (dalam Santrock, 2003), pola asuh demokratis adalah suatu pola dimana orang tua mendorong remaja untuk bebas, namun tetap memberikan batasan dan mengontrol tindakannya.

Bisa jadi karena orang tua sangat menyayangi anaknya atau orang tua kurang berpengetahuan. Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pola asuh permisif adalah pola asuh yang cenderung memanjakan anak, menuruti segala keinginannya dan memberikan kebebasan tanpa ada batasan atau norma yang harus dipatuhinya.

JENIS KELAMIN

Kontrol orang tua ditandai dengan sikap menerima orang tua terhadap anak tanpa melepaskan nilai-nilai yang menyulitkan anak. Masa dewasa membutuhkan rasa hormat orang tua terhadap keputusan anak-anak, memungkinkan mereka merasakan kebebasan, baik diawasi maupun tidak diawasi. Komunikasi, ditandai dengan adanya hubungan timbal balik yang terbuka antara orang tua dan anak, menanyakan bagaimana pikiran dan perasaan anak.

Oleh karena itu, remaja sendiri merupakan penilai penting terhadap tubuhnya sendiri sebagai stimulus sosial, apakah remaja tersebut dapat menerima dirinya sendiri atau tidak jika memiliki tubuh yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Remaja yang tidak memiliki penerimaan diri yang baik akan cenderung mengalami depresi dan kesulitan berinteraksi dengan lingkungannya. Penerimaan diri pada remaja adalah memahami kondisi diri sendiri, termasuk setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang tanpa menyebabkan hal tersebut.

Sebagaimana dikemukakan Tejo (dalam Wardani, 2013), penerimaan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kepribadian, jenis kelamin, kecerdasan, gaya pengasuhan dan konsep diri. Remaja perempuan yang menderita skabies umumnya memiliki penerimaan diri yang lebih rendah dibandingkan remaja laki-laki. Hal ini disebabkan karena remaja putri terlalu memikirkan perubahan yang terjadi di sekitar tubuhnya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Monks (dalam Oktaviana, 2004), bahwa remaja putri merupakan penilai penting terhadap tubuhnya sendiri sebagai rangsangan sosial.

Berbeda dengan generasi muda yang tidak memikirkan atau peduli dengan perubahan yang terjadi pada tubuhnya karena menganggapnya sebagai masalah kecil. Sebagaimana dikemukakan oleh American Association of University Women (dalam Anastasia, 2003), perempuan cenderung mengadopsi pendapat laki-laki terhadap dirinya atau perempuan lain, dan perempuan cenderung memiliki penerimaan diri yang lebih rendah dan konsep diri yang negatif dibandingkan laki-laki. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2014) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan penerimaan diri pada remaja awal berdasarkan jenis kelamin, dimana tingkat penerimaan diri pada siswa laki-laki berada pada kategori Menerima.

PERBEDAAN PENERIMAAN DIRI DITINJAU DARI POLA ASUH PADA PENDERITA SKABIES DI PONDOK PESANTREN

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Izzati dan Wahyu (2012) yang mengatakan bahwa dua subjek dapat diterima dengan baik sedangkan satu subjek tidak dapat diterima dengan baik. Karena kedua subjek yang menerima dirinya dengan baik memahami dirinya dengan baik dan memiliki harapan bahwa penyakit psoriasisnya dapat disembuhkan, hal ini juga membuat subjek menjadi lebih optimis terhadap masa depannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan diri tersebut adalah gaya pengasuhan orang tua, dan gaya pengasuhan orang tua akan sangat menentukan perkembangan kepribadian, citra diri dan perilaku anak.

Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safa’ah (2009) bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan konsep diri remaja. Apabila pola asuh orang tua diterapkan dengan benar maka akan membantu anak dalam menerapkan konsep dirinya dengan benar. Penerimaan diri individu terhadap lingkungannya didasari oleh pola asuh yang baik yang diterapkan orang tua kepada anaknya.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ernawati (2002) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara pola asuh orang tua terhadap penerimaan diri remaja putri pada masa pubertas, dimana pola asuh demokratis dimiliki. Jenis-jenis model pengasuhan menurut Hurlock (1998) antara lain: Model pengasuhan otoriter, model pengasuhan demokratis, dan model pengasuhan permisif. Dimana remaja yang tumbuh dengan pola asuh otoriter akan cenderung menghasilkan anak yang mandiri, namun dalam hati mereka akan merasa tertekan karena orang tua selalu memberikan aturan yang harus dipatuhi oleh anaknya tanpa memperdulikan pendapatnya atau kontribusi anak.

Sedangkan remaja yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis akan memiliki penerimaan diri yang baik karena anak akan lebih terbuka dan bebas mengemukakan pendapat. Dan remaja yang dibesarkan dengan pola asuh permisif akan cenderung tidak mandiri dan memiliki penerimaan diri yang buruk, serta anak akan menjadi kurang percaya diri karena orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Sebagaimana dikemukakan Berndt (dalam Safa'ah, 2009), anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif akan cenderung kurang mandiri dan selalu membutuhkan perhatian.

KERANGKA KONSEPTUAL

HIPOTESIS PENELITIAN

Referensi

Dokumen terkait

Pola asuh orang tua juga dapat mempengaruhi kemandirian yang dilakukan anak, karena pandangan terhadap pola asuh yang diterimanya dapat membentuk sikap dan