p-ISSN : 00000 | e-ISSN : 0000 Vol. 01 No. 01 (2023) | p. 33 - 41 DOI : 10.32939/amin.v1i1.2858
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 33
Parents' Efforts in Instilling Religious Attitudes for Early Childhood through a Religious Psychology Approach in Kp. Bojong
Ghina Agniya Suhulah1, Nadya Yulianty 2 Prodi Pendidikan Agama Islam
STAI DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta
e-mail [email protected]1, [email protected],2
Received : July 2023 Accepted : August 2023 Published : August 2023
Abstract. Children at an early age are a very valuable part, therefore it is termed the golden age, this period will not be repeated for the second time. This paper discusses how to internalize religious attitudes that we have to give children from an early age (age 0-6 years). Because at this age, we can instill the values of faith (monotheism), values of worship and also moral values. If these values are internalized from an early age, they will become provisions for the growth and development of children in the future. Because these values can form religious attitudes that are in accordance with basic Islamic values. Islamic education is able to produce religious attitudes in children from an early age, if it is internalized in a sustainable manner. Because Islamic education is an education system that demands to train students to have values and personalities that are in accordance with religious demands.
Keywords: Religious attitude, Early Childhood, Psychology of Religion
Abstrak. Anak di usia dini merupakan bagian yang sangat berharga, oleh karena itu diistilahkan dengan masa keemasan, masa ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
Tulisan ini membahas mengenai bagaimana internalisasi sikap keberagamaan yang harus kita berikan sejak anak berusia dini (usia 0-6 tahun). Karena dalam usia ini, kita dapat menanamkan nilai-nilai keimanan (tauhid), nilai ibadah dan juga nilai-nilai akhlak. Nilai- nilai tersebut jika diinternalisasikan sejakanak berusia dini, maka akan menjadi bekal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak kelaknya. Karena nilai-nilai tersebut dapat membentuk sikap keberagamaan yang sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam. Pendidikan Islam mampu melahirkan sikap keberagamaan dalam diri anak sejak usia dini, jika diinternalisasikan secara berkelanjutan. Karena pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang menuntut untuk melatih anak didik agar memiliki nilai dan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan agama.
Kata Kunci: Sikap keberagamaan, Anak Usia Dini, Psikologi Agama
This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 34 PENDAHULUAN
Sikap pada awalnya diartikan sebagai suatu syarat untuk munculnya suatu Tindakan (Jusuf & Raharja, 2019). Selanjutnya Masri dalam Zaim Elmubarok, mengartikan sikap sebagai kesediaan yang diarahkan untuk menilai atau menanggapi sesuatu (Ismail & Fahmi, 2017).
Selanjutnya sikap diartikan sebagai suatu presdiposisi atau kecenderungan yang relative stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau mereduksi dengan cara tertentu terhadap pribadi lain, obyek atau lembaga, atau persoalan tertentu.
Menurut Zakiah Darajat, perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Seorang anak yang pada masa anak itu tidak mendapat didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. (Darajat, 1989)(Yani et al., 2017)
Dari pernyataan Zakiah Darajat tersebut dapat dipahami bahwa perkembangan agama seseorang itu sangat dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dahulu. Seorang anak yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, maka pada masa dewasanya nanti anak tersebut tidak akan merasakan pentingnya agama dalam kehidupanya. Sebaliknya bila seorang anak yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, mendapatkan didikan agama dari orangtuanya karena orangtuanya mengetahui agama, lingkungan sosial dan teman-temanya juga hidup menjalankan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama secara sengaja dirumah, sekolah dan masyarakat, maka anak tersebut pada masa dewasanya nanti akan dengan sendirinya mempunyai kecendrungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama. Ia terbiasa menjalankan ibadah, senantiasa beramal sholeh, dan takut melakukan hal-hal yang dilarang agamanya. Sehingga ia merasakan betapa pentingnya agama dalam kehidupanya dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama. (Darajat, 1989).
Dalam pandangan fungsionalisme, agama (religion atau religi) adalah satu sistem yang kompleks yang terdiri dari kepercayaan, keyakinan, sikap-sikap dan upacara-upacara yang menghubungkan individu dengan satu keberadaan wujud yang bersifat ketuhanan.(YUDI, 2021)
Sikap Keberagamaan, Agama dipeluk dan dihayati oleh manusia, praktek dan penghayatan agama tersebut diistilahkan sebagai keberagamaan (religiusitas).
Keberagamaannya, manusia menemukan dimensi terdalam dirinya yang menyentuh emosi dan jiwa. Oleh karena itu, keberagamaan yang baik akan membawa tiap individu memiliki jiwa yang sehat dan membentuk kepribadian yang kokoh dan seimbang. (Fahmi)
Psikologi agama merupakan cabang ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing- masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan Psikologi. Tegasnya psikologi agama mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam prilaku dan kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia.[ Psikologi agama berbeda dari cabang- cabang psikologi yang lainya, karena dihubungkan dengan dua bidang pengetahuan
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 35 kepada ilmu jiwa (psikologi). Sebagaimana telah diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah-satu cabang dari psikologi, merupakan ilmu terapan.
Pengembangan nilai-nilai keagamaan bagi anak usia dini (AUD) secara umum berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan dalam keseharian. Proses penanaman nilai-nilai keagamaan untuk AUD berisikan dasar keimanan, budi pekerti, serta kepribadian yang terpuji, kebiasaan melakukan ibadah sesuai perkembangan anak.
Nilai-nilai keagamaan akan terus berkembang dan tumbuh seiring perkembangan fisik dan psikis pada anak. Pemahaman keagamaan pada anak akan terus bertambah saat mereka melihat dan ikut terlibat menjalankan kegiatan keagamaan, memperhatikan rutinitas orang tua saat beribadah, menyaksikan keindahan tempat ibadah, serta mengetahui kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di lingkungannya.
Salah satu sikap dasar yang harus dimiliki seorang anak untuk menjadi seorang manusia yang baik dan benar adalah memiliki sikap, moral dan keagamaan yang baik dalam berperilaku sebagai umat Tuhan, anggota keluarga, dan anggota masyarakat. Usia Anak Usia Dini adalah saat yang paling baik bagi orang tua untuk meletakkan dasar- dasar pendidikan moral dan keagamaan. Peran orang tua sangat besar dalam membangun dasar moral dan agama bagi anak-anaknya, karena biasanya anak usia dini cenderung menuruti perintah. Oleh karena itu orang tua harus selalu berupaya dengan berbagai cara agar dapat membimbing anak usia dini agar mempunyai kepribadian yang baik, yang dilandasai dengan nilai moral dan agama. Dengan diberikannya landasan pendidikan moral dan agama kepada anak usia dini, maka seorang anak dapat belajar membedakan perilaku yang baik dan buruk, benar dan salah, serta terbiasa menjalankan ajaran agama sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Mendidik anak usia dini dengan pendidikan moral dan agama yang baik, bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan, oleh karena itu sebagai orang tua juga harus selalu meningkatkan wawasan, pemahaman dan keterampilan terkait pengembangan moral dan agama anak.
(Ananda, 2017)
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap upaya orang tua dalam menanamkan sikap keberagaman pada anak usia dini yang berada di Kp. Bojong. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya orang tua dalam menanamkan nilai keberagamaan pada anak usia dini di kp. Bojong.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif (Sugiyono, 2012). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Data dan informasi yang telah dikumpulkan akan didiskusikan dengan teori yang relevan (Rachmawati, 2007). Selanjutnya dikaji dengan teori-teori yang dirujuk baik melalui sumber pustaka maupun jurnal ilmiah yang mutakhir mengenai upaya orang tua dalam menumbuhkan sikap keberagamaan pada anak usia dini.
Teknis analisis data; data yang diperoleh di lapangan dikumpulkan dan dianalisis melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dan informasi didiskusikan dengan teori yang relevan terutama yang didukung dengan jurnal- jurnal yang mutakhir yang membahas tentang pembelajaran yang menumbuh kembangkan sikap keberagamaan pada anak usia dini.
Setelah data ditemukan, juga akan di analisis dari perspektif Psikologi Agama.
Analisis menggunakan Psikologi Agama terhadap pengasuhan orang tua pada anak
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 36 dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang bagaimana agama memengaruhi cara dan peran orang tua mendidik dan membimbing anak-anak mereka.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keluarga menjadi lingkungan pertama anak dibesarkan, memberikan peranan yang sangat berarti dalam proses bimbingan dan pendidikan karena lingkungan inilah untuk pertama kalinya anak menerima nilai-nilai dan norma-norma agama oleh karenanya keluarga merupakan penanggung jawab terhadap bimbingan sikap keagamaan anak.
Salah satu tanggung jawab terhadap anaknya adalah menanamkan nilai-nilia moral agar anak terhindar dari segala bentuk kehinaan dan kejahatan yang dapat merusak diri pribadi dari orang lain. Seseorang anak memerlukan bimbingan nilai moral kedalam jiwa mereka agar memiliki kebiasaan yang baik dan suci. Hal itu dapat terwujud bila orang tua melakukan bimbingan sikap keagamaan kepada anak.
Bimbingan keagamaan adalah membimbing dan membantu manusia menjadi hamba yang lebih baik dari sebelumnya dan berakhlak mulia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Upaya orang tua dalam menumbuhkan sikap keberagamaan yang ditemukan di lapangan ialah para orang tua selalu memberikan pembelajaran bagi anak usia dini dengan cara mengenalkan Allah Swt. sejak kecil karena dengan kenalnya anak kepada Allah Swt. dari kecil maka sudah pasti dewasa kelak akan mencintai Allah Swt. dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi kebathilan. Kemudian mengenalkan siapa yang menghidupkan tanaman dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi yaitu Allah Swt..
kemudian mengajak anak untuk shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki. Orang tua juga membiasakan anak yang masih usia dini untuk membiasakan mengaji pada sore hari karena dengan adanya aktivitas mengaji ini kalau dilakukan secara rutin maka anak mampu membaca dan mengenal Al-Qur’an dengan baik dan benar, selain itu juga kedekatan antara anak dan orang tua akan lebih dekat serta orang tua mampu memahami karakter dan pola pikir anak secara detail.
Dalam teks ini, observasi utama adalah peran penting keluarga dalam membimbing dan mendidik anak-anak dalam aspek keagamaan. Keluarga adalah lingkungan pertama di mana anak-anak menerima nilai-nilai dan norma-norma agama.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak untuk melindungi mereka dari potensi kehinaan dan kejahatan. Bimbingan keagamaan di rumah memiliki peran kunci dalam membentuk kebiasaan baik dan karakter suci pada anak-anak.
Selain itu, observasi yang di dapat mencakup berbagai cara yang digunakan orang tua dalam memberikan bimbingan keagamaan kepada anak-anak pada usia dini.
Ini termasuk pengenalan awal kepada Allah Swt., mengajak anak untuk shalat berjamaah di masjid, mengajarkan mengaji pada sore hari, dan memberikan contoh perilaku baik. Upaya ini bertujuan untuk mengakaragamakan anak-anak sejak usia dini agar mereka tumbuh menjadi individu yang beragam dan berakhlak mulia. Selain itu, kebiasaan yang baik dan nilai-nilai yang diajarkan sejak dini diharapkan akan membentuk akhlak anak yang lebih baik di masa depan.
Upaya lain juga orang tua selalu melakukan kebiasaan yang baik agar dapat memberi contoh yang baik pula terhadap anaknya dari usia dini seperti halnya memberi pemahaman tentang menghargai orang tua dan taat dalam beragama sehingga tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka akhlak anak yang diberikan bimbingan sewaktu kecil atau pada saat usia dini lebih baik dari pada akhlak anak yang tidak diberikan bimbingan sewaktu kecil.
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 37 kepada anak sangat penting dalam sikap keagamaan anak pada waktu usia dini atau kanak-kanak. Berdasarkan Informan 1 menyatakan:
“Menurut saya, peran orang tua sangat besar dalam membentuk sikap keagamaan anak pada usia dini. Orang tua adalah sosok yang pertama kali dilihat dan ditiru oleh anak-anak, jadi mereka memiliki pengaruh yang kuat dalam memberikan nilai-nilai agama, moral, dan etika kepada anak-anak. Bimbingan orang tua dalam hal ini sangat penting karena akan membantu anak memahami dan menginternalisasi nilai-nilai keagamaan sejak dini.”
Bimbingan orang tua kepada anak amatlah besar peranannya karena tanpa adanya bimbingan akan sulit dibayangkan bagaimana kelak pertumbuhan dan perkembangan intelek seorang anak. Jadi dalam bentuk bagaimanapun situasi keluarga atau orang tua tidak boleh mengabaikan pengasuhan dan bimbingan sehingga diharapkan berhasil dalam pendidikan. Dampak dari ketiadaan bimbingan atau kurangnya perhatian orang tua terhadap anak dalam pembentukan sikap keagamaan anak dapat memberikan efek negatif.
Berdasarkan Wawancara yang diperoleh dari wawancara dengan Informan 2 maka:
“Ketika orang tua tidak memberikan bimbingan atau perhatian yang cukup terhadap anak dalam hal keagamaan, saya melihat beberapa dampak negatif.
Pertama, anak mungkin tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang agama dan nilai-nilai moral yang harus mereka anut. Kedua, mereka mungkin lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan sekitar atau media massa. Ketiga, jika tidak ada bimbingan yang kuat, anak-anak mungkin tidak merasa terhubung dengan agama mereka dan mungkin kehilangan minat dalam menjalankan praktik keagamaan.”
Sementara itu menurut Informan 3 bahwa pentingnya pendidikan agama di rumah sebagai bagian dari bimbingan orang tua terhadap anak-anak.
“Pendidikan agama di rumah sangat penting. Ini adalah cara yang baik untuk memperkenalkan anak-anak dengan ajaran agama mereka dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keyakinan dan nilai-nilai yang mereka anut. Dengan pendidikan agama di rumah, anak-anak dapat belajar tentang doa, etika, dan praktik-praktik agama mereka. Ini juga memberi mereka kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi tentang agama mereka dengan orang tua mereka, yang merupakan lingkungan yang aman dan mendukung.”
Dalam dunia pendidikan orang tua merupakan orang yang pertama memberikan pendidikan kepada anaknya, dan bertanggung jawab untuk memikul tanggung jawab untuk mendidik sebelum anak tersebut duduk di bangku sekolah, orang tua dituntut untuk membentuk sikap keagamaan anak yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, bimbingan agama dan meluruskan perilakunya yang buruk. (Rahayu)
Namun peran orang tua sebagai pendidik pertama haruslah mempunyai landasan keilmuan agama sebagai landasan utama untuk mengajarkan hal-hal yang sudah diatur dalam agama yang nantinya seorang anak tidak hanya akan faham dengan ilmu agama bahkan akan mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 38 Ada beberapa saran atau tips untuk orang tua yang ingin memberikan bimbingan agama yang efektif kepada anak-anak mereka. Menurut Informan 1:
“Pertama, jadilah contoh yang baik. Praktekkan nilai-nilai agama Anda dalam kehidupan sehari-hari sehingga anak-anak dapat melihatnya dalam tindakan Anda. Kedua, berbicaralah dengan anak-anak tentang agama mereka secara terbuka dan mendengarkan pertanyaan mereka dengan seksama. Ketiga, gunakan sumber-sumber pendidikan agama yang sesuai dengan usia anak-anak Anda, seperti cerita-cerita agama yang sesuai untuk anak-anak. Keempat, berdoalah bersama sebagai keluarga untuk memperkuat ikatan keagamaan.”
Faktor pendukung dan penghambat Orang Tua dalam Pembinaan sikap Keagamaan Anak di Kp. Bojong Kecamatan Purwakarta Faktor sangat memberikan pengaruh besar kepada anak karna dengan faktor pendukung dapat meningkatkan anak yang berkualitas sehingga memiliki akhlak yang baik meskipun masih ada faktor penghambat sehingga anak masih susah untuk di bina tetapi bisa di atasi melalui sekolah dan masyarakat.
Faktor Pendukung Orang Tua dalam Pembinaan Sikap Keagaamaan Anak di Kp.
Bojong ialah yang membantu orang tua dalam memberikan bimbingan kepada anak yaitu informan pelengkap seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, TPA, majelis ta‟lim, guru dan remaja masjid.
Faktor Penghambat Orang Tua dalam Pembinaan Sikap Keagamaan Anak di Kp.
Bojong adalah Proses mendidik anak bukanlah proses yang mudah karena banyak sekali hambatan-hambatan yang dihadapi orang tua selama proses mendidik anak.
Analisis psikologi agama terhadap hal di atas selanjutnya dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana faktor-faktor psikologis, khususnya yang terkait dengan keyakinan, sikap, dan perilaku agama, berperan dalam konteks hubungan antara orang tua dan anak dalam pembentukan sikap keagamaan anak-anak pada usia dini. Berikut adalah beberapa aspek psikologi agama yang dapat dianalisis dalam teks tersebut:
1. Keyakinan dan Nilai Agama
Psikologi agama akan menganalisis bagaimana keyakinan agama orang tua memengaruhi cara mereka membimbing anak-anak mereka dalam hal keagamaan. Misalnya dalam hal ini orang tua yang memiliki keyakinan agama yang kuat cenderung lebih aktif dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka.
2. Pengaruh Sosial
Psikologi agama juga akan memeriksa pengaruh sosial dalam konteks ini.
Bagaimana norma sosial dalam komunitas agama tertentu memengaruhi cara orang tua mendidik anak-anak mereka dalam keagamaan. Hal ini mencakup sejumlah faktor, termasuk tekanan sosial dan ekspektasi yang diterapkan oleh masyarakat terhadap orang tua.
3. Peran Emosi dan Motivasi
Psikologi agama akan mencari pemahaman tentang bagaimana emosi, terutama rasa cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak mereka, memotivasi mereka untuk memberikan bimbingan keagamaan.
Misalnya, rasa tanggung jawab orang tua untuk memastikan anak-anak memiliki fondasi agama yang kuat dapat menjadi motivasi kuat.
4. Pengalaman Pribadi dan Transformasi
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 39 orang tua dalam kehidupan keagamaan mereka, termasuk perubahan keyakinan atau pengalaman spiritual, memengaruhi pendekatan mereka dalam mendidik anak-anak. Pengalaman pribadi ini dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi nilai-nilai agama kepada anak-anak.
5. Peran Ritual dan Pendidikan Agama
Psikologi agama juga akan menganalisis peran ritual dan pendidikan agama dalam pembentukan sikap keagamaan anak-anak. Bagaimana ritual agama dan pendidikan agama di rumah menjadi faktor penting dalam memperkenalkan anak-anak pada ajaran agama dan membentuk pemahaman mereka tentang keagamaan.
6. Persepsi terhadap Dampak
Bagaimana orang tua mempersepsikan dampak dari bimbingan agama mereka terhadap anak-anak juga akan dianalisis. Sebagian orang tua mungkin melihat bimbingan agama kepada anak-anak sebagai investasi jangka panjang dalam pembentukan moral dan karakter anak-anak. Mereka memandang pendidikan agama sebagai cara untuk mengajarkan nilai-nilai etika, integritas, dan kebaikan kepada anak-anak. Orang tua yang memiliki pandangan ini cenderung melihat bimbingan agama sebagai suatu yang penting dalam membentuk pondasi moral yang kuat yang akan membantu anak-anak mereka menjadi individu yang bertanggung jawab, empati, dan etis di masa depan.
7. Pengaruh Psikologi Anak
Psikologi agama juga akan mempertimbangkan bagaimana psikologi anak, seperti perkembangan kognitif dan emosional mereka, memengaruhi cara mereka menerima bimbingan agama dari orang tua. Bagaimana anak-anak memproses informasi agama dan bagaimana perasaan mereka terhadapnya akan memainkan peran penting dalam pembentukan sikap keagamaan mereka.
Melalui analisis psikologi agama tersebut kita mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang dinamika kompleks dalam hubungan antara orang tua dan anak dalam konteks keagamaan, serta dampaknya terhadap pembentukan sikap keagamaan anak pada usia dini.
Bahwa agama orang tua memengaruhi cara mereka membimbing anak-anak mereka dalam hal keagamaan. Misalnya, orang tua yang memiliki keyakinan agama yang kuat cenderung lebih aktif dalam memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka. Pengaruh sosial dalam konteks ini adalah bagaimana norma sosial dalam komunitas agama tertentu memengaruhi cara orang tua mendidik anak-anak mereka dalam keagamaan. Norma sosial dalam komunitas agama memiliki peran penting dalam membentuk cara orang tua mendidik anak-anak mereka dalam agama. Norma-norma ini dapat mencakup praktik-praktik keagamaan tertentu, seperti berpartisipasi dalam ritual, mematuhi aturan moral, atau melibatkan anak-anak dalam kegiatan keagamaan.
Orang tua cenderung mematuhi norma-norma ini karena mereka ingin memastikan bahwa anak-anak mereka tumbuh dalam kesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh komunitas agama tersebut.
Pemahaman tentang bagaimana emosi, terutama rasa cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak mereka, memotivasi mereka untuk memberikan bimbingan keagamaan. Misalnya, rasa tanggung jawab orang tua untuk memastikan anak-anak memiliki fondasi agama yang kuat dapat menjadi motivasi kuat.
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 40 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang tua di Kp. Bojong sangat berperan dalam upaya pembentukan sikap keagamaan pada anak-anaknya, ini terbukti berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung kepada orang tua, Para orang tua membimbing pengamalan keagamaan seperti nilai Akidah, nilai ibadah dan nilai akhlak. Meskipun orang tua di Kp. Bojong memiliki banyak hambatan dalam mendidik dan membimbing anaknya namun tetap saja orang tua selalu ingin melihat kebaikan-kebaikan dan keberhasilan pada diri anak-anak mereka.
Pembinaan Sikap keagamaan anak di Kp. Bojong memiliki sikap keagamaannya masih butuh bimbingan, pembiasaan, pengawasan, nasehat dari orang tuanya mengenai ibadah maupun sikap keagamaannya yang lain untuk meluruskan perilakunya yang buruk, Adapun faktor-faktor Faktor pendukung orang tua: Majelis ta’lim, TPA, Remaja masjid, tokoh agama, tokoh masyarakat. Faktor penghambat yang dihadapi para orang tua dalam pembentukan pengamalan keagamaan anak adalah sebagai berikut: Faktor Internal, yaitu hambatan yang berasal dari keluarga itu sendiri seperti, pendidikan orang tua, kesibukan orang tua dan dari anak itu sendiri. Faktor Eksternal, yaitu hambatan yang datangnya dari luar rumah tangga atau keluarga. Adapun faktor ini meliputi: Faktor lingkungan, media massa dan media sosial
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat, dan hidayah-NYA penyusun dapat menyelesaikan jurnal penelitian tentang “Upaya Orang Tua dalam Menanamkan sikap Keberagamaan bagi Anak Usia Dini melalui Pendekatan Psikologi Agama di Kp. Bojong” hingga selesai. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peneliti ingin berterima kasih kepada:
1. Ibu Nadya Yulianty, S.Psi, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Agama, atas bimbingan dan dukungannya.
2. Orang tua, karena atas semangat dan dukungan mereka, peneliti dapat menyelesaikan jurnal penelitian ini.
3. Orang tua anak di Kp. Bojong yang telah sedia memberikan penyusun waktu dan ruang untuk melakukan penelitian ini.
DAFTAR RUJUKAN
Ade , H., & Said, H. (2017). Model & Pendekatan Pembelajaran Inovatif (Teori dan Aplikasi). Bantul: Lintas Nalar, CV.
Ananda, R. (2017). Implementasi Nilai-Nilai Moral dan Agama pada Anak Usia Dini.
Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1.
Darajat, Z. (1989). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Fahmi, I. d. (n.d.). Internalisasi Sikap Keberagamaan sejak Anak Usia Dini.
Helmiati. (2012). Model Pembelajaran. Sleman: Aswaja Pressindo.
Ismail, I., & Fahmi, F. (2017). Internalisasi Sikap Keberagamaan Sejak Anak Usia Dini.
Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(1), 1–20.
Copyright © 2023 | Amin: International Journal Islamic Education & Knowledge Integration Page 41 program studi pendidikan olahraga Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur terhadap permainan tonnis. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, 15(2), 70–79.
Mu'awanah. (2011). STRATEGI PEMBELAJARAN Pedoman Untuk Guru Dan Calon Guru.
Kediri: STAIN KEDIRI PRESS.
Nur, N. W. (2018). Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Medan: Perdana Publishing.
Rahayu, S. (n.d.). PERANAN ORANG TUA DALAM PEMBINAAN SIKAP KEAGAMAAN ANAK .
Rohana, S. (2019, Juni). EFEKTIFITAS METODE DEMONTRASI DALAM PEMBELAJARAN FIQIH. At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Prodi Pendidikan Agama Islam, 11, 1-12.
Wiyono, T. (2018, Oktober). PENGARUH MOTIVASI SISWA DAN KREATIVITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA. Citizenship Jurnal Pancasila dan
Kewarganegaraan, 90-101.
Yani, A., Khaeriyah, E., & Ulfah, M. (2017). lementasi Islamic Parenting dalam
Membentuk Karakter Anak Usia Dini di RA At-Taqwa Kota Cirebon. Awlady: Jurnal Pendidkan Anak, 3(1).
YUDI, G. (2021). UPAYA PENINGKATAN SIKAP KEAGAMAAN BAGI REMAJA ISLAM DI DESA KEBON DAMAR KECAMATAN MATARAM BARU KABUPATEN LAMPUNG TIMUR. UIN RADEN INTAN LAMPUNG.
Zainiyati, H. S. (2010). MODEL DAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF (TEORI DAN PRAKTEK DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM). Surabaya: Putra Media Nusantara Surabaya & IAIN PRESS Sunan Ampel PMN Anggota IKAPI Jatim.