Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT karena penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Sikduk Tingginya Industri Genteng Sokka di Kecamatan Pejagoa Kabupaten Kebumen Tahun. Tujuan penulisan skripsi ini adalah mengungkap perjalanan hidup industri genteng sokka yang telah eksis sejak zaman kolonial hingga mencapai puncak kejayaan dan akhirnya mengalami kemunduran Skripsi yang berjudul “Keruntuhan dan Keterpurukan Industri Genteng Sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen Dengan menggunakan metode sejarah maka penelitian ini mengkaji naik turunnya dan turun menurunnya aktivitas industri genteng Sokka dalam rangka persaingan antar industri sejenis baik dalam satu wilayah yang sama. dan luar kota.
Hal ini untuk mengetahui dinamika industri genteng sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen. Sejak berkembangnya industri ubin Sokka di Kecamatan Pejagoan dipicu oleh tingginya permintaan terhadap ubin Sokka. Skripsi ini berjudul “Pasang dan Arus Industri Genteng Sokka Di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen.
PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Permasalahan
Industri genteng sokka termasuk dalam kategori unit usaha industri mineral bukan logam selain minyak bumi dan batubara. Genteng Sokka merupakan merk dagang genteng berkualitas yang diproduksi di Desa Sokka (Desa Kedawung) yang merupakan jaminan mutu genteng. Hal ini disebabkan pemerintah Hindia Belanda pertama kali mendirikan industri genteng Sokka di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoang, Kabupaten Kebumen.
Pabrik ubin milik AB Sokka hancur dan yang tersisa hanyalah kayu gelondongan yang digunakan untuk membakar ubin milik Sokka. Keberhasilan ubin Sokka AB mendorong pengusaha lain untuk membuat ubin dengan nama Sokka sehingga industri ubin Sokka berkembang di daerah Pejago, karena pada saat itu pemerintah juga merekomendasikan ubin dari Kebumen untuk digunakan di gedung-gedung pemerintah. Jenis plakat Sokka yang saat ini ada di Kecamatan Pejago menunjukkan salah satu cara masyarakat bertahan dalam bidang perekonomian.
Menurut Sri Sulanjari, pengamat manajemen industri Universitas Kristen Satya Wacana Salatig yang pernah meneliti genteng, keunggulan genteng Sokka di wilayah Kebumen adalah menggunakan teknik pengepresan pertama di Jawa Tengah pada tahun 1980-an.15 Pengepresan tersebut metode bisakah kita mendesain model ubin Sokka yang berbeda. Selain itu, lahan berkualitas tinggi yang tersebar seluas 5.162 hektar di Kecamatan Kebumen, Pejagoan, Buayan, Sruweng, Sadang dan Rowokele telah menghidupkan kembali industri ubin Sokka yang terkenal. Akibat banyaknya permasalahan yang dihadapi produsen genteng Sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumnen, sebagian industri genteng Sokka terpuruk pada tahun 2009-2010.
Pengusaha industri genteng sokka yang bertahan hingga saat ini adalah mereka yang mempunyai modal besar untuk proses produksinya. Strategi Adaptasi yang Dilakukan Industri Ubin Sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen dalam Menghadapi Tantangan Zaman.
Ruang Lingkup
Terdapat sekitar 379 unit industri genteng Sokka yang pernah berdiri di sana.21 Kecamatan Pejago merupakan penyumbang industri genteng Sokka terbesar dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Kebumen. Kecamatan Pejago sendiri terdiri dari 13 desa, dan 6 desa diantaranya merupakan sentra produksi genteng Sokka yaitu: Desa Pejagoan, Adhitirto, Kewayuhan, Kedawung, Logede dan Kebulusan. Tujuan ilmiah dari skripsi ini adalah sejarah sosial ekonomi dengan fokus kajian industri yaitu industri genteng Sokka di Kecamatan Pejago.
Tinjauan sosial ekonomi merupakan gambaran mengenai status atau kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat yang ditentukan oleh jenis kegiatan ekonomi, pendidikan dan pendapatan. Ekonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu okios yang berarti keluarga atau rumah tangga dan momos yang berarti peraturan. 21Badan Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Kebumen, 2009 (Kebumen; Badan Pusat Statistik, 2009), hal.
23Firdauzie, Mochammad Fahmy, “Review Drafting Hukum Ekonomi Islam Tentang Garansi Seumur Hidup Produk Tupperware” (disertasi Program Studi Ekonomi Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2004).
Tujuan Penelitian
Tinjauan Pustaka
Ia tidak melihat perubahan yang biasa terjadi pada peristiwa sejarah karena contoh dalam makalah Juli Supriyadi berfokus pada aspek proses distribusi pasca produksi. Dalam artikel Juli Supriyadi, pola distribusi berbeda yang digunakan pengusaha genteng Sokka di Kabupaten Kebumen. Yakni pola persebaran di Kabupaten Kebumen meliputi Produsen-pedagang-pengguna/pembeli, Produsen-distributor-agen, Produsen-pengumpul, gabungan Produsen-pedagang-pedagang/pembeli dan Produsen-distributor-agen, kombinasi produsen-pedagang-konsumen (pengguna/pembeli) dan produsen-pengumpul, serta gabungan antara produsen-distributor atau toko dan produsen-pengumpul.
Tesisnya berjudul “Kebijakan Pembangunan Berbasis Sektor Unggulan, Studi Kasus di Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah”.25 Penelitian ini mengkaji sektor-sektor perekonomian yang berpotensi menjadi sektor unggulan bagi Kabupaten Kebumen. Sekilas penelitian ini lebih fokus pada pemerataan dan proteksi sektor-sektor penghasil PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kabupaten Kebumen, termasuk industri genteng Sokka. 25Abdullah Syahidin, “Studi Kasus Kebijakan Pembangunan Berbasis Sektor Unggulan di Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah” (Disertasi Program Magister IBP Departemen Perencanaan Wilayah IPB, 2005.
Artikel berjudul “Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan Genteng di Kabupaten Kebumen” 26 Penelitian ini mengkaji tentang identifikasi lingkungan internal pada industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen. pekerjaan pengembangan bisnis. Makalah keempat merupakan karya Budi Harjono, “Dampak Tingkat Upah, Jaminan Sosial dan Masa Kerja Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Langsung Pada Perusahaan Genteng HM Sokka di Sruweng Kebumen”. 26Ayie Eva Yuliana, “Strategi Pengembangan Industri Pekerjaan Ubin Skala Kecil di Kabupaten Kebumen” (Skripsi Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang, 2013).
Berbeda dengan literatur yang disebutkan di atas, skripsi ini fokus membahas strategi kemunduran dan kelangsungan hidup pengusaha genteng Sokka di Kecamatan Pejago. Melalui proses dinamis yang terjadi dalam kurun waktu 30 tahun, diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai apa saja yang menjadi kendala dan strategi kelangsungan hidup pengusaha genteng Sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen.
Kerangka Pemikiran
Industri genteng sokka termasuk dalam kategori industri hasil mineral bukan logam dengan jumlah tenaga kerja 5-19 orang. Jadi industri genteng Sokka di Kecamatan Pejago Kabupaten Kebumen termasuk dalam kategori industri kecil. Genteng merupakan atap rumah yang dicap sedemikian rupa sehingga terbuat dari tanah yang dalam pembuatannya melalui proses pembakaran sehingga berwarna kuning kecokelatan dan berfungsi sebagai pelindung dari panas dan panas. hujan. 37 Genteng Sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen merupakan merek dagang yang banyak digunakan oleh para pengusaha industri Genteng di wilayah Kecamatan Pejagoan yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kebumen yang berbatasan dengan Utara Kecamatan Sadang Kecamatan KarangConnect sebelah Timur. Kecamatan Kebumen dan Kecamatan Sadang, sebelah selatan Kecamatan Klirong, dan sebelah barat Kecamatan Sruweng 38 Industri genteng Sokka tersebar di beberapa tempat di Kecamatan Pejagoa yaitu Sokka, Kebulusan, Kedawung, Pejagoan, Logede, Kewayuhan, Aditirto dan Petanah.
37 Candrafani, “Sejarah Asal Usul Nama Genteng Sokka http://www.candrafani.com/2016/05/History-asal-mula-nama-genteng-sokka.html”, (diakses Selasa 14 Maret 2017 pukul 22.47 WIB). Hal serupa juga terjadi pada industri genteng Sokka di Kecamatan Pejagoan. Tingginya permintaan ubin Sokka untuk konstruksi pada masa Orde Baru mendorong banyak masyarakat desa di Kecamatan Pejagoan membuka usaha ubin Sokka.
Hal ini dikarenakan genteng Sokka dari Kebumen banyak digunakan untuk pembangunan gedung-gedung pemerintah dan sekolah pada saat itu.43 Permintaan yang besar tidak hanya datang dari daerah Kebumen saja, melainkan dari berbagai daerah seperti Semarang, Wonosobo,. Pasalnya, pengusaha genteng Sokka kesulitan mencari bahan baku sehingga harus mencari ke luar wilayah kecamatan Pejagoan. Padahal, dalam pembuatan ubin Sokka tidak hanya dibutuhkan bahan baku saja, namun juga bahan penolong.
Hal ini dirasakan oleh para pengusaha pada awal tahun 2000-an.45 Tingginya biaya operasional juga didukung oleh persaingan antar industri genteng dari luar Kabupaten Kebumen, seperti genteng dari Jariwangi, Majalengka dan Surabaya, sehingga memaksa banyak pengusaha genteng Sokka di kecamatan Pejagoan yang tutup. bisnis mereka.Tutup. . Hal ini dibuktikan dengan jumlah unit usaha ubin Sokka yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Metode Penelitian
Sumber primer berupa arsip instansi pemerintah Kabupaten Kebumen berupa surat keputusan atau hal lain seperti laporan tahunan, dan catatan pribadi pemilik usaha berupa buku catatan mengenai jumlah produksi, distribusi dan pembayaran. Sumber yang digunakan peneliti sebagian besar merupakan sumber primer yang berasal dari lembaga pemerintah seperti laporan tahunan. Penggunaan sumber primer dari catatan pribadi juga digunakan, namun pada tingkat yang lebih rendah karena sifat dari bahan arsip itu sendiri.
Sumber tertulis diperoleh dari perpustakaan dan instansi resmi pemerintah antara lain Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro, Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Perpustakaan Daerah Kota Semarang, Depot Arsip Daerah Kebumen dan Perpustakaan Daerah Kebumen. Setelah memperoleh sumber-sumber yang relevan dengan topik penelitian, dilakukan upaya untuk memperoleh keaslian dan kredibilitas sumber-sumber tersebut. Tujuan dari langkah ini adalah menyaring sumber secara kritis untuk memilih fakta yang dianggap dapat dipercaya.
Sebab, sumber-sumber tersebut di atas diakses baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. Secara resmi, lembaga-lembaga tersebut berwenang menyimpan dan mengeluarkan sumber-sumber yang dapat digunakan untuk penulisan sejarah. Sedangkan sumber primernya berupa data pribadi, namun peneliti tidak mengkritik karena memang begitulah, tidak ada perubahan signifikan.
Kritik internal ditujukan untuk memahami isi teks, apakah isi dokumen tersebut dapat diandalkan, tidak dimanipulasi, bias, menyesatkan dan sebagainya. 53 Pada tahap ini semua sumber yang diperoleh harus dibandingkan satu sama lain, sehingga diperoleh fakta yang menjadi . Penetapan fakta juga dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu menyusunnya berdasarkan aspek geografis atau lokalitas dan kelompok masyarakat.58 Pada tahap ini penulis terlebih dahulu membaca semua sumber yang dianggap relevan untuk pembahasan.
Sistematika Pembahasan
Seleksi kemudian dilakukan dengan mengumpulkan cerita-cerita penting, seperti potongan puzzle, untuk disusun menjadi rangkaian cerita yang lengkap dan kronologis. Dalam proses seleksinya, penulis juga menyisihkan bagian-bagian yang dinilai tidak relevan dengan pembahasan. Dengan demikian, langkah terakhir dalam metode sejarah dapat diselesaikan, yaitu menuliskan cerita-cerita yang telah dikumpulkan menjadi sebuah narasi sejarah.
Deskripsi peristiwa melibatkan upaya menjawab pertanyaan tentang apa, siapa, kapan, dan di mana; sedangkan uraian proses bertujuan untuk menjawab pertanyaan; mengapa, bagaimana dan apa yang terjadi 59.