Judul Skripsi: Agama Sebagai Bentuk Solidaritas Seniman Jalanan Malioboro. Dapat diajukan ke program studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana (S1) Sosiologi Agama. Salah satu permasalahan sosial di Indonesia adalah bertambahnya jumlah penduduk, namun hal tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan lapangan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana fungsi agama sebagai wujud solidaritas sosial para seniman jalanan di kawasan Malioboro dan bagaimana pola solidaritas yang ada dalam kelompok tersebut.
Solidaritas mekanis mempunyai kecenderungan dan gagasan yang lebih umum, sedangkan solidaritas organik berasal dari pembagian kerja yang menyertai pembangunan sosial, yang lebih berakar pada perbedaan dibandingkan persamaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan yaitu peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dengan menggunakan metode wawancara dengan CAREHAL selaku kelompok seniman jalanan di kawasan Malioboro. Solidaritas sosial yang terlihat pada kalangan seniman jalanan di kawasan Malioboro ditandai dengan adanya solidaritas mekanis dari agama sebagai salah satu faktor terbentuknya solidaritas sosial. Peneliti menemukan bahwa agama menjadi inspirasi bagi seniman jalanan untuk bekerja dengan baik demi mendapatkan uang.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan dan Kegunaan Penelitian
- Tinjauan pustaka
- Kerangka Teori
- Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
- Sumber data a. Data Primer
- Teknik pengumpulan data a. Teknik Membangun Rapport
- Teknik Analisis Data
- Metode Pendekatan
- Sistematika Pembahasan
Sebagai seniman jalanan, mereka harus mampu menunjukkan kualitas karya seninya sebagai modal untuk mendapatkan upah. Dari hasil pendataan, setidaknya ada 14 kelompok seniman jalanan pengguna angklung di Kota Yogyakarta yang tercatat oleh pemerintah DIY. Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Tata Kota Kota Yogyakarta Totok Suryonoto mengatakan, pihaknya akan menertibkan sejumlah kelompok seniman jalanan.
Kelompok seniman jalanan Angklung yang berhasil menarik perhatian banyak penonton adalah Calung Funk yang beranggotakan 6 orang. Kelompok Angklung Busker tidak menggunakan alat musik modern seperti kebanyakan seniman jalanan lainnya, melainkan murni alat musik tradisional. Mereka adalah sekelompok seniman jalanan Angklung asal Purbalingga yang kemudian pindah ke Yogyakarta pada tahun 2008.
Sebab, keberadaan pengamen atau pengamen diatur dalam Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014. Pengamen atau pengamen sangat erat kaitannya dengan perilaku sosial seperti waria, gelandangan, dan anak jalanan. Lebih spesifiknya, ada tiga kategori seniman jalanan di Malioboro, yang pertama adalah idealis.
Pada jaman dahulu seniman jalanan identik dengan anak jalanan, hal ini tentunya sangat berbeda dengan keadaan saat ini. Yang akan digali adalah bagaimana agama membentuk solidaritas sosial yang terjalin antar seniman jalanan di Malioboro. Maka dalam hal ini peneliti ingin meneliti “Agama sebagai Bentuk Solidaritas Sosial Seniman Jalanan Malioboro”.
Mencari tahu bagaimana agama membentuk solidaritas sosial yang muncul di kalangan pengamen jalanan Malioboro dalam aktivitas mengamennya. Mengetahui alasan mereka meninggalkan nilai-nilai agama membantu memperkuat solidaritas komunitas seniman jalanan di Malioboro. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, penulis mempunyai fokus berbeda yaitu peneliti ingin melihat bagaimana agama membentuk solidaritas sosial antar seniman jalanan Malioboro, dan melihat nilai-nilai agama.
Dengan teori tersebut peneliti ingin mengetahui seperti apa solidaritas sosial di kalangan seniman jalanan di Malioboro Yogyakarta dan apakah agama berperan dalam solidaritas di kalangan seniman jalanan. Informan yang akan diwawancarai adalah seniman jalanan Muslim dan non-Muslim di Malioboro. Bab Kedua, pada bab ini peneliti membahas tentang gambaran umum lokasi penelitian dan permasalahan seniman jalanan di seluruh jalan kota Yogyakarta.
Pada bab keempat akan disajikan analisis pembahasan kajian tersebut, dimana penulis dari sudut pandang teori solidaritas menganalisis dan menjawab persoalan lain tentang bagaimana nilai-nilai agama membentuk solidaritas sosial seniman jalanan Malioboro.
PENUTUP
Temuan penulis tentang cara membangun solidaritas di kalangan seniman jalanan adalah dengan bekerja keras sebagai pengamen, secara solid dan kolektif, untuk mencari uang. Agama sebagai kontrol sosial bagi para seniman jalanan diwujudkan dalam keyakinan mereka akan adanya dosa atau hukuman suci jika mereka bertindak di luar batas ajaran agamanya, seperti mencari kebahagiaan dengan cara merampok atau menggunakan kekerasan terhadap orang lain. Keyakinan sebagai makna hidup seniman jalanan tercermin dari keaktifan grupnya yang terus menciptakan lagu-lagu dengan aransemen musik baru.
Grup ini bahkan rutin menyanyikan lagu-lagu bernuansa Islami setiap tahunnya saat bulan suci Ramadhan tiba. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat ini masih mengingat pesan-pesan keagamaan dan mengumumkannya dengan cara bersiul. Keyakinan sebagai dukungan psikologis bagi para seniman jalanan Hal ini terlihat dari sulitnya para anggota yang berkumpul untuk mencari lapangan kerja yang lebih cocok.
Lalu ada beban moral berupa justifikasi atau stigma negatif yang menggolongkan kelompok mereka sebagai tunawisma dan pengemis. Agama kemudian muncul sebagai kepercayaan sakral bagi para pengamen untuk bertahan dalam ketatnya persaingan ekonomi di kawasan Malioboro. Hal ini terlihat dari akhlak pergaulan mereka yang cukup baik, seperti munculnya sikap peduli terhadap sesama manusia ketika orang lain membutuhkan uluran tangan mereka.
Dengan kata lain, mereka masih sangat meyakini adanya kekuatan suci di luar diri mereka yang mengatur jalan hidup mereka meski mereka berada dalam tekanan ekonomi dan beban moral yang sangat berat. Dalam hal ini, agama berperan sebagai alat untuk mengendalikan kecenderungan seniman jalanan dalam bertindak melawan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, seperti melakukan tindakan anarkis. Berdasarkan data observasi penulis, kelompok seniman jalanan terbuka peluang untuk melakukan tindakan anarkis atau premanisme yaitu pemerasan, perampokan bahkan perampokan.
Namun mereka tidak meliriknya karena mereka mempunyai landasan moral kolektif yang berpegang pada ajaran agama. Durkheim, Emile, 1947, The Elementary Forms of Religious Life, Diterjemahkan oleh Joseph Ward Swain, New York, Free Pres. Paul Johnson, Doyle, 1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Bahasa Indonesia oleh Robert M. Z. Lawang, Jakarta, PT. Gramedia.