• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kekarantinaan Kesehatan di Pintu Masuk dan di wilayah dilakukan melalui kegiatan pengamatan penyakit dan Faktor Risiko Kesehatan Masyarakat terhadap Alat Angkut, orang, Barang, dan/atau Iingkungan, serta respons terhadap Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dalam bentuk tindakan Kekarantinaan Kesehatan. Tindakan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud berupa Karantina, Isolasi, pemberian vaksinasi atau profilaksis, rujukan, disinfeksi, dan dekontaminasi terhadap orang sesuai indikasi, Pembatasan Sosial Berskala Besar, disinfeksi, dekontaminasi, disinseksi, dan deratisasi terhadap Alat Angkut dan Barang, penyehatan, pengamanan, dan pengendalian terhadap media lingkungan.(1)

Pembangunan kesehatan melalui upaya penyehatan lingkungan pelabuhan, merupakan hal yang mendesak yang harus di lakukan menuju pelabuhan sehat 2010. Progam tersebut adalah melaksanakan pencegahan masuk keluarnya penyakit karantina dan penyakit potensial wabah, kekarantinaan, dan pelayanan kesehatan terbatas di lingkungan pelabuhan serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan.(2)

Pelabuhan laut merupakan pintu gerbang lalu lintas orang, barang dan alat angkut baik dari luar negeri maupun antar pulau (interinsular).(3) Upaya sanitasi

(2)

kapal. ABK bertanggung jawan terhadap kebersihan kapal dan sarana lainnya yang mendukung sanitasi kapal. Peningkatan sanitasi kapal adalah usaha merubah keadaan lingkungan alat angkut yang dapat berlayar menjadi lebih baik sebagai usaha pencegahan penyakit dengan memutuskan mata rantai.(4)

Alat transportasi laut masih menjadi pilihan alternatif selain transportasi darat dan udara karena memiliki beberapa kelebihan antara lain daya angkut yang lebih besar dan biaya yang lebih rendah. Semakin berkembangnya teknologi, kapal sebagai alat transportasi laut tidak hanya melayani perjalanan dalam negeri tetapi juga luar negeri. Hal tersebut menyebabkan peningkatan frekuensi dan jumlah perjalanan antar negara yang menyebabkan peningkatan penyebaran penyakit, khususnya penyakit karantina seperti Pes, Yellow fever dan Kolera.(5)

Pemerintah Indonesia maupun dunia menetapkan penyakit pes menjadi salah satu penyakit karantina.(6) Terdapat empat wilayah provinsi di Indonesia yang menjadi daerah pengawasan pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa Barat), Kecamatan Selo dan Cepogo, Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah), di Kecamatan Tutur, Tosari, Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan Cangkringan Kabupaten Sleman (Yogyakarta).(7)

Pes masuk ke Indonesia pada tahun 1911 melalui pelabuhan dan alat transportasi laut terbawa oleh kapal – kapal pengangkut beras dari Rangoon, Myanmar masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Pes juga masuk melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tahun 1916 dan menyebar ke daerah ke pegunungan. Tahun 1923 pes diduga masuk Pelabuhan Cirebon dan tahun 1927

(3)

Pelabuhan Tegal.(8) Wabah pes di Indonesia pernah tejadi di Surakarta tahun 1915, Yogyakarta pada tahun 1916, di Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali Jawa Tengah tahun 1970, dan pada 1987 di Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan Jawa Timur dengan penderita 25 orang yang meninggal 21 orang Kejadian Luar Biasa terjadi lagi pada daerah yang sama pada tahun 1997 dengan jumlah penderita 5 orang tanpa ada kematian.(9)

Pada tahun 2013 sebanyak 783 kasus pes di dunia dilaporkan, dengan kematian sebanyak 128 jiwa.(10) Kemudian pada tahun 2014 terjadi wabah pes di Madagaskar dengan kasus sebanyak 263 dan kematian sebanyak 71 jiwa atau dengan kata lain CFR pes sebesar 27% (11)

Kejadian Luar biasa lainnya pernah terjadi di Kota Kaimana, Kasus DBD mulai terjadi pada tanggal 27 april 2012 dan dilakukan penyelidikan kasus dan penanggulangan KLB pada tanggal 1 Mei 2012 – 21 Mei 2012.(12) Kejadian Luar Biasa Terulang Kembali pada Tahun 2015 pada 2 Desember 2015. Selanjutnya, pada 4-9 Desember 2015, ditemukan lagi 3 kasus DBD, Sedangkan pada 14 Januari 2016, jumlah keseluruhan kasus DBD yang ditemukan di Kota Kaimana mencapai 25 kasus yang menjangkiti orang dewasa dan anak-anak.(13)

Kejadian luar biasa yang terjadi di sebabkan oleh binatang pengganggu atau binatang penular penyakit. Binatang pengganggu adalah binatang yang dapat mengganggu, menyerang ataupun menularkan penyakit terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Binatang pengganggu dalam hal ini termasuk Induk semang

(4)

penyakit menular di dalam tubuh host tersebut kemudian setelah dewasa/matang akan menularkan kepada host lain melalui gigitan, sengatan, sekresi/kotoran dari host terinfeksi tersebut.(14) Binatang pengganggu yang menjadi bahan pemeriksaan oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Kota Kaimana di antaranya Nyamuk, lalat, tikus, dan kecoa.(15)

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan ujung tombak Kementerian Kesehatan RI yang berwenang mencegah dan mengendalikan vektor penular penyakit yang masuk dan keluar pelabuhan dengan melakukan upaya pemutusan mata rantai penularan penyakit secara profesional sesuai standar dan persyaratan yang telah ditetapkan.(16)

Data SINKARKES Kota Kaimana Tahun 2018, Jumlah kapal tiba berangkat di Pelabuhan Kaimana dari Januari 2018 sampai dengan Desember 2018 adalah 822 Kapal. Dengan Jumlah Penumpang dari Januari 2018 sampai dengan Desember 2018 adalah penumpang naik sebanyak 26.271 orang , penumpang turun 29560 orang dan penumpang lanjutan sebanyak 62.575 orang.(15)

Berdasarkan tugas pokok kantor kesehatan pelabuhan maka fasilitas umum pada pintu masuk (pelabuhan) harus dalam kondisi bersih dan bebas dari sumber infeksi atau kontaminan termasuk vektor penyakit dan reservoir. Kantor Kesehatan pelabuhan bertanggung jawab terhadap peti kemas, alat angkut, barang dan orang dijamin bebas dari infeksi atau kontaminasi termasuk vektor dan reservoir.(17)

Dalam mengatasi, mencegah dan mengendalikan vektor penular penyakit maka di lakukan pengendalian vektor. Pengendalian vektor merupakan kegiatan

(5)

atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin, sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah. Cara pengendalian vektor antara lain usaha pencegahan, usaha penekanan, dan usaha pembasmian. Upaya pengendalian vektor perlu di tingkatkan karena penyakit yang di tularkan melalui vektor merupakan penyakit endemis yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat bahkan wabah atau Kejadian Luar Biasa ( KLB ). Masalah yang di hadapi di Indonesia antara lain kondisi geografi dan demografi, belum terindentifikasinya spesies vektor pada semua wilayah endemis, Peningkatan populasi vektor yang resisten terhadap insektisida tertentu, keterbatasan sumber daya serta kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor.(18)

Melihat ancaman penyakit global di atas, maka Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengantisipasi terjadinya penyakit yang menimbulkan masalah kedaruratan kesehatan yang meresahkan dunia (public health emergency of international concern) dengan membentuk International Health Regulation (IHR) yang berlaku bagi seluruh negara, di mana setiap negara wajib melindungi rakyatnya dengan mencegah terjadinya penyakit yang masuk dan keluar dari negaranya.(19)

Dalam International Health Regulation 2005 (IHR), World Health Organization (WHO) merekomendasikan kepada negara peserta untuk melakukan tindakan terhadap bagasi, kargo, petikemas, alat angkut, barang-barang paket pos atau jenazah manusia untuk menghilangkan infeksi atau kontaminasi termasuk

(6)

B. Identifikasi Masalah

a. Kantor kesehatan pelabuhan berwenang mencegah dan mengendalikan vektor penular penyakit yang masuk dan keluar pelabuhan.

b. Terdapat penyakit yang tergolong kejadian luar biasa yang di sebabkan oleh binatang penular penyakit yang di sebabkan oleh alat transportasi laut.

c. Peningkatan sanitasi kapal adalah salah satu usaha untuk merubah keadaan lingkungan alat angkut yang dapat berlayar menjadi lebih baik sebagai usaha pencegahan penyakit dengan memutuskan mata rantai.

d. Untuk mencegah dan mengendalikan vektor penular penyakit maka di lakukan pengendalian vektor penyakit.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sanitasi dan pengendalian binatang pengganggu di kapal dalam wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan?

C. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan sanitasi dan pengendalian terhadap keberadaan binatang pengganggu di ruang kapal di pelabuhan kaimana tahun 2019.

(7)

b. Tujuan Khusus

1. Melihat hubungan sanitasi kapal terhadap keberadaan binatang pengganggu di ruang kapal dalam wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kaimana tahun 2019.

2. Melihat hubungan Pengendalian kimiawi terhadap keberadaan

binatang pengganggu di ruang kapal dalam wilayah kerja Kantor kesehatan pelabuhan Kaimana tahun 2019.

3. Melihat hubungan pengendalian fisika-mekanika terhadap keberadaan binatang pengganggu di ruang kapal dalam wilayah kerja Kantor kesehatan pelabuhan Kaimana tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat teoritis

Sebagai Pijakan dan referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan Binatang pengganggu di wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan

Mengetahui efektifitas dari sanitasi dan pengendalian terhadap keberadaan binatang pengganggu. Dan dapat meningkatkan tindakan pengendalian yang efektif guna mencegah berbagai penyakit yang mungkin masuk lewat lalu

(8)

b. Bagi pihak Kapal

Menjadi bahan yang perlu di perhatikan agar Nahkoda dan ABK lebih mengutamakan sanitasi serta kebersihan kapal.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Ruang Lingkup Waktu

Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2019.

2. Ruang Lingkup Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Kesehatan Pelabuhan Wilayah Kerja Kaimana, Papua Barat.

3. Ruang Lingkup Materi

Materi yang di bahas dalam pelaksanaan penelitian ini adalah terkait sanitasi lingkungan , Fokus materi adalah sanitasi dan pengendalian binatang pengganggu di wilayah kantor kesehatan pelabuhan.

Referensi

Dokumen terkait

Pengubahan nama host ini akan menjadi penting jika administrator mengelola banyak routerOS dalam skala jaringan komputer yang lebih luas, karena nama host tersebut akan menyesuaikan

The first one,^ by Ha3'es and Campbell, gives a condensed account of theirdemonstration, based on purely physio- graphic evidence, that the Tennessee Riversometime inlateMiocene was