BAB I
PENDAHULUAN A.
Latar BelakangCovid-19 adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh jenis corona virus yang baru ditemukan. Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. Covid-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia , Total kasus konfirmasi Covid-19 global per tanggal 15 Mei 2021 adalah 161.513.458 kasus dengan 3.352.109 kematian (CFR 2,1%) di 222 negara terjangkit dan 193 Negara Transmisi lokal. Dimulai dari wilayah China, mulai muncul kasus serupa di Korea Selatan, Iran, Itali, Jepang, Australia bahkan Amerika Serikat1.
Wabah Covid-19 telah dianggap sebagai darurat kesehatan global. Secara internasional, jumlah laporan yang dikonfirmasi terus meningkat. Covid-19 telah menjadi pandemi yang mengancam kesehatan global, merusak ekonomi global dan membuat kekhawatiran di seluruh bidang kehidupan termasuk di bidang pendidikan. Covid-19 ditetapkan menjadi Emergency of International Concern (PHEIC) kesehatan masyarakat. Pada 11 Maret 2020, Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi. Indonesia pertama kali melaporkan 2 kasus positif pada 2 Maret 2020 dan kasus positif terus meningkat. Pandemi Covid-19 menuntut pengawasan yang ketat dan pemantauan yang sedang berlangsung
untuk secara akurat melacak dan berpotensi memprediksi host, evolusi, transmisibilitas, dan patogenisitas di masa yang akan datang.
Faktor-faktor ini pada akhirnya akan mempengaruhi angka kematian dan prognosis, namun sampai saat ini belum terungkapnya temuan – temuan penelitian baru merupakan keterbatasan utama dalam penanganan Covid-19, sehingga masyarakat hanya bisa melakukan berbagai upaya pencegahan agar terhindar dari Covid-19.
Covid-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang mungkin akan menderita sakit yang parah, seperti disertai pneumonia atau kesulitan bernafas, yang biasanya muncul secara bertahap. Walaupun angka kematian penyakit ini masih rendah yakni sekitar 3%, namun bagi orang yang berusia lanjut, dan orang - orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung, mereka biasanya lebih rentan untuk menjadi sakit parah. Melihat perkembangan hingga saat ini, lebih dari 50% kasus konfirmasi telah dinyatakan membaik, dan angka kesembuhan akan terus meningkat2.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menyarankan untuk masyarakat melakukan pencegahan penularan Covid-19 dengan cara 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi kerumunan dan mengurangi mobilitas). Upaya ini menuntut
kedisiplinan tinggi dan harus diterapkan setiap saat secara konsisten. Hal ini sesuai dengan pernyataan World Health Organization (WHO), bahwa salah satu upaya memelihara diri agar terhindar dari penyakit ini adalah dengan rajin membersihkan tangan menggunakan sabun maupun cairan berbasis alkohol, hindari sering menyentuh bagian wajah (mata, mulut dan hidung) serta melakukan pembatasan kontak fisik dengan orang lain (social distancing)3. Protokol kesehatan 5M bertujuan agar masyarakat tetap dapat beraktifitas secara aman.
Kemenkes RI mengharuskan seluruh warga Indonesia memakai masker selama masa pandemi Covid-19. Terdapat 3 jenis masker yang umum digunakan, yaitu masker N95, masker bedah, dan masker kain. Penggunaan masker bagi masyarakat umum yaitu dengan masker kain 3 lapis berbahan katun. Bila masyarakat umum tersebut menunjukkan gejala demam disertai batuk, nyeri tenggorokan, bersin, dan hidung berair, maka disarankan memakai masker bedah 3 ply (3 lapis). Sedangkan penggunaan masker bagi tenaga medis dan para medis disesuaikan berdasarkan tingkat intensitas kegiatan tertentu, yaitu ada yang diharuskan menggunakan masker bedah 3 ply (3 lapis) dan masker N95 atau ekuivalen beserta Alat Pelindung Diri yang harus digunakan lainnya.
Salah satu bidang terdampak adalah bidang pendidikan. Ada dua dampak bagi keberlangsungan pendidikan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.
Pertama adalah dampak jangka pendek, yang dirasakan oleh banyak keluarga di Indonesia baik di kota maupun di desa. Di Indonesia banyak keluarga yang
kurang familier melakukan sekolah di rumah. Bersekolah di rumah bagi keluarga Indonesia adalah kejutan besar khususnya bagi produktivitas orang tua yang biasanya sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah. Demikian juga dengan problem psikologis anak-anak peserta didik yang terbiasa belajar bertatap muka langsung dengan guru-guru mereka. Seluruh elemen pendidikan secara kehidupan sosial “terpapar” sakit karena Covid-19. Pelaksanaan pengajaran berlangsung dengan cara online. Proses ini berjalan pada skala yang belum pernah terukur dan teruji sebab belum pernah terjadi sebelumnya. Tak Pelak di desa desa terpencil yang berpenduduk usia sekolah sangat padat menjadi serba kebingungan, sebab infrastruktur informasi teknologi sangat terbatas. Penilaian siswa bergerak online dan banyak trial and error dengan sistem yang tidak ada kepastian, malah banyak penilaian yang banyak dibatalkan. Kedua adalah dampak jangka panjang. Banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang akan terpapar dampak jangka panjang dari Covid-19 ini. Dampak pendidikan dari sisi waktu jangka panjang adalah aspek keadilan dan peningkatan ketidaksetaraan antar kelompok masyarakat dan antardaerah di Indonesia.
Ada keinginan sekolah tatap muka secara terbatas segera dibuka karena berbagai dampak yang muncul dengan sekolah tanpa tatap muka secara langsung. Ada tiga komponen yang akan terkait yaitu siswa, orang tua dan guru. Guru memiliki peran penting dalam pembukaan sekolah tatap muka dimasa pandemi Covid-19. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka ini perlu dilakukan secara berhati – hati, protokol kesehatan harus dipraktikkan secara
ketat dan sekolah pun perlu mengupayakan pemulihan penurunan kemampuan siswa agar siswa memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga tidak semakin tertinggal akibat learning loss”. Selanjutnya apakah orang tua maupun siswa siap untuk melakukan protokol kesehatan sesuai dengan ketentuan sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19. Hal ini menjadi fokus penelitian yang akan dilakukan. Berdasarkan studi pendahuluan berupa wawancara terhadap beberapa siswa di sekitar tempat tinggal penulis, mereka mengemukakan ingin sekolah tatap muka karena berbagai keterbatasan yang dirasakan sekolah secara daring. Di sisi lain ada beberapa orang tua yang menyatakan keberatan anaknya masuk sekolah tatap muka karena khawatir tertular Covid-19 saat bersekolah. Berdasarkan uraian permasalahan di atas dilakukan penelitian untuk menggali sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada pembukaan sekolah tatap muka dimasa pandemi Covid-19.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang atas menjelaskan mengenai Pokok masalah masih meningkatnya kasus Covid-19 namun di sisi lain ada keinginan untuk segera membuka sekolah secara tatap muka. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana Sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Pandemi Covid-19”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Pandemi Covid-19.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi sikap orang tua terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19.
b. Mengidentifikasi sikap siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19.
c. Mengetahui perbedaan sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada sekolah tatap muka di masa pandemi Covid-19.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat di manfaatkan sebagai sumber informasi dan sebagai referensi untuk meningkatkan pendidikan kesehatan tentang “kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Covid- 19”.
b. Untuk menambah wawasan mengenai Sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Covid-19.
2. Manfaat Praktis a. Bagi sekolah
Hasil penelitian diharapkan menjadi masukan kebijakan dalam menentukan apakah sekolah tatap muka sudah bisa dilakukan.
b. Bagi STIKes Dharma Husada Bandung
Dapat dijadikan sumber literasi dan dapat memberikan sumbangan pikiran untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan melihat dari aspek yang berbeda dan sebagai informasi awal bagi peneliti selanjutnya dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan STIKes Dharma Husada Bandung.
c. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan mengenai Sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Covid-19.
d. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi dasar bagi penelitian berikutnya sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai Sikap orang tua dan siswa terhadap kesungguhan dalam
menerapkan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Covid-19.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup pada penelitian ini adalah Sikap orang tua dan siswa terhadap penerapan protokol kesehatan pada masa pembukaan sekolah tatap muka dimasa Covid-19. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif yang akan dilakukan pengambilan data responden dengan kuesioner dalam bentuk Google Form. Kuesioner ini di bagikan kepada orang tua dan siswa Madrasah Aliyah AL – MAARIF di Cianjur.