BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kabupaten Bintan memiliki 240 pulau besar dan kecil. Dari keseluruhan jumlah tersebut, yang memiliki penghuni hanya 49 pulau. Kabupaten Bintan termasuk sebagai wilayah pesisir dari salah satu Kabupaten yang terdapat di Provinsi Kepualauan Riau. Berdasarkan data geografis, Kabupaten Bintan terletak antara 1005’.03.94” LU dan 104028’56.23” BT. Bagian utara Kabupaten Bintan berbatasan dengan Kabupaten Natuna, bagian selatan dengan Kabupaten Lingga, bagian barat dengan Kota Tanjungpinang dan Kota Batam, dan bagian timur dengan Provinsi Kalimantan Barat. Dilihat dari topografinya, luas daratan Kabupaten Bintan mencapai 1.318,21 km2, Kecamatan terluas adalah Kecamatan Teluk Sebong dengan luas 285,72 km2 dan Kecamatan terkecil adalah Bintan Utara yaitu 43,26 km2 (Safrizal et al., 2021).
Desa Pengudang juga merupakan salah satu daerah yang berada di wilayah Kecamatan Teluk Sebong Kabupaten Bintan. Sumber daya alam di sektor kelautan dan perikanan yang beragam keberadaannya pada wilayah laut Desa Pengudang. Wilayah tersebut memiliki beragam ekosistem, salah satunya dapat kita lihat dari hasil tangkapan nelayan Desa Pengudang yang bermacam-macam jenis. Salah satu ekosistem yang harus dijaga serta dikembangkan pada perairan Desa Pengudang adalah terumbu karang, karena terumbu karang merupakan tempat yang banyak dihuni berbagai macam jenis biota di perairan seperti ikan, kepiting, udang, ubur-ubur, landak laut, dan masih banyak lagi.
Terumbu karang adalah hewan bentik yang hidup di dasar perairan.
Sebagian besar hidupnya, hewan ini berkoloni yang tersusun dari kalsium karbonat (CaCO3) merupakan hasil sekresi dari zooxanthellae. Terumbu karang memiliki sifat menonjol yang diantaranya keanekaragaman, jumlah spesies, dan bentuk morfologi yang tinggi (Hazrul et al., 2016).
Terumbu karang merupakan ekosistem yang akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian serta kehidupan masyarakat Desa Pengudang, seperti terjadinya penurunan pada spesies, dan potensi sumber daya ikan karang.
Persentase tutupan karang hidup hard coral (HC) pada perairan Desa Pengudang di analisis sebesar 54,14%, berdasarkan KEPMEN LH nomor 4 tahun 2001
2
terkategori baik, kemudian 52,57% juga terkategori baik, pengamatan selanjutnya sebesar 33,34 terkategori sedang dan kualitas perairan sebagai faktor pendukung juga terkategorikan baik untuk pertumbuhan karang. Secara umum dapat disimpulkan kondisi tutupan karang di perairan Desa Pengudang tergolong baik untuk pertumbuhan dan kehidupan terumbu karang (Ardian et al., 2020).
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di perairan tropis yang tergolong mudah terinfeksi penyakit karang terhadap tekanan atau perubahan lingkungan seperti pencemaran, suhu tinggi, sedimentasi, nutrien yang tinggi terutama nitrogen senyawa karbon, predator, dan kompetisi dengan alga yang pertumbuhannya sangat cepat. Salah satu dampak terhadap terumbu karang yang menyebabkan penurunan pada persentase tutupan karang hidup di suatu perairan adalah munculnya penyakit karang (Riska et al., 2019).
Melihat belum banyak yang melaporkan data penyakit karang di perairan Indonesia salah satunya di perairan Desa Pengudang, untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang penyakit karang di perairan Desa Pengudang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Agar dapat menjadi data awal kondisi penyakit karang di perairan Desa Pengudang. Adapun kerangka pikir penelitian disajikan dalam Gambar 1.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi tutupan karang hidup di perairan Desa Pengudang ?
2. Jenis penyakit apa saja yang mengganggu pertumbuhan karang di perairan Desa Pengudang ?
3. Prevalensi jenis penyakit karang di perairan Desa Pengudang ? 1.3. Tujuan
Tujuan dari dilakukan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui persentase tutupan karang hidup di perairan Desa Pengudang.
2. Mengidentifikasi jenis-jenis penyakit karang di perairan Desa Pengudang.
3. Menganalisis prevalensi karang yang terinfeksi penyakit karang di perairan Desa Pengudang.
1.4. Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian yang akan dilakukan mengharapkan dapat memberikan informasi tentang penyakit karang yang berada di perairan Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Diharapkan juga dapat mengetahui presentase karang yang terkena penyakit karang di perairan Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong.
Gambar 1. Kerangka Pikir Ekosistem Terumbu Karang di
Perairan Desa Pengudang
Kondisi Terumbu Karang
Kondisi Penyakit Karang
Kondisi Perairan
Tutupan Karang Hidup
Pengukuran Parameter Suhu, Kecerahan, Salinitas,
Kecepatan Arus, pH, DO, Nitrat, Fosfat
Prevalensi Penyakit Karang
Analisis Data
Informasi Kondisi, Prevalensi Penyakit
Karang di Perairan Desa Pengudang
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Terumbu Karang
Karang yang termasuk kelas anthozoa memiliki 2 tipe yaitu hermatypic coral merupakan karang yang dapat membentuk terumbu karang dari pengendapan kalsium karbonat (CaCO3). Dari kelas anthozoa (filum cnidaria) tidak semua dapat membentuk terumbu, yang tidak dapat membentuk terumbu karang disebut ahermatypic corals (misalnya: anemon, soft coral, akar bahar).
Kelompok hermatypic melakukan fotosintesis dengan alga bersel satu zooxanthellae yang berada pada sel pada lapisan endodermis (Guntun et al., 2017).
Terumbu karang merupakan endapan masif berupa kalsium karbonat (CaCO3) utamanya dihasilkan oleh hewan karang cinidaria yang bersimbiosis dengan zooxantella, seperti alga berkapur moluska. Bervariasi bentuk pertumbuhan koloni terumbu karang yang dipengaruhi kondisi lingkungan perairan, seperti ketersediaan bahan makanan, intensitas cahaya matahari, hydrodinamis (gelombang dan arus), sedimen, pelapukan dan faktor genetic (Arisandi et al., 2018).
Menurut Aldyza et al. (2015), pada saat ini kondisi ekosistem terumbu karang sangat dikhawatirkan dikarenakan selain terjadinya pemutihan (bleaching), beberapa genus karang ada yang mengalami gangguan kesehatan. Terumbu karang yang terkena penyakit merupakan faktor terjadinya degradasi, sehingga terjadinya penurunan terhadap kondisi terumbu karang yang menyebabkan jaringan pada karang mudah diserang bakteri, virus, protozoa dan jamur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Riska et al. (2019), bahwa terjadinya infeksi penyakit karang umumnya terjadi ketika karang mengalami stres akibat tekanan dari lingkungan, seperti pencemaran, suhu tinggi, sedimentasi, nutrien yang tinggi terutama nitrogen dan senyawa karbon, predator, kompetisi dengan alga yang pertumbuhannya sangat cepat, serta kondisi fisiologis yang lemah setelah terjadi pemutihan.
2.2. Penyakit Karang dan Prevalensi Penyakit Karang
Penyebab kehilangan jaringan pada karang adalah predasi. Dimana predasi merupakan hubungan antara organisme pemangsa (predator) dengan organisme yang dimangsa (prey) dalam suatu ekosistem. Penyebab dari terdapatnya penyakit pada karang seperti ikan, siput dan bekas makanan binatang laut. Kebanyakan predator membuat luka pada karang seperti gigitan ikan yang menyebabkan goresan, siput drupella dan coralliophila yang memakan jaringan karang hidup dengan meninggalkan bekas makanan dan membuat jaringan dari kerangka karang terlepas yang dapat menjadi tempat berkolonisasi alga (Harvell et al., 2008).
Adapun penyakit pada karang terbagi dua kategori menular biotik dan tidak menular abiotik. Penyakit biotik menular pada karang yang disebabkan oleh agen mikroba, seperti bakteri, virus, protozoa dan jamur. Penyebaran penyakit biotik menular diantara organisme yang berdampak negatif terhadap kesehatan inang.
penyakit abiotik mengganggu kesehatan karang tanpa melibatkan agen mikroba.
Penyebab adanya penyakit abiotik pada karang adalah lingkungan seperti suhu yang menyebabkan karang menjadi stres, sedimentasi, bahan kimia beracun, ketidakseimbangan nutrisi dan radiasi UV (Beeden et al., 2008). Sedangkan prevalensi merupakan persentase jumlah koloni yang terinfeksi penyakit dengan jumlah total koloni karang di suatu perairan (Ariszandi et al., 2020).
Telah ditemukan dua puluh tujuh penyakit yang menginfeksi karang dunia, sedangkan penyakit karang di Indonesia hanya sedikit yang diketahui, yaitu black band disease (BBD), dark spots disease (DSD), yellow band disease (YBD), white syndromes (WS), brown band disease (BrB), dan penyakit skeletal eroding band (SEB) hanya sedikit yang diketahui (Johan et al., 2015).
2.2.1. Black Band Disease (BBD)
Penyakit berupa band (pita) ini berwarna hitam yang terletak antara jaringan yang masih hidup dan skeleton yang sudah mati (putih). Warna pita bervariasi yang awalnya hitam menjadi coklat kemerahan. Penyakit BBD ini disebabkan adanya gangguan dari mikroorganisme, BBD menyerang pada karang keras (Johan et al., 2012). Adapun jenis penyakit black band disease disajikan dalam Gambar 2.
6
Gambar 2. Jenis penyakit black band disease (Beeden et al., 2008).
2.2.2. Dark Spots Disease (DSD)
Penyakit bintik hitam (DSD) ini dilihat dari munculnya warna gelap, warna coklat atau warna ungu yang menyerang karang. Warna tersebut yang terdapat pada jaringan sering dijumpai melingkar pada permukaan karang, juga ditemui yang tidak beraturan seperti bercak-bercak pada pemutihan koloni. Bagian Jaringan luar karang yang terinfeksi penyakit DSD masih terlihat utuh, meskipun akan mengakibatkan kematian jaringan karang dalam pusat bintik (Riska et al., 2019). Adapun jenis penyakit dark spots disease disajikan dalam Gambar 3.
Gambar 3. Jenis penyakit dark spots disease (Weil et al., 2008).
2.2.3. Yellow Band Disease (YBD)
Penyakit berupa band (pita) berikut ini berupa jaringan berwarna kuning dan putih dengan memiliki multifocal bintik-bintik. Warna kuning dan putih sering dijumpai dalam keadaan berbentuk cincin konsentris, atau pita di tepi koloni dapat menunjukkan gradien warna dalam band (Weil et al., 2008). Adapun jenis penyakit yellow band disease disajikan dalam Gambar 4.
Gambar 4. Jenis penyakit yellow band disease (Weil et al., 2008).
2.2.4. White Syndromes (WS)
Sindrom putih merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai patogen dan stres lingkungan. Jaringan warna yang terlihat dari kerangka putih kemudian menjadi coklat. Bentuk dari sindrom putih tidak beraturan atau annular (seperti cincin). Pola jaringan yang menyebar seperti pita atau bercak berbatasan dengan jaringan hidup (Beeden et al., 2008). Adapun jenis penyakit white syndromes disajikan dalam Gambar 5.
Gambar 5. Jenis penyakit white syndromes (Beeden et al., 2008).
8
2.2.5. Brown Band Disease (BrB)
Penyakit pita coklat didalam jaringan hidup dan area luas yang terpapar pemutihan terhadap kerangka akan terdapat warna dari coklat muda sampai tua.
Pola jaringan dilihat setiap batasannya dari jaringan yang hidup, putih dan coklat.
Jaringan yang dijajah oleh komunitas bewarna coklat akan terlihat menonjol yang menunjukan hilangnya jaringan progresif (Beeden et al., 2008). Adapun jenis penyakit brown band disease disajikan dalam Gambar 6.
Gambar 6. Bentuk penyakit brown band disease (Beeden et al., 2008).
2.2.6. Skeletal Eroding Band (SEB)
Skeletal eroding band (SEB) bersifat menyebar dan berbentuk berbintik- bintik hitam atau hijau tua. Pita pada garis kerangka jaringan yaitu dibedakan dengan penampilan berbintik-bintik dari kerangka yang terbuka, terdapat pada garis gelap diantara karang hidup (Beeden et al., 2008). Adapun jenis penyakit skeletal eroding band disajikan dalam Gambar 7.
Gambar 7. Jenis penyakit skeletal eroding band (Beeden et al., 2008).
2.3. Faktor Abiotik 2.3.1. Suhu
Karang hidup banyak ditemukan pada suhu perairan diatas 18°C. Suhu ideal untuk pertumbuhan karang berkisar antara 28-30°C berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021. Apabila suhu air laut tinggi mencapai diatas suhu normalnya, mengakibatkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) sehingga warna karang menjadi putih. Jika terjadinya hal tersebut hingga beberapa minggu, karang akan mengalami kematian. Adanya pengaruh suhu untuk pertumbuhan karang menyebabkan penyebaran karang hanya terjadi pada daerah subtropis dan tropis, yaitu pada sekitar 32° LU - 32° LS mengelilingi bumi (Giyanto, 2017).
2.3.2. Kecerahan
Karang tidak mudah untuk tumbuh dan berkembang terhadap perairan yang kedalamannya sangat kekurangan penetrasi cahaya, kondisi tersebut banyak dijumpai pada kedalaman melebihi dari 50 m. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 nilai kecerahan untuk karang >5 m. Karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis agar karang hidup bisa bersimbiosis dengan alga Zoonxanthellae yang hidup didalam jaringan karang. (Giyanto, 2017).
2.3.3. Salinitas
Salinitas pertumbuhan karang berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 berkisar antara 33-34 0⁄00. Salinitas yang rendah seperti pada air tawar dapat menyebabkan kematian terhadap karang. Karena hal tersebut karang tidak dijumpai di perairan yang memiliki salinitas rendah seperti sungai maupun muara (Giyanto, 2017).
2.3.4. Kecepatan Arus
Pergerakan arus air laut dibutuhkan dalam penyuplaian makanan yang dikonsumsi untuk proses pertumbuhan karang juga sebagai penyuplai oksigen dari laut lepas. Kecepatan arus juga berperan dalam proses pembersihan dari endapan material yang menempel pada polip karang. Kawasan yang arus dan ombaknya tidak terlalu besar menjadi tempat yang ideal terhadap pertumbuhan karang.
10
Kawasan dengan arus dan ombak yang besar, akan berdampak negatif terhadap proses pertumbuhan karang, seperti di daerah-daerah terbuka yang berhadapan langsung dengan laut lepas, dengan ombak selalu besar sepanjang masa (Giyanto, 2017).
2.3.5. Potensial Hidrogen (pH)
Potensial hidrogen adalah derajat keasaman yang digunakan untuk mengetahui tingkat keasaman dari suatu larutan. Menurut Karangan et al. (2017), derajat keasaman air (pH) adalah indikator yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 menunjukkan bahwa biota laut dapat hidup pada pH berkisar antara 7-8,5.
2.3.6. Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen dalam air dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk proses respirasi dan menguraikan zat organik menjadi an-organik. Oksigen merupakan unsur penting bagi kehidupan di laut, yang bersumber dari difusi udara dan sangat tergantung dari tekanan atmosfir maupun dari hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam suatu perairan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut, disebutkan bahwa nilai oksigen terlarut (DO) untuk biota laut sebesar >5 mg/l. Semakin tinggi kandungan dissolved oxygen (DO) semakin bagus kualitas air tersebut (Patty et al., 2021).
2.3.7. Nitrat
Zat hara nitrat diperlukan dan berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan hidup fitoplankton dan mikro-organisme lainnya sebagai sumber bahan makanannya (Zainal et al., 2014). Konsentrasi nitrat di perairan telah melebihi baku mutu yang telah ditentukan pada Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut disebutkan bahwa, nilai nitrat (NO3-N) untuk biota laut sebesar 0,06 mg/l.
maka dipastikan akan mengakibatkan menurunnya kualitas perairan dan akan berdampak negatif bagi biota laut yang hidup di perairan, terutama keberlangsungan pertumbuhan karang (Hamuna et al., 2018).
2.3.8. Fosfat
Fosfat (PO4-P) merupakan salah satu zat hara dan unsur esensial yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan metabolisme fitoplankton dan organisme laut lainnya dalam menentukan kesuburan perairan (Zainal et al., 2014). Fosfat merupakan salah satu senyawa nutrien yang sangat penting disuatu prairan, dijelaskan Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut disebutkan bahwa, nilai fosfat (PO4-P) untuk biota laut sebesar 0,015 mg/l. Konsentrasi fosfat sama halnya dengan nitrat, tingginya konsentrasi fosfat dapat berdampak negatif terhadap biota laut yang hidup di perairan, terutama terhadap keberlangsungan pertumbuhan terumbu karang (Hamuna et al., 2018).
2.4. Faktor Biotik
Penyebab timbulnya penyakit pada terumbu karang yang disebabkan oleh faktor biotik, diantaranya makhluk hidup patogen atau parasit. Banyak organisme perairan yang hidupnya berasosiasi atau bersimbiosis dengan organisme lain, diantaranya ada yang bersimbiosis mutualisme yaitu saling menguntungkan dimana organisme mendapatkan nutrisi dari tubuh inangnya. Jika parasit dapat menyebabkan penyakit dan kematian pada tubuh inangnya misalnya adanya virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang dikenal mikroparasit serta metazoan seperti cacing helminthes dan arthtopods yang merupakan makroparasit (Johan, 2010).