A. Latar Belakang
Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, lembaga pemerintahan atau swadaya masyarakat. Upaya untuk mewujudkan kesehatan tersebut dilihat dari empat aspek yaitu upaya pemilharaan kesehatan yang meliputi kuratif, rehabilitatif, upaya peningkatan kesehatan berupa preventif dan promotif.1
Upaya peningkatan kesehatan perlu dilakukan secara berkesinambungan serta dengan pembinaan secara terus menerus dan dilaksanakan bukan oleh sektor kesehatan saja tetapi juga dibutuhkan peran serta masyarakat itu sendiri, diantaranya kegiatan yang melibatkan peran masyarakat dan individu dalam upaya pencegahan penularan penyakit TBC Paru. Upaya tersebut tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan juga untuk mengurangi angka kejadian penyakit TBC Paru itu sendiri.1
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, tidak hanya di Indonesia. Tetapi juga di dunia. Pada tahun 2015 diperkirakan 9,6 juta kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan.
Dengan 1,5 juta kematian karena TB dimana 480.000 kasus adalah perempuan.
Dari kasus TB tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang (140.000 orang adalah perempuan) dan
1
480.000 TB Resisten Obat (TB-RO) dengan kematian 190.000 orang. Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB Anak (dibawah usia 15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun.2
Jumlah kasus TB di Indonesia menurut Laporan WHO tahun 2015, diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Di perkirakan 63.000 kasus TB dengan HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate/CNR) dari semua kasus, dilaporkan sebanyak 129 per 100.000 penduduk. Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus baru. Secara nasional perkiraan prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan sebanyak 6700 kasus yang berasal dari 1,9 kasus TB-RO dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB-RO dari TB dengan pengobatan ulang.2
Berdasarkan rekap data TB Paru tahun 2018 di Jawa Barat jumlah kasus TB sebanyak 17.211 atau sekitar 41,68%, yang melakukan pengobatan lengkap 87,12% dan kemudian didaptak hasil yang putus berobat sebanyak 2216 atau sekitar 13% dari 17.211 kasus.Upaya untuk meminimalkannya, antara lainsering melakukan penyuluhan dan leaflet kepada pasien TB tentang pengobatan TBC.
Tahun 2015 di Kabupaten Bandung dengan jumlah penduduk 2.479.927 jiwa, ditemukan kasus TB paru sebanyak 6.325 dengan Case Notification Rate (CNR) sebanyak 1.783 orang BTA positif, yang artinya angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara
100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan kecenderungan penemuan kasus dari tahun ketahun di wilayah tersebut, ditemukan 56 kasus baru TB BTA positif per 100.000 penduduk kasus TB yang artinya presentase jumlah pasien BTA positif yang ditemukan dan diobati dibandingkan jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan adalah wilayah Kabupaten Bandung sebanyak 67,2%.3
Masih banyaknya ditemukan angka putus berobat sehingga menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar pada penderita TB Paru oleh karena itu menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar pada penderita tersebut oleh karena itu perlu adanya peningkatan upaya penemuan kasus secara aktif oleh petugas kesehatan.
Keberhasilan pengobatan TB paru sangat ditentukan oleh adanya keteraturan minum obat anti tuberkulosis. Hal ini dapat dicapai dengan adanya pengawas minum obat (PMO) yang memantau dan meningkatkan penderita TB paru untuk meminum obat secara teratur. PMO sangat penting untuk mendampingi penderita agar dicapai hasil yang optimal. Kolaborasi petugas kesehatan dengan keluarga yang di tunjuk untuk mendampingi ketika penderita minum obat, juga faktor yang perlu di evakuasi untuk menentukan tingkat keberhasilannya .4
Peranan PMO sangat mempengaruhi kedisiplinan penderita TB Paru dan keberhasilan pengobatan. Kerjasama petugas kesehatan dengan keluarga yang
ditunjuk untuk mendampingi ketika penderita menelan obat merupakan faktor penting untuk menjamin kepatuhan pemderita untuk menelan obat.4
Tugas seorang PMO diantaranya mengawasi pasien TB agar mau menelan secara teratur dalam pengobatannya, memberikan dorongan, meningkatkan pasien untuk periksa ulang dahak dan memberikan penyuluhan.4
Keberhasilan pengobatan TB salah satunya dipengaruhi oleh faktor kepatuhan penderita TB dalam menjalani pengobatan. Kepatuhan pasien adalah sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Salah satu pengobatan yang dilakukan adalah pemberian obat anti tuberkulosis yang harus diminum dalam jangka waktu enam sampai delapan bulan. Pengobatan jangka panjang mengakibatkan penderita tidak patuh dalam menjalani pengobatan saat ini, kasus TB kebal obat di Indonesia prevalensinya sudah cukup banyak yaitu mencapai 1sampa 2 persen dari prevalensi TB biasa. Ketika sudah mulai kebal obat, TB butuh waktu pengobatan lebih lama yaitu sampai 2 tahun sementara obatnya juga lebih keras dan mahal .5
Ketidak patuhan obat anti tuberkulosis ini merupakan masalah yang serius karena dapat mengakibatkan kuman menjadi resisten, relaps, dan juga meningkatkan mordibitas serta mortalitas. Ketidakpatuhan dalam pengobatan juga memberikan risiko penularan terhadap komunitas dan diberikan petugas kesehatan berdampak pada gagalnya pemberantasan secara global.6
Salah satu yang menyebabkan ketidak patuhan dalam pengobatan adalah faktor sosial seperti tidak adanya dukungan sosial baik dari keluarga maupun dari sesama penderita. Dengan meningkatkan dukungan dari keluarga dan juga peer akan dapat meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan. Selain itu faktor pengetahuan juga mempengaruhi kepatuhan dalam pengobatan. pengetahuan penderita yang sangat rendah dapat menentukan ketidak patuhan penderita minum obat karena kurangnya informasi yang diberikan petugas kesehatn tentang penyakit TB paru, cara pengobatan, bahaya akibat tidak teratur minum obat dan pencegahannya.6
Penyakit TB Paru menjadi permasalahan di Kabupaten Bandung sebab hingga saat ini masih banyak warga yang menderita penyakit tersebut salah satunya di wilayah Puskesmas Cikalong, bahkan tidak jarang akibat pengobatan yang terlambat atau tidak konsisten yang menyebabkan penderita TB banyak yang meninggal.
Kesadaran dan kepedulian keluarga tentang penularan dan pencegahan TB Paru harus ditingkatkan karena pasien TB beraada disekitar keluarga, penangan tidak tepat atau penularan TB dari seseorang ke orang lain bisa memicu bakteri penyebab TB untuk mengembangkan daya tahan terhadap obat antimicroba yang dikonsumsi atau dikenal dengan MDR TB.
Puskesmas Cikalong merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Bandung, berdasarkan survey awal yang telah dilakukan di Puskesmas Cikalong, yang didapat dari petugas kesehatan selaku penanggung jawab TB,data Puskesmas Cikalong tahun 2018 penderita TB 76 orang dengan BTA
(+) 13 orang, dengan BTA(-)RO(+) 25 orang, pasien kambuh 12 orang, dari data diatas dapat di lihat bahwasnnya dari total penderita TB paru yakni sebanyak 76 orang dari kurun waktu 2018 terdapat sebanyak 11 orang atau 14,47% persen yang tidak melanjutkan pengobatan TB paru karena berbagai macam alasan diantaranya merasa sudah sembuh.
Ketidakpatuhan berobat merupakan masalah perilaku. Green dalam Notoatmojo mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu faktor predisposisi, faktor pemungkin, faktor penguat. Yang termasuk faktor predisposisi antara lain adalah pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan persepsi. Yang termasuk faktor pemungkin adalah ketersediaan sumber daya, keterjangkauan petugas dan rujukan. Sedangkan yang termasuk faktor penguat antara lain sikap dan perilaku petugas kesehatan dan petugas lain, teman, majikan, dan orang tua.7
Berdasarkan yang didapat dengan fenomena di atas studi pendahuluan yang didapat maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
“ Peranan Pengawas menelan obat (PMO) dengan angka putus berobat TB paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Cikalong”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan rumusan masalah
“peranan pengawas menelan obat (PMO) pada pelaksanaan pada pasien TB paru di Puskesmas Cikalong”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui peranan PMO pada pelaksanaan dengan angka putus berobat pada penderita TB paru di Puskesmas Cikalong
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui peranan PMO dalam pengawasan menelan obat (PMO) pada pasien TB di Puskesmas Cikalong
b. Untuk mengetahui peranan PMO dalam memberikan motivasi menelan obat (PMO) pada pasien TB di Puskesmas Cikalong
c. Untuk mengetahui peranan PMO dalam pengawasan dorongan menelan obat pada pasien TB di Puskesmas Cikalong
d. Untuk mengetahui peranan PMO dalam pengawasan penyuluhan obat (PMO) pada pasien TB di Puskesmas Cikalong.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan dan informasi tentang peranan pengawasan menelan obat (PMO) pada penderita TB Paru.
2. Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai bahan atau masalah yang diangkat dalam penyuluhan kesehatan bagi pasien, keluarga, masyarakat yang menderita TB Paru agar dapat meningkatkan peranan pengawasan minum obat (PMO) pada penderita TB Paru.
3. Bagi Puskesmas
Untuk mengevaluasi peranan PMO dan meningkatkan mutu kinerja pada PMO.