1
Diabetes Mellitus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia (Rustini & Maulidia, 2018). Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang terjadi karena pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin atau karena tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang diproduksi oleh pankreas.
Hiperglikemi atau peningkatan kadar glukosa darah merupakan efek yang sering terjadi pada pasien Diabetes Mellitus (Harfan & Masriadi, 2019).
Diabetes Mellitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah yang disebut dengan hiperglikemi dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan karena kerusakan dalam produksi insulin dan kerja dari insulin tidak optimal. Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Purnama & Sari, 2019).
Diabetes Mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah lebih dari nilai normal (≥200 mg/dL). Apabila dibiarkan tidak terkendali penyakit ini akan menimbulkan penyakit-penyakit yang akan berakibat fatal seperti penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan amputasi (Purnama & Sari, 2019). Komplikasi yang berkaitan dengan diabetes diklasifikasikan sebagai komplikasi akut dan kronis. Komplikasi
akut terjadi akibat toleransi glukosa yang berlangsung dalam jangka waktu pendek dan mencakup seperti hipoglikemia, DKA (Diabetes Ketoasidosis) dan HHNS (Hiperglikemia Hiperosmolar Nonketotik Sindrom). Dan komplikasi kronis biasanya terjadi 10-15 tahun seperti penyakit makrovaskuler, mikrovaskuler dan neuropatik (Smeltzer & Bare, 2012).
Komplikasi kronis adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada klien DM. banyak mempengaruhi sistem tubuh dan dapat menghancurkan klien dan keluarganya (Black & Hawks, 2014).
International Diabetes Federation Diabetes Atlas (Edisi kedelapan, 2017) terdapat sekitar 425 juta orang penderita diabetes pada tahun 2017, angka yang diproyeksikan meningkat menjadi 629 juta pada tahun 2045 (International Diabetes Federation, 2017). Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes pada tahun 2019 atau setara dengan 9,3 % dari total penduduk pada usia yang sama. Berdasarkan jenis kelamin, IDF memperkirakan prevalensi diabetes 9% pada perempuan dan 9,65% pada laki-laki di tahun 2019. Prevalensi diabetes diperkirakan meningkat seiring dengan penambahan umur penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan bahwa prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter pada umur ≥ 15 tahun sebesar 2%
(menunjukan peningkatan prevalensi pada tahun 2013 yaitu sebesar 1,5%).
Prevalensi Diabetes Mellitus menurut pemeriksaan gula darah meningkat dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018.
Angka ini menunjukan bahwa baru sekitar 25% penderita diabetes yang mengetahui bahwa dirinya menderita diabetes (Infodatin-2020-Diabetes- Melitus.Pdf, n.d.). Terdapat beberapa tipe diabetes diantanya diabetes tipe 1 sekitar 5-10%, diabetes tipe 2 sekitar 90-95% dan Diabetes Mellitus gestasional (Smeltzer & Bare, 2012). Dan diabetes diklasifikasikan berdasarkan proses patogenetik yang menyebabkan hiperglikemia dan dua kategori besar disebut tipe 1 dan tipe 2 (J et al., 2020).
Penyakit degeneratif yang dapat timbul karena pola dan gaya hidup yang dapat menganggu kesehatan seseorang adalah Diabetes Mellitus tipe 2 (Islaeli et al., 2019). Diabetes Mellitus merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kadar gula darah yang tinggi sebagai akibat dari gangguan fungsi insulin. Diabetes adalah penyakit kronis yang kompleks serta memerlukan perawatan medis berkelanjutan dengan strategi pengurangan risiko multi-faktor di luar kendali glikemik (American Diabetes Association, 2018).
Faktor resiko diabetes terdiri dari faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah ras, etnik, umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan Diabetes Mellitus, riwayat melahirkan bayi > 4000 gram, riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR atau < 2500 gram). Faktor resiko yang dapat dimodifikasi yaitu berat badan lebih, obesitas abdominal/sentral,
kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dyslipidemia, diet tidak sehat, dan tidak seimbang (tinggi kalori), kondisi prediabetes yang ditandai dengan toleransi glukosa terganggu (TGT 140-199 mg/dl) atau gula darah puasa terganggu (GDPT <140 mg/dl) dan merokok (Kemenkes RI, 2020) (Infodatin-2020- Diabetes-Melitus.Pdf, n.d.).
Aktivitas fisik yang kurang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes sebanyak 3 kali lipat dan risiko penyakit arteri coroner sebesar 2,4 kali lipat (Thangasami et al.,2015). Penderita diabetes memiliki kapasitas yang kurang untuk melakukan olahraga karena kelebihan berat badan, ketidakseimbangan fisik, gaya hidup yang tidak banyak bergerak, mobilitas sendi yang terbatas dan komplikasi terkait diabetes lainnya (Raveendran et al., 2018). Diabetes Mellitus tipe 2 terjadi ketika pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal atau ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang dihasilkan (resistensi insulin) (Almaido,2015). Keberhasilan pengobatan pada pasien Diabetes Mellitus salah satunya dilihat dari terkendalinya kadar gula darah. Terkendalinya kadar gula darah ini dipengaruhi oleh faktor diit, aktivitas fisik kepatuhan umum minum obat dan pengetahuan (Dewi, 2020).
Diabetes Mellitus tipe 2 adalah akibat dari defek sekresi insulin progresif diikuti dengan resistensi insulin, umumnya berhubungan dengan obesitas (Black & Hawks, 2014). Kebanyakan penderita diabetes mengalami kelebihan berat badan dan obesitas memperburuk kelainan metabolisme dan
fisiologis yang berhubungan dengan diabetes. Pengendalian makanan dan olahraga adalah modalitas pengobatan yang ditetapkan pada pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2 dan gangguan gaya hidup lainnya, termasuk obesitas, hipertensi, dislipidemia, urbanisasi, asupan makanan kaya kalori, penggunaan di berbagai mesin, ruang yang kurang terbuka untuk berolahraga, gaya hidup modern yang sibuk dan kurangnya motivasi mengurangi kepatuhan kontrol terhadap diet dan olahraga sebagai pilihan manajemen pada penderita diabetes (Saxena & Singh, 2020).
Penanganan Diabetes Mellitus tipe 2 dapat dikelompokan menjadi empat pilar yaitu edukasi, perencanaan makan, intervensi farmakologis dan latihan jasmani (Perkeni, 2011). Edukasi pada penyandang diabetes meliputi pemantauan glukosa mandiri, perawatan kaki, ketaatan penggunaan obat- obatan, berhenti merokok, meningkatkan aktivitas fisik, dan mengurangi asupan kalori dan diet inggi lemak. Makanan yang seimbang sesuai dengan masing-masing individu, dengan memperhatikan keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah makanan. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan meningkatkan sensitifitas insulin.
Terapi farmakologi terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan yang diberikan bersama dengan peningkatan pengetahuan makan dan latihan jasmani (Suzanna, 2014).
Pada diabetes tipe 2 olahraga merupakan bagian utama dari perawatan.
Penambahan aktivitas fisik dalam hidup merupakan pengobatan satu- satunya yang di butuhkan pada diabetes tipe 2 (Barnnes, D.E. 2012).
Aktivitas fisik adalah landasan utama dalam pengelolaan diabetes mellitus tipe 2 meskipun pasien diabetes tidak aktif beraktivitas (WHO, 2016;
Parajuli, 2014; (Shiriyedeve et al., 2019)). Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan tenaga atau energi, seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging dan berenang merupakan latihan fisik yang bersifat aerobik. Frekuensi latihan dilakukan minimal 3-4 kali per minggu. Latihan fisik secara teratur dapat menurunkan kadar HbA1c (Purnama & Sari, 2019). Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang menyebabkan pembakaran kalori, yang meliputi aktivitas sehari-hari dan berolahraga. Berolahraga dengan teratur dapat membantu menurunkan berat badan dan pengendalian kadar gula darah.
Olahraga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin di dalam tubuh dan meningkatkan penggunaan glukosa (Waluyo dkk, 2019).
Prinsip dalam olahraga yaitu dilakukan dengan frekuensi waktu 3-5 kali dalam seminggu secara teratur, intensitas olahraga ringan dan sedang dengan durasi 30-60 menit setiap latihan (Nabyl, 2012). Sebuah program aktivitas fisik terencana adalah bagian terpenting rencana asuhan pada klien dengan Diabetes Mellitus. Aktivitas fisik menurunkan kadar glukosa dengan meningkatkan metabolisme karbohidrat, membantu menjaga dan menurunkan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, meningkatkan kadar high-density lipoprotein (HDL), menurunkan kadar trigliserid, menurunkan tekanan darah, serta mengurangi ketegangan dan stress. Efek
samping primer dari aktivitas fisik akut adalah hipoglikemia (kadar glukosa rendah). Terkadang, hiperglikemia (kadar glukosa naik) dan ketosis.
Hipoglikemia adalah faktor resiko penting bagi klien yang latihan fisik sambil memakai insulin dan OHO (Obat Hipoglikemik Oral atau Obat penurun kadar glukosa pada darah). Intervensi farmakologis seharusnya dipertimbangkan ketika klien tidak dapat mencapai kadar gula darah normal atau hampir normal terapi diet dan olahraga (Black & Hawks, 2014).
Kebanyakan penderita Diabetes Mellitus tipe 2 adalah perempuan dibanding dengan laki-laki. Kecenderungan perempuan mengalami diabetes karena proses hormonal pada masa menopause dan juga kurangnya aktivitas fisik (Fitriyani, 2012). Pengobatan, diet dan aktivitas fisik atau olahraga adalah komponen utama dari managemen diabetes. Latihan jasmani aktivitas atau olahraga merupakan salah satu pilar penanganan Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol dengan metode lain seperti yoga dan pranayama, jogging, jalan kaki dan lain-lain (Leili et al., 2015). Beberapa aktivita fisik yang dapat mempengaruhi gula darah pada Diabetes Mellitus diantaranya seperti yoga, jalan kaki, senam Diabetes Mellitus, senam qi gong, senam tai chi, senam GITA , latihan aerobik dan lain-lain.
Yoga merupakan olahraga yang baik untuk melatih pernapasan sehingga paru-paru dan jantung menjadi lebih sehat (Siti Hardianti Rukmana, Irwan Hadi, 2018). Senam diabetes mellitus dirancang sesuai dengan usia dan status fisik (Rehmaita, Mudatsir, 2017). Senam qi gong adalah gabungan
gerakan tubuh, pedoman meditasi, pengaturan pernapasan dan lain-lain (Harfan & Masriadi, 2019). Senam tai chi menggabungkan pernapasan, relaksasi dan gerakan yang pelan dan lembut (Anwar, 2011). Senam GITA (Gerakan Isyarat Tangan) latihan fisik yang biasanya dilakukan oleh lansia (Amalia et al., 2020). Latihan aerobik adalah gerakan berirama dan terus menerus (Sigal et al., 2018).
Upaya dari olahraga dari pasien Diabetes Mellitus perlu dilakukan usaha untuk mengendalikan kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dapat dilakukan dengan pengelolaan non farmakologis salah satunya latihan jasmani yaitu yoga. Latihan yoga menyebabkan otot-otot untuk menyerap kelebihan glukosa dalam darah. Yoga membantu pakreas dan hati berfungsi secara efektif, dengan jalan mengatur kadar gula darah. Berlatih yoga secara teratur sangat berguna bagi penderita diabetes. Gerakan-gerakan yoga bertujuan untuk merangsang fungsi insulin, meremajakan sel-sel organ dan meningkatkan kemampuan pankreas untuk memproduksi insulin (Widya Seta, 2015) (Siti Hardianti Rukmana, Irwan Hadi, 2018)
Aktivitas fisik yoga lebih efektif dalam daripada aktivitas lainnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yekefallah et al (2015) latihan yoga efektif meningkatkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan jalan kaki.
Dalam yoga semua bagian persendian digunakan tetapi tidak dalam olahraga lain. Yoga terbukti lebih mampu dalam menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan dengan olahraga lain (Yekefallah et al., 2015). Yoga didasarkan pada prinsip bahwa dalam pikiran dan tubuh
berhubungan erat. Yoga meningkatkan fleksibelitas, kekuatan otot, sirkulasi darah dan pengambilan oksigen (Jyotsna, et al., 2012).
Yoga menunjukan banyak manfaat kesehatan diantaranya yaitu meningkatkan kebugaran jasmani, relaksasi dan kesadaran diri, berbagai gangguan gaya hidup, termasuk diabetes mellitus dapat diatasi secara efektif dengan latihan yoga. Latihan yoga meningkatkan disiplin individu mengenai makanan dan olahraga yang membantu mengubah keenganan terkait pasien yang mengakibatkan kurangnya penggunaan latihan sebagai modalitas pengobatan (Aswathy, et al., 2013).
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh aktivitas fisik yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2 ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh aktivitas fisik yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kadar gula darah sebelum diberikan aktivitas fisik yoga pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2.
b. Mengetahui kadar gula darah setelah diberikan aktivitas fisik yoga pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam perkembangan ilmu keperawatan khususnya dalam pengaruh aktivitas fisik yoga terhadap penurunan kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus tipe 2.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penurunan kadar gula darah dengan aktivitas fisik yoga sehingga dapat menjadi dasar dalam pencegahan penyakit Diabetes Mellitus semakin parah.
b. Bagi Instansi Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk penyebaran informasi mengenai aktivitas fisik yoga dalam penurunan kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dan sebagai dasar untuk melakukan promosi kesehatan.
c. Bagi Peneliti
Sebagai aplikasi teori yang diperoleh dalam pembelajaran serta menambah pengalaman, menambah wawasan, dan pengalaman yang menjadi bekal dalam memasuki dunia kerja.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya terkait dengan pengaruh aktivitas fisik yoga terhadap penurunan kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus tipe 2.
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai bulan Juli 2021 dengan metode literature review. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana pengaruh aktivitas fisik yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2. Lingkup materi penelitian ini adalah keperawatan medikal bedah, dan literature yang diambil adalah beberapa jurnal dari google scholar, GARUDA (Garba Rujukan Digital), Research Tools/ResearchGate dan Dimensions.