Menurut penelitian, individu dengan tingkat extraversion tinggi akan mengingat semua interaksi sosial dan berkomunikasi dengan lebih banyak orang dibandingkan dengan individu dengan tingkat extraversion rendah. Individu dengan tingkat extraversion yang tinggi dapat menjalin pertemanan lebih cepat dibandingkan individu dengan tingkat extraversion yang rendah. Berdasarkan skor survei, individu dengan nilai kebaikan yang tinggi digambarkan memiliki nilai suka menolong, pemaaf, dan penyayang.
Namun ditemukan juga bahwa ketika hubungan interpersonal individu yang memiliki tingkat kesetujuan yang tinggi mengalami konflik, maka harga dirinya cenderung menurun. Selain itu, penghindaran secara langsung sebagai upaya untuk mengungkapkan kekuasaan dalam menyelesaikan konflik dengan orang lain merupakan salah satu ciri individu yang memiliki tingkat keramahan yang tinggi. Individu yang mempunyai tingkat agreementableness yang tinggi mempunyai tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan keluarga dan jarang mengalami konflik dengan teman lawan jenis.
Orang yang memiliki sifat mudah setuju dan ekstraversi memiliki orientasi sosial, sehingga hal ini dapat membantu mereka bersikap baik terhadap diri sendiri dan melihat pengalaman negatif sebagai pengalaman yang dialami semua orang. Orang yang memiliki tingkat neurotisme rendah cenderung lebih bahagia dan puas dengan kehidupan dibandingkan orang yang memiliki tingkat neurotisme tinggi. Orang yang mempunyai nilai atau skor tinggi pada neurotisisme adalah kepribadian yang mudah mengalami kecemasan, kemarahan, depresi dan mempunyai kecenderungan emosional yang reaktif.
Individu dengan tingkat keterbukaan yang tinggi digambarkan sebagai individu yang menghargai imajinasi, keluasan pikiran, dan dunia keindahan.
Budaya
Sedangkan individu yang memiliki keterbukaan rendah menganut nilai-nilai kebersihan, ketaatan dan keamanan, nilai keterbukaan rendah juga menggambarkan individu yang mempunyai pemikiran sempit, konservatif dan tidak menyukai perubahan. Pencapaian kreativitas lebih besar pada orang yang mempunyai tingkat keterbukaan yang tinggi dan tingkat keramahan yang rendah. Individu yang kreatif, memiliki rasa ingin tahu atau terbuka terhadap pengalaman akan lebih mudah menemukan solusi terhadap suatu masalah.
Usia
Kondisi Keluarga
Neff dan McGehee (2008) menemukan bahwa kritik dari orang tua dan hubungan orang tua yang bermasalah terbukti berkorelasi negatif dengan pembentukan self-compassion di masa muda. Sebaliknya, individu yang merasa diakui dan diterima oleh orang tuanya melaporkan bahwa tingkat self-compassionnya lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
Misalnya, belas kasihan diri dikaitkan dengan perasaan penting akan keterhubungan sosial dan kepuasan hidup (Neff, 2003a, Neff, Pisitsungkagarn, & Hseih, 2008). Hal ini juga terkait dengan perasaan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (Neff, 2003a), menunjukkan bahwa belas kasihan membantu memenuhi kebutuhan psikologis dasar. Individu yang memiliki self-compassion cenderung mengalami lebih banyak kebahagiaan, optimisme, rasa ingin tahu, dan pengaruh positif dibandingkan mereka yang tidak memiliki self-compassion (Neff, Rude, & Kirkpatrick, 2007).
Dengan membungkus rasa sakit seseorang dengan belas kasihan pada diri sendiri, emosi positif yang dihasilkan membantu menyeimbangkan emosi negatif.
Empati
Alasan Pemilihan Teori
Penelitian ini menggunakan teori Self Compassion dari Neff (2003) karena Neff merupakan sosok pionir dalam Self Compassion yang merupakan bagian dari Psikologi Positif.
Gagal Ginjal
- Definisi Gagal Ginjal
- Definisi Penyakit Gagal Ginjal
- Gejala dan Tanda Penyakit Gagal Ginjal
- Penyembuhan Gagal Ginjal
- Transplantasi Ginjal
- Terapi Ginjal (Hemodialisis/Cuci Darah)
Hilangnya fungsi ginjal normal pada gagal ginjal menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan homeostasis cairan, elektrolit, dan asam basa. Jika gagal ginjal kronis terjadi, gejala sisa lainnya akan terjadi seiring waktu karena penyakit ginjal fungsional. Gagal ginjal akut adalah suatu sindrom klinis dimana ginjal tidak lagi mengeluarkan produk sisa metabolisme, biasanya akibat hipoperfusi ginjal.
Ditemukan bahwa 43% dari 2200 kasus gagal ginjal akut berhubungan dengan trauma atau pembedahan, 26% karena berbagai kondisi medis, 13% karena kehamilan, dan 9% karena nefrotoksin. Meski belum ada data pasti mengenai jumlah pasti penderita gagal ginjal, namun jumlahnya diperkirakan sekitar 10.000 orang jika dilihat dari jumlah pasien yang menjalani terapi pengganti. Gagal ginjal merupakan penyakit yang menyerang ginjal, suatu organ yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Gagal ginjal merupakan penyakit yang cukup serius dan kronis, gagal ginjal terjadi karena kemungkinan terjadinya infeksi atau cedera pada ginjal itu sendiri. Gagal ginjal bisa menyerang siapa saja, terutama lebih sering terjadi pada mereka yang masih berusia dewasa muda, namun dari banyaknya kasus gagal ginjal, kebanyakan menyerang mereka yang sudah berusia lanjut. Penyebab gagal ginjal sendiri disebabkan oleh penyakit lain yang berdampak langsung pada organ ginjal.
Penyakit ginjal yang tidak segera diobati akan menyebabkan gagal ginjal, dimana organ tersebut tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai alat ekskresi. Penderita gagal ginjal akan mengalami gejala seperti mata bengkak, nyeri pada kaki, nyeri punggung yang sangat parah (kolik), nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil (urin dalam jumlah sedikit), urin berwarna merah karena bercampur dengan urin. darah, sering buang air kecil tapi jarang minum. Misalnya, seseorang yang terdiagnosis gagal ginjal harus melakukan diet untuk mengurangi asupan natrium, kalium, protein, dan cairan.
Seseorang yang terdiagnosis gagal ginjal harus tetap memperhatikan asupan dan keluaran cairan, guna mengetahui upaya pengobatan mana yang dapat dilakukan secara maksimal. Banyak penderita gagal ginjal yang menjalani pengobatan dengan cuci darah yang dapat dilakukan secara terus menerus yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menjalani transplantasi ginjal atau cangkok ginjal. Frekuensi hemodialisis bervariasi tergantung besarnya sisa fungsi ginjal, rata-rata pasien gagal ginjal menjalaninya 2-3 kali seminggu, sedangkan durasi hemodialisis minimal empat hingga lima jam.
Kerangka Pikir
Reaksi dan perilaku ibu terhadap kesulitan yang dialaminya tidak hanya ditujukan pada dirinya sendiri, namun juga pada anak berupa kepedulian dan perhatian yang berkaitan dengan Self Compassion. Self Compassion adalah memberikan pengertian dan kebaikan kepada diri sendiri ketika mengalami kegagalan, melakukan kesalahan atau mengalami penderitaan dengan cara tidak menghakimi diri sendiri dan tidak mengkritik diri sendiri secara berlebihan atas ketidaksempurnaan, kelemahan dan kesalahan yang dialami. Dalam menjalankan perannya sebagai ibu dari anak yang sakit, ada ibu-ibu yang meyakini bahwa penyakit yang diderita anaknya merupakan ujian dari Allah SWT, sehingga mereka menerima dengan lapang dada kondisi tersebut.
Berbeda dengan perilaku tersebut, lebih banyak ibu yang meratapi penyakit yang diderita anaknya dan menganggap bahwa penyakit tersebut merupakan kegagalan dalam merawat anaknya (self-judgment). Namun masih sedikit ibu yang membandingkan kondisi anaknya dengan kondisi anak lain pada umumnya. Ketiga komponen tersebut saling berkaitan, sehingga jika komponen yang satu tinggi maka komponen yang lain juga tinggi, sehingga menimbulkan self-compassion yang tinggi.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, ibu yang memiliki self-compassion yang tinggi akan menjalankan perannya sebagai caregiver dengan baik, karena self-compassion sendiri dapat mempengaruhi perawatan ibu dan pola asuh anaknya. Namun tidak semua ibu menunjukkan perilaku tersebut, ada juga ibu yang tidak mendampingi dan mendampingi anaknya menjalani hemodialisis. Ada ibu-ibu yang hanya mengantar lalu membiarkan anaknya menjalani hemodialisis sendirian dan baru menjemput kembali anaknya setelah perawatan hemodialisis selesai.
Self-compassion yang dimiliki setiap individu dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh kepribadian atau kepribadian yang melatarbelakangi ditampilkannya perilaku self-compassionate oleh individu. Seperti yang diukur oleh NEO-FFI, self-compassion ditemukan terkait dengan dimensi kepribadian Lima Besar yaitu neurotisisme, keramahan, ekstroversi, keterbukaan, dan kesadaran.
Faktor selanjutnya adalah gender yang mempengaruhi ketahanan dan pengendalian emosi dalam menghadapi kesulitan. Menurut Neff, individu perempuan cenderung kurang memiliki belas kasihan terhadap diri sendiri dibandingkan laki-laki. Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa budaya yang diterapkan berpengaruh terhadap tingkat self-compassion dalam diri seseorang. Seseorang yang lebih suka bertindak secara individu cenderung memiliki self-compassion yang rendah, sedangkan seseorang yang lebih suka bertindak dengan berbagi dengan orang lain cenderung memiliki self-compassion yang tinggi.